Generasi Miskin NASIONALISME

Menjadi warga negara Indonesia, belum tentu mengerti Indonesia. Terdengar ironis, tapi memang kenyataannya demikian. Aku menyadari bahwa hal itu juga terjadi padaku. Dengan embel-embel “generasi muda” tapi  miskin akan jiwa nasionalisme.

Dulu, aku sangat menggebu-gebu untuk bisa berpergian ke luar negeri. Membanggakan negara ini negara itu, ingin ke negara ini negara itu. Ya, intinya sebuah kebanggan tersendiri bisa pergi ke suatu negara dan foto di salah satu iconnya yang terkenal. Sebenernya impian itu tak pernah salah, namun bagiku pribadi ada kesalahan berpikir yang sudah terjadi pada diriku. Aku membanggakan negara lain namun di satu sisi aku tak bangga dengan negaraku sendiri.

Waktu terus berjalan hingga pengalaman-pengalaman membawaku pada suatu pemaknaan yang berbeda. Beberapa orang Indonesia yang sukses di luar negeri ternyata memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Contohnya saja B.J. Habibie. Bagi kalian yang sudah menonton filmnya yang berjudul “Rudy Habibie” kalian akan menyadari bahwa kecintaanya sangat tinggi pada Indonesia. Film itu sebuah tamparan bagi diriku secara pribadi, karena selama ini kebanggaanku terhadap Indonesia sangat rendah. Mungkin terlalu tinggi bila melihat B.J. Habibie sebagai role model kita, kita bisa ambil contoh Pandji Pragiwaksono. Seorang stand up comedian yang bisa melakukan tour dunia dengan lawakannya. Ada salah satu video stand up nya penuh dengan aura nasionalisme.

Intinya, bahwa kesempatan pergi ke luar negeri akan selalu ada bagi kita yang siap. Siap dengan identitas kita. Siap dengan mental kita. Tak melulu orang luar negeri lebih cerdas daripada kita orang Indonesia yang polusi udaranya cukup tinggi. Tak melulu orang luar negeri lebih hebat daripada kita orang Indonesia yang sering makan tahu atau tempe. Ya semua itu hanyalah mentalitas kita saja.

Aku tak kan pernah mengubur impianku untuk bisa pergi ke beberapa negara, karena aku percaya dengan memperluas area jangkauan maka akan luas pula pengetahuanku kelak. Aku pun tak akan menggebu seperti dulu dengan memaksakan diri menulis rencana ke luar negeri yang selalu gagal karena tidak ada action. Kini aku memulainya dengan mencintai negeriku terlebih dahulu. Aku ingin suatu saat nanti bisa berkeliling Indonesia. Bukan hanya untuk traveling semata, tapi juga untuk mengetahui setiap budayanya, yap budaya SEXnya. Karena tiap daerah pasti punya kultur dan tradisi seks yang beraneka ragam. Sungguh pekerjaan yang sangat menyenangkan bila aku bisa mendapatkan kesempatan itu.

Jadikan 17 Agustus bukan hanya sebagai ajang nonton acara upacara bendera di TV aja. Tapi jadikan itu sebagai kebangkitan nasionalisme dalam diri kita. Tak perlu memaksakan belajar tari trasional kalo kamu memang nggak ada bakat disitu. Cukup mencintai negara ini dengan merubah mentalmu, dengan melahirkan kembali budaya senyum, buang sampah di tempatnya, saling menghargai lagi dengan pemeluk agama lain, dll.

Cheers!

 

Lo Nggak Capek Liat Langit Terus?

Seringkali secara otomatis kita akan terus membandingkan diri kita dengan orang lain. Entah itu membandingkan dari sisi buruk atau sebaliknya membandingkan dari sisi baiknya. Sayangnya, semakin sering kita membandingkan dengan orang lain semakin terpuruklah kita. Awalnya aku nggak percaya dengan statement itu, hingga aku merasakannya sendiri dan melihat contoh langsung yang aku temui di RS Jiwa.

Aku akan menceritakan salah satu klien yang aku dampingi  saat aku praktek magang di RSJ, semua identitas akan aku samarkan yaa demi keamanan 🙂

Sebut saja namanya Lulu, wanita berusia 34 tahun yang belum menikah dan sudah tiga kali rawat inap di RSJ. Pertemuanku dengannya sebenernya setelah aku menjalani hampir setengah periode magang. Saat aku pertama kali bertemu perawakannya lusuh, kusut, dan berantakan seperti orang yang tidur terlalu lama. Walau hari itu kami baru pertama kali bertemu, tapi Lulu sudah banyak bertanya tentang apa yang aku lakukan. Beberapa kali tanpa aku tanya ia selalu bercerita bahwa ia adalah seorang yang cerdas, punya tingkat pendidikan setaraf S2 dan baru saja menyelesaikan S3. Kala itu aku hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakannya. Segera aku mulai melihat rekam medisnya untuk aku pertimbangkan sebagai calon klien yang akan aku dampingi. Wolaa… ternyata dia memenuhi kriteria dan segera aku catat dalam buku note ku.

Keesokan harinya aku mulai mewawancarainya. Perkataanya memang ngalor ngidul, tapi inti omongannya adalah ia orang yang hebat, pintar, berpengalaman namun memiliki sifat manja dan selalu ingin dilayani. Lulu juga mengungkapkan bahwa ia ingin sekali punya mobil mewah dan rumah berlantai tiga dengan cara mejual rumah satu-satunya yang dimiliki ibunya.

Sehari dua hari berselang, aku memutuskan untuk janjian bertemu dengan kakak laki-lakinya.  Tujuannya satu, yaitu untuk mengkonfirmasi apa yang sudah Lulu ceritakan padaku. Ternyata tak semua yang Lulu ceritakan padaku itu salah dan beruntungnya Kakaknya menceritakan semua kronologis riwayat Lulu padaku.

