Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 2)

Ngobrolin soal pelacur itu emang nggak ada habisnya. Setiap bulan pasti saja terselip berita-berita yang berkaitan dengan pelacur. Pelacur itu tidak hanya wanita saja loh, laki-laki juga banyak yang punya side job atau mainjob sebagai pelacur (gigolo). Nah sesuai dengan janjiku minggu lalu, aku akan melanjutkan pembahasan pelacur middle up, tentang persamaan serta perbedaannya..

  1. Pelacur Middle Class

Pelacur kelas menengah memang memasang tarif yang lumayan tinggi bagi orang yang hanya punya gaji UMR. Tarifnya yang beragam menempatkan mereka memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Biasanya tarif yang dipasang mulai dari 1,5 jt – 15 jt sekali main. Harga itupun bisa berubah lebih tinggi sesuai dengan kesepakatan pastinya. Harga yang tinggi tersebut membuat pelacur middle class memiliki penampilan yang berbeda. Bagi orang awam cukup sulit membedakan gaya pelacur kelas ini dengan orang pada umumnya, namun kebanyakan mereka memiliki gaya hidup yang menengah keatas. Pekerjaan pelacur kelas menengah itu beragam, ada yang model, penyanyi, sekretaris, dll (jgn digeneralisir ya). Namun ada juga yang full time jual diri. Nah untuk servicenya, pelacur kelas menengah punya kemampuan lebih dibandingkan pelacur kelas bawah. Mereka bisa menerima request, misalnya dengan request tematik (dokter-dokteran, inem, superhero, anak sekolahan dll). secara kemampuan memberikan kenyamanan pelacur kelas menengah punya ketrampilan sendiri, mereka biasanya akan lebih bermain ekspresi, merayu dan segala hal yang bikin pelanggan makin greget.  Untuk tempat bekerjanya ada yang menggunakan mucikari dan ada pula yang secara independent. Pelacur menengah yang bekerja secara independent memaksimalkan media sosial untuk tempat jualannya, kadang mereka juga menshare video mereka ketika menservice pelanggannya. Kalo kalian yang suka usil-usil serching, pasti bisa nemuinnya hehehe. Lalu apakah bonusnya sama banyaknya dengan pelacur kelas bawah? Pelacur kelas menengah itu biasanya kurang menyadari resiko penyakit yang akan mereka alami, untuk periksa saja gengsi, jadi bisa jadi resiko penyakit yang mereka alami lebih banyak. Dari hasil penelusuran beberapa sumber, pelacur kelas  itu bekerja untuk memenuhi gaya hidup. Mereka tak berarti dari pendidikan yang rendah dan dari kalangan keluarga miskin loh.

  1. Pelacur High Class

Berbicara pelacur kelas atas memang susah-susah gampang. Pelacur kelas atas itu bergerak secara sangat sembunyi-sembunyi dan sangat amat rapi. Saking rapi dan terselubungnya, harga yang mereka tawarkan pun juga sangat tinggi, tak hanya ratusan juta namun sampai menyentuh angka milyaran. Seperti yang kalian pikirkan, pasti hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membayar dengan harga yang selangit itu. Pelacur kelas atas biasanya digunakan untuk kepentingan politik atau bisnis, jadi fungsi pelacur itu bisa saja menjadi sogokan atau jebakan. Seseorang pembisnis atau pejabat yang belum bisa mengatur libidonya akan senang mendapatkan “hadiah” seorang pelacur kelas atas, selain mendapatkan pelayanan seks ternyata punya tingkat gengsinya tersendiri dikalangan tertentu. Tingkat kesehatan pelacur kelas atas memang sangat diperhatikan, berbagai asuransi mahal rela mereka bayar. Namun sekali lagi, pelacur kelas atas juga punya kemungkinan resiko terhadap penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS.

Sebenarnya postingan ini tidak berniat sebagai alat promosi pelacur. Bukan. Tujuannya adalah agar pembaca menjadi lebih aware atau peduli dengan apa yang ada di sekitar. Harapannya, mengerti tentang spesifikasi pelacur dapat menjadikan bahan introspeksi diri lagi terhadap kehidupan seksual pembaca, karena ada pepatah mengatakan,

“Ambil ilmu Pelacur, dan MAINKAN !”

pelacur low class

Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 1)

Pelacur, mungkin terdengar kasar yaa.. Tapi bila ditilik dari arti kata pelacur sesuai dengan KKBI pelacur berasal dari kata lacur yang berarti malang; celaka; sial; buruk laku. Namun bila dijabarkan lagi, sebenarnya tidak semua perilaku orang yang menjual diri itu buruk, hanya saja apa yang dilakukannya untuk mendapatkan uang tersebutlah yang buruk, jadilah disebut dengan pelacur.

Dibanyak media massa, pada saat-saat tertentu pasti akan dimunculkan tentang isu atau berita yang berhubungan dengan pelacuran. Mulai dari isu penutupan lokalisasi, tertangkapnya manager artis yang merangkap sebagai mucikari, dan berita pembunuhan seorang pelacur yang mayatnya ditemukan termutilasi di jalan tol. Dari contoh yang aku sebutin diatas, taukah apa perbedaanya? Yap, kalo pada sadar sebenarnya aku sudah menyebutkan tentang grading atau pengklasifikasian pelacur menurut kelasnya.

Pada postingan kali ini, dengan senang hati aku akan membahas tentang pengklasifikasian pelacur menurut dengan kelas beserta servisnya, cekidot yah!

  1. Pelacur Low Class tipe A

Pelacur kelas bawah itu biasanya yang sering kita lihat dipinggir jalan. Dandan seadanya dan menerima tamu yang seadanya pula. Biasanya penampilan tidak terlalu dipedulikan, karena modal mereka juga terbatas. Tempat mangkalnya tidak selalu di pinggir jalan, namun bisa juga di terminal, stasiun kereta atau tempat-tempat yang sudah terkenal sebagai lokalisasi dadakan. Kalo di Semarang itu seperti di kawasan Blerok, Kota Lama, Polder Tawang depan Stasiun Tawang,  kawasan TI, terminal Terboyo, dan masih banyak lagi. Target tamu yang mereka sasar juga biasanya yang berdopet pas-pasan seperti tukang becak, kuli bangunan, supir trek, dan sejenisnya. Untuk harga? Ya biasanya berkisar 30rb – 75rb atau sesuai dengan kesepakatan tawar menawarnya. Bahkan aku pernah juga mendapat cerita dari salah seorang teman bahwa dia pernah ditawari hanya membayar 5rb untuk menghisap puting saja. Selain harga servis yang relative sangat murah ternyata pelacur kelas bawah menawarkan banyak bonus. Yap! Bonus penyakit hehehe. Lalu layanannya apa saja? untuk pelacur kelas bawah memang hanya menawarkan jasa seks konvensional, prinsipnya bisa masuk dan langsung keluar…

  1. Pelacur Low Class tipe B

Pelacur kelas bawah tipe B secara prinsip sebenarnya tidak berbeda dengan yang tipe A dalam hal layanan seks, yang berbeda yaitu tempat, penampilan dan harga pastinya. Tipe B masih punya modal untuk bersolek, beli wewangian, dan beli baju-baju seksi. Saking ingin terlihat menonjol, kadang penampilan mereka berlebihan sehingga terlihat norak. Untuk tempat mangkalnya biasanya sudah terlokalisir seperti di lokalisasi Sunan Kuning, GBL, kawasan stasiun Poncol, dll. Lokasi-lokasi tersebut biasanya sudah terdaftar dalam sebuah lembaga yang mengurusi tentang pelacuran untuk kepentingan akses kesehatan. Jadi bisa dibilang secara kesehatan pelacur kelas bawah kemungkinan terjamin, namun sayangnya tidak bisa dipastikan semua pelacur yang mangkal di lokalisasi bebas dari penyakit-penyakit kelamin. Ya ibaratnya seperti undian. Soal harga pastinya mereka punya batas bawah, rata-rata mereka mematok harga 150rb. Bagi pelacur yang punya grade biasanya mereka bisa mendapat pelangggan yang rela membayar sampai 1 jtan untuk menginap semalaman. Secara servis, kebanyakan masih bermain pada level konvensional. Kalopun ada yang bersedia free style itupun hanya bisa dihitung jari. Lalu siapa pelanggannya? Nah untuk sebaran tamunya cukup luas dari berbagai kalangan. Ada yang mahasiswa, pengusaha, pejabat, aparat berwajib, preman kelas menengah, dll. Namun perlu dicermati pelanggan mereka juga kebanyakan yang berasal dari kalangan ekonomi menengah, kalopun pejabat atau aparat juga bukan yang punya pangkat yang tinggi-tinggi banget. Oh ya tamu yang datang ke lokalisasi banyak juga pria-pria yang sudah berumur, yang jengah dirumah karena istri tak lagi menarik. Biasanya tamu om-om ini tak selalu berakhir kentu namun lebih senang ditemani karaoke atau hanya sekedar sebagai peneman ngobrol.

To be continued ….

“Disclaimer: Postingan ini bertujuan untuk edukasi semata”

Handjob For Homeless (18+)

Tepatnya setahun yang lalu, seorang kerabat yang sedang bekerja di Amerika mengirimkan  sebuah link video tentang teaser social pilot project yang bernama Handjob for Homeles (silahkan cari sendiri kalo error 😛 ). Awalnya kaget dan jijik setelah melihat video tersebut. Kaget, karena kok bisa ada social pilot project yang menggunakan cara yang tidak lazim tersebut, setelah kaget respon berikutnya adalah jijik karena sebelumnya aku baru saja mengalami kejadian dipamerin titit yang masih terbayang-bayang dibenakku. Sebenarnya, ada maksud dan tujuannya mengapa kerabat jauhku itu mengirimkan link tersebut, yaitu agar aku mengkritisi kegiatan tersebut.

Pertama-tama jelas pendapatku tidak setuju dengan kegiatan tersebut. Selain tidak lazim, kegiatan tersebut useless karena tidak memberikan sebuah manfaat untuk membantu kehidupan si homeless selanjutnya. Kerabatku dengan santainya membalas argumenku dengan sederhana, “coba dipikir lagi”.

Setelah, berpikir ulang ternyata pendapatku itu menggunakan sudut pandang orang Indonesia, dimana kegiatan tersebut memang tidak lazim dan penuh dengan ketabuan hehehe. Setelah aku mencoba mengubah sudut pandang, ternyata ada kemungkinan kegiatan tersebut lazim diberlakukan di negara lain, seperti Amerika misalnya. Memberikan bantuan secara materi pada homeless di Amerika mungkin sudah menjadi hal yang mainstream, sedangkan memberikan bantuan handjob pada homeless merupakan suatu bantuan yang out of the box, pikirku. Selain memberikan kenyamanan secara  psikologis, ternyata handjob disinyalir bisa membantu menurunkan tingkat pelecehan seksual yang dilakukan homeless pada warga sekitar. Memang belum ada angka pasti apakah kegiatan tersebut benar-benar efektif menurunkan tingkat pelecehan, namanya juga pilot project pastinya masih dalam penelitian lebih lanjut.

Aku juga tak lupa riset melalui googling terkait pilot project tersebut, dan hasilnya aku belum menemukan ada yang membahasnya lebih lanjut. Bisa jadi project tersebut dilakukan hanya dalam lingkungan tertentu dan hasil risetnyapun untuk kalangan tertentu atau memang project tersebut menuai banyak kontroversi sehingga diberhentikan.

Terlepas jadi atau tidaknya project tersebut dilaksanakan, aku pribadi sebenarnya setuju dengan project tersebut jika tujuannya sebagai upaya penurunan pelecehan seksual. Tak lupa aku juga mencari beberapa jurnal yang mendukung argumenku, yaitu terdapat riset yang mengatakan bahwa handjob / masturbasi dapat menurunkan tingkat kecemasan serta meningkatkan self-esteem (Dodson, 1987). Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan LoPiccolo & Lobitz, (1972) juga mengungkapkan bahwa masturbasi merupakan langkah awal dalam tahap terapi disfungsi seksual. Sehingga, dapat dikatan bahwa dalam situasi tertentu, masturbasi memang dapat memberikan efek dalam peningkatan kesehatan seksual  serta psikis. Selain dalam situasi dan kondisi tertentu,  menurutku si subyek penerima treatmen pun juga harus diseleksi dengan teliti, jangan sampe salah sasaran misalnya orang yang ngaku-ngaku homeless agar bisa mendapatkan treatmen handjob dari volunteer, haha. Tapi, kalo ini di lakuka di Indonesia, aku pastinya nggak setuju. Sebab aku yakin kegiatan ini sangat amat menuai kontroversi dan penolakan besar-besaran 😀

Kalo kamu gimana? Setuju nggak dengan Handjob for Homeless social project??

 

 Cheers!

Dipamerin Titit

Ditengah hiruk pikuk jalanan yang ku lewati hari ini, tak sengaja pandanganku terkunci pada perilaku seseorang laki-laki yang berada di pinggir jalan. Pakaiannya dan badannya terlihat sangat lusuh, sepertinya orang itu homeless. Orang itu dengan perlahan membuka celananya dan menghadap ke sebuah pembatas pinggir jalan. Dari gerak geriknya, orang itu seperti akan mengguyurkan air dari tubuhnya ke pembatas jalan itu. Sayangnya aku melihat hanya seklebatan saja. Namun, dari peristiwa itu membuatku mengingat sebuah peristiwa di tahun 2015 lalu, yang cukup menghebohkan diriku sendiri. Seingatku aku sudah menuliskannya di blog pribadi yang lain, tapi kali ini sepertinya aku akan menceritakannya lebih lengkap.

Jadi begini ceritanya…

Maret tahun 2015 aku mengikuti sebuah workshop travel blogger. Ini pengalaman pertamaku mengikuti workshop kepenulisan dengan tema traveling. Workshop itu diadakan selama 2 hari. Hari pertama diisi full materi dari travel blogger yang udah berpengalaman, sedangkan hari kedua adalah hari untuk mempraktekan materi yang sudah diajarkan. Dari workshop itu sebenarnya klimaksnya ada di hari kedua, karena para peserta diminta untuk mengeksplorasi tempat wisata di Semarang yaitu di Kota Lama.

 Dengan gaya mirip traveler, aku mengalungkan kamera merahku dan sok melihat-lihat bangunan tua dengan gerak gerik penasaran haha (padahal udah sering aku liat dan sering lewat tempat itu). Di salah satu spot dekat Gereja Blenduk, aku melihat ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku ambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Di saat aku sedang foto-foto itu ada pengendara motor yang beberapa kali melewatiku sambil memperhatikan. Aku menjadi sempat curiga apakah orang ini mau malak atau gimana, hingga pertanyaanku terjawab. Setelah beberapa kali mengamatiku, tiba-tiba dia berhenti di dekatku dan dengan santainya memperlihatkan penisnya.

Dengan spontan aku langsung menyolot “Uasuuuu!!”. Setelah aku teriak gitu dia langsung ngacir tapi masih memandangiku. Aku sempat memandangi anunya, eh wajahnya. Dia lelaki yang tergolong sudah tua, kira-kira usianya 50 tahun lebih. Dari kejadian itu aku sempat merasa shok karena sudah menjadi korban pelecehan seksual. Tapi… setelah aku menenangkan diri dan langsung cari banyak literatur tentang eksibisonis dan pelecehan seksual aku menjadi mulai mengerti bahwa ada beberapa hal yang aku pelajari:

Ekshibisionisme adalah tindakan memamerkan atau mengekspos, dalam konteks publik atau semi-publik, bagian-bagian tubuh seseorang yang biasanya tertutup – misalnya, payudaraalat kelamin, atau bokong. Praktek ini mungkin timbul dari hasrat atau dorongan untuk mengekspos diri mereka sedemikian rupa kepada kelompok teman-teman, kenalan, atau orang asing untuk hiburan mereka,kepuasan seksual, atau untuk kesenangan berhasil mengejutkan pengamat yang tidak menduganya. (wikipedia.com)

Dalam menghadapi pelaku eksibisionis, baiknya kita mengusahakan untuk tidak memberikan respon terkejut (teriak, menutup wajah, dll), marah, atau lari. Nah loo… itu kan respon wajar, masa kaget dan marah nggak boleh? Yup mau tidak mau kalo kita tidak mau memberikan efek kepuasan pada si exibisionis kita perlu menghindari hal-hal tersebut, karena pelaku akan semakin merasa puas dan klimaks ketika respon si korban demikian. Nah, setelah mempelajari lebih akhirnya aku menemukan trik bagaimana membuat si pelaku jera, yaitu memberikan respon yang berkebalikan dengan apa yang diinginkan. Seperti kembali melecehkannya, dengan mengolok-olok bentuk kelaminnya. Misal nih: Waaah! Wis cilik elek san!” (udah kecil jelek pula), atau bisa juga dengan tertawa sinis mengejek. Intinya merendahkannya. Untuk melakukan cara ini memang kita perlu memiliki keberanian. Keberanian itu ada bisa dengan merubah sudut pandang kita terhadap alat kelamin menjadi bukan hal yang selalu tabu untuk di bahas. Jadi, ketika sudah merubah sudut pandang akan bisa meminimalisir respon kaget, takut atau jijik. Dalam beberapa literatur psikologi disebutkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan eksibisionis memiliki rendah diri dan sering terabaikan, sehingga dengan memamerkan alat kelamin mereka akan mendapatkan perhatian dari orang lain dengan cara yang tidak lazim.

Pelaku eksibisionis  tak selalu melakukan aksinya di tempat sepi, ada juga di tengah kerumunan banyak orang. Bisa juga di pasar, bis umum, mall, dll. Jadi tetap waspada!

Soal pelecehan seksual, memang awalnya aku pribadi merasa menjadi korban. Namun setelah diskusi dengan banyak orang bahwa menjadi korban itu sesuai dengan persetujuan diri kita sendiri atau tidak. Kalo kita tidak mengijinkan diri kita sebagai korban maka kita akan keluar dari sudut pandang korban. Pola pikir ini sebenernya bisa membantu untuk kestabilan psikologis, karena menjadi korban pelecehan seksual itu tidak menyenangkan, harga diri dan sudut pandang terhadap diri pasti akan berubah. Misal: “Aku sudah mengalami pelecehan seksual jadi aku merasa kotor dan tidak pantas ini itu bla bla….”. Jadi untuk bisa mempercepat move on dari peristiwa tersebut, aku secara pribadi akan melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda dan menjadikan itu sebuah pelajaran untuk kedepannya.

Bagiku setiap peristiwa selalu ada hikmahnya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Cheers!!

 

Aku ingin Kuliah

Siapa sih yang nggak mau kuliah? Aku yakin bahwa banyak diantara kalian yang baru aja lulus SMA/SMK ingin sekali melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Bayangan kehidupan kuliah yang menyenangkan dan lebih bebas dari aturan ketat sekolah, seringkali lebih menjadi daya tarik dari pada pilihan jurusan itu sendiri. Ya mungkin tidak semua remaja berpikir seperti itu, tapi sayangnya lebih banyak yang berpikir demikian.

Dibalik berbagai macam alasan remaja ingin melanjutkan kuliah, ada kisah menarik yang pernah aku dengar secara langsung dari seorang pelacur muda. Sebut saja dia Tia, usia 18 tahun asal Kota Tegal yang sudah bekerja selama 1 tahun di lokalisasi Sunan Kuning.

Perawakannya kurus, wajahnya manis namun sayangnya terlihat pucat. Begitulah kesan pertama yang aku tangkap ketika bertemu dengannya. Tia memang terkesan dingin padaku, namun dalam matanya terpancar hasrat ingin meluapkan sesuatu.

Tia bercerita bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah pilihan yang sulit. Tia bukan berasal dari keluarga yang sangat berkeurangan. Ibunya yang bekerja sebagai TKW di Malaysia selalu memberikan kebutuhan secara materi padanya. Kebutuhan materi memang selalu terpenuhi, namun tak dengan kebutuhan cinta. Sebenarnya bukan soal selalu tinggal berjauhan dengan ibunya yang membuat Tia tak merasakan cinta, namun karena kurangnya penghargaan dari ibunya terhadapnya.

Selama sekolah Tia adalah seorang murid yang pintar. Hampir setiap kenaikan kelas ia selalu mendapatkan beasiswa hingga kelulusan. Menjadi anak briliant, pintar mengaji dan selalu berbakti pada orang tua adalah prinsip hidupnya ketika bersekolah dulu. Namun, seiring berjalannya waktu setiap usaha yang dilakukannya tak dihargai oleh ibunya membuat Tia memberontak. Selama ini Tia merasa apa yang dilakukannya tak pernah berarti untuk ibunya.

Tia yang semasa SMA sudah bekerja menjadi SPG mulai mengenal dunia malam. Mulai dari wanita peneman balapan motor trek-trekan, hingga peneman minum bir di salah satu beer kafe di daerahnya. Selain mendapat uang, Tia serasa memiliki tempat yang bisa menjadi pengalih kesedihannya.

Hingga akhirnya Tia lulus SMK, ia memilih untuk tak langsung melanjutkan ke jenjang kuliah. Ia memilih untuk bekerja sebagai pemandu karaoke di lokalisasi. Pikirnya, lebih baik mengumpulkan hasil jerih payah terlebih dulu sebelum melanjutkan kuliah.

Menurutnya, walau kini ia sudah mendapatkan cap sebagai pelacur, namun ia tetap tak ingin mengubur mimpinya untuk bisa kuliah. Ditengah kenyataan banyaknya mahasiswa yang tak menghargai jerih payah orang tua membiayai kuliah, ada sebuah harapan dari seorang pelacur muda yang berusaha keras untuk mengumpulkan pundi-pundi demi kuliahnya kelak.

 

Generasi Miskin NASIONALISME

Menjadi warga negara Indonesia, belum tentu mengerti Indonesia. Terdengar ironis, tapi memang kenyataannya demikian. Aku menyadari bahwa hal itu juga terjadi padaku. Dengan embel-embel “generasi muda” tapi  miskin akan jiwa nasionalisme.

Dulu, aku sangat menggebu-gebu untuk bisa berpergian ke luar negeri. Membanggakan negara ini negara itu, ingin ke negara ini negara itu. Ya, intinya sebuah kebanggan tersendiri bisa pergi ke suatu negara dan foto di salah satu iconnya yang terkenal. Sebenernya impian itu tak pernah salah, namun bagiku pribadi ada kesalahan berpikir yang sudah terjadi pada diriku. Aku membanggakan negara lain namun di satu sisi aku tak bangga dengan negaraku sendiri.

Waktu terus berjalan hingga pengalaman-pengalaman membawaku pada suatu pemaknaan yang berbeda. Beberapa orang Indonesia yang sukses di luar negeri ternyata memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Contohnya saja B.J. Habibie. Bagi kalian yang sudah menonton filmnya yang berjudul “Rudy Habibie” kalian akan menyadari bahwa kecintaanya sangat tinggi pada Indonesia. Film itu sebuah tamparan bagi diriku secara pribadi, karena selama ini kebanggaanku terhadap Indonesia sangat rendah. Mungkin terlalu tinggi bila melihat B.J. Habibie sebagai role model kita, kita bisa ambil contoh Pandji Pragiwaksono. Seorang stand up comedian yang bisa melakukan tour dunia dengan lawakannya. Ada salah satu video stand up nya penuh dengan aura nasionalisme.

Intinya, bahwa kesempatan pergi ke luar negeri akan selalu ada bagi kita yang siap. Siap dengan identitas kita. Siap dengan mental kita. Tak melulu orang luar negeri lebih cerdas daripada kita orang Indonesia yang polusi udaranya cukup tinggi. Tak melulu orang luar negeri lebih hebat daripada kita orang Indonesia yang sering makan tahu atau tempe. Ya semua itu hanyalah mentalitas kita saja.

Aku tak kan pernah mengubur impianku untuk bisa pergi ke beberapa negara, karena aku percaya dengan memperluas area jangkauan maka akan luas pula pengetahuanku kelak. Aku pun tak akan menggebu seperti dulu dengan memaksakan diri menulis rencana ke luar negeri yang selalu gagal karena tidak ada action. Kini aku memulainya dengan mencintai negeriku terlebih dahulu. Aku ingin suatu saat nanti bisa berkeliling Indonesia. Bukan hanya untuk traveling semata, tapi juga untuk mengetahui setiap budayanya, yap budaya SEXnya. Karena tiap daerah pasti punya kultur dan tradisi seks yang beraneka ragam. Sungguh pekerjaan yang sangat menyenangkan bila aku bisa mendapatkan kesempatan itu.

Jadikan 17 Agustus bukan hanya sebagai ajang nonton acara upacara bendera di TV aja. Tapi jadikan itu sebagai kebangkitan nasionalisme dalam diri kita. Tak perlu memaksakan belajar tari trasional kalo kamu memang nggak ada bakat disitu. Cukup mencintai negara ini dengan merubah mentalmu, dengan melahirkan kembali budaya senyum, buang sampah di tempatnya, saling menghargai lagi dengan pemeluk agama lain, dll.

Cheers!

 

Lo Nggak Capek Liat Langit Terus?

Seringkali secara otomatis kita akan terus membandingkan diri kita dengan orang lain. Entah itu membandingkan dari sisi buruk atau sebaliknya membandingkan dari sisi baiknya. Sayangnya, semakin sering kita membandingkan dengan orang lain semakin terpuruklah kita. Awalnya aku nggak percaya dengan statement itu, hingga aku merasakannya sendiri dan melihat contoh langsung yang aku temui di RS Jiwa.

Aku akan menceritakan salah satu klien yang aku dampingi  saat aku praktek magang di RSJ, semua identitas akan aku samarkan yaa demi keamanan 🙂

Sebut saja namanya Lulu, wanita berusia 34 tahun yang belum menikah dan sudah tiga kali rawat inap di RSJ. Pertemuanku dengannya sebenernya setelah aku menjalani hampir setengah periode magang. Saat aku pertama kali bertemu perawakannya lusuh, kusut, dan berantakan seperti orang yang tidur terlalu lama. Walau hari itu kami baru pertama kali bertemu, tapi Lulu sudah banyak bertanya tentang apa yang aku lakukan. Beberapa kali tanpa aku tanya ia selalu bercerita bahwa ia adalah seorang yang cerdas, punya tingkat pendidikan setaraf S2 dan baru saja menyelesaikan S3. Kala itu aku hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakannya. Segera aku mulai melihat rekam medisnya untuk aku pertimbangkan sebagai calon klien yang akan aku dampingi. Wolaa… ternyata dia memenuhi kriteria dan segera aku catat dalam buku note ku.

