sensor

PON rasa POrN

Beberapa hari yang lalu, masyarakat lagi-lagi dihebohkan dengan perkara sensor yang salah alamat. Kali ini sensor atau blur ditujukan pada sebuah tayangan wawancara salah satu atlet renang PON XIX Jabar 2016 yang sedang berada di tepian kolam renang. Sekilas bila diperhatikan, blur membuat atlet putri tersebut terkesan telanjang. Masyarakat geger dan makin mengecam tindakan sensor yang tidak sesuai konteks tersebut.

Banyak netizen atau masyarakat beranggapan semakin banyak hal yang di sensor malah semakin merusak moral dan terjadi pembodohan masyarakat. Kebijakan KPI tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengurangi konten porno-grafi di televisi, hal ini didasarkan pada aturan Standar Program Siaran (SPS) KPI, yaitu:

Soal aturan SPS hal pornografi tertuang dalam bab mengenai pelarangan dan pembatasan seksualitas. Pada pasal 18 (h) melarang tayangan yang mengekploitasi dan/atau menampilkan bagian tubuh tertentu, seperti paha, bokong, dan payudara, secara close-up dan/atau medium shot. Sekaligus mencantumkan larangan adegan ciuman bibir, ketelanjangan, dan kekerasan seksual.

Tapi, agaknya penerapan Lembaga Penyiaran (LP) dalam penyensoran terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan konteksnya. Banyak yang tidak setuju, karena bisa berefek pada peningkatan porno-aksi para penontonnya, terlebih pada anak-anak dan remaja yang masih memiliki hasrat ingin tau yang tinggi. Kenapa ya bisa begitu? Yuk kita lihat dari sudut pandang psikologi…

Persepsi

Pada umumnya kita sering kali menggunakan kata persepsi dalam perbincangan sehari-hari, namun sayangnya tak banyak yang tahu apa masud dari persepsi. Menurut Robbins, persepsi merupakan kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian di analisa (diorganisir), diintepretasi dan kemudian dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna. Jadi singkatnya, persepsi merupakan pemaknaan dari pengindraan kita. Pada kasus penyensoran atlet renang ini, persepsi yang didapatkan oleh masyarakat merupakan persepsi yang dihasilkan dari proses pengindraan mata, sehingga persepsi tersebut dinamakan persepsi visual.

Nah pada kasus kali ini, perberlakuan blur pada tayangan atlet renang ini lebih pada hal yang mengandung pornografi. Penyensoran yang tidak sesuai konteksnya tersebut malah memberikan makna sebagai suatu hal yang berhubungan dengan pornografi, padahal bila kita cermati bahwa sangat wajar bila seseorang menggunakan bikini atau pakaian renang di kolam renang atau pantai. Karena, masalah utama dari persepsi visual ini tidak semata-mata apa yang dilihat manusia melalui retina matanya,  namun lebih daripada itu adalah bagaimana menjelaskan persepsi dari apa yang benar-benar manusia lihat.

Atensi

Dalam melakukan pemrosesan informasi melalui panca indra, kita akan memberikan atensi yang lebih pada stimulus yang diberikan. Jadi simpelnya, penonton akan memberikan intensi lebih pada bagian tubuh atlet yang diblur. Atensi membuat seseorang akan melakukan pemusatan pikiran pada satu objek dan akan mengabaikan objek lain. Jadi sebenarnya dengan adanya sensor tersebut malah memberikan tanda kita untuk lebih focus pada bagian blurnya. Objek yang diblur pastinya tidak jelas, sehingga manusia akan cenderung mencari tahu apa yang sebenarnya objek tersebut, bisa dengan cara konfirmasi (pencarian sumber lain) atau hanya menggunakan persepsi umum atau hasil dari generalisasi. Perlu diingat bahwa, segala sesuatu yang difokuskan secara terus menerus akan masuk ke alam bawah sadar, sehingga bila ada stimulus yang sama secara otomatis otak akan memberikan pemaknaan yang sama pula. Makin orang penasaran, maka orang akan mencari tahu dan pada akhirnya mencoba dalam bentuk perilaku.

Aku pun sempat survey ke beberapa teman tentang tayangan tersebut, dan sebagian besar menjawab tayangan tersebut menggambarkan seperti wanita yang tak berbusana bila tak melihat kolam renang sebagai backgroundnya. Ya sungguh disayangkan, penyensoran malah berakibat pada pembodohan masyarakat.

Pendidikan Seksualitas

Adanya peristiwa ini, membuat banyak pihak semakin resah, terlebih pada pendidik yang melek tentang pendidikan seksualitas pada anak dan remaja. Pendidikan seksualitas komprehensif berfungsi salah satunya sebagai benteng ketika lingkungan sekitar memberikan stimulus yang tidak sesuai konteksnya. Anak-anak dan remaja yang sudah diajarkan pendidikan seksualitas akan cenderung memiliki pemahaman tentang tubuh yang menurut lingkungan adalah hal yang tabu dibicarakan. Pemahaman tersebut sebenarnya mereduksi anak-anak untuk tidak kaget bila melihat sesuatu yang membuat penasaran dan mencoba-coba. Padahal era sekarang sangat muda bagi anak dan remaja mencari infomasi melalui gadgetnya. Hanya mengetik mobil saja, bisa jadi yang keluar adalah wanita seksi, bagaimana bila mengetik “bagian tubuh yang di blur”??

Sehingga, disanalah peran peran penting pendidikan seksualitas sebagai filter anak dan remaja menerima informasi.

Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 2)

Ngobrolin soal pelacur itu emang nggak ada habisnya. Setiap bulan pasti saja terselip berita-berita yang berkaitan dengan pelacur. Pelacur itu tidak hanya wanita saja loh, laki-laki juga banyak yang punya side job atau mainjob sebagai pelacur (gigolo). Nah sesuai dengan janjiku minggu lalu, aku akan melanjutkan pembahasan pelacur middle up, tentang persamaan serta perbedaannya..

  1. Pelacur Middle Class

Pelacur kelas menengah memang memasang tarif yang lumayan tinggi bagi orang yang hanya punya gaji UMR. Tarifnya yang beragam menempatkan mereka memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Biasanya tarif yang dipasang mulai dari 1,5 jt – 15 jt sekali main. Harga itupun bisa berubah lebih tinggi sesuai dengan kesepakatan pastinya. Harga yang tinggi tersebut membuat pelacur middle class memiliki penampilan yang berbeda. Bagi orang awam cukup sulit membedakan gaya pelacur kelas ini dengan orang pada umumnya, namun kebanyakan mereka memiliki gaya hidup yang menengah keatas. Pekerjaan pelacur kelas menengah itu beragam, ada yang model, penyanyi, sekretaris, dll (jgn digeneralisir ya). Namun ada juga yang full time jual diri. Nah untuk servicenya, pelacur kelas menengah punya kemampuan lebih dibandingkan pelacur kelas bawah. Mereka bisa menerima request, misalnya dengan request tematik (dokter-dokteran, inem, superhero, anak sekolahan dll). secara kemampuan memberikan kenyamanan pelacur kelas menengah punya ketrampilan sendiri, mereka biasanya akan lebih bermain ekspresi, merayu dan segala hal yang bikin pelanggan makin greget.  Untuk tempat bekerjanya ada yang menggunakan mucikari dan ada pula yang secara independent. Pelacur menengah yang bekerja secara independent memaksimalkan media sosial untuk tempat jualannya, kadang mereka juga menshare video mereka ketika menservice pelanggannya. Kalo kalian yang suka usil-usil serching, pasti bisa nemuinnya hehehe. Lalu apakah bonusnya sama banyaknya dengan pelacur kelas bawah? Pelacur kelas menengah itu biasanya kurang menyadari resiko penyakit yang akan mereka alami, untuk periksa saja gengsi, jadi bisa jadi resiko penyakit yang mereka alami lebih banyak. Dari hasil penelusuran beberapa sumber, pelacur kelas  itu bekerja untuk memenuhi gaya hidup. Mereka tak berarti dari pendidikan yang rendah dan dari kalangan keluarga miskin loh.

  1. Pelacur High Class

Berbicara pelacur kelas atas memang susah-susah gampang. Pelacur kelas atas itu bergerak secara sangat sembunyi-sembunyi dan sangat amat rapi. Saking rapi dan terselubungnya, harga yang mereka tawarkan pun juga sangat tinggi, tak hanya ratusan juta namun sampai menyentuh angka milyaran. Seperti yang kalian pikirkan, pasti hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membayar dengan harga yang selangit itu. Pelacur kelas atas biasanya digunakan untuk kepentingan politik atau bisnis, jadi fungsi pelacur itu bisa saja menjadi sogokan atau jebakan. Seseorang pembisnis atau pejabat yang belum bisa mengatur libidonya akan senang mendapatkan “hadiah” seorang pelacur kelas atas, selain mendapatkan pelayanan seks ternyata punya tingkat gengsinya tersendiri dikalangan tertentu. Tingkat kesehatan pelacur kelas atas memang sangat diperhatikan, berbagai asuransi mahal rela mereka bayar. Namun sekali lagi, pelacur kelas atas juga punya kemungkinan resiko terhadap penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS.

Sebenarnya postingan ini tidak berniat sebagai alat promosi pelacur. Bukan. Tujuannya adalah agar pembaca menjadi lebih aware atau peduli dengan apa yang ada di sekitar. Harapannya, mengerti tentang spesifikasi pelacur dapat menjadikan bahan introspeksi diri lagi terhadap kehidupan seksual pembaca, karena ada pepatah mengatakan,

“Ambil ilmu Pelacur, dan MAINKAN !”

pelacur low class

Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 1)

Pelacur, mungkin terdengar kasar yaa.. Tapi bila ditilik dari arti kata pelacur sesuai dengan KKBI pelacur berasal dari kata lacur yang berarti malang; celaka; sial; buruk laku. Namun bila dijabarkan lagi, sebenarnya tidak semua perilaku orang yang menjual diri itu buruk, hanya saja apa yang dilakukannya untuk mendapatkan uang tersebutlah yang buruk, jadilah disebut dengan pelacur.

Dibanyak media massa, pada saat-saat tertentu pasti akan dimunculkan tentang isu atau berita yang berhubungan dengan pelacuran. Mulai dari isu penutupan lokalisasi, tertangkapnya manager artis yang merangkap sebagai mucikari, dan berita pembunuhan seorang pelacur yang mayatnya ditemukan termutilasi di jalan tol. Dari contoh yang aku sebutin diatas, taukah apa perbedaanya? Yap, kalo pada sadar sebenarnya aku sudah menyebutkan tentang grading atau pengklasifikasian pelacur menurut kelasnya.

Pada postingan kali ini, dengan senang hati aku akan membahas tentang pengklasifikasian pelacur menurut dengan kelas beserta servisnya, cekidot yah!

  1. Pelacur Low Class tipe A

Pelacur kelas bawah itu biasanya yang sering kita lihat dipinggir jalan. Dandan seadanya dan menerima tamu yang seadanya pula. Biasanya penampilan tidak terlalu dipedulikan, karena modal mereka juga terbatas. Tempat mangkalnya tidak selalu di pinggir jalan, namun bisa juga di terminal, stasiun kereta atau tempat-tempat yang sudah terkenal sebagai lokalisasi dadakan. Kalo di Semarang itu seperti di kawasan Blerok, Kota Lama, Polder Tawang depan Stasiun Tawang,  kawasan TI, terminal Terboyo, dan masih banyak lagi. Target tamu yang mereka sasar juga biasanya yang berdopet pas-pasan seperti tukang becak, kuli bangunan, supir trek, dan sejenisnya. Untuk harga? Ya biasanya berkisar 30rb – 75rb atau sesuai dengan kesepakatan tawar menawarnya. Bahkan aku pernah juga mendapat cerita dari salah seorang teman bahwa dia pernah ditawari hanya membayar 5rb untuk menghisap puting saja. Selain harga servis yang relative sangat murah ternyata pelacur kelas bawah menawarkan banyak bonus. Yap! Bonus penyakit hehehe. Lalu layanannya apa saja? untuk pelacur kelas bawah memang hanya menawarkan jasa seks konvensional, prinsipnya bisa masuk dan langsung keluar…

  1. Pelacur Low Class tipe B

Pelacur kelas bawah tipe B secara prinsip sebenarnya tidak berbeda dengan yang tipe A dalam hal layanan seks, yang berbeda yaitu tempat, penampilan dan harga pastinya. Tipe B masih punya modal untuk bersolek, beli wewangian, dan beli baju-baju seksi. Saking ingin terlihat menonjol, kadang penampilan mereka berlebihan sehingga terlihat norak. Untuk tempat mangkalnya biasanya sudah terlokalisir seperti di lokalisasi Sunan Kuning, GBL, kawasan stasiun Poncol, dll. Lokasi-lokasi tersebut biasanya sudah terdaftar dalam sebuah lembaga yang mengurusi tentang pelacuran untuk kepentingan akses kesehatan. Jadi bisa dibilang secara kesehatan pelacur kelas bawah kemungkinan terjamin, namun sayangnya tidak bisa dipastikan semua pelacur yang mangkal di lokalisasi bebas dari penyakit-penyakit kelamin. Ya ibaratnya seperti undian. Soal harga pastinya mereka punya batas bawah, rata-rata mereka mematok harga 150rb. Bagi pelacur yang punya grade biasanya mereka bisa mendapat pelangggan yang rela membayar sampai 1 jtan untuk menginap semalaman. Secara servis, kebanyakan masih bermain pada level konvensional. Kalopun ada yang bersedia free style itupun hanya bisa dihitung jari. Lalu siapa pelanggannya? Nah untuk sebaran tamunya cukup luas dari berbagai kalangan. Ada yang mahasiswa, pengusaha, pejabat, aparat berwajib, preman kelas menengah, dll. Namun perlu dicermati pelanggan mereka juga kebanyakan yang berasal dari kalangan ekonomi menengah, kalopun pejabat atau aparat juga bukan yang punya pangkat yang tinggi-tinggi banget. Oh ya tamu yang datang ke lokalisasi banyak juga pria-pria yang sudah berumur, yang jengah dirumah karena istri tak lagi menarik. Biasanya tamu om-om ini tak selalu berakhir kentu namun lebih senang ditemani karaoke atau hanya sekedar sebagai peneman ngobrol.

To be continued ….

“Disclaimer: Postingan ini bertujuan untuk edukasi semata”

Handjob For Homeless (18+)

Tepatnya setahun yang lalu, seorang kerabat yang sedang bekerja di Amerika mengirimkan  sebuah link video tentang teaser social pilot project yang bernama Handjob for Homeles (silahkan cari sendiri kalo error 😛 ). Awalnya kaget dan jijik setelah melihat video tersebut. Kaget, karena kok bisa ada social pilot project yang menggunakan cara yang tidak lazim tersebut, setelah kaget respon berikutnya adalah jijik karena sebelumnya aku baru saja mengalami kejadian dipamerin titit yang masih terbayang-bayang dibenakku. Sebenarnya, ada maksud dan tujuannya mengapa kerabat jauhku itu mengirimkan link tersebut, yaitu agar aku mengkritisi kegiatan tersebut.

Pertama-tama jelas pendapatku tidak setuju dengan kegiatan tersebut. Selain tidak lazim, kegiatan tersebut useless karena tidak memberikan sebuah manfaat untuk membantu kehidupan si homeless selanjutnya. Kerabatku dengan santainya membalas argumenku dengan sederhana, “coba dipikir lagi”.

Setelah, berpikir ulang ternyata pendapatku itu menggunakan sudut pandang orang Indonesia, dimana kegiatan tersebut memang tidak lazim dan penuh dengan ketabuan hehehe. Setelah aku mencoba mengubah sudut pandang, ternyata ada kemungkinan kegiatan tersebut lazim diberlakukan di negara lain, seperti Amerika misalnya. Memberikan bantuan secara materi pada homeless di Amerika mungkin sudah menjadi hal yang mainstream, sedangkan memberikan bantuan handjob pada homeless merupakan suatu bantuan yang out of the box, pikirku. Selain memberikan kenyamanan secara  psikologis, ternyata handjob disinyalir bisa membantu menurunkan tingkat pelecehan seksual yang dilakukan homeless pada warga sekitar. Memang belum ada angka pasti apakah kegiatan tersebut benar-benar efektif menurunkan tingkat pelecehan, namanya juga pilot project pastinya masih dalam penelitian lebih lanjut.

Aku juga tak lupa riset melalui googling terkait pilot project tersebut, dan hasilnya aku belum menemukan ada yang membahasnya lebih lanjut. Bisa jadi project tersebut dilakukan hanya dalam lingkungan tertentu dan hasil risetnyapun untuk kalangan tertentu atau memang project tersebut menuai banyak kontroversi sehingga diberhentikan.

Terlepas jadi atau tidaknya project tersebut dilaksanakan, aku pribadi sebenarnya setuju dengan project tersebut jika tujuannya sebagai upaya penurunan pelecehan seksual. Tak lupa aku juga mencari beberapa jurnal yang mendukung argumenku, yaitu terdapat riset yang mengatakan bahwa handjob / masturbasi dapat menurunkan tingkat kecemasan serta meningkatkan self-esteem (Dodson, 1987). Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan LoPiccolo & Lobitz, (1972) juga mengungkapkan bahwa masturbasi merupakan langkah awal dalam tahap terapi disfungsi seksual. Sehingga, dapat dikatan bahwa dalam situasi tertentu, masturbasi memang dapat memberikan efek dalam peningkatan kesehatan seksual  serta psikis. Selain dalam situasi dan kondisi tertentu,  menurutku si subyek penerima treatmen pun juga harus diseleksi dengan teliti, jangan sampe salah sasaran misalnya orang yang ngaku-ngaku homeless agar bisa mendapatkan treatmen handjob dari volunteer, haha. Tapi, kalo ini di lakuka di Indonesia, aku pastinya nggak setuju. Sebab aku yakin kegiatan ini sangat amat menuai kontroversi dan penolakan besar-besaran 😀

Kalo kamu gimana? Setuju nggak dengan Handjob for Homeless social project??

 

 Cheers!