Jadi sebenernya, Lulu adalah anak yang sangat di manja oleh orang tuanya. Semua yang Lulu inginkan selalu diusahakan mati-matian oleh orangtuanya. Dari lima bersaudara, hanya Lulu seorang lah yang tamatan S1 sedangkan saudara lainnya hanya tamatan SMA. Kebiasaan selalu dilayani oleh orang tua membuat Lulu menjadi sulit untuk mandiri, namun kontrasnya Lulu selalu menuntut agar semua keluarganya menuruti perkataanya, yap karena dia merasa dialah yang paling pintar karena berpendidikan lebih tinggi.

Dalam prosesnya Lulu berubah menjadi pribadi yang senang menuntut dan sulit menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginanya. Yang ada dalam benaknya adalah ia harus melebihi orang lain, entah bagaimanapun caranya. Sebenernya suatu keadaan yang sangat kontras, disatu sisi ia sangat ingin lebih dari orang lain namun disisi yang lain ia sangat tergantung pada orang lain.

Dalam situasi yang sudah jauh lebih baik dari perama kali aku bertemu dengannya, aku iseng-iseng bertanya padanya mengapa ia sangat ingin memiliki mobil padahal dia tak bisa menyetir dan keadaan orangtuanya sangat pas-pasan. Tanpa ragu Lulu menjawab,

Ya aku harus punya mobil, temen-temenku di kampus pada punya mobil masa aku nggak punya mobil.

Bisa di tebak, hingga saat ini Lulu belum memiliki mobil, namun ia sudah memiliki satu motor matic yang selalu bertengger di kamarnya dan tak pernah digunakan. Alasannya satu, ia ingin motornya selalu terlihat mulus agar beberapa tahun lagi nilai jualnya bisa lebih tinggi dari harga beli.

Sebenernya, hampir semua tuntutannya adalah hasil dari dirinya membandingkan dirinya dengan orang lain. Tuntutan yang terlampau tinggi serta tidak realistis dengan kemampuannya membuat pikirannya terpecah dan kacau. Hingga saat ini Lulu tak pernah tau apa yang sebenernya ia butuhkan, yang ia tahu hanya menuntut keadaan.

Dari sekelumit cerita Lulu diatas aku bisa mengambil banyak pelajaran bahwa selalu  membandingkan diri dengan orang lain tak akan bisa memperbaiki keadaan. Yang ada hanya menumpuk ambisi sedikit demi sedikit dalam diri yang malah dampaknya merusak keadaan. Ada yang bilang, ketika kita tidak membandingkan diri dengan orang lain kita hanya akan menjadi manusia dibawah rata-rata dan tak akan bisa berkembang. Padahal, manusia diatas rata-rata adalah manusia yang selalu mensyukuri apa yang dia dapatkan, membandingkan dirinya bukan dengan orang lain namun dengan dirinya sendiri, serta selalu mengukur kemampuan apa yang dimiliki.

Jadi, mau sampe kapan kamu akan terus membandingkan dirimu dengan orang lain?

Inget, diatas langit ada langit …

Cheers!

 

ODHA B.A.H.A.G.I.A

Kali ini aku pengen nyeritain tentang pertemuanku dengan seseorang yang luar biasa. Kenalkan, beliau adalah Pak Widodo atau biasa disapa dengan Pak Wid. Beliau bukanlah artis atau pejabat daerah yang banyak bersliweran di media cetak hehe, namun menurut beliau adalah salah satu orang cukup menarik perhatianku.

Pertama kali aku mengenal beliau ketika menghadiri suatu acara 2 tahun yang lalu. Kala itu aku tak terlalu banyak ngobrol dengan beliau, yang aku tahu beliau adalah Odha (orang dengan HIV/AIDS) yang aktif memberikan dampingan pada sesama Odha lainnya. Pak Wid tergolong orang yang friendly dan easy going. Walaupun kala itu kami baru ketemu tapi beliau mudah ngeblend sama kami yang usianya jauh dibawahnya.

Setelah dua tahun tak bertemu, akhirnya bulan lalu Tuhan mempertemukan kami kembali di acara Rumah Aira. Awalnya aku tak menyadari ada beliau di acara tersebut, namun tiba-tiba beliau langsung menghampiriku dan menjabat tanganku sambil sumringah. Waaw aku kaget! Jujur aja waktu itu aku lupa nama beliau tapi aku sangat ingat dengan perawakannya yang tinggi dan kumisnya yang khas.  Tanpa pikir panjang, aku langsung minta nomor hp sambil mengingat kembali siapa nama beliau wkwkw.

Mungkin bagi beberapa temen FBku sudah sangat familiar dengan Pak Wid dan sudah tau siapa beliau berikut dengan latar belakangnya. Namun bagiku, Pak Wid adalah sosok yang belum terlalu aku kenal. Jujur saja aku masih penasaran dengan cerita hidup Pak Wid sebenernya gimana. Dengan tekad kepo level tinggi akhirnya aku menghubungi Pak Wid dan janjian buat nongkrong bareng.

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu di food court sebuah mall. Begitu Pak Wid dateng aku langsung menawarkannya minuman sambil aku juga jajan hehehe. Tak beberapa lama minuman datang dan kami mulai percapakan yang semi serius tapi tanpa spaneng.

Pak Wid cukup terbuka ketika aku banyak bertanya tentang latar belakangnya bagaimana sampai bisa terkena HIV/AIDS. Pak Wid menyadari bahwa apa yang dialaminya saat ini tak terlepas dari perilaku buruknya ketika semasa muda dulu. Dengan tanpa basa-basi Pak Wid bercerita bahwa dulunya ia adalah seorang pemakai narkoba. Hampir semua jenis narkoba pernah beliau cicipin dari tahun 1993 hingga tahun 2002. Tak hanya segala jenis narkoba aja yang udah pernah Pak Wid cicipin tapi segala jenis body katanya juga sudah pernah Pak Wid cicipin atau bisa dibilang beliau dulu penganut faham free sex. Pak Wid juga cerita gaya hidupnya itu ditunjang dari pekerjaannya yang bertemu banyak orang. Jadi bisa dibilang Club atau diskotik itu adalah rumah keduanya mencari kesenangan. Jadi mau make narkoba jenis apa aja dan berapa kali ganti pasangan itu adalah hal yang mudah baginya.

Pak Wid mengaku bahwa sangat sulit lepas dari narkoba, namun Pak Wid benar-benar bisa lepas dari narkoba ketika terpalang oleh Undang-Undang Narkotika. Jadi pada saat itu UU Narkotika memberikan sanksi hukuman kurung bagi pengedar maupun pemakai. Mulai saat itu Pak Wid bertekad untuk lepas dari narkoba dan sampai saat ini beliau sudah bebas dari jeratan narkoba.

Setelah bebas dari narkoba, suatu hari Pak Wid jatuh sakit hingga opname sebanyak 4 kali dalam setahun. Kala itu Pak Wid cerita kalo beliau udah nggak bisa apa-apa. Bayangkan aja kala itu CD4 nya hanya 16 dan berat badannya hanya 36 kg, padahal jumlah CD4 pada orang normal itu sebanyak +/- 500. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan infeksi. Pak Wid bercerita dia sampai nggak bisa jalan. Mulai dari situlah Pak Wid baru tahu bahwa ia sudah terinfeksi HIV/AIDS. Kaget pasti, tapi beliau terus berjuang untuk kembali bangkit selama 3 tahun, hal tersebut berkat dari dukungan saudara dan lingkungan terdekatnya. Lambat laun Pak Wid kembali bisa berjalan hingga bisa mengendarai sepeda motor lagi.

Mulai dari situ Pak Wid bisa kembali bertemu dengan banyak orang terlebih teman-teman yang senasib dengannya. Pak Wid banyak berkumpul dengan ODHA lain dan sering menjadi tempat curhat. Tanpa pernah mengeluh, Pak Wid tetap menerima curhatan dari teman-temannya. Pak Wid mulai menyadari bahwa keberadaanya ternyata cukup dibutuhkan bagi teman-teman, hingga akhirya Pak Wid berinisiatif membentuk Komunitas Odha Ohidha Semarang atau disingkat KOOS. Dengan adanya KOOS, Pak Wid menjadi lebih bisa maksimal dalam memberikan pendampingan pada Odha. Menurutku beliau salah satu orang yang sangat totalitas dalam memberikan pelayanan, bayangkan saja nomor handphonenya sampai ada 3 dan semuanya berbeda operator. Tujuannya adalah untuk mempermudah komunikasi bagi Odha dampingannya.

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Aku salut pada Pak Wid yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu membangkitkan semangat hidup teman-teman Odha lain. Baginya suatu keberkahan bisa melihat orang yang ia dampingi bisa kembali tersenyum dan bersemangat menatap kehidupan kembali.

Aku percaya pasti diluar sana banyak Pak Wid lain yang juga berdedikasi pernuh untuk membantu orang lain dalam meningkatkan kualitas hidup Odha. Aku hanya bisa berdoa agar beliau-beliau di berikan kesehatan serta umur panjang agar bisa menularkan semangat kepedulian bagi banyak orang lagi.

Sebenernya lewat postingan ini aku ingin menyampaikan bahwa apapun keadaan yang kita alami dan seburuk apapun cobaan yang sedang kita hadapi, kita tetep berhak untuk BAHAGIA. Karena BAHAGIA yang menentukan kita sendiri, bukan orang lain.

Selain itu, dalam case Pak Widodo aku juga bisa mengambil pelajaran bahwa selagi muda kita perlu berhati-hati dalam pergaulan, salah satunya pergaulan yang beresiko tinggi. Dan perlu dipahami juga kalo tak semua Odha memiliki latar belakang perilaku beresiko seperti beliau, banyak juga diluar sana yang terinveksi HIV akibat dari kesalahan medis, korban perkosaan, dan lain sebagainya Jadi stop hobi menggenalisir atau menyamaratakan setiap case.

The most important thing that i wanna share, please dont judge some one else by cover or by their background. Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi kedepannya. Termasuk saya ini yang jauh dari sempurna ceileh haha 😀

Terima kasih Pak Wid sudah menyempatkan waktu dan berbagi cerita denganku.

“Tak ada yang mau menjadi Odha, tapi pasti semua ada berkahnya.

Dan saya memutuskan untuk BAHAGIA – Pak Widodo”

Cheers!!

Berkunjung ke Rumah Aira Semarang

Hampir sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 Juni 2016 aku dan Si Ay datang ke sebuah acara di salah satu Mall di Semarang. Sebenernya tujuan awal kami berdua untuk bertemu temen lama Si Ay yang bernama Mas Slam Riyadi untuk ngobrol-ngobrol karena udah lama nggak ketemu. Nah kami janjian setelah adzan magrib, tapi kami dateng telat karena  memutuskan untuk buka puasa dulu di food court terdekat.

Singkat cerita, kami langsung menuju tempat janjian. Ternyata tempat janjian kami ada di sebuah venue acara yang bertema “Peluncuran Gelang Rumah Untuk Aira”. Acara tersebut diisi beberapa perform dan datangi oleh beberapa komunitas. Ada pementasan tarian belly dance, ada juga tarian anak-anak, terus ada juga perform dari mahasiswa, dan yang paling heboh juga ada perfom akustik dari komunitas Iwan Fals Semarang, hihihi.

