friends with benefit

Tanya Yori #2 : Pilih Onani atau Friends With Benefit Relation ?

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang pria yang mengirimkan message melalui aplikasi chat. Kurang lebih seperti judul yang aku tulis. Pertanyaannya memang belumaku jawab secara gamblang, karena chat tidak berlanjut setelah aku bertanya “Kronologisnya gimana ya?”

Nah, karena aku tidak tahu menahu gimana jalan ceritanya sampai pertanyaan itu muncul, maka aku nggak bisa bantu suggest apa-apa. Jadi lewat tulisan ini aku akan sedikit menjelaskan tentang apa itu Friends With Benefit Relationship atau yang sering disingkat FWB ini secara umum.

Apa itu Friends With Benefit?

Awalnya, jujur aku bingung ketikan ditanya tentang FWB itu apa. Tapi setelah tahu kepanjangannya, aku jadi ingat salah satu film yang diperankan oleh Justin Timberlake dan Mila Kunis dengan judul yang serupa dengan bahasan ini dan satu lagi judul film No Strings Attached yang cukup terkenal.

friends with benefit

Bagi yang belum pernah nonton filmnya atau familiar dengan relasi jenis ini pasti bingung kan ya.. Namanya temen itu saling menguntungkan dengan saling tolong menolong satu sama lain. Tapi yang dimaksud dengan FWB lebih sekedar saling tolong menolong, tapi sudah sampai pada relasi seksual.

“Friend with Benefits is two friends who have a sexual relationship without being emotionally involved” – urbandictionary

Jadi gampangnya, Friends With Benefits ialah keadaan dimana dua orang teman memutuskan untuk saling behubungan seksual tanpa adanya ikatan emosional atau dua orang yang melakukan hubungan seksual secara casual tanpa adanya komitmen untuk berada dalam suatu ikatan.

Cuma temenan, bukan pacaran, tapi begituan.

FWB ini bisa terjadi tidak hanya pada heteroseks saja, namun juga bisa pada homoseksual dan orientasi seks lainnya. Yang menjadi ciri dalam relasi ini ialah sama-sama bersedia menjalin hubungan tanpa adanya romantisme, tidak memiliki keterikatan pada komitmen hubungan layaknya hubungan pacaran serius (yakalii.. pacaran aja ada yang cuma main-main hihihi…) .

Latar belakang memilih untuk FWB – an

Tentunya dalam setiap tindakan dilandasi dengan tujuan, alasan or something else dong ya.. Nah menurut survey yang aku dapet dari mince (eh kok mince ya haha) maksudnya dari beberapa survey bahwa kebanyakan dari mereka yang menjalani relasi ini atas dasar untuk kesenangan belaka. Sehingga sebelum memutuskan untuk jalan, kedua belah pihak saling berjanji untuk  “no heart and hurt feeling”.

friends with benefit quote

Namun, disisi lain ada juga yang menyebutkan bahwa yang melandasi seseorang menempuh relasi ini ialah karena menjalani hubungan percintaan merupakan hal rumit dan penuh dengan drama. Sehingga mereka yang memilih untuk FWB-an (konon) tidak akan punya perasaan apa-apa saat temen FWB-annya FWB-an lagi sama orang lain yang FWB-an juga. Haha mumet!

Perbedaan FWB menurut laki-laki dan perempuan

Ternyata fenomena FWB ini sudah banyak yang meneliti, baik dari dalam dan luar negeri, salah satunya ialah penelitian yang dilakukan di Inggris dan dimuat dalam Journal Of Sex Research. Dalam penelitian itu menyebutkan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan dalam menjalani relasi seks ini ialah kebanyakan laki-laki menginginkan status tidak berubah hingga waktu yang lama bahkan seterusnya, sedangkan pada perempuan seiring waktu mereka mulai menunjukkan hasrat untuk merubah hubungan tanpa komitmen menjadi ke arah yang lebih serius ke dalam hubungan romantis.

Dari hasil penelitian tersebut kita dapat mengambil garis besarnya, salah satu pihak (kebanyakan perempuan) ingin merubah relasi ini menjadi cinta.  Karena menurut pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino.

