sex tak sekedar orgasme
Illustration: Hanna Barczyk/Observer

Suatu hubungan yang diawali dengan komitmen yang serius tentu saja perlu dibarengi dengan sikap dan tindakan yang serius pula. Pernikahan, misalnya. Tak semua orang yang sudah menikah menyadari bahwa merawat komitmen yang sudah terjalin lebih penting dibandingkan dengan komitmen itu sendiri. Terlepas bagaimana kisah mengawali komitmen dan segala persoalan yang mengikuti, tetap saja merawat komitmen itu adalah hal yang penting. Ada pepatah mengatakan, lebih mudah mendapatkan daripada mempertahankan. Itu sama seperti komitmen. Mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kriteria serta bisa sepemahaman di awal tak terlalu sulit untuk sebagian orang, namun tantangan ialah untuk merawat dan mempertahankannya agar tetap sefrekuensi. Untuk ngetes masih sefrekuensi atau nggak gampang, seberapa sering kamu misscom dengan pasangan hanya karena hal sepele?

Dalam kehidupan pernikahan, seks merupakan salah satu elemen yang tidak bisa dipisahkan. Kita semua pasti sudah sangat sadar bahwa untuk menjalani kehidupan seksual dalam pernikahan kita tak punya bekal yang cukup di awal. Kalaupun ada, itu lebih pada pengalaman aktifitas seks sebelum menikah, itu saja bahkan kadang jadi sumber persoalan dalam pernikahan. Puncak prestasi dalam seks yang kita pahami sejauh ini hanya coitus sampai bisa orgasme sehingga memberikan efek kepuasan bagi diri sendiri maupun pasangan. Padahal, untuk relasi pernikahan seks tak hanya sekedar mencapai orgasme saja.

Padahal, jika dibedah lebih dalam seks pasutri bisa lebih dari itu. Salah satu yang banyak dilupakan ialah tujuan untuk membangun koneksi. Bila dihayati secara mendalam, seks adalah media belajar sangat penting dalam komunikasi nonverbal. Sudah banyak penelitian yang mengatakan tingkat kejujuran nonverbal lebih tinggi dibandingkan dengan verbal (kata-kata). Namun karena proses belajarnya butuh keseriusan dan waktu yang tak singkat, maka tak heran banyak pasangan yang lebih memilih skip untuk soal hal ini. Yah yang penting seks sebagai media menggugurkan kewajiban saja dan pelepasan nafsu.

Tentu saja untuk bisa mencapai level kesadaran dalam membangun koneksi dalam hubungan seks, kedua belah pihak perlu berada di titik yang sama, yaitu bersedia untuk saling menurunkan ego masing-masing. Kedengarannya mudah, tapi pada kenyataanya luar biasa..

Jika ditarik mundur, tentu kesediaan untuk menurunkan ego kedua belah pihak sangat terkait dengan alasan dan tujuan pernikahan di awal. Coba ingat-ingat deh, dulu apa yang akhirnya membawamu saling mengucapkan janji untuk hidup bersama suka dan duka?

Ini penting banget, karena ini adalah dasar. Setiap orang pasti punya alasan menikah masing-masing, jika dirasa dulu alasan dan tujuan menikahnya belum kuat dan bahkan tidak masuk akal maka inilah saatnya untuk merevisinya. Tak ada kata terlambat kok, bila masih sama-sama punya keinginan untuk memperbaiki hubungan kedepannya. Jika kalian sudah berada dalam step ini, maka selamat kalian secara tidak sadar sedang melatih untuk saling menurunkan ego untuk mencapai tujuan yang sama.

Sama seperti anak belajar gowes sepeda, ini perlu latihan yang serius. Jatuh bangun adalah hal biasa dalam berproses. Untuk bisa komit dengan proses tentu saja tujuan bersama yang menjadi pegangan. Disitulah tolak ukur apakah kamu dan pasangan benar-benar punya keseriusan atau tidak. Kesediaan untuk saling menurunkan ego setali dua uang juga berlatih dalam komunikasi secara asertif dengan pasangan. Jika sudah demikian, proses mencapai membangun koneksi dalam aktivitas seks juga akan semakin mudah prosesnya.

Dalam artikel berikutnya, aku akan membahas lebih detil soal apa yang akan dirasakan jika membangun koneksi dalam seks sudah dicapai. Tunggu di pembahasan selanjutnya ya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.