Di sosmed siang ini ada hal yang heboh selain rebut soal isu agama dan politik, ada yang tau apa? Haha

Video seorang anak SD yang menyebutkan nama-nama ikan untuk mendapatkan sebuah sepeda dari Pak Presiden. Sebut saja, PJ (Pak Jokowi) dan AS (Anak SD). Dari jawaban AS terlihat ada salah satu jenis ikan yang rasanya ganjil di telinga. Apa itu? Ikan kont*l? Sepertinya aku baru denger jenis ikan itu.. Atau mungkin itu salah satu jenis ikan yang baru di kedalaman sungai Amazon. Hmm.. Bisa.. bisa jadi. Namun tak lama kemudian, ternyata si AS mengoreksi perkataanya dengan menggantinya menjadi Ikan Tongkol.

Bagi kita yang sudah terbiasa mendengar istilah kont*l, mungkin akan langsung berpikiran bahwa si AS itu pikirannya jorok atau “nakal”. Tapi pernahkah kita berpikir siapa yang sering menyematkan kata itu dipikirannya? Bisa jadi lingkungan sekitarnya yang sering mengucapkan istilah itu sehingga membuat si AS terbiasa mengucapkannya pula.

Bila kita lihat dengan seksama, PJ tidak memberikan respon yang berlebihan ketika si AS salah menyebutkan nama ikan. PJ hanya tersenyum, sembari menanyakan kembali untuk mengkonfirmasi perkataan si AS. PJ sangat menghargai perasaan si AS, karena saat itu si AS ditonton oleh ratusan bahkan ribuan pasang mata. PJ juga tidak memberikan suatu makna buruk pada si AS, karena PJ tau si AS sebenarnya tidak mengerti apa arti yang sebenarnya yang ia katakan.

Dibalik itu semua, hal yang ingin aku sampaikan adalah terkadang kita orang dewasa berfikir anak kecil yang mengungkapkan istilah-istilah “kasar atau jorok” itu pasti sudah berpikir hal-hal negative. Padahal, orang dewasa sendirilah yang memberikan makna pada suatu istilah menjadi negative.

Misalnya ketika ada anak usia 2 tahun mengikuti kata “Asu” yang baru saja bapaknya katakana. Lalu si bapak langsung merespon melarang “eh.. eh .. nggak boleh ngomong kasar kaya gitu”. Si anak langsung menghubungkan ternyata “Asu” itu adalah kata kasar. Padahal, pada dasarnya semua kata itu netral. Yang memaknai itu buruk atau baik adalah pikiran kita sendiri. Sehingga, responlah dengan datar tanpa memberikan suatu makna tertentu. Dengan begitu anak juga tidak akan memaknai hal yang serupa. Nah hal ini merupakan salah satu contoh dari pendidikan seksualitas 🙂