Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Puput adalah salah satu  pekerja seks yang sudah cukup lama aku kenal. Wajahnya yang selalu ceria saat bertemu denganku ternyata menyimpan luka batin yang luar biasa dalam. Puput yang kini berusia hampir 30 tahun adalah wanita asal Kalimantan yang sudah bekerja sebagai pekerja seks di SK selama hampir 3 tahun. Secara penampilan, Puput memiliki perawakan yang cukup berisi dan ia juga memiliki rambut yang hitam dan panjang. Sedangkan parasnya, Puput memiliki wajah yang bersih dan tergolong lumayan cantik.

Hari itu, tepatnya hari Selasa di pertengahan bulan Februari 2016 aku mengunjungi wismanya. Kebetulan aku datang saat pagi hari kira-kira pukul 9.15 wib. Pagi hari adalah waktu yang relatif aman bagiku untuk mengunjungi wisma, sebab pada pagi hari belum banyak tamu yang datang seperti sore menjelang malam. Aku mengunjungi wismanya karena memang sebelumnya aku sudah membuat janji dengan Puput.

Wisma Puput salah satu wisma yang terletak di gang yang cukup ramai. Walaupun letaknya di paling ujung, namun wisma yang berwarna dinding hijau cerah ini merupakan salah satu wisma favorit karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

Setibanya aku di pelataran wisma, tak ada seorang pun yang terlihat. Aku hanya melihat lorong gelap yang terlihat dari pintu depan yang terbuka. Tanpa ragu aku menghampiri ambang pintu dan mengetuk pintu sembari mengucap salam. Tak beberapa lama, datang seorang pria berperawakan kurus tinggi dan segera menghampiriku. Wajahnya masih tampak kusut sama seperti pakaian yang dikenakannya. Ia tampaknya operator karaoke yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Ya Mbak, cari siapa ya?” tanyanya sembari menggaruk-garuk lengannya.

Mbak Puput ada mas?” jawabku singkat.

Oh ya mbak langsung masuk aja,” jawabnya sambil membalik badannya dan menunjukkan dimana letak kamar Puput padaku.

Tanpa mengulur waktu aku langsung saja menghampiri kamar yang terletak paling pojok yang berdaun pintu berwana hijau tua. Aku langsung mengetuknya dan tak lama pintu terbuka. Terlihat Puput yang menggunakan daster baby doll warna merah muda di balik pintu. Puput langsung tersenyum padaku dan langsung mempersilahkanku masuk.

Maaf ya mbak aku belum mandi, kamar juga masih berantakan,” gumamnya padaku sembari merapikan letak bantal dan guling agar ada  sedikit ruang di kasurnya untuk tempatku duduk.

Sebenarnya ini pertama kalinya aku memasuki salah satu kamar di wisma tempat wanita pekerja seks mencari nafkah. Jujur, kala itu jantungku cukup berdebar karena aku menduduki tempat peraduan yang biasa digunakan Puput untuk melayani tamu-tamunya. Namun perasaan yang tak karuan itu segera aku buang jauh-jauh dan segera kembali fokus pada Puput.

Semalam selesai kerja jam berapa Mbak?” tanyaku sembari membuka obrolan.

Kayaknya jam 2 an deh, tapi habis itu aku gak bisa tidur sampai jam 5 pagi. Ni baru aja bangun mbak,” jawabnya sambil mengikat rambutnya.

Sontak aku langsung merasa sungkan karena tak enak sudah mengganggu waktu istirahatnya. Memang bagi pekerja malam seperti Puput, pukul 9 pagi adalah waktu untuk istirahat. Namun Puput segera menepis kesungkananku dengan mengatakan bahwa ia tak keberatan dengan kedatanganku dengan menyuguhkanku sebungkus biskuit kelapa.

to be continued…

bu mus 5

Kisah Bu Mus Eps. 5

 

Saat ini Bu Mus masih aktif bekerja sebagai PSK. Menurutnya walaupun hanya mendapatkan 3 tamu dalam sehari atau bahkan tak mendapatkan tamu sekali ia tetap mensyukuri rezeki yang diberikan Tuhan padanya. Sebagai penggantinya untuk mengisi waktu luangnya yang cukup banyak, ia sangat rutin membuat kerajinan tangan yang ia tekuni saat ini.