Lho? Kenapa laki-laki bisa tegas tapi perempuan tidak?

Jangan judgemen dulu, pastinya hal itu ada penjelasannya.

Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan relasi seks yang dijalani. Tidak bisa dipungkiri bahwa  orgasme bisa memberikan kenyamanan secara batin, emosi dan psikologis. Dibalik itu semua terdapat kinerja hormon yang mempengaruhi kinerja emosi. Hormon yang itu salah satunya ialah hormon cinta atau dikenal dengan hormon oksitosin. Fungsi utama hormon oksitosin ini bertanggung jawab untuk menciptakan emotional bounding. Itulah kenapa saat saling menikmati hubungan seks, muncul rasa sayang dan bisa muncul rasa cinta. Yang tadinya cuma 1% bisa menjadi 89%. Hormon ini memang dominan pada wanita karena hormon kasih sayang ini juga muncul saat seorang wanita memberikan ASI pada anak yang  mencetus adanya ikatan emosi antara ibu dan bayi.

Maka tak heran, bila sudah terjadi beberapa kali relasi seks yang berujung pada orgasme, akan muncul rasa yang lebih dari teman. Apalagi setelah orgasme dilanjut dengan pillow talk, saling mengobrol untuk menceritakan kepenatan hari dan menceritakan tentang satu sama lain. Maka dari situlah drama dimulai. Mulai dengan memberi sedikit perhatian “udah makan belum”, “jangan pulang kantor larut malem ya…” dan tipe ungkapan perhatian lainnya.

Mungkin bagi pria ini adalah hal yang biasa dan tidak menyalahi perjanjian di awal. Namun gimana dengan wanita? Kenyamanan emosional seringkali mengalahkan logika. Karena sebagian besar wanita seringkali masih berpikir dengan hati.

Siapa pihak yang rugi?

Bisa ditebakkan siapa yang rugi? Yap! Mereka yang gampang baper. Aku nggak bilang kalo selamanya wanitalah yang rugi, karena saat ini juga banyak pria yang otaknya ada di hati.

Memang setiap hubungan selalu ada risikonya, namun dibalik itu semua jika dalam FWB terjadi kehamilan maka pihak perempuanlah yang banyak menanggung risiko. Risiko ditinggal, risiko tidak diakui, dan segala risiko lain yang melekat.

Begitupula dengan laki-laki, jika menjalani relasi FWB-an berarti menunjukkan pria yang tidak pantas untuk dicintai. Ada kutipan bagus yang aku comit dari internet,

“friends with benefits” in reality is telling you to your face that you’re good enough to f*ck, but not good enough to invest feelings in.

Loh?! Di luar negeri aja banyak yang jalanin hubungan tanpa status fine-fine aja tuh? Apa salahnya untuk dicoba?

Ya memang di luar negeri sana banyak yang menjalani hubungan tanpa adanya komitmen, bahkan tanpa secara legal hingga punya anak. Tapi, tunggu dulu.. ingatlah pola budaya, pola hidup kita orang timur jauh berbeda dengan mereka. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kesetaraan gender di luar negeri sudah lebih baik dari pada di negeri tercinta ini. Kebanyakan mereka menjalani FWB memiliki tanggung jawab yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Aku sempat bertanya dengan saudara yang udah lama tinggal di luar negeri, bahwa kebanyakan pasangan di sana memutuskan untuk tidak berkomitmen secara legal karena nikah punya beban pajak yang besar dan juga karena alasan menikah itu ribet. Dari sudut pandang mereka bahwa komitmen itu tidak hanya bicara soal legalitas, yang terpenting adalah tanggung jawab. Jadi daripada buang waktu dan energi, mereka memilih untuk living together.

 

 

Jadi pilih onani atau FWB-an ?

 

gunung kemukus - kompas

Tradisi Ritual Seks di Gunung Kemukus

Gunung Kemukus merupakan salah satu gunung yang cukup bahkan fenomenal di Indonesia. Hal yang membuat gunung ini menjadi fenomenal, bukan karena ketinggiannya yang menyaingi Gunung Everest ataupun Gunung Himalaya, bukan. Namun hal yang membuat gunung ini menjadi berbeda dengan yang lain ialah fenomena ritual seks yang ada di gunung tersebut. Ketenaran Gunung Kemukus semakin menanjak saat ada media asing yang membuat liputan khususnya di tahun 2014 lalu.

Sebagian besar masyarakat di Jawa mengenal Gunung yang terletak di Kab. Sragen ini sebagai gunung yang sering digunakan untuk ngalap berkah plus plus. Bagi orang Jawa yang mempercayai Kejawen, ngalap berkah sendiri diartikan kegiatan untuk mencari berkah dengan mengunjungi tempat-tempat keramat atau orang yang dianggap bisa memberikan keberkahan seperti makam wali, gua, pemandian, pohon, sendang (telaga) dan sebagainya. Di area Gunung Kemukus sendiri, terdapat sebuah makam yang dikeramtkan oleh masyarakat sekitar yaitu makam dari Pangeran Samudro, yaitu tokoh penyebar agama Islam yang masih memiliki keturunan Kerajaan Majapahit.

Pastinya banyak yang bertanya-tanya bagaimana bisa ada syarat ritual seks yang harus dilakukan di makam yang notabene sebagai penyebar agama yang kini dipeluk mayoritas penduduk di Indonesia. Hal tersebut sebenarnya tidak bisa terlepas dari kepercayaan masyarakat yang sudah turun temurun, yang sayangnya keliru.

Banyak orang percaya bahwa, dengan berdoa di Gunung Kemukus apapun permintaan akan dikabulkan. Kebanyakan orang yang ngalap berkah di Gunung Kemukus ialah orang-orang yang memiliki kepentingan terkait dengan kekuasaan, seperti ingin mendapatkan kenaikan pangkat, terpilih sebagai kepala daerah, dll. Maka tak heran saat menjelang pemilihan kepala derah, Gunung Kemukus ini menjadi lebih ramai dibandingkan dari hari-hari biasanya.  Hal ini dibuktikan dengan penelitian tentang Mitos dan Kekuasaan di Gunung Kemukus yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa Udayana Bali, bahwa banyak dari peziarah yang datang dengan motif kekuasaan.

Menurut info yang tersebar, orang yang ingin permintaanya dikabulkan maka wajib melakukan hubungan seks dengan yang bukan pasangannya sahnya selama tujuh kali berturut-turut pada malam Jum’at Pon. Bagi mereka yang datang sendirian, otomatis akan mencari partner ritual yang ada di lokasi. Sehingga tidak heran, bila di sekitar Gunung Kemukus terdapat banyak wanita atau pria yang menawarkan diri sebagai partner ritual seks dengan para oknum peziarah. Dan ada pula warung remang-remang yang menyediakan bilik-bilik asmara.

Ritual Seks di Gunung Kemukus - SBS News

Ritual Seks di Gunung Kemukus – SBS News

Ritual seks tersebut memang tidak bisa terlepas dari beberapa mitos yang beredar. Beberapa sumber mengatakan bahwa konon pada zaman dahulu ada seseorang yang bernama Pangeran Samudro yang jatuh cinta dengan ibu tirinya Nyai Ontrowulan. Mereka berdua berhubungan badan di puncak Gunung Kemukus dan tertangkap basah oleh Raja. Kemudian keduanya dibunuh lalu jasad dimakamkan di tempat yang sama. Banyak yang percaya, bahwa makam keduanya menjadi tempat suci dan dijadikan sebagai tempat untuk meminta kemakmuran hidup.

Selain mitos yang beredar tersebut, hubungan seks yang dijadikan sebagai syarat wajib tersebut juga muncul karena kesalahan tafsir yang selama ini diyakini oleh masyarakat. Konon sebelum meninggal dunia, Pangeran Samudro memberikan wejangan pada pengikutnya.

Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang-sliweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakno dhemene kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane.”  (sumber: Kadjawen, Yogyakarta: Oktober 1934)

Artinya : “Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki maka untuk mencapai tujuan harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan-kiri harus konsentrasi pada yang dikehendaki atau yang diinginkan, dekatkan keinginan seakan-akan mau menuju ke tempat kesayangannya atau kesenangannya.

