Hmm… ngobrolin soal kelas inspirasi, pastinya sudah banyak banget ya dari temen-temen yang sudah tahu duluan soal kelas inspirasi? Yup, saat ini ternyata tidak terasa sudah menginjak tahun ke 5 kelas inspirasi terlaksana di wilayah Semarang.

Kalau diinget-inget, aku kenal dengan kelas inspirasi di tahun 2013 (kalau gak salah). Saat itu waktu kepoin twitter temen dan dia nge-retweet soal bukan relawan pengajar. Nah awalnya langsung tertarik buat ikutan, eh setelah dikepoin lebih lanjut ternyata relawan pengajar hanya untuk yang sudah bekerja. Karena saat itu baru freshgrad, jadi ya udah deh nawarin ke Ay, hehe.

Alhamdulillah banget di tahun ini aku mendapatkan kesempatan untuk join sebagai relawan pengajar. Jujur aja, pertama kali tahu aku ketrima justru dari salah seorang teman sejawat yang juga terpilih. Awalnya ndak nyangka ya, karena tau sendiri lah ya yang daftar itu buanyaaakkk banget. Dan waktu pelaksanaanya yaitu minggu lalu tepatnya 1 September 2018 di SDN Mranggen 03.

Karena ini pengalaman pertama, jadi wajar aja kalau aku nervous. Ya gimana ya, walau udah beberapa kali dapet kesempatan ngisi materi untuk kelas anak-anak, namun tetep aja gugup gitu.

Singkat kata singkat cerita, akhirnya hari itu tiba. Untung saja lokasi sekolah tidak terlalu jauh jadi waktu yang ditempuh cukup singkat. Melihat anak-anak yang sudah mulai berkumpul di lapangan bikin hati semakin deg-deg seerrr.. Selain ketemu anak-anak, akhirnya ketemu dengan para relawan pengajar dan relawan dokumentator dalam versi lengkap. Tentu saja nggak cuma dari Semarang, tapi juga ada yang dari luar daerah seperti dari Jakarta, Brebes, Blitar, dan daerah lainnya. Bertemu pribadi baru dengan berbagai macam profesi itu menyenangkan lhoo..

Setelah acara pembukaan dan sambutan dari pihak sekolah, maka tiba waktunya untuk beraksi.

Oh ya sampai lupa cerita, dua malam sebelumnya aku sudah membuat alat peraga agar lebih mudah menjelaskan apa itu profesi psikolog. Setelah putar akal dan cari referensi sana-sini, akhirnya aku memutuskan untuk membuat emoticon card. Tujuannya ialah memperkenalkan pada anak-anak tentang berbagai macam emosi dan tentu saja setiap anak sudah aku beri emoticon card yang masih kosong, jadi anak-anak nantinya bisa menggambarkan ekspresi sesuai dengan apa yang mereka rasakan pada saat itu.

Bukan Yori namanya kalau tidak menyisipkan materi seks edukasi hehe. Menurutku ini adalah momentum yang pas untuk mengajarkan anak-anak tentang pendidikan seksualitas. Karena aku mendapatkan kelas yang rentang usianya beragam, maka materi seks edukasi yang aku berikan juga berbeda. Seperti di kelas 1 seks edukasi yang aku berikan tentang bagaimana mereka merawat kebersihan tubuh sedangkan untuk kelas 6 tentang menstruasi dan bagaimana menghadapi perubahan tubuh saat mulai menginjak masa remaja nantinya.

Bagiku ini merupakan pengalaman pertama mengajar kelas secara marathon. Dan tentu saja, aku menjadi memahami tentang perjuangan seorang guru. Ohh.. begini toh rasanya ngajar anak-anak sekelas yang jumlahnya banyak. Dan rasa itu aku rasain banget saat aku kebagian ngajar anak-anak kelas 1. Hoho.. energi yang dikeluarkan ekstra bookk.. hehe

Tapi beneran seru deh. Justru sejatinya inspirasi itu datang dari dua belah pihak menurutku. Selain anak-anak memahami bahwa profesi itu tak hanya dokter, polisi, pilot dan presiden saja, tapi juga ada profesi yang bernama psikolog. Disisi lain juga aku mendapatkan inspirasi berupa insight-insight terlebih soal dunia pendidikan.

Ya begitulah sekelumit cerita yang bisa aku share ke temen-temen. cerita ini tentunya bukan versi lengkapnya, karena kalo diceritain secara lengkap pasti nggak kelar-kelar tulisannya hehe..

So buat temen-temen yang memang suka berbagi atau ingin mendapatkan pengalaman baru mengajar, maka bisa langsung cus aja daftar menjadi relawan pengangajar atau bisa juga menjadi relawan dokumentator.

SHARE
Previous articleNgobrol Asik Seksologi #1 : Ngobrolin Masturbasi dari A-Z
Next articleBook Insight : Seksologi Jawa – Suwardi Endraswara
celotehyori
Yoke Indira Diana Mayorita, S.Psi, M.Psi, Psikolog Lebih sering dipanggil dengan YORI. Lulus Magister Profesi Psikologi Unika Soegijaprana Semarang jurusan Klinis Dewasa. Tergabung sebagai anggota HIMPSI dan Asosiasi Seksologi Indonesia. Saat ini praktik sebagai psikolog klinis dan banyak menangani kasus klinis dewasa maupun remaja serta kasus-kasus yang terkait dengan permasalahan seksual. Aktif dalam memberikan materi terkait pendidikan seksualitas melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here