wanita pekerja seks tidak mau ciuman

Tanya Yori #1: “Kenapa PSK Nggak Mau Diajak Ciuman?”

Rate: 21+

Dari sekian banyak pertanyaan yang masuk ke blog, inilah pertanyaan yang paling banyak ditanyakan. Entah mengapa, mungkin karena banyaknya para pria petualang cinta yang langsung ditolak mentah-mentah saat bibir udah siap buat nyosor, hehe. Atau bisa karena faktor X lain juga bisa sih.

Well akan aku jawab sesuai dengan data yang aku dapat.

Sepengetahuanku menyelami kehidupan para mbak-mbak penjaja cinta, jadi ada 3 tipe wanita pekerja seks yang aku dapatkan. Yaitu:

  1. Sukarela. Yang pertama ialah memang suka rela bekerja dengan penuh kesadaran menjadi pekerja seks. Misalnya perempuan yang berasal dari beberapa daerah pemasok wanita pekerja seks ke kota-kota besar. Karena sebagian besar tetangga dan sanak keluarga berprofesi sebagai pelacur, maka pekerjaan tersebut dijadikan sebagai satu-satunya profesi yang bisa mensejahterakan kehidupan dan tentunya mereka menikmati pekerjaan tersebut.
  2. Terjebak. Nah tipe yang kedua ini ialah para wanita yang awalnya terjebak karena suatu kondisi tertentu. Biasanya ini bukan karena keadaan ekonomi yang terdesak pada awalnya. Jadi banyak wanita pekerja seks yang awalnya dijebak atau dijual oleh seseorang. Seperti awalnya dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pelayan resto, namun setelah sampai di kota mereka ditinggalkan begitu saja di pusat karaoke atau lokalisasi. Karena alasan tidak tahu jalan, tidak membawa uang, tidak berani dan alasan lainnya mereka akhirnya memutuskan untuk menjalani apa yang ada dihadapannya. Jadi awalnya terjebak, namun karena mulai beradaptasi maka menjadi terbiasa dan memutuskan untuk lanjut bekerja sebagai wanita pekerja seks. Kebanyakan dari mereka sudah merasa tidak berdaya dan langsung menyerah dengan keadaan, terlebih didesak dengan keadaan ekonomi.
  3. Pilihan. Nah, tipe yang ketiga inilah yang banyak orang tidak tahu. Banyak cerita miris yang aku dapatkan dari para wanita yang akhirnya memutuskan menjadi pekerja seks. Walaupun banyak dari mereka yang terpaksa memilih karena murni himpitan ekonomi (biasanya janda yang ditinggal meninggal, punya banyak anak), namun ada juga yang diakibatkan oleh faktor lain. Salah satunya ialah faktor ekonomi yang ditunggangi oleh faktor sakit hati. Jadi aku pernah secara intim berbicara dengan salah satu wanita pekerja seks di SK. Dia mengungkapkan bahwa sebelumnya ia adalah penjaja kue keliling dari desa ke desa. Setiap pagi bangun jam 3 pagi untuk membuat adonan kue agar paginya bisa segera dijajakan. Karena suatu hal, ia dilecehkan oleh keluarganya hanya karena ia miskin. Sejak saat itu, ia bertekad melakukan segala upaya untuk menjadi kaya, dan mungkin gelap mata jadi dia terpaksa menjadikan pelacur sebagai jalan untuk bisa meraih kekayaan. Nah, ada lain cerita lagi yaitu dari korban perkosaan. Banyak wanita pekerja seks yang ada di SK adalah korban perkosaan. Mereka menganggap bahwa diri mereka sudah tidak lagi berharga dan memilih untuk menjual diri.

Nah setelah tahu beberapa pengklasifikasian wanita pekerja seks diatas, maka ini sangat berhubungan mengapa ada beberapa PSK yang tidak mau diajak ciuman. Dari hasil survey pribadi, maka tipe wanita pekerja seks yang cenderung enggan diajak berciuman atau melakukan sesuatu yang lebih intim ialah yang tipe ketiga. Mengapa? Karena kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan tersebut semata-mata untuk uang, bukan untuk senang-senang, sehingga tidak ingin ada kontak emosional yang terjalin. Ciuman, pelukan, belaian ialah salah satu bentuk dari love bounding. Saat seorang wanita pekerja seks luluh karena love bounding tersebut maka akan timbul benih-benih asmara yang banyak dimanfaatkan laki-laki hidung belang sebagai sarana untuk mencari seks gratisan. Banyak juga dari mereka yang benar-benar bekerja untuk menghidupi kebutuhan keluarganya di desa. Sehingga, mereka akan menutup celah serapat-rapatnya agar fokus bekerja tidak berubah menjadi fokus ke hedonisme dan yang-yangan.

Jika kita semua mau open mind, sebenarnya banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan wanita pekerja seks, terlebih soal urusan ranjang. Sekilas memang nggak nyambung sih, apa coba hubungannya sama PSK ciuman dengan kepuasan wanita di ranjang.

Banyak pria yang mempermasalahkan ukuran ukuran penis untuk memuaskan wanita, padahal bukan itu yang sebenarnya diinginkan wanita. Ukuran Mr.P itu hanya berpengaruh pada sugesti saja karena mungkin sering dengar kalo pria perkasa itu pria yang punya penis besar dan panjang.

“Masters and Johnson research: penis size having no physiological effect on female sexual satisfaction.”