Nah… sebenernya aku juga masih bingung tentang acara tersebut dan apa maksud diselenggarakan acara tersebut. Rumah Aira itu apa? Siapakah Si Aira? Dan banyak pertanyaan lain yang muncul di otakku. Untung  Mas Slam menjelaskan dengan sangat rinci tentang kegiatan tersebut.

Jadi, sebenernya kegiatan tersebut adalah sebuah acara Peluncuran Gelang Donasi untuk pembangunan Rumah Aira, sebuah rumah singgah dan panti asuhan untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Penggagas Rumah Aira adalah Ibu Magdalena, seorang perawat salah satu rumah sakit swasta di Semarang. Aku sempat ngobrol langsung dengan beliau sambil tanya-tanya tentang kegiatan Rumah Aira, tapi sayang aku tak sempat foto berdua dengan beliau. Oh ya, hasil penjualan gelang yang hanya seharga Rp. 20.000 semuanya didonasikan untuk pembangunan Rumah Aira.

Setauku, baru kali ini di Semarang ada sebuah Rumah Singgah atau Panti Asuhan Khusus untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan menurutku Bu Magdalena adalah salah satu  pribadi yang  berani untuk melawan stigma HIV/AIDS di Semarang dan bersyukur banyak yang mensupport. Hal tersebut menandakan kesadaran masyarakat untuk melawan stigma terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS) sudah mulai menurun tak seperti 7 tahun lalu ketika aku ikut kegiatan PMR dalam melakukan kampanye Hari Aids Sedunia dengan membagi-bagikan bunga kertas.

Selain itu, sebenernya ini sebuah kesempatan besar untuk para mahasiswa psikologi yang ingin bener-bener belajar bagaimana mendapingin Odha yang memiliki anak-anak yang juga terinfeksi. Semoga mereka bukan hanya sebagai “objek” penelitian semata, tapi juga sebagai “subyek” yang wajib didampingi secara psikologis.

Bagi temen-temen yang ingin mendukung gerakan Rumah Aira, temen-temen bisa langsung menghubungi Ibu Magdalena (085865758710, 085764977354) atau bisa langsung ke alamat Jl. Kaba Timur No. 14, Kel. Tandang, Tembalang, Semarang.

Cheers!

SEHAT itu (nggak) MAHAL

 

Yey!! Ini adalah minggu terakhir aku praktek di Rumah Sakit. Seneng rasanya masa praktek akhirnya sudah usai. Banyak pengalaman yang telah aku dapatkan selama praktek khususnya di RS. Ada suka dan pastinya ada duka. Let me share yaa..

SUKA

  1. Sukanya dalam masa praktek ini adalah aku menjadi tau keadaan lapangan yang sebenernya, khususnya kondisi Rumah Sakit dan layanan jasa Psikolog itu sendiri. Sebelum aku praktek S2, aku juga pernah punya pengalaman ambil data untuk skripsi di rumah sakit. Sebagian besar rumah sakit di Semarang memang belum menyediakan layanan psikolog secara khusus bagi pasien, kalo pun ada itu pasti rumah sakit besar atau yang high end. Jadi biasanya untuk layanan psikolog, pihak rumah sakit akan memanggil secara khusus dan hanya pada kasus tertentu. Jadi memang di Semarang sendiri, menurut aku jasa psikolog di rumah sakit masih belum dianggap sebagai layanan primer, jadi hanya layanan sekunder saja gak seperti di Jogja yang di tingkat Puskesmas aja udah ada layanan psikolognya.
  2. Aku juga menjadi tau secara real bahwa kondisi kesehatan orang itu sangat dipengaruhi oleh psikologisnya, kedua hal itu sangat amat mempengaruhi satu sama lain. Proses kesembuhan klien memang sangat dipengaruhi dari kestabilan kondisi psikologis.
  3. Mendampingi orang sakit itu memang perlu siap dalam keadaan apapun. Jadi suatu ketika aku pernah menjenguk seorang nenek-nenek yang sudah tua renta dan mengeluh kesakitan. Di tengah keluhannya tersebut ternyata si nenek pengen banget turun dari bed dan pipis di kamar mandi. Untung aja waktu itu aku sama Suster Stella, jadi dengan sigap Suster langsung membantu si nenek turun dari kasur dan menitahnya ke kamar mandi. Sedangkan aku, membantu membawakan infusnya biar gak lepas hehe..

DUKA

  1. Buat aku pribadi, membidik kasus secara spesifik di rumah sakit itu butuh usaha yang ekstra. Selain gak semua pasien memiliki permasalahan psikologis yang berat, ternyata waktu perawatan yang relatif singkat kadang bikin gigit jari sendiri, hehe. Jadi beberapa calon klienku sudah pulang pada hari kedua, padahal di hari pertama aku baru pendekatan dan memetakan permasalahan psikologisnya serta rancangan terapinya apa. Begitu besok mau di eksekusi eh ternyata bed sudah kosong atau diganti oleh orang lain. Aiiih matiiiik. Mulailah semua dari awal dan gerilya lagi.
  2. Bagi yang gak kuat liat darah, praktek di rumah sakit itu menjadi tantang tersendiri. Aku pribadi berani liat darah, tapi gak berani liat luka basah. Jadi ada pengalaman ketika aku sendang mendampingi pasien yang akan diamputasi karena penyakit diabetes. Sebelum di operasi, dokter dan perawat membuka perban dan membersihkan luka si pasien. Aduhh aku gak kuat liatnya.. bukan jijik tapi ngeriiiiii…. Dari pengalaman itu aku juga belajar untuk menjadi netral, jadi walau ngeri tetep aku tahan dan bersikap biasa aja tanpa bereaksi menutup mata ataupun bergidik ngeri.
  3. Praktek di rumah sakit itu sangat menguras energi psikis. Bagi aku pribadi, praktek yang terakhir ini menguras energi lebih banyak daripada praktek – praktek sebelumnya. Melihat kondisi pasien yang lemah, lesu, dan merintih kesakitan itu secara tidak langsung menyedot energi lebih banyak. Terkadang ketika pendampingan, aku menjadi larut pada apa yang dirasakan pasien. Sebenernya, bagi psikolog yang jam terbangnya udah tinggi kondisi demikian bisa sangat dihindari, seperti perumpamaan “boleh larut, tapi jangan hanyut”.

