Karaoke Erotis

Benernya pada postingan malem ini aku sudah menyiapkan satu weekly story tentang lokalisasi Sunan Kuning, tapi saat lagi mau nyari-nyari musik di youtube keluar suggestion video yang bikin penasaran. Begitu dibuka ternyata video itu dari aplikasi karaoke smule yang bikin aku ngakak guling-guling, terheran-heran, dan yang terakhir syoook!!

Jadi postingan kali ini aku mau ngebahas tentang beberapa video smule yang aku temuka di youtube yes..

Smule 1

Smule 1

Di video pertama, ada seorang wanita dengan menggunakan pakaian seperti anduk kimono (may be) dan seorang cowok yang pake kaos biru. Nah diawal-awal video ini, si cewek udah terlihat menggoda dengan sok-sok membenarkan posisi pakaian agar belahan dadanya terlihat lebih jelas, sedangkan diawal si cowo kaget saat mendapatkan temen duwet yang seksi. Awalnya si cowok beberapa kali berdecak kagum, geleng-geleng, menutup kedua mata dan mengucap “Astagfirullah…”. Nah, setelah beberapa lirik lagu bergantian mereka nyanyikan, ada satu hal yang bikin aku ngakak banget yaitu saat si cowok mengalami slip tongue atau awam disebut keceplosan! Nah si cowo itu keceplosan dengan lirik:

“Ku melihat kiri-kanan.. Oh dadanya

Seketika si cowok langsung menutup mulut dan tidak meneruskan bernyanyi. Sampai akhir lagu si cowok tidak melanjutkan bernyanyi, dia hanya fokus pada goyangan si cewek..

 

smule 2

smule 2

Video yang kedua ini menurutku emang rada gak mutuh sih hahaha. Jadi ceritanya di video ini dua cewek sedang pada ajang pamer payudara. Hal yang bikin aku geli adalah si cewek baju polkadot itu sebenernya memiliki dada yang lebih kecil dari pada si cewek kuning, jadi dengan sengaja si cewek polkadot menyumpelkan dua anduk kecil di dadanya agar ukuran payudaranya terlihat sama dengan si cewek kuning, haha..

 

smule 3

smule 3

Video yang ketiga adalah video yang paling bikin aku ngakak guling-guling. Di video ini terlihat ada sepasang penyanyi duet yang kontras banget. Bagaikan air dan api deh, sumpah. Aku gak tau ya si cowok itu habis ngapain sampe dapet temen duet yang hotnya ampun-ampun. Di awal video si cewek itu seperti minta maaf dengan penampilannya dan si cowok beberapa kali mengucapkan istigfar. Aku sengaja meng-capture gambarnya lebih banyak daripada video yang lain, soalnya terlihat disini sebuah dinamika psikologis yang komplit banget. Si cowok ini diawal sangat amat denial dengan apa yang dia lihat, dengan beberapa kali mengelus dada, menutup mata, bahkan sampai dibacain Ayat Kursi segala, tapi semakin lama si cewe bergoyang sambil bernyanyi si cowok mulai terambil fokusnya dan seperti terhipnosis dengan adegan tersebut. Walaupun dia berusaha menutup matanya dengan kopiahnya, tapi matanya tetap fokus di adegan si cewek. Tapi, diakhir duet si cowok tetap mengucapkan istigfar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Hihi

smule 4

smule 4

Video yang keempat ini menurutku video yang paling parah dan gak banget. Untuk video ini reaksiku gak seperti video yang lain. Jadi ini adalah dua video yang berbeda dengan salah satu penyanyi yang sama. Si cewek baju kuning ini di video pertama memang sudah memperlihatkan gerakan erotis dengan mengelus-elus buah dadanya dan sesekali membuka bajunya dengan memperlihatkan bra warna hijaunya. Sedangkan di video yang kedua, si cewek kuning melakukan hal yang lebih lagi yaitu dengan benar-benar memamerkan payudara tanpa tertutup bra.

Sedangkan dari teman duwetnya, aku juga menemukan dua hal yang berbeda. Si cowok pertama berespon hampir serupa dengan cowok-cowok yang aku bahas sebelumnya. Menolak melihat hanya diawalnya saja. Usianya pun terlihat masih remaja. Sedangkan si cowok yang kedua memang tidak memperlihatkan secara jelas wajahnya, tapi dia malah memperlihatkan kemaluannya. Walaupun tidak sefulgar si cewek, tapi beberapa kali si cowok melakukan masturbasi walau masih menggunakan celana dalam.

Lalu apa kesimpulannya dari beberapa video smule yang aku bahas diatas?

Nah kesimpulanya ada beberapa, yaitu:

  1. Pilih-pilih ketika mau duet. Periksa dulu semua rekamannya, profilnya dll, agar gak kejebak seperti si cowok berkopiah. Niatnya mau nyanyi malah baca ayat Kursi kan malah repot haha..

  2. Aplikasi Sing! By Smule kini sudah mulai beralih fungsi. Selain sebagai media karaoke, aplikasi ini juga bisa sebagai media cyber sex atau virtual seks di mana pertemuan dua orang atau lebih terhubung dari jarak jauh melalui jaringan komputer dan internet dengan saling mengirimkan hasrat seksual secara eksplisit baik melalui pesan teks, audio, dan video. Nah kan terlihat dari gaya-gaya erotis beberapa wanita yang udah aku capture sama ada cowok yang malah masturbasi. Sebenernya ada juga loh video smule yang merekam adegan seks sambil menyanyi. Tapi memang sengaja gak aku munculkan.

