Kisah Bu Mus Eps. 1

Mbak Yoli… sudah lama ndak ketemu. Sibuk apa sekarang, Mbak?

Begitulah sapaan Bu Mus, salah satu wanita pekerja seks SK ketika berjumpa denganku. Usianya memang sudah tak lagi muda, namun penampilannya tak kalah dengan yang berusia jauh dibawahnya. Sederhana, namun cukup elegan untuk di kalangan SK.

Bu Mus yang kini telah berusia lebih dari setengah abad memiliki latar belakang yang sangat pelik hingga mengantarkannya menjadi wanita pekerja seks di SK. Percaya atau tidak, hal yang mendorongnya untuk bekerja sebagai wanita penghibur karena rasa cintanya yang sangat mendalam pada suaminya. Terdengar miris dan ironis. Bagaimana bisa bekerja melayani nafsu pria lain demi membuktikan cinta pada suami. Bila menggunakan nalar, hal itu akan sulit bahkan tidak bisa diterima akal sehat sebagai cara dalam mencintai suami. Namun, dalam dunia ini segala sesuatunya mungkin, begitupun dengan pilihan yang diambil Bu Mus.

Sebelum menjadi wanita pekerja seks, Bu Mus adalah seorang wanita yang menjalani kodratnya menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak dan suami. Tak ada hal lain yang ia lakukan selain pekerjaan inti sebagai ibu rumah tangga. Kala itu hidupnya sangat berkecukupan dan sejahtera, walau ia hidup di sebuah pedesaan yang sangat jauh dari perkotaan.

Aku ndak tau, seperti kaya disamber gledek Mbak waktu aku mendapatkan kabar itu. Semua berubah dengan sangat cepat.” Kenangnya Bu Mus, mengingat kejadian 10 tahun lalu.

To be continued…

 

Potret Sisi Lain Kehidupan PSK

potret-pelacur-1

“Dibalik tubuh yang sehat, terdapat hati yang retak”

 

potret-pelacur-2

“Teman sejati, tak akan pergi…”

 

potret-pelacur-3

“Semoga lelahku terbayar…”

 

potret-pelacur-4

“Pahitnya jamu tak sepahit hidupku..”

 

potret-pelacur-5

“Merajut mimpi…”

 

potret-pelacur-6

“Aku masih punya hati untuk diberi..”

 

potret-pelacur-7

“Menanti kehidupan yang tak pasti…”

Belajar dari Pelacur

Pernah denger kata passion? Aku sih yakin pasti sebagian besar sudah pernah dengar tentang passion. Bagi yang belum tau, passion itu ibaratnya soul. Suatu yang terus membuatmu bergairah dan ingin terus mencari, menggali dan akhirnya menemukan sebuah bentuk.

Sebuah perjalanan panjang hingga akhirnya memutuskan untuk terjun di dunia pelacuran. Mungkin dipostingan-postingan sebelumnya aku sudah pernah cerita bagaimana aku menemukan jalan hingga akhirnya aku jatuh cinta pada dunia pelacuran. Rasanya memang aneh, i’v never espect that i would made it. Dulu aku tak pernah terpikir sama sekali untuk mendalami dunia itu. Semua aku lakukan dengan mengalir saja.

Banyak yang menganggap dunia pelacuran adalah dunia yang penuh dengan maksiat. Ya anggapan itu memang benar adanya, karena dalam dunia pelacuran itu semua “transaksi” bisa terjadi. Tak hanya transaksi seks, tapi juga ada transaksi narkoba, transaksi penjualan manusia, dan banyak lagi. Tapi kalo kita menyelam lebih dalam lagi, sebenarnya juga ada hal-hal yang bisa kita ambil pelajaran dari dunia pelacuran tersebut. Bukan soal pelajaran tentang bagaimana cara bertransaksi yang aku sebutin tadi, namun pelajaran tentang hidup.

Awalnya aku memiliki cara pandang mainstream ketika berhadapan dengan pelacur, yang menganggap mereka hanya sekumpulan wanita malas yang enggan bekerja keras. Berperilaku buruk, tidak bermoral dan tidak punya masa depan. Ya begitulah, pandangan mainstream yang pernah bersarang di kepalaku. Padahal sebagai calon psikolog sebisa mungkin aku mengurangi judgement. Awalnya sulit, namun seiring waktu mulai terkikis ketika aku berinteraksi lebih banyak dengan pelacur.

Tidak semua pelacur memiliki pola pikir instan sebagai seperti pandangan mainstream. Banyak juga pelacur yang terjebak dan dijebak. Terjebak keadaan yang membuat mereka tak punya pilihan lain. Banyak faktor yang membuat mereka terjebak dalam posisi korban dan sulit untuk keluar, salah satunya faktor pendidikan dan ketidak setaraan gender.

Bulan lalu aku baru saja mengikuti sebuah workshop pendidikan gender untuk mahasiswa. Sebelum mengikuti workshop, panitia memberikan tugas untuk membuat paper tentang ketidak setaraan gender. Aku mulai mencari apa kaitannya ketidak setaraan gender dwngan dunia pelacuran. Mulai dari diskusi dengan beberapa orang dan membaca banyak literatur. Ternyata aku mendapatkan benang merahnya. Ketidak setaraan gender membuat pelacur semakin sulit untuk keluar. Dalam paper itu aku menuliskan contoh sederhana, seperti laki-laki sangat wajar bila mendapatkan label sebagai laki-laki nakal, bahkan akan terlihat tidak wajar bila seorang laki-laki itu tidak nakal, tidak main perempuan, tidak mabuk2an dan tidak berkelahi. Aneh, tapi ya itulah pandangan yang sudah turun temurun terjadi. Sehingga laki-laki nakal penikmat pelacur tak pernah mendapatkan sanksi sosial seperti yang dirasakan pelacur. Padahal menjamur dan berkembangnya bisnis pelacur itu berkat tingginya permintaan, jika permintaan rendah ya bisnis itu tidak akan berkembang.

“Perlunya melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut membuatku menjadi perlahan-lahan mengerti bahwa selalu ada sebab akibat dari setiap peristiwa. Pandanganku mulai berubah dan perlahan mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari fenomena yang sudah cukup tua ini. Belajar bisa dari mana saja, bahkan dari seorang pelacur sekalipun” Read more

Malam Pertama

Sungguh mendebarkan rasanya bagi pasangan pengantin baru yang akan menghadapi malam pertama, tentunya bagi pasangan yang belum pernah melakukan hubungan sex. Menurut pengalaman dari beberapa klien yang berkonsultasi mencemaskan tentang banyaknya rumor-rumor yang beredar  terkait malam pertama, ada yang bilang perlu sampai berdarah untuk memastikan apakah pasangan masih perawan atau tidak, sex pertama kali itu sangat menyakitkan, posisi pria harus diatas, perlu minum obat untuk tahan lama dll. Anggapan-anggapan tersebut tak ayal membuat pasangan menjadi gugup, nervous, bingung. Bila keadaan psikologis sudah tidak karuan maka bila memaksakan untuk berhubungan sex akan timbul sebuah ketidaknyamanan bagi salah satu pihak.

Apakah pernah dengar ada pasangan pengantin baru yang mempelai wanitanya harus sampai dibawa ke rumah sakit dikarenakan terjadi pendarahan hebat pada vaginanya saat berhubungan sex? Taukah apa penyebabnya? Apakah vaginanya terlalu sempit? Atau penis si pria yang terlalu besar ?? dan ..

Apakah anda pernah mendengar bahwa ada seorang pria yang mengalami ejakulasi dini saat malam pertama ?  Apakah pria itu tidak minum obat kuat kuat sebelumnya ??

Contoh-contoh kasus diatas adalah salah satu bentuk ketidak siapan pasangan dalam melakukan hubungan sex untuk pertama kalinya. Bukan karena mereka tidak mengerti bagaimana cara memasukkan penis dalam vagina, namun pasangan baru belum siap secara mental dan psikis dalam melakukan hubungan sex. Bagi seseorang yang belum pernah melakukan hubungan sex, hal tersebut sangat membuatnya bingung. Memang banyak video yang beredar tentang hubungan sex namun itu hanya secara visual saja, bagi orang yang belum pernah melakukan mereka akan bingung bagaimana melakukan hubungan sex secara real. Oleh karena itu kesiapan mental sangat diperlukan dalam melakukan malam pertama. Yang penting dalam persiapan mental adalah :

  1. Terbuka . saling terbuka satu sama lain. Katakanlah yang sejujurnya apa yang dirasakan saat ingin memulai hubungan sex dengan pasangan, terkait apa yang diinginkan satu sama lain, posisi yang bagiamana saat memulai. Tak perlu gengsi sebab ini merupakan pondasi penting dalam kenikmatan berhungan sex Anda.

  2. Foreplay. Lakukanlah foreplay / pemanasan. Pemanasan disini seperti anda ingin melakukan oleh raga berat seperti lari sprint dll. Pemanasan yang dimaksud adalah lakukan cumbuan-cumbuan ringan sebelum melakukan penetrasi. Cumbuan – cumbuan ringan bisa dimulai dari saling berpelukan, ngobrol hal-hal yang terkait imajinasi-imajinasi sex, saling meraba kemaluan satu sama lain, hot kissing, memainkan puting, dll. hal ini berfungsi untuk menyamankan satu sama lain, selain itu fungsi foreplay adalah untuk merangsang keluarnya cairan dalam vagina dan melenturkan otot-otot vagina sehingga vagina akan cenderung lebih siap untuk penetrasi penis, sehingga akan terhindar dari pendarahan vagina yang hebat saat penetrasi. Memaksimalkan waktu dalam foreplay dapat membantu wanita dalam memproduksi hormon oksitosin.  Menurut penelitian diketahui bahwa setidaknya ada 30 bagian otak wanita yang bekerja secara aktif saat orgasme, diantaranya bagian yang mengatur emosi, sensitivitas terhadap sentuhan, bagian yang mengatur rasa bahagia, bagian yang mengatur kepuasan dan rasa kebal terhadap sakit. Hormon ini juga dikenal dengan Love Drugs, karena membuat para wanita lebih mudah jatuh cinta pada pasangannya setelah merekan melakukan hubungan seks.

