the lovers2

Movie Insight : THE LOVERS (2017)

“Cinta itu dijemput, bukan datang dengan sendirinya.”

Ini quote bikinan pribadi lho, bukan copas dari penulis lain hehe.

Pesan itu yang aku dapat setelah menonton film The Lovers. Aku bukan film addict yang bisa meriew dengan sangat detil tentang film tersebut, namun aku ingin menceritakan tentang refleksi yang aku dapat setelah menonton film tersebut.

Berkisah tentang suami istri (Michael dan Mary) paruh baya yang sudah mulai merasakan “kedinginan” dalam hubungan pernikahan. Setiap hari tidur saling berpunggungan, bicara seadanya saja, dan berperilaku seakan sudah bukan suami istri lagi. Kehampaan yang mereka berdua rasakan ternyata membuat satu sama lain memiliki kekasih gelap. Tanpa diketahui satu sama lain, mereka memutuskan untuk berpisah setelah kedatangan anak mereka.

the lovers1

Hubungan yang hampa itu berubah saat disuatu pagi Michael dan Mary bangun dengan saling berpelukan dan sambil mengecup bibir satu sama lain. Hari itu serasa ada keajaiban muncul. Ya! mereka seperti kembali jatuh cinta satu sama lain dan gairah-gairah yang terpendam lama muncul kembali.

Hari kedatangan anak mereka semakin dekat, dan selingkuhan mereka berdua pun semakin getol mendorong Michael dan Mary untuk segera membicarakan hubungan gelap mereka. Namun, disisi lain ternyata perasaan untuk saling berpisah semakin menurun. Ya karena mereka merasa ternyata mereka masih saling mencintai satu sama lain.

Joel, anak merekapun datang sambil membawa Erin kekasih yang sangat dicintainya. Puncak konflik pun terjadi. Joel mengetahui ternyata ayah dan ibunya menutupi bahwa orang tuanya masing-masing memiliki kekasih gelap.

Aku pribadi mengira bahwa Mary dan Michael tak akan berpisah karena menemukan lagi cinta yang telah lama hilang. Namun ternyata setelah kepergian Joel, keduanya mengemas barang dan pergi masing-masing ke rumah kekasih gelap mereka.

Ah.. sungguh disayangkan. Tapi, ternyata setelah mereka berpisah rasa cinta itu pun semakin besar sehingga membuat mereka diam-diam bertemu untuk menjalin cinta kembali.

Ya.. cukup semrawuts ya. Banyak pengamat film menyebut ini sebagai komedi romantis. Namun aku pribadi tidak melihat sisi komedinya sama sekali. Ya, film ini menggambarkan dua orang yang kurang mensyukuri nikmat yang ada, haha. Udah punya pasangan, selingkuh. Eh begitu dikasih pisah, mau balikan lagi. Wkwkwk..

Sebelum nulis ini aku kebetulan melihat sebuah acara tv yang membahas soal relationship. Si pembawa acara mengatakan “Ada penelitian yang mengatakan, 5 tahun pertama pernikahan adalah tahun yang berat. Penuh pertengkaran, percekcokan dan penuh konflik. Namun sebaliknya, setelah 25 tahun pernikahan justru pasangan tidak banyak konflik. Mereka tak banyak konflik karena saling diam satu sama lain, makanya tidak ada konflik. Untuk bisa mendapatkan kehidupan pernikahan yang harmonis tetap perlu menghadapi konflik. Karena suatu hubungan pasti akan ada konflik, tetapi setiap konflik yang ada tersebut dihadapi dan diselesaikan bukan dihindari dan akhirnya saling diam.”  Begitu kira-kira kata si pembawa acara.

Begitu pula dengan cinta, menurut aku pribadi cinta itu diciptakan bukan ditunggu hingga datang. Kejadian Mary dan Michael dipagi hari itu merupakan trigger, namun hasrat dan gairah bercinta mereka yang muncul kembali itu akibat dari keduanya menciptakan kembali cinta yang telah lama mati.

Jadi bila hubunganmu sudah mulai hambar dan membosankan, bisa jadi kamu kurang kreatif untuk menciptakan cinta-cinta yang baru.

Orang cinta itu tidak melihat kekurangan, namun kelebihan.

Inget ungkapan “tai kucing rasa coklat”? Ya begitulah kira-kira 😀

Buat aku film ini recomended, walau jalan ceritanya sedikit membosankan..

bondage, discipline, dominance, Submision, Sadism, Masokism

Apakah BDSM kelainan perilaku seksual?

Huaa.. akhirnya bisa ngeblog lagi setelah sekian lama hiatus ngurusin tesis wkwkw…

Beberapa akhir ini, kalian yang update soal dunia seksual pastinya tahukan ada dua hal yang lagi hits, yang pertama soal penutupan Surga Dunia Alexis dan yang kedua adalah soal penangkapan dua pelaku BDSM.

Nah soal penutupan Alexis, mungkin udah banyak banget ya yang bahas. Ada yang bilang itu penutupan karena hal politik dan ada pula alasan-alasan lain. Karena aku memang tidak tau lebih dalem (belum pernah masuk situ maksudnya) jadi aku gak akan membahas itu lebih banyak. Nanti dikira ikut-ikutan tren aja xixixi. Tapi pada postingan kali ini aku ingin membahas  soal kasus yang kedua yaitu tentang kasus BDSM.

Pastinya akan banyak yang bertanya, kenapa aku berani-beraninya membahas soal BDSM. Naaaah.. Pastinya aku akan membahas ini bukan asal-asalan aja. Selain aku akan mencantumkan beberapa hal dari referensi ilmiah, aku juga akan mencantumkan penjelasan yang bersumber dari hasil wawancaraku dengan beberapa orang yang sudah lama menjadi pelaku BDSM.

Sebelum aku lanjut lebih dalam membahas soal BDSM, pasti banyak yang bertanya sebenernya BDSM itu suatu bentuk kejahatan seperti tindakan sexual abuse atau bukan sih?

Awalnya, aku pun punya pertanyaa demikian. Aku menganggap bahwa orang-orang yang memiliki kecenderungan BDSM adalah orang-orang yang sering melakukan abuse. Bahkan aku juga pernah berpikir bahwa para pelaku BDSM itu tidak memiliki hubungan sosial yang baik karena cenderung melakukan kekerasan pada orang lain. Namun, seiring aku aku makin banyak membaca soal BDSM dan bahkan samapi mewawancarai lebih dari dua orang pelaku BDSM, sudut pandangku mulai berubah. Dan melihat BDSM dari sisi yang berbeda.

bdsm

 

Secara definitif, BDSM merupakan singkatan dari beberapa kepanjangan. BD = bondage & discipline (kekangan & kekangan) , DS = Dominance & Submision (dominasi & submisi), SM = Sadism & Masokism (menyakiti dan disakiti).