“Ya walaupun untungnya sedikit, namanya juga usaha yang dibangun dari nol pastinya kan begitu Mbak Yoli. Yang penting tetap terus dijalani dan disiplin.”

Ia mengakui bahwa pekerjaannya sebagai pelacur adalah dosa besar. Namun menurutnya ia tidak mengetahui pekerjaan lain yang dapat ia lakukan dengan usia yang sudah mencapai  50 tahun. Untuk menebus dosa-dosa yang telah diperbuatnya Bu Mus selalu mengingat akan keberadaan Tuhan dengan beribadah di tengah kegiatannya.

Sebagai pekerja seks pasti terdapat resiko besar yang di hadapi oleh Bu Mus. Selain resiko terjangkit penyakit menular seksual hingga HIV/AIDS, Bu Mus juga menghadapi resiko – resiko fisik dan moral yang tidak ringan. Mungkin untuk menghadapi hujatan masyarakat tentang profesinya sudah dapat ia siasati, namun tidak dengan resiko moral sebagai perusak rumah tangga orang. Sebagai wanita secara naluriah Bu Mus juga merasa bahwa begitu sakitnya bila dihianati oleh suami, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya memendam rasa bersalahnya dalam-dalam.

Sebenarnya resiko mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual sangat besar peluangnya terjadi di lokalisasi. Namun, karena Bu Mus memiliki prinsip untuk selalu menjaga keamanan dirinya, Bu Mus selalu selektif dalam memilih tamu. Ia tak pernah menerima tamu yang sedang mabuk. Sebab tamu yang mabuk sangat sering membuat ulah dan tidak segan-segan berkata kasar hingga mendaratkan bogem mentah di wajah wanita pekerja seks.

Setiap orang pastinya memiliki harapan, begitupun dengan Bu Mus. Ia berharap kedepan, saat sudah memiliki modal yang cukup ia ingin membuka kios kecil di desanya. Selain menjual pernak pernik kerajinan tangan ia juga ingin memberi pelatihan keterampilan pada masyarakat di desanya. Ia menyadari bahwa wanita-wanita di desanya memiliki peluang besar untuk masuk ke dalam dunia prostitusi. Oleh karena itu ia memiliki niat untuk memberdayakan wanita di desanya agar tak perlu lagi bekerja sebagai pelacur sepertinya untuk bisa menghidupi keluarga.

-The End-

Kisah lengkap,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 3

Kisah Bu Mus Eps. 4

Kisah Bu Mus Eps. 4

Saat ini suaminya memang telah tiada, namun Bu Mus masih tetap mejalankan profesinya sampai saat ini. Menurutnya masih ada anak semata wayangnya yang masih membutuhkannya. Walaupun anaknya kini sudah menikah namun tetap saja Bu Mus ingin memiliki tabungan untuk anaknya kelak saat ia sudah tiada. Selama ini Bu Mus tak pernah bercerita secara terang-terangan pada anaknya, namun ia merasa bahwa anaknya sudah mengetahui tentang apa yang ia kerjakan selama ini.  Anaknya hanya bepesan agar warga desa lain tidak mengetahui apa pekerjaan Bu Mus selama ini, sehingga membuat Bu Mus jarang pulang ke desa. Dan selama pulang ke desa, Bu Mus jarang sekali bergaul dengan tetangga di desa. Bu Mus lebih memilih untuk berdiam diri dirumah dan hanya keluar bila ada keperluan karena ia takut dengan resikonya bila warga desanya mengetahui apa pekerjaannya.

Di Sunan Kuning, Bu Mus bekerja sebagai pekerja seks yang hanya memberikan layanan ngamar. Aku pun penasaran dan mengulik lebih dalam tentang kegiatan yang dilakukannya saat ia sedang bekerja. Ternyata aku mendapat jawaban yang berbeda dari pekerja seks lain. Disamping memberikan kebutuhan badaniah pada tamunya, ternyata Bu Mus juga memberikan layanan batiniah. Tak melulu hanya hubungan seksual yang dibutuhkan oleh para tamunya yang sebagian besar lebih muda darinya, namun ternyata banyak juga dari mereka yang membutuhkan teman berbagi cerita dan keluh. Tak dipungkiri, apa yang dilakukan Bu Mus selama ini memang perbuatan yang melanggar norma serta agama, namun ia kerapkali berpesan pada tamu-tamunya agar tetap menjaga harga diri isti maupun keluarga dengan tidak menjelek-jelekan. Bahkan beberapakali Bu Mus meminta tamunya untuk berhenti datang padanya dan jajan di SK.

“Pak atau Mas atau Om, sudah tidak perlu terlalu dipikirkan. Mas boleh curhat dengan saya tapi tolong janganlah menjelek-jelekkan nama istri, orangtua, atau anak atau keluarga. Aku gak suka itu. Aku juga sebagai istri dan sebagai perempuan akan merasakan sakit bila diomongkan oleh orang lain terlebih suami sendiri. Walaupun bagaimana jeleknya istri kamu, tetaplah istri kamu.”

Ungkapnya padaku saat mencotohkan ucapannya pada pelanggannya. Menurutnya, dari nasehat yang ia sampaikan pada tamunya, sedikit demi sedikit membuat para tamunya  tersentuh dengan ucapannya dan mulai mengurangi menjelekan istri atau keluarga dihadapan orang lain.

to be continued…

Sebelumnya

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 3

Kisah Bu Mus Eps. 3

Waktu itu keadaan terasa terjepit sekali, Mbak Yoli. Semua perabot sudah habis dijual untuk pengobatan, dan pada akhirnya aku berpikir untuk mencari pekerjaan. Kalo aku nggak kerja nanti siapa lagi yang akan membayar pengobatan suami dan hidup anakku.”

Usia yang sudah tak lagi muda, membuatnya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.  Terlebih, Bu Mus hanya lulusan Sekolah Dasar yang tak berizasah yang tak punya pengalaman bekerja. Kondisi pelik di tengah keadaan yang semakin terhimpit.

Bu Mus sempat terpikir untuk menjadi TKW, namun itupun hanya sekedar angan-angan karena segala tetek bengek yang harus dipersiapkan yang membutuhkan waktu tak sebentar.  Dan pastinya ia tak bisa pergi jauh meninggalkan suami yang sakit dan anak semata wayangnya dalam kurun waktu yang lama.

Hingga suatu saat, dimana semua terasa tak ada lagi jalan. Suami Bu Mus memberikan izin padanya untuk melakukan pekerjaan apa saja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga serta pengobatan. Sebenarnya Bu Mus sudah lama mendapatkan informasi tentang peluang pekerjaan yang dapat menghasilkan uang jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Namun pekerjaan itu sangat amat bertolak belakang dengan batinnya. Dengan keadaan yang samakin terhimpit, akhirnya Bu Mus memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya terkait peluang kerja yang di dapatnya.

“Pah, kalo aku kerja di lokalisasi bagaimana?”

“Ya gak apa-apa Mah, kalo memang sudah tidak ada lagi jalan lainnya.”

Itulah awal mula Bu Mus menguatkan hati bekerja sebagai pelacur demi pengobatan suami tercinta dan memenuhi kehidupan keluarga. Dalam keadaan yang semakin tak berdaya, suaminya merelakan Bu Mus untuk pergi mencari secercah harapan di kompleks lokalisasi. Saat mengingat kembali kejadian tersebut, raut wajahnya berubah menjadi lebih sendu dari sebelumnya. Nada bicaranya pun mulai melambat dan tatapannya seperti meratapi sesuatu.

