Jejak Kata

me.nu. lis (KBBI): 

v. Melahirkan pikiran atau perasaan melalui tulisan

v. menggambar; melukis

Menulis, satu aktivitas yang dulu sering ku hindari namun kita menjadi makanan sehari-hari. Haha. 

Berbicara soal menulis, aku punya sebuah pengalaman masa kecil yang agak masam yang hingga saat ini masih melekat namun tersamarkan. 

Tepatnya hampir 19 tahun yang lalu, saat itu aku duduk di kelas 1 SD. Di zamanku, setiap anak SD diharuskan untuk belajar menulis halus. Tegak bersambung dengan buku khas yang penuh dengan garis-garis horisontal. Tanganku saat itu masih kecil, namun tulisanku cukup besar. Sehingga tak heran hanya untuk satu kalimat saja aku perlu dua sampai tiga garis kebawah. Sekolahku saat itu kekurangan kelas, jadi kelas dibagi untuk dua kelas yaitu kelas 1 dan 2. Jam 7.00 – 11.30 wib untuk kelas 1 dan jam 12.00 – 16.00 wib untuk kelas 2. Sehingga tak jarang waktu pelajaranku belum selesai, hampir sebagian besar anak kelas 2 sudah menyesaki pintu untuk berebut segera masuk. Disetiap akhir pelajaran, bu guru selalu memberikan lima sampai sepulu soal untuk dikerjakan di rumah dan menyuruh murid-murid untuk menyalinnya di buku tulis masing-masing. Cara menulisku cukup lambat saat itu, tak jarang teman-temanku pulang lebih dulu. Hingga suatu hari, aku menangis karena merasa tak mampu menyelesaikan tulisanku saat semua anak kelas sudah menduduki bangkunya masing-masing. Hanya tinggal aku dan bu guru. Aku merasa terdesak dan ingin segera menulis dengan cepat. Namun apa daya tanganku semakin melambat karena bergetar hebat. Karena melihatku menangis, sambil mengomel pelan bu guru membantuku menyelesaikan salinan pr tersebut. 

Haha.. kalo diingat-ingat sekarang peristiwa itu cukup menggelikan. Tapi bagiku saat itu merupakan peristiwa yang sangat mengerikan. Agar tak terulang lagi, aku mulai mempercepat cara menulisku. Tak mengapa jelek yang penting selesai. Makanya, sejak SD aku tak pernah mendapatkan nilai 80 untuk menulis halus. 

Dari setiap peristiwa yang ada di hidup ini sebenarnya akan menjadi indah bila bisa kita maknai dengan berbeda. Saat itu peta pikiranku masih sempit dan sedikit, sehingga melihat suatu peristiwa hanya dari satu sisi-sisi saja. Keyakinan itu berubah menjadi pola yang perlahan melekat erat di dalam hidupku bertahun lamanya. Hingga membuatku merasa menulis adalah sesuatu yang lebih baik dihindari.

Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat menulis dari sisi yang berbeda. Dengan kata, rasa bisa terucap tanpa suara. Bisa kekal tak terbawa kematian. Dan aku mau celotehanku ini bisa abadi walau aku telah pergi nanti.

Merubah yang tadinya enggan menulis menjadi butuh menulis memang sangat sulit. Ibaratnya aku suka makan nasi, tapi dipaksa menggantinya dengan kentang untuk alasan kesehatan. Bisa makan kentang sih, tapi nggak terlalu doyan.

Namanya ingin mencapai tujuan selalu ada perjuangan. Seringkali goyah, karena telah jengah. Namun tetap memaksa diri terus berjalan dan tak menyerah. 

Karena sejatinya apa yang aku lakukan untuk diri sendiri, bukan orang lain. 

Sebenarnya secara pribadi aku merasakan efek dari menulis untuk self healing. Metodenya sering dikenal dengan writing therapy. Bagi kalian yang mengalami kesulitan mengekspresikan melalui ucapan, kalian bisa menuliskan secara bebas apa yang kalian rasakan. Menulis adalah sebuah terapi yang paling murah dan ampuh. Tulislah dengan jujur. Tak perlu takut dijudge orang lain, karena tulisamu adalah tentang pribadimu. Kalian bisa gunakan cara ini untuk menghindari stres berkepanjangan yang bisa menyebabkan depresi. 

Tulislah apa yang kalian rasa, tak harus disebarkan pada orang lain. Cukup kamu yang tahu dan rasakan manfaatnya. 

Selamat menulis!

On board.

pertahanan hati

Pertahanan Hati

Bicara soal cinta, selalu saja tak akan ada habisnya. Bukan bermaksud untuk mellow atau jadi anak cinta, tapi lewat tulisan ini aku ingin menyampaikan sesuatu agar tak banyak orang lagi yang salah sangka dengan sikapku.

Terlahir sebagai perempuan di era yang modern ini ternyata secara tidak langsung membuatku memiliki sikap pemilih. Beberapa puluh tahun silam, mungkin perempuan tidak memiliki hak untuk memilih, oleh sebab itu perjodohan menjadi sesuatu yang sangat wajar terjadi. Tapi berbeda dengan saat ini. Perempuan telah diberikan kebebasan memilih sehingga ia berhak untuk menentukan siapa yang akan menjadi teman hidup sampai tua. Begitupula denganku. Urusan hati, aku sagatlah berhati-hati. Bagiku cinta tak melulu mengambil keputusan hanya berdasarkan dengan hati tapi juga dengan logika.

Seringkali di awal akulah yang lebih proaktif untuk mengukur sebuah situasi, apakah situasi ini memberikan peluang kedepan atau tidak. Namun, bila ada seseorang yang memberikan sinyal balik, aku malah segera mengambil langkah mundur. Bukan untuk menolak, tapi langkah mundur untuk menjauh apakah target akan mengerahkan daya upaya untuk mengejar atau tidak. Haha.. ribet ya?

Tak bisa dipungkiri itu semua butuh proses yang tak sebentar. Karena ini bukan urusan jangka pendek semata, namun jangka panjang, mungkin hingga mata enggan terbuka kembali. Ini baru proses pendekatan, belum proses memahami satu sama lain hingga tumbuhnya suatu rasa yang sering dinamakan cinta.

Gambaran diatas merupakan salah satu benteng pertahanan diri yang aku juga tidak tahu dari mana aku mempelajarinya. Namun dari benteng yang aku buat sedemikian rupa, aku bisa menilai siapa sosok yang mampu menembus benteng dengan menggunakan strategi andalannya.

Oleh karena itu, buatku, mencintai seseorang itu membutuhkan proses yang panjang. Aku tak bisa semena-mena dengan mudahnya mengatakan sayang atau cinta pada seseorang hanya karena perhatian yang diberikan. Dan sayangnya sudah ada sosok yang mampu menembus benteng yang aku buat dan membuat benteng baru dengan segala tingkat keamanan berlapis agar tidak ada penyusup masuk.

Sorry, i’m not available 🙂

 

 

 

Kuliner Khas Suroboyo “Tombo Kangen” Bu Yuli yang Mak-Jleb! di Ungaran

Beberapa bulan yang lalu, aku berkesempatan mengunjungi Sidoarjo, Jawa Timur untuk mengikuti sebuah pelatihan psikologi. Selain ingin menambah ilmu terkait bidang ilmu yang aku dalami, aku juga sangat menantikan untuk bisa travelling a.k.a jalan-jalan ke daerah Jawa Timur. Entah mengapa, hasrat hati ini belum terpuaskan sewaktu mengunjungi Surabaya dua atau tiga tahun silam. Ya jadinya ketika ada event atau pelatihan psikologi or sexology di daerah Jawa Timur nggak akan aku sia-siakan.

Nah… sewaktu di Sidorjo aku tak sengaja bertemu jodohku. Ya jodoh  yang selama ini aku nanti-nantikan. Yaitu makanan khas Jawa Timur yang cocok di lidahku. Proses pertemuan dengan jodohku yang satu ini terbilang sangat mendadak. Malam itu aku dan beberapa kawan pergi ke luar hotel untuk mencari santapan. Karena waktu itu lagi nglakuin diet ala ala ngurangin karbo makanya aku memilih menu makanan yang nggak pake nasi. Dari sekian warung penyetan yang berjejer di pinggir jalan mataku terpaku pada geber yang bertuliskan “Tahu Campur Khas Surabaya”.

Seperti pikiran orang Jawa Tengah pada umumnya, yang namanya tahu campur itu ya bumbunya hampir sama kaya bumbu kacang untuk pecel uleg atau lotek, yang beda cuma isinya aja yaitu ada tahu, kol mentah, tauge dan lontong.

Saat aku mulai memesan tahu campur Surabaya itu aku langsung takjub. Cuma bisa komentar dalam hati. “Loh.. loh.. loh… kok pake kuaaah? Itu rasanya gimana? Terus bumbunya kok item?”, aneh bin nggak wajar buat aku.

Dalam hati sebenernya aku ragu untuk menyantapnya. Tapi apa mau dikata, ternyata perut tak terlalu perduli dengan apa yang ada di pikiran. “Pokoknya mau makaan!!!”, perutku meronta-ronta. Menurut teori Maslow, kebutuhan dasar harus terpenuhi dahulu agar bisa mencapai kebutuhan tertinggi yaitu aktualisasi haha.. jadilah aku makan.

Huwaaaaaa!!!! Dari suapan pertama aku langsung jatuh cinta!! Ternyata bumbu hitam seperti tinta itu ternyata petis yang diolah sedemikian rupa dengan bumbu yang entah aku nggak terlalu paham. Aku takjub! Ternyata petis yang selama ini aku rasakan di Semarang itu rasanya nggak ada sekuku itemnya petis dari Surabaya. (lah petis udah item masa punya kuku item? Ya pokoknya begitulah haha). Aku adalah orang yang suka banget ngeet ngeet sama petis, jadi langsung bisa bedain mana petis yang endes sama yang enggak. hehehe

Begitulah awal aku jatuh cinta sama yang namanya Tahu Campur Surabaya.

