hidup itu pilihan

 

Tepat satu hari yang lalu, aku menemui dua orang yang memiliki problem yang sama. Kebetulan mereka berdua sama-sama perempuan.

Obrolan dengan perempuan pertama cenderung berjalan lebih santai dan lebih banyak tawa. Sebut saja di Nita. Wanita energic yang sedang merasa bosan dengan kondisi pekerjaan yang itu-itu saja. Ia ingin segera resign karena merasa pekerjaan side jobnya lebih menguntungkan dan menyenangkan. Banyak ide yang ingin Nita eksekusi setelah bisa keluar dari pekerjaannya. Namun satu hal yang menjadi pertimbangannya adalah ketidakpastiaan yg akan ia hadapi setelah resign.

Sedangkan dengan perempuan kedua, obrolan cenderung lebih kelabu. Suasana hatinya yang sedang tidak baik membuat sebagian besar obrolan diawal disertai dengan linang air mata. Shinta yang sudah sebulan ini bekerja sebagai pelayan toko, ternyata membuat dirinya tertekan. Ia merasa apa yang ia kerjakan sama sekali bukan panggilan hatinya. Ia sangat menyukai menggambar dan bahasa Jepang, tapi orang tuanya tidak terlalu mendukung apa yang ia sukai. Dalam pikirannya saat itu ialah bagaimana bisa segera mungkin mapan dengan passionnya dan keluar dari rumah agar bebas dari tekanan. Tapi kondisinya sekarang semua itu belum terjadi. Ia kadung tenggelam dengan rasa sedih dan tekanan yang ia alami mulai dari kecil. Ia ingin bisa menggambar. Tapi tidak tahu bagaimana menjadikan menggambar itu sebagai pegangan hidupnya kelak.

Dalam sehari itu aku mendapatkan sebuah pelajaran besar. Bahwa untuk memilih juga butuh keberanian. Keberanian mendapatkan resiko dari apa yang dipilih. Banyak orang yang lebih memilih mengikuti arus karena ia tak berani untuk menentukan pilihan. Karena yang ada di pikiran adalah tentang ketidakpastian.

“Padahal hidup kita dari awal lahir saja sudah penuh ketidakpastian. Lalu mengapa takut dengan ketidakpastian? Ya karena selama ini kita diajarkan segala sesuatu yang pasti. Bukan diajarkan bagaimana tentang proses mencari.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here