man kiss forehead

Menjadi nahkoda itu berat, sangat berat. Selain wajib tahu kemana arah berlabuh, nahkoda juga harus benar-benar mengenal awak kapal dan tentu saja kapalnya. Hanya mengetahui kemana arahnya saja tidak cukup membuat nahkoda sampai ke tujuan tanpa memahami karakter awaknya dan kapalnya. Itu masih hal yang berkaitan dengan hal eksternal, nahkoda juga perlu memikirkan internal pribadinya. Bila secara internal saja nahkoda belum bisa membawa diri dan berdamai, maka dampaknya juga akan ke hal eksternal. Bisa sering marah-marah dengan awak kapal, lupa tujuan berlabuh atau bisa juga merusak kapal dengan sengaja akibat dari pelampiasan emosi.

Bila disangkutpautkan dengan kehidupan rumah tangga, tentu nahkoda yang dimaksudkan ialah kepala rumah tangga. Dalam hal ini kepala rumah tangga secara umum, ialah laki-laki atau suami. Memang sih kepala rumah tangga itu tidak selalu laki-laki, karena saat ini ada juga perempuan yang mengambil sebagai kepala keluarga plus tulang punggung (ini kasuistik dan akan aku bahas di tulisan yang berbeda).

Suami yang berperan sebagai kepala rumah tangga tentu saja memiliki tanggung jawab yang besar, salah satunya ialah dapat memandu istri dan anak-anak menuju keluarga yang sehat dan bahagia. Idealnya, untuk bisa menjalankan tanggung jawabnya maka suami tentu saja mampu menghandle istri terlebih dahulu. Sewaktu pacaran pastinya berbeda setelah menikah. Waktu pacaran tanggung jawab masih pada orang tua masing-masing dan tinggalpun masih terpisah. Namun setelah menikah istri menjadi tanggung jawab suami. Tanggung jawab disini tidak melulu soal finansial ya, tapi tanggung jawab untuk bisa saling bekerja sama agar pernikahan bisa bahagia dan langgeng. Untuk bisa saling kerja sama maka suami wajib memiliki jiwa leadership atau kepemimpinan. Menjadi pemimpin itu bukan harus bisa menyuruh-nyuruh dan printah sana printah sini loh ya, tapi lebih pada bagaimana bisa membuat dua orang dengan pemikiran yang berbeda bisa memiliki arah, visi dan misi yang sama. Apakah untuk bisa menjadi suami harus langsung bisa demikian? Tentu saja tidak, karena untuk bisa memiliki kemampuan maka membutuhkan belajar terus menerus dan kemampuan ini akan terus diuji ketika muncul suatu permasalahan dalam rumah tangga.

Sebenarnya tujuan aku menulis ini karena dilatar belakangi oleh case rumah tangga yang aku tangani beberapa waktu terakhir. Bahwa salah satu permasalahan rumah tangga yang bisa berujung pada perceraian dikarenakan kepala keluarga kurang memiliki ketegasan dan tidak bisa bersikap. Suami yang tidak bisa bersikap ibaratkan seorang nahkoda yang tidak berbuat apa-apa saat kapalnya diterjang badai. Hanya bisa melihat kapalnya porak poranda karena terpaan badai yang sangat keras. Bila setiap ada badai nahkoda tak berbuat sesuatu maka seiring jalan kapalnya akan karam.

Suami yang tidak bisa bersikap misalnya seperti, bersikap diam saja ketika ada permasalahan dan tak kunjung diselesaikan, menghindari konflik sehingga menggantung. Selain itu suami tak bisa bersikap seperti suami tak bisa ambil keputusan dalam hal yang krusial. Yang penting kasih uang, semua masalah rumah tangga yang urus istri.

Untuk bisa menjadi suami yang ideal memang tidaklah mudah, namun hal utama yang wajib untuk bisa menjadi seorang suami dan kepala rumah tangga bukanlah rumah besar dan mobil mewah, namun yang utama ialah jiwa kepemimpinan. Harta benda bisa hilang sewaktu-waktu dan bisa datang kembali ketika diusahakan, namun jiwa kepemimpinan perlu dilatih terus menerus dan dipelajari tanpa henti. Salah satu cara untuk bisa melatihnya ialah dengan berani mengambil risiko atas setiap pilihan yang diambil. Jangan dibayangkan risiko itu seperti risiko patah kaki karena pendaratan terjun payung yang gagal, tapi lebih pada risiko atas pengambil keputusan, risiko atas pengambilan tanggung jawab.

Ingatlah hai para lelaki, kelak setelah menikah kau tak hanya bertanggung jawab atas dirimu sendiri namun juga sudah bertanggung jawab atas istri dan anak-anakmu. Maka sebelum memutuskan melangkah ke pelaminan, alangkah baiknya penuhi dulu tanggung jawab pada dirimu sendiri. Dengan cara apa? Dengan cara memiliki visi misi hidup yang jelas.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.