Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa

Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa

Dalam karya sastra Jawa umumnya memuat tentang pandagan, ide dan gagasan yang erat kaitannya dengan kondisi masyarakat yang ada pada saat itu. Sebagian karya sastra Jawa pada masanya berupa serat-serat piwulang yang berisi ajaran-ajaran tentang moral atau nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan, baik untuk individu maupun sosial.

Dari beberapa serat-serta piwulang tersebut, banyak diantaranya yang sengaja ditulis untuk kaum hawa, seperti Serat Wulang Putri, Serat Wulang Estri, dan lain sebagainya. Munculnya serat-serat piwulang yang membahas soal perempuan menunjukan bahwa persoalan perempuan merupakan hal yang menarik dan penting dibahas oleh para pujangga maupun raja. Selain itu, tujuan penulisan serat piwulang untuk para perempuan juga guna menjaga stabilitas internal di lingkungan kraton karena munculnya ketidakharmonis hubungan antara keluarga yang sebagaian atas kaum perempuan yang juga berpengaruh pada krisis di bidang politik, ekonomi dan moral. Oleh sebab itu, pihak keratorn memperteguh pola peran dan kedudukan yang dikonstruksi dalam budaya Jawa yang patriarki.

Menurut Riffat Hasan, Guru Besar Religius Studies USA, bahwa pandangan keagamaan yang meremehkan perempuan berkembang menjadi hal yang dominan. Hal ini disebabkan oleh ajaran agama yang dirumuskan dan ditransmisikan dalam struktur masyarakat yang patriarki. Selain itu, karena seluruh teks keagamaan pada masa formatif agama-agama itu ditulis oleh agamawan laki-laki. Struktur masyarakat patriarki menyimpan tiga asumsi dasar. Pertama, manusia pertama adalah laki-laki. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga perempuan adalah makhluk sekunder. Kedua, walau perempuan adalah makhluk sekunder dalam proses penciptaan, ia adalah makhluk pertama dalam perbuatan dosa. Hawa dipandang sebagai penggoda Adam sehingga terusir dari surga. Ketiga, perempuan tidak hanya diciptakan dari laki-laki, melainkan juga untuk laki-laki. Oleh sebab itu, perempuan diangap tidak memiliki hak untuk mendifinisikan status, hak, dan martabatnya kecuali apa yang telah disediakan oleh kaum laki-laki untuknya.

Perempuan Dalam Budaya Jawa

Dalam budaya Jawa, perempuan disebut sebagai kanca wingking (teman belakang) untuk menyebut istri. Hal itu menunjukan bahwa perempuan tempatnya bukan di depan sejajar dengan laki-laki, namun di belakang yaitu di dapur, sebab dalam konsep budaya Jawa wilayah kegiatan wanita ialah seputar dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (kebutuhan seksologis suami). Maka ada sebutan tugas wajib wanita Jawa ialah masak, manak, macak yang ketiganya ialah daerah domestik. Kerja wilayah domestik tidak menghasilkan keuntungan materi, padahal masyarakat umumnya mengukur kebahagiaan dari materi. Dengan demikian, wanita yang bekerja di rumah tidak dapat mengupayakan kebahagiaan untuk dirinya dan keluarganya secara materi. Namun disisi lain, pada masyarakat miskin sering terjadi seorang perempuan dipaksa oleh suami untuk melacur demi mencukupi kebutuhan ekonomi. Selain kemiskinan secara materi, penempatan perempuan di wilayah domestik membuat perempuan miskin pengetahuan, sehingga sering terjadi pula kekerasan baik fisik dan psikis.

Karena didoktrin bahwa wanita Jawa harus mengikuti apa yang dikatakan suami, maka kondisi ini juga memunculkan ungkapan swarga nunut, nraka ketut yang artinya kebahagiaan atau penderitaan perempuan tergantung sepenuhnya pada laki-laki.

Sastra dalam Masyarakat Jawa

Sastra Jawa memiliki nilai pengabdian yang tinggi dibandingkan dengan unsur komersial yang terkandung di dalamnya. Nilai pengabdian ini terlihat menonjol di hampir semua karya sastra Jawa, terutama yang ditulis untuk mendukung citra pemerintah (kerajaan) oleh pujangga kraton. Menurut Kuntowijoyo, bahwa karya sastra sebenarnya merupakan sebuah simbol verbal yang memiliki peranan sebagai cara pemahaman, cara penghubungan dan cara penciptaan sesuatu. Oleh karenanya, isi dari sebuah karya sastra merupakan gambaran dari realitas sosial kemasyarakatan sehinga tidak menutup kemungkinan penulis atau pengarangnya memasukan kehendak pribadi ke dalam karyanya.

