sad girl
image: vippng

Siapa yang mau hidup bahagia? Kalau ditanya begitu pasti orang menjawab, saya! saya! saya! Yap, bisa dibilang salah satu tujuan seseorang hidup ialah untuk bisa bahagia.

Lalu bila ditanya lebih detil lagi, apa sih arti dari bahagia itu?

Menurut KKBI arti bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram. Tak jauh berbeda dengan Oxford English dictionary’s arti dari bahagia adalah keadaan senang.

Dalam dunia psikologi sendiri terdapat suatu aliran yang disebut dengan psikologi positif. Aliran tersebut lebih spesifik membahas tentang kesejahteraan psikologis salah satunya ialah tentang bahagia. Dalam beberapa literatur psikologi positif menjelaskan bahwa bahagia merupakan kondisi yang ditandai dengan perasaan positif yang erat kaitannya dengan kepuasan hidup, penghargaan hidup, serta pengalaman-pengalaman yang memunculkan emosi positif.

Namun bagaimana dengan realitasnya? Apakah setiap orang selalu mengalami pengalaman yang positif dulu baru bisa merasakan apa yang namanya bahagia? Bagaimana dengan pengalaman-pengalaman lain yang cenderung memunculkan emosi negatif? Apakah dalam kondisi tersebut tidak bisa merasa bahagia?

Disinilah yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tidak hanya dibekali emosi namun juga diberikan kemampuan untuk bernalar. Salah satu fungsi nalar ialah kemampuan dalam memaknai suatu peristiwa atau bisa dikatakan dalam mendapatkan insight, baik itu secara positif maupun dari sisi sebaliknya. Pemaknaan inilah yang sebenarnya berkaitan dengan emosi yang dimunculkan dari setiap peristiwa yang dialami baik itu maupun buruk.

Kemampuan seseorang dalam memaknai suatu peritiwa itu juga berkaitan dengan sudut pandang. Itulah mengapa dua orang dalam suatu peristiwa yang sama namun memiliki pemaknaan yang berbeda. Ada yang memakanainya secara positif dan ada yang yang memaknainya secara negatif. Semakin banyak sudut pandang yang dimiliki maka semakin fleksibel dalam melihat segala sesuatunya dari sisi yang lebih ekologis.

Mengapa ada orang yang bisa memaknai segala sesuatu dengan lebih positif dan ada yang tidak? Hal ini berkaitan dengan persepsi yang dimiliki. Persepsi merupakan suatu gambaran mental seseorang dari suatu peristiwa yang ada. Gambaran mental tiap orang itu subyektif dan seringkali jauh berbeda dengan realitas yang ada. Misalnya, ketika langit terlihat mendung sebagian besar orang akan mempersepsikan sebentar lagi akan hujan deras. Persepsi tersebut bisa didapat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang memvalidasi bahwa ketika langit mendung maka pertanda akan hujan. Namun bisa jadi sebaliknya, tidak semua mendung itu berarti hujan. Maka Marcus Aureilius berpesan hati-hatilah dengan persepsi, karena bahagia dan tidak bahagianya kita itu tergantung dari bagaimana kita mempersepsikannya.

marcus aurelius
marcus aurelius quote

Bagaimana dengan Toxic Positivity?

Toxic positivity merupakan suatu bentuk penggenalisir semua peristiwa yang hanya dilihat dari sisi baiknya saja. Berharap segala sesuatu berjalan baik-baik saja itu bagus, namun jangan sampai hal itu membutakan kita terhadap realitas yang terjadi. Sebab kita perlu melihat segala sesuatunya dari sisi yang seimbang, bila memang suatu peristiwa itu adalah hal yang buruk maka terima kenyatannya. Yang terpenting setelah itu tindakan apa yang mesti kita ambil untuk bisa penyelesaianya.

Jadi pantaskah kita untuk bahagia?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.