  3. Penetrasi . Setelah foreplay makin memanas, lakukan penetrasi penis secara perlahan. Terdapat selaput dara yang masih menutupi lubang vagina bagi yang belum melakukan hubungan sex. Pria perlu perlahan-lahan dalam melakukan penetrasi. Sebab wanita akan merasakan sedikit nyeri saat penetrasi dikakukan karena lubang vagina yang lebih kecil daripada penis. Jangan memaksakan penetrasi saat wanita mulai merasa kesakitan. Pria perlu peka dalam hal ini. Lakukanlah rehat sejenak dengan melanjutkan foreplay kembali sambil Anda menengkan pasangan Anda. Bila pasangan anda sudah mulai rilex kembali lakukan penetrasi dengan perlahan dan dengan penuh kenikmatan.

” Keberhasilan malam pertama bukan diukur dari keluarnya darah dari vagina karna tidak semua hubungan sex ditandai dengan darah, namun lebih pada bisa saling menikmati satu sama lain dengan meminimalisir rasa sakit dan memaksimalkan kenikmatan. “

Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 2)

Ngobrolin soal pelacur itu emang nggak ada habisnya. Setiap bulan pasti saja terselip berita-berita yang berkaitan dengan pelacur. Pelacur itu tidak hanya wanita saja loh, laki-laki juga banyak yang punya side job atau mainjob sebagai pelacur (gigolo). Nah sesuai dengan janjiku minggu lalu, aku akan melanjutkan pembahasan pelacur middle up, tentang persamaan serta perbedaannya..

  1. Pelacur Middle Class

Pelacur kelas menengah memang memasang tarif yang lumayan tinggi bagi orang yang hanya punya gaji UMR. Tarifnya yang beragam menempatkan mereka memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Biasanya tarif yang dipasang mulai dari 1,5 jt – 15 jt sekali main. Harga itupun bisa berubah lebih tinggi sesuai dengan kesepakatan pastinya. Harga yang tinggi tersebut membuat pelacur middle class memiliki penampilan yang berbeda. Bagi orang awam cukup sulit membedakan gaya pelacur kelas ini dengan orang pada umumnya, namun kebanyakan mereka memiliki gaya hidup yang menengah keatas. Pekerjaan pelacur kelas menengah itu beragam, ada yang model, penyanyi, sekretaris, dll (jgn digeneralisir ya). Namun ada juga yang full time jual diri. Nah untuk servicenya, pelacur kelas menengah punya kemampuan lebih dibandingkan pelacur kelas bawah. Mereka bisa menerima request, misalnya dengan request tematik (dokter-dokteran, inem, superhero, anak sekolahan dll). secara kemampuan memberikan kenyamanan pelacur kelas menengah punya ketrampilan sendiri, mereka biasanya akan lebih bermain ekspresi, merayu dan segala hal yang bikin pelanggan makin greget.  Untuk tempat bekerjanya ada yang menggunakan mucikari dan ada pula yang secara independent. Pelacur menengah yang bekerja secara independent memaksimalkan media sosial untuk tempat jualannya, kadang mereka juga menshare video mereka ketika menservice pelanggannya. Kalo kalian yang suka usil-usil serching, pasti bisa nemuinnya hehehe. Lalu apakah bonusnya sama banyaknya dengan pelacur kelas bawah? Pelacur kelas menengah itu biasanya kurang menyadari resiko penyakit yang akan mereka alami, untuk periksa saja gengsi, jadi bisa jadi resiko penyakit yang mereka alami lebih banyak. Dari hasil penelusuran beberapa sumber, pelacur kelas  itu bekerja untuk memenuhi gaya hidup. Mereka tak berarti dari pendidikan yang rendah dan dari kalangan keluarga miskin loh.

  1. Pelacur High Class

Berbicara pelacur kelas atas memang susah-susah gampang. Pelacur kelas atas itu bergerak secara sangat sembunyi-sembunyi dan sangat amat rapi. Saking rapi dan terselubungnya, harga yang mereka tawarkan pun juga sangat tinggi, tak hanya ratusan juta namun sampai menyentuh angka milyaran. Seperti yang kalian pikirkan, pasti hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membayar dengan harga yang selangit itu. Pelacur kelas atas biasanya digunakan untuk kepentingan politik atau bisnis, jadi fungsi pelacur itu bisa saja menjadi sogokan atau jebakan. Seseorang pembisnis atau pejabat yang belum bisa mengatur libidonya akan senang mendapatkan “hadiah” seorang pelacur kelas atas, selain mendapatkan pelayanan seks ternyata punya tingkat gengsinya tersendiri dikalangan tertentu. Tingkat kesehatan pelacur kelas atas memang sangat diperhatikan, berbagai asuransi mahal rela mereka bayar. Namun sekali lagi, pelacur kelas atas juga punya kemungkinan resiko terhadap penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS.

Sebenarnya postingan ini tidak berniat sebagai alat promosi pelacur. Bukan. Tujuannya adalah agar pembaca menjadi lebih aware atau peduli dengan apa yang ada di sekitar. Harapannya, mengerti tentang spesifikasi pelacur dapat menjadikan bahan introspeksi diri lagi terhadap kehidupan seksual pembaca, karena ada pepatah mengatakan,

“Ambil ilmu Pelacur, dan MAINKAN !”

pelacur low class

Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 1)

Pelacur, mungkin terdengar kasar yaa.. Tapi bila ditilik dari arti kata pelacur sesuai dengan KKBI pelacur berasal dari kata lacur yang berarti malang; celaka; sial; buruk laku. Namun bila dijabarkan lagi, sebenarnya tidak semua perilaku orang yang menjual diri itu buruk, hanya saja apa yang dilakukannya untuk mendapatkan uang tersebutlah yang buruk, jadilah disebut dengan pelacur.

Dibanyak media massa, pada saat-saat tertentu pasti akan dimunculkan tentang isu atau berita yang berhubungan dengan pelacuran. Mulai dari isu penutupan lokalisasi, tertangkapnya manager artis yang merangkap sebagai mucikari, dan berita pembunuhan seorang pelacur yang mayatnya ditemukan termutilasi di jalan tol. Dari contoh yang aku sebutin diatas, taukah apa perbedaanya? Yap, kalo pada sadar sebenarnya aku sudah menyebutkan tentang grading atau pengklasifikasian pelacur menurut kelasnya.

Pada postingan kali ini, dengan senang hati aku akan membahas tentang pengklasifikasian pelacur menurut dengan kelas beserta servisnya, cekidot yah!

  1. Pelacur Low Class tipe A

Pelacur kelas bawah itu biasanya yang sering kita lihat dipinggir jalan. Dandan seadanya dan menerima tamu yang seadanya pula. Biasanya penampilan tidak terlalu dipedulikan, karena modal mereka juga terbatas. Tempat mangkalnya tidak selalu di pinggir jalan, namun bisa juga di terminal, stasiun kereta atau tempat-tempat yang sudah terkenal sebagai lokalisasi dadakan. Kalo di Semarang itu seperti di kawasan Blerok, Kota Lama, Polder Tawang depan Stasiun Tawang,  kawasan TI, terminal Terboyo, dan masih banyak lagi. Target tamu yang mereka sasar juga biasanya yang berdopet pas-pasan seperti tukang becak, kuli bangunan, supir trek, dan sejenisnya. Untuk harga? Ya biasanya berkisar 30rb – 75rb atau sesuai dengan kesepakatan tawar menawarnya. Bahkan aku pernah juga mendapat cerita dari salah seorang teman bahwa dia pernah ditawari hanya membayar 5rb untuk menghisap puting saja. Selain harga servis yang relative sangat murah ternyata pelacur kelas bawah menawarkan banyak bonus. Yap! Bonus penyakit hehehe. Lalu layanannya apa saja? untuk pelacur kelas bawah memang hanya menawarkan jasa seks konvensional, prinsipnya bisa masuk dan langsung keluar…

  1. Pelacur Low Class tipe B

Pelacur kelas bawah tipe B secara prinsip sebenarnya tidak berbeda dengan yang tipe A dalam hal layanan seks, yang berbeda yaitu tempat, penampilan dan harga pastinya. Tipe B masih punya modal untuk bersolek, beli wewangian, dan beli baju-baju seksi. Saking ingin terlihat menonjol, kadang penampilan mereka berlebihan sehingga terlihat norak. Untuk tempat mangkalnya biasanya sudah terlokalisir seperti di lokalisasi Sunan Kuning, GBL, kawasan stasiun Poncol, dll. Lokasi-lokasi tersebut biasanya sudah terdaftar dalam sebuah lembaga yang mengurusi tentang pelacuran untuk kepentingan akses kesehatan. Jadi bisa dibilang secara kesehatan pelacur kelas bawah kemungkinan terjamin, namun sayangnya tidak bisa dipastikan semua pelacur yang mangkal di lokalisasi bebas dari penyakit-penyakit kelamin. Ya ibaratnya seperti undian. Soal harga pastinya mereka punya batas bawah, rata-rata mereka mematok harga 150rb. Bagi pelacur yang punya grade biasanya mereka bisa mendapat pelangggan yang rela membayar sampai 1 jtan untuk menginap semalaman. Secara servis, kebanyakan masih bermain pada level konvensional. Kalopun ada yang bersedia free style itupun hanya bisa dihitung jari. Lalu siapa pelanggannya? Nah untuk sebaran tamunya cukup luas dari berbagai kalangan. Ada yang mahasiswa, pengusaha, pejabat, aparat berwajib, preman kelas menengah, dll. Namun perlu dicermati pelanggan mereka juga kebanyakan yang berasal dari kalangan ekonomi menengah, kalopun pejabat atau aparat juga bukan yang punya pangkat yang tinggi-tinggi banget. Oh ya tamu yang datang ke lokalisasi banyak juga pria-pria yang sudah berumur, yang jengah dirumah karena istri tak lagi menarik. Biasanya tamu om-om ini tak selalu berakhir kentu namun lebih senang ditemani karaoke atau hanya sekedar sebagai peneman ngobrol.