Waktu berlalu, dan usiapun semakin senja. ( puisi paan coba? :p )

Maksudnya, bulan demi bulan berlalu. Rasa kangen akan Tahu Campur Surabaya pun muncul kembali. Tapi apa boleh di kata, belum jugamenemukan tambatan hati yang baru. Hingga suatu hari aku bertemu jodohku yang lain. Bukan di Sidoarjo ataupun Surabaya, tapi di Ungaran, sebuah kota kecil yang sangat dekat dengan Semarang.

Baru dua minggu yang lalu sih aku ketemu jodohku ini. Waktu itu juga dipertemukan secara tiba-tiba saat  ingin membatalkan puasa. Awalnya mau makan soto, tapi bosan rasanya karena di Semarang udah keseringan makan soto. Jadi coba muter badan sejenak dan eng ing eng ketemu sebuah warung sederhana namun terang benderang dan bersih. Warung itu bernama “Tombo Kangen – Kuliner Khas Suroboyo”.

warung tombo kangen kuliner khas suroboyo di ungaran

warung tombo kangen kuliner khas suroboyo di ungaran

 

Saat memihat daftar menunya memang agak bingung. Dari beberapa menu yang disediakan aku hanya familiar dengan dua menu yaitu tahu campur dan rujak cingur. Tanpa pikir panjang aku langsung dong milih tahu campur dan si ay pesen rujak cingur.

Jujur, hatiku waktu itu cukup deg-degkan. Mana perut laper, kalo makanan nggak sesuai ekspekstasi bakal gimana gituu. “Yaweslah, sing penting yakin enak wae!” Aku mencoba menguatkan hati haha.

Sambil menunggu makanan disiapkan, aku dan ay menikmati ocehan dua burung (entah apa namanya) yang saling bersahutan. Jadi waktu menunggu terasa sangat singkat karena seneng aja gitu lo menikmati suara-suara burungnya.

Tak lama.. makanan pun datang. Hmm.. dari aromanya aja petisnya udah kerasa di tenggorokan. Sebelum mencampur semua bumbunya, aku mencicipi kuahnya. Ringan tapi bumbunya kerasa. Kemudian aku langsung mencampurkan semua bumbu beserta isinya. Dan huwalaah… enake pol! Petisnya memang kerasa nendang banget dan bikin pengen segera ngabisinnya. Begitu juga dengan rujak cingur pesenan si ay. Semua komposisi bumbunya sangat pas banget. Pokoknya juara lah!

tahu campur surabaya enak di ungaran

tahu campur surabaya enak di ungaran

 

rujak cingur asli khas surabaya di ungaran

rujak cingur mantep khas surabaya di ungaran

Setelah menyantap habis hidangan, aku dan ay menyempatkan diri untuk mengobrol dengan sang pemilik. Bu Yuli namanya. Orangnya sangat ramah dan enak untuk diajak bincang-bincang. Tujuan Bu Yuli membuka warung ternyata untuk dijadikan sebagai tempat berkumpul dan  pengobat rindu untuk arek-arek Suroboyo yang merantau ke Ungaran dan sekitarnya. Menurut beliau, warungnya didedikasikan untuk perantau agar selalu ingat dengan kampung halamannya.

Kok seneng banget ya mendengarnya, hehe.

Jujur aja, aku memang bukan tipikal food blogger yang bisa mendeskripsikan makanan secara detil dalam bentuk tulisan. Mungkin tulisanku ini jauh dari sempurna. Aku menuliskan ini atas dasar rasa terima kasihku pada Bu Yuli. Sebagai penikmat makanan, aku cukup bisa merasakan cinta di setiap makanan yang beliau masak. Secara pribadi aku memang tidak mengenal siapa Bu Yuli. Tapi aku  melihatnya dari sisi santapan yang aku nikmati dan entahlah selalu ada perasaan senang sesaat setelah aku selesai menyantapnya (udah dua kali mampir, dan rasanya konsiten endes! )

Semoga apa yang aku tulis bisa menambah wawasan lidah kalian ya guys! Tak perlu takut untuk mencoba sesuatu yang baru, mulailah dari mencoba makanan yang tak pernah kalian coba sebelumnya. Setiap orang pasti punya selera, seleraku pasti beda juga dengan selera kalian. Jadi apa yang aku bilang enak juga belum tentu kalian rasakan begitu pula sebaliknya. Tapi apa salahnya untuk mencoba hal baru? Siapa tau jodoh..

Kalo ada makanan, tempat atau sesuatu yang recommended. InsyaAllah aku share lagi.

See ya!

https://www.facebook.com/ForumNandurBecik/

Menanam Kebaikan di Rumah Sasongko

Kosong adalah isi dan isi adalah kosong – Biksu Tong“. Entah kenapa yang langsung terlintas dalam benakku saat mendengar kata kebaikan adalah sepenggal quote yang diucapkan Biksu Tong saat melakukan perjalanan mancari kitab suci bersama kelima muridnya.

Bagi yang belum familiar memang quote itu terdengar membingungkan. Ya gimana jadinya kosong dibilang isi dan malah isi dibilang kosong? Aku juga demikian. Diawal ndak mudeng apa maksudnya tapi sedikit demi sedikit aku mulai memahaminya salah satunya saat aku mulai banyak memasuki dimensi-dimensi lain yang semakin membuka pikiranku.

Memahami suatu maksud memang membutuhkan waktu dan juga keterbukaan. Bukan soal terbuka pikiran saja, namun hingga mencapai level terbuka hati. Kadang sulit dicerna dan sering juga tidak masuk ke alam pikir yang selama ini aku amini. Namun ya realitasnya yang terjadi seperti itu. Dunia terus bergerak dan hanya orang bodoh yang tak mau menerima perubahan-perubahan yang kian hari kian cepat.

Dan itu membuatku ketawa sendiri, ternyata selama ini aku masih kosong. Merasa sudah tahu segalanya, padahal benernya belum ada sekuku item.  Pernah mendengar ilmu padi? Semakin isi akan semakin merunduk. Ya begitulah arti kosong adalah isi. Semakin luas wawasan seseorang, malah akan merasa kosong karena merasa masih banyak ilmu yang belum dipelajari.

Melalui Forum Nandur Becik aku banyak belajar. Bahwa hidup itu lebih luas dari sekedar urusan perut, lebih luas dari sekedar persoalan dompet dan hidup juga lebih luas dari sekedar mewujudkan mimpi-mimpi masa kecil. Karena hidup sejatinya soal menanam kebaikan untuk sesama. Apa artinya hidup jika kita tak memiliki manfaat untuk orang lain. Ya, hampa dan kosong.

Satu hal yang aku suka, Forum ini mengajarkan tentang menanam kebaikan dengan cara yang berbeda. Bukan soal bersedekah sebanyak banyaknya untuk fakir miskin. Bukan. Tapi mengajarkan lebih dari itu. Bagaimana menjadi berdaya untuk bisa memberdayakan orang lain dengan cara yang berbeda. Aku mulai mengerti bahwa segala keaikan berawal dari pembentukan mental.

Bertempat di Rumah Sasongko forum kebaikan ini diadakan. Lebih dari seratur orang datang di tiap acaranya membuat aku semakin bersemangat. Ternyata aku sadar, kota ini memang sangat membutuhkan tempat yang seperti ini, tempat memberikan kesegaran dan penyadaran tentang kehidupan.

Rugi rasanya bila kesempatan bertemu di ruang – ruang ini di lewatkan begitu saja.

See you soon!

mimpi

Mimpiku

Setiap orang pastinya punya mimpi. Aku pribadi sangat percaya, mimpi dapat menggerakkan hingga batas maksimalnya. Banyak orang-orang sukses yang punya mimpi tidak masuk akal. Tidak masuk akan bagi orang lain, namun masuk akal bagi mereka. Keyakinan dan kerja keras yang membuat mereka terus melangkah hingga akhirnya mewujudkan mimpi-mimpinya.

Banyak yang bilang, untuk bermimpi saja butuh keberanian. Keberanian untuk membayangkannya, keberanian untuk meyakini, dan satu lagi yang tak kalah penting yaitu keberanian untuk berkomitmen mewujudkannya.

Banyak aku bertemu dengan orang yang menceritakan mimpi-mimpinya dengan berani. Namun ada juga yang membayangkannya saja tidak mampu karena takut. Mungkin dilain kesempatan aku akan menceritakannya, namun di postingan kali ini ijinkan aku untuk membagi apa yang aku impikan selama ini dan ingin kujadikan sebagai tujuan hidup.

***

Aku sangat senang sekali berinteraksi dengan orang baru dan hal yang terkait dengan seksualitas. Lambat laun, aku mulai memahami bahwa  setiap orang, apapun latar belakangnya pasti memiliki kisah hidup yang berbeda yang pastinya tersimpan pelajaran yang berharga. Dari kesenangan itulah, aku sangat ingin bertemu banyak orang dengan cara bisa berkeliling Indonesia.

Semua orang tahu bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki suku dan budaya yang berbeda. Adata istiadat dan pola kehidupan masyarakat antar daerahnya pun otomatis berbeda.  Begitupula pada bidang psikoseksual yang berbeda pada tiap daerahnya. Dan aku sangat ingin mempelajarinya.

Lalu bagaimana dengan kehidupan rumah tanggaku kelak?

Ya karena aku punya mimpi untuk bisa belajar budaya seks tiap daerah di Indonesia, yang membutuhkan berpindah satu tempat ke tempat yang lain. Otomatis aku mencari pendamping yang bisa fleksibel. Pendamping yang bisa mendukung bahkan bisa terlibat pada apa yang aku kerjakan. Apakah itu mungkin? Sangat mungkin.

Apa yang aku dapatkan dengan berkeliling Indonesia, pastinya tidak aku simpan sendiri. Oleh karena itu, saat ini aku sedang fokus mempelajari bidang kepenulisan. Tujuannya agar apa yang aku dapatkan bisa aku tuliskan dan bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Awalnya, aku merasa impianku mustahil. Tapi perlahan-lahan, Alam memberi tanda bahwa apa yang aku impikan dapat terwujud bila mulai sekarang aku bekerja keras, fokus dan konsisten.

Tak ada mimpi yang terlalu kecil atau terlalu besar. Bahkan kalo perlu selalu upgrade mimpi-mimpimu. Ada kutipan bagus yang aku dapatkan dari buku Giant Steps yang ditulis oleh Anthony Robbins:

“Pilih tujuan yang paling menggairahkan Anda, sesuatu yang akan membuat Anda bangun lebih awal dan tidur lebih malam.”

 

Aku Bangga dengan “Om Telolet Om” !

Bukan Indonesia kalo nggak bikin sesuatu yang booming sampe seantero dunia. Senang rasanya bisa menikmati akhir tahun dengan trend Om Telolet Om yang membanjiri semua timeline FB, twitter, Instagram, dan  Youtube. Kenapa nggak? Liat aja para Dj bahkan sampai dengan Barack Obama aja tau trend ini. Semua bertanya-tanya dan mencari tahu apa sih “Om Telolet Om”, mulai dari kepo akhirnya mereka berkunjung ke Indonesia untuk tau trend itu, tentunya secara online. Dunia pun mulai tau the secret weapon of Indonesia salah satunya adalah “Om Telolet Om”. Hahaha. Senjata rahasia Indonesia adalah sense of humor yang tinggi dan mampu membuat sesuatu sepele hingga jadi booming. Semua traffick terkait Indonesia dan “Om Telolet Om” pasti tinggi. Bagi yang pintar melihat peluang, trend “Om Telolet Om” akan segera dimanfaatkan untuk mendongkrak bisnis bahkan membuat berbagai bentuk kreatifitas untuk menjaring follower atau subscriber.

Semua pastinya sudah merasa sangat jengah dengan pemberitaan dan arus informasi sosmed yang sangat memuakkan beberapa minggu terakhir ini. Jengah dengan rasisme yang digaung-gaungkan sebagian pihak untuk kepentingan politik. Banyak mengatakan orang lain kafir, padahal sendirinyalah yang khafir karena mendzolimi orang lain. Mereka nggak sadar, kalo mereka udah menggerus persatuan bangsa Indonesia. Selama kita masih berkutat dengan permasalahan agama dan ras, Indonesia akan sulit maju dan bahkan semakin terbelakang.

Sebagai umat mayoritas pun aku merasa sangat terganggu. Orang Indonesia itu masih suka menggenalisir. Apa yang dilakukan si A pasti juga akan dilakukan si B karena kepercayaannya sama. Padahal orang yang berkeyakinan sama belum tentu loh punya pemikiran dan tindakan yang sama. Mungkin karena pelajaran PPKN dihilangkan dan digantikan jadi pelajaran Kewarganegaraan. Mereka tidak belajar untuk bertoleransi dan memiliki tinggang rasa yang tinggi, namun sudah belajar berpolitik tanggung.  Ah sudahlah…

Trend “Om Telolet Om” merupakan suatu fenomena menyegarkan untuk membersihkan timeline dan pemberitaan-pemberitaan. Masyarakat Indonesia juga sudah menunjukkan bahwa bahagia itu sederhana. Ya.. sangat sederhana 🙂

 

Mau Jadi Psikolog (part 2)

Tulisan ini aku tulis pada tahun 2014, tepatnya enam bulan setelah aku lulus S1. Aku menemukan tulisan ini sewaktu lagi beberes folder di laptop. Tulisan yang sayang banget untuk nggak di posting, karena bagiku tulisan ini ibarat monumen. Monumen yang mengembalikan semangatku untuk memperjuangkan jalan yang sudah aku pilih 🙂