Awal-awal ia menjalankan pekerjaan sebagai wanita pekerja seks, seringkali muncul tabrakan-tabrakan emosi yang ada dalam dirinya. Ia harus melakukan hubungan suami istri dengan pria lain disaat suaminya mengerang kesakitan di rumah. Rasa bersalah yang kuat seringkali mengiris hati. Bu Mus sadar, jalan yang telah dipilihnya adalah perjuangan hidup yang harus ia jalani. Tekad kuat untuk bisa membantu perekonomian keluarga dan biaya pengobatan membuatnya bertahan.

Usaha keras Bu Mus yang sudah bertahun-tahun untuk mencari biaya pengobatan ternyata tidak sejalan dengan harapan yang ia inginkan. Tuhan berkehendak lain, suami tercinta yang selama ini ia perjuangkan telah di panggil oleh Tuhan untuk selama-lamanya. Kesedihannya kembali tersirat dari raut wajahnya saat menceritakan padaku, ia merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berada di dekat suaminya pada saat-saat terakhir.

to be continued….

Sebelumnya,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 2

Bu Mus tahu persis, keputusan yang diambilnya penuh dengan resiko. Mungkin, bila disaat itu ada seseorang yang bermurah hati membantunya, mungkin saat ini ia merasa seperti layaknya ibu-ibu pada umumnya, menimang cucu sambil bersenda gurau dengan keluarganya.

Awalnya, aku tak percaya bila Bu Mus bekerja sebagai wanita pekerja seks. Perilakunya yang sopan dan rona wajah sendu yang terpancar dari Bu Mus membuatku sering berpikir ulang bahwa ia hanya pegawai kelurahan atau LSM. Dengan usianya yang sudah diakhir tengah baya ternyata masih saja ada tamu yang menghampirinya untuk mendapatkan layanan seks. Kini Bu Mus sudah hampir lima tahun bekerja di SK. Walaupun pendapatannya tak sebanyak dulu, namun Bu Mus mengatakan akan tetap tinggal hingga setahun hingga dua tahun mendatang. Kini ia memiliki kegiatan aneka kerajinan tangan untuk menopang kehidupannya.

Sebenarnya kisah Bu Mus hampir sama seperti dengan kisah wanita pekerja seks kebanyakan yang datang melacur dengan motif awal ekonomi. Motif ekonomi hanyalah motif pembungkus saja. Perjalanan Bu Mus sebagai wanita pekerja seks ternyata berasal dari rasa cintanya terhadap suaminya. Penyakit stoke telah melumpuhkan sendi-sendiri tulang suaminya serta ekonomi keluarga, hingga membuat Bu Mus melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan nyawa suami tercinta dan ekonomi keluarga.

Awalnya, Bu Mus sama seperti ibu rumah tangga lain yang mendedikasikan diri untuk berbakti pada keluarga.  Kehidupan rumah tangga Bu Mus terbilang bahagia. Walau hidup di sebuah desa di Jawa Tengah, kehidupannya dengan suami dan anak semata wayangnya sangat berkecukupan. Namun, sayangnya kebahagiaan yang dirasakannya seiring waktu mulai terkikis karena suaminya yang jatuh sakit. Semua yang dulunya serba berkecukupan, kini berbalik menjadi serba kekurangan. Suaminya tak lagi bekerja semenjak ia jatuh sakit.

Uang tabungan kian hari kian menipis, rumah pun terasa makin kosong karena perabot sudah mulai habis terjual.  Dengan keadaan suami yang hanya bisa berbaring di kasur menahan sakit, otomatis memaksa Bu Mus berubah peran menjadi tulang punggung keluarga. Masa-masa sulit itu Bu Mus alami cukup lama sendiri, namun ia selalu bertahan melakukan semua itu karena dasar cinta yang kuat pada suami dan keluarga kecilnya. Ia tak bisa semena-mena meninggalkan suaminya begitu saja karena tak lagi mampu memberinya nafkah lahir dan batin. Menurutnya tak hanya cinta yang membuatnya memiliki kekuatan hati untuk bertahan namun juga pengabdian pada suami.

to be continued…

Sebelumnya, Kisah Bu Mus Eps.1

 

Kisah Bu Mus Eps. 1

Mbak Yoli… sudah lama ndak ketemu. Sibuk apa sekarang, Mbak?

Begitulah sapaan Bu Mus, salah satu wanita pekerja seks SK ketika berjumpa denganku. Usianya memang sudah tak lagi muda, namun penampilannya tak kalah dengan yang berusia jauh dibawahnya. Sederhana, namun cukup elegan untuk di kalangan SK.

Bu Mus yang kini telah berusia lebih dari setengah abad memiliki latar belakang yang sangat pelik hingga mengantarkannya menjadi wanita pekerja seks di SK. Percaya atau tidak, hal yang mendorongnya untuk bekerja sebagai wanita penghibur karena rasa cintanya yang sangat mendalam pada suaminya. Terdengar miris dan ironis. Bagaimana bisa bekerja melayani nafsu pria lain demi membuktikan cinta pada suami. Bila menggunakan nalar, hal itu akan sulit bahkan tidak bisa diterima akal sehat sebagai cara dalam mencintai suami. Namun, dalam dunia ini segala sesuatunya mungkin, begitupun dengan pilihan yang diambil Bu Mus.

Sebelum menjadi wanita pekerja seks, Bu Mus adalah seorang wanita yang menjalani kodratnya menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak dan suami. Tak ada hal lain yang ia lakukan selain pekerjaan inti sebagai ibu rumah tangga. Kala itu hidupnya sangat berkecukupan dan sejahtera, walau ia hidup di sebuah pedesaan yang sangat jauh dari perkotaan.

Aku ndak tau, seperti kaya disamber gledek Mbak waktu aku mendapatkan kabar itu. Semua berubah dengan sangat cepat.” Kenangnya Bu Mus, mengingat kejadian 10 tahun lalu.

To be continued…

 

Potret Sisi Lain Kehidupan PSK

potret-pelacur-1

“Dibalik tubuh yang sehat, terdapat hati yang retak”

 

potret-pelacur-2

“Teman sejati, tak akan pergi…”

 

potret-pelacur-3

“Semoga lelahku terbayar…”

 

potret-pelacur-4

“Pahitnya jamu tak sepahit hidupku..”

 

potret-pelacur-5

“Merajut mimpi…”

 

potret-pelacur-6

“Aku masih punya hati untuk diberi..”

 

potret-pelacur-7

“Menanti kehidupan yang tak pasti…”

Belajar dari Pelacur

Pernah denger kata passion? Aku sih yakin pasti sebagian besar sudah pernah dengar tentang passion. Bagi yang belum tau, passion itu ibaratnya soul. Suatu yang terus membuatmu bergairah dan ingin terus mencari, menggali dan akhirnya menemukan sebuah bentuk.

Sebuah perjalanan panjang hingga akhirnya memutuskan untuk terjun di dunia pelacuran. Mungkin dipostingan-postingan sebelumnya aku sudah pernah cerita bagaimana aku menemukan jalan hingga akhirnya aku jatuh cinta pada dunia pelacuran. Rasanya memang aneh, i’v never espect that i would made it. Dulu aku tak pernah terpikir sama sekali untuk mendalami dunia itu. Semua aku lakukan dengan mengalir saja.

Banyak yang menganggap dunia pelacuran adalah dunia yang penuh dengan maksiat. Ya anggapan itu memang benar adanya, karena dalam dunia pelacuran itu semua “transaksi” bisa terjadi. Tak hanya transaksi seks, tapi juga ada transaksi narkoba, transaksi penjualan manusia, dan banyak lagi. Tapi kalo kita menyelam lebih dalam lagi, sebenarnya juga ada hal-hal yang bisa kita ambil pelajaran dari dunia pelacuran tersebut. Bukan soal pelajaran tentang bagaimana cara bertransaksi yang aku sebutin tadi, namun pelajaran tentang hidup.

