ODHA B.A.H.A.G.I.A

Kali ini aku pengen nyeritain tentang pertemuanku dengan seseorang yang luar biasa. Kenalkan, beliau adalah Pak Widodo atau biasa disapa dengan Pak Wid. Beliau bukanlah artis atau pejabat daerah yang banyak bersliweran di media cetak hehe, namun menurut beliau adalah salah satu orang cukup menarik perhatianku.

Pertama kali aku mengenal beliau ketika menghadiri suatu acara 2 tahun yang lalu. Kala itu aku tak terlalu banyak ngobrol dengan beliau, yang aku tahu beliau adalah Odha (orang dengan HIV/AIDS) yang aktif memberikan dampingan pada sesama Odha lainnya. Pak Wid tergolong orang yang friendly dan easy going. Walaupun kala itu kami baru ketemu tapi beliau mudah ngeblend sama kami yang usianya jauh dibawahnya.

Setelah dua tahun tak bertemu, akhirnya bulan lalu Tuhan mempertemukan kami kembali di acara Rumah Aira. Awalnya aku tak menyadari ada beliau di acara tersebut, namun tiba-tiba beliau langsung menghampiriku dan menjabat tanganku sambil sumringah. Waaw aku kaget! Jujur aja waktu itu aku lupa nama beliau tapi aku sangat ingat dengan perawakannya yang tinggi dan kumisnya yang khas.  Tanpa pikir panjang, aku langsung minta nomor hp sambil mengingat kembali siapa nama beliau wkwkw.

Mungkin bagi beberapa temen FBku sudah sangat familiar dengan Pak Wid dan sudah tau siapa beliau berikut dengan latar belakangnya. Namun bagiku, Pak Wid adalah sosok yang belum terlalu aku kenal. Jujur saja aku masih penasaran dengan cerita hidup Pak Wid sebenernya gimana. Dengan tekad kepo level tinggi akhirnya aku menghubungi Pak Wid dan janjian buat nongkrong bareng.

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu di food court sebuah mall. Begitu Pak Wid dateng aku langsung menawarkannya minuman sambil aku juga jajan hehehe. Tak beberapa lama minuman datang dan kami mulai percapakan yang semi serius tapi tanpa spaneng.

Pak Wid cukup terbuka ketika aku banyak bertanya tentang latar belakangnya bagaimana sampai bisa terkena HIV/AIDS. Pak Wid menyadari bahwa apa yang dialaminya saat ini tak terlepas dari perilaku buruknya ketika semasa muda dulu. Dengan tanpa basa-basi Pak Wid bercerita bahwa dulunya ia adalah seorang pemakai narkoba. Hampir semua jenis narkoba pernah beliau cicipin dari tahun 1993 hingga tahun 2002. Tak hanya segala jenis narkoba aja yang udah pernah Pak Wid cicipin tapi segala jenis body katanya juga sudah pernah Pak Wid cicipin atau bisa dibilang beliau dulu penganut faham free sex. Pak Wid juga cerita gaya hidupnya itu ditunjang dari pekerjaannya yang bertemu banyak orang. Jadi bisa dibilang Club atau diskotik itu adalah rumah keduanya mencari kesenangan. Jadi mau make narkoba jenis apa aja dan berapa kali ganti pasangan itu adalah hal yang mudah baginya.

Pak Wid mengaku bahwa sangat sulit lepas dari narkoba, namun Pak Wid benar-benar bisa lepas dari narkoba ketika terpalang oleh Undang-Undang Narkotika. Jadi pada saat itu UU Narkotika memberikan sanksi hukuman kurung bagi pengedar maupun pemakai. Mulai saat itu Pak Wid bertekad untuk lepas dari narkoba dan sampai saat ini beliau sudah bebas dari jeratan narkoba.

