Jargon “just be your self” itu bisa dibilang gampang diungkapkan tapi sulit untuk dilakukan. Kalau gak percaya coba deh tanya ke diri masing-masing, apakah selama ini sudah menjadi diri sendiri? Kalau sudah, please definisikan siapa dirimu yang sebenarnya di comment hehe..

Dalam beberapa waktu aku sempat menanyakan pertanyaan itu ke beberapa orang, dan hasilnya sebagian besar dari mereka justru menjadi insecure ketika harus menjadi diri sendiri.. Kok bisa yah?

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tak bisa hidup tanpa orang lain. Semandiri-mandirinya kita, tetap aja kita membutuhkan jasa orang lain atau keberadaan orang lain dalam hidup kita. Contoh sepelenya kita akan sulit banget untuk hidup tanpa listrik sekarang ini. Kalo listrik mati, langsung telpon pengaduan, kan manusia juga yang merespon. Itu sepele, tapi vital banget.

Nah karena kita hidup bersosial dan bermasyarakat, secara tidak langsung kita juga dibentuk oleh tuntutan atau harapan-harapan yang ada di masyarakat pula. Biasanya tuntutan itu berbentuk nilai dan moral yang berlaku pada saat itu. Contohnya, kalau gak kerja jadi PNS belum dianggap orang atau cewek yang pulang malem itu bukan cewek baik-baik. Nah karena sistem nilai tersebut diamini oleh banyak orang, sehingga ketika ada seseorang yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku mendapatkan judgement tertentu. Begitu juga dengan lingkup yang lebih sempit (mikro) seperti keluarga. Banyak orang tua secara tidak langsung membebankan tuntutan masyarakat (makro) ke anak-anaknya. Lets say, ketika SD kelas 1. Di Indonesia anak yang sudah masuk usia SD diwajibkan untuk bisa baca tulis. Bagi anak-anak yang tidak bisa memenuni kriteria tersebut, maka langsung dianggap anak bodoh. Mana ada sih orang tua yang ingin anaknya dicap bodoh oleh masyarakat? Maka di masa-masa anak mestinya bermain, orang tua sudah menjejali anak-anaknya berbagai macam kursus, baik itu baca tulis, les bahasa asing, les musik, les robotik, les coding, dsb. Hal tersebut diposisikan seakan-akan keinginan si anak, padahal terdapat motiv tersebunyi orang tua yaitu agar mendapat pengakuan dari masyakarat bahwa anaknya hebaaaaaatttttt..

Pola-pola tersebut perlahan tapi pasti membentuk anak menjadi sulit untuk mendefinisikan siapa dirinya sebenarnya ketika masa-masa remaja dan dewasa. Sebab, sebagian besar yang anak jalani berdasarkan order orang tua dan suda terbiasa untuk diarahkan untuk mengikuti apa yang dapat diterima oleh masyarakat atau tidak. Sehingga ketika ada gejolak dalam diri yang ingin keluar dari diri, mereka akan berpikir seribu kali, “akankah yang menjadi keinginan atau pilihan bisa diterima oleh masyaratkat?”. Jika proses berpikir tak kunjung selesai jatuhnya merasa insecure dan konflik batin.

Begitu pula dengan dunia praktik psikologi yang dalam dua tahun terakhir ini aku jalani. Banyak dari kawan-kawan psikolog muda masih takut untuk menjadi diri sendiri. Takut jika dianggap ini dan dianggap begitu. Sebab yang terjadi di masyarakat bahwa psikolog itu seperti superhuman yang tak punya masalah. Ya iya dong, kan profesi psikolog kerjaanya membantu menyelesaikan masalah orang lain.

Secara profesi seorang psikolog memang diatur oleh kode etik, hal tersebut dimaksud untuk melindungi psikolog itu sendiri ketika dalam ranah pekerjaan. Akan tetapi ketika di area-area personal ya kode etik itu sebenarnya tidak berlaku. Sebab ketika menjadi personal tentunya tidak menggunakan embel-embel profesi. Ini adalah pendapatku pribadi dan ini sangat bisa didebat. Akan tetapi dalam tulisan ini aku bukan ingin adu debat, tapi lebih ingin beropini bahwa profesi dan personal itu perlu diberi garis pembatas yang kuat. Karena apa? ketika dalam setiap area hidup kita terus membawa-bawa profesi ya mati mudalah kita atau terjebak pada persona (topeng). Kasarnya gitu. Ya karena psikolog juga manusia yang ada kalanya bisa nangis, bisa marah, bisa kecewa,dsb ya seperti pada orang umumnya. Hanya saja yang membedakan recoverynya lebih cepat karena punya ilmunya dan punya support sitem rekan-rekan seprofesi.

Nah selain itu aku juga banyak ngobrol2 dengan psikolog-psikolog muda (freshgrad) yang insecure ketika ingin mengemukakan pendapat di sosial media. Keganasan netizen ternyata juga membuat beberapa psikolog baru itu merasa takut mendapatkan hujatan dalam mengemukakan opini atau hasil analisis suatu kasus. Namanya ilmu psikologi itu adalah ilmu terapan, sehingga butu jam terbang praktik dan menangani berbagai macam case.  Justru menurutku ini adalah media belajar yang mahal. Seperti yang aku sebutkan di atas bahwa sebagai manusia biasa psikolog juga kadang bisa lalai dan melakukan kesalahan. Yang terpenting paham patron-patron yang ada, seperti kode etik. Sebab pendapat yang dikemukanan dimunculkan dengan menggunakan label psikolog. jadi ketika salah mengemukanan suatu analisa bisa diedit, selama tidak langsung memberikan judgement tanpa melakukan pemeriksaan mendalam (diatur di kode etik).

Lalu apakah psikolog gak bisa ngebacot di sosmed? Ya selama pakai identitas personal tanpa bawa-bawa profesi ya gak apa sih, asal berani nanggung risiko-risiko yang melekat. Kalau aku pribadi sih yang penting gak SARA.

Jadi terakhir aku ingin sampaikan bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menjadi diri sendiri. Sebab, ada kalanya dalam hidup perlu mengambil sikap walau kadang tidak sesuai dengan apa yang dianggap ‘wajar’ oleh masyarakat.

“Own Who You Are..”

SHARE
Previous articleMenjadi PANSEKSUAL
Next articleApakah Kita Pantas untuk Bahagia ?
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.