Kisah Puput

Kehidupan sebagai penjaja cinta diakui memang bukan pilihan hidup yang terbaik untuknya. Secara nalurinya sebagai wanita, ia tak pernah memiki harapan untuk bisa hidup sukses melalui pekerjaan sebagai pelacur. Tak ada seorang wanita yang menginginkan hidup sebagai peneman tidur banyak laki-laki seperti yang masih ia lakukan saat ini.

Lalu selama mbak menjalani hidup sebagai pekerja seks, bagaimana pandangan mbak terhadap pekerjaan ini?”, tanyaku singkat.

Sebenarnya, gimana ya. Untuk aku pribadi, buat kebanggaan saja lah. Kenapa aku bisa bilang bangga? Walaupun aku kerja istilahnya jadi orang bejat, aku jadi pelacur, jadi sampah masyarakat, tapi aku bisa berhasil. Aku punya keberhasilah ibaratnya, aku punya ilmu yang kadang nggak mungkin dimiliki oleh orang baik-baik. Dari segi kebejatan itulah aku bener-bener belajar, aku mau jadi bener – bener orang baik. Dari aku merasa jadi sampah masyarakat itulah aku pengen menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat sendiri. Jadi aku belajarnya memang dari kegagalan, dan aku menilai pekerjaan aku begini justru aku merasa bangga. Aku bangga. Tapi orang bilang sampah masyarakat itu lebih hina, lebih buruk. Tapi aku menyangkal, lebih baik jadi pelacur daripada jadi orang baik-baik tapi belajar jadi buruk, jadi bejat, jadi orang munafik.”, jawabnya lantang padaku.

Tapi lambat laun aku mulai sadar diri bahwa tak selamanya aku hidup seperti ini. Aku juga punya keinginan untuk bisa hidup menjadi lebih baik. Walaupun aku dikatakan  perek atau lonthe, tapi aku tetap berusaha untuk menjaga perilaku dan etika. Karena orang lain ternyata bisa membedakan mana perlacur yang punya etika sama yang enggak. Gak semua pelacur dianggap bener-bener bejat itu enggak.  Maka dari itu aku menjaga sikap saat bertemu dengan orang lain, dengan berperilaku sopan dan jaga omongan. Dengan begitu aku menunjukkan bahwa aku juga masih memiliki harga diri, bagaimana bisa menuntut orang lain menghargai kita tapi kalau kita sendiri tidak menghargai diri sendiri?

***

Harapan untuk memiliki hidup yang lebih baik selalu terbayang dalam benaknya. Walaupun entah kapan ia akan berhenti menjadi wanita pekerja seks, namun keinginan untuk benar-benar bisa bertobat itu selalu terngiang tiap malam.

“Lalu kira-kira kapan mbak akan keluar dari dunia seperti ini?”

Kalo aku gini prinsipnya. Aku mau keluar tapi bener-bener karena mau tobat. Gak karena aku mau nikah, mau ini itu. Ya bener-bener aku tu mau insaf gitu. Jadi saat aku tobat, aku udah gak kembali ke jalan yang kaya gini apapun kondisinya.”

Berarti tobat bukan karena merasa berdosa ya mbak?

Ya gimana ya ngomong banyak dosa atau gak itu susah. Kalo merasa sudah banyak dosa ya lebih baik langsung keluar gak nunggu banyak uang atau gimana, tapi ya balik lagi susah mbak. Jadi soal dosa aku serahkan pada yang diatas saja”.

-the end-

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Mahkotaku yang Hilang Eps. 4

Mahkotaku yang Hilang Eps. 5

SHARE
Previous articleMahkotaku yang Hilang Eps. 5
Next articleHubungan Seks Halal tapi Nggak Aman ?
Yoke Indira Diana Mayorita, S.Psi, M.Psi, Psikolog Lebih sering dipanggil dengan YORI. Lulus Magister Profesi Psikologi Unika Soegijaprana Semarang jurusan Klinis Dewasa. Tergabung sebagai anggota HIMPSI dan Asosiasi Seksologi Indonesia. Saat ini praktik sebagai psikolog klinis dan banyak menangani kasus klinis dewasa maupun remaja serta kasus-kasus yang terkait dengan permasalahan seksual. Aktif dalam memberikan materi terkait pendidikan seksualitas melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here