Setelah bebas dari narkoba, suatu hari Pak Wid jatuh sakit hingga opname sebanyak 4 kali dalam setahun. Kala itu Pak Wid cerita kalo beliau udah nggak bisa apa-apa. Bayangkan aja kala itu CD4 nya hanya 16 dan berat badannya hanya 36 kg, padahal jumlah CD4 pada orang normal itu sebanyak +/- 500. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan infeksi. Pak Wid bercerita dia sampai nggak bisa jalan. Mulai dari situlah Pak Wid baru tahu bahwa ia sudah terinfeksi HIV/AIDS. Kaget pasti, tapi beliau terus berjuang untuk kembali bangkit selama 3 tahun, hal tersebut berkat dari dukungan saudara dan lingkungan terdekatnya. Lambat laun Pak Wid kembali bisa berjalan hingga bisa mengendarai sepeda motor lagi.

Mulai dari situ Pak Wid bisa kembali bertemu dengan banyak orang terlebih teman-teman yang senasib dengannya. Pak Wid banyak berkumpul dengan ODHA lain dan sering menjadi tempat curhat. Tanpa pernah mengeluh, Pak Wid tetap menerima curhatan dari teman-temannya. Pak Wid mulai menyadari bahwa keberadaanya ternyata cukup dibutuhkan bagi teman-teman, hingga akhirya Pak Wid berinisiatif membentuk Komunitas Odha Ohidha Semarang atau disingkat KOOS. Dengan adanya KOOS, Pak Wid menjadi lebih bisa maksimal dalam memberikan pendampingan pada Odha. Menurutku beliau salah satu orang yang sangat totalitas dalam memberikan pelayanan, bayangkan saja nomor handphonenya sampai ada 3 dan semuanya berbeda operator. Tujuannya adalah untuk mempermudah komunikasi bagi Odha dampingannya.

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Aku salut pada Pak Wid yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu membangkitkan semangat hidup teman-teman Odha lain. Baginya suatu keberkahan bisa melihat orang yang ia dampingi bisa kembali tersenyum dan bersemangat menatap kehidupan kembali.

Aku percaya pasti diluar sana banyak Pak Wid lain yang juga berdedikasi pernuh untuk membantu orang lain dalam meningkatkan kualitas hidup Odha. Aku hanya bisa berdoa agar beliau-beliau di berikan kesehatan serta umur panjang agar bisa menularkan semangat kepedulian bagi banyak orang lagi.

Sebenernya lewat postingan ini aku ingin menyampaikan bahwa apapun keadaan yang kita alami dan seburuk apapun cobaan yang sedang kita hadapi, kita tetep berhak untuk BAHAGIA. Karena BAHAGIA yang menentukan kita sendiri, bukan orang lain.

Selain itu, dalam case Pak Widodo aku juga bisa mengambil pelajaran bahwa selagi muda kita perlu berhati-hati dalam pergaulan, salah satunya pergaulan yang beresiko tinggi. Dan perlu dipahami juga kalo tak semua Odha memiliki latar belakang perilaku beresiko seperti beliau, banyak juga diluar sana yang terinveksi HIV akibat dari kesalahan medis, korban perkosaan, dan lain sebagainya Jadi stop hobi menggenalisir atau menyamaratakan setiap case.

The most important thing that i wanna share, please dont judge some one else by cover or by their background. Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi kedepannya. Termasuk saya ini yang jauh dari sempurna ceileh haha 😀

Terima kasih Pak Wid sudah menyempatkan waktu dan berbagi cerita denganku.

“Tak ada yang mau menjadi Odha, tapi pasti semua ada berkahnya.

Dan saya memutuskan untuk BAHAGIA – Pak Widodo”

Cheers!!

Tak Perlu Lanjut Kuliah S2 Profesi Psikologi

Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah postingan FB temen tentang kegalauannya untuk lanjut S2 profesi psikologi atau lanjut kerja ketika sebagian teman-temannya melanjutkan ke jenjang profesi. Disisi lain, aku juga membaca postingan seorang teman tentang keinginannya lanjut kuliah S2 Psikologi  karena ingin belajar lebih dalam tentang kejiwaan untuk membantu orang lain walau latar belakangnya bukan berasal dari S1 Psikologi. Keduanya punya keinginan sama, ya sama-sama ingin lanjut S2 Psikologi.

Sebelum aku cerita lebih lanjut tentang case diatas, aku pengen benget cerita mengapa aku akhirnya memutuskan untuk mengambil kuliah S2 profesi psikologi.

Aku lulus S1 dalam waktu yang lumayan lebih cepat dari kebanyakan temen-temen lainnya. Kelulusanku yang relatif lebih cepat itu bukan berarti aku lebih pintar dari temen-temen yang lain, aku menyadari banyak temen-teman seangkatanku yang jauh lebih pintar dariku. Aku hanya sedikit lebih rajin saja. Dan jujur saja sebenernya pada saat itu aku belum menentukan arah aku ada pada bidang psikologi apa. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah dengan aku bisa lulus cepat otomatis aku bisa memiliki pengalaman bekerja lebih cepat tanpa mengganggu kuliah.

Setelah lulus aku mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai HR di sebuah lembaga pelatihan yang baru saja didirikan. Walau lembaga tersebut terbilang baru, namun aku belajar sedikit banyak tentang sebuah sistem perusahaan. Dalam prakteknya aku banyak membaca buku tentang PIO (Psikologi Industri dan Organisasi), semakin banyak membaca aku semakin nggak ngerti haha. Mungkin kalo dipaksaksain, aku bisa mengerti tentang sistem sebuah perusahaan dari sisi HR namun aku akan sangat kesulitan untuk mendalaminya dan menjalankannya dengan hati yang gembira, karena aku sadar PIO bukanlah bidang yang aku sukai.

Setelah aku tak lagi bekerja sebagai HR, munculah sebuah peluang belajar bidang psikologi yang lain yaitu bidang seksologi ketika aku bekerja di Lokalisasi Sunan Kuning. Kala itu aku hanya bekerja sebagai petugas lapangan, namun aku menemukan sebuah kenikmatan dalam mendalami psikologi khususnya dalam hal seksualitas manusia. Aku menemukan banyak kasus-kasus psikologis dan mulai berpikir apa yang bisa aku lakukan kedepan dengan kasus yang aku temukan tersebut.

Oleh karena itu barulah aku memutuskan untuk mantap mengambil kuliah S2 Profesi Psikologi, karena menurutku aku membutuhkan pijakan ilmu psikologi yang lebih dalam lagi. Sebenernya, ortu sudah mendesak untuk segera lanjut kuliah setelah lulus S1. Tapi aku memilih untuk mencari pengalaman dulu, tujuannya bukan apa-apa tapi untuk lebih siap dan lebih mantap lagi dengan apa yang akan aku pelajari. Karena menurutku akan sangat sia-sia ketika aku lanjut S2 Profesi (khususnya) namun aku belum tau kemana arahku kedepannya.

Awal kuliah S2, beberapa dosen akan menanyakan alasan mengapa lanjut S2? Mengapa memilih bidang Klinis Dewasa? dll. Bahkan di awal semester, ada seorang dosen yang langsung menyuruh membuat tugas penelitian setaraf skripsi tentang bidang psikologi apa yang ingin didalami.

Buatku secara pribadi kuliah profesi itu tidak terlalu berat untuk dijalani, hanya saja penuh dengan tantangan yang membuatku lebih tangguh lagi. Aku sengaja menshare tentang cerita praktek / magang di RSJ, RS, dan Panti Jompo agar teman-teman yang ingin lanjut S2 Profesi tahu gambarannya gimana. Kesulitan itu pasti ada, tapi yakinlah pasti ada jalan untuk menyelesaikan kesulitan tersebut.

Sebenernya aku rada miris ketika tau ada beberapa mahasiswa yang alasannya lanjut S2 hanya karena title, gak ada kerjaan, daripada nganggur, nyari jodoh, atau karena ikut-ikutan temen. Memang hak semua orang punya alasan seperti itu, tapi menurutku dipikirkan ulang saja daripada hanya jadi lulusan psikolog yang nggak ngerti arahnya mau kemana.