Dipamerin Titit

Ditengah hiruk pikuk jalanan yang ku lewati hari ini, tak sengaja pandanganku terkunci pada perilaku seseorang laki-laki yang berada di pinggir jalan. Pakaiannya dan badannya terlihat sangat lusuh, sepertinya orang itu homeless. Orang itu dengan perlahan membuka celananya dan menghadap ke sebuah pembatas pinggir jalan. Dari gerak geriknya, orang itu seperti akan mengguyurkan air dari tubuhnya ke pembatas jalan itu. Sayangnya aku melihat hanya seklebatan saja. Namun, dari peristiwa itu membuatku mengingat sebuah peristiwa di tahun 2015 lalu, yang cukup menghebohkan diriku sendiri. Seingatku aku sudah menuliskannya di blog pribadi yang lain, tapi kali ini sepertinya aku akan menceritakannya lebih lengkap.

Jadi begini ceritanya…

Maret tahun 2015 aku mengikuti sebuah workshop travel blogger. Ini pengalaman pertamaku mengikuti workshop kepenulisan dengan tema traveling. Workshop itu diadakan selama 2 hari. Hari pertama diisi full materi dari travel blogger yang udah berpengalaman, sedangkan hari kedua adalah hari untuk mempraktekan materi yang sudah diajarkan. Dari workshop itu sebenarnya klimaksnya ada di hari kedua, karena para peserta diminta untuk mengeksplorasi tempat wisata di Semarang yaitu di Kota Lama.

 Dengan gaya mirip traveler, aku mengalungkan kamera merahku dan sok melihat-lihat bangunan tua dengan gerak gerik penasaran haha (padahal udah sering aku liat dan sering lewat tempat itu). Di salah satu spot dekat Gereja Blenduk, aku melihat ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku ambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Di saat aku sedang foto-foto itu ada pengendara motor yang beberapa kali melewatiku sambil memperhatikan. Aku menjadi sempat curiga apakah orang ini mau malak atau gimana, hingga pertanyaanku terjawab. Setelah beberapa kali mengamatiku, tiba-tiba dia berhenti di dekatku dan dengan santainya memperlihatkan penisnya.

Dengan spontan aku langsung menyolot “Uasuuuu!!”. Setelah aku teriak gitu dia langsung ngacir tapi masih memandangiku. Aku sempat memandangi anunya, eh wajahnya. Dia lelaki yang tergolong sudah tua, kira-kira usianya 50 tahun lebih. Dari kejadian itu aku sempat merasa shok karena sudah menjadi korban pelecehan seksual. Tapi… setelah aku menenangkan diri dan langsung cari banyak literatur tentang eksibisonis dan pelecehan seksual aku menjadi mulai mengerti bahwa ada beberapa hal yang aku pelajari:

Ekshibisionisme adalah tindakan memamerkan atau mengekspos, dalam konteks publik atau semi-publik, bagian-bagian tubuh seseorang yang biasanya tertutup – misalnya, payudaraalat kelamin, atau bokong. Praktek ini mungkin timbul dari hasrat atau dorongan untuk mengekspos diri mereka sedemikian rupa kepada kelompok teman-teman, kenalan, atau orang asing untuk hiburan mereka,kepuasan seksual, atau untuk kesenangan berhasil mengejutkan pengamat yang tidak menduganya. (wikipedia.com)

Dalam menghadapi pelaku eksibisionis, baiknya kita mengusahakan untuk tidak memberikan respon terkejut (teriak, menutup wajah, dll), marah, atau lari. Nah loo… itu kan respon wajar, masa kaget dan marah nggak boleh? Yup mau tidak mau kalo kita tidak mau memberikan efek kepuasan pada si exibisionis kita perlu menghindari hal-hal tersebut, karena pelaku akan semakin merasa puas dan klimaks ketika respon si korban demikian. Nah, setelah mempelajari lebih akhirnya aku menemukan trik bagaimana membuat si pelaku jera, yaitu memberikan respon yang berkebalikan dengan apa yang diinginkan. Seperti kembali melecehkannya, dengan mengolok-olok bentuk kelaminnya. Misal nih: Waaah! Wis cilik elek san!” (udah kecil jelek pula), atau bisa juga dengan tertawa sinis mengejek. Intinya merendahkannya. Untuk melakukan cara ini memang kita perlu memiliki keberanian. Keberanian itu ada bisa dengan merubah sudut pandang kita terhadap alat kelamin menjadi bukan hal yang selalu tabu untuk di bahas. Jadi, ketika sudah merubah sudut pandang akan bisa meminimalisir respon kaget, takut atau jijik. Dalam beberapa literatur psikologi disebutkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan eksibisionis memiliki rendah diri dan sering terabaikan, sehingga dengan memamerkan alat kelamin mereka akan mendapatkan perhatian dari orang lain dengan cara yang tidak lazim.

Pelaku eksibisionis  tak selalu melakukan aksinya di tempat sepi, ada juga di tengah kerumunan banyak orang. Bisa juga di pasar, bis umum, mall, dll. Jadi tetap waspada!

Soal pelecehan seksual, memang awalnya aku pribadi merasa menjadi korban. Namun setelah diskusi dengan banyak orang bahwa menjadi korban itu sesuai dengan persetujuan diri kita sendiri atau tidak. Kalo kita tidak mengijinkan diri kita sebagai korban maka kita akan keluar dari sudut pandang korban. Pola pikir ini sebenernya bisa membantu untuk kestabilan psikologis, karena menjadi korban pelecehan seksual itu tidak menyenangkan, harga diri dan sudut pandang terhadap diri pasti akan berubah. Misal: “Aku sudah mengalami pelecehan seksual jadi aku merasa kotor dan tidak pantas ini itu bla bla….”. Jadi untuk bisa mempercepat move on dari peristiwa tersebut, aku secara pribadi akan melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda dan menjadikan itu sebuah pelajaran untuk kedepannya.

Bagiku setiap peristiwa selalu ada hikmahnya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Cheers!!

 

Aku ingin Kuliah

Siapa sih yang nggak mau kuliah? Aku yakin bahwa banyak diantara kalian yang baru aja lulus SMA/SMK ingin sekali melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Bayangan kehidupan kuliah yang menyenangkan dan lebih bebas dari aturan ketat sekolah, seringkali lebih menjadi daya tarik dari pada pilihan jurusan itu sendiri. Ya mungkin tidak semua remaja berpikir seperti itu, tapi sayangnya lebih banyak yang berpikir demikian.