Sastra Jawa Tentang Kedudukan dan Peran Perempuan

Gambaran tentang wanita ideal banyak diungkap dalam berbagai karya sastra Jawa. Salah satunya ialah Serat Wicara Keras karya Raden Ngabehi Yasadipura II. Dalam karya tersebut diungkap bagaimana perempuan harus berperilaku pada suami. Seorang istri memiliki kewajiban untuk takut dan berbakti pada suami (bekti lan wedi ing laki). Perasaan takut dan kewajiban untuk berbakti pada suami ini diwujudkan dengan kesediaan menerima perintah-perintah suami. Dan tidak selayaknya istri menghalang-halangi kemauan suami. Pelaksanaan atas semua perintah suami merupakan perwujudan dari cinta kasih istri tanpa memperhitungkan untung rugi.

Dalam Serat Centhini terdapat nasihat untuk perempuan, disebutkan bahwa terdapat dua hal yang perlu diingat oleh istri, yaitu takut kepada Tuhan dan takut pada suami. Takut pada Tuhan diwujudkan dengan rajin beribadah, harus kitan dsb. Sedangkan takut pada suami memiliki dua pengertian, yaitu taat pada nasihat suami atau tidak membantah dan yang kedua yaitu pasrah dengan suami atau mengikuti apa yang menjadi kemauan suami.

Selain itu, pada Serat Wulangreh Putri disebutkan bahwa salah satu sifat wanita yang baik ialah rela dimadu. Meskipun suami memiliki istri yang banyak, namun sikap istri tidak berubah lahir dan batin. Bahkan istri hendaknya mencarikan gadis-gadis cantik untuk diserahkan kepada suami. Wanita yang tidak rela jika suaminya memiliki selir dan tidak mau dimadu maka dipandang sebagai wanita yang tidak mengetahui tata krama.

Perempuan dalam Lingkup Tradisi dan Sastra

Penempatan perempuan Jawa dalam posisi tersubordinasi tidak bisa dilepaskan dari cara pandang serta budaya yang tumbuh dan berkembang pada saat itu. Terdapat keyakinan-keyakinan yang membentuk stereotip wanita Jawa,

Pertama wanita dipandang sebagai makhluk lemah yang perlu dilindungi oleh laki-laki. Kelemahan itu di lihat dari dua sisi yaitu lemah fisik dan psikis. Komposisi anatomi perempuan dan laki-laki yang berbeda dianggap berpengaruh pada sisi emosional. Seperti perempuan lebih emosional, mudah terpengaruh, mudah tersinggung, mudah menangis, kurang berani dan lain sebagainya.

Kedua, karena dipandang sebagai makhluk yang lemah maka secara tidak langsung nasib perempuan tergantung pada laki-laki. Seperti ungkapan swarga nunut, nraka ketut. Dalam hal ini, kebahagiaan dan kesengsaraan kehidupan perempuan sebagai istri tergantung pula pada kebahagiaan dan kesengsaraan suami sehingga seakan-akan perempuan tidak memiliki daya untuk menentukan nasibnya berdasarkan usaha sendiri.

Ketiga, perempuan diciptakan dari bagian tubuh laki-laki. Pandangan tersebut berasal dari kisah penciptaan perempuan yang pertama. Terlepas dari kebenarannya, kisah tersebut telah menanamkan suatu sikap superioritas laki-laki terhadap perempuan. Kisah penciptaan tersebut mengesankan bahwa perempuan merupakan makhluk nomor dua.

Keempat, perempuan diciptakan untuk berbakti pada laki-laki. Tugas perempuan adalah melayani kebutuhan laki-laki, khususnya kebutuhan seks. Oleh sebab itu, perempuan ditempatkan sebagai objek seksual sehingga tak heran raja Jawa memiliki banyak selir. Namun disisi lain, anehnya bagi para perempuan itu sendiri seolah-olah mendapatkan kebanggaan jika diperistri dan dimadu oleh pangeran atau raja. Dengan demikian secara tidak langsung perempuan Jawa sendirilah yang mendukung budaya represi dengan merasa tidak aman bila tidak didampingi oleh laki-laki. Perempuan Jawa dinilai sebagai objek seksual dilihat dari gambaran-gambaran wanita ideal dari sisi ketubuhan. Seperti pada Serat Panitisastra bahwa untuk menjadi wanita ideal maka perempuan harus tan kyan gemuhing kang payudara kalih / ingema ing papreman ( perempuan hanya berarti bila memiliki payudara sintal yang bisa ditimang-timang di tempat tidur). Selain itu dalam karya sastra Jawa lain menguraikan untuk mengidentifikasi gairah dan daya seks perempuan dengan memperhatikan bentuk tubuh.