Terdapat perubahan yang cukup signifikan tentang BDSM menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM I & II menyatakan bahwa BDSM merupakan bentuk dari penyimpangan. Sementara, DSM IV dan V menjelaskan bahwa bahwa BDSM hanya tergolong sebagai gangguan psikologis jika menyebabkan tekanan pada diri sendiri dan orang lain. Sehingga BDSM tidak menjadi masalah bila tidak menyebabkan tekanan bagi diri sendiri dan orang lain. (Hasil penafsiran pribadi).

Banyak pakar perilaku terdahulu yang menyatakan bahwa BDSM perupakan salah satu parafilia atau penyimpangan. Beberapa pakar psikologi menghubungkan masokisme dan sadisme dalam BDSM dengan kondisi kejiwaan seperti kegelisahan/anxiety (Bond, 1981; Freud 1961; Socarides, 1974; Stolorow, 1975), dan depresi (Blum, 1988).

Dari hasil wawancaraku dengan dua orang pelaku BDSM, bahwa latar belakang mereka memang dapat dikatakan memiliki historis yang sangat traumatis. Kebetulan keduanya perempuan dan memiliki kecenderungan sebagai sub (submisif atau yang suka disakiti). Sebut saja kedua orang tersbeut ialah KE dan NF. KE dan NF memiliki latar belakang keluarga broken home. Sejak kecil KE mengalami kekerasan oleh ayahnya, sedangkan NF mengalami kekerasan seksual yang juga dilakukan oleh ayahnya. Keduanya cenderung memendam rasa sakit yang dialami. Baik KE dan NF pernah melakukan self harm yaitu menyilet-nyilet lengan sebagai cara pelepasan rasa sakit psikis mereka. Hal ini senada dengan yang dikatakan para pakar, bahwa perilaku BDSM berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Namun, hal ini tidak berlaku pada semua pelaku BDSM. Sebab ada juga pelaku BDSM yang diakibatkan oleh proses belajar dan bahkan ada juga yang menyebutkan sebagai perilaku bawaan (masih diteliti lebih lanjut).

Lebih lanjut lagi, KE dan NF awalnya merasa apa yang dilakukannya sangat aneh karena tidak seperti orang kebanyakan. Mereka berdua mulai banyak mencari-cari referensi, mulai dari artikel sampai dengan komik. Dari situlah mereka memahami bahwa kesukaannya merasa tersakiti salah satu bagian dari BDSM.

Salah satu prinsip yang diterapkan dalam BDSM ialah saling percaya dan mau sama mau. Sehingga, bila BDSM dilakukan tidak dengan keinginan satu sama lain bisa jadi itu masuk dengan perilaku sex abuse. Inget kasus Manohara? Nah.. itu salah satu contoh kasusnya.

Ya, yang penting dalam BDSM ialah ada kesediaan dari masing-masing pihak. Secara sederhana,  aktivitas BDSM cenderung seperti “adegan” atau “sesi” (scene) yang dilakukan pada waktu tertentu di mana kedua pihak menikmati skenario yang melibatkan salah satu pihak melepaskan kontrol atau otoritas.

Karena dilakukan atas dengan kesepakatan, sehingga scene dilakukan dengan suka rela, bukan dipaksa, dan melakukan hal-hal yang diminta. Semua pihak yang terlibat menikmati sesi tersebut, walaupun aktivitas berupa disakiti, dikekang, dll, pada situasi normal sangat tidak menyenangkan. Selain itu adanya faktor saling percaya sangat dibutuhkan karena bagi submisif menyerahkan kontrol pada pihak dominan yang memiliki kekuasaan. Tidak semua kontrol sub diserahkan pada dom. Dalam perjanjian sebelum scene biasanya sub akan menjelaskan apa fetish dan batas kemampuan menahan rasa sakit. Berbeda dengan slave, yang menyerahkan segala hak hidupnya pada master (nanti aku bahas di bagian ke dua ya xixi). Dan karena berbasis perjanjian dan kepercayaan, maka tidak semua scene berakhir dalam hubungan seks. Ya! terkadang ada sub yang meminta dom hanya melakukan bondage (mengikat dengan tali) begitupula ada dom yang hanya ingin merasakan sensasi mencambuk tanpa disertai dengan hubungan seks.

Mugkin ini dulu yang bisa aku bahas kali ini. Karena bahasan yang sangat banyak, jadi aku bagi menjadi dua postingan. Nah, pada bagian kedua nanti aku akan menjelaskan lebih lanjut tentang BDSM secara lebih dalam. Fetish apa saja yang ada, apakah sub bisa menjadi dom, dll. So see you on the next post 😉

penerangan

Tentang Tulisan dan Komentar

Hallo semuanya,, Apa kabar?

Kalian pastinya pada ngikutin berita beberapa hari terakhir ini tentang video yang menyebar dimana-mana, kan ya? Dan hampir semua media mengarah dan menyebutkan bahwa kejelasan siapa pelaku pria dalam video tersebut mengacu pada salah satu komentar di postinganku sebelumnya. Dari berita yang beredar tersebut membuat banyak orang seperti beranggapan bahwa pelaku pria dalam video tersebut ialah alumnus salah satu Universitas ternama.

Jadi begini guys, aku ingin menjelaskan secara lebih jelas lagi terkait hal tersebut. Banyak yang salah kaprah dalam menangkap apa tujuan aku meng-approve komentar tersebut. Dari awal tujuanku untuk posting ialah aku menekankan bahwa setiap video seks yang beredar yang banyak menjadi korbannya adalah pihak perempuan. Dan selain itu alasan kuat aku membuat tulisan ialah karena aku secara pribadi miris dan sedih kenapa banyak sekali orang yang tanpa pikir panjang langsung menyebar luaskan link-link video tersebut tanpa berempati pada pihak yang dirugikan.

Dan fokus statemenku pada komentar EJ dalam postingan ialah lebih pada kemungkinan yang besar si perempuan mengalami depresi akibat dari beredarnya video tersebut.  Dan mungkin karena komentarku terlalu general, jadi banyak pihak menganggap bahwa aku menyetujui apa yang diungkapkan oleh EJ seluruhnya, terlebih tentang siapa pelaku penyebaran dan pembuatan video tersebut.

Sayangnya, banyak media tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu tentang komentar tersebut padaku secara pribadi dan langsung comot begitu saja. Sehingga opini yang menyebar sudah terlanjur meluas menyudutkan satu pihak.

Dengan ini aku pribadi juga mau meminta maaf karena statemenku tentang komentar tersebut terlalu general sehingga banyak pihak langsung menyimpulkan bahwa aku menyetujui komentar tersebut seperti yang telah aku jelaskan di atas. Sehingga, agar tidak makin memperkeruh keadaan dan pemanfaatkan komentar tersebut lebih luas lagi maka dengan kesadaran diri, aku take down comment tersebut.

Aku juga berharap agar media yang sudah menuliskan berita dan mengkutip tulisan serta komentar dari blog celotehyori.com juga ikut meluruskan yang sebenarnya dengan menunggu pernyataan resmi dari pihak-pihak yang terlibat dan mari kita tunggu saja kepastian resmi dari pihak berwajib yang sedang menangani kasus ini.

Sekali lagi, pada pihak pihak yang kurang berkenan aku mohon maaf. Semoga ini semua menjadikan suatu pelajaran untuk kita lebih dewasa dalam menyebarkan informasi.

See ya! 🙂

 

Siapa Hana Anisa ?

Kaget rasanya, melihat sebuah postingan di salah satu forum tentang perburuan dollar yang postingannya nggak ada hubungannya sama sekali dengan judul forum.

Di postingan itu Cuma simple, “Sorry, OOT. Siapa yang udah punya videonya?” sambil menyertakan sebuah capturan akun instagram bernama “hana anisa” yang digembok.

Tak lama, mulai banyak komen bermunculan dalam beberapa detik. Ada yang menimpali dan ada juga yang membagikan link nya secara Cuma-Cuma.

“No link, Hoaks!”

“Bagi linknya gan!”

“Ajib, cewenya hot!”

“Jelek ah, gak seru! Gayanya begitu-begitu doank!”

“Bagi link yang 10 menit donk!”

Dan beberapa menyertakan capturan video sepasang pria dan wanita yang sedang bertindihan di ranjang dengan tanpa menggenakan busana.

Hmm.. dari coment yang saling bertautan, terlihat bahwa video sosok yang (katanya) bernama hana anisa sedang ramai diperbincangkan. Banyak orang bahkan yang minta link donload untuk video durasi 5 menit bahkan sampai 10 menit.

Siapa Hana Anisa?

Setelah videonya menyebar luas, pastinya banyak orang yang mulai mencari tahu siapa sebenarnya hana anisa. Sekolah dimana, kerja dimana, lulusan mana, rumahnya dimana, anak daerah mana, siapa orang tuanya, umurnya berapa, dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Semua akun instagram yang bernama hana anisa digembok semua. Entah itu buatan orang yang memanfaatkan momentum saja, atau memang itu benar-benar milik hana anisa yang asli. Namun dari pencarian google, ada twitter dengan nama yang sama dan foto yang serupa yang dalam kondisi tidak tergembok namun sudah ditinggalkan dari setahun yang lalu. (silahkan dikepoin sendiri).

Aku nggak akan membahas secara tajam tentang siapa hana anisa dan pria yang ada di video itu. Entah siapa yang memulai, video kini sudah tersebar luas dan masif. Dan sangat sulit untuk dihentikan kalo sudah begini.

Namun perlu disadari, ternyata hasrat untuk bugil di depan kamera ternyata masih cukup tinggi. Motivasinya bisa bermacam-macam, bisa hanya untuk iseng, untuk bahan evaluasi, kenang-kenangan, atau bahkan memang sengaja untuk disebarkan sebagai bahan jualan. Ya… hanya pembuat dan Tuhan yang tahu.

Tapi pastinya bila sudah tersebar secara masif seperti ini, maka akan sangat sulit untuk menghapus jejaknya. Dan siapa yang akan di rugikan? Ya, pastinya pihak perempuan.

Laki-laki nakal itu dianggap biasa dan bahkan lumrah. Sering terdengar ditelinga tentang celetukan, “Ya.. namanya juga laki-laki, kalo nggak nakal itu aneh.”

Edan! Nakal kok dianggap biasa. Dan bahkan anggapan itu sangat diterima di masyarakat. Maka tak heran bila video bokep seperti ini menyebar yang akan menjadi bintang ialah sosok perempuannya, laki-lakinya bak pemeran figuran saja yang tak penting diketahui siapa asal-usulnya. Karena sadar tidak sadar, masyarakat kita sendiri juga masih mengaggap perempuan hanya sebagai obyek seksual semata.

Jujur miris lihat coment-comentnya yang disertai gelak tawa senang seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan es krim.

Dan itulah juga yang menjadikan prostitusi akan tetap subur di Indonesia, ya laki-laki yang jajan itu dianggap biasa dan bahkan lumrah. Dan selain itu karena hanya perempuanlah yang punya label label perawan dan tidak perawan, bukan laki-laki.

 

nikahsirri

PERAWAN

Beberapa waktu terakhir ini jagad media cetak maupun elektronik sedang dihebohkan dengan lelang keperawanan di situs nikahsirricom. Banyak orang yang mengecam keberadaan situs tersebut sehingga kini situs itu tak bisa lagi di akses dan pemiliknya telah dipolisikan. Banyak berita beredar bahwa Aris, si pemilik situs kontroversial tersebut mengalami gangguan jiwa pasca gagal mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Entah benar atau tidak, aku tidak tahu. Tapi karena aku kepo dan ingin tahu apakah berita tersebut benar, maka langsunglah aku mencari berita-berita terkait di mbah google.

Aku menemukan salah satu situs portal berita online yang memberikan tautan ke situs Aris yang lain, yaitu partaiponsel.com . Tak menunggu waktu lama, aku menyegerakan untuk singgah di web yang mungkin kini trafic pengunjungnya sudah mencapai ratusan ribu per hari.

Baru membaca tulisan yang ada di home pagenya saja aku sudah mulai merasa aneh. Aku memang bukan ahli tata bahasa, tapi sebagai orang awam aku merasa banyak keanehan dari tulisan tersebut dilihat dari tata bahasa dan struktur katanya. Dan terlihat sangat jelas disitu ada obsesi berkuasa yang agak tidak masuk akal.Dalam website tersebut ternyata aku juga menemukan apa maksud dan tujuan Aris membuat situs nikahsirri. Menurutnya, nikahsirri merupakan salah satu program kerakyatan yang berada di Partai Ponsel miliknya.

“Nikahsirricom adalah pengejawantahan “konsep baru yang brutally honest” bahwa kelamin juga merupakan aset yang bisa dijadikan sebagai alat reproduksi untuk pemasukan dana bagi keluarga, yang sama halalnya dengan alat-alat produksi selama ini dikenal, seperti otak (bagi pekerja kerah putih) dan otot (bagi pekerja kerah biru).” Dikutip dari situs partai ponsel.

