popularity
pict: irishtime

Menjadi populer itu bisa menjadi suatu candu yang dapat mengakibatkan tindakan agresi, kebencian dan keputusasaan. Pendapat tersebut berasal dari professor Mitch Prinstein, seorang peneliti psikologi di Amerika yang pernah membahas soal popularitas.

Kini dunia sangat cepat sekali bergulir. Baru kemarin berita A trending, hari ini sudah berganti berita D yang trending. Dengan dalih agar bisa selalu update maka tak jarang bacaan dari sosial media yang diutamakan. Soal kebenaran sih dipikir nomer sekian, yang terpenting semakin banyak kesamaan dalam suatu pembahasan maka diasumsikan kebenarannya akan relatif lebih besar.

Efek itu ternyata membawa sebagian besar pengguna sosmed untuk bisa menjadi sumber informasi yang membuat menjadi trending, entah memberikan informasi yang paling gress, memberikan komentar atas suatu fenomena yang terjadi atau membuat berbagai thread (utas) agar bisa mendapatkan retweet atau share yang banyak. Ya istilahnya pengen bisa jadi viral. Apakah punya keinginan untuk bisa jadi viral salah? Tentu saja tidak. Justru beberapa orang yang aku temui memiliki ide cemerlang dengan membuat berbagai macam konten di IG dan twitter agar bisa menjangkau banyak kalangan.

Nah berbicara soal fenomena ini, dalam suatu forum pengusaha aku mendapatkan suatu fakta yang menarik. Bahwa mereka yang terlihat secara sosial media memiliki banyak follower atau mendapatkan label viral ternyata tidak berbanding lurus dengan pendapatan yang mereka miliki.

Menjadi Populer atau Kaya Raya ?

Lho kok bisa? Bukannya keinginan menjadi viral itu agar bisa disebut sebagai influencer dan tentu saja itu merupakan salah satu pintu rejeki?

Hmm.. belum tentu. Tidak semua influencer paham soal manajemen keuangan. Mereka bisa memonetize konten atau follower dengan membuka jasa endorse atau menjadi narasumber di berbagai macam acara, namun dibalik itu semua justru bisa menjadi suatu jebakan tersendiri.

Dengan kemudahan akses informasi sekarang ini banyak orang merasa sangat mudah untuk mendapatkan panggung. Panggung yang dimaksud bukan panggung untuk konser tapi panggung agar bisa dikenal oleh banyak orang. Sehingga saat sudah merasa menjadi terkenal maka secara gak langsung bisa membantu menaikkan kepercayaan diri. Padahal, merasa dikenal orang itu bisa jadi adalah rasa yang semu semata. Sebab semakin kita mendapatkan tepuk tangan dari orang lain maka secara orientasi diri kita akan lebih pada hal eksternal. Tak heran para influencer yang demikian akan sangat khawatir ketika mendapatkan hate speech atau haters-haters yang merenyang mereka dan cenderung mengikuti apa yang menjadi kemauan netizen dalam membuat suatu konten.

Nah kembali soal manajemen keuangan. Dalam sebuah bisnis tentu diharapkan bisa memberikan pemasukan secara jangka panjang kan ya? Oleh karena itu paham soal mengatur finansial aja gak cukup kalo belum belajar soal sistem. Sebab saat ini semua bergantung pada platform (youtube, Fb, twitter, IG), nah misalnya ada suatu kondisi tertentu yang membuat platform-platform tersebut harus di tutup maka bagaimana dengan pemasukan yang selama ini ada?

Begitu juga secara psikis tentu akan berdampak. Orang yang mengejar panggung kepopuleran maka akan membuat menjadi tidak fokus dan gampang banget terombang-ambing situasi. Karena apa? tolak ukurnya ada pada eksternal. Berkebalikan dengan mereka yang fokus pada membangun sistem untuk mengelola kekayaan, mereka bisa dikatakan akan menjadi lebih menep dan tidak terlalu termakan dengan hasutan para netizen, karena mereka sadar bahwa perlu ada prioritas dan tidak bisa menyenangkan semua pihak.

Untuk bisa populer dan kaya raya tentu saja bisa. Tapi perlu ingat bahwa untuk bisa mencapai posisi demikian ada proses panjang yang perlu di lalui. Jadi gak cuma sekedar bisa jadi viral doang ya gaesss!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.