Dibalik suka duka yang aku alami selama praktek di Rumah Sakit, ada satu pelajaran yang sangat penting yang aku ambil. Bahwa kesehatan itu memang sangat amat berharga. Salah satu cara agar membuat kesehatan tidak terlalu mahal ya dengan cara menjaganya. Walau usia baru 24 tahun, dengan pengalaman mendampingi pasien diabetes, pasien tipes, dll aku menjadi mulai menjaga pola makan, i think i don’t need seblak anymore haha. Selain itu mengkonsumsi obat secara sembarang juga bikin petaka di kemudian hari. Aku saranin buat temen-temen jangan terlalu sering mengkonsumsi obat warung, seperti panad*l, param*k, konid*n, dll. Obat-obat kaya gitu memang murah dan memberikan efek yang cepet, tapi efek jangka panjangnya bikin sengsara.

“If I Die Tomorrow…”

Hampir tiga minggu aku dan suster praktek di sebuah rumah sakit. Hiruk pikuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa untuk kami, rengekan anak-anak, hilir mudik para koas yang membuntuti seorang dokter, perawat yang selalu sibuk memeriksa pasien dan tak jarang kami juga sering mendengar derit suara gelindingan beberapa pasang roda membawa oksigen maupun membawa alat medis lain.

Hari Selasa itu semua terasa biasa saja. Mengawali hari aku dan suster berpencar untuk menjenguk pasien dampingan masing-masing. Pasienku yang kemarin merintih pusing karena vertigo kini sudah mulai membaik dan sudah banyak bercerita denganku, sedangkan pasien suster seorang ibu lanjut usia yang terserang stroke kini wajahnya sudah bisa tersenyum dan tak semuram kemarin. Hari itu aku merasa semua berjalan biasa saja, sehingga aku memutuskan untuk duduk bersandar di ruang transit perawat sambil membenahi beberapa laporan.

Baru saja 10 menit aku membuka laptop, terdengar salah satu perawat magang berlari sambil berteriak “Oksigen, Mbak!”

Sontak semua perawat langsung berdiri dan bergegas menuju sumber suara. Saat itu aku masih belum terlalu ngeh apa yang sedang terjadi. Aku masih fokus dengan laptopku dan sesekali membuka handphone. Keadaan diluar semakin gaduh dan aku pun merasa ada yang tidak beres.

Aku langsung keluar ruang transit perawat bersama suster untuk mencari tahu kamar nomor berapa yang sedang dalam keadaan “darurat”. Aku melihat beberapa penjenguk pun ikut berdiri melihat ke arah yang sama dan itu adalah kamar nomor 16.

Aku kaget, karena itu adalah kamar seorang wanita muda yang kemarin baru saja aku jenguk. Kemarin ia tampak sangat lesu dan beberapa kali merengek kesakitan. Ia di temani dua orang temannya yang dengan sabar memijat kedua kakinya. Aku pribadi tak tahu apa jelas sakitnya, aku hanya memegang kakinya yang terasa dingin dan basah karena keringat. Aku tak berani mengajaknya ngobrol lebih lama karena melihat kondisinya yang lemah.

Semua pertolongan darurat sudah dilakukan oleh perawat. Namun sayang, nyawanya tidak bisa tertolong. Saking tak percayanya aku mengkroscek dengan beberapa perawat magang yang ikut menangani pasien tersebut sebelum meninggal. Sungguh semua berjalan mendadak dan tak terduga. Wanita muda 18 tahun itu kini sudah terbujur lemas tanpa nafas.

Kejadian yang serba mendadak tersebut membuatku kembali merefleksi diri. Usiaku kini sudah 24 tahun, namun masih banyak hal yang belum aku perbaiki dalam diriku, pencapaian dan pengabdianku pun masih sangat minim. Padahal, berpikir kematian tak selalu buruk, seperti yang mendiang Steve Jobs lakukan untuk bisa terus berkarya dengan pemikiran “If I Die Tomorrow”.

Waktu itu misteri, apalagi nyawa yang bisa diambil kapan saja oleh Tuhan.

Selamat jalan, hey wanita muda. Semoga jalanmu diberi kemudahan di Bulan Penuh Berkah ini.

Yori Si Mahasiwi Kupu-Kupu

Jujur aja, awalnya aku hanya coba-coba ketika memilih jurusan psikologi untuk kuliah. Dulu aku inget banget, gimana ortu menyuruhku untuk kuliah di fakultas kedokteran bila aku gagal masuk sebuah akademi militer. Entahlah kenapa hingga saat ini kebanyakan orangtua berfikir kalo anaknya menjadi dokter akan membahagiakan mereka dunia dan akhirat haha. Padahal, belum tentu. Ya emang bener sih kebanyakan dokter di Indonesia itu orang yang kaya raya dan punya posisi terhormat di masyarakat, tapi seorang anak yang masuk fakultas kedokteran karena ambisi orangtua hanya akan menjadi bencana di kemudian hari.

Oh ya, demi bisa masuk fakultas kedokteran, aku sampe tiga kali ikut tes masuk di universitas swasta, dan semuanya gagal haha. Gak sampe disitu, ortu juga meyuruhku ikut tes masuk universitas negeri dan gagal karena mamah hanya menulis Rp. 0-, di kolom iuran pembangunan dan karna akunya juga gak niat ngerjain tes hahaha. Sebenernya bolak balik ikut tes kedokteran itu hanya formalitas bagiku, yang penting toh sudah mengikuti permintaan orangtua. Padahal sebenernya dari aku pribadi gak punya keinginan sama sekali menjadi dokter. Selain itu, aku juga sudah punya cadangan di fakultas psikologi yang masuk tanpa jalur tes.

Ketika mengisi form pendaftaran universitas swasta, aku hanya berpikir bahwa psikologi itu cukup menarik untuk pilihan pertama, sedangkan pilihan kedua adalah teknologi informasi. Kenapa milih psikologi untuk pilihan satu, soalnya dari SD aku sudah suka membaca buku-buku yang berhubungan dengan psikologi, salah satunya seperti buku chicken shoup for children. Sedangkan teknologi informasi di pilihan kedua karena si gebetan waktu itu kuliah di IT haha.

Awalnya emang buta banget setelah lulus mau kerja dimana. Pada zamanku dulu beberapa orang masih belum familiar dengan psikologi. Yang tau lulusan psikologi Cuma bisa jadi tuka tes orang masuk kerja aja. Sungguh pikiran yang sempit. Dari anggapan kaya gitu aku mulai mencari tau sebenernya dunia psikologi itu seluas apa dan sebermanfaat apa untuk orang lain.

Selama kuliah S1, aku memang terkenal dengan mahasiswi kupu-kupu (kuliah-pulang) dan tak aktif di organisasi. Yang ada dikiranku kala itu ikut organisasi kampus itu ribet, apalagi kalo udah liat temen-temen yang kerjaanya rapat mulu hahaha. Ya sorry-sorry kata ya, menurutku itu wasting time. Jadi gak heran kalo di kampus aku haya punya beberapa temen dan tidak terlalu dikenal banyak dosen. It’s no problemo 😀

Nah karena aku gak aktif di kampus, jadinya aku mencari hal-hal yang bisa aku pelajari di luar kampus. Seperti di sementer-semester awal aku pernah gabung komunitas peduli anak jalanan sebagai pengajar, terus di liburan panjang semester aku memberanikan diri untuk magang di sebuah sekolah pendidikan anak berkebutuhan khusus, kerja jadi freelancer sebagai tester di biro psikologi, kerja di sebuah “lembaga pengembangan diri”, selain itu aku juga sudah aktif ikut-ikut seminar pengembangan diri. Semua itu aku lakukan selama aku kuliah.

Sebenernya, diakhir-akhir masa kuliah aku sudah mulai minat dalam hal seksologi dan psikologi kesehatan, namun karena belum dapet kesempatan belajar lebih di bidang itu jadi aku mencari bidang lain dulu yang bisa aku masuki.

Dari beberapa kali menjadi loncat sana lonsat sini, aku mulai bisa mengerti tentang dunia psikologi secara lapangan dan punya wawasan relatif lebih luas dibanding temen-temen yang lain. Dari pengalaman itu juga aku mulai tahu dibidang psikologi apa yang aku senangi, karena bidang psikologi itu banyak ada psikologi organisasi, psikologi klinis, psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, dll. Hingga akhirnya aku memilih untuk menekuni bidang psikologi klinis dewasa, karena aku merasa dunia klinis itu sangat dinamis dan penuh dengan misteri, hahaha.

Jadi sekarang aku bangga bila disebut sebagai mahasiswi kupu-kupu. Bukan soal siklus kuliah-pulang yang aku lakukan, tapi filosofi kupu-kupu yang melekat dalam diriku. Siklus hidup kupu-kupu yang mengalami “suatu proses panjang” untuk menjadi suatu bentuk yang indah.

 

Tugas Pelayanan Itu Yang Utama

Tak terasa ternyata udah hampir satu minggu aku pindah praktek dari RSJ ke RSU. Seneng rasanya karena ini pertanda masa praktek sudah mau habis, hehe. Tapi, dibalik rasa seneng itu terselip rasa gundah yang cukup mengganjal hati. Kegundahan itu adalah aku harus lebih teliti lagi untuk mencari kasus yang lebih spesifik lagi. Huwaaaa…..

By the way, di tahap terakhir praktek ini aku beruntung banget karena disandingkan dengan Suster Stella. Oh ya, suster yang aku maksud bukan perawat lho tapi suter seorang biarawati. Suster Stella itu beda dengan suster lain yang terkesan (maaf) galak dan agak cerewet hehehe. Suster Stella itu orangnya gaul dan bisa ngeblend banget sama anak-anak muda yang umurnya jauh dibawahnya. Selain itu, Suster yang pembawaanya sangat hangat sering kali bisa merubah suasana tegang menjadi lebih tenang.

Selain Suster tipikal orang yang unik, menurutku suster juga mempermudahku dalam menjalani praktek di RSU. Secara tidak langsung dengan bahasa tubuhnya, Suster mengajarkanku dalam mendekati pasien mengutamakan pelayanan daripada untuk tugas. Maksudnya, sisi empati yang ditunjukan ketika menganggap apa yang dilakukan adalah sebagai tugas pelayanan akan berbeda bila hanya sebagai untuk sebatas untuk memenuhi tugas praktek.

Dari “mindset pelayanan” tersebut, ternyata memberikan efek memudahkan pada pengerjaan tugas praktek. Aku yang awalnya kikuk ketika ingin mengetuk pintu kamar pasien, kini aku mulai bisa santai dan lebih tenang, karena aku menganggap bahwa aku sedang “memberikan” pelayanan pendampingan bukan untuk “mendapatkan” bahan tugas laporan. Cara pendekatan dengan pasien pun juga akan lebih halus dan lebih mengalir, sehingga pasien akan cenderung lebih nyaman ketika diajak ngobrol.

Tantangan yang aku hadapi saat praktek RSU juga terkait pada pemilihan kasus yang lebih spesifik. Sebagai calon psikolog, aku membutuhkan keterampilan untuk lebih jeli membidik permasalahan psikologis yang menimbulkan permasalahan fisik. Pasien RSU memang banyak, tapi yang memenuhi kriteria sangatlah sedikit. Jadi begitulah, butuh kesabaran dalam mencari kasus.

Terkadang, aku menjadi lebih sering mengobrol dengan keluarga pasien yang kasusnya tidak masuk kriteriaku. Maksudnya, walaupun si pasien tidak masuk list pencarianku tapi aku tetap memberikan pelayanan pada pasien dan keluarganya. Karena dalam pendampingan pasien itu sebenernya tidak memandang kriteria kasus, yang penting adalah terlihat bahwa si pasien dan keluarga memang sedang membutuhkan pendampingan secara psikologis.

Selain itu praktek S2 dibarengi sama praktek S1 yang bikin usaha untuk tetap tegar lebih kuat lagi wkwkwkw. Karena terjadilah perebutan pasien antara senior dan yunior. Hal yang bikin rada kesel adalah ketika aku sedang proses menjalani rapport dengan pasien, eh tiba-tiba pada nylonong masuk dan merusak suasana yang udah aku bangun sedemikian rupa. Ampun dijeeeee!!

Dari semua kejadian itu, memberikan pesan moral bahwa menjadi seorang psikolog ketika sudah terjun itu perlu fleksibilitas yang tinggi. Apapun tantangannya, psikolog itu gak akan kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang timbul. Karna aku yakin, pasti suatu saat nanti ketika aku sudah menjadi psikolog tantangan yang muncul akan lebih daripada ini. Jadi butuh latihan mental mulai saat ini, wkwkwkw.

Dari Suster Stella aku juga belajar bahwa segala sesuatunya perlu dikerjakan dengan hati. Pinter aja gak cukup bila hatimu kering dan tak ada mata air yang bisa menyejukan hati orang lain.

Ecieeeee sadis! 😀

Waktu adalah Persepsi

Banyak orang bilang kalo waktu itu berjalan sangat cepat. Gak kerasa tiba-tiba udah malem aja. Biasanya, kecepatan waktu akan bertambah dua kali lipat ketika musim liburan dateng, apalagi long weekend kek ginian.

Ngomong-ngomong soal waktu, ternyata ada kalanya waktu terasa sangat lambat. Lambatnya waktu terasa bahkan sampai perdetiknya. Waktu akan terasa sangat lambat ketika kita sedang dalam peristiwa yang tidak diinginkan, misal nih ketika sidang skripsi, nungguin jemputan pacar, atau bisa juga nungguin bis kosong yang lewat ketika jam padat. Namun ada satu peristiwa lagi yang membuat waktu terasa sangat amat lambat. Yaitu ketika berada di panti Jompo.

Seumur-umur, aku baru dua kali berkunjung ke panti Jompo. Yang pertama di akhir tahun 2013, saat itu adalah kunjungan ke sebuah Panti Jompo yang berada di Jogja. Kemudian yang kedua kali adalah saat aku kerja praktek di Panti Jompo daerah Semarang. Sebenernya semua panti jompo sama yaitu sebuah panti yang ditinggali para lansia. Namun, setiap panti selalu memiliki karakteristik yang berbeda. Mulai dari sisi pelayanan, daya tampung, fasilitas, lokasi, dll.

Panti jompo yang pertama kali aku kunjungi adalah panti jompo yang di kelola oleh pemerintah daerah. Lokasinya cukup terpencil dan akses jalannya pun sebagian masih kerikil. Walaupun untuk mengaksesnya butuh perjuangan, namun ketika sudah sampai di lokasi pemandangan dan hawa sejuk sebuah desa masih menyambutku. Sejuuk lah pokokmen. Tapi, dibalik kesejukan alam itu ada hal yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi. Ternyata daya tampung panti Jompo tersebut sudah melebihi batas, sehingga dalam satu pondokan terasa cukup sesak. Banyaknya penghuni panti tidak sebanding dengan petugas. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana kerepotan dan kurang terpenuhinya pelayanan secara maksimal. Untuk kunjungan awal ini terasa singkat, karena memang diberi kesempatan hanya 3 jam saja.

Namun pengalaman kedua ini terasa sangat amat berbeda, yaa ketika praktek di sebuah Panti Jompo yang berada di tengah kota.

Sepintas, bangunan panti ini terkesan masih oldschool.. Kesan kunonya masih sangat terasa, walau sudah dicat dengan warna yang cerah. Berbeda dengan panti sebelumnya, panti ini dikelola oleh pihak swasta. Semua terlihat sangat terurus dengan rapi. Ada tamannya, ada air terjun mininya, fasilitas keamanan 24 jam serta beberapa perawat yang sesekali bersliweran dengan seragam batiknya. Tipikal penghuninya juga berbeda. Di panti yang pertama, sebagian besar penghuninya beretnis Jawa, sedangkan pada panti yang kedua sebagian besar beretnis Tionghoa.

Pada kesempatan kerja praktek ini lah persepsiku terhadap waktu berubah. Di hari-hari awal, semua masih terasa biasa saja, seperti keseharianku di kampus. Melihat derap kaki yang cepat dan gerak tubuh yang enerjik sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun berbeda ketika memasuki hari ketiga hingga hari ketiga puluh. Waktu terasa sangat amat lambat.

Perubahan persepsi terhadap waktu ternyata sangat dipengaruhi dimana aku berada. Setiap harinya aku melihat wajah sendu para lansia, derap langkah yang sangat perlahan daan penuh dengan kehati-hatian, serta aktivitas yang sangat amat minim.

Terkesan memang sangat membosankan. Namun disini aku menemukan keheningan di tengah pikuknya keramaian kota. Bagiku, panti jompo bisa menjadi tempat untuk sedikit memperlambat laju pikiranku dan mempertajam lagi “kesadaranku”. Dengan merasa waktu menjadi lambat, aku mulai bisa belajar bagaimana rasanya menikmati langkah kakiku. Kesadaran dimana aku berada, sedang apa aku, dan siapakah aku, mulai terungkap ketika  menikmati lambatnya waktu di panti jompo itu.

Aku menyadari bahwa waktu adalah persoalan persepsi. Seringkali aku merasa dikejar oleh waktu, padahal kenyataannya waktu tak pernah mengejarku. Rasa dikejar sesuatu timbul dari berisiknya pikiranku. Tak membuat pekerjaanku terselesaikan, malah sebaliknya makin berantakan.

Ada pepatah bilang,

“Terkadang, kita perlu berhenti sejenak bahkan mundur beberapa langkah untuk mempersiapkan lompatan yang lebih tinggi.” – nn

 

Bakso Kepala Bayi

Jogjakarta, 29 Mei 2016

Perjalanan ke Jogja kali ini sudah di persiapkan dengan baik. Udah dari hari Selasa aku menghubungi pihak rehabilitasi untuk meminta izin berkunjung kedua kalinya untuk pengambilan data. Sebenernya kunjungan kali ini ada misi pendekatan dan orientasi wilayah setempat, jadi preparenya lebih mateng. Secara planing, aku and the gank bertolak dari Semarang jam 6 pagi, terus balik lagi ke semarang maksimal jam 3 sore.

Rencana sudah matang, tapi eksekusinya rada molor karna aku kesiangan, hahaha. Jadi mulai berangkat jam 6.30. Perjalanan berangkat berjalan sangat lancar. Ya normalnya perjalanan Semarang-Jogja yangbdi tempuh hampir 3 jam. Kami dari Semarang m3mang merencanakan untuk tidak sarapan, soalnya kami mau makan soto batok yang lokasinya dekat dengan tujuan.

Selesai makan dan istirahat, kami lanjut ke panti rehab. Dengan wajah gembira aku turun dari mobil menuju pos untuk menulis buku tamu.

“ada keperluan apa mbak?” tanya pak satpam.

“mau ketemu pak E, sudah janjian,” jawabku semangat.

“pak E lagi pergi tu mbak, katanya mau ke bandara. Coba dihubungi dulu.”

Tanpa pikir panjang aku langsung menghubunginya. Di dalam pembicaraan yang siangkat itu terbersit bahwa beliau sebentar lagi akan sampai. Aku langsung saja meminta izin untuk menunggu di dalam. Dengan nada yang khas dia langsung meng iyakan.

Aku menunggunya mulai dari jam 11 siang. Waktu terus berjalan mendekati pukul 12. Pikirku, mungkin ia akan datang setelah makan siang. Tapi, perkiraanku meleset sampai pukul jam 14.00 ia tak kunjung datang. Aku mulai menelponnya lagi untuk menanyakan keberadaanya. Saat kutelpon, kali ini yang mengangkat seorang wanita yang ku kenal dengan nama Sis Lel. Ia mengatakan padaku bahwa Pak E sedang di perjalanan.

Okey, dengan masih penuh harap aku tetap menunggunya. Tapi waktu terus berlalu, aku mulai gelisah karena target kami pulang tak akan lebih dari pukul 15.00 wib. Perjalanan Jogja-Semarang di waktu weekend seringkali tak bisa diprediksi. Bisa jadi lebih cepat atau malah sebaliknya lebih lama hingga beberapa jam. Atas dasar asumsi itu, dengan berat hati kami memutuskan untuk pulang.

Yaa,,, kecewa karena plan yang disusun sangat jauh dari target. Tapi ya udah lah ya, prinsipku tetep teguh kalo gak ada hal yang sia-sia. Jadi aku and the gank langsung pulang sekalian cari makan. Awalnya kami mau cari makan yang sejalan dengan arah pulann. Tapi rencana itu berubah seketika aku inget kalo di Jogja ada sebuah warung bakso yang gak biasa. Jadi pernah dapet review kalo ada bakso dengan ukuran raksasa.

Kami langsung cari alamatnya dengan bantuan google map, ternyata lokasinya gak terlalu jauh darintempat semula. Langsung kami tancap gas. Wuuuuuzzzzz!!!!

Sesampainya di warung bakso klenger, langit mulai meneteskan hujan dan gak beberapa lama langsu ujan deressss banget.

Oh ya, di warung bakso klenger kami dapet meja yang sangat dekat dengan gerobak, jadi kami bisa langsung kepo ukuran baksonya. Dan uwoooow!! Gede buanget booo.

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 2 KG

Bakso Klenger 2 KG

Buku Menu - Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Buku Menu – Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Ada beberapa ukuran bakso, ada yang normal sampe ada yang ukuran 5 kg ya sebesar bola basket lah kira-kira, haha. Karena kita ngukur kantong dan ngukur perut akhirnya kami memilih bakso dengan ukuran 1 kg. Kira-kira seukuran kepala bayi, hihi.

setelah bakso datang, seketika rasa kecewa hilang. Kami semua fokus ke baksoo yang gedenya ampun-ampun. Setelah foto dari berbagai sudut, langsung kami lahap. Wkwkw

Pesan moralnya:

  1. sebelum ketemu orang penting banget untuk crosscek lagi. kadang janjian dalam sparetime waktu yang lama bisa bikin lupa.
  2. Apapun yang terjadi, ingatlah kalo gak ada hal yang sia-sia. Kita bisa merubah situsi menjadi yg kita inginkan. Lets say keyika aku batal ketemuan sama orang, toh aku bisa ttp seneng dengan bakso raksasa yang aku lahap.

cheers!! 😀