Dalam mengambil sebuah keputusan pasti saja ada yang dikorbankan, seperti aku yang harus pending kerja dulu demi fokus untuk kuliah. Namun bagiku apa yang aku korbankan wajib aku pertanggung jawabkan dengan aku benar-benar bisa menjadi psikolog di bidang yang sesuai dengan hati nurani dan pastinya bisa berdedikasi penuh pada pekerjaan kedepan.

Postingan ini tidak bermaksud menyombongkan diri karena aku sudah dalam proses mendalami bidang yang aku minati. Aku menyadari butuh usaha dan waktu yang tidak sebentar untuk tau apa minat dan passion kita. Oleh karena itu tak perlu terburu waktu, nikmati setiap proses yang kamu jalani saat ini. Kalo memang benar jalanmu di psikologi, percayalah Tuhan akan menunjukan jalan bidang apa yang perlu kamu dalami selanjutnya.  

Cheers!

Berkunjung ke Rumah Aira Semarang

Hampir sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 Juni 2016 aku dan Si Ay datang ke sebuah acara di salah satu Mall di Semarang. Sebenernya tujuan awal kami berdua untuk bertemu temen lama Si Ay yang bernama Mas Slam Riyadi untuk ngobrol-ngobrol karena udah lama nggak ketemu. Nah kami janjian setelah adzan magrib, tapi kami dateng telat karena  memutuskan untuk buka puasa dulu di food court terdekat.

Singkat cerita, kami langsung menuju tempat janjian. Ternyata tempat janjian kami ada di sebuah venue acara yang bertema “Peluncuran Gelang Rumah Untuk Aira”. Acara tersebut diisi beberapa perform dan datangi oleh beberapa komunitas. Ada pementasan tarian belly dance, ada juga tarian anak-anak, terus ada juga perform dari mahasiswa, dan yang paling heboh juga ada perfom akustik dari komunitas Iwan Fals Semarang, hihihi.

Nah… sebenernya aku juga masih bingung tentang acara tersebut dan apa maksud diselenggarakan acara tersebut. Rumah Aira itu apa? Siapakah Si Aira? Dan banyak pertanyaan lain yang muncul di otakku. Untung  Mas Slam menjelaskan dengan sangat rinci tentang kegiatan tersebut.

Jadi, sebenernya kegiatan tersebut adalah sebuah acara Peluncuran Gelang Donasi untuk pembangunan Rumah Aira, sebuah rumah singgah dan panti asuhan untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Penggagas Rumah Aira adalah Ibu Magdalena, seorang perawat salah satu rumah sakit swasta di Semarang. Aku sempat ngobrol langsung dengan beliau sambil tanya-tanya tentang kegiatan Rumah Aira, tapi sayang aku tak sempat foto berdua dengan beliau. Oh ya, hasil penjualan gelang yang hanya seharga Rp. 20.000 semuanya didonasikan untuk pembangunan Rumah Aira.

Setauku, baru kali ini di Semarang ada sebuah Rumah Singgah atau Panti Asuhan Khusus untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan menurutku Bu Magdalena adalah salah satu  pribadi yang  berani untuk melawan stigma HIV/AIDS di Semarang dan bersyukur banyak yang mensupport. Hal tersebut menandakan kesadaran masyarakat untuk melawan stigma terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS) sudah mulai menurun tak seperti 7 tahun lalu ketika aku ikut kegiatan PMR dalam melakukan kampanye Hari Aids Sedunia dengan membagi-bagikan bunga kertas.

Selain itu, sebenernya ini sebuah kesempatan besar untuk para mahasiswa psikologi yang ingin bener-bener belajar bagaimana mendapingin Odha yang memiliki anak-anak yang juga terinfeksi. Semoga mereka bukan hanya sebagai “objek” penelitian semata, tapi juga sebagai “subyek” yang wajib didampingi secara psikologis.

