Nonton Bareng dan Diskusi Film “Something In The Way”

Sebelumnya nggak pernah kepikiran untuk ngadain nonton bareng yang di dalemnya ada diskusi seksualitas. Semuanya serba langsung, dan tidak pernah direncanain dari jauh-jauh hari. Semua ini berawal dari kekepoanku tentang orientasi seks Reza Rahadian. Entah aku habis nonton apa atau habis baca berita apa, tiba-tiba aja aku penasaran banget tentang itu. Mulai deh browsing bin googling, buka tab satu dengan tab yang lainnya. Ada yang bilang di Gay, dan ada juga yang bilang dia straight. Cukup sulit sih melihat pola Reza Rahadian lewat sosmed karena dia nggak punya sosmed (suer aku salut!). Nah dari banyak tab yang aku buka, aku nggak sengaja buka satu tab yang berisi resensi film yang dia mainkan. Bukan Habibie Ainun dan bukan pula My Stupid Bos, tapi Something In The Way.

Makin banyak komen yang aku baca tentang film itu, makin penasaran pula aku sama filmnya. Langsung deh cek youtube buat liat trailernya, dan…… SUMPAH AKU MAKIN PENGEN NONTON!!!!!!!! Sayangnya, film itu ditayangkan di bioskop mainstream, selain karena film indie film itu juga mengandung unsur “awrrr” yang akan hilang esensi filmnya kalo kena sensor. Untunglah, di semarang ada sebuah komunitas film bernama SineRoom yang spesial screening film indie. Setelah aku kontak, apakah bisa nonton film itu, ternyata film itu sudah pernah di puter bulan November 2016 kemaren. Karena saking pengennya, akhirnya si Ay negoin biar bisa diputer ulang. Mereka ngasih syarat minimal 15 orang, karena ada donasi untuk film tersebut. Okeh! Siapa takut! hahaha …

Singkat cerita, dalam waktu kurang dari 1 minggu aku mempersiapkan acara nonton bareng itu. Awalnya cuma niat untuk nonton doank, tapi setelah dipikir-pikir kok sayang ya kalo hanya sekedar nonton, akan makin seru kalo ada diskusi di ending acaranya. Dalam benakku diawal nggak terlalu muluk-muluk sih, aku bisa datengin 15 orang aja sudah Alhamdulillah.

Hari pemutaran pun tiba. Sebanyak 20 orang mendaftar untuk dateng ke acara nobar. Seneng rasanya bisa melampaui target hehe. Tapi, ada hal yang nggak terduga. Penonton yang dateng ternyata lebih banyak dari yang daftar, ya kira-kira ada 40 orang. Jujur aku kaget banget. Bahkan sampe ada yang cancel karena nggak kebagian tempat duduk 😀

Sesi Diskusi

Sesi Diskusi

Setelah nobar, di akhir cerita ada diskusi tentang film dan berhubungan dengan seksualitas. Sedikit bocoran ya, di film ini ada dua hal yang menonjol di perlihatkan oleh sutradara yaitu perilaku onani yang berlebihan dan kehidupan nyata pelacur. Dalam diskusi ini aku ditemani oleh Mas Slam (PKBI Jateng) dan Mas Reza sebagai moderator diskusi. Diawal diskusi, banyak yang menanyakan tentang bagaimana mengurangi perilaku onani berlebihan seperti yang diperankan oleh Reza Rahadian. Aku baru sadar, nggak hanya remaja aja yang dilema dengan hal tersebut yang udah dewasa juga mengalami hal yang sama. Setelah banyak diskusi tentang onani dan marturbasi dari perspektif psikologi dan kesehatan, aku dan Mas Slam juga banyak membahas sisi pelacur yang tak banyak orang tahu.

Inti dari acara ini tak sekedar untuk nonbar saja, tapi dibalik itu semua kami ingin membuat ranah seksualitas menjadi umum untuk diobrolin dan didiskusiin. Bukan ingin ngumbar kesaruan atau apa, tapi ini atas dasar edukasi. Makin banyak yang open mind terhadap hal terkait seksualitas, makin banyak pula yang jadi sadar kalo itu semua bukan hal yang tabu. Selain itu, dari diskusi kemarin kami ingin lebih banyak orang yang mulai megurangi stigma terhadap pelacur. Setiap orang punya salah dan punya dosa, tapi setiap orang juga punya kesempatan yang sama untuk merubah hidupnya jadi lebih baik.

