Beberapa waktu terakhir ini isu tentang perselingkuhan kerap datang di ruang praktikku, baik itu secara tatap muka ataupun secara online. Biasanya yang merasa menjadi korban perselingkuhan yang melakukan konsultasi, akan tetapi ada juga dari mereka yang melakukan perselingkuhan sadar ingin memperbaiki rumah tangga mereka.

Bila di tanya apa sih yang menjadi faktor penguat perselingkuhan? WIL? PIL? PELAKOR? PEBINOR? PHO? atau istilah-istilah lainnya. Hmmm.. hal tersebut adalah bersumber dari faktor ekternal semua. Padahal eh padahal, adanya pihak lain yang masuk ke suatu hubungan yang berjalan itu karena adanya celah kosong dan tentu ada jalan masuk menuju ke celah tersebut.

Contoh sederhana tapi tidak bisa dipelekan ialah membangun kebiasan untuk saling bercerita. Banyak pasangan yang keceblos ke problem perselingkuhan karena menyepelekan soal hal ini. Banyak sekali alasan yang dijadikan sebagai pembenaran terkait persoalan tidak memiliki kebiasaan ini.

“Cerita soal kerjaan sama isti mana paham dia, mbak.”
“Prinsip saya, persoalan di kantor tidak akan saya bawa ke rumah. Selain itu saya juga tidak mau istri jadi ikut kepikiran.”
“Gimana mau cerita sama istri mbak, dia mau taunya soal uang aja. Yang penting kebutuhan sehari-hari tercukupi, udah gitu aja yang lain-lainnya dia gak mau ambil pusing..”
“Suami ibaratnya sudah menyerahkan semua soal anak dan rumah ke saya, jadi suami udah bilang terserah aja kalo saya cerita soal rumah… huft! ”
“Males mbak cerita sama suami, bawaannya nuduh saya gak bener mulu ngedidik anak kalo saya cerita anak nakal di sekolah. Padahal tugas mendidik anak kan bukan saya doang kan mbak?”

Dan banyak lagi alasan-alasan lainnya. Memang perkara komunikasi itu tidak sesepele hanya asal bicara saja. Namanya juga komunikasi pasti melibatkan dua belah pihak, yang setiap pihak pasti memiliki latar belakang yang berbeda, dari budaya keluarga yang berbeda, tingkat pendidikan maupun pemaknaan suatu peristiwa yang berbeda pula serta banyak lagi. Komunikasi bukan soal bakat, tapi soal skill. Untuk itulah penting sekali untuk melatih komunikasi. Salah ngomong atau dapat respon yang tidak sesuai dengan yang diharapkan itu adalah suatu hal yang wajar, sangatlah wajar. Kalau tidak melakukan salah, maka tidak ada pembelajaran.

Akan tetapi, persoalannya melatih komunikasi dengan pasangan itu tidak semudah berlatih sepeda. Sakitnya salah komunikasi itu bukan seperti luka fisik karena jatoh naik sepeda yang lukanya bisa langsung diobati dan mulai kembali berlatih lagi. Sedangkan luka karena salah komunikasi itu tidak terlihat sehingga tidak langsung diobati, ya luka di dalam hati.

Komunikasi itu rangenya sangat luas, tahu kan maksudnya gimana? Yap, yang namanya komunikasi itu ada gak sekedar verbal aja (berupa kata-kata) tapi ada juga komunikasi nonverbal (gestur tubuh, ekspresi wajah, dll). Diantara dua jenis komunikasi tersebut, komunikasi nonverbalah yang paling jujur. Lah kok bisaaa??? Bahasa tubuh itu gak bisa bohong, semanipulatif-manipulatifnya orang pasti ada saja bahasa tubuh yang mengatakan soal isi hatinya. Sebaliknya dengan komunikasi verbal yang anak kecil aja bisa bohong, bagaimana yang sudah dewasa hehehe.

Ya contoh gampangnya deh. Istri muka cemberut, terus suami tanya, “kamu lagi kenapa?”, “Gak kok, gak napa-napa”, dijawab masih sambil cemberut. Pertanyaanya, yakin istri beneran sedang baik-baik saja?

Dari kondisi simple gitu aja kadang kalo lagi sama-sama bete ya udah gak diambil pusing. Ya anggepnya baik-baik aja seperti yang dikatakan, padahal sih hati suami ngrasa ada yang ganjil. Tapi karena udah terlanjur males dapet respon yang begitu, ya sudah deh tidak ada konfimasi lanjutan.

Nah, tipe-tipe model gini nih yang bikin celah masuknya pelakor dan sejenisnya. Jurang misskomunikasi sudah besar sehingga untuk membuat jembatan komunikasi rasanya udah putus asa duluan. Satu sama lain sudah sensi mulu dan bertengkar, entah itu cekcok mulut atau diem-dieman seakan tidak terjadi apa-apa.

Itulah mengapa sangat penting sekali membangun komunikasi dari awal hubungan, entah itu masih dalam fase pacaran atau ketika baru saja menikah. Karena ketika masih pacaran dan menikah tentu saja konflik yang dialami berbeda. Waktu pacaran konfliknya paling cuma lupa ngabarin atau bingung nentuin mau jalan kemana, sedangkan ketika sudah menikah persoalan bukan soal mau makan apa, tapi ya soal ekonomi, anak, mertua, tetangga, dll. Kalo komunikasi nggak jalan maka bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya menjalani rumah tangga.

Oleh karena itu, jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk bercerai. Bisa jadi adanya pelakor dan sejenisnya itu karena memang terkait jurang komunikasi, bukan karena pasangan memang bawaanya gatel.

Mulailah dengan kesepakatan untuk saling terbuka dengan pasangan, apapun itu sekecil apapun yang dirasakan, tak perlu ditutup-tutupi dan jadilah apa adanya di depan pasangan. Setelah adanya kesepakatan itu, kemudian yang selanjutnya ialah tidak mudah untuk saling menjudgment satu sama lain, jadi gak gampang berasumsi gitu lo. Kalo pun ada hal yang ganjil dan rasanya tidak seperti biasanya maka validasi dengan konfirmasi langsung ke pasangan. Nah karena masih belajar membangun komunikasi maka tidak apa ada salah-salah dikit dalam bertanya, namun setelah terbiasa adanya komunikasi timbal balik maka kedua belah pihak juga perlu untuk belajar bagaimana menjadi penanya yang baik. Sebab tak jarang miskom itu juga muncul karena salah pemilihan kalimat dalam bertanya.

Misalnya. “Kamu kenapa?”, “ada masalah gak di rumah?” bisa diperhalus dengan “Tadi dikantor gimana, sayang? Lagi banyak lemburan ya.. ?”, “Kok keliatannya bete gitu, sini cerita sama aku siapa tau aku bisa bantu..”

Membantu pasangan yang sedang menghadapi persoalan itu tidak selalu memberikan solusi konkret atas persoalan yang sedang dihadapinya, jadi pendengar yang baik dan memberikan respon yang menenangkan hati itu justru yang paling dibutuhkan. Suami atau istri jadi lebih relaks dan lega sehingga tau apa yang semestinya dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Ketika skill komunikasi terus dilatih, secara otomatis ada koneksi tidak tampak antara suami dan istri. Suami lagi nyanyi dalam hati, tiba-tiba istri nyanyiin lanjutannya secara langsung, padahal suami gak ngomong kalo dia lagi nyanyi dalam hati. So Sweet banget kalo udah gitu. Nyanyi aja bisa nyambung, gimana kalo lagi ada persoalan? pasti bakal dirembug bareng-bareng dengan hati dan kepala yang dingin apalagi sambil boboan di kasur 😀

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.