Mimpi. Satu hal yang disinyalir bisa menjadi penggerak kehidupan kita. Jauh sebelum terbitnya Novel Laskar Pelangi, aku sudah percaya dengan adanya kekuatan mimpi.  Hampir setiap hari aku selalu bermimpi.. dan bermimpi… Hidupku saat itu hanya dipenuhi dengan mimpi..

Sejak awal kuliah, aku selalu menuliskan mimpi-mimpiku di setiap note baruku. Mungkin ini salah satu gambarannya, betapa aku merupakan seorang pemimpi yang sangat besar. Setiap hari aku selalu meyakini bahwa sebentar lagi mimpiku segera terwujud. Entah bagaimana caranya.. yang pasti mimpi itu akan terwujud.

catatan mimpi
catatan mimpi th 2011

Aku juga tak hanya menulis mimpi-mimpiku, tapi aku juga mulai merealisasikannya. Tapi caranya sedikit agak konyol. Saat itu di tahun 2013, aku sangat ingin memiliki HP yang paling kece dan keren saat itu, yaitu Iphone 5S. Siapa yang nggak mau Iphone? Pasti hampir semua mau di kasih barang kecil yang harganya lebih mahal dari sepeda motor. Saking pengennya, aku akhirnya browsing untuk mencari dummy atau barang tiruannya.

iphone 5s dummy
iphone 5s dummy

Selama hampir satu bulan aku berakting dengan diriku sendiri bahwa aku sudah punya iphone 5s. Pura-pura membalas chating, pura-pura telpon, bahkan sampai pura-pura foto. Itu nggak aku lakuin di rumah aja, tapi juga sampe di mall. Makin edan, makin cepet terealisasi. Pikirku saat itu.

Mungkin karena terlalu naif, yang aku pikirkan saat itu bukan soal bagaimana cara untuk bisa mencapai mimpi-mimpiku. Tapi yang selalu ada di pikiranku adalah apa yang aku inginkan ujug-ujug ada di depan mata. Misal aku dapet undian berhadiah Iphone 5s atau dapet tiket trip gratis ke Australia.

Sejenak, aku mulai berpikir. Mengapa saat-saat itu belum ada sinyal terang terwujudnya impian yang sudah terlampau tinggi? Padahal sudah seolah-olah memiliki dan sudah meyakini sepenuh hati.

Oh.. ternyata ada satu hal yang aku lupakan. Aku lupa berusaha.

Aku lupa, mimpi tanpa berusaha sama saja dengan angan-angan semata

Selama ini aku salah fokus. Aku hanya fokus pada pencapaian, bukan pada proses yang aku jalani.

Gimana punya uang 10 milyar kalo nggak berupaya mendapatkannya? Gimana mau punya uang 10 milyar kalo buat bangun pagi aja masih males-malesan? Gimana mau punya uang 10 milyar kalo buat nahan ngantuk aja masih kesulitan?

Waktu terus berjalan.. hingga aku mencapai pada posisi saat ini. Saat aku sudah mulai menertawakan kenaifan diriku sendiri. Bukan mimpi yang besar yang salah. Tapi aku lupa mengukur mimpi dengan kemampuanku saat itu.

Kata orang, setiap fase kehidupan itu selalu saja ada yang bisa dipelajari. Tak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Kadang malah jadi geli dan ketawa sendiri. Oh ternyata aku dulu bisa gitu ya..

Kini aku tetap punya mimpi yang tinggi. Mungkin lebih tinggi dari mimpi yang dulu, namun aku juga imbangi dengan usaha yang lebih tinggi lagi… dan lagi…

Oh ya.. beberapa bulan yang lalu, aku sempat mendapatkan kesempatan untuk bisa memiliki iphone 5s. Walaupun second, tapi aku senang bisa mewujudkan mimpiku beberapa tahun yang silam. Namun euforia itu tidak bertahan lama. Ternyata aku kurang cocok memakai handphone prestise itu. Layarnya yang terlalu kecil, bikin mata nggak nyaman. Jadi ternyata, mimpi itu juga perlu terukur sebenernya memang butuh atau hanya sekedar pengen.

 

Ini pengalamanku, gimana dengan pengalamanmu?

 

 

 

SHARE
Previous articleONANI
Next articleSang Pencuri Impian
celotehyori
Yoke Indira Diana Mayorita, S.Psi, M.Psi, Psikolog Lebih sering dipanggil dengan YORI. Lulus Magister Profesi Psikologi Unika Soegijaprana Semarang jurusan Klinis Dewasa. Saat ini praktik sebagai psikolog klinis dan banyak menangani kasus klinis dewasa maupun remaja serta kasus-kasus yang terkait dengan permasalahan seksual. Aktif dalam memberikan materi terkait pendidikan seksualitas melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.