Bagi temen-temen yang ingin mendukung gerakan Rumah Aira, temen-temen bisa langsung menghubungi Ibu Magdalena (085865758710, 085764977354) atau bisa langsung ke alamat Jl. Kaba Timur No. 14, Kel. Tandang, Tembalang, Semarang.

Cheers!

Cerita Sex dari Timur Tengah

13 Juli 2016 kemarin aku and the genk dateng ke Open House nya Pakdhe Prie GS. Ih wow seneng rasanya bisa dateng, apalagi disana bisa ketemu Om Pras yang spesial dateng dari Jakarte.

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

Sayangnya aku dateng telat, jadi aku hanya duduk lesehan di belakang dan langsung mengikuti acara yang sudah berlangsung setengah jam yang lalu. Dari bagian belakang, aku hanya bisa melihat dari jarak jauh bahwa di depan ada empat orang yang duduk di kursi. Satu diantaranya jelas Pakdhe Prie yang punya gawe, dan ketiga lainnya aku tak mengenalnya. Saat itu Pakdhe Prie sedang berdialog dengan seseorang yang sedang menjabarkan suatu pengetahuan tentang keIslaman, tak lama aku baru tahu bahwa beliau adalah Prof Sumanto.

Dari dialog itu aku baru menyadari bahwa Prof Sumanto itu bukan orang sembarangan. Beliau adalah seorang  professor dan juga dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas. Tak hanya sebagai dosen, saat ini beliau juga sebagai tim penyeleksi para calon-calon professor di beberapa universitas di luar negeri. Nih profil singkatnya..

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

Singkat cerita, saat dialog tersebut Prof Sumanto menekankan bahwa sebenernya banyak orang Indonesia yang sebenernya kena “tipu” dari sekelompok orang yang tidak ingin Indonesia jadi lebih maju. Sebenernya, tren ke Arab-Araban yang banyak orang ikutin itu udah sangat amat ketinggalan zaman di Negeri Timur Tengah sendiri. Padahal di Timur tengah sendiri perkembangannya sudah sangat pesat.

Prof Sumanto juga menekankan, jangan salah mengartikan orang yang tidak berhijab itu derajat keimanannya lebih rendah dari yang berhijab. Karena saat ini banyak sekali orang Indonesia (khususnya) yang menjudge segala sesuatu itu hanya dari simbol, seperti hijab, jenggot, dahit hitam contohnya. Drajat keimanan seseorang itu bukan manusia yang menilai, tapi Allah SWT. Dan yang belum banyak orang tau bahwa anjuran berhijab itu bukan hanya umat Islam saja, tapi semua agama menganjurkan untuk berhijab, ada agama Kristen, Katolik, Yahudi, dll. Jadi sebenernya tolak ukur  orang Islam itu bukan berhijab dari atributnya.

Di tengah sela-sela bincang-bincang santai, aku mulai mendekati Prof Sumanto untuk menanyakan beberapa hal khususnya yang berkaitan dengan social science. Bukan Yori namanya kalo gak ngulik-ngulik soal dunia sex, haha. Jadi dengan tanpa rasa malu aku langsung aja tanya tentang hasil-hasil riset yang berhubungan dengan prostitusi di Timur Tengah sana. Prof tau yang aku tanyakan bukan hal tabu, karena aku bertanya dalam koridor ilmu pengetahuan, jadi saat ada seseorang yang mencoba membuat itu sebagai guyonan Prof Sumanto langsung tak menggubrisnya.. Hahaha suka banget! 😀

diskusi serius :D

diskusi serius 😀

Jadi begini hasil perbincanganku dengan Prof Sumanto yang sangat amat singkat :

Praktek prostitusi yang formal jelas tidak ada, tapi biasanya kegiatan tersebut dilakukan di Bahrain tetangganya Saudi. Jadi apa-apa yang di haramkan di Saudi, di halalkan di Bahrain. Jadi ada club malem, bioskop dll. Kalo kalian inget ada video pria-pria timur tengah menyawer seorang penari perut itu adalah salah satu contohnya.

