Gunting Terbang di RSJ

4 Mei 2016

Hari ini adalah hari ke sembilan aku praktek di RSJ. Udah mulai kaga kagok lagi kalo papasan dengan pasien yang berseliweran, saling sapa dengan pasien, dan udah mulai bisa ngikutin pola pasien RSJ. Hari-hari sebelumnya aku berasa sangat aman dan jauh dari perasaan takut, hanya saja sedikit kikuk ketika awal-awal berkomunikasi dengan pasien. Lambat laun aku juga belajar tahapan-tahapan pasien dirawat. Mulai dari pemeriksaan awal hingga fase rehabilitasi. Fase rehab adalah fase terakhir dalam rangkaian penanganan pasien.

Pasien yang masuk fase rehab adalah pasien yang sudah lolos tahap seleksi psikolog. Aku nggak tau pastinya tolak ukurnya apa, yang pasti pasien yang lolos seleksi biasanya keadaannya sudah mulai membaik. Fase rehab bertujuan untuk mempersiapkan pasien kembali ke lingkungan masyarakat.

Dalam pikiranku, pasien yang sudah masuk pada fase rehab termasuk pada tipe pasien yang sudah terkendali. Walau belum 100% pulih, namun secara emosi pasien sudah mulai “agak” stabil. Tapi kebanyakan pasien yang masuk rehab adalah pasien yang menjalani perawatannya sudah hampir 3 minggu. Jadi, aku ngrasa lebih aman ketika masuk ruangan rehab untuk nemenin pasien dampinganku melakukan kegiatan.

Seperti dengan pasien yang lainnya, aku mulai berkenalan satu – persatu. Aku menyapa dengan sesantai mungkin, tanpa terlihat menjaga jarak. Pada waktu itu di ruangan rehab ada kurang lebih 15 pasien wanita. Ada berbagai kegiatan yang mereka kerjakan. Ada yang membolak – balik majalah tanpa membacanya, ada yang hanya duduk diam menonton TV, dan banyak pula yang belajar ketrampilan menyulam.

Oh ya, ketika pertama masuk ruang rehab. Ada seseorang yang langsung menyapaku dengan suara yang keras.

“Ning ndi wae, Mbak? Kadingaren ketok. (Kemana aja mbak? Tumben nongol?).”

Aku kaget. Perasaan ini pertama kalinya aku masuk ruang rehab dan aku gak kenal siapa orang yang menyapaku. Ternyata eh ternyata, setelah aku amati, dia bernama Lis (bukan nama sebenarnya). Lis adalah mantan pasien RSJ yang bekerja di bagian rehab untuk mengajari pasien-pasien. Sejak mendapatkan sapaan dari Lis, aku merasa seperti sudah berkawan lama dengannya. hahahaha

Mulailah aku bergerilya, mendekati pasien satu persatu. Mulai dari ujung sampe ujung lagi. Hingga tiba pada seorang pasien yang hanya duduk diam tanpa melakukan aktivitas. Awalnya aku menanyakan dari mana asalnya. Namun dia tak bergeming. Wanita berponi dan berambut panjang terurai itu hanya menatapku melotot sambil bergumam nggak jelas.

Mungkin karena kurang peka kali ya, aku tetap mengajaknya berbicara. Mulai mengajaknya menyulam, hingga mengajaknya bercanda. Ternyata apa yang aku lakukan diresponnya berkebalikan. Dia merasa bahwa aku sudah menghinanya dan membuatnya semakin marah.

Tiba-tiba dia minta gunting pada temen sebelahnya, “Mbak, sini guntingnya!”

Waktu itu aku masih menyulam. Seketika, dia langsung menggunting benang yang baru aja aku tarik dari kain perca.

“Modyaaar!! (Matiiiiikkkk!!!)”, teriakku dalam hati.

Dua kali dia nglakuin hal horor kayak gitu. Pasien disebelahku, sebut saja namanya Ani mulai mengajakku untuk pindah tempat ke tempat lain yang lebih jauh.

Aku mulai ngobrol sama Ani. Ani bahkan sempet nasehatin aku kalo ketemu pasien gitu langsung pindah jauh-jauh. Baru lima menit ngobrol sama Ani tiba-tiba ada gunting mendarat deket banget sama aku.

Busssseeet dah. Tu orang paranoidnya masih parah banget, cuuuuy!!!

Si Ani cuma bilang , “Udah mbak, cuekin aja. Gak usah diliatin.”

Sumpah deh. Baru kali ini ngerasain horornya praktek di RSJ. Sempet gemeter agak lama, masih kaga percaya dengan kejadian itu. Yakin deh, pelajaran berharga banget kalo dalam lingkungan RSJ kadang segala sesuatu sangat cepet berubah dan tak terduga. Bukannya nakut-nakutin, tapi memang demikian adanya. Intinya, pengalaman ini adalah lebih belajar untuk peka lagi. Jadi sudah seleksi atau belum itu bukan patokan ya hahaha :p

Tips:

Oh ya.. bagi yang belum tau, paranoid adalah semacam perasaan curiga yang sangat berlebihan. Kecenderungan orang yang sangat paranoid biasanya kurang memiliki dan mendapatkan rasa aman. Jadi hawanya curigaaaaa mulu. Bagi kasus skizoprenia ada yang dinamakan skizoprenia paranoid, yaitu gangguan kejiwaan yang dicirikan mendengar bisikan-bisikan, halusinasi yang membahayakan dirinya. Seperti pasien Skizo paranoid akan merasa mendapat bisikan dari orang yang akan membunuhnya, merasa mendengar semua percakapan orang di dunia yang intinya menjelek-jelekan dirinya, dll.

Jadi bagi temen-temen yang baru mau praktek dan menemui pasien skizo paranoid, kuncinya tetep tenang. Cirinya mudah kok, tatapan orang dengan skizo paranoid akan lebih tajam dan seperti menscaning (melihat dari ujung kepala sampe ujung kaki) lawan bicaranya, serta cara bicaranya sangat ketus.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *