Alhamdulillah lulus

Setiap orang orang punya jalannya masing-masing. Ada yang harus melalui jalan yang bekelok-kelok, penuh lubang, atau juga melalui jalan yang lurus-lurus saja. Mungkin saat melihat orang mengalami jalan yang lurus-lurus saja kita menjadi sering membandingkan diri kita dengan mereka.

“Wah enak juga ya? Jalannya lurus banget seperti jalan tol!”

Tapi bisa jadi apa yang kita lihat terhadap kondisi seseorang itu bisa saja salah. Menurut kita mereka melalui jalan yang lurus, tapi sebenarnya jalan yang mereka lalui penuh dengan kelokan, lubang atau justru banyak melalui jalan buntu sehingga harus memutar balik.

Kalo kata orang jawa itu “Sawang Sinawang”.

Nah masih berkaitan soal “jalan”, aku ingin berbagi cerita tentang perjalanan studi yang baru saja aku selesaikan. Sifatnya ini bukan pamer lho guys, tapi lebih pada berbagi cerita saja. Syukur-syukur apa yang aku ceritakan nanti bisa bermanfaat untuk kawan-kawan yang memang saat ini sedang berjuang untuk menyelesaikan studi.

So, let me share what i have done in my study.

GOAL!

Menetapkan goal atau tujuan dalam melakukan sesuatu itu menurutku penting banget. Tanpa adanya goal, ibaratkan berjalan tapi tak tahu kemana arahnya. Begitu juga dengan stud, baik itu studi S1 ataupun S2 bila tak punya goal maka tidak akan maksimal hasilnya. Setiap orang punya goal yang berbeda-beda saat berkuliah, ada yang ingin mengejar nilai, ada yang lulus cepat, ada yang ingin bisa punya banyak kenalan, banyak pengalaman, dan lain sebagainya.

Saat S1 dulu, goal yang aku terapkan di awal ialah bisa lulus tepat waktu bahkan bisa lebih cepat. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan studi S1 ku selama 3,5 tahun. Walau secara goal aku dapat mencapainya, ternyata lulus dengan cepat itu tidak menjamin aku dapat memahami apa esensi dari perkuliahan yang aku jalani. Secara teori aku sangat paham dan bahkan hapal di luar kepala, namun secara praktek ternyata masih jauh dari yang diharapkan. Selama kuliah aku memang tidak memutuskan untuk bergabung di organisasi kampus, karena menurutku itu kurang berfaedah dan hanya buang-buang waktu. Sehingga tak heran saat kuliah dulu aku hanya memiliki sedikit teman, itupun teman satu kelas saja.

Tapi dari situ aku mendapatkan pelajaran penting, bahwa sebenarnya esensi kuliah itu bukanlah bagaimana bisa lulus dengan cepat dan memiliki nilai tinggi, tapi lebih dari itu bagaimana memahami apa sih sebenarnya esensi ilmu yang aku pelajari dan bagaimana bisa aku aplikasikan di kehidupan sehari-hari, syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain.

Setelah lulus S1, aku memutuskan untuk tidak langsung melanjutkan ke jenjang S2. Aku butuh keluar dari zona kampus terlebih dulu dan mencicipi dunia nyata. Selama rentang waktu setahun aku bekerja. Mulai membangun bisnis pelatihan bersama teman-teman, menjadi asisten asesor recruitment pegawai, dan pernah juga bekerja di LSM yang menangani pelacuran. Ternyata benar, hanya mengandalkan nilai di kampus saja tidak cukup, banyak hal yang perlu di pelajari saat memasuki dunia nyata pekerjaan.

Selama bekerja aku merasa apa yang aku pelajari selama ini hanya berkisar permukaan saja. Sehingga aku memutuskan untuk lanjut studi ke jenjang S2. Aku mengambil program magister profesi sehingga harus menjalani sesi praktek lapangan selama satu semester. Dan ya goal yang aku terapkan pada jenjang S2 ini ialah bagaimana aku bisa memahami lebih mendalam lagi dan dapat aku aplikasi untuk diri sendiri dan tentunya untuk orang lain. Soal lulus cepat, itu bukan lagi menjadi goal yang utama. Kalo bisa lulus cepat itu bonus.

Finish What You Start!

Dalam sebuah seminar Merry Riana yang pernah aku datangi, aku mendapatkan pelajaran berharga tentang pentingnya menyelesaikan apa yang telah dimulai. Ya bagi sebagian besar orang untuk memulai sesuatu itu sangatlah mudah, tapi untuk menyelesaikannya sampai selesai hanya sedikit orang yang mampu. Menyelesaikan apa yang sudah di mulai itu sebenarnya berbicara soal tanggung jawab. Ya, saat sudah berani memulai ya harus berani juga dong menyelesaikannya. Dan tentu saja untuk menyelesaikan yang sudah dimulai itu harus mengalami berbagai proses, jatuh bangun, lelah hati, lelah fisik dan berbagai tantangan lainnya. Namun karena sudah memiliki goal di awal, maka apapun yang menjadi halang rintang alhamdulillah bisa dilalui dan dilewati dengan selamat. Menurutku, masa-masa inilah yang penuh dengan dinamika.Seabrek tugas yang seperti tak pernah habis dan jam tidur menjadi sangat berkurang.

Mungkin itu belum seberapa karena jadwal kuliah masih ada, nah yang menjadi godaan besar untuk meninggalkan kuliah atau tidak menyelesaikannya ialah saat masa-masa pembuatan laporan dan pengerjaan tesis. Memasuki semester III dan berikutnya sudah tidak ada lagi kewajiban untuk berangkat kuliah karena memang tidak ada jadwal tatap muka dengan dosen. Banyak dari teman-temanku memanfaatkan waktu itu untuk bersantai-santai dan ada juga yang menggunakannya untuk bekerja. Aku salah satu yang memutuskan untuk bekerja. Fokus perlahan-lahan mulai teralihkan. Di awal aku perlahan lebih fokus pada pekerjaan karena sudah merasakan nikmatnya gaji yang dihasilkan setiap bulannya. Aku menjadi lebih memfokuskan pada pekerjaan karena berharap dapat meningkatkan pendapatan. Namun aku lupa, ada hal yang aku mulai namun belum aku selesaikan, ya kuliahku. Tiga bulan cukup untuk salah fokus, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk lebih fokus pada tesis dibandingkan pekerjaan. Aku sadar aku menjadi tidak maksimal di pekerjaan, tapi ya sudah bagaimana lagi yang terpenting aku bisa menyelesaikannya dengan tenggat waktu yang sudah aku tentukan.

It’s Not The End.

Alhamdulillah setelah melewati berbagai macam tantangan, akhirnya aku berhasil menyelesaikan masa studiku. Bila dihitung-hitung aku menyelesaikan jenjang S2 ku selama 2 tahun 9 bulan, almost 3 tahun. Ini tergolong cepat dibandingkan teman-teman seangkatanku yang lainnya. Mau tidak mau dan suka tidak suka aku harus memaksa diri untuk bisa mencapai step berikutnya. Studiku memang selesai, namun ini bukanlah titik akhir karena masih ada hal-hal baru lain yang butuh aku pelajari.

Down To Earth and Listen

Apa yang telah aku capai ini tentunya tidak semata-mata atas kerja kerasku sendiri. Banyak orang yang selama ini selalu siap berdiri menjagaku dari belakang untuk menjagaku agar tidak sampai terjatuh. Masa-masa down seringkali aku alami saat pressure sedang tinggi-tingginya. Namun berkat mereka, aku bisa kembali bangkit dan tidak harus sampai jatuh terpuruk. Sehingga akan bodoh rasanya bila setelah aku mencapai gelarku yang baru aku menjadi orang yang paling pitar dan paling mengetahui segala hal. Justru semakin tinggi pendidikan, maka harus semakin rendah hati. Ibaratkan bulir padi, yang semakin berisi maka akan semakin merunduk. Makanya aku kadang geli saat melihat orang-orang yang sudah bergelar panjang tapi inginnya bicara terus dan tidak mau belajar untuk mendengar. Sangat tinggi hati dan menjadi besar kepala.

Ya mungkin benar apa kata orang, belajar untuk menjadi rendah hati itu lebih sulit dibandingkan dengan belajar fisika atom. Karena belajar rendah hati itu tidak ada sekolah formalnya. Hanya yang mau belajar mendengar dari orang lain dan belajar dari alam semestalah yang bisa memiliki ilmu rendah hati tingkat tinggi. Dan aku masih terus mempelajarinya.

Waah gak terasa ternyata tulisannya panjang banget. Ya mungkin itu dulu yang bisa aku sharingkan. Tetap semangat bagi kawan-kawan yang sedang berjuang menyelesaikan studi atau sedang berjuang untuk mencapai target. Percayalah bahwa segalanya mungkin saat kita percaya.

Semoga sharingku bermanfaat ya guys.
See you!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here