Sebab secara fisik ukuran penis tidak menentukan fungsi ereksi dan fungsi seksual pada umumnya, yang terpenting ialah perkembangannya sudah mencapai tahap perkembangan yang normal. Selain itu, salah satu faktor penting yang tidak boleh dilupakan ialah  seorang wanita akan menjadi lebih puas saat diperlakukan dengan spesial oleh pasangan dan tidak dianggap hanya sebagai objek seks. Sehingga, saat wanita bahagia dengan hubungan yang dijalani, maka dapat dikatakan relatif puas dengan kehidupan ranjangnya. Love bouding sangatlah penting.

Yap, semoga apa yang aku sharingkan bisa menjawab pertanyaan dan bisa menambah wawasan untuk yang lainnya. Jika ada pertanyaan, silahkan bisa lewat komen atau kalo ada yang mau tanya secara private silakan lewat email: celotehyori@gmail.com dengan subject: tanya yori

see you!

 

voyeurisme

Voyeurisme: Kenikmatan di Balik Celah

Dulu sewaktu aku kecil ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa “Saat matamu timbilen atau beleken, berarti itu adalah akibat dari ngintip di kamar mandi”. Pernah aku beberapa kali kena sakit mata, dan selalu malu saat ingin berangkat sekolah. Bukan malu karena penyakitnya, namun yang bikin malu ialah ejekan teman-teman yang menjudge bahwa aku baru saja mengintip orang mandi.

Aku tak tahu, apakah generasi millenial sekarang ini mengalami apa yang sempat aku alami 15 tahun yang lalu. Dan sepertinya sih engga ya, karena mitos-mitos zaman dulu yang nggak masuk akal sudah mulai tergusur dengan logika dan teknologi wkwkw.

Nah ngomong-ngomong soal ngintip, kemarin saat aku sedang ngecek web yang hampir berdebu, aku mendapatkan coment di postinganku “Dipamerin Titit” dari seorang wanita yang menanyakan hal berkaitan dengan kehidupan seksualnya. Singkatnya, wanita itu bercerita bahwa akhir-akhir ini ia merasa ketagihan mengintip lawan jenis yang sedang mandi dan dia merasa bingung karena aktivitasnya itu semakin membuatnya penasaran dan terangsang.

Secara literatur psikologi, sebenarnya apa yang diceritakan cenderung ke arah penyimpangan seks yang dinamakan voyeurisme. Voyeurisme sendiri ialah kondisi dimana seseorang mendapatkan kepuasan seks dengan cara mengintip orang lain yang sedang tak berbusana atau yang sedang berhubungan seks. Kebanyakan kasus dialami oleh pria, namun tidak menutup kemungkinan wanita juga bisa mengalaminya. Untuk mencapai orgasme, seorang voyeur akan melakukannya sambil masturbasi atau onani. Hal itu bisa dilakukan sambil mengintip, ataupun dilakukan setelahnya dengan sambil mengingat apa yang telah dilihat dan bisa juga dibumbui dengan imajinasi seksnya. Karena aktivitas mengintip ini dilakukan secara diam-diam, maka voyeurisme sangat jarang terjadi kontak antara orang yang diintip dan yang mengintip.

voyeurisme

sumber: google.com

Menurut American Psychiatric Association dalam Diagnostic and Statistical Mannual of Mental Disorder fourth edition (DSM-IV), kriteria diagnosa untuk voyeurisme ialah seperti berikut :

  1. Seseorang dengan kebiasaan melihat orang yang sedang telanjang, menanggalkan pakaian, atau orang lain yang sedang melakukan aktivitas seksual, yang dilakukan untuk membangkitkan hasrat seksual, dilakukan berulang kali, dan terus menerus dalam kurun waktu minimal 6 bulan.
  2. Pelaku voyeurisme mengalami penderitaan dan frustasi berat sehingga mengganggu hubungan sosial, pekerjaan, dan aktivitas hariannya yang lain disebabkan oleh fantasi seksual dan kegiatan pengintipannya.

Sebenarnya tidak ada penyebab secara spesifik yang membuat seseorang menjadi veyourisme. Namun beberapa ahli menyebutkan bahwa tindakan voyeurisme merupakan salah satu bentuk pertahanan ego agar tidak mengalami perasaan takut yang berlebihan dan memori yang direpres. Selain itu, juga berhubungan dengan fiksasi ego di tahap pregenital dalam perkembangan psikoseksual. Haha mumet ya? Intinya, seseorang yang mengalami voyeurisme perkembangan sosial dan seksualnya tidak matang, tidak berkembang sehingga kurang memadai untuk bisa menjalani relasi seperti orang dewasa pada umumnya. Namun juga ada juga pandangan lain yang menyebutkan bahwa perilaku tersebut merupakan hasil dari proses conditioning atau pengondisian secara terus menerus sehingga membentuk sebuah pola atau kebiasaan tersebut.

Jadi misalnya, saat pertama kali didasarkan oleh dorongan rasa penasaran yang sangat tinggi. Walaupun takut, namun rasa penasaran terus mendorong untuk melakukannya. Saat mengintip itu munculan sensasi-sensasi aneh yang cenderung ke arah seksual seperti muncul rasa terangsang sehingga ingin melakukan masturbasi. Dan begitu pula seterusnya. Jika pola tersebut terus menerus dilakukan, otomatis akan terjadi suatu penguatan terlebih mendapatkan perasaan nikmat berupa orgasme terselubung.

Lalu bagaimana solusinya?

Kalo aku sih menyarankan untuk segera menemui seseorang yang memang ahli dalam bidangnya. Sebab, jika perilaku menyimpang tersebut terus dipelihara maka akan menyulitkan dan menjadi sumber masalah di kemudian hari.

Yap! Segitu dulu penjelasan dariku. Jika ada yang mau tanya lebih lanjut silahkan coment atau japri juga boleh 😀