Sayangnya, wejangan tersebut kemudian disalahartikan oleh oknum peziarah, terutama pada bagian dhemenane. Para oknum menafsirkan bahwa yang dimaksud degan dhemenane yaitu  seperti kekasih simpanan atau teman kumpul kebo dan wajib untuk melakukan hubungan seks. Padahal, bila ditelaah lebih dalam kata dhemenan dalam konteks Jawa merupakan keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang akan segera terwujud atau tercapai seperti ketika ingin menemui kekasih.

Sebenarnya, Pangeran Samudro adalah tokoh yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam. Pangeran keturunan Kerajaan Majapahit ini berkelana ke Demak bersama ibunya untuk memperdalam agama Islam dengan Sunan Kali Jaga. Kemudian, setelah beberapa lama mendalami agama Islam di Demak, Sunan Kali Jaga mengutusnya untuk lebih mendalami ajaran agama dengan Ki Ageng Gugur di lereng Gunung Lawu. Setelah selesai menimbah ilmu, dalam perjalanan pulang menuju Demak Pangeran Samudro jatuh sakit dan akhirnya meninggal saat sedang beristirahat di Dukuh Miri. Selama perjalanan dan saat singgah, Pangeran senantiasa selalu menyebarkan agama Islam hingga ajal menjemput. Mendengar kabar meninggalnya Pangeran, ibunya (Nyai Ontrowulan) segera menyusul ke Dukuh Miri. Karena kesedihannya, maka Ibunya ikut wafat dan minta untuk dimakamkan menjadi satu dengan putranya.

Andanya ritual-ritual yang dipercaya untuk mencapai tujuan tertentu sebenarnya tidak bisa terlepas dari kepercayaan yang telah diyakini secara turun temurun. Dalam ilmu psikologi segala sesuatu akan benar-benar terjadi ketika seseorang benar-benar meyakini dan mempercayai bahwa hal tersebut memang benar-benar terjadi. Bila ditelisik lebih dalam, menurut teori Sigmund Freud bahwa suatu informasi yang sangat diyakini dan diamini akan masuk ke dalam alam bawah sadar, baik itu yang bersumber dari persepsinya sendiri atau alam tidak sadarnya. Hal tersebut kemudian akan berubah menjadi beliefnya. Tentunya, belief seseorang akan semakin kuat tergantung dari tingkat sugestibilitas seseorang. Semakin sering informasi masuk ke alam bawah sadar, maka beliefnya akan semakin kuat. Terlebih jika informasi sugestif tersebut diberikan oleh sosok yang dianggap memiliki otoritas tinggi, seperti juru kunci, dukun dll. Tak hanya gen dan hereditas aja yang bisa diturunkan, keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap sesuatu juga sangat bisa diturunkan. Menurut Carl Jung (muridnya Freud) menjabarkan bahwa sebenarnya ketidaksadaran manusia itu memiliki dua lapisan, yang pertama ketidaksadaran individu yang dibentuk dari pengalaman pribadi, dan ketidaksadaran kolektif yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Ketidaksadaran kolektif ini tidak terbentuk dari pengalaman hidup, namun diwariskan dari nenek moyang secara alami, seperti sudah terinstal dalam pikiran saat seseorang baru lahir.

larangan ritual seks - BBC

larangan ritual seks – BBC

Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu Pemerintah Jateng sudah melarang dengan keras adanya praktek ritual ihik-ihik di Gunung Kemukus dan hanya memperbolehkan digunakan sebagai wisata religi semata. Namun sayangnya, larangan tersebut tidak berlangsung lama. Kabarnya praktek ritual seks kini muncul kembali seperti semula.

Sangat disayangkan sekali, karena ritual seks yang banyak dipercaya orang untuk mendapatkan kekayaan sebenarnya menimbulkan suatu permasalah yang cukup mengakar. Tidak hanya soal masalah moral dan budaya yang sudah tercemar, namun juga resiko kesehatan (HIV/AIDS) juga sudah mengancam.