  3. Yang terakhir adalah seks itu bisa menjadi media hipnosis. Lihatlah beberapa ekspresi cowok yang tercapture sedang fokus melihat tubuh bahenol dan gerakan yang aduhai cewek-cewek tersebut. Jadi hipnosis itu macamnya banyak, gak hanya yang dibuat tidur aja..

Cheers!

“If I Die Tomorrow…”

Hampir tiga minggu aku dan suster praktek di sebuah rumah sakit. Hiruk pikuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa untuk kami, rengekan anak-anak, hilir mudik para koas yang membuntuti seorang dokter, perawat yang selalu sibuk memeriksa pasien dan tak jarang kami juga sering mendengar derit suara gelindingan beberapa pasang roda membawa oksigen maupun membawa alat medis lain.

Hari Selasa itu semua terasa biasa saja. Mengawali hari aku dan suster berpencar untuk menjenguk pasien dampingan masing-masing. Pasienku yang kemarin merintih pusing karena vertigo kini sudah mulai membaik dan sudah banyak bercerita denganku, sedangkan pasien suster seorang ibu lanjut usia yang terserang stroke kini wajahnya sudah bisa tersenyum dan tak semuram kemarin. Hari itu aku merasa semua berjalan biasa saja, sehingga aku memutuskan untuk duduk bersandar di ruang transit perawat sambil membenahi beberapa laporan.

Baru saja 10 menit aku membuka laptop, terdengar salah satu perawat magang berlari sambil berteriak “Oksigen, Mbak!”

Sontak semua perawat langsung berdiri dan bergegas menuju sumber suara. Saat itu aku masih belum terlalu ngeh apa yang sedang terjadi. Aku masih fokus dengan laptopku dan sesekali membuka handphone. Keadaan diluar semakin gaduh dan aku pun merasa ada yang tidak beres.

Aku langsung keluar ruang transit perawat bersama suster untuk mencari tahu kamar nomor berapa yang sedang dalam keadaan “darurat”. Aku melihat beberapa penjenguk pun ikut berdiri melihat ke arah yang sama dan itu adalah kamar nomor 16.

Aku kaget, karena itu adalah kamar seorang wanita muda yang kemarin baru saja aku jenguk. Kemarin ia tampak sangat lesu dan beberapa kali merengek kesakitan. Ia di temani dua orang temannya yang dengan sabar memijat kedua kakinya. Aku pribadi tak tahu apa jelas sakitnya, aku hanya memegang kakinya yang terasa dingin dan basah karena keringat. Aku tak berani mengajaknya ngobrol lebih lama karena melihat kondisinya yang lemah.

Semua pertolongan darurat sudah dilakukan oleh perawat. Namun sayang, nyawanya tidak bisa tertolong. Saking tak percayanya aku mengkroscek dengan beberapa perawat magang yang ikut menangani pasien tersebut sebelum meninggal. Sungguh semua berjalan mendadak dan tak terduga. Wanita muda 18 tahun itu kini sudah terbujur lemas tanpa nafas.

Kejadian yang serba mendadak tersebut membuatku kembali merefleksi diri. Usiaku kini sudah 24 tahun, namun masih banyak hal yang belum aku perbaiki dalam diriku, pencapaian dan pengabdianku pun masih sangat minim. Padahal, berpikir kematian tak selalu buruk, seperti yang mendiang Steve Jobs lakukan untuk bisa terus berkarya dengan pemikiran “If I Die Tomorrow”.

Waktu itu misteri, apalagi nyawa yang bisa diambil kapan saja oleh Tuhan.

Selamat jalan, hey wanita muda. Semoga jalanmu diberi kemudahan di Bulan Penuh Berkah ini.

Cerita Sejarah Pelacuran Indonesia

Tak dipungkiri bahwa keberadaan pekerja seks memang sudah sangat menyejarah. Hampir setiap peradaban umat manusia tidak pernah absen dari yang namanya sosok seorang wanita penghibur. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa profesi pekerja seks adalah profesi yang sudah sangat tua keberadaanya. Dari zaman Mesir kuno hingga Perang Dunia Ke II selalu terselip kisah tentang kehidupan pelacuran.

Di Indonesia sendiri, keberadaan pelacuran sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dan semakin menjamur hingga datangnya para  penjajah ke Indonesia. Kita semua tau bahwa  keberadaan pelacuran di Indonesia memang sudah terang-terangan mendapat penolakan hampir dari semua golongan, mulai dari golongan berjubah hingga golongan berdasi. Namun, dibalik penolakan tersebut ada fakta sejarah yang menyebutkan bahwa ada yang mengkaitkan Ir. Soekarno, pelacuran dan kemerdekaan Indonesia. Dalam otobiografi menceritakan bahwa beliau pernah memberdayakan pelacur profesional sebagai solusi menyelamatkan gadis-gadis desa dari kebringasan para tentara Jepang.

“Semata-mata sebagai tindakan darurat, demi menjaga para gadis kita, aku bermaksud memanfaatkan para pelacur di daerah ini. Dengan cara ini, orang-orang asing dapat memuaskan keinginannya dan sebaiknya para gadis tidak diganggu,” beber Soekarno.

Selain itu juga dalam perjuangan mencapai kemerdekaan, ternyata Pak Soekarno juga menggunakan tempat pelacuran sebagai tempat rapat kaum pergerakan demi mengelabuhi para Intel Belanda. Dan yang bikin aku kaget, dalam otobiografinya juga diceritakan bahwa beliau juga menggunakan jasa pekerja seks sebagai mata-mata tentara Belanda walaupun pada saat itu banyak yang menentang. Menurut Pak Soekarno, dengan kemampuan merayu para pelacur ini bisa menggali banyak informasi dari orang-orang Belanda yang jadi pelanggannya.