Kalo di Saudi jelas tidak ada lokalisasi yang formal, mungkin ada tapi sangat privat banget. Kalo di Bahrain, Libanon, dll itu jelas ada dan sangat terbuka. Bisanya, kalo di Bahrain mereka ada aturannya, boleh kegiatan seperti itu tapi hanya untuk warga bukan Bahrain, maksudnya adalah warga pendatang.

Selain dunia prostitusi tersebut, aku juga menanyakan tentang praktek pernikahan sesaat hanya untuk halal-isasi hubungan seks kilat, yang pernah aku dapatkan faktanya di lokalisasi Sunan Kuning. Prof Sumanto menjelaskan bahwa praktek pernikahan tersebut adalah Nikah Misyar. Beliau menjelaskan bahwa Nikah Misyar adalah semacam turisme seks atau nikah jalan-jalan. Tidak semua orang mempraktekan Timur Tengah mempraktekan, tapi faktanya tetap ada walau sedikit.

Dari pertemuanku dengan Prof Sumanto memberikanku sebuah jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku pendam. Apa yang aku asumsikan selama ini ternyata benar bahwa mau di Arab Saudi ataupun di tanah Timur Tengah  praktek prostitusi itu pasti tetap ada.

Intinya adalah Manusia itu dimana-mana sama, akan mencari celah sesempit apapun. Diatur seketat apapun akan mencari celah untuk kebutuhan “seks” tersebut. Jadi jangan salah sangka kalo orang Saudi itu semuanya taat. Mereka di back street banyak sekali melakukan seperti itu. Mereka hanya taat saat di publik, karena kekhawatiran ada Polisi Syariat. – Prof Sumanto

Jadi please buat kalian jangan mau di Arab-isasi. Jadilah INDONESIA, yang punya jati diri sendiri. Penjajah jaman sekarang itu gak lagi pake senjata api, tapi pakai isu-isu yang bikin kita semua pada tercerai berai. Jangan mudah terprofokasi dari kelompok-kelompok tertentu, pikirlah dulu sebelum bertindak.

Cheers!!

Yori dan Seksologi

Hai.. Hai.. I’m come back setelah hampir seminggu nggak posting tulisan karena (sibuk) liburan, hehe. Sebelumnya aku mau ngucapin, Selamat Hari Lebaran Mohon Maaf Lahir dan Batin..

Sesuai dengan janji yang udah-udah.. Kali ini aku akan cerita tentang gimana aku bisa demen banget ngebahas hal tentang lokalisasi atau prostitusi di blog akuh.. Aku pengen banget share tentang proses aku menemukan kegemaranku mengulik hal yang berkaitan dengan pelacuran, mulai dari awal hingga sekarang.

Nah awalnya, aku gak pernah terpikir loh bisa dengan leluasa keluar masuk lokalisasi seenak jidat kaya sekarang. Boro-boro masuk, tau tempat persisnya aja enggak. Proses aku bisa seperti sekarang itu menurutku nggak terduga dan surprise banget.

Aku memang sudah minat tentang hal yang berbau seksualitas ketika aku S1, saat aku mengambil mata kuliah pendidikan seksualitas. Yang bikin aku tertarik adalah, dalam mata kuliah itu dosen memberikan tantang pada mahasiswa untuk berani menyebutkan nama alat kelamin (baik nama latin maupun sebutan awam). Menurutku itu kelas yang bikin aku takjub! Aku masih ingat salah satu dosen memberikan saran demikian:

“Kalian kalo memang serius memberikan penyuluhan seksualitan ya gak boleh malu nyebut kont0l, memek, dan sebutan-sebutan awam lainnya. Kalo kalian aja malu gimana materinya bisa sampai ke audience, karena audience yang kalian hadapi akan beragam.”

Mulai dari situ aku mulai sangat tertarik mempelajari lebih, gimana bisa hal yang selama ini dianggap tabu olehku bisa menjadi hal yang membuka wawasanku lebih luas lagi. Ketertarikanku pada dunia seksualitas bertambah ketika aku mengikuti sebuah konferensi Asosiasi Seksologi Indonesia ASI tahun 2014 lalu di Surabaya.