Keesokan harinya aku mulai mewawancarainya. Perkataanya memang ngalor ngidul, tapi inti omongannya adalah ia orang yang hebat, pintar, berpengalaman namun memiliki sifat manja dan selalu ingin dilayani. Lulu juga mengungkapkan bahwa ia ingin sekali punya mobil mewah dan rumah berlantai tiga dengan cara mejual rumah satu-satunya yang dimiliki ibunya.

Sehari dua hari berselang, aku memutuskan untuk janjian bertemu dengan kakak laki-lakinya.  Tujuannya satu, yaitu untuk mengkonfirmasi apa yang sudah Lulu ceritakan padaku. Ternyata tak semua yang Lulu ceritakan padaku itu salah dan beruntungnya Kakaknya menceritakan semua kronologis riwayat Lulu padaku.

Jadi sebenernya, Lulu adalah anak yang sangat di manja oleh orang tuanya. Semua yang Lulu inginkan selalu diusahakan mati-matian oleh orangtuanya. Dari lima bersaudara, hanya Lulu seorang lah yang tamatan S1 sedangkan saudara lainnya hanya tamatan SMA. Kebiasaan selalu dilayani oleh orang tua membuat Lulu menjadi sulit untuk mandiri, namun kontrasnya Lulu selalu menuntut agar semua keluarganya menuruti perkataanya, yap karena dia merasa dialah yang paling pintar karena berpendidikan lebih tinggi.

Dalam prosesnya Lulu berubah menjadi pribadi yang senang menuntut dan sulit menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginanya. Yang ada dalam benaknya adalah ia harus melebihi orang lain, entah bagaimanapun caranya. Sebenernya suatu keadaan yang sangat kontras, disatu sisi ia sangat ingin lebih dari orang lain namun disisi yang lain ia sangat tergantung pada orang lain.

Dalam situasi yang sudah jauh lebih baik dari perama kali aku bertemu dengannya, aku iseng-iseng bertanya padanya mengapa ia sangat ingin memiliki mobil padahal dia tak bisa menyetir dan keadaan orangtuanya sangat pas-pasan. Tanpa ragu Lulu menjawab,

Ya aku harus punya mobil, temen-temenku di kampus pada punya mobil masa aku nggak punya mobil.

Bisa di tebak, hingga saat ini Lulu belum memiliki mobil, namun ia sudah memiliki satu motor matic yang selalu bertengger di kamarnya dan tak pernah digunakan. Alasannya satu, ia ingin motornya selalu terlihat mulus agar beberapa tahun lagi nilai jualnya bisa lebih tinggi dari harga beli.

Sebenernya, hampir semua tuntutannya adalah hasil dari dirinya membandingkan dirinya dengan orang lain. Tuntutan yang terlampau tinggi serta tidak realistis dengan kemampuannya membuat pikirannya terpecah dan kacau. Hingga saat ini Lulu tak pernah tau apa yang sebenernya ia butuhkan, yang ia tahu hanya menuntut keadaan.

Dari sekelumit cerita Lulu diatas aku bisa mengambil banyak pelajaran bahwa selalu  membandingkan diri dengan orang lain tak akan bisa memperbaiki keadaan. Yang ada hanya menumpuk ambisi sedikit demi sedikit dalam diri yang malah dampaknya merusak keadaan. Ada yang bilang, ketika kita tidak membandingkan diri dengan orang lain kita hanya akan menjadi manusia dibawah rata-rata dan tak akan bisa berkembang. Padahal, manusia diatas rata-rata adalah manusia yang selalu mensyukuri apa yang dia dapatkan, membandingkan dirinya bukan dengan orang lain namun dengan dirinya sendiri, serta selalu mengukur kemampuan apa yang dimiliki.

Jadi, mau sampe kapan kamu akan terus membandingkan dirimu dengan orang lain?

Inget, diatas langit ada langit …

Cheers!