Dibalik berbagai macam alasan remaja ingin melanjutkan kuliah, ada kisah menarik yang pernah aku dengar secara langsung dari seorang pelacur muda. Sebut saja dia Tia, usia 18 tahun asal Kota Tegal yang sudah bekerja selama 1 tahun di lokalisasi Sunan Kuning.

Perawakannya kurus, wajahnya manis namun sayangnya terlihat pucat. Begitulah kesan pertama yang aku tangkap ketika bertemu dengannya. Tia memang terkesan dingin padaku, namun dalam matanya terpancar hasrat ingin meluapkan sesuatu.

Tia bercerita bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah pilihan yang sulit. Tia bukan berasal dari keluarga yang sangat berkeurangan. Ibunya yang bekerja sebagai TKW di Malaysia selalu memberikan kebutuhan secara materi padanya. Kebutuhan materi memang selalu terpenuhi, namun tak dengan kebutuhan cinta. Sebenarnya bukan soal selalu tinggal berjauhan dengan ibunya yang membuat Tia tak merasakan cinta, namun karena kurangnya penghargaan dari ibunya terhadapnya.

Selama sekolah Tia adalah seorang murid yang pintar. Hampir setiap kenaikan kelas ia selalu mendapatkan beasiswa hingga kelulusan. Menjadi anak briliant, pintar mengaji dan selalu berbakti pada orang tua adalah prinsip hidupnya ketika bersekolah dulu. Namun, seiring berjalannya waktu setiap usaha yang dilakukannya tak dihargai oleh ibunya membuat Tia memberontak. Selama ini Tia merasa apa yang dilakukannya tak pernah berarti untuk ibunya.

Tia yang semasa SMA sudah bekerja menjadi SPG mulai mengenal dunia malam. Mulai dari wanita peneman balapan motor trek-trekan, hingga peneman minum bir di salah satu beer kafe di daerahnya. Selain mendapat uang, Tia serasa memiliki tempat yang bisa menjadi pengalih kesedihannya.

Hingga akhirnya Tia lulus SMK, ia memilih untuk tak langsung melanjutkan ke jenjang kuliah. Ia memilih untuk bekerja sebagai pemandu karaoke di lokalisasi. Pikirnya, lebih baik mengumpulkan hasil jerih payah terlebih dulu sebelum melanjutkan kuliah.

Menurutnya, walau kini ia sudah mendapatkan cap sebagai pelacur, namun ia tetap tak ingin mengubur mimpinya untuk bisa kuliah. Ditengah kenyataan banyaknya mahasiswa yang tak menghargai jerih payah orang tua membiayai kuliah, ada sebuah harapan dari seorang pelacur muda yang berusaha keras untuk mengumpulkan pundi-pundi demi kuliahnya kelak.

 

Generasi Miskin NASIONALISME

Menjadi warga negara Indonesia, belum tentu mengerti Indonesia. Terdengar ironis, tapi memang kenyataannya demikian. Aku menyadari bahwa hal itu juga terjadi padaku. Dengan embel-embel “generasi muda” tapi  miskin akan jiwa nasionalisme.

Dulu, aku sangat menggebu-gebu untuk bisa berpergian ke luar negeri. Membanggakan negara ini negara itu, ingin ke negara ini negara itu. Ya, intinya sebuah kebanggan tersendiri bisa pergi ke suatu negara dan foto di salah satu iconnya yang terkenal. Sebenernya impian itu tak pernah salah, namun bagiku pribadi ada kesalahan berpikir yang sudah terjadi pada diriku. Aku membanggakan negara lain namun di satu sisi aku tak bangga dengan negaraku sendiri.

Waktu terus berjalan hingga pengalaman-pengalaman membawaku pada suatu pemaknaan yang berbeda. Beberapa orang Indonesia yang sukses di luar negeri ternyata memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Contohnya saja B.J. Habibie. Bagi kalian yang sudah menonton filmnya yang berjudul “Rudy Habibie” kalian akan menyadari bahwa kecintaanya sangat tinggi pada Indonesia. Film itu sebuah tamparan bagi diriku secara pribadi, karena selama ini kebanggaanku terhadap Indonesia sangat rendah. Mungkin terlalu tinggi bila melihat B.J. Habibie sebagai role model kita, kita bisa ambil contoh Pandji Pragiwaksono. Seorang stand up comedian yang bisa melakukan tour dunia dengan lawakannya. Ada salah satu video stand up nya penuh dengan aura nasionalisme.

Intinya, bahwa kesempatan pergi ke luar negeri akan selalu ada bagi kita yang siap. Siap dengan identitas kita. Siap dengan mental kita. Tak melulu orang luar negeri lebih cerdas daripada kita orang Indonesia yang polusi udaranya cukup tinggi. Tak melulu orang luar negeri lebih hebat daripada kita orang Indonesia yang sering makan tahu atau tempe. Ya semua itu hanyalah mentalitas kita saja.

Aku tak kan pernah mengubur impianku untuk bisa pergi ke beberapa negara, karena aku percaya dengan memperluas area jangkauan maka akan luas pula pengetahuanku kelak. Aku pun tak akan menggebu seperti dulu dengan memaksakan diri menulis rencana ke luar negeri yang selalu gagal karena tidak ada action. Kini aku memulainya dengan mencintai negeriku terlebih dahulu. Aku ingin suatu saat nanti bisa berkeliling Indonesia. Bukan hanya untuk traveling semata, tapi juga untuk mengetahui setiap budayanya, yap budaya SEXnya. Karena tiap daerah pasti punya kultur dan tradisi seks yang beraneka ragam. Sungguh pekerjaan yang sangat menyenangkan bila aku bisa mendapatkan kesempatan itu.

Jadikan 17 Agustus bukan hanya sebagai ajang nonton acara upacara bendera di TV aja. Tapi jadikan itu sebagai kebangkitan nasionalisme dalam diri kita. Tak perlu memaksakan belajar tari trasional kalo kamu memang nggak ada bakat disitu. Cukup mencintai negara ini dengan merubah mentalmu, dengan melahirkan kembali budaya senyum, buang sampah di tempatnya, saling menghargai lagi dengan pemeluk agama lain, dll.

Cheers!

 

Lo Nggak Capek Liat Langit Terus?

Seringkali secara otomatis kita akan terus membandingkan diri kita dengan orang lain. Entah itu membandingkan dari sisi buruk atau sebaliknya membandingkan dari sisi baiknya. Sayangnya, semakin sering kita membandingkan dengan orang lain semakin terpuruklah kita. Awalnya aku nggak percaya dengan statement itu, hingga aku merasakannya sendiri dan melihat contoh langsung yang aku temui di RS Jiwa.

Aku akan menceritakan salah satu klien yang aku dampingi  saat aku praktek magang di RSJ, semua identitas akan aku samarkan yaa demi keamanan 🙂

Sebut saja namanya Lulu, wanita berusia 34 tahun yang belum menikah dan sudah tiga kali rawat inap di RSJ. Pertemuanku dengannya sebenernya setelah aku menjalani hampir setengah periode magang. Saat aku pertama kali bertemu perawakannya lusuh, kusut, dan berantakan seperti orang yang tidur terlalu lama. Walau hari itu kami baru pertama kali bertemu, tapi Lulu sudah banyak bertanya tentang apa yang aku lakukan. Beberapa kali tanpa aku tanya ia selalu bercerita bahwa ia adalah seorang yang cerdas, punya tingkat pendidikan setaraf S2 dan baru saja menyelesaikan S3. Kala itu aku hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakannya. Segera aku mulai melihat rekam medisnya untuk aku pertimbangkan sebagai calon klien yang akan aku dampingi. Wolaa… ternyata dia memenuhi kriteria dan segera aku catat dalam buku note ku.

Keesokan harinya aku mulai mewawancarainya. Perkataanya memang ngalor ngidul, tapi inti omongannya adalah ia orang yang hebat, pintar, berpengalaman namun memiliki sifat manja dan selalu ingin dilayani. Lulu juga mengungkapkan bahwa ia ingin sekali punya mobil mewah dan rumah berlantai tiga dengan cara mejual rumah satu-satunya yang dimiliki ibunya.

Sehari dua hari berselang, aku memutuskan untuk janjian bertemu dengan kakak laki-lakinya.  Tujuannya satu, yaitu untuk mengkonfirmasi apa yang sudah Lulu ceritakan padaku. Ternyata tak semua yang Lulu ceritakan padaku itu salah dan beruntungnya Kakaknya menceritakan semua kronologis riwayat Lulu padaku.

Jadi sebenernya, Lulu adalah anak yang sangat di manja oleh orang tuanya. Semua yang Lulu inginkan selalu diusahakan mati-matian oleh orangtuanya. Dari lima bersaudara, hanya Lulu seorang lah yang tamatan S1 sedangkan saudara lainnya hanya tamatan SMA. Kebiasaan selalu dilayani oleh orang tua membuat Lulu menjadi sulit untuk mandiri, namun kontrasnya Lulu selalu menuntut agar semua keluarganya menuruti perkataanya, yap karena dia merasa dialah yang paling pintar karena berpendidikan lebih tinggi.

Dalam prosesnya Lulu berubah menjadi pribadi yang senang menuntut dan sulit menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginanya. Yang ada dalam benaknya adalah ia harus melebihi orang lain, entah bagaimanapun caranya. Sebenernya suatu keadaan yang sangat kontras, disatu sisi ia sangat ingin lebih dari orang lain namun disisi yang lain ia sangat tergantung pada orang lain.

Dalam situasi yang sudah jauh lebih baik dari perama kali aku bertemu dengannya, aku iseng-iseng bertanya padanya mengapa ia sangat ingin memiliki mobil padahal dia tak bisa menyetir dan keadaan orangtuanya sangat pas-pasan. Tanpa ragu Lulu menjawab,

Ya aku harus punya mobil, temen-temenku di kampus pada punya mobil masa aku nggak punya mobil.

Bisa di tebak, hingga saat ini Lulu belum memiliki mobil, namun ia sudah memiliki satu motor matic yang selalu bertengger di kamarnya dan tak pernah digunakan. Alasannya satu, ia ingin motornya selalu terlihat mulus agar beberapa tahun lagi nilai jualnya bisa lebih tinggi dari harga beli.

Sebenernya, hampir semua tuntutannya adalah hasil dari dirinya membandingkan dirinya dengan orang lain. Tuntutan yang terlampau tinggi serta tidak realistis dengan kemampuannya membuat pikirannya terpecah dan kacau. Hingga saat ini Lulu tak pernah tau apa yang sebenernya ia butuhkan, yang ia tahu hanya menuntut keadaan.

Dari sekelumit cerita Lulu diatas aku bisa mengambil banyak pelajaran bahwa selalu  membandingkan diri dengan orang lain tak akan bisa memperbaiki keadaan. Yang ada hanya menumpuk ambisi sedikit demi sedikit dalam diri yang malah dampaknya merusak keadaan. Ada yang bilang, ketika kita tidak membandingkan diri dengan orang lain kita hanya akan menjadi manusia dibawah rata-rata dan tak akan bisa berkembang. Padahal, manusia diatas rata-rata adalah manusia yang selalu mensyukuri apa yang dia dapatkan, membandingkan dirinya bukan dengan orang lain namun dengan dirinya sendiri, serta selalu mengukur kemampuan apa yang dimiliki.

Jadi, mau sampe kapan kamu akan terus membandingkan dirimu dengan orang lain?

Inget, diatas langit ada langit …

Cheers!

 

ODHA B.A.H.A.G.I.A

Kali ini aku pengen nyeritain tentang pertemuanku dengan seseorang yang luar biasa. Kenalkan, beliau adalah Pak Widodo atau biasa disapa dengan Pak Wid. Beliau bukanlah artis atau pejabat daerah yang banyak bersliweran di media cetak hehe, namun menurut beliau adalah salah satu orang cukup menarik perhatianku.

