critical eleven

Semalam ketika gonta ganti chanel tv, nggak sengaja dapet chanel yang sedang menayangkan film bagus edisi lebaran, judulnya Critical Eleven. Film ini mengisahkan hubungan Ale dan Tanya dari awal pertemuan hingga menjalani kehidupan rumah tangga. Ale (Reza Rahadian) dan Tanya (Adinia Wirasti) berasal dari keluarga yang menengah ke atas, jadi soal ekonomi bukan jadi masalah besar buat mereka.

Ketika jeda iklan, aku penasaran soal review film tersebut. Ternyata Critical Eleven itu diambil dari istilah penerbangan. Dalam dunia penerbangan terdapat 11 menit kritis sebagai tolak ukur tu penerbangan berjalan sukses atau tidak, jadi 3 menit pertama dan 8 menit sebelum mendarat. Dalam 11 menit ini bisa dibilang waktu yang genting. Nah menggunakan istilah inilah si Tanya mengaitkan pertemuannya dengan Ale di penerbangan first class rute Jakarta-Sydney. Moment Ale mengajak ngobrol Tanya ketika ia sedang sibuk mencari silly thing but importan dan benda kecil itulah si Ale yang nemuin. Mulai dari situ obrolan mengalir. Impresi 3 menit pertama Ale di tangkap Tanya dengan sangat positif, sehingga obrolan berlanjut ke jam-jam berikut dan bahkan sampai pertemuan-pertemuan berikutnya.

Tolak ukur itulah yang dijadikan Tanya memilih Ale sebagai pendamping hidupnya. Ketika pacaran itu keliatan romantis banget.. saling sayang, saling cinta, physical touchnya dapet, bikin baper dan bikin lumer lah (terlepas kecerdasan actingnya). Singkat cerita mereka menikah. Mungkin karena mereka dalam masa subur jadi gak lama setelah nikah si Tanya hamil, hehe. Ketika masa kehamilan itulah si Ale mulai protektif. Wajar sih kaya begitu karena keliatan banget Ale sangat menginginkan punya anak. Nah mulai disinilah awal persoalan hubungan mereka muncul. Tanya yang sudah terbiasa hidup sebagai wanita karir yang mandiri menjadi rada risih ketika terlalu diprotek sama suami. Hingga suatu ketika terjadi sesuatu pada janin yang dikandungnya. Dengan sangat sedih, janin itu meninggal di dalam kandungan karena tali pusarnya keiket sendiri sehingga janin gak dapet asupan oksigen dan nutrisi. Ale tentu sangat kecewa dan terpukul, karena impian terdekat punya bayik harus dikubur, sedangkan Tanya tentu saja sebagai ibu muda yang mengandung merasakan sangat amat kehilangan buah hati yang selama ini dia jaga.

critical eleven 2

Masa kedukaan inilah yang justru menimbulkan jarak yang besar antara mereka berdua. Ale menyalahkan Tanya karena sibuk bekerja sehingga tidak bisa menjaga kondisi kehamilan, sedangkan di satu sisi Tanya juga ada rasa menyalahkan Ale (walau tidak diungkapkan secara langsung) karena Ale selalu tidak ada di saat Tanya membutuhkan (Tanya sering ditinggal-tinggal, jadi kesepian banget). Situasi semakin itu tersebut terus berkembang dan tak kunjung terselesaikan. Tidur saling punggung-punggungan, bicara sekenanya, senyum fake sambil bilang I’m Okay, dsb. Mereka berduka akan hal yang sama yaitu sama-sama kehilangan bayik, tapi mereka menjalaninya sendiri-sendiri. Tak ada komunikasi intim yang terjalin semenjak kejadian tersebut. Tanya bahkan sudah menolak di sentuh secara fisik oleh Ale, selalu ngeles dan kayaknya ada rasa risih yang muncul. Nah beruntungnya mereka punya support keluarga yang bagus. Ortu Ale dan sodara-sodaranya care banget pada sama Ale dan Tanya (kondisi ini tentu jarang terjadi di real marriage ya, salah satu keluarga biasanya malah jadi kompor mleduk wqwq).

Singkat cerita mereka kembali rujuk akibat terjadi suatu tragedi yang menimpa Ale. Mungkin kalo tidak ada kejadian itu Tanya akan tetap pergi meninggalkan Ale dengan segala problematika pernikahan yang tidak terselesaikan.