To be continued ….

“Disclaimer: Postingan ini bertujuan untuk edukasi semata”

Handjob For Homeless (18+)

Tepatnya setahun yang lalu, seorang kerabat yang sedang bekerja di Amerika mengirimkan  sebuah link video tentang teaser social pilot project yang bernama Handjob for Homeles (silahkan cari sendiri kalo error 😛 ). Awalnya kaget dan jijik setelah melihat video tersebut. Kaget, karena kok bisa ada social pilot project yang menggunakan cara yang tidak lazim tersebut, setelah kaget respon berikutnya adalah jijik karena sebelumnya aku baru saja mengalami kejadian dipamerin titit yang masih terbayang-bayang dibenakku. Sebenarnya, ada maksud dan tujuannya mengapa kerabat jauhku itu mengirimkan link tersebut, yaitu agar aku mengkritisi kegiatan tersebut.

Pertama-tama jelas pendapatku tidak setuju dengan kegiatan tersebut. Selain tidak lazim, kegiatan tersebut useless karena tidak memberikan sebuah manfaat untuk membantu kehidupan si homeless selanjutnya. Kerabatku dengan santainya membalas argumenku dengan sederhana, “coba dipikir lagi”.

Setelah, berpikir ulang ternyata pendapatku itu menggunakan sudut pandang orang Indonesia, dimana kegiatan tersebut memang tidak lazim dan penuh dengan ketabuan hehehe. Setelah aku mencoba mengubah sudut pandang, ternyata ada kemungkinan kegiatan tersebut lazim diberlakukan di negara lain, seperti Amerika misalnya. Memberikan bantuan secara materi pada homeless di Amerika mungkin sudah menjadi hal yang mainstream, sedangkan memberikan bantuan handjob pada homeless merupakan suatu bantuan yang out of the box, pikirku. Selain memberikan kenyamanan secara  psikologis, ternyata handjob disinyalir bisa membantu menurunkan tingkat pelecehan seksual yang dilakukan homeless pada warga sekitar. Memang belum ada angka pasti apakah kegiatan tersebut benar-benar efektif menurunkan tingkat pelecehan, namanya juga pilot project pastinya masih dalam penelitian lebih lanjut.

Aku juga tak lupa riset melalui googling terkait pilot project tersebut, dan hasilnya aku belum menemukan ada yang membahasnya lebih lanjut. Bisa jadi project tersebut dilakukan hanya dalam lingkungan tertentu dan hasil risetnyapun untuk kalangan tertentu atau memang project tersebut menuai banyak kontroversi sehingga diberhentikan.

Terlepas jadi atau tidaknya project tersebut dilaksanakan, aku pribadi sebenarnya setuju dengan project tersebut jika tujuannya sebagai upaya penurunan pelecehan seksual. Tak lupa aku juga mencari beberapa jurnal yang mendukung argumenku, yaitu terdapat riset yang mengatakan bahwa handjob / masturbasi dapat menurunkan tingkat kecemasan serta meningkatkan self-esteem (Dodson, 1987). Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan LoPiccolo & Lobitz, (1972) juga mengungkapkan bahwa masturbasi merupakan langkah awal dalam tahap terapi disfungsi seksual. Sehingga, dapat dikatan bahwa dalam situasi tertentu, masturbasi memang dapat memberikan efek dalam peningkatan kesehatan seksual  serta psikis. Selain dalam situasi dan kondisi tertentu,  menurutku si subyek penerima treatmen pun juga harus diseleksi dengan teliti, jangan sampe salah sasaran misalnya orang yang ngaku-ngaku homeless agar bisa mendapatkan treatmen handjob dari volunteer, haha. Tapi, kalo ini di lakuka di Indonesia, aku pastinya nggak setuju. Sebab aku yakin kegiatan ini sangat amat menuai kontroversi dan penolakan besar-besaran 😀

Kalo kamu gimana? Setuju nggak dengan Handjob for Homeless social project??

 

 Cheers!

Dipamerin Titit

Ditengah hiruk pikuk jalanan yang ku lewati hari ini, tak sengaja pandanganku terkunci pada perilaku seseorang laki-laki yang berada di pinggir jalan. Pakaiannya dan badannya terlihat sangat lusuh, sepertinya orang itu homeless. Orang itu dengan perlahan membuka celananya dan menghadap ke sebuah pembatas pinggir jalan. Dari gerak geriknya, orang itu seperti akan mengguyurkan air dari tubuhnya ke pembatas jalan itu. Sayangnya aku melihat hanya seklebatan saja. Namun, dari peristiwa itu membuatku mengingat sebuah peristiwa di tahun 2015 lalu, yang cukup menghebohkan diriku sendiri. Seingatku aku sudah menuliskannya di blog pribadi yang lain, tapi kali ini sepertinya aku akan menceritakannya lebih lengkap.

Jadi begini ceritanya…

Maret tahun 2015 aku mengikuti sebuah workshop travel blogger. Ini pengalaman pertamaku mengikuti workshop kepenulisan dengan tema traveling. Workshop itu diadakan selama 2 hari. Hari pertama diisi full materi dari travel blogger yang udah berpengalaman, sedangkan hari kedua adalah hari untuk mempraktekan materi yang sudah diajarkan. Dari workshop itu sebenarnya klimaksnya ada di hari kedua, karena para peserta diminta untuk mengeksplorasi tempat wisata di Semarang yaitu di Kota Lama.

 Dengan gaya mirip traveler, aku mengalungkan kamera merahku dan sok melihat-lihat bangunan tua dengan gerak gerik penasaran haha (padahal udah sering aku liat dan sering lewat tempat itu). Di salah satu spot dekat Gereja Blenduk, aku melihat ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku ambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Di saat aku sedang foto-foto itu ada pengendara motor yang beberapa kali melewatiku sambil memperhatikan. Aku menjadi sempat curiga apakah orang ini mau malak atau gimana, hingga pertanyaanku terjawab. Setelah beberapa kali mengamatiku, tiba-tiba dia berhenti di dekatku dan dengan santainya memperlihatkan penisnya.

Dengan spontan aku langsung menyolot “Uasuuuu!!”. Setelah aku teriak gitu dia langsung ngacir tapi masih memandangiku. Aku sempat memandangi anunya, eh wajahnya. Dia lelaki yang tergolong sudah tua, kira-kira usianya 50 tahun lebih. Dari kejadian itu aku sempat merasa shok karena sudah menjadi korban pelecehan seksual. Tapi… setelah aku menenangkan diri dan langsung cari banyak literatur tentang eksibisonis dan pelecehan seksual aku menjadi mulai mengerti bahwa ada beberapa hal yang aku pelajari:

Ekshibisionisme adalah tindakan memamerkan atau mengekspos, dalam konteks publik atau semi-publik, bagian-bagian tubuh seseorang yang biasanya tertutup – misalnya, payudaraalat kelamin, atau bokong. Praktek ini mungkin timbul dari hasrat atau dorongan untuk mengekspos diri mereka sedemikian rupa kepada kelompok teman-teman, kenalan, atau orang asing untuk hiburan mereka,kepuasan seksual, atau untuk kesenangan berhasil mengejutkan pengamat yang tidak menduganya. (wikipedia.com)

Dalam menghadapi pelaku eksibisionis, baiknya kita mengusahakan untuk tidak memberikan respon terkejut (teriak, menutup wajah, dll), marah, atau lari. Nah loo… itu kan respon wajar, masa kaget dan marah nggak boleh? Yup mau tidak mau kalo kita tidak mau memberikan efek kepuasan pada si exibisionis kita perlu menghindari hal-hal tersebut, karena pelaku akan semakin merasa puas dan klimaks ketika respon si korban demikian. Nah, setelah mempelajari lebih akhirnya aku menemukan trik bagaimana membuat si pelaku jera, yaitu memberikan respon yang berkebalikan dengan apa yang diinginkan. Seperti kembali melecehkannya, dengan mengolok-olok bentuk kelaminnya. Misal nih: Waaah! Wis cilik elek san!” (udah kecil jelek pula), atau bisa juga dengan tertawa sinis mengejek. Intinya merendahkannya. Untuk melakukan cara ini memang kita perlu memiliki keberanian. Keberanian itu ada bisa dengan merubah sudut pandang kita terhadap alat kelamin menjadi bukan hal yang selalu tabu untuk di bahas. Jadi, ketika sudah merubah sudut pandang akan bisa meminimalisir respon kaget, takut atau jijik. Dalam beberapa literatur psikologi disebutkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan eksibisionis memiliki rendah diri dan sering terabaikan, sehingga dengan memamerkan alat kelamin mereka akan mendapatkan perhatian dari orang lain dengan cara yang tidak lazim.

Pelaku eksibisionis  tak selalu melakukan aksinya di tempat sepi, ada juga di tengah kerumunan banyak orang. Bisa juga di pasar, bis umum, mall, dll. Jadi tetap waspada!

Soal pelecehan seksual, memang awalnya aku pribadi merasa menjadi korban. Namun setelah diskusi dengan banyak orang bahwa menjadi korban itu sesuai dengan persetujuan diri kita sendiri atau tidak. Kalo kita tidak mengijinkan diri kita sebagai korban maka kita akan keluar dari sudut pandang korban. Pola pikir ini sebenernya bisa membantu untuk kestabilan psikologis, karena menjadi korban pelecehan seksual itu tidak menyenangkan, harga diri dan sudut pandang terhadap diri pasti akan berubah. Misal: “Aku sudah mengalami pelecehan seksual jadi aku merasa kotor dan tidak pantas ini itu bla bla….”. Jadi untuk bisa mempercepat move on dari peristiwa tersebut, aku secara pribadi akan melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda dan menjadikan itu sebuah pelajaran untuk kedepannya.

Bagiku setiap peristiwa selalu ada hikmahnya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Cheers!!

 

Aku ingin Kuliah

Siapa sih yang nggak mau kuliah? Aku yakin bahwa banyak diantara kalian yang baru aja lulus SMA/SMK ingin sekali melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Bayangan kehidupan kuliah yang menyenangkan dan lebih bebas dari aturan ketat sekolah, seringkali lebih menjadi daya tarik dari pada pilihan jurusan itu sendiri. Ya mungkin tidak semua remaja berpikir seperti itu, tapi sayangnya lebih banyak yang berpikir demikian.

Dibalik berbagai macam alasan remaja ingin melanjutkan kuliah, ada kisah menarik yang pernah aku dengar secara langsung dari seorang pelacur muda. Sebut saja dia Tia, usia 18 tahun asal Kota Tegal yang sudah bekerja selama 1 tahun di lokalisasi Sunan Kuning.

Perawakannya kurus, wajahnya manis namun sayangnya terlihat pucat. Begitulah kesan pertama yang aku tangkap ketika bertemu dengannya. Tia memang terkesan dingin padaku, namun dalam matanya terpancar hasrat ingin meluapkan sesuatu.

Tia bercerita bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah pilihan yang sulit. Tia bukan berasal dari keluarga yang sangat berkeurangan. Ibunya yang bekerja sebagai TKW di Malaysia selalu memberikan kebutuhan secara materi padanya. Kebutuhan materi memang selalu terpenuhi, namun tak dengan kebutuhan cinta. Sebenarnya bukan soal selalu tinggal berjauhan dengan ibunya yang membuat Tia tak merasakan cinta, namun karena kurangnya penghargaan dari ibunya terhadapnya.

Selama sekolah Tia adalah seorang murid yang pintar. Hampir setiap kenaikan kelas ia selalu mendapatkan beasiswa hingga kelulusan. Menjadi anak briliant, pintar mengaji dan selalu berbakti pada orang tua adalah prinsip hidupnya ketika bersekolah dulu. Namun, seiring berjalannya waktu setiap usaha yang dilakukannya tak dihargai oleh ibunya membuat Tia memberontak. Selama ini Tia merasa apa yang dilakukannya tak pernah berarti untuk ibunya.

Tia yang semasa SMA sudah bekerja menjadi SPG mulai mengenal dunia malam. Mulai dari wanita peneman balapan motor trek-trekan, hingga peneman minum bir di salah satu beer kafe di daerahnya. Selain mendapat uang, Tia serasa memiliki tempat yang bisa menjadi pengalih kesedihannya.

Hingga akhirnya Tia lulus SMK, ia memilih untuk tak langsung melanjutkan ke jenjang kuliah. Ia memilih untuk bekerja sebagai pemandu karaoke di lokalisasi. Pikirnya, lebih baik mengumpulkan hasil jerih payah terlebih dulu sebelum melanjutkan kuliah.

Menurutnya, walau kini ia sudah mendapatkan cap sebagai pelacur, namun ia tetap tak ingin mengubur mimpinya untuk bisa kuliah. Ditengah kenyataan banyaknya mahasiswa yang tak menghargai jerih payah orang tua membiayai kuliah, ada sebuah harapan dari seorang pelacur muda yang berusaha keras untuk mengumpulkan pundi-pundi demi kuliahnya kelak.

 

Cerita Sex dari Timur Tengah

13 Juli 2016 kemarin aku and the genk dateng ke Open House nya Pakdhe Prie GS. Ih wow seneng rasanya bisa dateng, apalagi disana bisa ketemu Om Pras yang spesial dateng dari Jakarte.

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

Sayangnya aku dateng telat, jadi aku hanya duduk lesehan di belakang dan langsung mengikuti acara yang sudah berlangsung setengah jam yang lalu. Dari bagian belakang, aku hanya bisa melihat dari jarak jauh bahwa di depan ada empat orang yang duduk di kursi. Satu diantaranya jelas Pakdhe Prie yang punya gawe, dan ketiga lainnya aku tak mengenalnya. Saat itu Pakdhe Prie sedang berdialog dengan seseorang yang sedang menjabarkan suatu pengetahuan tentang keIslaman, tak lama aku baru tahu bahwa beliau adalah Prof Sumanto.

Dari dialog itu aku baru menyadari bahwa Prof Sumanto itu bukan orang sembarangan. Beliau adalah seorang  professor dan juga dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas. Tak hanya sebagai dosen, saat ini beliau juga sebagai tim penyeleksi para calon-calon professor di beberapa universitas di luar negeri. Nih profil singkatnya..

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

Singkat cerita, saat dialog tersebut Prof Sumanto menekankan bahwa sebenernya banyak orang Indonesia yang sebenernya kena “tipu” dari sekelompok orang yang tidak ingin Indonesia jadi lebih maju. Sebenernya, tren ke Arab-Araban yang banyak orang ikutin itu udah sangat amat ketinggalan zaman di Negeri Timur Tengah sendiri. Padahal di Timur tengah sendiri perkembangannya sudah sangat pesat.

Prof Sumanto juga menekankan, jangan salah mengartikan orang yang tidak berhijab itu derajat keimanannya lebih rendah dari yang berhijab. Karena saat ini banyak sekali orang Indonesia (khususnya) yang menjudge segala sesuatu itu hanya dari simbol, seperti hijab, jenggot, dahit hitam contohnya. Drajat keimanan seseorang itu bukan manusia yang menilai, tapi Allah SWT. Dan yang belum banyak orang tau bahwa anjuran berhijab itu bukan hanya umat Islam saja, tapi semua agama menganjurkan untuk berhijab, ada agama Kristen, Katolik, Yahudi, dll. Jadi sebenernya tolak ukur  orang Islam itu bukan berhijab dari atributnya.

Di tengah sela-sela bincang-bincang santai, aku mulai mendekati Prof Sumanto untuk menanyakan beberapa hal khususnya yang berkaitan dengan social science. Bukan Yori namanya kalo gak ngulik-ngulik soal dunia sex, haha. Jadi dengan tanpa rasa malu aku langsung aja tanya tentang hasil-hasil riset yang berhubungan dengan prostitusi di Timur Tengah sana. Prof tau yang aku tanyakan bukan hal tabu, karena aku bertanya dalam koridor ilmu pengetahuan, jadi saat ada seseorang yang mencoba membuat itu sebagai guyonan Prof Sumanto langsung tak menggubrisnya.. Hahaha suka banget! 😀

diskusi serius :D

diskusi serius 😀

Jadi begini hasil perbincanganku dengan Prof Sumanto yang sangat amat singkat :

Praktek prostitusi yang formal jelas tidak ada, tapi biasanya kegiatan tersebut dilakukan di Bahrain tetangganya Saudi. Jadi apa-apa yang di haramkan di Saudi, di halalkan di Bahrain. Jadi ada club malem, bioskop dll. Kalo kalian inget ada video pria-pria timur tengah menyawer seorang penari perut itu adalah salah satu contohnya.

Kalo di Saudi jelas tidak ada lokalisasi yang formal, mungkin ada tapi sangat privat banget. Kalo di Bahrain, Libanon, dll itu jelas ada dan sangat terbuka. Bisanya, kalo di Bahrain mereka ada aturannya, boleh kegiatan seperti itu tapi hanya untuk warga bukan Bahrain, maksudnya adalah warga pendatang.

Selain dunia prostitusi tersebut, aku juga menanyakan tentang praktek pernikahan sesaat hanya untuk halal-isasi hubungan seks kilat, yang pernah aku dapatkan faktanya di lokalisasi Sunan Kuning. Prof Sumanto menjelaskan bahwa praktek pernikahan tersebut adalah Nikah Misyar. Beliau menjelaskan bahwa Nikah Misyar adalah semacam turisme seks atau nikah jalan-jalan. Tidak semua orang mempraktekan Timur Tengah mempraktekan, tapi faktanya tetap ada walau sedikit.

Dari pertemuanku dengan Prof Sumanto memberikanku sebuah jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku pendam. Apa yang aku asumsikan selama ini ternyata benar bahwa mau di Arab Saudi ataupun di tanah Timur Tengah  praktek prostitusi itu pasti tetap ada.

Intinya adalah Manusia itu dimana-mana sama, akan mencari celah sesempit apapun. Diatur seketat apapun akan mencari celah untuk kebutuhan “seks” tersebut. Jadi jangan salah sangka kalo orang Saudi itu semuanya taat. Mereka di back street banyak sekali melakukan seperti itu. Mereka hanya taat saat di publik, karena kekhawatiran ada Polisi Syariat. – Prof Sumanto

Jadi please buat kalian jangan mau di Arab-isasi. Jadilah INDONESIA, yang punya jati diri sendiri. Penjajah jaman sekarang itu gak lagi pake senjata api, tapi pakai isu-isu yang bikin kita semua pada tercerai berai. Jangan mudah terprofokasi dari kelompok-kelompok tertentu, pikirlah dulu sebelum bertindak.

Cheers!!