Dari berbagai sejarah terbukti bahwa kegiatan pelacur memberikan andil yang tidak kecil, sehingga tidak mengherankan bila pelacur itu bisa dijadikan sebagai senjata politik bagi mereka yang tak bisa mengontrol birahi. Walau demikian, pelacuran memang masih belum bisa di terima dengan tangan terbuka di Indonesia. Banyak penolakan sana-sini yang menginginkan penutupan semua lokalisasi. Aku pun setuju, bahwa lokalisasi yang tidak diatur dengan semestinya akan menimbulkan masalah sosial baru di masyarakat.

Secara resmi, memang aturan hukum tentang pelacuran di negara kita tercinta ini masih sangat tidak jelas arahnya. Semakin tidak jelasnya pengaturan tentang pelacuran maka munculah pula permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks, kususnya permasalahan sosial dan kesehatan. Semakin banyaknya masalah yang timbul dan tiap tahun jumlah pelacur yang semakin meningkat maka pemerintah mulai membentuk badan-badan sosial, salah satunya dengan pendirian pusat resosialisasi. Resosialisasi yang biasa disingkat dengan Resos adalah sebuah sistem kesejahteraan sosial untuk menciptakan keadaan sosial yang lebih baik bagi orang-orang yang mengalami masalah sosial tertentu. Namun sayangnya, pelacur dalam resosialisasi tetap saja mengalami konflik negatif.

Di Indonesia terdapat beberapa pusat resosialisasi, salah satunya yang berada di Semarang yaitu bernama Resos Argorejo. Resos Argorejo berdiri sejak tahun 1966 yang pertama kali disebut sebagai lokalisasi Sri Kuncoro, karena terletak di Jalan Sri Kuncoro. Namun masyarakat sekitar seringkali menyebutnya sebagai lokalisasi Sunan Kuning karena didalamnya juga terdapat petilasan seorang tokoh Tionghoa penyebar agama Islam yang dikenal denagan Sun-Kun-Ing. Lokalisasi ini dulunya sempat ditutup dan beberapa kali berpindah lokasi, sebelum akhirnya menetap di kawasan Kalibanteng Semarang hingga saat ini. Meski SK bukan satu-satunya kawasan lokalisasi di Semarang, namun nama SK-lah yang paling tersohor.

Tugas Pelayanan Itu Yang Utama

Tak terasa ternyata udah hampir satu minggu aku pindah praktek dari RSJ ke RSU. Seneng rasanya karena ini pertanda masa praktek sudah mau habis, hehe. Tapi, dibalik rasa seneng itu terselip rasa gundah yang cukup mengganjal hati. Kegundahan itu adalah aku harus lebih teliti lagi untuk mencari kasus yang lebih spesifik lagi. Huwaaaa…..

By the way, di tahap terakhir praktek ini aku beruntung banget karena disandingkan dengan Suster Stella. Oh ya, suster yang aku maksud bukan perawat lho tapi suter seorang biarawati. Suster Stella itu beda dengan suster lain yang terkesan (maaf) galak dan agak cerewet hehehe. Suster Stella itu orangnya gaul dan bisa ngeblend banget sama anak-anak muda yang umurnya jauh dibawahnya. Selain itu, Suster yang pembawaanya sangat hangat sering kali bisa merubah suasana tegang menjadi lebih tenang.

Selain Suster tipikal orang yang unik, menurutku suster juga mempermudahku dalam menjalani praktek di RSU. Secara tidak langsung dengan bahasa tubuhnya, Suster mengajarkanku dalam mendekati pasien mengutamakan pelayanan daripada untuk tugas. Maksudnya, sisi empati yang ditunjukan ketika menganggap apa yang dilakukan adalah sebagai tugas pelayanan akan berbeda bila hanya sebagai untuk sebatas untuk memenuhi tugas praktek.

Dari “mindset pelayanan” tersebut, ternyata memberikan efek memudahkan pada pengerjaan tugas praktek. Aku yang awalnya kikuk ketika ingin mengetuk pintu kamar pasien, kini aku mulai bisa santai dan lebih tenang, karena aku menganggap bahwa aku sedang “memberikan” pelayanan pendampingan bukan untuk “mendapatkan” bahan tugas laporan. Cara pendekatan dengan pasien pun juga akan lebih halus dan lebih mengalir, sehingga pasien akan cenderung lebih nyaman ketika diajak ngobrol.

Tantangan yang aku hadapi saat praktek RSU juga terkait pada pemilihan kasus yang lebih spesifik. Sebagai calon psikolog, aku membutuhkan keterampilan untuk lebih jeli membidik permasalahan psikologis yang menimbulkan permasalahan fisik. Pasien RSU memang banyak, tapi yang memenuhi kriteria sangatlah sedikit. Jadi begitulah, butuh kesabaran dalam mencari kasus.

Terkadang, aku menjadi lebih sering mengobrol dengan keluarga pasien yang kasusnya tidak masuk kriteriaku. Maksudnya, walaupun si pasien tidak masuk list pencarianku tapi aku tetap memberikan pelayanan pada pasien dan keluarganya. Karena dalam pendampingan pasien itu sebenernya tidak memandang kriteria kasus, yang penting adalah terlihat bahwa si pasien dan keluarga memang sedang membutuhkan pendampingan secara psikologis.

Selain itu praktek S2 dibarengi sama praktek S1 yang bikin usaha untuk tetap tegar lebih kuat lagi wkwkwkw. Karena terjadilah perebutan pasien antara senior dan yunior. Hal yang bikin rada kesel adalah ketika aku sedang proses menjalani rapport dengan pasien, eh tiba-tiba pada nylonong masuk dan merusak suasana yang udah aku bangun sedemikian rupa. Ampun dijeeeee!!

Dari semua kejadian itu, memberikan pesan moral bahwa menjadi seorang psikolog ketika sudah terjun itu perlu fleksibilitas yang tinggi. Apapun tantangannya, psikolog itu gak akan kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang timbul. Karna aku yakin, pasti suatu saat nanti ketika aku sudah menjadi psikolog tantangan yang muncul akan lebih daripada ini. Jadi butuh latihan mental mulai saat ini, wkwkwkw.

Dari Suster Stella aku juga belajar bahwa segala sesuatunya perlu dikerjakan dengan hati. Pinter aja gak cukup bila hatimu kering dan tak ada mata air yang bisa menyejukan hati orang lain.

Ecieeeee sadis! 😀

Waktu adalah Persepsi

Banyak orang bilang kalo waktu itu berjalan sangat cepat. Gak kerasa tiba-tiba udah malem aja. Biasanya, kecepatan waktu akan bertambah dua kali lipat ketika musim liburan dateng, apalagi long weekend kek ginian.

Ngomong-ngomong soal waktu, ternyata ada kalanya waktu terasa sangat lambat. Lambatnya waktu terasa bahkan sampai perdetiknya. Waktu akan terasa sangat lambat ketika kita sedang dalam peristiwa yang tidak diinginkan, misal nih ketika sidang skripsi, nungguin jemputan pacar, atau bisa juga nungguin bis kosong yang lewat ketika jam padat. Namun ada satu peristiwa lagi yang membuat waktu terasa sangat amat lambat. Yaitu ketika berada di panti Jompo.

Seumur-umur, aku baru dua kali berkunjung ke panti Jompo. Yang pertama di akhir tahun 2013, saat itu adalah kunjungan ke sebuah Panti Jompo yang berada di Jogja. Kemudian yang kedua kali adalah saat aku kerja praktek di Panti Jompo daerah Semarang. Sebenernya semua panti jompo sama yaitu sebuah panti yang ditinggali para lansia. Namun, setiap panti selalu memiliki karakteristik yang berbeda. Mulai dari sisi pelayanan, daya tampung, fasilitas, lokasi, dll.

Panti jompo yang pertama kali aku kunjungi adalah panti jompo yang di kelola oleh pemerintah daerah. Lokasinya cukup terpencil dan akses jalannya pun sebagian masih kerikil. Walaupun untuk mengaksesnya butuh perjuangan, namun ketika sudah sampai di lokasi pemandangan dan hawa sejuk sebuah desa masih menyambutku. Sejuuk lah pokokmen. Tapi, dibalik kesejukan alam itu ada hal yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi. Ternyata daya tampung panti Jompo tersebut sudah melebihi batas, sehingga dalam satu pondokan terasa cukup sesak. Banyaknya penghuni panti tidak sebanding dengan petugas. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana kerepotan dan kurang terpenuhinya pelayanan secara maksimal. Untuk kunjungan awal ini terasa singkat, karena memang diberi kesempatan hanya 3 jam saja.

Namun pengalaman kedua ini terasa sangat amat berbeda, yaa ketika praktek di sebuah Panti Jompo yang berada di tengah kota.

Sepintas, bangunan panti ini terkesan masih oldschool.. Kesan kunonya masih sangat terasa, walau sudah dicat dengan warna yang cerah. Berbeda dengan panti sebelumnya, panti ini dikelola oleh pihak swasta. Semua terlihat sangat terurus dengan rapi. Ada tamannya, ada air terjun mininya, fasilitas keamanan 24 jam serta beberapa perawat yang sesekali bersliweran dengan seragam batiknya. Tipikal penghuninya juga berbeda. Di panti yang pertama, sebagian besar penghuninya beretnis Jawa, sedangkan pada panti yang kedua sebagian besar beretnis Tionghoa.

Pada kesempatan kerja praktek ini lah persepsiku terhadap waktu berubah. Di hari-hari awal, semua masih terasa biasa saja, seperti keseharianku di kampus. Melihat derap kaki yang cepat dan gerak tubuh yang enerjik sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun berbeda ketika memasuki hari ketiga hingga hari ketiga puluh. Waktu terasa sangat amat lambat.

Perubahan persepsi terhadap waktu ternyata sangat dipengaruhi dimana aku berada. Setiap harinya aku melihat wajah sendu para lansia, derap langkah yang sangat perlahan daan penuh dengan kehati-hatian, serta aktivitas yang sangat amat minim.

Terkesan memang sangat membosankan. Namun disini aku menemukan keheningan di tengah pikuknya keramaian kota. Bagiku, panti jompo bisa menjadi tempat untuk sedikit memperlambat laju pikiranku dan mempertajam lagi “kesadaranku”. Dengan merasa waktu menjadi lambat, aku mulai bisa belajar bagaimana rasanya menikmati langkah kakiku. Kesadaran dimana aku berada, sedang apa aku, dan siapakah aku, mulai terungkap ketika  menikmati lambatnya waktu di panti jompo itu.

Aku menyadari bahwa waktu adalah persoalan persepsi. Seringkali aku merasa dikejar oleh waktu, padahal kenyataannya waktu tak pernah mengejarku. Rasa dikejar sesuatu timbul dari berisiknya pikiranku. Tak membuat pekerjaanku terselesaikan, malah sebaliknya makin berantakan.

Ada pepatah bilang,

“Terkadang, kita perlu berhenti sejenak bahkan mundur beberapa langkah untuk mempersiapkan lompatan yang lebih tinggi.” – nn

 

Bakso Kepala Bayi

Jogjakarta, 29 Mei 2016

Perjalanan ke Jogja kali ini sudah di persiapkan dengan baik. Udah dari hari Selasa aku menghubungi pihak rehabilitasi untuk meminta izin berkunjung kedua kalinya untuk pengambilan data. Sebenernya kunjungan kali ini ada misi pendekatan dan orientasi wilayah setempat, jadi preparenya lebih mateng. Secara planing, aku and the gank bertolak dari Semarang jam 6 pagi, terus balik lagi ke semarang maksimal jam 3 sore.

Rencana sudah matang, tapi eksekusinya rada molor karna aku kesiangan, hahaha. Jadi mulai berangkat jam 6.30. Perjalanan berangkat berjalan sangat lancar. Ya normalnya perjalanan Semarang-Jogja yangbdi tempuh hampir 3 jam. Kami dari Semarang m3mang merencanakan untuk tidak sarapan, soalnya kami mau makan soto batok yang lokasinya dekat dengan tujuan.

Selesai makan dan istirahat, kami lanjut ke panti rehab. Dengan wajah gembira aku turun dari mobil menuju pos untuk menulis buku tamu.

“ada keperluan apa mbak?” tanya pak satpam.

“mau ketemu pak E, sudah janjian,” jawabku semangat.

“pak E lagi pergi tu mbak, katanya mau ke bandara. Coba dihubungi dulu.”

Tanpa pikir panjang aku langsung menghubunginya. Di dalam pembicaraan yang siangkat itu terbersit bahwa beliau sebentar lagi akan sampai. Aku langsung saja meminta izin untuk menunggu di dalam. Dengan nada yang khas dia langsung meng iyakan.

Aku menunggunya mulai dari jam 11 siang. Waktu terus berjalan mendekati pukul 12. Pikirku, mungkin ia akan datang setelah makan siang. Tapi, perkiraanku meleset sampai pukul jam 14.00 ia tak kunjung datang. Aku mulai menelponnya lagi untuk menanyakan keberadaanya. Saat kutelpon, kali ini yang mengangkat seorang wanita yang ku kenal dengan nama Sis Lel. Ia mengatakan padaku bahwa Pak E sedang di perjalanan.

Okey, dengan masih penuh harap aku tetap menunggunya. Tapi waktu terus berlalu, aku mulai gelisah karena target kami pulang tak akan lebih dari pukul 15.00 wib. Perjalanan Jogja-Semarang di waktu weekend seringkali tak bisa diprediksi. Bisa jadi lebih cepat atau malah sebaliknya lebih lama hingga beberapa jam. Atas dasar asumsi itu, dengan berat hati kami memutuskan untuk pulang.

Yaa,,, kecewa karena plan yang disusun sangat jauh dari target. Tapi ya udah lah ya, prinsipku tetep teguh kalo gak ada hal yang sia-sia. Jadi aku and the gank langsung pulang sekalian cari makan. Awalnya kami mau cari makan yang sejalan dengan arah pulann. Tapi rencana itu berubah seketika aku inget kalo di Jogja ada sebuah warung bakso yang gak biasa. Jadi pernah dapet review kalo ada bakso dengan ukuran raksasa.

Kami langsung cari alamatnya dengan bantuan google map, ternyata lokasinya gak terlalu jauh darintempat semula. Langsung kami tancap gas. Wuuuuuzzzzz!!!!

Sesampainya di warung bakso klenger, langit mulai meneteskan hujan dan gak beberapa lama langsu ujan deressss banget.

Oh ya, di warung bakso klenger kami dapet meja yang sangat dekat dengan gerobak, jadi kami bisa langsung kepo ukuran baksonya. Dan uwoooow!! Gede buanget booo.

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 2 KG

Bakso Klenger 2 KG

Buku Menu - Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Buku Menu – Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Ada beberapa ukuran bakso, ada yang normal sampe ada yang ukuran 5 kg ya sebesar bola basket lah kira-kira, haha. Karena kita ngukur kantong dan ngukur perut akhirnya kami memilih bakso dengan ukuran 1 kg. Kira-kira seukuran kepala bayi, hihi.

setelah bakso datang, seketika rasa kecewa hilang. Kami semua fokus ke baksoo yang gedenya ampun-ampun. Setelah foto dari berbagai sudut, langsung kami lahap. Wkwkw

Pesan moralnya:

  1. sebelum ketemu orang penting banget untuk crosscek lagi. kadang janjian dalam sparetime waktu yang lama bisa bikin lupa.
  2. Apapun yang terjadi, ingatlah kalo gak ada hal yang sia-sia. Kita bisa merubah situsi menjadi yg kita inginkan. Lets say keyika aku batal ketemuan sama orang, toh aku bisa ttp seneng dengan bakso raksasa yang aku lahap.

cheers!! 😀

DI(KEBIRI) atau DI(KUBURI)N?

Kasus pelecehan seksual yang berujung pada kekerasan bahkan pembunuhan secara sadis entah kenapa lagi gencar banget di media. Entahlah perasaanku bilang ini hanya permainan atau memang sebenernya kejadian seperti ini menjadi semacam “trend”. Yang bikin aku kaget lagi adanya berita tentang anak SD yang diperkosa 21 pria dalam 2 hari berturut-turut. Buseet dah! Dibalik alasan itu semua memang sebenernya kejahatan seksual itu udah marak banget dari dulu. Tapi dengan kasus Yuyun, akhirnya pemerintah mulai terketuk hatinya untuk concern pada kasus pemerkosaan yang sadis itu.