Sekali lagi thanks yang udah dateng…. InsyaAllah, next kami buat acara nobar yang lebih rame dan lebih “awwwrrrrr” lagi 😛

 

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

 “Oh ya, ngomong-ngomong kok mbak bisa sampai kerja disini itu ceritanya gimana?” tanyaku sambil mengunyah biskuit kelapa.

Panjang sih mbak ceritanya dan hidup yang aku jalani itu keras,” pintanya padaku saat ia mulai menceritakan tentang perjalanan hidupnya sambil sesekali mengunyah biskuit kelapa.

Kerasnya hidup yang ia jalani ternyata sudah dimulai semenjak ia ditinggal oleh ibunya untuk selamanya saat berusia 3 bulan. Dekapan hangat seorang ibu yang tak pernah ia rasakan menjadi awal mula kelamnya hidup yang harus ia lalui hingga ia dewasa. Walaupun sampai saat ini ia masih memiliki Ayah, namun karena sesuatu hal hubungan mereka tak begitu dekat, terlebih tak lama setelah ibunya meninggal ia diasuh oleh keluarga yang ada di Jawa Timur.

Menurutnya, awal kehidupannya di Jawa Timur sudah penuh dengan cobaan. Bagaimana tidak, Puput bercerita bahwa ia hampir saja dijual oleh keluarganya saat belum genap usianya satu tahun.  Hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh nenek dan kakeknya yang sampai saat ini sudah dianggapnya sebagai orangtuanya sendiri.

Puput memang tak dibesarkan dari keluarga yang kaya raya dan serba berlebih. Kakek neneknya tergolong salah satu dari sekian banyak warga miskin di desa. Namun, walaupun demikian Puput tetap diasuh sebaik mungkin oleh kakek neneknya di tengah keterbatasan. Selain keterbatasan yang Puput alami, ternyata selama hidup di Jawa Timur ia kurang mendapat penerimaan dari anak-anak kandung dari kakek neneknya. Menurut mereka, Puput hanyalah sebagai beban tambahan di keluarga. Sehingga saat Puput kecil hingga remaja, ia kerap kali mendapat perlakuan secara semena-mena oleh saudara-saudaranya.

Puput kecil hidup di tengah lingkungan agamis yang sangat kental. Semenjak SD hingga SMA, Puput bersekolah di sekolah madrasah yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Menurutnya, selama bersekolah ia merupakan salah satu siswa yang berprestasi. Sehingga tak heran baginya, saat duduk di bangku SMA ia diminta sekolah untuk menjadi guru mengaji bagi anak-anak kecil di sore hari.

Prestasinya di sekolah ternyata sangat bertolak belakang dengan pergaulannya di rumah. Puput mengaku bahwa dirinya seringkali diolok-olok oleh tetangganya karena ia hidup di keluarga yang miskin. Tak hanya persoalan materi saja yang menjadi bahan olokan tetangga-tetangganya, ternyata penampilan Puput yang masih berpenampilan kuno pada waktu itu pun menjadi bahan olokan yang sering kali menyakitkan hatinya.

Puput sadar bahwa menjadi seorang guru terlebih guru mengaji wajib menjaga penampilan yang tertutup. Untuk makan saja sulit apalagi untuk membeli pakaian yang bagus. Dengan penampilan seadanya dan menggunakan pakaian yang berwarna lusuh tak heran bila Puput terkesan  ndeso di mata tetangganya.

Puput kecil tumbuh menjadi remaja yang memiliki pribadi tertutup. Segala hal yang ia kerjakan hanya untuk membahagiakan sosok yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Puput sadar bahwa cita-citanya untuk bisa meneruskan pendidikan di sebuah universitas harus kandas karena melihat ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Puput saat itu hanya berfikir bagaimana harus mendapatkan uang sebanyak mungkin untuk membantu kehidupan keluarga yang kian hari kian tak menentu.

Gaji seorang guru selama lebih dari satu tahun tak pernah cukup untuk membantu menghidupi kehidupan keluarga sehari-hari. Tak ada lagi orang yang bisa diandalkan untuk membantu kehidupan keluarganya selain Puput seorang. Menurutnya, saudara-saudaranya sudah tidak lagi peduli dengan kehidupan kakek neneknya semenjak memiliki keluarga masing-masing. Semua dilimpahkan pada Puput. Dari keadaan yang demikian, akhirnya Puput memutuskan untuk merantau menjadi TKW di Malaysia.