Setelah aku membaca kalimat tersebut pikiranku langsung melayang ke lokalisasi yang sering aku kunjungi. Para pelacur di lokalisasi juga menggunakan alat kelamin mereka sebagai alat untuk menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga mereka. Begitu pula dengan dalih menghalalkan perzinahan dengan nikah sirri juga sempat aku temukan di lokalisasi. Terdapat beberapa oknum kyai atau ustad yang menggunakan berbagai macam cara untuk menghalalkan proses transaksi seks yang mereka lakukan, yaitu dengan melakukan ijab sebelum berhubungan seks.

Kembali lagi ke soal Aris dengan nikahsirri-nya, walau kontroversial toh tetap saja banyak orang yang tertarik dan rela membayar token sebagai maharnya dan juga banyak mitra yang tertarik untuk bisa bekerja sama.

Pertanyaanya sekarang, apakah iya pola pikir kebanyakan orang masih menganggap wanita dari status keperawanannya saja dimana gadis perawan lebih mahal harganya dibandingkan yang sudah tidak lagi perawan? Lalu apa gunanya bagian lain seperti kemampuan otak, attitude, bakat dan segala potensi yang terkandung di tubuh seorang wanita?

Kalau begitu, beli saja boneka seks yang selalu perawan dan selaput vaginanya tidak akan pernah sobek walau sudah dihujam berkali-kali.

friends with benefit

Tanya Yori #2 : Pilih Onani atau Friends With Benefit Relation ?

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang pria yang mengirimkan message melalui aplikasi chat. Kurang lebih seperti judul yang aku tulis. Pertanyaannya memang belumaku jawab secara gamblang, karena chat tidak berlanjut setelah aku bertanya “Kronologisnya gimana ya?”

Nah, karena aku tidak tahu menahu gimana jalan ceritanya sampai pertanyaan itu muncul, maka aku nggak bisa bantu suggest apa-apa. Jadi lewat tulisan ini aku akan sedikit menjelaskan tentang apa itu Friends With Benefit Relationship atau yang sering disingkat FWB ini secara umum.

Apa itu Friends With Benefit?

Awalnya, jujur aku bingung ketikan ditanya tentang FWB itu apa. Tapi setelah tahu kepanjangannya, aku jadi ingat salah satu film yang diperankan oleh Justin Timberlake dan Mila Kunis dengan judul yang serupa dengan bahasan ini dan satu lagi judul film No Strings Attached yang cukup terkenal.

friends with benefit

Bagi yang belum pernah nonton filmnya atau familiar dengan relasi jenis ini pasti bingung kan ya.. Namanya temen itu saling menguntungkan dengan saling tolong menolong satu sama lain. Tapi yang dimaksud dengan FWB lebih sekedar saling tolong menolong, tapi sudah sampai pada relasi seksual.

“Friend with Benefits is two friends who have a sexual relationship without being emotionally involved” – urbandictionary

Jadi gampangnya, Friends With Benefits ialah keadaan dimana dua orang teman memutuskan untuk saling behubungan seksual tanpa adanya ikatan emosional atau dua orang yang melakukan hubungan seksual secara casual tanpa adanya komitmen untuk berada dalam suatu ikatan.

Cuma temenan, bukan pacaran, tapi begituan.

FWB ini bisa terjadi tidak hanya pada heteroseks saja, namun juga bisa pada homoseksual dan orientasi seks lainnya. Yang menjadi ciri dalam relasi ini ialah sama-sama bersedia menjalin hubungan tanpa adanya romantisme, tidak memiliki keterikatan pada komitmen hubungan layaknya hubungan pacaran serius (yakalii.. pacaran aja ada yang cuma main-main hihihi…) .

Latar belakang memilih untuk FWB – an

Tentunya dalam setiap tindakan dilandasi dengan tujuan, alasan or something else dong ya.. Nah menurut survey yang aku dapet dari mince (eh kok mince ya haha) maksudnya dari beberapa survey bahwa kebanyakan dari mereka yang menjalani relasi ini atas dasar untuk kesenangan belaka. Sehingga sebelum memutuskan untuk jalan, kedua belah pihak saling berjanji untuk  “no heart and hurt feeling”.

friends with benefit quote

Namun, disisi lain ada juga yang menyebutkan bahwa yang melandasi seseorang menempuh relasi ini ialah karena menjalani hubungan percintaan merupakan hal rumit dan penuh dengan drama. Sehingga mereka yang memilih untuk FWB-an (konon) tidak akan punya perasaan apa-apa saat temen FWB-annya FWB-an lagi sama orang lain yang FWB-an juga. Haha mumet!

Perbedaan FWB menurut laki-laki dan perempuan

Ternyata fenomena FWB ini sudah banyak yang meneliti, baik dari dalam dan luar negeri, salah satunya ialah penelitian yang dilakukan di Inggris dan dimuat dalam Journal Of Sex Research. Dalam penelitian itu menyebutkan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan dalam menjalani relasi seks ini ialah kebanyakan laki-laki menginginkan status tidak berubah hingga waktu yang lama bahkan seterusnya, sedangkan pada perempuan seiring waktu mereka mulai menunjukkan hasrat untuk merubah hubungan tanpa komitmen menjadi ke arah yang lebih serius ke dalam hubungan romantis.

Dari hasil penelitian tersebut kita dapat mengambil garis besarnya, salah satu pihak (kebanyakan perempuan) ingin merubah relasi ini menjadi cinta.  Karena menurut pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino.

Lho? Kenapa laki-laki bisa tegas tapi perempuan tidak?

Jangan judgemen dulu, pastinya hal itu ada penjelasannya.

Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan relasi seks yang dijalani. Tidak bisa dipungkiri bahwa  orgasme bisa memberikan kenyamanan secara batin, emosi dan psikologis. Dibalik itu semua terdapat kinerja hormon yang mempengaruhi kinerja emosi. Hormon yang itu salah satunya ialah hormon cinta atau dikenal dengan hormon oksitosin. Fungsi utama hormon oksitosin ini bertanggung jawab untuk menciptakan emotional bounding. Itulah kenapa saat saling menikmati hubungan seks, muncul rasa sayang dan bisa muncul rasa cinta. Yang tadinya cuma 1% bisa menjadi 89%. Hormon ini memang dominan pada wanita karena hormon kasih sayang ini juga muncul saat seorang wanita memberikan ASI pada anak yang  mencetus adanya ikatan emosi antara ibu dan bayi.

Maka tak heran, bila sudah terjadi beberapa kali relasi seks yang berujung pada orgasme, akan muncul rasa yang lebih dari teman. Apalagi setelah orgasme dilanjut dengan pillow talk, saling mengobrol untuk menceritakan kepenatan hari dan menceritakan tentang satu sama lain. Maka dari situlah drama dimulai. Mulai dengan memberi sedikit perhatian “udah makan belum”, “jangan pulang kantor larut malem ya…” dan tipe ungkapan perhatian lainnya.

Mungkin bagi pria ini adalah hal yang biasa dan tidak menyalahi perjanjian di awal. Namun gimana dengan wanita? Kenyamanan emosional seringkali mengalahkan logika. Karena sebagian besar wanita seringkali masih berpikir dengan hati.

Siapa pihak yang rugi?

Bisa ditebakkan siapa yang rugi? Yap! Mereka yang gampang baper. Aku nggak bilang kalo selamanya wanitalah yang rugi, karena saat ini juga banyak pria yang otaknya ada di hati.

Memang setiap hubungan selalu ada risikonya, namun dibalik itu semua jika dalam FWB terjadi kehamilan maka pihak perempuanlah yang banyak menanggung risiko. Risiko ditinggal, risiko tidak diakui, dan segala risiko lain yang melekat.

Begitupula dengan laki-laki, jika menjalani relasi FWB-an berarti menunjukkan pria yang tidak pantas untuk dicintai. Ada kutipan bagus yang aku comit dari internet,

“friends with benefits” in reality is telling you to your face that you’re good enough to f*ck, but not good enough to invest feelings in.

Loh?! Di luar negeri aja banyak yang jalanin hubungan tanpa status fine-fine aja tuh? Apa salahnya untuk dicoba?

Ya memang di luar negeri sana banyak yang menjalani hubungan tanpa adanya komitmen, bahkan tanpa secara legal hingga punya anak. Tapi, tunggu dulu.. ingatlah pola budaya, pola hidup kita orang timur jauh berbeda dengan mereka. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kesetaraan gender di luar negeri sudah lebih baik dari pada di negeri tercinta ini. Kebanyakan mereka menjalani FWB memiliki tanggung jawab yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Aku sempat bertanya dengan saudara yang udah lama tinggal di luar negeri, bahwa kebanyakan pasangan di sana memutuskan untuk tidak berkomitmen secara legal karena nikah punya beban pajak yang besar dan juga karena alasan menikah itu ribet. Dari sudut pandang mereka bahwa komitmen itu tidak hanya bicara soal legalitas, yang terpenting adalah tanggung jawab. Jadi daripada buang waktu dan energi, mereka memilih untuk living together.

 

 

Jadi pilih onani atau FWB-an ?

 

gunung kemukus - kompas

Tradisi Ritual Seks di Gunung Kemukus

Gunung Kemukus merupakan salah satu gunung yang cukup bahkan fenomenal di Indonesia. Hal yang membuat gunung ini menjadi fenomenal, bukan karena ketinggiannya yang menyaingi Gunung Everest ataupun Gunung Himalaya, bukan. Namun hal yang membuat gunung ini menjadi berbeda dengan yang lain ialah fenomena ritual seks yang ada di gunung tersebut. Ketenaran Gunung Kemukus semakin menanjak saat ada media asing yang membuat liputan khususnya di tahun 2014 lalu.

Sebagian besar masyarakat di Jawa mengenal Gunung yang terletak di Kab. Sragen ini sebagai gunung yang sering digunakan untuk ngalap berkah plus plus. Bagi orang Jawa yang mempercayai Kejawen, ngalap berkah sendiri diartikan kegiatan untuk mencari berkah dengan mengunjungi tempat-tempat keramat atau orang yang dianggap bisa memberikan keberkahan seperti makam wali, gua, pemandian, pohon, sendang (telaga) dan sebagainya. Di area Gunung Kemukus sendiri, terdapat sebuah makam yang dikeramtkan oleh masyarakat sekitar yaitu makam dari Pangeran Samudro, yaitu tokoh penyebar agama Islam yang masih memiliki keturunan Kerajaan Majapahit.

Pastinya banyak yang bertanya-tanya bagaimana bisa ada syarat ritual seks yang harus dilakukan di makam yang notabene sebagai penyebar agama yang kini dipeluk mayoritas penduduk di Indonesia. Hal tersebut sebenarnya tidak bisa terlepas dari kepercayaan masyarakat yang sudah turun temurun, yang sayangnya keliru.

Banyak orang percaya bahwa, dengan berdoa di Gunung Kemukus apapun permintaan akan dikabulkan. Kebanyakan orang yang ngalap berkah di Gunung Kemukus ialah orang-orang yang memiliki kepentingan terkait dengan kekuasaan, seperti ingin mendapatkan kenaikan pangkat, terpilih sebagai kepala daerah, dll. Maka tak heran saat menjelang pemilihan kepala derah, Gunung Kemukus ini menjadi lebih ramai dibandingkan dari hari-hari biasanya.  Hal ini dibuktikan dengan penelitian tentang Mitos dan Kekuasaan di Gunung Kemukus yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa Udayana Bali, bahwa banyak dari peziarah yang datang dengan motif kekuasaan.

Menurut info yang tersebar, orang yang ingin permintaanya dikabulkan maka wajib melakukan hubungan seks dengan yang bukan pasangannya sahnya selama tujuh kali berturut-turut pada malam Jum’at Pon. Bagi mereka yang datang sendirian, otomatis akan mencari partner ritual yang ada di lokasi. Sehingga tidak heran, bila di sekitar Gunung Kemukus terdapat banyak wanita atau pria yang menawarkan diri sebagai partner ritual seks dengan para oknum peziarah. Dan ada pula warung remang-remang yang menyediakan bilik-bilik asmara.

Ritual Seks di Gunung Kemukus - SBS News

Ritual Seks di Gunung Kemukus – SBS News

Ritual seks tersebut memang tidak bisa terlepas dari beberapa mitos yang beredar. Beberapa sumber mengatakan bahwa konon pada zaman dahulu ada seseorang yang bernama Pangeran Samudro yang jatuh cinta dengan ibu tirinya Nyai Ontrowulan. Mereka berdua berhubungan badan di puncak Gunung Kemukus dan tertangkap basah oleh Raja. Kemudian keduanya dibunuh lalu jasad dimakamkan di tempat yang sama. Banyak yang percaya, bahwa makam keduanya menjadi tempat suci dan dijadikan sebagai tempat untuk meminta kemakmuran hidup.

Selain mitos yang beredar tersebut, hubungan seks yang dijadikan sebagai syarat wajib tersebut juga muncul karena kesalahan tafsir yang selama ini diyakini oleh masyarakat. Konon sebelum meninggal dunia, Pangeran Samudro memberikan wejangan pada pengikutnya.

Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang-sliweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakno dhemene kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane.”  (sumber: Kadjawen, Yogyakarta: Oktober 1934)

Artinya : “Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki maka untuk mencapai tujuan harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan-kiri harus konsentrasi pada yang dikehendaki atau yang diinginkan, dekatkan keinginan seakan-akan mau menuju ke tempat kesayangannya atau kesenangannya.

Sayangnya, wejangan tersebut kemudian disalahartikan oleh oknum peziarah, terutama pada bagian dhemenane. Para oknum menafsirkan bahwa yang dimaksud degan dhemenane yaitu  seperti kekasih simpanan atau teman kumpul kebo dan wajib untuk melakukan hubungan seks. Padahal, bila ditelaah lebih dalam kata dhemenan dalam konteks Jawa merupakan keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang akan segera terwujud atau tercapai seperti ketika ingin menemui kekasih.

Sebenarnya, Pangeran Samudro adalah tokoh yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam. Pangeran keturunan Kerajaan Majapahit ini berkelana ke Demak bersama ibunya untuk memperdalam agama Islam dengan Sunan Kali Jaga. Kemudian, setelah beberapa lama mendalami agama Islam di Demak, Sunan Kali Jaga mengutusnya untuk lebih mendalami ajaran agama dengan Ki Ageng Gugur di lereng Gunung Lawu. Setelah selesai menimbah ilmu, dalam perjalanan pulang menuju Demak Pangeran Samudro jatuh sakit dan akhirnya meninggal saat sedang beristirahat di Dukuh Miri. Selama perjalanan dan saat singgah, Pangeran senantiasa selalu menyebarkan agama Islam hingga ajal menjemput. Mendengar kabar meninggalnya Pangeran, ibunya (Nyai Ontrowulan) segera menyusul ke Dukuh Miri. Karena kesedihannya, maka Ibunya ikut wafat dan minta untuk dimakamkan menjadi satu dengan putranya.

Andanya ritual-ritual yang dipercaya untuk mencapai tujuan tertentu sebenarnya tidak bisa terlepas dari kepercayaan yang telah diyakini secara turun temurun. Dalam ilmu psikologi segala sesuatu akan benar-benar terjadi ketika seseorang benar-benar meyakini dan mempercayai bahwa hal tersebut memang benar-benar terjadi. Bila ditelisik lebih dalam, menurut teori Sigmund Freud bahwa suatu informasi yang sangat diyakini dan diamini akan masuk ke dalam alam bawah sadar, baik itu yang bersumber dari persepsinya sendiri atau alam tidak sadarnya. Hal tersebut kemudian akan berubah menjadi beliefnya. Tentunya, belief seseorang akan semakin kuat tergantung dari tingkat sugestibilitas seseorang. Semakin sering informasi masuk ke alam bawah sadar, maka beliefnya akan semakin kuat. Terlebih jika informasi sugestif tersebut diberikan oleh sosok yang dianggap memiliki otoritas tinggi, seperti juru kunci, dukun dll. Tak hanya gen dan hereditas aja yang bisa diturunkan, keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap sesuatu juga sangat bisa diturunkan. Menurut Carl Jung (muridnya Freud) menjabarkan bahwa sebenarnya ketidaksadaran manusia itu memiliki dua lapisan, yang pertama ketidaksadaran individu yang dibentuk dari pengalaman pribadi, dan ketidaksadaran kolektif yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Ketidaksadaran kolektif ini tidak terbentuk dari pengalaman hidup, namun diwariskan dari nenek moyang secara alami, seperti sudah terinstal dalam pikiran saat seseorang baru lahir.

larangan ritual seks - BBC

larangan ritual seks – BBC

Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu Pemerintah Jateng sudah melarang dengan keras adanya praktek ritual ihik-ihik di Gunung Kemukus dan hanya memperbolehkan digunakan sebagai wisata religi semata. Namun sayangnya, larangan tersebut tidak berlangsung lama. Kabarnya praktek ritual seks kini muncul kembali seperti semula.

Sangat disayangkan sekali, karena ritual seks yang banyak dipercaya orang untuk mendapatkan kekayaan sebenarnya menimbulkan suatu permasalah yang cukup mengakar. Tidak hanya soal masalah moral dan budaya yang sudah tercemar, namun juga resiko kesehatan (HIV/AIDS) juga sudah mengancam.

 

wanita pekerja seks tidak mau ciuman

Tanya Yori #1: “Kenapa PSK Nggak Mau Diajak Ciuman?”

Rate: 21+

Dari sekian banyak pertanyaan yang masuk ke blog, inilah pertanyaan yang paling banyak ditanyakan. Entah mengapa, mungkin karena banyaknya para pria petualang cinta yang langsung ditolak mentah-mentah saat bibir udah siap buat nyosor, hehe. Atau bisa karena faktor X lain juga bisa sih.

Well akan aku jawab sesuai dengan data yang aku dapat.

Sepengetahuanku menyelami kehidupan para mbak-mbak penjaja cinta, jadi ada 3 tipe wanita pekerja seks yang aku dapatkan. Yaitu:

  1. Sukarela. Yang pertama ialah memang suka rela bekerja dengan penuh kesadaran menjadi pekerja seks. Misalnya perempuan yang berasal dari beberapa daerah pemasok wanita pekerja seks ke kota-kota besar. Karena sebagian besar tetangga dan sanak keluarga berprofesi sebagai pelacur, maka pekerjaan tersebut dijadikan sebagai satu-satunya profesi yang bisa mensejahterakan kehidupan dan tentunya mereka menikmati pekerjaan tersebut.
  2. Terjebak. Nah tipe yang kedua ini ialah para wanita yang awalnya terjebak karena suatu kondisi tertentu. Biasanya ini bukan karena keadaan ekonomi yang terdesak pada awalnya. Jadi banyak wanita pekerja seks yang awalnya dijebak atau dijual oleh seseorang. Seperti awalnya dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pelayan resto, namun setelah sampai di kota mereka ditinggalkan begitu saja di pusat karaoke atau lokalisasi. Karena alasan tidak tahu jalan, tidak membawa uang, tidak berani dan alasan lainnya mereka akhirnya memutuskan untuk menjalani apa yang ada dihadapannya. Jadi awalnya terjebak, namun karena mulai beradaptasi maka menjadi terbiasa dan memutuskan untuk lanjut bekerja sebagai wanita pekerja seks. Kebanyakan dari mereka sudah merasa tidak berdaya dan langsung menyerah dengan keadaan, terlebih didesak dengan keadaan ekonomi.
  3. Pilihan. Nah, tipe yang ketiga inilah yang banyak orang tidak tahu. Banyak cerita miris yang aku dapatkan dari para wanita yang akhirnya memutuskan menjadi pekerja seks. Walaupun banyak dari mereka yang terpaksa memilih karena murni himpitan ekonomi (biasanya janda yang ditinggal meninggal, punya banyak anak), namun ada juga yang diakibatkan oleh faktor lain. Salah satunya ialah faktor ekonomi yang ditunggangi oleh faktor sakit hati. Jadi aku pernah secara intim berbicara dengan salah satu wanita pekerja seks di SK. Dia mengungkapkan bahwa sebelumnya ia adalah penjaja kue keliling dari desa ke desa. Setiap pagi bangun jam 3 pagi untuk membuat adonan kue agar paginya bisa segera dijajakan. Karena suatu hal, ia dilecehkan oleh keluarganya hanya karena ia miskin. Sejak saat itu, ia bertekad melakukan segala upaya untuk menjadi kaya, dan mungkin gelap mata jadi dia terpaksa menjadikan pelacur sebagai jalan untuk bisa meraih kekayaan. Nah, ada lain cerita lagi yaitu dari korban perkosaan. Banyak wanita pekerja seks yang ada di SK adalah korban perkosaan. Mereka menganggap bahwa diri mereka sudah tidak lagi berharga dan memilih untuk menjual diri.

Nah setelah tahu beberapa pengklasifikasian wanita pekerja seks diatas, maka ini sangat berhubungan mengapa ada beberapa PSK yang tidak mau diajak ciuman. Dari hasil survey pribadi, maka tipe wanita pekerja seks yang cenderung enggan diajak berciuman atau melakukan sesuatu yang lebih intim ialah yang tipe ketiga. Mengapa? Karena kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan tersebut semata-mata untuk uang, bukan untuk senang-senang, sehingga tidak ingin ada kontak emosional yang terjalin. Ciuman, pelukan, belaian ialah salah satu bentuk dari love bounding. Saat seorang wanita pekerja seks luluh karena love bounding tersebut maka akan timbul benih-benih asmara yang banyak dimanfaatkan laki-laki hidung belang sebagai sarana untuk mencari seks gratisan. Banyak juga dari mereka yang benar-benar bekerja untuk menghidupi kebutuhan keluarganya di desa. Sehingga, mereka akan menutup celah serapat-rapatnya agar fokus bekerja tidak berubah menjadi fokus ke hedonisme dan yang-yangan.

Jika kita semua mau open mind, sebenarnya banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan wanita pekerja seks, terlebih soal urusan ranjang. Sekilas memang nggak nyambung sih, apa coba hubungannya sama PSK ciuman dengan kepuasan wanita di ranjang.

Banyak pria yang mempermasalahkan ukuran ukuran penis untuk memuaskan wanita, padahal bukan itu yang sebenarnya diinginkan wanita. Ukuran Mr.P itu hanya berpengaruh pada sugesti saja karena mungkin sering dengar kalo pria perkasa itu pria yang punya penis besar dan panjang.

“Masters and Johnson research: penis size having no physiological effect on female sexual satisfaction.”

Sebab secara fisik ukuran penis tidak menentukan fungsi ereksi dan fungsi seksual pada umumnya, yang terpenting ialah perkembangannya sudah mencapai tahap perkembangan yang normal. Selain itu, salah satu faktor penting yang tidak boleh dilupakan ialah  seorang wanita akan menjadi lebih puas saat diperlakukan dengan spesial oleh pasangan dan tidak dianggap hanya sebagai objek seks. Sehingga, saat wanita bahagia dengan hubungan yang dijalani, maka dapat dikatakan relatif puas dengan kehidupan ranjangnya. Love bouding sangatlah penting.

Yap, semoga apa yang aku sharingkan bisa menjawab pertanyaan dan bisa menambah wawasan untuk yang lainnya. Jika ada pertanyaan, silahkan bisa lewat komen atau kalo ada yang mau tanya secara private silakan lewat email: celotehyori@gmail.com dengan subject: tanya yori

see you!

 

voyeurisme

Voyeurisme: Kenikmatan di Balik Celah

Dulu sewaktu aku kecil ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa “Saat matamu timbilen atau beleken, berarti itu adalah akibat dari ngintip di kamar mandi”. Pernah aku beberapa kali kena sakit mata, dan selalu malu saat ingin berangkat sekolah. Bukan malu karena penyakitnya, namun yang bikin malu ialah ejekan teman-teman yang menjudge bahwa aku baru saja mengintip orang mandi.

Aku tak tahu, apakah generasi millenial sekarang ini mengalami apa yang sempat aku alami 15 tahun yang lalu. Dan sepertinya sih engga ya, karena mitos-mitos zaman dulu yang nggak masuk akal sudah mulai tergusur dengan logika dan teknologi wkwkw.

Nah ngomong-ngomong soal ngintip, kemarin saat aku sedang ngecek web yang hampir berdebu, aku mendapatkan coment di postinganku “Dipamerin Titit” dari seorang wanita yang menanyakan hal berkaitan dengan kehidupan seksualnya. Singkatnya, wanita itu bercerita bahwa akhir-akhir ini ia merasa ketagihan mengintip lawan jenis yang sedang mandi dan dia merasa bingung karena aktivitasnya itu semakin membuatnya penasaran dan terangsang.

Secara literatur psikologi, sebenarnya apa yang diceritakan cenderung ke arah penyimpangan seks yang dinamakan voyeurisme. Voyeurisme sendiri ialah kondisi dimana seseorang mendapatkan kepuasan seks dengan cara mengintip orang lain yang sedang tak berbusana atau yang sedang berhubungan seks. Kebanyakan kasus dialami oleh pria, namun tidak menutup kemungkinan wanita juga bisa mengalaminya. Untuk mencapai orgasme, seorang voyeur akan melakukannya sambil masturbasi atau onani. Hal itu bisa dilakukan sambil mengintip, ataupun dilakukan setelahnya dengan sambil mengingat apa yang telah dilihat dan bisa juga dibumbui dengan imajinasi seksnya. Karena aktivitas mengintip ini dilakukan secara diam-diam, maka voyeurisme sangat jarang terjadi kontak antara orang yang diintip dan yang mengintip.

voyeurisme

sumber: google.com

Menurut American Psychiatric Association dalam Diagnostic and Statistical Mannual of Mental Disorder fourth edition (DSM-IV), kriteria diagnosa untuk voyeurisme ialah seperti berikut :

  1. Seseorang dengan kebiasaan melihat orang yang sedang telanjang, menanggalkan pakaian, atau orang lain yang sedang melakukan aktivitas seksual, yang dilakukan untuk membangkitkan hasrat seksual, dilakukan berulang kali, dan terus menerus dalam kurun waktu minimal 6 bulan.
  2. Pelaku voyeurisme mengalami penderitaan dan frustasi berat sehingga mengganggu hubungan sosial, pekerjaan, dan aktivitas hariannya yang lain disebabkan oleh fantasi seksual dan kegiatan pengintipannya.

