love bom

Pernahkah punya pengalaman dapet abuse dari pasangan tapi justru mikirnya kalo dia sebenarnya sayang banget sama kamu? Kalo pernah, bisa jadi kamu adalah korban dari love bombing.

Love bombing merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang ke pasangan yang sangat berlebihan. Biasanya hal tersebut dilakukan ketika masa-masa PDKT atau awal-awal jadian. Namun sayangnya perilaku itu sering disalahgunakan karena si pemberi perhatian semata-mata mengharap mendapat balasan sang kekasih atau dapat mengendalikan pasangan sesuai keinginannya nanti.

Diibaratkan ada orang dewasa yang sedang mendekati anak kecil dengan memberikan apapun yang anak itu inginkan, seperti ice cream, permen coklat, cup cake, diajakin main ke game fun di mall, dibeliin mainan yang paling disukai dan lain sebagainya. Nah namanya juga anak kecil pasti seneng dapet perlakuan tersebut, sehingga secara tidak sadar hal tersebut  membuat anak menjadi sangat ketergantungan, karena dia merasa apa yang diinginkan akan terkabul. Secara tidak langsung anak akan belajar apa yang dia butuhkan ada di orang tersebut dan kelekatan pun akan terbentuk. Seiring berjalannya waktu anak tidak melihat “dunia” dan merasa hanya orang dewasa itulah dunia yang nyata untuknya.

Nah begitu pula dengan seorang korban love bombing. Pelaku love bombing akan membuat suatu jebakan psikologis sehingga membuat korbannya tidak bisa melihat dunia luar. Sehingga ketika terjadi abuse maka hal tersebut dianggap wajar dan bahkan selalu dimaafkan.

Dalam beberapa literatur menyebutkan bahwa seseorang yang memberikan perhatian secara berlebihan dengan tujuan untuk mengontrol perilaku orang lain memiliki kecenderungan kepribadian narsistik. Seseorang yang memiliki kepribadian narsistik beberapa cirinya akan mengutamakan kepentingan diri sendiri dibandingkan orang lain dan melakukan segala upaya agar bisa mencapai apa yang diinginkan. Sepintas seseorang yang melakukan love bombing bersikap sangat mengutamakan orang lain, namun dibalik itu semua ia akan menggunakan segala daya dan upaya yang dimiliki untuk menjebak korbannya agar mau mengikuti apa yang dia inginkan, misalnya menggunakan tipu daya berupa perhatian sangat berlebihan, memberikan barang-barang mahal dsb ke lawan jenis. Pelaku love bombing itu tidak hanya laki-laki saja, beberapa kasus ada juga yang perempuan.

Seorang love bombing tentu akan mempelajari celah yang dimiliki pasangan. Ketika celah tersebut sudah dimasuki maka mereka akan melakukan kuncian agar pasangannya menjadi sangat tergantung dengannya. Disaat pasangan sudah sangat tergantung inilah maka mereka akan melakukan berbagai macam manipulasi agar situasi berbalik, menjadi pasangannyalah yang sangat takut kehilangan. Tentu ketika hal ini sudah terjadi kemungkinan untuk abusif relationship sangat besar. Tak hanya secara verbal, bahkan kekerasan fisik juga bisa terjadi. Korban akan mengalami distorsi kognitif berupa pemikiran yang tidak rasional dengan menganggap bahwa pasangannya yang abuse itu sangat mencintainya. Hal ini akan berpengaruh pada kesehatan mental.

Agar tidak terjebak dalam relasi yang nggak sehat tersebut tentu kita perlu menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis atau cuma-cuma. Jadi tetaplah realistis. Kalau doi bilangnya hadiah sekali waktu sih gpp, tapi kalo ngasih hadiah terus-terusan kan perlu tanda tanya juga kan yaa. Lalu bagaimana dengan kamu yang sudah berada di relasi tipe ini? Tentu segera tegas untuk bersikap melepaskan diri dan tak perlu berpikir “eman-eman” untuk meninggalkan orang yang model kaya begitu. Percayalah masih banyak orang baik di dunia ini kok, dan kamu pantas untuk mendapatkannya 😊

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.