Awalnya aku memiliki cara pandang mainstream ketika berhadapan dengan pelacur, yang menganggap mereka hanya sekumpulan wanita malas yang enggan bekerja keras. Berperilaku buruk, tidak bermoral dan tidak punya masa depan. Ya begitulah, pandangan mainstream yang pernah bersarang di kepalaku. Padahal sebagai calon psikolog sebisa mungkin aku mengurangi judgement. Awalnya sulit, namun seiring waktu mulai terkikis ketika aku berinteraksi lebih banyak dengan pelacur.

Tidak semua pelacur memiliki pola pikir instan sebagai seperti pandangan mainstream. Banyak juga pelacur yang terjebak dan dijebak. Terjebak keadaan yang membuat mereka tak punya pilihan lain. Banyak faktor yang membuat mereka terjebak dalam posisi korban dan sulit untuk keluar, salah satunya faktor pendidikan dan ketidak setaraan gender.

Bulan lalu aku baru saja mengikuti sebuah workshop pendidikan gender untuk mahasiswa. Sebelum mengikuti workshop, panitia memberikan tugas untuk membuat paper tentang ketidak setaraan gender. Aku mulai mencari apa kaitannya ketidak setaraan gender dwngan dunia pelacuran. Mulai dari diskusi dengan beberapa orang dan membaca banyak literatur. Ternyata aku mendapatkan benang merahnya. Ketidak setaraan gender membuat pelacur semakin sulit untuk keluar. Dalam paper itu aku menuliskan contoh sederhana, seperti laki-laki sangat wajar bila mendapatkan label sebagai laki-laki nakal, bahkan akan terlihat tidak wajar bila seorang laki-laki itu tidak nakal, tidak main perempuan, tidak mabuk2an dan tidak berkelahi. Aneh, tapi ya itulah pandangan yang sudah turun temurun terjadi. Sehingga laki-laki nakal penikmat pelacur tak pernah mendapatkan sanksi sosial seperti yang dirasakan pelacur. Padahal menjamur dan berkembangnya bisnis pelacur itu berkat tingginya permintaan, jika permintaan rendah ya bisnis itu tidak akan berkembang.

“Perlunya melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut membuatku menjadi perlahan-lahan mengerti bahwa selalu ada sebab akibat dari setiap peristiwa. Pandanganku mulai berubah dan perlahan mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari fenomena yang sudah cukup tua ini. Belajar bisa dari mana saja, bahkan dari seorang pelacur sekalipun” Read more

Malam Pertama

Sungguh mendebarkan rasanya bagi pasangan pengantin baru yang akan menghadapi malam pertama, tentunya bagi pasangan yang belum pernah melakukan hubungan sex. Menurut pengalaman dari beberapa klien yang berkonsultasi mencemaskan tentang banyaknya rumor-rumor yang beredar  terkait malam pertama, ada yang bilang perlu sampai berdarah untuk memastikan apakah pasangan masih perawan atau tidak, sex pertama kali itu sangat menyakitkan, posisi pria harus diatas, perlu minum obat untuk tahan lama dll. Anggapan-anggapan tersebut tak ayal membuat pasangan menjadi gugup, nervous, bingung. Bila keadaan psikologis sudah tidak karuan maka bila memaksakan untuk berhubungan sex akan timbul sebuah ketidaknyamanan bagi salah satu pihak.

Apakah pernah dengar ada pasangan pengantin baru yang mempelai wanitanya harus sampai dibawa ke rumah sakit dikarenakan terjadi pendarahan hebat pada vaginanya saat berhubungan sex? Taukah apa penyebabnya? Apakah vaginanya terlalu sempit? Atau penis si pria yang terlalu besar ?? dan ..

Apakah anda pernah mendengar bahwa ada seorang pria yang mengalami ejakulasi dini saat malam pertama ?  Apakah pria itu tidak minum obat kuat kuat sebelumnya ??

Contoh-contoh kasus diatas adalah salah satu bentuk ketidak siapan pasangan dalam melakukan hubungan sex untuk pertama kalinya. Bukan karena mereka tidak mengerti bagaimana cara memasukkan penis dalam vagina, namun pasangan baru belum siap secara mental dan psikis dalam melakukan hubungan sex. Bagi seseorang yang belum pernah melakukan hubungan sex, hal tersebut sangat membuatnya bingung. Memang banyak video yang beredar tentang hubungan sex namun itu hanya secara visual saja, bagi orang yang belum pernah melakukan mereka akan bingung bagaimana melakukan hubungan sex secara real. Oleh karena itu kesiapan mental sangat diperlukan dalam melakukan malam pertama. Yang penting dalam persiapan mental adalah :

  1. Terbuka . saling terbuka satu sama lain. Katakanlah yang sejujurnya apa yang dirasakan saat ingin memulai hubungan sex dengan pasangan, terkait apa yang diinginkan satu sama lain, posisi yang bagiamana saat memulai. Tak perlu gengsi sebab ini merupakan pondasi penting dalam kenikmatan berhungan sex Anda.

  2. Foreplay. Lakukanlah foreplay / pemanasan. Pemanasan disini seperti anda ingin melakukan oleh raga berat seperti lari sprint dll. Pemanasan yang dimaksud adalah lakukan cumbuan-cumbuan ringan sebelum melakukan penetrasi. Cumbuan – cumbuan ringan bisa dimulai dari saling berpelukan, ngobrol hal-hal yang terkait imajinasi-imajinasi sex, saling meraba kemaluan satu sama lain, hot kissing, memainkan puting, dll. hal ini berfungsi untuk menyamankan satu sama lain, selain itu fungsi foreplay adalah untuk merangsang keluarnya cairan dalam vagina dan melenturkan otot-otot vagina sehingga vagina akan cenderung lebih siap untuk penetrasi penis, sehingga akan terhindar dari pendarahan vagina yang hebat saat penetrasi. Memaksimalkan waktu dalam foreplay dapat membantu wanita dalam memproduksi hormon oksitosin.  Menurut penelitian diketahui bahwa setidaknya ada 30 bagian otak wanita yang bekerja secara aktif saat orgasme, diantaranya bagian yang mengatur emosi, sensitivitas terhadap sentuhan, bagian yang mengatur rasa bahagia, bagian yang mengatur kepuasan dan rasa kebal terhadap sakit. Hormon ini juga dikenal dengan Love Drugs, karena membuat para wanita lebih mudah jatuh cinta pada pasangannya setelah merekan melakukan hubungan seks.

  3. Penetrasi . Setelah foreplay makin memanas, lakukan penetrasi penis secara perlahan. Terdapat selaput dara yang masih menutupi lubang vagina bagi yang belum melakukan hubungan sex. Pria perlu perlahan-lahan dalam melakukan penetrasi. Sebab wanita akan merasakan sedikit nyeri saat penetrasi dikakukan karena lubang vagina yang lebih kecil daripada penis. Jangan memaksakan penetrasi saat wanita mulai merasa kesakitan. Pria perlu peka dalam hal ini. Lakukanlah rehat sejenak dengan melanjutkan foreplay kembali sambil Anda menengkan pasangan Anda. Bila pasangan anda sudah mulai rilex kembali lakukan penetrasi dengan perlahan dan dengan penuh kenikmatan.

” Keberhasilan malam pertama bukan diukur dari keluarnya darah dari vagina karna tidak semua hubungan sex ditandai dengan darah, namun lebih pada bisa saling menikmati satu sama lain dengan meminimalisir rasa sakit dan memaksimalkan kenikmatan. “

Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 2)

Ngobrolin soal pelacur itu emang nggak ada habisnya. Setiap bulan pasti saja terselip berita-berita yang berkaitan dengan pelacur. Pelacur itu tidak hanya wanita saja loh, laki-laki juga banyak yang punya side job atau mainjob sebagai pelacur (gigolo). Nah sesuai dengan janjiku minggu lalu, aku akan melanjutkan pembahasan pelacur middle up, tentang persamaan serta perbedaannya..

  1. Pelacur Middle Class

Pelacur kelas menengah memang memasang tarif yang lumayan tinggi bagi orang yang hanya punya gaji UMR. Tarifnya yang beragam menempatkan mereka memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Biasanya tarif yang dipasang mulai dari 1,5 jt – 15 jt sekali main. Harga itupun bisa berubah lebih tinggi sesuai dengan kesepakatan pastinya. Harga yang tinggi tersebut membuat pelacur middle class memiliki penampilan yang berbeda. Bagi orang awam cukup sulit membedakan gaya pelacur kelas ini dengan orang pada umumnya, namun kebanyakan mereka memiliki gaya hidup yang menengah keatas. Pekerjaan pelacur kelas menengah itu beragam, ada yang model, penyanyi, sekretaris, dll (jgn digeneralisir ya). Namun ada juga yang full time jual diri. Nah untuk servicenya, pelacur kelas menengah punya kemampuan lebih dibandingkan pelacur kelas bawah. Mereka bisa menerima request, misalnya dengan request tematik (dokter-dokteran, inem, superhero, anak sekolahan dll). secara kemampuan memberikan kenyamanan pelacur kelas menengah punya ketrampilan sendiri, mereka biasanya akan lebih bermain ekspresi, merayu dan segala hal yang bikin pelanggan makin greget.  Untuk tempat bekerjanya ada yang menggunakan mucikari dan ada pula yang secara independent. Pelacur menengah yang bekerja secara independent memaksimalkan media sosial untuk tempat jualannya, kadang mereka juga menshare video mereka ketika menservice pelanggannya. Kalo kalian yang suka usil-usil serching, pasti bisa nemuinnya hehehe. Lalu apakah bonusnya sama banyaknya dengan pelacur kelas bawah? Pelacur kelas menengah itu biasanya kurang menyadari resiko penyakit yang akan mereka alami, untuk periksa saja gengsi, jadi bisa jadi resiko penyakit yang mereka alami lebih banyak. Dari hasil penelusuran beberapa sumber, pelacur kelas  itu bekerja untuk memenuhi gaya hidup. Mereka tak berarti dari pendidikan yang rendah dan dari kalangan keluarga miskin loh.

  1. Pelacur High Class

Berbicara pelacur kelas atas memang susah-susah gampang. Pelacur kelas atas itu bergerak secara sangat sembunyi-sembunyi dan sangat amat rapi. Saking rapi dan terselubungnya, harga yang mereka tawarkan pun juga sangat tinggi, tak hanya ratusan juta namun sampai menyentuh angka milyaran. Seperti yang kalian pikirkan, pasti hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membayar dengan harga yang selangit itu. Pelacur kelas atas biasanya digunakan untuk kepentingan politik atau bisnis, jadi fungsi pelacur itu bisa saja menjadi sogokan atau jebakan. Seseorang pembisnis atau pejabat yang belum bisa mengatur libidonya akan senang mendapatkan “hadiah” seorang pelacur kelas atas, selain mendapatkan pelayanan seks ternyata punya tingkat gengsinya tersendiri dikalangan tertentu. Tingkat kesehatan pelacur kelas atas memang sangat diperhatikan, berbagai asuransi mahal rela mereka bayar. Namun sekali lagi, pelacur kelas atas juga punya kemungkinan resiko terhadap penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS.

Sebenarnya postingan ini tidak berniat sebagai alat promosi pelacur. Bukan. Tujuannya adalah agar pembaca menjadi lebih aware atau peduli dengan apa yang ada di sekitar. Harapannya, mengerti tentang spesifikasi pelacur dapat menjadikan bahan introspeksi diri lagi terhadap kehidupan seksual pembaca, karena ada pepatah mengatakan,

“Ambil ilmu Pelacur, dan MAINKAN !”