Sebenarnya tidak ada penyebab secara spesifik yang membuat seseorang menjadi veyourisme. Namun beberapa ahli menyebutkan bahwa tindakan voyeurisme merupakan salah satu bentuk pertahanan ego agar tidak mengalami perasaan takut yang berlebihan dan memori yang direpres. Selain itu, juga berhubungan dengan fiksasi ego di tahap pregenital dalam perkembangan psikoseksual. Haha mumet ya? Intinya, seseorang yang mengalami voyeurisme perkembangan sosial dan seksualnya tidak matang, tidak berkembang sehingga kurang memadai untuk bisa menjalani relasi seperti orang dewasa pada umumnya. Namun juga ada juga pandangan lain yang menyebutkan bahwa perilaku tersebut merupakan hasil dari proses conditioning atau pengondisian secara terus menerus sehingga membentuk sebuah pola atau kebiasaan tersebut.

Jadi misalnya, saat pertama kali didasarkan oleh dorongan rasa penasaran yang sangat tinggi. Walaupun takut, namun rasa penasaran terus mendorong untuk melakukannya. Saat mengintip itu munculan sensasi-sensasi aneh yang cenderung ke arah seksual seperti muncul rasa terangsang sehingga ingin melakukan masturbasi. Dan begitu pula seterusnya. Jika pola tersebut terus menerus dilakukan, otomatis akan terjadi suatu penguatan terlebih mendapatkan perasaan nikmat berupa orgasme terselubung.

Lalu bagaimana solusinya?

Kalo aku sih menyarankan untuk segera menemui seseorang yang memang ahli dalam bidangnya. Sebab, jika perilaku menyimpang tersebut terus dipelihara maka akan menyulitkan dan menjadi sumber masalah di kemudian hari.

Yap! Segitu dulu penjelasan dariku. Jika ada yang mau tanya lebih lanjut silahkan coment atau japri juga boleh 😀

 

 

 

 

 

Jejak Kata

me.nu. lis (KBBI): 

v. Melahirkan pikiran atau perasaan melalui tulisan

v. menggambar; melukis

Menulis, satu aktivitas yang dulu sering ku hindari namun kita menjadi makanan sehari-hari. Haha. 

Berbicara soal menulis, aku punya sebuah pengalaman masa kecil yang agak masam yang hingga saat ini masih melekat namun tersamarkan. 

Tepatnya hampir 19 tahun yang lalu, saat itu aku duduk di kelas 1 SD. Di zamanku, setiap anak SD diharuskan untuk belajar menulis halus. Tegak bersambung dengan buku khas yang penuh dengan garis-garis horisontal. Tanganku saat itu masih kecil, namun tulisanku cukup besar. Sehingga tak heran hanya untuk satu kalimat saja aku perlu dua sampai tiga garis kebawah. Sekolahku saat itu kekurangan kelas, jadi kelas dibagi untuk dua kelas yaitu kelas 1 dan 2. Jam 7.00 – 11.30 wib untuk kelas 1 dan jam 12.00 – 16.00 wib untuk kelas 2. Sehingga tak jarang waktu pelajaranku belum selesai, hampir sebagian besar anak kelas 2 sudah menyesaki pintu untuk berebut segera masuk. Disetiap akhir pelajaran, bu guru selalu memberikan lima sampai sepulu soal untuk dikerjakan di rumah dan menyuruh murid-murid untuk menyalinnya di buku tulis masing-masing. Cara menulisku cukup lambat saat itu, tak jarang teman-temanku pulang lebih dulu. Hingga suatu hari, aku menangis karena merasa tak mampu menyelesaikan tulisanku saat semua anak kelas sudah menduduki bangkunya masing-masing. Hanya tinggal aku dan bu guru. Aku merasa terdesak dan ingin segera menulis dengan cepat. Namun apa daya tanganku semakin melambat karena bergetar hebat. Karena melihatku menangis, sambil mengomel pelan bu guru membantuku menyelesaikan salinan pr tersebut. 

Haha.. kalo diingat-ingat sekarang peristiwa itu cukup menggelikan. Tapi bagiku saat itu merupakan peristiwa yang sangat mengerikan. Agar tak terulang lagi, aku mulai mempercepat cara menulisku. Tak mengapa jelek yang penting selesai. Makanya, sejak SD aku tak pernah mendapatkan nilai 80 untuk menulis halus. 

Dari setiap peristiwa yang ada di hidup ini sebenarnya akan menjadi indah bila bisa kita maknai dengan berbeda. Saat itu peta pikiranku masih sempit dan sedikit, sehingga melihat suatu peristiwa hanya dari satu sisi-sisi saja. Keyakinan itu berubah menjadi pola yang perlahan melekat erat di dalam hidupku bertahun lamanya. Hingga membuatku merasa menulis adalah sesuatu yang lebih baik dihindari.

Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat menulis dari sisi yang berbeda. Dengan kata, rasa bisa terucap tanpa suara. Bisa kekal tak terbawa kematian. Dan aku mau celotehanku ini bisa abadi walau aku telah pergi nanti.

Merubah yang tadinya enggan menulis menjadi butuh menulis memang sangat sulit. Ibaratnya aku suka makan nasi, tapi dipaksa menggantinya dengan kentang untuk alasan kesehatan. Bisa makan kentang sih, tapi nggak terlalu doyan.

Namanya ingin mencapai tujuan selalu ada perjuangan. Seringkali goyah, karena telah jengah. Namun tetap memaksa diri terus berjalan dan tak menyerah. 

Karena sejatinya apa yang aku lakukan untuk diri sendiri, bukan orang lain. 

Sebenarnya secara pribadi aku merasakan efek dari menulis untuk self healing. Metodenya sering dikenal dengan writing therapy. Bagi kalian yang mengalami kesulitan mengekspresikan melalui ucapan, kalian bisa menuliskan secara bebas apa yang kalian rasakan. Menulis adalah sebuah terapi yang paling murah dan ampuh. Tulislah dengan jujur. Tak perlu takut dijudge orang lain, karena tulisamu adalah tentang pribadimu. Kalian bisa gunakan cara ini untuk menghindari stres berkepanjangan yang bisa menyebabkan depresi. 

Tulislah apa yang kalian rasa, tak harus disebarkan pada orang lain. Cukup kamu yang tahu dan rasakan manfaatnya. 

Selamat menulis!

On board.