Bukan salah pelakor
bukan salah pelakor

Sudah beberapa minggu serial kdrama pelakor sudah usai. Hiruk pikuk timeline IG maupun twitter juga sudah mulai sepi dengan pembahasan serial drama tersebut. Namanya juga drama pasti ada banyak bumbunya ya, kalo gak gitu ya gak bikin penontonnya ketagihan. Sehingga tak heran banyak akun yang membahas itu untuk membangun engagement hehe.

Walau drama sudah usai, namun pembahasan soal perselingkuhan itu sebenernya nggak akan ada habisnya. Sebab, angka perselingkuhan masih saja tinggi baik itu dalam relasi pacaran maupun pernikahan. Banyak yang udah give up duluan ketika menghadapi masalah perselingkuhan, terlebih ada mitos “yang namanya sudah selingkuh sekali pasti akan ada selingkuh-selingkuh berikutnya”. Dalam menghadapi peristiwa perselingkuhan hal pertama yang mesti dipegang ialah tenang. Walau kedengarannya seperti omong kosong, namun tenang adalah salah satu kunci dalam melihat masalah perselingkuhan dengan lebih jernih.

Penting sekali untuk memiliki pemikiran jernih dan kepala dingin dalam menghadapinya. Sebagai posisi yang diselingkuhi tentu saja hal yang paling mudah ialah menyalahkan pihak ketiga seperti pelakor. Menyalahkan lebih mudah dari pada mengevaluasi kembali relasi yang selama ini dijalani. Ya kasarannya, mana ada sih yang pengen dilihat kesalahannya? Kan lebih enak melihat kesalahan orang lain?

Dalam menjalani suatu relasi atau hubungan, penting sekali kita melihat dua sisi yang ada, yaitu sisi kebermanfaatan dan sisi risiko. Banyak orang yang memilih seseorang sebagai pasangan hanya dilihat dari sisi kebermanfaatan yang akan didapat, tapi lupa namanya orang itu ya pasti ada plus dan minusnya, sehingga sisi risiko juga pasti akan mengikuti.

Seseorang yang sulit mengambil keputusan dan hanya menjadi people pleaser sangat rentan mengalami perselingkuhan. Saya bukan judgemen ya, tapi ini data yang saya dapat dari sekian banyak klien yang konseling dengan saya terkait problem perselingkuhan. Bagi people pleaser, mereka akan melakukan segala sesuatunya demi menyenangkan hati orang lain. Mereka lupa bahwa orang lain baik itu pasangan sendiri tak akan pernah puas. Seseorang yang punya pasangan tipe people pleaser tentu saja sangat senang, ya pasangan gak pernah nolak dan selalu berusaha menyenangkan hati gimanapun caranya. Tapi ingat orang juga punya titik jenuh. Ketika seseorang terus mendapatkan apa yang diinginkan maka hidup seakan sangat mudah, dan disitulah titik jenuh hadir. Istilahnya hidup flat dan tidak ada sesuatu yang menantang, maka celah melakukan perselingkuhan akan semakin lebar. Sebab selingkuh adalah bagian dari tantangan, dekat dengan risiko.

Bagaimana dengan mereka (para people pleaser)  yang diselingkuhi? Ya tentu saja akan merasa sakit hati luar biasa. Mereka sudah melakukan segala sesuatunya untuk pasangan dengan yang terbaik tapi dihempaskan begitu saja. Ada hal yang perlu diingat bahwa memberikan semua yang orang lain inginkan bukan berarti sudah bisa mengontrol seluruh hidupnya. Itulah yang dilupa. Melakukan segala sesuatu hanya untuk bisa mengontrol orang lain sama saja sudah memasang bom waktu untuk diri sendiri. Dan sebenarnya disini juga tantangan apakah ingin terus berada di posisi korban yang tidak berdaya atau bangkit untuk bisa lepas dari persepsi tersebut. Saat terus berada di kondisi mental state sebagai korban maka niscaya akan sulit untuk bisa memaafkan dan mengambil keputusan untuk selanjutnya.

Oleh karena itu, jika kembali ke pembahasan awal bahwa perselingkuhan itu terjadi ketika ada celah dari relasi yang dijalani. Walau pelakor ada andil, tapi andil terbesar perselingkuhan itu terjadi tetap pada kedua belah pihak (dia dan kamu) yang menjalani hubungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.