Aku tak pernah mengikuti konferensi sebuah asosiasi sebelumnya. Ketika daftar ulang aku melihat sebagian peserta yang ikut adalah dokter-dokter spesialis, dan aku juga menyadari bahwa aku satu-satunya peserta yang paling muda dan satu-satunya yang bukan dokter. Karena hiruk pikuk peserta yang banyak, panitia salah menuliskan gelarku menjadi gelar dokter, haha.

Name tag salah gelar :D

Name tag salah gelar 😀

Di hari-hari pertama mengikuti acara aku agak roaming, karena materi-materi awal membahas materi yang kental dengan istila kedokteran. Tapi, aku tetap stay cool dan beberapa bertanya pada teman di sebelah apa maksudnya. Setiap istirahat aku memberanikan diri berkenalan dengan peserta lain yang sebagain besar dokter spesialis, ada spesialis andrologi, kulit kelamin, psikiater, dll. Salah satunya dr. Agustinus , Androlog kece dari Surabaya.

Hari kedua adalah hari yang aku tunggu, karena ada materi yang dibawakan oleh Prof. Drs. Koentjoro Soeparno, MBSc., PhD. Psikolog yang membahas tentang Male and Female Prostitution in Indonesia. Menurutku ini materi yang paling menarik karena membahas hal yang berkaitan dengan psikologi. Materi yang dibawakan Prof Koent makin bikin aku penasaran apalagi dengan hal prostitusi. Aku inget banget gimana Prof Koent menjelaskan sejarah prostitusi dan perkembangannya. Beliau menjelaskan dengn semangat banget. Auranya keluaar lah pokoknya, hehe.

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Setelah selesai ngasih materi, aku langsung mendekatinya. Awalnya sangat malu tapi aku coba ikut-ikutan nimbrung sama peserta lain yang ngobrol sama Prof Koent. Hingga akhirnya aku mendapatkan kartu namanya dan bisa berfoto bersama. Mulai dari situ aku mencari segala sesuatu yang berkaitan dengannya, dan aku mendapatkan sebuah buku karangan Prof Koent yang berjudul “Tutur dari Sarang Pelacur”. Aku membaca selembar demi selembar hasil riset yang beliau lakukan, hingga aku makin tertarik lagi mempelajari tentang pelacuran. Aku pernah juga sekali main ke rumah Prof Koent di Jogja, tapi karena belum jodoh jadi belum bisa ketemu lagi.

Belajar tentang pelacuran itu gak afdol kalo belum menginjakan kaki ke lokalisasi. Pada saat itu aku baru sebatas ingin dan belum terlalu berani untuk benar-benar mendatangi sebuah lokalisasi. Tapi selang beberapa waktu kemudian, Tuhan memberikan jalan dengan sangat cantik padaku, yaitu saat ada seorang teman yang menawariku untuk bergabung pada project sosialnya di sebuah lokalisasi.  Betapa indah jalan Tuhan..

Mulai dari situ aku banyak belajar tentang pelacuran secara langsung di lokalisasi, terlebih aku pun mendapatkan kesempatan bekerja disitu. Banyak hal baru yang bikin aku takjub, shok, sampe ngelus dada. Disitu tak semua yang orang awam pikirkan terjadi, dan bahkan diluar ekspektasi.

Aku menjadi yakin, bahwa suatu perubahan itu bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari sebuah lokalisasi yang dianggap sebagai tempat sampah masyarakat. Jadi, dengan ketertarikan dan minatku terhadap dunia seksologi aku ingin bisa membuat suatu perubahan. Perubahan kecil tapi berdampak besar untuk Indonesia kedepan.

Terimakasih untuk para inspirator yang telah memberikanku inspirasi untuk mendalami hal ini. Semoga kedepan aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi hebat lainnya.

Cheers!