Nobar dan Diskusi Film Telur Setengah Matang

Seneng banget rasanya bisa dapet kesempatan unutk nonton film yang udah sering sliweran di IG. Dari judulnya aja unik, yaitu telur setengah matang dan film ini konon menceritakan tentang remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Film yang diproduksi oleh Larasati Creative Lab ini menurutku cukup esklusif. Karena apa? Dari pihak creatornya memberikan syarat yang cukup banyak ketika ada seuatu komunitas atau organisasi yang ingin memutaf film garapan mereka. Salah satunya ialah dengan menghadirkan narasumber untuk membedah dan mendiskusikan film tersebut sesuai dengan issue yang diangkat. Bagiku sangat manarik sebab film ini cukup sensitif dan bisa menjadi salah fokus jika hanya dijadikan sebagai tontonan biasa. Selain itu dengan adanya diskusi maka terciptanya ruang-ruang berdialog secara objectif membahas isu-isu sensitif, terlebih remaja dan seksualitas.

Film Telur Setengah Matang yang berdurasi sekitar 15 menit menyisakan suatu pertanyaan besar diakhir filmnya. Responku sesaat film usai rasanya seperti kurang klimaks dan menggantung, tapi bisa jadi akhir film yang demikian ada suatu maksud tertentu atau memang ada aliran film yang demikian ya hehe membuat penonton menduga-duga sendiri kelanjutan ceritanya bagaimana.

nobar film telur setengah matang

Well, dalam kesempatan itu aku tidak hanya nonton filmnya tapi juga menjadi salah satu narsum yang membahas tentang pentingnya pendidikan seksualitas pada remaja. Terdapat part dalam film tersebut yang menunjukan suatu realita yang ada di kalangan remaja. Sebagian besar remaja belajar tentang seks dari teman sebaya. Misalnya, “Gimana sih rasanya ciuman?” Pertanyaan simpel tapi jawabannya bisa ngalor ngidul dan seringkali dibumbui dengan mitos-mitos. Padahal belum tentu informasi yang diberikan itu benar, yap banyaknya keliru bos.

Diskusi film telur setengah matang

Kita tidak bisa menyalahkan mereka 100%, karena menurutku ini juga ada pengaruhnya dengan pola pendidikan yang ada. Dari kecil sampai dengan remaja pola pembelajaran yang diberikan hanya menerima dan menyampaikan, tapi tidak dengan menganalisa. Sehingga begitu dapat kabar langsung disampaikan tanpa dianalisis terlebih dahulu, dan tak jarang diberi bumbu agar terkesan mendramatisir.

Banyak orang yang masih salah paham soal seks edukasi untuk remaja. Seks edukasi itu bukan hanya sekedar belajar tentang anatomi tubuh, kesehatan reproduksi dan tindakan preventif. Namun lebih luas dari itu, seks edukasi mengajarkan tentang value / nilai menjadi seseorang yang berdaulat dengan memberikan pemahaman dalam ketrampilan hidup. Seorang yang berdaulat tidak hanya merdeka secara fisik namun juga merdeka secara pikiran, seperti tidak takut untuk mengatakan tidak dan memahami tentang konsep ‘consent’.

Aku juga senang sekali melihat animo para hadirin yang sebagian besar adalah mahasiswa. Dalam forum tersebut pembahasan-pembahasan soal seks dan seksualitas berjalan dengan santai dan cair. Selain itu ada juga pembahasan soal agama yang terkesan menempatkan perempuan sebagai pihak yang selalu salah. Yah masih perlu dibahas lebih dalam lagi kalo soal ini, dan pastinya akan sangat menarik sekali.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.