Banyak hal terjadi saat saya menimba ilmu dalam pekerjaan. Dari ilmu marketing, ilmu persuasif dan ilmu-ilmu lainnya. Tapi ilmu yang paling penting adalah ilmu dalam meng-intisari-kan sebuah peristiwa simplenya memberi makna dalam setiap peristiwa. Jujur saja, selama ini saya adalah orang yang kurang peka dalam menjalani hidup bisa dibilang kurang memakna setiap hal yang terjadi dalam hidup saya, lima bulan bekerja berjalan dengan lancar tanpa ada suatu hambatan dan tiba pada bulan ke enam dimana benturan-benturan mulai datang secara berurutan, disinilah mental saya benar-benar diuji. Selama ini saya cukup menjadi orang yang sombong, bahwa menganggap bahwa diri saya berada pada jalur yang paling tepat, namun semua itu mulai terpatahkan satu persatu. Semua berawal dari pertemuan saya dengan salah satu tokoh ternama di kota yang saya tempati. Beliau adalah pak Ilik yaitu tokoh penggerak masyarakat. Pertemuan awal saya dan beliau pada sebuah acara di universitas dan berlanjut pada pertemuan kedua di kediaman beliau. Pada pertemuan kedua, saya dan dua orang rekan saya mengunjungi rumah beliau. Awalnya memang kami ngobrol ringan, tentang apa kegiatan kami dan apa kegiatan beliau dengan pemberdayaan masyarakatnya. Setengan jam berlalu dengan elegan, pada suatu ketika beliau mulai mengkritisi apa yang kami (saya dan rekan) lakukan. Setiap apa yang beliau sampaikan sangat membuat saya bingung dan perlu berpikir berulang kali untuk mengetahui apa maksud beliau. Tutur kata yang awalnya sopan kini berubah mejadi sangat blak-blakan tanpa melihat sisi empati lagi. Wow! Kagetnya bukan main saya dengan pembicaraan ini. Dalam hati saat itu, saya sangat menyesal kenapa pula harus bertemu dengan orang ini.  Namun, setelah pamitan dan pulang saya menyerapi lagi apa yang disematkan beliau dalam pembicaraan yang panjang dan membuat saya kurang nyaman itu. Beliau banyak menyematkan bahwa kita sebagai pribadi itu perlu mengetahui apa yang membuat diri kita berbeda, dan beliau juga memberikan pesan bahwa yang ada di otak kita hanya aja “noise” ya istilahnya kurang ada ketenangan yang kita rasakan. Hal yang saya dapatkan dari beliau adalah tentang ilmu “olah rasa dan olah jiwa”.  Ya memang tanpa saya pungkiri memang selama ini saya tidak pernah melakukan olah rasa dan olah jiwa sehingga membuat saya kurang peka dalam memaknai hidup.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, saya mendapatkan kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan seseorang yang saya temui dalam acara buka bersama salah satu komunitas. Beliau bernama Mbak M. Saat melihat sosok mba M ia terlihat seperti wanita biasa, namun setelah kami bertemu untuk kedua kalinya penilaian saya mulai berbeda. Penilaian berbeda lebih karena takjub. Mba M bercerita banyak tentang pengalaman hidupnya dulu, dari saat masa kuliah, bekerja, dan menajadi ibu rumah tangga. Singkatnya, Mbak M dulu pernah mengalami suatu goncangan jiwa yang menyebabkan ia mengalami problem psikis berat, hingga sampai harus mondok di RSJ dan menjalani pengobatan alternatif jiwa di pelosok desa di suatu daerah. Ternyata untuk kembali seperti semula Mba M berjuang cukup keras, namun dari perjuangan tersebut saya mendapati bahwa Mba M menyadari bahwa hal yang dapat membuat dirinya sembuh lagi-lagi terkait dengan “olah rasa dan olah jiwa”.

Dari pertemuan dua orang tersebut mulai menyadarkan saya bahwa memang Tuhan menitipkan pesan pada saya melalui orang-orang yang saya temui agar saya mulai melatih kepekaan saya bila saya benar-benar ingin menjadi psikolog ekspert. Saya mulai mengurai lagi apa saja yang telah saya alami selama ini, nilai-nilai apa saja yang bisa saya ambil dari setiap peristiwa, dan kepekaan tersebut juga membawa saya untuk lebih percaya lagi bahwa Tuhan itu benar-benar ada untuk membimbing saya. Saya percaya bahwa apa yang saya lakukan bisa terjadi karena dengan seijin YME. Dengan menumbuhkan kepekaan dalam rasa dan jiwa, saya yakin dapat membantu saya dalam menjalani hidup lebih baik dan membawa saya dalam melampaui cita-cita saya kelak.

baca sebelumnya Mau Jadi Psikolog (Part 1)  

Mau jadi Psikolog (part 1)

Tulisan ini aku tulis pada tahun 2014, tepatnya enam bulan setelah aku lulus S1. Aku menemukan tulisan ini sewaktu lagi beberes folder di laptop. Tulisan yang sayang banget untuk nggak di posting, karena bagiku tulisan ini ibarat monumen. Monumen yang mengembalikan semangatku untuk memperjuangkan jalan yang sudah aku pilih 🙂

Jaman  segalanya serba dimudahkan, begitupun dengan pemilihan program studi. Bagi jenjang s1 bingung pada semester-semester awal itu hal wajar, namun bila tetap merasa bingung dengan program studi yang diambil setelah melewati 4 semester itu baru hal yang kurang wajar (bagi saya). Namun lain halnya dengan jenjang s2. Bagi seseorang yang sudah memutuskan untuk melanjutkan studi s2 pasti sudah memiliki keputusan-keputusan tertentu mengapa perlu melanjutkan studi. Saya sangat jarang menemukan mahasiswa s2 merasakan kegalauan pada jurusan yang dia pilih, kalopun ada pastinya hanya sedikit. Namun, keputusan-keputusan untuk mengambil studi lanjut beragam, ada yang hanya untuk memperpanjang nama (tambah gelar), tuntutan untuk kenaikan jabatan, gengsi, tuntutan profesi, tuntutan keluarga (may be..) dan terakhir tuntutan untuk menambah ilmu. Dari tuntutan-tuntutan yang bergam tersebut akan dapat terlihat mana seseorang yang benar-benar memahami dan menerapkan apa yang ia pelajari (ekspert) atau hanya sekedar memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada. Saat ini saya hanya ingin membahas satu program studi ya itu psikologi.

Well, jaman sekarang ini untuk dapat menjadi psikolog seseorang perlu mengambil studi lanjutan S2, banyak progam studi S2 psikologi yang ditawarkan, ada dalam bidang penelitian, bidang terapan dan untuk profesi. Sepengetahuan yang saya miliki, seseorang dikatakan sebagai psikolog bagi yang sudah menjalani program studi mag ister profesi psikologi, namun dalam kenyataannya dilapangan di Indonesia banyak juga yang memiliki gelar dari bidang penelitian berpraktek sebagai psikolog. Hmm untuk saya itu tidak terlalu penting, tapi yang terpenting adalah expert.

Jadi psikolog yang expert itu bukan hanya dengan memiliki gelar semata, tapi perlu memiliki keahlian lebih sesuai dengan bidangnya. Ada salah satu buku tentang psikoterapi yang saya baca ada dua pandangan sebelum memutuskan untuk menjadi psikolog. Pertama, seseorang perlu diberikan berbagai tes psikologi untuk dapat mengetahui apa yang menjadi kelemahan dan kelebihannya. Kedua, seorang psikolog itu harus dapat memecahkan problem yang dialaminya sendiri sebelum membantu orang lain, dengan memecahkan problem yang dialami secara langsung dapat mempelajari apa yang menjadi kelemahan dan kelebihannya. Dari dua pandangan itu sebenarnya intinya sama, yaitu membantu diri sendiri dulu dengan cara mengetahui kelemahan dan kelebihan sebelum membantu orang lain namun dengan cara yang berbeda.

Balik lagi soal expert, sedikit cerita dulu semasa kuliah s1 dulu saya salah satu mahasiswa yang gila nilai atau bisa disebut kejar IPK, semua tugas saya kerjakan dengan sebaik-baiknya bahkan sampai rela timbul permusuhan antar teman hanya karena tugas. Memang hasilnya dapat saya rasakan, dari sekian banyak teman-teman satu angkatan saya adalah mahasiswi yang lulus paling cepat hanya 3 tahun 4 bulan. Bangga rasanya bisa lulus cepat dan nilai yang cukup lumayan, namun kebanggaan itu sedikit demi sedikit mulai pudar. Kenapa ? karena beberapa ilmu yang saya pelajari dulu saya kurang bisa menerapkannya setelah saya lulus. Hal itu saya rasakan karena proporsi teori dan praktek yang tidak seimbang selama saya kuliah dulu. Orang tua sudah memaksa saya untuk lansung lanjut S2 sebulan setelah saya lulus, namun dengan berbagai alasan saya menunda untuk melakukannya. Saya memutuskan untuk bekerja terlebih dulu sebelum memutuskan untuk lanjut S2. Keputusan untuk bekerja sebenarnya bukan soal uang, memang saya butuh uang karena selepas lulus s1 saya sudah tidak ada uang bulanan, tapi keputusan saya untuk bekerja lebih pada untuk mendapatkan pengalaman. Dunia kerja (bukan dunia mencari kerja) memang tidak semudah yang dibayangkan, saya bagaikan anak kecil yang sendirian ditengah hutan sabana, yup saya merasakan kebingungan. Bukan soal bingung harus mengerjakan apa, namun bingung pada gejolak yang ada dalam diri saya. Bagi sarjana psikologi sangat penting untuk memiliki kestabilan emosi dalam menghadapi berbagai situasi, namun sayangnya saya belum memilikinya. Emosi saya sangat tidak stabil dan mudah goyang, terlebih dalam proses pengambilan keputusan. Hal-hal seperti itu saya tidak dapatkan pada masa kuliah dulu, dan keputusan saya untuk mencari pengalaman ternyata tepat. Karena saya memang ingi sekali menjadi psikolog, tapi psikolog yang bener-bener expert dan bukan hanya modal gelar semata. Sungguh lucu bila seorang psikolog masih sering mengalami kelabilan emosi, padahal psikolog akan menangani klien-klien yang mengalami problem-problem terkait emosi. Ya memang untuk menjadi seorang yang benar-benar ahli dibutuhkan mental yang kuat. Banyak hal yang membuat saya mulai mengerti apa yang harus saya persiapkan untuk menjadi psikolog expert kedepannya.

… to be continued

sensor

PON rasa POrN

Beberapa hari yang lalu, masyarakat lagi-lagi dihebohkan dengan perkara sensor yang salah alamat. Kali ini sensor atau blur ditujukan pada sebuah tayangan wawancara salah satu atlet renang PON XIX Jabar 2016 yang sedang berada di tepian kolam renang. Sekilas bila diperhatikan, blur membuat atlet putri tersebut terkesan telanjang. Masyarakat geger dan makin mengecam tindakan sensor yang tidak sesuai konteks tersebut.

Banyak netizen atau masyarakat beranggapan semakin banyak hal yang di sensor malah semakin merusak moral dan terjadi pembodohan masyarakat. Kebijakan KPI tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengurangi konten porno-grafi di televisi, hal ini didasarkan pada aturan Standar Program Siaran (SPS) KPI, yaitu:

Soal aturan SPS hal pornografi tertuang dalam bab mengenai pelarangan dan pembatasan seksualitas. Pada pasal 18 (h) melarang tayangan yang mengekploitasi dan/atau menampilkan bagian tubuh tertentu, seperti paha, bokong, dan payudara, secara close-up dan/atau medium shot. Sekaligus mencantumkan larangan adegan ciuman bibir, ketelanjangan, dan kekerasan seksual.

Tapi, agaknya penerapan Lembaga Penyiaran (LP) dalam penyensoran terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan konteksnya. Banyak yang tidak setuju, karena bisa berefek pada peningkatan porno-aksi para penontonnya, terlebih pada anak-anak dan remaja yang masih memiliki hasrat ingin tau yang tinggi. Kenapa ya bisa begitu? Yuk kita lihat dari sudut pandang psikologi…

Persepsi

Pada umumnya kita sering kali menggunakan kata persepsi dalam perbincangan sehari-hari, namun sayangnya tak banyak yang tahu apa masud dari persepsi. Menurut Robbins, persepsi merupakan kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian di analisa (diorganisir), diintepretasi dan kemudian dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna. Jadi singkatnya, persepsi merupakan pemaknaan dari pengindraan kita. Pada kasus penyensoran atlet renang ini, persepsi yang didapatkan oleh masyarakat merupakan persepsi yang dihasilkan dari proses pengindraan mata, sehingga persepsi tersebut dinamakan persepsi visual.

Nah pada kasus kali ini, perberlakuan blur pada tayangan atlet renang ini lebih pada hal yang mengandung pornografi. Penyensoran yang tidak sesuai konteksnya tersebut malah memberikan makna sebagai suatu hal yang berhubungan dengan pornografi, padahal bila kita cermati bahwa sangat wajar bila seseorang menggunakan bikini atau pakaian renang di kolam renang atau pantai. Karena, masalah utama dari persepsi visual ini tidak semata-mata apa yang dilihat manusia melalui retina matanya,  namun lebih daripada itu adalah bagaimana menjelaskan persepsi dari apa yang benar-benar manusia lihat.

Atensi

Dalam melakukan pemrosesan informasi melalui panca indra, kita akan memberikan atensi yang lebih pada stimulus yang diberikan. Jadi simpelnya, penonton akan memberikan intensi lebih pada bagian tubuh atlet yang diblur. Atensi membuat seseorang akan melakukan pemusatan pikiran pada satu objek dan akan mengabaikan objek lain. Jadi sebenarnya dengan adanya sensor tersebut malah memberikan tanda kita untuk lebih focus pada bagian blurnya. Objek yang diblur pastinya tidak jelas, sehingga manusia akan cenderung mencari tahu apa yang sebenarnya objek tersebut, bisa dengan cara konfirmasi (pencarian sumber lain) atau hanya menggunakan persepsi umum atau hasil dari generalisasi. Perlu diingat bahwa, segala sesuatu yang difokuskan secara terus menerus akan masuk ke alam bawah sadar, sehingga bila ada stimulus yang sama secara otomatis otak akan memberikan pemaknaan yang sama pula. Makin orang penasaran, maka orang akan mencari tahu dan pada akhirnya mencoba dalam bentuk perilaku.

Aku pun sempat survey ke beberapa teman tentang tayangan tersebut, dan sebagian besar menjawab tayangan tersebut menggambarkan seperti wanita yang tak berbusana bila tak melihat kolam renang sebagai backgroundnya. Ya sungguh disayangkan, penyensoran malah berakibat pada pembodohan masyarakat.

Pendidikan Seksualitas

Adanya peristiwa ini, membuat banyak pihak semakin resah, terlebih pada pendidik yang melek tentang pendidikan seksualitas pada anak dan remaja. Pendidikan seksualitas komprehensif berfungsi salah satunya sebagai benteng ketika lingkungan sekitar memberikan stimulus yang tidak sesuai konteksnya. Anak-anak dan remaja yang sudah diajarkan pendidikan seksualitas akan cenderung memiliki pemahaman tentang tubuh yang menurut lingkungan adalah hal yang tabu dibicarakan. Pemahaman tersebut sebenarnya mereduksi anak-anak untuk tidak kaget bila melihat sesuatu yang membuat penasaran dan mencoba-coba. Padahal era sekarang sangat muda bagi anak dan remaja mencari infomasi melalui gadgetnya. Hanya mengetik mobil saja, bisa jadi yang keluar adalah wanita seksi, bagaimana bila mengetik “bagian tubuh yang di blur”??

Sehingga, disanalah peran peran penting pendidikan seksualitas sebagai filter anak dan remaja menerima informasi.