Dari review yang aku baca di internet film ini menuai pro dan kontra. Namun terlepas itu semua menurutku pribadi film ini menarik untuk dijadikan contoh pola relasi dalam pernikahan, yaitu adanya missing link yang tidak di sadari oleh kedua belah pihak.

Dalam film tersebut Ale dan Tanya sama-sama saling cinta, romantis ala-ala mereka, physical touch serta kontak mata yang sangat intim. Sebelumnya physical touch disini tidak selalu kissing atau having sex ya, tapi lebih pada rangkulan, rabaan di sekitar wajah atau hanya sekedar pegangan tangan. Walau aspek komunikasi intim mereka sangat dapet, tapi soal komunikasi antar pribadi yang lebih mendalam sepertinya belum terjangkau. Dalam film tersebut tidak terlihat Ale masuk ke dunia Tanya secara mendalam dan begitu sebaliknya. Ale dan Tanya secara sosial memiliki batas tebal pada dunia masing-masing, seperti di wilayah pekerjaan dan pertemanan. Sehingga dunia mereka belum berbelahan satu sama lain, jika di rumah ya bahasnya tentang yang berkaitan sama calon bayiiikk mulu, di luar itu gak ada. Bahkan, Ale dan Tanya tidak saling meminta pertimbangan satu sama lain terkait keputusan dalam perkerjaan yang efeknya pada pernikahan. Misalnya di awal pernikahan Ale secara sepihak langsung minta balik ke Indonesia, padahal Tanya udah jelas-jelas gak mau dan menjelaskan kenapa masih pengen di NY. Begitupula dengan Tanya yang tanpa ada diskusi dengan suaminya saat ingin mengambil pekerjaan di Aussie.

Komunikasi adalah Koentji

critical eleven1

Kondisi ini sebenarnya real terjadi di dunia nyata lho guys, dan beberapa kali aku menangani konseling pernikahan dengan core problem tersebut. Sudah hampir sepuluh tahun menikah, tapi istri tidak tahu persis apa pekerjaan suami dan suami juga menganggap percuma cerita ke istri karena dianggap nggak paham apa yang dia lakukan. Nah, ini celah kecil yang rentan berkembang menjadi sangat besar. Dan ini pencetus adanya masa kritis dalam pernikahan. Hal pekerjaan dan pernikahan itu tidak bisa dipisahkan.

Coba ingat kembali seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja? Untuk pegawai kantoran kurang lebih 8 jam dalam sehari sedangkan untuk entepreneur bisa hampir 18 jam (karena pekerjaan kantor sering dibawa ke rumah, bahkan kantornya sendiri ada di rumah hehe). Oleh karena itu kadang persoalan pekerjaan itu secara gak langsung terbawa ke rumah, entah bete sama bos, tiba-tiba pindah divisi, stress tidak memenuhi target bulanan, dsb. Oleh sebab itu penting sekali saling tahu dunia pekerjaan masing-masing. Hal tersebut menghindari pasangan lebih banyak sharing soal pekerjaan pada orang lain daripada istri/suami sendiri.

Untuk bisa masuk ke dunia pasangan tentu butuh proses, terlebih yang bidangnya berbeda 180 drajat. Namun ketika pasangan cerita soal masalah pekerjaan sebenarnya tidak butuh solusi, tapi hanya butuh pendengar. Dengan jadi teman sharing yang baik dan koorperatif tentu saja itu akan membantu menurunkan tingkat stress yang dialami. Begitu pula dengan suami yang punya istri full time mom, perlu menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesah lelahnya mengurus anak dan rumah.

Ketika istri tau masalah suaminya di kantor, maka harapannya tidak makin memperkeruh suasana dengan ngomel-ngomel, begitu pula dengan suami yang memahami betapa strugglenya istri mengurus anak dan rumah bisa membantu melakukan pekerjaan rumah dengan mencuci piring setelah makan malam bersama, misalnya.

Oleh karena itu critical phase menurut case-case yang aku tangani selama ini yaitu ketika suami dan istri tidak saling memasuki dunia satu sama lain. Tak perlu paham sepenuhnya, cukup tau apa yang pasangan hadapi keseharian dan problem apa saja yang tengah dialami. Intinya belajar, belajar untuk mendengarkan dan belajar untuk memahami apa yang dihadapi oleh pasangan. Sehingga tema pillow talk akan bervariasi nggak soal duwiiiiittt mulu 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.