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Puput adalah salah satu  pekerja seks yang sudah cukup lama aku kenal. Wajahnya yang selalu ceria saat bertemu denganku ternyata menyimpan luka batin yang luar biasa dalam. Puput yang kini berusia hampir 30 tahun adalah wanita asal Kalimantan yang sudah bekerja sebagai pekerja seks di SK selama hampir 3 tahun. Secara penampilan, Puput memiliki perawakan yang cukup berisi dan ia juga memiliki rambut yang hitam dan panjang. Sedangkan parasnya, Puput memiliki wajah yang bersih dan tergolong lumayan cantik.

Hari itu, tepatnya hari Selasa di pertengahan bulan Februari 2016 aku mengunjungi wismanya. Kebetulan aku datang saat pagi hari kira-kira pukul 9.15 wib. Pagi hari adalah waktu yang relatif aman bagiku untuk mengunjungi wisma, sebab pada pagi hari belum banyak tamu yang datang seperti sore menjelang malam. Aku mengunjungi wismanya karena memang sebelumnya aku sudah membuat janji dengan Puput.

Wisma Puput salah satu wisma yang terletak di gang yang cukup ramai. Walaupun letaknya di paling ujung, namun wisma yang berwarna dinding hijau cerah ini merupakan salah satu wisma favorit karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

Setibanya aku di pelataran wisma, tak ada seorang pun yang terlihat. Aku hanya melihat lorong gelap yang terlihat dari pintu depan yang terbuka. Tanpa ragu aku menghampiri ambang pintu dan mengetuk pintu sembari mengucap salam. Tak beberapa lama, datang seorang pria berperawakan kurus tinggi dan segera menghampiriku. Wajahnya masih tampak kusut sama seperti pakaian yang dikenakannya. Ia tampaknya operator karaoke yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Ya Mbak, cari siapa ya?” tanyanya sembari menggaruk-garuk lengannya.

Mbak Puput ada mas?” jawabku singkat.

Oh ya mbak langsung masuk aja,” jawabnya sambil membalik badannya dan menunjukkan dimana letak kamar Puput padaku.

Tanpa mengulur waktu aku langsung saja menghampiri kamar yang terletak paling pojok yang berdaun pintu berwana hijau tua. Aku langsung mengetuknya dan tak lama pintu terbuka. Terlihat Puput yang menggunakan daster baby doll warna merah muda di balik pintu. Puput langsung tersenyum padaku dan langsung mempersilahkanku masuk.

Maaf ya mbak aku belum mandi, kamar juga masih berantakan,” gumamnya padaku sembari merapikan letak bantal dan guling agar ada  sedikit ruang di kasurnya untuk tempatku duduk.

Sebenarnya ini pertama kalinya aku memasuki salah satu kamar di wisma tempat wanita pekerja seks mencari nafkah. Jujur, kala itu jantungku cukup berdebar karena aku menduduki tempat peraduan yang biasa digunakan Puput untuk melayani tamu-tamunya. Namun perasaan yang tak karuan itu segera aku buang jauh-jauh dan segera kembali fokus pada Puput.

Semalam selesai kerja jam berapa Mbak?” tanyaku sembari membuka obrolan.

Kayaknya jam 2 an deh, tapi habis itu aku gak bisa tidur sampai jam 5 pagi. Ni baru aja bangun mbak,” jawabnya sambil mengikat rambutnya.

Sontak aku langsung merasa sungkan karena tak enak sudah mengganggu waktu istirahatnya. Memang bagi pekerja malam seperti Puput, pukul 9 pagi adalah waktu untuk istirahat. Namun Puput segera menepis kesungkananku dengan mengatakan bahwa ia tak keberatan dengan kedatanganku dengan menyuguhkanku sebungkus biskuit kelapa.

to be continued…

bu mus 5

Kisah Bu Mus Eps. 5

 

Saat ini Bu Mus masih aktif bekerja sebagai PSK. Menurutnya walaupun hanya mendapatkan 3 tamu dalam sehari atau bahkan tak mendapatkan tamu sekali ia tetap mensyukuri rezeki yang diberikan Tuhan padanya. Sebagai penggantinya untuk mengisi waktu luangnya yang cukup banyak, ia sangat rutin membuat kerajinan tangan yang ia tekuni saat ini.

“Ya walaupun untungnya sedikit, namanya juga usaha yang dibangun dari nol pastinya kan begitu Mbak Yoli. Yang penting tetap terus dijalani dan disiplin.”

Ia mengakui bahwa pekerjaannya sebagai pelacur adalah dosa besar. Namun menurutnya ia tidak mengetahui pekerjaan lain yang dapat ia lakukan dengan usia yang sudah mencapai  50 tahun. Untuk menebus dosa-dosa yang telah diperbuatnya Bu Mus selalu mengingat akan keberadaan Tuhan dengan beribadah di tengah kegiatannya.

Sebagai pekerja seks pasti terdapat resiko besar yang di hadapi oleh Bu Mus. Selain resiko terjangkit penyakit menular seksual hingga HIV/AIDS, Bu Mus juga menghadapi resiko – resiko fisik dan moral yang tidak ringan. Mungkin untuk menghadapi hujatan masyarakat tentang profesinya sudah dapat ia siasati, namun tidak dengan resiko moral sebagai perusak rumah tangga orang. Sebagai wanita secara naluriah Bu Mus juga merasa bahwa begitu sakitnya bila dihianati oleh suami, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya memendam rasa bersalahnya dalam-dalam.

Sebenarnya resiko mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual sangat besar peluangnya terjadi di lokalisasi. Namun, karena Bu Mus memiliki prinsip untuk selalu menjaga keamanan dirinya, Bu Mus selalu selektif dalam memilih tamu. Ia tak pernah menerima tamu yang sedang mabuk. Sebab tamu yang mabuk sangat sering membuat ulah dan tidak segan-segan berkata kasar hingga mendaratkan bogem mentah di wajah wanita pekerja seks.

Setiap orang pastinya memiliki harapan, begitupun dengan Bu Mus. Ia berharap kedepan, saat sudah memiliki modal yang cukup ia ingin membuka kios kecil di desanya. Selain menjual pernak pernik kerajinan tangan ia juga ingin memberi pelatihan keterampilan pada masyarakat di desanya. Ia menyadari bahwa wanita-wanita di desanya memiliki peluang besar untuk masuk ke dalam dunia prostitusi. Oleh karena itu ia memiliki niat untuk memberdayakan wanita di desanya agar tak perlu lagi bekerja sebagai pelacur sepertinya untuk bisa menghidupi keluarga.

-The End-

Kisah lengkap,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 3

Kisah Bu Mus Eps. 4

Kisah Bu Mus Eps. 4

Saat ini suaminya memang telah tiada, namun Bu Mus masih tetap mejalankan profesinya sampai saat ini. Menurutnya masih ada anak semata wayangnya yang masih membutuhkannya. Walaupun anaknya kini sudah menikah namun tetap saja Bu Mus ingin memiliki tabungan untuk anaknya kelak saat ia sudah tiada. Selama ini Bu Mus tak pernah bercerita secara terang-terangan pada anaknya, namun ia merasa bahwa anaknya sudah mengetahui tentang apa yang ia kerjakan selama ini.  Anaknya hanya bepesan agar warga desa lain tidak mengetahui apa pekerjaan Bu Mus selama ini, sehingga membuat Bu Mus jarang pulang ke desa. Dan selama pulang ke desa, Bu Mus jarang sekali bergaul dengan tetangga di desa. Bu Mus lebih memilih untuk berdiam diri dirumah dan hanya keluar bila ada keperluan karena ia takut dengan resikonya bila warga desanya mengetahui apa pekerjaannya.

Di Sunan Kuning, Bu Mus bekerja sebagai pekerja seks yang hanya memberikan layanan ngamar. Aku pun penasaran dan mengulik lebih dalam tentang kegiatan yang dilakukannya saat ia sedang bekerja. Ternyata aku mendapat jawaban yang berbeda dari pekerja seks lain. Disamping memberikan kebutuhan badaniah pada tamunya, ternyata Bu Mus juga memberikan layanan batiniah. Tak melulu hanya hubungan seksual yang dibutuhkan oleh para tamunya yang sebagian besar lebih muda darinya, namun ternyata banyak juga dari mereka yang membutuhkan teman berbagi cerita dan keluh. Tak dipungkiri, apa yang dilakukan Bu Mus selama ini memang perbuatan yang melanggar norma serta agama, namun ia kerapkali berpesan pada tamu-tamunya agar tetap menjaga harga diri isti maupun keluarga dengan tidak menjelek-jelekan. Bahkan beberapakali Bu Mus meminta tamunya untuk berhenti datang padanya dan jajan di SK.

“Pak atau Mas atau Om, sudah tidak perlu terlalu dipikirkan. Mas boleh curhat dengan saya tapi tolong janganlah menjelek-jelekkan nama istri, orangtua, atau anak atau keluarga. Aku gak suka itu. Aku juga sebagai istri dan sebagai perempuan akan merasakan sakit bila diomongkan oleh orang lain terlebih suami sendiri. Walaupun bagaimana jeleknya istri kamu, tetaplah istri kamu.”

Ungkapnya padaku saat mencotohkan ucapannya pada pelanggannya. Menurutnya, dari nasehat yang ia sampaikan pada tamunya, sedikit demi sedikit membuat para tamunya  tersentuh dengan ucapannya dan mulai mengurangi menjelekan istri atau keluarga dihadapan orang lain.

to be continued…

Sebelumnya

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 3

Kisah Bu Mus Eps. 3

Waktu itu keadaan terasa terjepit sekali, Mbak Yoli. Semua perabot sudah habis dijual untuk pengobatan, dan pada akhirnya aku berpikir untuk mencari pekerjaan. Kalo aku nggak kerja nanti siapa lagi yang akan membayar pengobatan suami dan hidup anakku.”

Usia yang sudah tak lagi muda, membuatnya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.  Terlebih, Bu Mus hanya lulusan Sekolah Dasar yang tak berizasah yang tak punya pengalaman bekerja. Kondisi pelik di tengah keadaan yang semakin terhimpit.

Bu Mus sempat terpikir untuk menjadi TKW, namun itupun hanya sekedar angan-angan karena segala tetek bengek yang harus dipersiapkan yang membutuhkan waktu tak sebentar.  Dan pastinya ia tak bisa pergi jauh meninggalkan suami yang sakit dan anak semata wayangnya dalam kurun waktu yang lama.

Hingga suatu saat, dimana semua terasa tak ada lagi jalan. Suami Bu Mus memberikan izin padanya untuk melakukan pekerjaan apa saja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga serta pengobatan. Sebenarnya Bu Mus sudah lama mendapatkan informasi tentang peluang pekerjaan yang dapat menghasilkan uang jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Namun pekerjaan itu sangat amat bertolak belakang dengan batinnya. Dengan keadaan yang samakin terhimpit, akhirnya Bu Mus memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya terkait peluang kerja yang di dapatnya.

“Pah, kalo aku kerja di lokalisasi bagaimana?”

“Ya gak apa-apa Mah, kalo memang sudah tidak ada lagi jalan lainnya.”

Itulah awal mula Bu Mus menguatkan hati bekerja sebagai pelacur demi pengobatan suami tercinta dan memenuhi kehidupan keluarga. Dalam keadaan yang semakin tak berdaya, suaminya merelakan Bu Mus untuk pergi mencari secercah harapan di kompleks lokalisasi. Saat mengingat kembali kejadian tersebut, raut wajahnya berubah menjadi lebih sendu dari sebelumnya. Nada bicaranya pun mulai melambat dan tatapannya seperti meratapi sesuatu.

Awal-awal ia menjalankan pekerjaan sebagai wanita pekerja seks, seringkali muncul tabrakan-tabrakan emosi yang ada dalam dirinya. Ia harus melakukan hubungan suami istri dengan pria lain disaat suaminya mengerang kesakitan di rumah. Rasa bersalah yang kuat seringkali mengiris hati. Bu Mus sadar, jalan yang telah dipilihnya adalah perjuangan hidup yang harus ia jalani. Tekad kuat untuk bisa membantu perekonomian keluarga dan biaya pengobatan membuatnya bertahan.

Usaha keras Bu Mus yang sudah bertahun-tahun untuk mencari biaya pengobatan ternyata tidak sejalan dengan harapan yang ia inginkan. Tuhan berkehendak lain, suami tercinta yang selama ini ia perjuangkan telah di panggil oleh Tuhan untuk selama-lamanya. Kesedihannya kembali tersirat dari raut wajahnya saat menceritakan padaku, ia merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berada di dekat suaminya pada saat-saat terakhir.

to be continued….

Sebelumnya,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 2

Bu Mus tahu persis, keputusan yang diambilnya penuh dengan resiko. Mungkin, bila disaat itu ada seseorang yang bermurah hati membantunya, mungkin saat ini ia merasa seperti layaknya ibu-ibu pada umumnya, menimang cucu sambil bersenda gurau dengan keluarganya.

