belajar bicaraa

Bagi sebagian orang, menjadi mahasiswa baru merupakan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Punya kehidupan kampus yang berbeda jauh dari kehidupan sekolah yang monoton dan membosankan salah satunya. Ikut kegiatan intra kampus seperti BEM dan Senat merupakan organisasi yang sangat diminati. Selain sebagai media tambah jejaring, organisasi kampus tersebut merupakan tempat untuk bisa menjadi mahasiswa berprestasi hmm maksudnya populer.

Seperti sudah aku ceritakan sebelumnya, aku sangat girang ketika masa SMA usai dan masuk ke dunia perkuliahan. Namun sejak dari awal aku sudah bersikap bahwa aku tak akan mengikuti organisasi apapun yang ada di kampus. Alasannya sederhana sih, aku gak mau terlalu masuk dan hingga akhirnya terjebak dalam dunia kampus yang menurutku sempit.

Tentu saja sikapku ini memiliki konsekuensi tersendiri. Selain menjadi mahasiswi yang tak memiliki banyak teman di kampus, aku juga menjadi siswi yang tak dihapal oleh para dosen. Well, it’s not a big problem. Karena dari jaman sekolah juga aku sudah terbiasa tidak memiliki banyak teman. Toh tak dihapal dosen juga tak berpengaruh dengan IPK, terbukti setiap semester aku selalu mendapatkan IPK di atas 3.

Ketika aku memilih tidak aktif di kampus bukan berarti aku tidak melakukan apa-apa. Justru aku lebih banyak menggunakan waktu untuk mengeksplorasi dunia luar. Salah satunya dunia yang aku pelajari di luar kampus ialah public speaking.

Sebelum bercerita lebih lanjut, aku jadi teringat celetukan seseorang dalam suatu obrolan singkat denganku. Dia berkata, “Wah kamu hebat ya bisa tampil pede bicara di depan umum. Yah namanya juga psikolog pasti bisalah ngomong di depan umum tanpa grogi..”

Mendengar celetukan gitu aku senyum-senyum aja sih tapi dalam hati sambil ngomong, “ini bukan soal perkara aku psikolog terus jadi pinter ngomong di depan umum, tapi ini soal latihan yang udah aku mulai sebelum jadi psikolog.”

Sebenarnya kemampuan public speaking ku belum bagus-bagus banget dan masih butuh untuk belajar. Tapi setidaknya aku punya state percaya diri yang aku pelajari secara koboi dan hal tersebut tak lepas dari peran seseorang yang selalu mengajakku untuk terus bertumbuh, yaitu si Ay.

belajar bicara

Pertama kali aku ngomong di depan umum ialah berkat paksaan dari Ay. Yak aku suebel banget kala itu dipaksa Ay buat sharing dengan suatu komunitas tentang pengalaman jualan onlen yg pernah aku lakuin. Namanya juga dipaksa pasti dengan setengah hati dan ngomongnya juga jadi belepotan serta ekspresi yang iuuhh datarr.. Jantungku berdegup kencang gak beraturan kala itu dan sempet malu banget waktu gak bisa jawab pertanyaan dari audience. Bukan karena gak tau jawabannya tapi karena otak sama mulut tiba-tiba gak konek dan blank! Tapi untungnya, kala itu ada Ay di panggung jadi dia bantu aku untuk jawabin pertanyaan, hehe…

 

 

belajar bicara 2

Selang beberapa bulan berikutnya, Ay kembali menchallenge aku untuk berbicara di depan umum. Kali ini audiennya random dan tempatnya di outdor. Jadi ceritanya si Ay ada kegiatan ngisi sharing tentang internet markerting di sebuah pameran buku. Nah kebetulan di kegiatan itu gak ada moderatornya dan Ay menantangku untuk mengambil kesempatan itu. Awalnya jelas langsung aku tolak. Tapi Ay berusaha untuk meyakinkan bahwa moment ini langka dan bakal rugi kalo gak diambil. “Jelek dan salah gak jadi soal, yang penting berani dulu,” gitu kata si Ay.

Jadilah mikir beberapa waktu ketika dia bilang gitu. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya aku ambil kesempatan itu. Toh gak ada salahnya mencoba, salah ngomong paling risikonya cuma malu. At that moment.. alhamdulillah lancar. Gesture dan pemilihan kata tentunya masih amburadul, tapi aku bisa memoderatori acara sampe kelar.

Dari dua pengalaman itu aku jadi punya pengalaman dan pelajaran baru bahwa ngomong di depan umum itu gak semenakutkan yang ada dipikiran. Ketika udah dilakuin ternyata enjoy dan aku bisa menikmati prosesnya sampai selesai. Dan di kesempatan-kesempatan berikutnya aku semakin berani dan pede untuk berbicara di depan orang banyak.

Ay bukan seseorang public speaker profesional, namun Ay adalah guru pertamaku untuk belajar berani berbicara di depan umum. Kalo kata Ay, “berani aja dulu, salah dan jelek dipikir belakangan.”

dr iwan setiawan

Nah selain belajar public speaking ala koboi, aku juga berkesempatan belajar langsung dengan pembicara publik yang terkenal dengan bahasan seksnya, haha.. Tidak lain dan tidak bukan adalah Om Wawan atau dr. Iwan Setiawan. Perkenalanku dengan Om Wawan ketika aku masih di SMA, saat itu aku anak PMR dan aku ikut kegiatan sosialisasi kesehatan reproduksi yang diisi olehnya. Dari pertemuan itulah berlanjut ke pertemuan-pertemuan selanjutnya. Aku banyak ngobrol dan berinteraksi dengan Om Wawan. Dari situlah aku mendapatkan kesempatan untuk jadi asistennya ketika mengisi beberapa kegiatan. Darinya aku banyak belajar tentang teknik berbicara, cara mengatur miking, intonasi suara, menarik perhatian audience, dan tentunya pembawaan sebagai seorang public speaker baik secara langsung dan tidak langsung. Aku belajar dengan metode mengamati, praktek, dan diskusi. Begitu terus sampai aku terbiasa dan bisa menemukan pola yang pas untukku sendiri.

belajar bicara 3

Bisa dibilang caraku belajar public speaking terbalik dengan metode pada umumnya. Aku lebih banyak praktek lapangan dulu baru mengambil kursus resmi public speaking. Dengan ikut kursus sebenarnya sebagai tambahan metode untukku memperbaiki penampilan, tapi selebihnya materinya sama seperti yang aku dapat di lapangan. Intinya ialah praktek!!!

Menjadi psikolog bukan jaminan bisa begitu saja mampu berbicara di depan publik. Semua ada prosesnya, gak dateng ujug-ujug langsung bisa. Dan aku sudah menjalani prosesnya jauhh sebelum aku jadi psikolog.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.