Berkunjung ke Rumah Aira Semarang

Hampir sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 Juni 2016 aku dan Si Ay datang ke sebuah acara di salah satu Mall di Semarang. Sebenernya tujuan awal kami berdua untuk bertemu temen lama Si Ay yang bernama Mas Slam Riyadi untuk ngobrol-ngobrol karena udah lama nggak ketemu. Nah kami janjian setelah adzan magrib, tapi kami dateng telat karena  memutuskan untuk buka puasa dulu di food court terdekat.

Singkat cerita, kami langsung menuju tempat janjian. Ternyata tempat janjian kami ada di sebuah venue acara yang bertema “Peluncuran Gelang Rumah Untuk Aira”. Acara tersebut diisi beberapa perform dan datangi oleh beberapa komunitas. Ada pementasan tarian belly dance, ada juga tarian anak-anak, terus ada juga perform dari mahasiswa, dan yang paling heboh juga ada perfom akustik dari komunitas Iwan Fals Semarang, hihihi.

Nah… sebenernya aku juga masih bingung tentang acara tersebut dan apa maksud diselenggarakan acara tersebut. Rumah Aira itu apa? Siapakah Si Aira? Dan banyak pertanyaan lain yang muncul di otakku. Untung  Mas Slam menjelaskan dengan sangat rinci tentang kegiatan tersebut.

Jadi, sebenernya kegiatan tersebut adalah sebuah acara Peluncuran Gelang Donasi untuk pembangunan Rumah Aira, sebuah rumah singgah dan panti asuhan untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Penggagas Rumah Aira adalah Ibu Magdalena, seorang perawat salah satu rumah sakit swasta di Semarang. Aku sempat ngobrol langsung dengan beliau sambil tanya-tanya tentang kegiatan Rumah Aira, tapi sayang aku tak sempat foto berdua dengan beliau. Oh ya, hasil penjualan gelang yang hanya seharga Rp. 20.000 semuanya didonasikan untuk pembangunan Rumah Aira.

Setauku, baru kali ini di Semarang ada sebuah Rumah Singgah atau Panti Asuhan Khusus untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan menurutku Bu Magdalena adalah salah satu  pribadi yang  berani untuk melawan stigma HIV/AIDS di Semarang dan bersyukur banyak yang mensupport. Hal tersebut menandakan kesadaran masyarakat untuk melawan stigma terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS) sudah mulai menurun tak seperti 7 tahun lalu ketika aku ikut kegiatan PMR dalam melakukan kampanye Hari Aids Sedunia dengan membagi-bagikan bunga kertas.

Selain itu, sebenernya ini sebuah kesempatan besar untuk para mahasiswa psikologi yang ingin bener-bener belajar bagaimana mendapingin Odha yang memiliki anak-anak yang juga terinfeksi. Semoga mereka bukan hanya sebagai “objek” penelitian semata, tapi juga sebagai “subyek” yang wajib didampingi secara psikologis.

Bagi temen-temen yang ingin mendukung gerakan Rumah Aira, temen-temen bisa langsung menghubungi Ibu Magdalena (085865758710, 085764977354) atau bisa langsung ke alamat Jl. Kaba Timur No. 14, Kel. Tandang, Tembalang, Semarang.

Cheers!

Cerita Sex dari Timur Tengah

13 Juli 2016 kemarin aku and the genk dateng ke Open House nya Pakdhe Prie GS. Ih wow seneng rasanya bisa dateng, apalagi disana bisa ketemu Om Pras yang spesial dateng dari Jakarte.

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

Sayangnya aku dateng telat, jadi aku hanya duduk lesehan di belakang dan langsung mengikuti acara yang sudah berlangsung setengah jam yang lalu. Dari bagian belakang, aku hanya bisa melihat dari jarak jauh bahwa di depan ada empat orang yang duduk di kursi. Satu diantaranya jelas Pakdhe Prie yang punya gawe, dan ketiga lainnya aku tak mengenalnya. Saat itu Pakdhe Prie sedang berdialog dengan seseorang yang sedang menjabarkan suatu pengetahuan tentang keIslaman, tak lama aku baru tahu bahwa beliau adalah Prof Sumanto.

Dari dialog itu aku baru menyadari bahwa Prof Sumanto itu bukan orang sembarangan. Beliau adalah seorang  professor dan juga dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas. Tak hanya sebagai dosen, saat ini beliau juga sebagai tim penyeleksi para calon-calon professor di beberapa universitas di luar negeri. Nih profil singkatnya..

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

Singkat cerita, saat dialog tersebut Prof Sumanto menekankan bahwa sebenernya banyak orang Indonesia yang sebenernya kena “tipu” dari sekelompok orang yang tidak ingin Indonesia jadi lebih maju. Sebenernya, tren ke Arab-Araban yang banyak orang ikutin itu udah sangat amat ketinggalan zaman di Negeri Timur Tengah sendiri. Padahal di Timur tengah sendiri perkembangannya sudah sangat pesat.

Prof Sumanto juga menekankan, jangan salah mengartikan orang yang tidak berhijab itu derajat keimanannya lebih rendah dari yang berhijab. Karena saat ini banyak sekali orang Indonesia (khususnya) yang menjudge segala sesuatu itu hanya dari simbol, seperti hijab, jenggot, dahit hitam contohnya. Drajat keimanan seseorang itu bukan manusia yang menilai, tapi Allah SWT. Dan yang belum banyak orang tau bahwa anjuran berhijab itu bukan hanya umat Islam saja, tapi semua agama menganjurkan untuk berhijab, ada agama Kristen, Katolik, Yahudi, dll. Jadi sebenernya tolak ukur  orang Islam itu bukan berhijab dari atributnya.

Di tengah sela-sela bincang-bincang santai, aku mulai mendekati Prof Sumanto untuk menanyakan beberapa hal khususnya yang berkaitan dengan social science. Bukan Yori namanya kalo gak ngulik-ngulik soal dunia sex, haha. Jadi dengan tanpa rasa malu aku langsung aja tanya tentang hasil-hasil riset yang berhubungan dengan prostitusi di Timur Tengah sana. Prof tau yang aku tanyakan bukan hal tabu, karena aku bertanya dalam koridor ilmu pengetahuan, jadi saat ada seseorang yang mencoba membuat itu sebagai guyonan Prof Sumanto langsung tak menggubrisnya.. Hahaha suka banget! 😀

diskusi serius :D

diskusi serius 😀

Jadi begini hasil perbincanganku dengan Prof Sumanto yang sangat amat singkat :

Praktek prostitusi yang formal jelas tidak ada, tapi biasanya kegiatan tersebut dilakukan di Bahrain tetangganya Saudi. Jadi apa-apa yang di haramkan di Saudi, di halalkan di Bahrain. Jadi ada club malem, bioskop dll. Kalo kalian inget ada video pria-pria timur tengah menyawer seorang penari perut itu adalah salah satu contohnya.

Kalo di Saudi jelas tidak ada lokalisasi yang formal, mungkin ada tapi sangat privat banget. Kalo di Bahrain, Libanon, dll itu jelas ada dan sangat terbuka. Bisanya, kalo di Bahrain mereka ada aturannya, boleh kegiatan seperti itu tapi hanya untuk warga bukan Bahrain, maksudnya adalah warga pendatang.

Selain dunia prostitusi tersebut, aku juga menanyakan tentang praktek pernikahan sesaat hanya untuk halal-isasi hubungan seks kilat, yang pernah aku dapatkan faktanya di lokalisasi Sunan Kuning. Prof Sumanto menjelaskan bahwa praktek pernikahan tersebut adalah Nikah Misyar. Beliau menjelaskan bahwa Nikah Misyar adalah semacam turisme seks atau nikah jalan-jalan. Tidak semua orang mempraktekan Timur Tengah mempraktekan, tapi faktanya tetap ada walau sedikit.

Dari pertemuanku dengan Prof Sumanto memberikanku sebuah jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku pendam. Apa yang aku asumsikan selama ini ternyata benar bahwa mau di Arab Saudi ataupun di tanah Timur Tengah  praktek prostitusi itu pasti tetap ada.

Intinya adalah Manusia itu dimana-mana sama, akan mencari celah sesempit apapun. Diatur seketat apapun akan mencari celah untuk kebutuhan “seks” tersebut. Jadi jangan salah sangka kalo orang Saudi itu semuanya taat. Mereka di back street banyak sekali melakukan seperti itu. Mereka hanya taat saat di publik, karena kekhawatiran ada Polisi Syariat. – Prof Sumanto

Jadi please buat kalian jangan mau di Arab-isasi. Jadilah INDONESIA, yang punya jati diri sendiri. Penjajah jaman sekarang itu gak lagi pake senjata api, tapi pakai isu-isu yang bikin kita semua pada tercerai berai. Jangan mudah terprofokasi dari kelompok-kelompok tertentu, pikirlah dulu sebelum bertindak.

Cheers!!

Yori dan Seksologi

Hai.. Hai.. I’m come back setelah hampir seminggu nggak posting tulisan karena (sibuk) liburan, hehe. Sebelumnya aku mau ngucapin, Selamat Hari Lebaran Mohon Maaf Lahir dan Batin..

Sesuai dengan janji yang udah-udah.. Kali ini aku akan cerita tentang gimana aku bisa demen banget ngebahas hal tentang lokalisasi atau prostitusi di blog akuh.. Aku pengen banget share tentang proses aku menemukan kegemaranku mengulik hal yang berkaitan dengan pelacuran, mulai dari awal hingga sekarang.

Nah awalnya, aku gak pernah terpikir loh bisa dengan leluasa keluar masuk lokalisasi seenak jidat kaya sekarang. Boro-boro masuk, tau tempat persisnya aja enggak. Proses aku bisa seperti sekarang itu menurutku nggak terduga dan surprise banget.

Aku memang sudah minat tentang hal yang berbau seksualitas ketika aku S1, saat aku mengambil mata kuliah pendidikan seksualitas. Yang bikin aku tertarik adalah, dalam mata kuliah itu dosen memberikan tantang pada mahasiswa untuk berani menyebutkan nama alat kelamin (baik nama latin maupun sebutan awam). Menurutku itu kelas yang bikin aku takjub! Aku masih ingat salah satu dosen memberikan saran demikian:

“Kalian kalo memang serius memberikan penyuluhan seksualitan ya gak boleh malu nyebut kont0l, memek, dan sebutan-sebutan awam lainnya. Kalo kalian aja malu gimana materinya bisa sampai ke audience, karena audience yang kalian hadapi akan beragam.”

Mulai dari situ aku mulai sangat tertarik mempelajari lebih, gimana bisa hal yang selama ini dianggap tabu olehku bisa menjadi hal yang membuka wawasanku lebih luas lagi. Ketertarikanku pada dunia seksualitas bertambah ketika aku mengikuti sebuah konferensi Asosiasi Seksologi Indonesia ASI tahun 2014 lalu di Surabaya.

Aku tak pernah mengikuti konferensi sebuah asosiasi sebelumnya. Ketika daftar ulang aku melihat sebagian peserta yang ikut adalah dokter-dokter spesialis, dan aku juga menyadari bahwa aku satu-satunya peserta yang paling muda dan satu-satunya yang bukan dokter. Karena hiruk pikuk peserta yang banyak, panitia salah menuliskan gelarku menjadi gelar dokter, haha.

Name tag salah gelar :D

Name tag salah gelar 😀

Di hari-hari pertama mengikuti acara aku agak roaming, karena materi-materi awal membahas materi yang kental dengan istila kedokteran. Tapi, aku tetap stay cool dan beberapa bertanya pada teman di sebelah apa maksudnya. Setiap istirahat aku memberanikan diri berkenalan dengan peserta lain yang sebagain besar dokter spesialis, ada spesialis andrologi, kulit kelamin, psikiater, dll. Salah satunya dr. Agustinus , Androlog kece dari Surabaya.

Hari kedua adalah hari yang aku tunggu, karena ada materi yang dibawakan oleh Prof. Drs. Koentjoro Soeparno, MBSc., PhD. Psikolog yang membahas tentang Male and Female Prostitution in Indonesia. Menurutku ini materi yang paling menarik karena membahas hal yang berkaitan dengan psikologi. Materi yang dibawakan Prof Koent makin bikin aku penasaran apalagi dengan hal prostitusi. Aku inget banget gimana Prof Koent menjelaskan sejarah prostitusi dan perkembangannya. Beliau menjelaskan dengn semangat banget. Auranya keluaar lah pokoknya, hehe.

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Setelah selesai ngasih materi, aku langsung mendekatinya. Awalnya sangat malu tapi aku coba ikut-ikutan nimbrung sama peserta lain yang ngobrol sama Prof Koent. Hingga akhirnya aku mendapatkan kartu namanya dan bisa berfoto bersama. Mulai dari situ aku mencari segala sesuatu yang berkaitan dengannya, dan aku mendapatkan sebuah buku karangan Prof Koent yang berjudul “Tutur dari Sarang Pelacur”. Aku membaca selembar demi selembar hasil riset yang beliau lakukan, hingga aku makin tertarik lagi mempelajari tentang pelacuran. Aku pernah juga sekali main ke rumah Prof Koent di Jogja, tapi karena belum jodoh jadi belum bisa ketemu lagi.

Belajar tentang pelacuran itu gak afdol kalo belum menginjakan kaki ke lokalisasi. Pada saat itu aku baru sebatas ingin dan belum terlalu berani untuk benar-benar mendatangi sebuah lokalisasi. Tapi selang beberapa waktu kemudian, Tuhan memberikan jalan dengan sangat cantik padaku, yaitu saat ada seorang teman yang menawariku untuk bergabung pada project sosialnya di sebuah lokalisasi.  Betapa indah jalan Tuhan..

Mulai dari situ aku banyak belajar tentang pelacuran secara langsung di lokalisasi, terlebih aku pun mendapatkan kesempatan bekerja disitu. Banyak hal baru yang bikin aku takjub, shok, sampe ngelus dada. Disitu tak semua yang orang awam pikirkan terjadi, dan bahkan diluar ekspektasi.

Aku menjadi yakin, bahwa suatu perubahan itu bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari sebuah lokalisasi yang dianggap sebagai tempat sampah masyarakat. Jadi, dengan ketertarikan dan minatku terhadap dunia seksologi aku ingin bisa membuat suatu perubahan. Perubahan kecil tapi berdampak besar untuk Indonesia kedepan.

Terimakasih untuk para inspirator yang telah memberikanku inspirasi untuk mendalami hal ini. Semoga kedepan aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi hebat lainnya.

Cheers!

 

SEHAT itu (nggak) MAHAL

 

Yey!! Ini adalah minggu terakhir aku praktek di Rumah Sakit. Seneng rasanya masa praktek akhirnya sudah usai. Banyak pengalaman yang telah aku dapatkan selama praktek khususnya di RS. Ada suka dan pastinya ada duka. Let me share yaa..

SUKA

  1. Sukanya dalam masa praktek ini adalah aku menjadi tau keadaan lapangan yang sebenernya, khususnya kondisi Rumah Sakit dan layanan jasa Psikolog itu sendiri. Sebelum aku praktek S2, aku juga pernah punya pengalaman ambil data untuk skripsi di rumah sakit. Sebagian besar rumah sakit di Semarang memang belum menyediakan layanan psikolog secara khusus bagi pasien, kalo pun ada itu pasti rumah sakit besar atau yang high end. Jadi biasanya untuk layanan psikolog, pihak rumah sakit akan memanggil secara khusus dan hanya pada kasus tertentu. Jadi memang di Semarang sendiri, menurut aku jasa psikolog di rumah sakit masih belum dianggap sebagai layanan primer, jadi hanya layanan sekunder saja gak seperti di Jogja yang di tingkat Puskesmas aja udah ada layanan psikolognya.
  2. Aku juga menjadi tau secara real bahwa kondisi kesehatan orang itu sangat dipengaruhi oleh psikologisnya, kedua hal itu sangat amat mempengaruhi satu sama lain. Proses kesembuhan klien memang sangat dipengaruhi dari kestabilan kondisi psikologis.
  3. Mendampingi orang sakit itu memang perlu siap dalam keadaan apapun. Jadi suatu ketika aku pernah menjenguk seorang nenek-nenek yang sudah tua renta dan mengeluh kesakitan. Di tengah keluhannya tersebut ternyata si nenek pengen banget turun dari bed dan pipis di kamar mandi. Untung aja waktu itu aku sama Suster Stella, jadi dengan sigap Suster langsung membantu si nenek turun dari kasur dan menitahnya ke kamar mandi. Sedangkan aku, membantu membawakan infusnya biar gak lepas hehe..

DUKA

  1. Buat aku pribadi, membidik kasus secara spesifik di rumah sakit itu butuh usaha yang ekstra. Selain gak semua pasien memiliki permasalahan psikologis yang berat, ternyata waktu perawatan yang relatif singkat kadang bikin gigit jari sendiri, hehe. Jadi beberapa calon klienku sudah pulang pada hari kedua, padahal di hari pertama aku baru pendekatan dan memetakan permasalahan psikologisnya serta rancangan terapinya apa. Begitu besok mau di eksekusi eh ternyata bed sudah kosong atau diganti oleh orang lain. Aiiih matiiiik. Mulailah semua dari awal dan gerilya lagi.
  2. Bagi yang gak kuat liat darah, praktek di rumah sakit itu menjadi tantang tersendiri. Aku pribadi berani liat darah, tapi gak berani liat luka basah. Jadi ada pengalaman ketika aku sendang mendampingi pasien yang akan diamputasi karena penyakit diabetes. Sebelum di operasi, dokter dan perawat membuka perban dan membersihkan luka si pasien. Aduhh aku gak kuat liatnya.. bukan jijik tapi ngeriiiiii…. Dari pengalaman itu aku juga belajar untuk menjadi netral, jadi walau ngeri tetep aku tahan dan bersikap biasa aja tanpa bereaksi menutup mata ataupun bergidik ngeri.
  3. Praktek di rumah sakit itu sangat menguras energi psikis. Bagi aku pribadi, praktek yang terakhir ini menguras energi lebih banyak daripada praktek – praktek sebelumnya. Melihat kondisi pasien yang lemah, lesu, dan merintih kesakitan itu secara tidak langsung menyedot energi lebih banyak. Terkadang ketika pendampingan, aku menjadi larut pada apa yang dirasakan pasien. Sebenernya, bagi psikolog yang jam terbangnya udah tinggi kondisi demikian bisa sangat dihindari, seperti perumpamaan “boleh larut, tapi jangan hanyut”.

Dibalik suka duka yang aku alami selama praktek di Rumah Sakit, ada satu pelajaran yang sangat penting yang aku ambil. Bahwa kesehatan itu memang sangat amat berharga. Salah satu cara agar membuat kesehatan tidak terlalu mahal ya dengan cara menjaganya. Walau usia baru 24 tahun, dengan pengalaman mendampingi pasien diabetes, pasien tipes, dll aku menjadi mulai menjaga pola makan, i think i don’t need seblak anymore haha. Selain itu mengkonsumsi obat secara sembarang juga bikin petaka di kemudian hari. Aku saranin buat temen-temen jangan terlalu sering mengkonsumsi obat warung, seperti panad*l, param*k, konid*n, dll. Obat-obat kaya gitu memang murah dan memberikan efek yang cepet, tapi efek jangka panjangnya bikin sengsara.

Karaoke Erotis

Benernya pada postingan malem ini aku sudah menyiapkan satu weekly story tentang lokalisasi Sunan Kuning, tapi saat lagi mau nyari-nyari musik di youtube keluar suggestion video yang bikin penasaran. Begitu dibuka ternyata video itu dari aplikasi karaoke smule yang bikin aku ngakak guling-guling, terheran-heran, dan yang terakhir syoook!!

Jadi postingan kali ini aku mau ngebahas tentang beberapa video smule yang aku temuka di youtube yes..

Smule 1

Smule 1

Di video pertama, ada seorang wanita dengan menggunakan pakaian seperti anduk kimono (may be) dan seorang cowok yang pake kaos biru. Nah diawal-awal video ini, si cewek udah terlihat menggoda dengan sok-sok membenarkan posisi pakaian agar belahan dadanya terlihat lebih jelas, sedangkan diawal si cowo kaget saat mendapatkan temen duwet yang seksi. Awalnya si cowok beberapa kali berdecak kagum, geleng-geleng, menutup kedua mata dan mengucap “Astagfirullah…”. Nah, setelah beberapa lirik lagu bergantian mereka nyanyikan, ada satu hal yang bikin aku ngakak banget yaitu saat si cowok mengalami slip tongue atau awam disebut keceplosan! Nah si cowo itu keceplosan dengan lirik:

“Ku melihat kiri-kanan.. Oh dadanya

Seketika si cowok langsung menutup mulut dan tidak meneruskan bernyanyi. Sampai akhir lagu si cowok tidak melanjutkan bernyanyi, dia hanya fokus pada goyangan si cewek..

 

smule 2

smule 2

Video yang kedua ini menurutku emang rada gak mutuh sih hahaha. Jadi ceritanya di video ini dua cewek sedang pada ajang pamer payudara. Hal yang bikin aku geli adalah si cewek baju polkadot itu sebenernya memiliki dada yang lebih kecil dari pada si cewek kuning, jadi dengan sengaja si cewek polkadot menyumpelkan dua anduk kecil di dadanya agar ukuran payudaranya terlihat sama dengan si cewek kuning, haha..

 

smule 3

smule 3

Video yang ketiga adalah video yang paling bikin aku ngakak guling-guling. Di video ini terlihat ada sepasang penyanyi duet yang kontras banget. Bagaikan air dan api deh, sumpah. Aku gak tau ya si cowok itu habis ngapain sampe dapet temen duet yang hotnya ampun-ampun. Di awal video si cewek itu seperti minta maaf dengan penampilannya dan si cowok beberapa kali mengucapkan istigfar. Aku sengaja meng-capture gambarnya lebih banyak daripada video yang lain, soalnya terlihat disini sebuah dinamika psikologis yang komplit banget. Si cowok ini diawal sangat amat denial dengan apa yang dia lihat, dengan beberapa kali mengelus dada, menutup mata, bahkan sampai dibacain Ayat Kursi segala, tapi semakin lama si cewe bergoyang sambil bernyanyi si cowok mulai terambil fokusnya dan seperti terhipnosis dengan adegan tersebut. Walaupun dia berusaha menutup matanya dengan kopiahnya, tapi matanya tetap fokus di adegan si cewek. Tapi, diakhir duet si cowok tetap mengucapkan istigfar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Hihi

smule 4

smule 4

Video yang keempat ini menurutku video yang paling parah dan gak banget. Untuk video ini reaksiku gak seperti video yang lain. Jadi ini adalah dua video yang berbeda dengan salah satu penyanyi yang sama. Si cewek baju kuning ini di video pertama memang sudah memperlihatkan gerakan erotis dengan mengelus-elus buah dadanya dan sesekali membuka bajunya dengan memperlihatkan bra warna hijaunya. Sedangkan di video yang kedua, si cewek kuning melakukan hal yang lebih lagi yaitu dengan benar-benar memamerkan payudara tanpa tertutup bra.

Sedangkan dari teman duwetnya, aku juga menemukan dua hal yang berbeda. Si cowok pertama berespon hampir serupa dengan cowok-cowok yang aku bahas sebelumnya. Menolak melihat hanya diawalnya saja. Usianya pun terlihat masih remaja. Sedangkan si cowok yang kedua memang tidak memperlihatkan secara jelas wajahnya, tapi dia malah memperlihatkan kemaluannya. Walaupun tidak sefulgar si cewek, tapi beberapa kali si cowok melakukan masturbasi walau masih menggunakan celana dalam.

Lalu apa kesimpulannya dari beberapa video smule yang aku bahas diatas?

Nah kesimpulanya ada beberapa, yaitu:

  1. Pilih-pilih ketika mau duet. Periksa dulu semua rekamannya, profilnya dll, agar gak kejebak seperti si cowok berkopiah. Niatnya mau nyanyi malah baca ayat Kursi kan malah repot haha..

  2. Aplikasi Sing! By Smule kini sudah mulai beralih fungsi. Selain sebagai media karaoke, aplikasi ini juga bisa sebagai media cyber sex atau virtual seks di mana pertemuan dua orang atau lebih terhubung dari jarak jauh melalui jaringan komputer dan internet dengan saling mengirimkan hasrat seksual secara eksplisit baik melalui pesan teks, audio, dan video. Nah kan terlihat dari gaya-gaya erotis beberapa wanita yang udah aku capture sama ada cowok yang malah masturbasi. Sebenernya ada juga loh video smule yang merekam adegan seks sambil menyanyi. Tapi memang sengaja gak aku munculkan.

  3. Yang terakhir adalah seks itu bisa menjadi media hipnosis. Lihatlah beberapa ekspresi cowok yang tercapture sedang fokus melihat tubuh bahenol dan gerakan yang aduhai cewek-cewek tersebut. Jadi hipnosis itu macamnya banyak, gak hanya yang dibuat tidur aja..

Cheers!

“If I Die Tomorrow…”

Hampir tiga minggu aku dan suster praktek di sebuah rumah sakit. Hiruk pikuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa untuk kami, rengekan anak-anak, hilir mudik para koas yang membuntuti seorang dokter, perawat yang selalu sibuk memeriksa pasien dan tak jarang kami juga sering mendengar derit suara gelindingan beberapa pasang roda membawa oksigen maupun membawa alat medis lain.

Hari Selasa itu semua terasa biasa saja. Mengawali hari aku dan suster berpencar untuk menjenguk pasien dampingan masing-masing. Pasienku yang kemarin merintih pusing karena vertigo kini sudah mulai membaik dan sudah banyak bercerita denganku, sedangkan pasien suster seorang ibu lanjut usia yang terserang stroke kini wajahnya sudah bisa tersenyum dan tak semuram kemarin. Hari itu aku merasa semua berjalan biasa saja, sehingga aku memutuskan untuk duduk bersandar di ruang transit perawat sambil membenahi beberapa laporan.

Baru saja 10 menit aku membuka laptop, terdengar salah satu perawat magang berlari sambil berteriak “Oksigen, Mbak!”

Sontak semua perawat langsung berdiri dan bergegas menuju sumber suara. Saat itu aku masih belum terlalu ngeh apa yang sedang terjadi. Aku masih fokus dengan laptopku dan sesekali membuka handphone. Keadaan diluar semakin gaduh dan aku pun merasa ada yang tidak beres.

Aku langsung keluar ruang transit perawat bersama suster untuk mencari tahu kamar nomor berapa yang sedang dalam keadaan “darurat”. Aku melihat beberapa penjenguk pun ikut berdiri melihat ke arah yang sama dan itu adalah kamar nomor 16.

Aku kaget, karena itu adalah kamar seorang wanita muda yang kemarin baru saja aku jenguk. Kemarin ia tampak sangat lesu dan beberapa kali merengek kesakitan. Ia di temani dua orang temannya yang dengan sabar memijat kedua kakinya. Aku pribadi tak tahu apa jelas sakitnya, aku hanya memegang kakinya yang terasa dingin dan basah karena keringat. Aku tak berani mengajaknya ngobrol lebih lama karena melihat kondisinya yang lemah.

Semua pertolongan darurat sudah dilakukan oleh perawat. Namun sayang, nyawanya tidak bisa tertolong. Saking tak percayanya aku mengkroscek dengan beberapa perawat magang yang ikut menangani pasien tersebut sebelum meninggal. Sungguh semua berjalan mendadak dan tak terduga. Wanita muda 18 tahun itu kini sudah terbujur lemas tanpa nafas.

Kejadian yang serba mendadak tersebut membuatku kembali merefleksi diri. Usiaku kini sudah 24 tahun, namun masih banyak hal yang belum aku perbaiki dalam diriku, pencapaian dan pengabdianku pun masih sangat minim. Padahal, berpikir kematian tak selalu buruk, seperti yang mendiang Steve Jobs lakukan untuk bisa terus berkarya dengan pemikiran “If I Die Tomorrow”.

Waktu itu misteri, apalagi nyawa yang bisa diambil kapan saja oleh Tuhan.

Selamat jalan, hey wanita muda. Semoga jalanmu diberi kemudahan di Bulan Penuh Berkah ini.

Cerita Sejarah Pelacuran Indonesia

Tak dipungkiri bahwa keberadaan pekerja seks memang sudah sangat menyejarah. Hampir setiap peradaban umat manusia tidak pernah absen dari yang namanya sosok seorang wanita penghibur. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa profesi pekerja seks adalah profesi yang sudah sangat tua keberadaanya. Dari zaman Mesir kuno hingga Perang Dunia Ke II selalu terselip kisah tentang kehidupan pelacuran.

Di Indonesia sendiri, keberadaan pelacuran sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dan semakin menjamur hingga datangnya para  penjajah ke Indonesia. Kita semua tau bahwa  keberadaan pelacuran di Indonesia memang sudah terang-terangan mendapat penolakan hampir dari semua golongan, mulai dari golongan berjubah hingga golongan berdasi. Namun, dibalik penolakan tersebut ada fakta sejarah yang menyebutkan bahwa ada yang mengkaitkan Ir. Soekarno, pelacuran dan kemerdekaan Indonesia. Dalam otobiografi menceritakan bahwa beliau pernah memberdayakan pelacur profesional sebagai solusi menyelamatkan gadis-gadis desa dari kebringasan para tentara Jepang.

“Semata-mata sebagai tindakan darurat, demi menjaga para gadis kita, aku bermaksud memanfaatkan para pelacur di daerah ini. Dengan cara ini, orang-orang asing dapat memuaskan keinginannya dan sebaiknya para gadis tidak diganggu,” beber Soekarno.

Selain itu juga dalam perjuangan mencapai kemerdekaan, ternyata Pak Soekarno juga menggunakan tempat pelacuran sebagai tempat rapat kaum pergerakan demi mengelabuhi para Intel Belanda. Dan yang bikin aku kaget, dalam otobiografinya juga diceritakan bahwa beliau juga menggunakan jasa pekerja seks sebagai mata-mata tentara Belanda walaupun pada saat itu banyak yang menentang. Menurut Pak Soekarno, dengan kemampuan merayu para pelacur ini bisa menggali banyak informasi dari orang-orang Belanda yang jadi pelanggannya.

Dari berbagai sejarah terbukti bahwa kegiatan pelacur memberikan andil yang tidak kecil, sehingga tidak mengherankan bila pelacur itu bisa dijadikan sebagai senjata politik bagi mereka yang tak bisa mengontrol birahi. Walau demikian, pelacuran memang masih belum bisa di terima dengan tangan terbuka di Indonesia. Banyak penolakan sana-sini yang menginginkan penutupan semua lokalisasi. Aku pun setuju, bahwa lokalisasi yang tidak diatur dengan semestinya akan menimbulkan masalah sosial baru di masyarakat.

Secara resmi, memang aturan hukum tentang pelacuran di negara kita tercinta ini masih sangat tidak jelas arahnya. Semakin tidak jelasnya pengaturan tentang pelacuran maka munculah pula permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks, kususnya permasalahan sosial dan kesehatan. Semakin banyaknya masalah yang timbul dan tiap tahun jumlah pelacur yang semakin meningkat maka pemerintah mulai membentuk badan-badan sosial, salah satunya dengan pendirian pusat resosialisasi. Resosialisasi yang biasa disingkat dengan Resos adalah sebuah sistem kesejahteraan sosial untuk menciptakan keadaan sosial yang lebih baik bagi orang-orang yang mengalami masalah sosial tertentu. Namun sayangnya, pelacur dalam resosialisasi tetap saja mengalami konflik negatif.

Di Indonesia terdapat beberapa pusat resosialisasi, salah satunya yang berada di Semarang yaitu bernama Resos Argorejo. Resos Argorejo berdiri sejak tahun 1966 yang pertama kali disebut sebagai lokalisasi Sri Kuncoro, karena terletak di Jalan Sri Kuncoro. Namun masyarakat sekitar seringkali menyebutnya sebagai lokalisasi Sunan Kuning karena didalamnya juga terdapat petilasan seorang tokoh Tionghoa penyebar agama Islam yang dikenal denagan Sun-Kun-Ing. Lokalisasi ini dulunya sempat ditutup dan beberapa kali berpindah lokasi, sebelum akhirnya menetap di kawasan Kalibanteng Semarang hingga saat ini. Meski SK bukan satu-satunya kawasan lokalisasi di Semarang, namun nama SK-lah yang paling tersohor.

Tugas Pelayanan Itu Yang Utama

Tak terasa ternyata udah hampir satu minggu aku pindah praktek dari RSJ ke RSU. Seneng rasanya karena ini pertanda masa praktek sudah mau habis, hehe. Tapi, dibalik rasa seneng itu terselip rasa gundah yang cukup mengganjal hati. Kegundahan itu adalah aku harus lebih teliti lagi untuk mencari kasus yang lebih spesifik lagi. Huwaaaa…..

By the way, di tahap terakhir praktek ini aku beruntung banget karena disandingkan dengan Suster Stella. Oh ya, suster yang aku maksud bukan perawat lho tapi suter seorang biarawati. Suster Stella itu beda dengan suster lain yang terkesan (maaf) galak dan agak cerewet hehehe. Suster Stella itu orangnya gaul dan bisa ngeblend banget sama anak-anak muda yang umurnya jauh dibawahnya. Selain itu, Suster yang pembawaanya sangat hangat sering kali bisa merubah suasana tegang menjadi lebih tenang.

Selain Suster tipikal orang yang unik, menurutku suster juga mempermudahku dalam menjalani praktek di RSU. Secara tidak langsung dengan bahasa tubuhnya, Suster mengajarkanku dalam mendekati pasien mengutamakan pelayanan daripada untuk tugas. Maksudnya, sisi empati yang ditunjukan ketika menganggap apa yang dilakukan adalah sebagai tugas pelayanan akan berbeda bila hanya sebagai untuk sebatas untuk memenuhi tugas praktek.

Dari “mindset pelayanan” tersebut, ternyata memberikan efek memudahkan pada pengerjaan tugas praktek. Aku yang awalnya kikuk ketika ingin mengetuk pintu kamar pasien, kini aku mulai bisa santai dan lebih tenang, karena aku menganggap bahwa aku sedang “memberikan” pelayanan pendampingan bukan untuk “mendapatkan” bahan tugas laporan. Cara pendekatan dengan pasien pun juga akan lebih halus dan lebih mengalir, sehingga pasien akan cenderung lebih nyaman ketika diajak ngobrol.

Tantangan yang aku hadapi saat praktek RSU juga terkait pada pemilihan kasus yang lebih spesifik. Sebagai calon psikolog, aku membutuhkan keterampilan untuk lebih jeli membidik permasalahan psikologis yang menimbulkan permasalahan fisik. Pasien RSU memang banyak, tapi yang memenuhi kriteria sangatlah sedikit. Jadi begitulah, butuh kesabaran dalam mencari kasus.

Terkadang, aku menjadi lebih sering mengobrol dengan keluarga pasien yang kasusnya tidak masuk kriteriaku. Maksudnya, walaupun si pasien tidak masuk list pencarianku tapi aku tetap memberikan pelayanan pada pasien dan keluarganya. Karena dalam pendampingan pasien itu sebenernya tidak memandang kriteria kasus, yang penting adalah terlihat bahwa si pasien dan keluarga memang sedang membutuhkan pendampingan secara psikologis.

Selain itu praktek S2 dibarengi sama praktek S1 yang bikin usaha untuk tetap tegar lebih kuat lagi wkwkwkw. Karena terjadilah perebutan pasien antara senior dan yunior. Hal yang bikin rada kesel adalah ketika aku sedang proses menjalani rapport dengan pasien, eh tiba-tiba pada nylonong masuk dan merusak suasana yang udah aku bangun sedemikian rupa. Ampun dijeeeee!!

Dari semua kejadian itu, memberikan pesan moral bahwa menjadi seorang psikolog ketika sudah terjun itu perlu fleksibilitas yang tinggi. Apapun tantangannya, psikolog itu gak akan kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang timbul. Karna aku yakin, pasti suatu saat nanti ketika aku sudah menjadi psikolog tantangan yang muncul akan lebih daripada ini. Jadi butuh latihan mental mulai saat ini, wkwkwkw.

Dari Suster Stella aku juga belajar bahwa segala sesuatunya perlu dikerjakan dengan hati. Pinter aja gak cukup bila hatimu kering dan tak ada mata air yang bisa menyejukan hati orang lain.

Ecieeeee sadis! 😀

Waktu adalah Persepsi

Banyak orang bilang kalo waktu itu berjalan sangat cepat. Gak kerasa tiba-tiba udah malem aja. Biasanya, kecepatan waktu akan bertambah dua kali lipat ketika musim liburan dateng, apalagi long weekend kek ginian.

Ngomong-ngomong soal waktu, ternyata ada kalanya waktu terasa sangat lambat. Lambatnya waktu terasa bahkan sampai perdetiknya. Waktu akan terasa sangat lambat ketika kita sedang dalam peristiwa yang tidak diinginkan, misal nih ketika sidang skripsi, nungguin jemputan pacar, atau bisa juga nungguin bis kosong yang lewat ketika jam padat. Namun ada satu peristiwa lagi yang membuat waktu terasa sangat amat lambat. Yaitu ketika berada di panti Jompo.

Seumur-umur, aku baru dua kali berkunjung ke panti Jompo. Yang pertama di akhir tahun 2013, saat itu adalah kunjungan ke sebuah Panti Jompo yang berada di Jogja. Kemudian yang kedua kali adalah saat aku kerja praktek di Panti Jompo daerah Semarang. Sebenernya semua panti jompo sama yaitu sebuah panti yang ditinggali para lansia. Namun, setiap panti selalu memiliki karakteristik yang berbeda. Mulai dari sisi pelayanan, daya tampung, fasilitas, lokasi, dll.

Panti jompo yang pertama kali aku kunjungi adalah panti jompo yang di kelola oleh pemerintah daerah. Lokasinya cukup terpencil dan akses jalannya pun sebagian masih kerikil. Walaupun untuk mengaksesnya butuh perjuangan, namun ketika sudah sampai di lokasi pemandangan dan hawa sejuk sebuah desa masih menyambutku. Sejuuk lah pokokmen. Tapi, dibalik kesejukan alam itu ada hal yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi. Ternyata daya tampung panti Jompo tersebut sudah melebihi batas, sehingga dalam satu pondokan terasa cukup sesak. Banyaknya penghuni panti tidak sebanding dengan petugas. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana kerepotan dan kurang terpenuhinya pelayanan secara maksimal. Untuk kunjungan awal ini terasa singkat, karena memang diberi kesempatan hanya 3 jam saja.

Namun pengalaman kedua ini terasa sangat amat berbeda, yaa ketika praktek di sebuah Panti Jompo yang berada di tengah kota.

Sepintas, bangunan panti ini terkesan masih oldschool.. Kesan kunonya masih sangat terasa, walau sudah dicat dengan warna yang cerah. Berbeda dengan panti sebelumnya, panti ini dikelola oleh pihak swasta. Semua terlihat sangat terurus dengan rapi. Ada tamannya, ada air terjun mininya, fasilitas keamanan 24 jam serta beberapa perawat yang sesekali bersliweran dengan seragam batiknya. Tipikal penghuninya juga berbeda. Di panti yang pertama, sebagian besar penghuninya beretnis Jawa, sedangkan pada panti yang kedua sebagian besar beretnis Tionghoa.

Pada kesempatan kerja praktek ini lah persepsiku terhadap waktu berubah. Di hari-hari awal, semua masih terasa biasa saja, seperti keseharianku di kampus. Melihat derap kaki yang cepat dan gerak tubuh yang enerjik sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun berbeda ketika memasuki hari ketiga hingga hari ketiga puluh. Waktu terasa sangat amat lambat.

Perubahan persepsi terhadap waktu ternyata sangat dipengaruhi dimana aku berada. Setiap harinya aku melihat wajah sendu para lansia, derap langkah yang sangat perlahan daan penuh dengan kehati-hatian, serta aktivitas yang sangat amat minim.

Terkesan memang sangat membosankan. Namun disini aku menemukan keheningan di tengah pikuknya keramaian kota. Bagiku, panti jompo bisa menjadi tempat untuk sedikit memperlambat laju pikiranku dan mempertajam lagi “kesadaranku”. Dengan merasa waktu menjadi lambat, aku mulai bisa belajar bagaimana rasanya menikmati langkah kakiku. Kesadaran dimana aku berada, sedang apa aku, dan siapakah aku, mulai terungkap ketika  menikmati lambatnya waktu di panti jompo itu.

Aku menyadari bahwa waktu adalah persoalan persepsi. Seringkali aku merasa dikejar oleh waktu, padahal kenyataannya waktu tak pernah mengejarku. Rasa dikejar sesuatu timbul dari berisiknya pikiranku. Tak membuat pekerjaanku terselesaikan, malah sebaliknya makin berantakan.

Ada pepatah bilang,

“Terkadang, kita perlu berhenti sejenak bahkan mundur beberapa langkah untuk mempersiapkan lompatan yang lebih tinggi.” – nn

 

Bakso Kepala Bayi

Jogjakarta, 29 Mei 2016

Perjalanan ke Jogja kali ini sudah di persiapkan dengan baik. Udah dari hari Selasa aku menghubungi pihak rehabilitasi untuk meminta izin berkunjung kedua kalinya untuk pengambilan data. Sebenernya kunjungan kali ini ada misi pendekatan dan orientasi wilayah setempat, jadi preparenya lebih mateng. Secara planing, aku and the gank bertolak dari Semarang jam 6 pagi, terus balik lagi ke semarang maksimal jam 3 sore.

Rencana sudah matang, tapi eksekusinya rada molor karna aku kesiangan, hahaha. Jadi mulai berangkat jam 6.30. Perjalanan berangkat berjalan sangat lancar. Ya normalnya perjalanan Semarang-Jogja yangbdi tempuh hampir 3 jam. Kami dari Semarang m3mang merencanakan untuk tidak sarapan, soalnya kami mau makan soto batok yang lokasinya dekat dengan tujuan.

Selesai makan dan istirahat, kami lanjut ke panti rehab. Dengan wajah gembira aku turun dari mobil menuju pos untuk menulis buku tamu.

“ada keperluan apa mbak?” tanya pak satpam.

“mau ketemu pak E, sudah janjian,” jawabku semangat.

“pak E lagi pergi tu mbak, katanya mau ke bandara. Coba dihubungi dulu.”

Tanpa pikir panjang aku langsung menghubunginya. Di dalam pembicaraan yang siangkat itu terbersit bahwa beliau sebentar lagi akan sampai. Aku langsung saja meminta izin untuk menunggu di dalam. Dengan nada yang khas dia langsung meng iyakan.

Aku menunggunya mulai dari jam 11 siang. Waktu terus berjalan mendekati pukul 12. Pikirku, mungkin ia akan datang setelah makan siang. Tapi, perkiraanku meleset sampai pukul jam 14.00 ia tak kunjung datang. Aku mulai menelponnya lagi untuk menanyakan keberadaanya. Saat kutelpon, kali ini yang mengangkat seorang wanita yang ku kenal dengan nama Sis Lel. Ia mengatakan padaku bahwa Pak E sedang di perjalanan.

Okey, dengan masih penuh harap aku tetap menunggunya. Tapi waktu terus berlalu, aku mulai gelisah karena target kami pulang tak akan lebih dari pukul 15.00 wib. Perjalanan Jogja-Semarang di waktu weekend seringkali tak bisa diprediksi. Bisa jadi lebih cepat atau malah sebaliknya lebih lama hingga beberapa jam. Atas dasar asumsi itu, dengan berat hati kami memutuskan untuk pulang.

Yaa,,, kecewa karena plan yang disusun sangat jauh dari target. Tapi ya udah lah ya, prinsipku tetep teguh kalo gak ada hal yang sia-sia. Jadi aku and the gank langsung pulang sekalian cari makan. Awalnya kami mau cari makan yang sejalan dengan arah pulann. Tapi rencana itu berubah seketika aku inget kalo di Jogja ada sebuah warung bakso yang gak biasa. Jadi pernah dapet review kalo ada bakso dengan ukuran raksasa.

Kami langsung cari alamatnya dengan bantuan google map, ternyata lokasinya gak terlalu jauh darintempat semula. Langsung kami tancap gas. Wuuuuuzzzzz!!!!

Sesampainya di warung bakso klenger, langit mulai meneteskan hujan dan gak beberapa lama langsu ujan deressss banget.

Oh ya, di warung bakso klenger kami dapet meja yang sangat dekat dengan gerobak, jadi kami bisa langsung kepo ukuran baksonya. Dan uwoooow!! Gede buanget booo.

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 2 KG

Bakso Klenger 2 KG

Buku Menu - Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Buku Menu – Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Ada beberapa ukuran bakso, ada yang normal sampe ada yang ukuran 5 kg ya sebesar bola basket lah kira-kira, haha. Karena kita ngukur kantong dan ngukur perut akhirnya kami memilih bakso dengan ukuran 1 kg. Kira-kira seukuran kepala bayi, hihi.

setelah bakso datang, seketika rasa kecewa hilang. Kami semua fokus ke baksoo yang gedenya ampun-ampun. Setelah foto dari berbagai sudut, langsung kami lahap. Wkwkw

Pesan moralnya:

  1. sebelum ketemu orang penting banget untuk crosscek lagi. kadang janjian dalam sparetime waktu yang lama bisa bikin lupa.
  2. Apapun yang terjadi, ingatlah kalo gak ada hal yang sia-sia. Kita bisa merubah situsi menjadi yg kita inginkan. Lets say keyika aku batal ketemuan sama orang, toh aku bisa ttp seneng dengan bakso raksasa yang aku lahap.

cheers!! 😀