DI(KEBIRI) atau DI(KUBURI)N?

Kasus pelecehan seksual yang berujung pada kekerasan bahkan pembunuhan secara sadis entah kenapa lagi gencar banget di media. Entahlah perasaanku bilang ini hanya permainan atau memang sebenernya kejadian seperti ini menjadi semacam “trend”. Yang bikin aku kaget lagi adanya berita tentang anak SD yang diperkosa 21 pria dalam 2 hari berturut-turut. Buseet dah! Dibalik alasan itu semua memang sebenernya kejahatan seksual itu udah marak banget dari dulu. Tapi dengan kasus Yuyun, akhirnya pemerintah mulai terketuk hatinya untuk concern pada kasus pemerkosaan yang sadis itu.

Beberapa waktu lalu akhirnya Pak Joko mengetuk palu dalam memberikan pemberatan hukuman pada pelaku pemerkosaan dan pelecehan. Selain penambahan masa hukuman penjara, ada hukuman lain yang bikin jadi perdebatan sengit yaitu hukuman kebiri kimia. Aku memang baru mendengar tentang adanya kebiri kimia, setauku aku namanya kebiri itu alat kelaminnya dipotong. Aku tau kata kebiri itu dari cerita temen kalo salah satu mantan pejabat militer di Indonesia mitosnya pernah dikebiri waktu menyusup di negara lain. Tapi aku search di google kaga ada gambarnya hahaha :p

Nah, yang jadi perdebatan adalah kenapa mesti dihukum kebiri kimia? Kenapa gak sekalian aja langsung kebiri potong? Atau langsung dijatohin vonis hukuman mati tanpa menjalani proses panjang?

Menurut aku, tindakan pelecehan seksual hingga perkosaan itu memberikan impact yang sangat amat luar biasa bagi korban maupun masyarakat. Bagi korban sendiri, trauma yang dialami pastinya akan sangat mendalam dan butuh proses sangat panjang. Gak hanya luka batin aja yang akan dirasakan korban sepanjang hidupnya tapi kecenderungan mengalami gangguan jiwa juga sangat besar.

Lalu bagi yang bukan korban, secara tidak sadar mereka juga sudah mengalami suatu pengalaman traumatik tersendiri. Pemberitaan yang gencar tanpa ada pemaknaan positif dari si pembuat berita maupun si pembaca. As i know, orang Indonesia itu masih banyak banget yang kurang dalam ketrampilan pemaknaan. Jadi setiap pemberitaan atau peristiwa yang terjadi seringkali ditelen mentah-mentah tanpa dicerna dulu. Impactnya balik lagi ke anak-anak, orangtua akan semakin parno dan cemas berlebihan sehingga membatasi ruang ekspresi anak-anak. Dampaknya apa ketika ruang ekspresi dibatasin? Ya anak-anak akan jadi lebih mudah terpancing pada hal-hal yang bikin penasaran.

Jadi kesimpulanku, aku lebih cenderung setuju ke hukuman mati karena diliat dari impactnya yang sangat besar dan parah banget. Kalopun hukuman kebiri itu bagi kasus-kasus pelecehan seksual yang didasari oleh gangguan kejiwaan seperti eksibisionis, dll.  Dan pendidikan seksual itu sangat penting banget untuk anak-anak dan remaja dalam mengurangi resiko pelecehan seksual.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *