Banyak yang masih belum memahami bahwa menulis merupakan salah satu jenis terapi yang sangat efektif dalam menyembuhkan diri sendiri. Sebutan terapi menulis merupakan sesuatu yang pas untuk metode penyembuhan ini. Terpi menulis dapat membantu orang untuk mengelola dan belajar dari pengalaman negatif serta dengan menulis juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Sebenarnya sudah sangat lama menulis dikaitkan dengan terapi. Selama bertahun-tahun, banyak praktisi yang menggunakan terapi menulis dengan berbagai media, mulai dengan menggunakan media kayu, jurnal harian, kuosioner dan media tulisan yang dapat membantu orang sembuh dari stress dan trauma.

terapi menulsi celotehyori

Saat ini, terdapat penelitian baru bahwa menulis ekspresif juga dapat menawarkan manfaat fisik bagi orang-orang yang sedang berjuang melawan penyakit terminal yang tentunya sudah mengancam kejiwaan mereka. Studi yang dilakukan oleh psikolog James Pennebaker, PhD dan Joshua Smyth, PhD pada pasien yang mengalami penyakit HIV/AIDS, asma serta radang sendi akut untuk mengekspresikan emosi yang dirasakan akibat penyakit yang dialami. Dan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa pasien yang melakukan terapi menulis ekspresif mengalami peningkatan kekebalan tubuh.

Beberapa peneliti skeptis dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pennebaker dan Smyth, karena menganggap bahwa bisa jadi peningkatan kekebalan tubuh diakibatkan oleh dukungan sosial yang diterima, waktu pengobatan, alat bantu kesehatan yang digunakan, dan lain sebagainya. Namun penelitian intensif yang dilakukan oleh Smyth secara nyata menunjukan bahwa terdapat perbedaan pasien yang melakukan terapi menulis ekspresi dan yang tidak.

Kemudian penelitian ini dikembangkan lagi dengan meneliti bagaimana seseorang dapat mendapatkan manfaat peningkatan kekebalan tubuh serta bagaimana sebagian orang mendapatkan manfaat lebih dibandingkan dengan yang lain. Hasil penelitian lanjutan ini menunjukan bahwa kunci keefektifan terapi menulis ialah bagaimana orang menafsirkan pengalaman mereka pada tulisan hingga kata-kata yang dipilih dalam menulis.  Menulis tak hanya sebagai media untuk melepaskan stress, namun juga sebagai media untuk mendapatkan inspirasi atau pencerahan dari permasalahan yang dialami.

Keuntungan Menulis dari Sisi Kesehatan

Sebuah  studi inovatif tentang efek menulis yang dilakukan oleh Smyth pada 107 pasien asma dan rheumatoid arthritis. Dalam pelaksanaanya pasien diminta untuk menulis secara terus menerus selama 20 menit dalam tiga hari berturut-turut. Sebanyak 71 pasien diminta untuk menuliskan tentang peristiwa yang paling menegangkan dalam hidupnya sedangkan sisanya sebagai kelompok kontrol diminta untuk menuliskan tentang sesuatu hal yang netral serta kondisi emosional yang muncul dalam keseharian.

Empat bulan setelah latihan menulis, mendapatkan hasil bahwa 70 pasien yang diminta untuk menuliskan pengalaman stress menunjukan bahwa terdapat peningkatan secara objektif dibandingkan dengan 37 pasien dalam kelompok kontrol dengan jenis penyakit yang sama. Sehingga Smyth menyimpulkan bahwa menulis dapat membantu pasien menjadi lebih baik dan juga dapat mencegah untuk masuk ke kondisi yang lebih buruk.

Selain itu terdapat penelitian yang lebih terkini, yaitu penelitian terapi menulis yang ditujukan pada pasien HIV/AIDS. Para peneliti meminta pasien untuk menulis tentang pengalaman hidup yang negatif selama 30 menit. Setelah itu, pasien yang menuliskan pengalaman negatif diukur jumlah limfosit CD4. Hasilnya bahwa jumlah CD4 meningkat, sehingga dalam penelitian ini menunjukan bahwa dengan menulis dapat meningkatkan fungsi kekebalan yaitu dengan cara mengurangi stress dan kecemasan terkait HIV.

Tentunya tidak semua orang setuju dengan pendekatan terapi menulis ini. Ada yang berpendapat bahwa menulis tentang trauma masa lalu justru dapat memicu rangsangan secara fisik maupun emosional. Dan tentu saja ketika sudah demikan orang akan berhenti menuliskan tentang penderitaan yang pernah dirasakan. Susan Lutgendrof, PhD dari University of Iowa kemudian melakukan penelitian baru untuk membuktikan kontradiksi tersebut. Penelitian yang menggunakan subjek mahasiswa doctoralnya menunjujan bahwa orang-orang yang menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa pahit tanpa memusatkan perhatian pada makna peristiwa tersebut dilaporkan mengalami kondisi kesehatan yang lebih buruk dari sebelumnya dibandingkan dengan yang memusatkan pemaknaan pada peristiwa yang telah dialami. Mereka yang fokus pada pemaknaan peristiwa ternyata dapat belajar mengembangkan kesadaran yang lebih besar serta dapat mengambil sis positif dari peristiwa yang menegangkan tersebut.

“Saat menulis anda butuh fokus pada pikiran dan juga emosi. Seseorang perlu menemukan makna dalam memori traumatis serta merasakan emosi yang terkait agar bisa mendapatkan manfaat dari terapi menulis,” menurut Lutgndorf.

Bila dijelaskan lebih mendalam, bahwa seseorang tidak akan mendapatkan efek positif ketika menceritakan atau membicarakan tentang hal yang berulang dengan cara yang sama. Oleh karena itu, perlu ada perubahan dalam dengan cara mereka memandang pengalaman tersebut. Salah satu bukti dari cara pandang yang berubah ialah ditemukan dalam bahasa yang digunakan. Semakin banyak menggunakan kata sebab – akibat seperti “karena”, “menyadari”, “memahami” maka efeknya semakin baik.

Bagaimanapun, kekuatan terapi menulis untuk menyembuhkan tidak terletak pada bolpoin dan kertas, namun lebih pada pikiran dan emosi penulis itu sendiri. Landasan terapi ialah keterlibatan klien dengan psikolog secara hubungan terapeutik yang membahas tentang kehidupan klien, terutama dimensi intrapersonal, interpersonal, afeksi serta simbolik dari pengalaman hidup klien.

Memulai Terapi Menulis

Untuk mendapatkan terapi menulis, klien bisa dengan bertatap muka langsung dengan psikolog atau bisa juga melalui surat elektronik atau email apabila kondisi memang tidak memungkinkan untuk bertemu secara langsung. Misalnya ketika secara mendadak kecemasan datang, maka klien dapat secara langsung mengirimkan apa yang dialami melalui email pada psikolog. Tentu saja umpan balik yang diberikan psikolog terkait dengan tulisan yang dikirimkan dapat sangat membantu klien dalam mengetahui kemajuan yang dialami.

Bila kawan-kawan tertarik menjalani terapi menulis sebagai metode penyembuhan kejiwaan, maka bisa menghubungi saya melalui email: celotehyori@gmail.com atau WhatsApp 085290499960 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Selamat berproses!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here