Beberapa waktu lalu akhirnya Pak Joko mengetuk palu dalam memberikan pemberatan hukuman pada pelaku pemerkosaan dan pelecehan. Selain penambahan masa hukuman penjara, ada hukuman lain yang bikin jadi perdebatan sengit yaitu hukuman kebiri kimia. Aku memang baru mendengar tentang adanya kebiri kimia, setauku aku namanya kebiri itu alat kelaminnya dipotong. Aku tau kata kebiri itu dari cerita temen kalo salah satu mantan pejabat militer di Indonesia mitosnya pernah dikebiri waktu menyusup di negara lain. Tapi aku search di google kaga ada gambarnya hahaha :p

Nah, yang jadi perdebatan adalah kenapa mesti dihukum kebiri kimia? Kenapa gak sekalian aja langsung kebiri potong? Atau langsung dijatohin vonis hukuman mati tanpa menjalani proses panjang?

Menurut aku, tindakan pelecehan seksual hingga perkosaan itu memberikan impact yang sangat amat luar biasa bagi korban maupun masyarakat. Bagi korban sendiri, trauma yang dialami pastinya akan sangat mendalam dan butuh proses sangat panjang. Gak hanya luka batin aja yang akan dirasakan korban sepanjang hidupnya tapi kecenderungan mengalami gangguan jiwa juga sangat besar.

Lalu bagi yang bukan korban, secara tidak sadar mereka juga sudah mengalami suatu pengalaman traumatik tersendiri. Pemberitaan yang gencar tanpa ada pemaknaan positif dari si pembuat berita maupun si pembaca. As i know, orang Indonesia itu masih banyak banget yang kurang dalam ketrampilan pemaknaan. Jadi setiap pemberitaan atau peristiwa yang terjadi seringkali ditelen mentah-mentah tanpa dicerna dulu. Impactnya balik lagi ke anak-anak, orangtua akan semakin parno dan cemas berlebihan sehingga membatasi ruang ekspresi anak-anak. Dampaknya apa ketika ruang ekspresi dibatasin? Ya anak-anak akan jadi lebih mudah terpancing pada hal-hal yang bikin penasaran.

Jadi kesimpulanku, aku lebih cenderung setuju ke hukuman mati karena diliat dari impactnya yang sangat besar dan parah banget. Kalopun hukuman kebiri itu bagi kasus-kasus pelecehan seksual yang didasari oleh gangguan kejiwaan seperti eksibisionis, dll.  Dan pendidikan seksual itu sangat penting banget untuk anak-anak dan remaja dalam mengurangi resiko pelecehan seksual.

Gunting Terbang di RSJ

4 Mei 2016

Hari ini adalah hari ke sembilan aku praktek di RSJ. Udah mulai kaga kagok lagi kalo papasan dengan pasien yang berseliweran, saling sapa dengan pasien, dan udah mulai bisa ngikutin pola pasien RSJ. Hari-hari sebelumnya aku berasa sangat aman dan jauh dari perasaan takut, hanya saja sedikit kikuk ketika awal-awal berkomunikasi dengan pasien. Lambat laun aku juga belajar tahapan-tahapan pasien dirawat. Mulai dari pemeriksaan awal hingga fase rehabilitasi. Fase rehab adalah fase terakhir dalam rangkaian penanganan pasien.

Pasien yang masuk fase rehab adalah pasien yang sudah lolos tahap seleksi psikolog. Aku nggak tau pastinya tolak ukurnya apa, yang pasti pasien yang lolos seleksi biasanya keadaannya sudah mulai membaik. Fase rehab bertujuan untuk mempersiapkan pasien kembali ke lingkungan masyarakat.

Dalam pikiranku, pasien yang sudah masuk pada fase rehab termasuk pada tipe pasien yang sudah terkendali. Walau belum 100% pulih, namun secara emosi pasien sudah mulai “agak” stabil. Tapi kebanyakan pasien yang masuk rehab adalah pasien yang menjalani perawatannya sudah hampir 3 minggu. Jadi, aku ngrasa lebih aman ketika masuk ruangan rehab untuk nemenin pasien dampinganku melakukan kegiatan.

Seperti dengan pasien yang lainnya, aku mulai berkenalan satu – persatu. Aku menyapa dengan sesantai mungkin, tanpa terlihat menjaga jarak. Pada waktu itu di ruangan rehab ada kurang lebih 15 pasien wanita. Ada berbagai kegiatan yang mereka kerjakan. Ada yang membolak – balik majalah tanpa membacanya, ada yang hanya duduk diam menonton TV, dan banyak pula yang belajar ketrampilan menyulam.

Oh ya, ketika pertama masuk ruang rehab. Ada seseorang yang langsung menyapaku dengan suara yang keras.

“Ning ndi wae, Mbak? Kadingaren ketok. (Kemana aja mbak? Tumben nongol?).”

Aku kaget. Perasaan ini pertama kalinya aku masuk ruang rehab dan aku gak kenal siapa orang yang menyapaku. Ternyata eh ternyata, setelah aku amati, dia bernama Lis (bukan nama sebenarnya). Lis adalah mantan pasien RSJ yang bekerja di bagian rehab untuk mengajari pasien-pasien. Sejak mendapatkan sapaan dari Lis, aku merasa seperti sudah berkawan lama dengannya. hahahaha

Mulailah aku bergerilya, mendekati pasien satu persatu. Mulai dari ujung sampe ujung lagi. Hingga tiba pada seorang pasien yang hanya duduk diam tanpa melakukan aktivitas. Awalnya aku menanyakan dari mana asalnya. Namun dia tak bergeming. Wanita berponi dan berambut panjang terurai itu hanya menatapku melotot sambil bergumam nggak jelas.

Mungkin karena kurang peka kali ya, aku tetap mengajaknya berbicara. Mulai mengajaknya menyulam, hingga mengajaknya bercanda. Ternyata apa yang aku lakukan diresponnya berkebalikan. Dia merasa bahwa aku sudah menghinanya dan membuatnya semakin marah.

Tiba-tiba dia minta gunting pada temen sebelahnya, “Mbak, sini guntingnya!”

Waktu itu aku masih menyulam. Seketika, dia langsung menggunting benang yang baru aja aku tarik dari kain perca.

“Modyaaar!! (Matiiiiikkkk!!!)”, teriakku dalam hati.

Dua kali dia nglakuin hal horor kayak gitu. Pasien disebelahku, sebut saja namanya Ani mulai mengajakku untuk pindah tempat ke tempat lain yang lebih jauh.

Aku mulai ngobrol sama Ani. Ani bahkan sempet nasehatin aku kalo ketemu pasien gitu langsung pindah jauh-jauh. Baru lima menit ngobrol sama Ani tiba-tiba ada gunting mendarat deket banget sama aku.

Busssseeet dah. Tu orang paranoidnya masih parah banget, cuuuuy!!!

Si Ani cuma bilang , “Udah mbak, cuekin aja. Gak usah diliatin.”

Sumpah deh. Baru kali ini ngerasain horornya praktek di RSJ. Sempet gemeter agak lama, masih kaga percaya dengan kejadian itu. Yakin deh, pelajaran berharga banget kalo dalam lingkungan RSJ kadang segala sesuatu sangat cepet berubah dan tak terduga. Bukannya nakut-nakutin, tapi memang demikian adanya. Intinya, pengalaman ini adalah lebih belajar untuk peka lagi. Jadi sudah seleksi atau belum itu bukan patokan ya hahaha :p

Tips:

Oh ya.. bagi yang belum tau, paranoid adalah semacam perasaan curiga yang sangat berlebihan. Kecenderungan orang yang sangat paranoid biasanya kurang memiliki dan mendapatkan rasa aman. Jadi hawanya curigaaaaa mulu. Bagi kasus skizoprenia ada yang dinamakan skizoprenia paranoid, yaitu gangguan kejiwaan yang dicirikan mendengar bisikan-bisikan, halusinasi yang membahayakan dirinya. Seperti pasien Skizo paranoid akan merasa mendapat bisikan dari orang yang akan membunuhnya, merasa mendengar semua percakapan orang di dunia yang intinya menjelek-jelekan dirinya, dll.

Jadi bagi temen-temen yang baru mau praktek dan menemui pasien skizo paranoid, kuncinya tetep tenang. Cirinya mudah kok, tatapan orang dengan skizo paranoid akan lebih tajam dan seperti menscaning (melihat dari ujung kepala sampe ujung kaki) lawan bicaranya, serta cara bicaranya sangat ketus.

Ada Yori, Ada Cerita Seks

Semarang, 1 Mei 2016

Hari Minggu gini biasanya pada posting status “waktunya bobo – bobo cantik atau males-malesan kucing”. Aku juga pengennya gitu sih, apalagi hampir seminggu ini energi terkuras habis di RSJ. Tapi, Tuhan berkata lain.

Hari ini aku ketemu seorang ibu-ibu yang baru saja aku kenal memalalui FB. Sebut aja Ibu Maymunah, tapi biar keren jadi disebut Ibu Maya hehe. Ibu Maya berasal dari daerah Jawa Timur. Beliau datang ke Semarang karena tertarik dengan kegiatan komunitas kejiwaan yang aku laksanakan awal bulan ini.

Dibalik perawakannya yang kecil, Bu Maya memiliki energi yang luar biasa. Coba aja bayangin, demi untuk menghadiri acara beliau rela berangkat satu hari sebelumnya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di jalan, jadi aku sangat salut dengan kegigihan Bu Maya ini.

Dibalik kisah perjuangan yang ia ceritakan tentang hidupnya bersama dengan ODMK (orang dengan masalah kejiwaan), terselip sebuah cerita yang membuatku terheran-heran. Selain isi ceritanya, aku juga heran kenapa beberapa orang yang bertemu denganku mesti ending pembicaraan bertopik soal seks. haha

Jadi begini ceritanya, Cerita ini tercetus ketika kami sedang makan siang berdua di warteg. Bu Maya sebenarnya asli orang Jawa Tengah, karena menikah dengan orang Jawa Timur akhirnya beliau pindah ke daerah Jatim mengikuti suami. Bu Maya tinggal di sebuah Kabupaten, sebut aja Kab. Bhe.

Bu Maya bercerita kalo dia tinggal di lingkungan yang unik. Awalnya aku sih gak gubris apa maksudnya lingkungan yang unik. Tapi gak beberapa lama Bu Maya melanjutkan bahwa lingkungan rumahnya itu memiliki budaya tukar pasangan antara saudara kandung, saudara jauh, tetangga, bahkan dengan orang lingkungan lain yang masih satu kabupaten. Sontak aku kaget. “Hah?? Ciuss Bu May???!”

Dengan wajah sersan (serius tapi santai) Bu May menjelaskan bahwa tradisi itu turun temurun dari zaman PKI (Partai Komunis Indonesia) masih berkuasa dan Bu May juga menambahkan kalo wilayah yang dia tempatin itu dulunya adalah pusatnya PKI, widiiwhh…

Paham komunis yang memiliki nilai “Sama Rata, Sama Rasa” itu membuat tradisi tukar pasangan dilegalkan, pada zaman itu dan saat ini. “Jadi hal yang sangat wajar bila seorang laki-laki beristri melakukan hubungan seks dengan tetangga tanpa adanya ikatan pernikahan. Bahkan kalo si istri menolak, akan dianggap wanita yang tidak benar karena gak manut sama suami”, cerita Bu May. Aku jadi makin penasaran, yang di otakku Cuma ada kalimat “Lho kok isoooooooo??? (Lho kok bisaaaa????)”.

Bu May bercerita karena ia pernah mengalaminya. Jadi suami Bu May pernah melakukan hal tersebut, karena tidak mengerti tentang tradisi tersebut Bu May marah karena suami sudah selingkuh. Bukan permintaan maaf yang didapat, malah bogem mentah yang mendarat di tubuhnya. Bu May akhirnya melaporkan peristiwa tersebut ke pihak berwajib. Bukan perlindungan yang didapat, tapi seakan seperti hinaan. Oh Shit! Ternyata aparat desa maupun yang berwajib juga sama melakukan hal tersebut. Bu May cerita kalo laporannya tetap diterima dengan baik, tapi pihak berwajib menyarankan untuk damai saja dengan suami daripada di proses lebih lanjut. Menurutnya, hal tersebut bukan kategori perselingkuhan.

Bu May juga menjelaskan bahwa tradisi ini adalah tradisi yang sangat tertutup dan dikelabuhi oleh topeng agamis yang sangat tebal. Jadi setiap ada peneliti yang ingin meneliti fenomena tersebut akan langsung diblokir aksesnya bahkan sampai diancam. Jadi.. Ya you know Indonesia so well lah, kalo segala sesuatu yang pakai topeng agama itu pasti sudah dianggap sangat baik, jadinya fenomena ini akan dianggap bualan semata.

Aku jadi mulai ngeh kenapa pemerintah dulu mati-matian membrantas PKI. Ternyata selain sistem pemerintahannya diktator dan satu arah, nilai Sama Rata Sama Rasa ini menjadi disalahgunakan seperti yang diceritakan Bu May. Bukan pemerataan ekonomi yang dilakukan, eh malah pemerataan penyaluran nafsu seks yang dilakukan. Weh weh weh…

Jadi, masih bangga bikin kontroversi pake aksesoris bergambar Palu Arit?

Mikir!

Dari Pantura Hingga ke Jogja

Tahun ini merupakan tahun pembuktian bagi diriku, pembuktian untuk menjalani sebuah fase kehidupan yang anti-mainstream. Salahsatu keputusan besar itu adalah menjalani praktek kerja dibarengin dengan Tesis, hahaha..

Keputusan yang aku ambil itu pastinya punya konsekuensi 2x lipat lebih besar daripada hanya menjalani salah satunya saja. Salah satu  konsekuensinya adalah perlu berpikir lebih untuk mengatur waktu, energi serta pikiran.

Selama praktek kerja di RSJ, untuk mendapatkan informasi yang valid tentang kondisi klien, aku diwajibkan untuk home visit. Selain wawancara pihak keluarga, aku juga perlu mengobservasi tetang lingkungan tempat tinggal klien. Dan beruntungnya, satu dari tiga klien yang aku dampingi bertempat tinggal di sebuah Kota di daerah Pantura.

Sedangkan dalam mengerjakan Tesis, aku juga perlu memiliki data awal tentang permasalahan yang ingin  aku angkat. Tugas akhirku kali ini mengangkat tema tentang narkoba (alasan ngambil tesis narkoba akan aku jelasin di posting berikutnya yaa) di sebuah panti rehab di Jogja.

Nah… Kebetulan 16 – 22 Mei adalah minggu terakhir aku praktek di RSJ. Diakhir minggu tersebut aku memiliki waktu kosong yang bisa aku gunakan untuk Home visit serta pengambilan data awal di panti rehab.

Di tanggal 19 Mei, perjalanan panjang dimulai dari Pantura.  Overall, cukup lancar sih perjalannya walaupun di beberapa titik mengalami kemacetan panjang karena ada tronton guling di tengah jalan.  Ya kira-kira perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Sesampainya di kota pinggir laut itu, kami (formasi lengkap) langsung ngisi perut dengan makanan khas, yaitu Tauto. Tauto adalah sejenis soto daging sapi  yang diberi tambahan tauco (fermentasi kedelai). Karena makan tautonya di pasar batik, jadi sekalian beli batik hehehe…

Nah.. setelah puas ngisi perut dan cari-cari batik, akhirnya kami lanjut jalan ke rumah klien. Syukurlah, kemajuan teknologi yang makin mumpuni jadi kami gak kesulitan saat nyari alamat rumahnya. Rumah klienku ini gak terlalu jauh dari pusat kota, tapi memang berada di daerah pelabuhan. Bau amis ikan semerbak saat aku buka jendela mobil untuk cari-cari alamat. Dan selama perjalanan terlihat genangan-genangan air di jalan yang aku yakini itu adalah air rob (aduh modyaar!).

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin (2)

in the midle of ikan asin (2)

Setelah tanya sana-sini, akhirnya aku ketemu rumah klienku. Rumahnya rada masuk gang sih, tapi gak terlalu pelosok. Aku pun memulai tugasku untuk mewawancarai dengan tetek bengeknya. Ya makan waktu satu jam lebih lah. Setelah tugas wawancara selesai, aku mulai mengobservasi lingkungan rumah. Persis di depan rumah klien, ada sebuah bangunan besar mirip gudang yang didalamnya terdapat beberapa orang yang sedang sibuk mengolah ikan. Ternyata gudang itu dijadikan sebagai tempat pengolahan ikan asin. Bertong-tong plastik biru besar itu berisi ikan-ikan yang akan diolah menjadi gereh, gesek, or ikan asin. Disamping gudang itu, terdapat berjejer bambu-banmbu yang disusun sedemikian rupa untuk dijadikan tempat menjemur ikan asin yang sudah digarami. Oh ya.. karena aku kepo, aku pandangin ikan asin yang dijemur satu persatu.

Aku bertanya sama diri sendiri, ”Kok gak ada lalatnya, ya??”

Hahaha…