psikolog pihak ketiga

Anggapan datang ke psikolog hanya untuk mereka yang mengalami permasalahan mental sepertinya kini sudah mulai bergeser. Naiknya kesadaran akan kesehatan mental ternyata secara tidak langsung juga menggeser tentang pemahaman terkait lingkup kerja psikolog.

Dulu seorang psikolog itu identik sekali dengan rumah sakit jiwa. Yap, kalo ditanya apa profesinya dan kemudian dijawab psikolog klinis maka tanpa tedeng aling-aling langsung aja bilang “wah kerjanya nangani orang-orang gangguan jiwa yaa..”

Kini anggapan itu sudah mulai bergeser, psikolog tidak hanya menangani permasalahan psikis, namun juga sebagai pihak ketiga. Pihak ketiga disini bukan pihak ketiga yang merusak rumah tangga orang haha, tapi pihak ke tiga yang dimaksudkan ialah orang yang dimintai pendapat dari sisi yang netral.

Dalam satu tahun berpraktik sebagai psikolog, aku menangani beberapa konsultasi untuk menjadi pihak yang dapat memberikan sudut pandang netral pada persoalan klien. Beberapa kasus diantaranya ialah terkait pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keluarga.Sebenarnya kerja psikolog itu memang netral dan tidak berpihak.

Walau klien datang dan membayar sejumlah rupiah namun kita sebagai psikolog tetap wajib mengutarakan jika memang ada hal yang kurang sesuai (dengan cara yang sesuai tentunya). Oleh karena itu, kemampuan untuk bisa memetakan suatu kondisi serta memiliki banyak point of view inilah yang sangat diperlukan jika diminta sebagai pihak ketiga untuk memberikan pendapat. Memiliki kemampuan untuk memiliki beberapa point of view itu butuh latihan dan jam terbang. Karena menurutku itu bagian dari skills.

Cara mengasah skills itu tentu dengan diri kita sendiri dulu. Apa yang kita hadapi sehari-hari tentu tidak semuanya menyenangkan, bukan? Kita tentu berhak untuk marah, kesal dan sedih jika kondisi tidak sesuai dengan harapan. Namun pertanyaanya apakah kita akan dikontrol kondisi terus menerus atau kita yang mengontrol kondisi itu sendiri. Untuk bisa mencapai tahap ini tentu cukup butuh usaha bagi yang belum terbiasa. Ya aku juga sama, awal-awal pusing karena mengalami gejolak-gejolak yang ada.

Inti dari tulisan ini sebenarnya ialah ke psikolog itu bukan berarti mesti mengalami gangguan. Tapi psikolog juga bisa menjadi orang ketiga yang dimintai pendapat terkait suatu persoalan yang sedang dihadapi klien sehingga klien bisa mengambil keputusan dengan pertimbangan yang lebih matang. Selain itu, banyak juga yang datang ke psikolog itu hanya untuk butuh di dengar bukan butuh solusi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.