Pertama kali aku mengenal beliau ketika menghadiri suatu acara 2 tahun yang lalu. Kala itu aku tak terlalu banyak ngobrol dengan beliau, yang aku tahu beliau adalah Odha (orang dengan HIV/AIDS) yang aktif memberikan dampingan pada sesama Odha lainnya. Pak Wid tergolong orang yang friendly dan easy going. Walaupun kala itu kami baru ketemu tapi beliau mudah ngeblend sama kami yang usianya jauh dibawahnya.

Setelah dua tahun tak bertemu, akhirnya bulan lalu Tuhan mempertemukan kami kembali di acara Rumah Aira. Awalnya aku tak menyadari ada beliau di acara tersebut, namun tiba-tiba beliau langsung menghampiriku dan menjabat tanganku sambil sumringah. Waaw aku kaget! Jujur aja waktu itu aku lupa nama beliau tapi aku sangat ingat dengan perawakannya yang tinggi dan kumisnya yang khas.  Tanpa pikir panjang, aku langsung minta nomor hp sambil mengingat kembali siapa nama beliau wkwkw.

Mungkin bagi beberapa temen FBku sudah sangat familiar dengan Pak Wid dan sudah tau siapa beliau berikut dengan latar belakangnya. Namun bagiku, Pak Wid adalah sosok yang belum terlalu aku kenal. Jujur saja aku masih penasaran dengan cerita hidup Pak Wid sebenernya gimana. Dengan tekad kepo level tinggi akhirnya aku menghubungi Pak Wid dan janjian buat nongkrong bareng.

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu di food court sebuah mall. Begitu Pak Wid dateng aku langsung menawarkannya minuman sambil aku juga jajan hehehe. Tak beberapa lama minuman datang dan kami mulai percapakan yang semi serius tapi tanpa spaneng.

Pak Wid cukup terbuka ketika aku banyak bertanya tentang latar belakangnya bagaimana sampai bisa terkena HIV/AIDS. Pak Wid menyadari bahwa apa yang dialaminya saat ini tak terlepas dari perilaku buruknya ketika semasa muda dulu. Dengan tanpa basa-basi Pak Wid bercerita bahwa dulunya ia adalah seorang pemakai narkoba. Hampir semua jenis narkoba pernah beliau cicipin dari tahun 1993 hingga tahun 2002. Tak hanya segala jenis narkoba aja yang udah pernah Pak Wid cicipin tapi segala jenis body katanya juga sudah pernah Pak Wid cicipin atau bisa dibilang beliau dulu penganut faham free sex. Pak Wid juga cerita gaya hidupnya itu ditunjang dari pekerjaannya yang bertemu banyak orang. Jadi bisa dibilang Club atau diskotik itu adalah rumah keduanya mencari kesenangan. Jadi mau make narkoba jenis apa aja dan berapa kali ganti pasangan itu adalah hal yang mudah baginya.

Pak Wid mengaku bahwa sangat sulit lepas dari narkoba, namun Pak Wid benar-benar bisa lepas dari narkoba ketika terpalang oleh Undang-Undang Narkotika. Jadi pada saat itu UU Narkotika memberikan sanksi hukuman kurung bagi pengedar maupun pemakai. Mulai saat itu Pak Wid bertekad untuk lepas dari narkoba dan sampai saat ini beliau sudah bebas dari jeratan narkoba.

Setelah bebas dari narkoba, suatu hari Pak Wid jatuh sakit hingga opname sebanyak 4 kali dalam setahun. Kala itu Pak Wid cerita kalo beliau udah nggak bisa apa-apa. Bayangkan aja kala itu CD4 nya hanya 16 dan berat badannya hanya 36 kg, padahal jumlah CD4 pada orang normal itu sebanyak +/- 500. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan infeksi. Pak Wid bercerita dia sampai nggak bisa jalan. Mulai dari situlah Pak Wid baru tahu bahwa ia sudah terinfeksi HIV/AIDS. Kaget pasti, tapi beliau terus berjuang untuk kembali bangkit selama 3 tahun, hal tersebut berkat dari dukungan saudara dan lingkungan terdekatnya. Lambat laun Pak Wid kembali bisa berjalan hingga bisa mengendarai sepeda motor lagi.

Mulai dari situ Pak Wid bisa kembali bertemu dengan banyak orang terlebih teman-teman yang senasib dengannya. Pak Wid banyak berkumpul dengan ODHA lain dan sering menjadi tempat curhat. Tanpa pernah mengeluh, Pak Wid tetap menerima curhatan dari teman-temannya. Pak Wid mulai menyadari bahwa keberadaanya ternyata cukup dibutuhkan bagi teman-teman, hingga akhirya Pak Wid berinisiatif membentuk Komunitas Odha Ohidha Semarang atau disingkat KOOS. Dengan adanya KOOS, Pak Wid menjadi lebih bisa maksimal dalam memberikan pendampingan pada Odha. Menurutku beliau salah satu orang yang sangat totalitas dalam memberikan pelayanan, bayangkan saja nomor handphonenya sampai ada 3 dan semuanya berbeda operator. Tujuannya adalah untuk mempermudah komunikasi bagi Odha dampingannya.

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Aku salut pada Pak Wid yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu membangkitkan semangat hidup teman-teman Odha lain. Baginya suatu keberkahan bisa melihat orang yang ia dampingi bisa kembali tersenyum dan bersemangat menatap kehidupan kembali.

Aku percaya pasti diluar sana banyak Pak Wid lain yang juga berdedikasi pernuh untuk membantu orang lain dalam meningkatkan kualitas hidup Odha. Aku hanya bisa berdoa agar beliau-beliau di berikan kesehatan serta umur panjang agar bisa menularkan semangat kepedulian bagi banyak orang lagi.

Sebenernya lewat postingan ini aku ingin menyampaikan bahwa apapun keadaan yang kita alami dan seburuk apapun cobaan yang sedang kita hadapi, kita tetep berhak untuk BAHAGIA. Karena BAHAGIA yang menentukan kita sendiri, bukan orang lain.

Selain itu, dalam case Pak Widodo aku juga bisa mengambil pelajaran bahwa selagi muda kita perlu berhati-hati dalam pergaulan, salah satunya pergaulan yang beresiko tinggi. Dan perlu dipahami juga kalo tak semua Odha memiliki latar belakang perilaku beresiko seperti beliau, banyak juga diluar sana yang terinveksi HIV akibat dari kesalahan medis, korban perkosaan, dan lain sebagainya Jadi stop hobi menggenalisir atau menyamaratakan setiap case.

The most important thing that i wanna share, please dont judge some one else by cover or by their background. Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi kedepannya. Termasuk saya ini yang jauh dari sempurna ceileh haha 😀

Terima kasih Pak Wid sudah menyempatkan waktu dan berbagi cerita denganku.

“Tak ada yang mau menjadi Odha, tapi pasti semua ada berkahnya.

Dan saya memutuskan untuk BAHAGIA – Pak Widodo”

Cheers!!

Tak Perlu Lanjut Kuliah S2 Profesi Psikologi

Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah postingan FB temen tentang kegalauannya untuk lanjut S2 profesi psikologi atau lanjut kerja ketika sebagian teman-temannya melanjutkan ke jenjang profesi. Disisi lain, aku juga membaca postingan seorang teman tentang keinginannya lanjut kuliah S2 Psikologi  karena ingin belajar lebih dalam tentang kejiwaan untuk membantu orang lain walau latar belakangnya bukan berasal dari S1 Psikologi. Keduanya punya keinginan sama, ya sama-sama ingin lanjut S2 Psikologi.

Sebelum aku cerita lebih lanjut tentang case diatas, aku pengen benget cerita mengapa aku akhirnya memutuskan untuk mengambil kuliah S2 profesi psikologi.

Aku lulus S1 dalam waktu yang lumayan lebih cepat dari kebanyakan temen-temen lainnya. Kelulusanku yang relatif lebih cepat itu bukan berarti aku lebih pintar dari temen-temen yang lain, aku menyadari banyak temen-teman seangkatanku yang jauh lebih pintar dariku. Aku hanya sedikit lebih rajin saja. Dan jujur saja sebenernya pada saat itu aku belum menentukan arah aku ada pada bidang psikologi apa. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah dengan aku bisa lulus cepat otomatis aku bisa memiliki pengalaman bekerja lebih cepat tanpa mengganggu kuliah.

Setelah lulus aku mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai HR di sebuah lembaga pelatihan yang baru saja didirikan. Walau lembaga tersebut terbilang baru, namun aku belajar sedikit banyak tentang sebuah sistem perusahaan. Dalam prakteknya aku banyak membaca buku tentang PIO (Psikologi Industri dan Organisasi), semakin banyak membaca aku semakin nggak ngerti haha. Mungkin kalo dipaksaksain, aku bisa mengerti tentang sistem sebuah perusahaan dari sisi HR namun aku akan sangat kesulitan untuk mendalaminya dan menjalankannya dengan hati yang gembira, karena aku sadar PIO bukanlah bidang yang aku sukai.

Setelah aku tak lagi bekerja sebagai HR, munculah sebuah peluang belajar bidang psikologi yang lain yaitu bidang seksologi ketika aku bekerja di Lokalisasi Sunan Kuning. Kala itu aku hanya bekerja sebagai petugas lapangan, namun aku menemukan sebuah kenikmatan dalam mendalami psikologi khususnya dalam hal seksualitas manusia. Aku menemukan banyak kasus-kasus psikologis dan mulai berpikir apa yang bisa aku lakukan kedepan dengan kasus yang aku temukan tersebut.

Oleh karena itu barulah aku memutuskan untuk mantap mengambil kuliah S2 Profesi Psikologi, karena menurutku aku membutuhkan pijakan ilmu psikologi yang lebih dalam lagi. Sebenernya, ortu sudah mendesak untuk segera lanjut kuliah setelah lulus S1. Tapi aku memilih untuk mencari pengalaman dulu, tujuannya bukan apa-apa tapi untuk lebih siap dan lebih mantap lagi dengan apa yang akan aku pelajari. Karena menurutku akan sangat sia-sia ketika aku lanjut S2 Profesi (khususnya) namun aku belum tau kemana arahku kedepannya.

Awal kuliah S2, beberapa dosen akan menanyakan alasan mengapa lanjut S2? Mengapa memilih bidang Klinis Dewasa? dll. Bahkan di awal semester, ada seorang dosen yang langsung menyuruh membuat tugas penelitian setaraf skripsi tentang bidang psikologi apa yang ingin didalami.

Buatku secara pribadi kuliah profesi itu tidak terlalu berat untuk dijalani, hanya saja penuh dengan tantangan yang membuatku lebih tangguh lagi. Aku sengaja menshare tentang cerita praktek / magang di RSJ, RS, dan Panti Jompo agar teman-teman yang ingin lanjut S2 Profesi tahu gambarannya gimana. Kesulitan itu pasti ada, tapi yakinlah pasti ada jalan untuk menyelesaikan kesulitan tersebut.

Sebenernya aku rada miris ketika tau ada beberapa mahasiswa yang alasannya lanjut S2 hanya karena title, gak ada kerjaan, daripada nganggur, nyari jodoh, atau karena ikut-ikutan temen. Memang hak semua orang punya alasan seperti itu, tapi menurutku dipikirkan ulang saja daripada hanya jadi lulusan psikolog yang nggak ngerti arahnya mau kemana.

Dalam mengambil sebuah keputusan pasti saja ada yang dikorbankan, seperti aku yang harus pending kerja dulu demi fokus untuk kuliah. Namun bagiku apa yang aku korbankan wajib aku pertanggung jawabkan dengan aku benar-benar bisa menjadi psikolog di bidang yang sesuai dengan hati nurani dan pastinya bisa berdedikasi penuh pada pekerjaan kedepan.

Postingan ini tidak bermaksud menyombongkan diri karena aku sudah dalam proses mendalami bidang yang aku minati. Aku menyadari butuh usaha dan waktu yang tidak sebentar untuk tau apa minat dan passion kita. Oleh karena itu tak perlu terburu waktu, nikmati setiap proses yang kamu jalani saat ini. Kalo memang benar jalanmu di psikologi, percayalah Tuhan akan menunjukan jalan bidang apa yang perlu kamu dalami selanjutnya.  

Cheers!