Awalnya, aku tak percaya bila Bu Mus bekerja sebagai wanita pekerja seks. Perilakunya yang sopan dan rona wajah sendu yang terpancar dari Bu Mus membuatku sering berpikir ulang bahwa ia hanya pegawai kelurahan atau LSM. Dengan usianya yang sudah diakhir tengah baya ternyata masih saja ada tamu yang menghampirinya untuk mendapatkan layanan seks. Kini Bu Mus sudah hampir lima tahun bekerja di SK. Walaupun pendapatannya tak sebanyak dulu, namun Bu Mus mengatakan akan tetap tinggal hingga setahun hingga dua tahun mendatang. Kini ia memiliki kegiatan aneka kerajinan tangan untuk menopang kehidupannya.

Sebenarnya kisah Bu Mus hampir sama seperti dengan kisah wanita pekerja seks kebanyakan yang datang melacur dengan motif awal ekonomi. Motif ekonomi hanyalah motif pembungkus saja. Perjalanan Bu Mus sebagai wanita pekerja seks ternyata berasal dari rasa cintanya terhadap suaminya. Penyakit stoke telah melumpuhkan sendi-sendiri tulang suaminya serta ekonomi keluarga, hingga membuat Bu Mus melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan nyawa suami tercinta dan ekonomi keluarga.

Awalnya, Bu Mus sama seperti ibu rumah tangga lain yang mendedikasikan diri untuk berbakti pada keluarga.  Kehidupan rumah tangga Bu Mus terbilang bahagia. Walau hidup di sebuah desa di Jawa Tengah, kehidupannya dengan suami dan anak semata wayangnya sangat berkecukupan. Namun, sayangnya kebahagiaan yang dirasakannya seiring waktu mulai terkikis karena suaminya yang jatuh sakit. Semua yang dulunya serba berkecukupan, kini berbalik menjadi serba kekurangan. Suaminya tak lagi bekerja semenjak ia jatuh sakit.

Uang tabungan kian hari kian menipis, rumah pun terasa makin kosong karena perabot sudah mulai habis terjual.  Dengan keadaan suami yang hanya bisa berbaring di kasur menahan sakit, otomatis memaksa Bu Mus berubah peran menjadi tulang punggung keluarga. Masa-masa sulit itu Bu Mus alami cukup lama sendiri, namun ia selalu bertahan melakukan semua itu karena dasar cinta yang kuat pada suami dan keluarga kecilnya. Ia tak bisa semena-mena meninggalkan suaminya begitu saja karena tak lagi mampu memberinya nafkah lahir dan batin. Menurutnya tak hanya cinta yang membuatnya memiliki kekuatan hati untuk bertahan namun juga pengabdian pada suami.

to be continued…

Sebelumnya, Kisah Bu Mus Eps.1

 

Kisah Bu Mus Eps. 1

Mbak Yoli… sudah lama ndak ketemu. Sibuk apa sekarang, Mbak?

Begitulah sapaan Bu Mus, salah satu wanita pekerja seks SK ketika berjumpa denganku. Usianya memang sudah tak lagi muda, namun penampilannya tak kalah dengan yang berusia jauh dibawahnya. Sederhana, namun cukup elegan untuk di kalangan SK.

Bu Mus yang kini telah berusia lebih dari setengah abad memiliki latar belakang yang sangat pelik hingga mengantarkannya menjadi wanita pekerja seks di SK. Percaya atau tidak, hal yang mendorongnya untuk bekerja sebagai wanita penghibur karena rasa cintanya yang sangat mendalam pada suaminya. Terdengar miris dan ironis. Bagaimana bisa bekerja melayani nafsu pria lain demi membuktikan cinta pada suami. Bila menggunakan nalar, hal itu akan sulit bahkan tidak bisa diterima akal sehat sebagai cara dalam mencintai suami. Namun, dalam dunia ini segala sesuatunya mungkin, begitupun dengan pilihan yang diambil Bu Mus.

Sebelum menjadi wanita pekerja seks, Bu Mus adalah seorang wanita yang menjalani kodratnya menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak dan suami. Tak ada hal lain yang ia lakukan selain pekerjaan inti sebagai ibu rumah tangga. Kala itu hidupnya sangat berkecukupan dan sejahtera, walau ia hidup di sebuah pedesaan yang sangat jauh dari perkotaan.

Aku ndak tau, seperti kaya disamber gledek Mbak waktu aku mendapatkan kabar itu. Semua berubah dengan sangat cepat.” Kenangnya Bu Mus, mengingat kejadian 10 tahun lalu.

To be continued…