Kelima, kedudukan perempuan hanya dipandang sebagai alat reproduksi. Yang berarti bahwa wanita hanya berfungsi sebagai objek laki-laki untuk memiliki keturunan. Bagi masyarakat Jawa jaman dulu terdapat kebanggan bila memiliki keturunan banyak. Keenam, perempuan hanya mengurusi soal-soal domestik, sehingga perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi. Di depan umum, seorang istri tidak boleh terlihat menonjol dari suami.

Perempuan Dalam Seksologi Jawa

Seksologi Jawa mengandung pengertian yang luas, tidak hanya mengungkap hubungan cinta kasih laki-laki dengan perempuan sejak mereka sebelum menikah, namun juga hubungan intim keduanya dalam kehidupan perkawinan. Dalam istilah Jawa kehidupan yang menyangkut perilaku-perilaku seks, seperti cinta kasih, asmara, sampai dengan hubungan seks dimasukan dalam pengetahuan yang disebut dengan Asmaragama.

Dalam sastra Jawa terdapat tiga macam tema pokok yaitu dharma (soal hukum, kebenaran), artha (kekayaan) dan kama (cinta dan persetubuhan). Menurut Satyagraha Hoerip, gambaran seks dalam sastra Jawa dilukiskan dalam tiga bentuk. Pertama dilukiskan dengan adegan-adegan yang realistis. Kedua, dilukiskan secara sugestif, terselubung dan simbolik. Dan yang ketiga, dilukiskan hanya sebagai suplemen dan tidak dominan. Di samping itu, seks dalam sastra Jawa selalu diungkap secara estetis dan diramu dengan tata krama Jawa. Oleh sebab itu, seksologi Jawa meletakkan seks sebagai pengalaman yang sakral dan rohani yang tinggi yang selalu dikramanisasikan. Fenomena ini dilukiskan sebagai perilaku seks yang memiliki nilai-nilai estetika, etika, dan bertujuan mulia. Pengetahuan tentang hubungan seks pada seksologi Jawa sesungguhnya memberikan kesadaran manusia tentang hakikat dirinya.

Dalam seksologi Jawa, hubungan seks suami-istri bukan merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Hubungan seks memiliki tujuan mulia, yaitu menanam benih (wiji) untuk mendapatkan keturunan yang baik. Namun, dalam hubungan seks itu banyak hambatannya, sehingga tidak boleh disepelekan. Ketidakmampuan dalam mengatasi hambatan untuk mencapai kepuasan bersama dapat berakibatkan pada hancurnya mahligai rumah tangga.

Serat Centhini memberikan gambaran secara terselubung dengan menggunakan simbol-simbol tentang tata cara dan tata krama bersenggama. Dalam karya sastra tersebut menekankan pada upaya bagaimana hubungan itu dapat mencapai puncak kepuasan bersama (orgasme) dengan tidak melupakan tujuan utama berhubungan seks.

Pengendalian Nafsu Seks

Pada beberapa karya sastra Jawa, ajaran pengendalian nafsu seks lebih ditujukan pada laki-laki. Hal ini memperkuat adanya pandangan yang memberikan otoritas bagi laki-laki pada semua bidang kehidupan, termasuk hubungan suami istri. Perempuan ditempatkan sebagai pihak yang pasif sehingga jika terjadi penyimpangan seksual (perselingkuhan) maka diasumsikan bahwa pihak laki-lakilah yang aktif sebagai pelakunya dan hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang lumrah. Sementara itu, perempuan dituntut untuk memiliki kesetiaan tinggi akan akan mendapatkan kutukan bila sampai berselingkuh. Dalam kaitannya aktivitas ranjang, perempuan Jawa yang agresif dipandang tidak baik (saru) meski dalam realitasnya banyak suami yang justru mengharapkan istrinya lebih agresif.

Di rangkum dari buku “Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa” – Sri Suhandjati & Ridin Sofyan

Note:

Setelah membaca buku ini aku pribadi banyak mendapatkan insight, khususnya soal asal muasal subordinasi perempuan Jawa. Pembahasan soal aturan-aturan soal sisi laki-laki Jawa sangat sedikit sekali dibahas, bisa jadi karena dua hal, yang pertama karena fokus pembahasan memang hanya pada perempuan atau memang sebenarnya sangat sedikit sekali sastra-sastra Jawa yang berisikan soal aturan untuk laki-laki (perlu dibuktikan dengan mencari literatur lainnya).

Buku ini cocok untuk kalian yang sedang meneliti tentang gender di budaya Jawa atau sejenisnya karena tipe bukunya teks book banget 😀

Selamat membaca ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here