Posts

halal haram

Hubungan Seks Halal tapi Nggak Aman ?

Pertanyaan diatas kok kayanya terdengar aneh ya? Bukannya segala sesuatu yang Halal itu baik? Sesuatu yang baik itu pastinya juga aman kan ? Tapi coba logikanya dibalik, adakah sesuatu yang halal tapi tidak aman dan sesuatu yang tidak halal malah justru aman ? Bisa jadi ada.

Tulisan aku kali ini ingin share sesuatu konsep berpikir yang baru aja aku temukan di salah satu tulisan sekapur sirih sebuah buku. Buku yang berjudul “Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak” yang di tulis oleh Mantan Mentri Kesehatan Tahun 2009, Endang R. Sedyaningsih.

Diawal, ketika aku melihat buku ini di online-shop aku mengira buku ini hanya menceritakan tentang kisah-kisah pelacur Kramat Tunggak ketika sebelum digusur dan digantikan menjadi Daerah Islamic Centre. Ternyata dugaanku agak meleset, buku ini berisi lebih lengkap dari dugaan awalku. Buku ini berisikan konsep-konsep berpikir baru dalam melihat fenomena pelacuran, HIV/AIDS, dan yang menyertainya.

Aku tidak akan meriview buku dalam postingan ini, aku ingin berbagi tentang konsep yang baru saja aku dapatkan dan membuat aku menjadi lebih membuka pikiran lagi dan lagi. Konsep itu namakan saja konsep Halal-Haram dan Aman-Tidak Aman. Konsep tersebut dijelaskan dengan sejelas-jelasnya oleh Irwan Julianto, seorang wartawan senior kompas dalam sekapur sirih yang berjudul “Meretas Stigma PSK sebagai ‘Penular’ HIV/AIDS”.

Secara simpelnya begini,

Halal Haram - Aman Tidak Aman

“Para istri yang melakukan hubngan seks yang halal dengan suami sah mereka ternyata banyak yang tidak aman hanya gara-gara suami mereka tidak melindungi diri (dengan kondom) ketika “jajan” seks komersial. Karena seks Halal yang Tidak aman menjadi relative lebih buruk jika dibandingkan dengan seks yang Haram namun aman, misalnya dilakukan oleh suami “jajan” seks komersial namun sadar infomasi HIV/AIDS, sehingga menggunakan kondom. Dengan demikian ia melindungi istri dan anak-anaknya dari kemungkinan penyakit menular seksual, khususnya HIV/AIDS.”

Penjelasan diatas adalah asli (bukan saduran) dari buku yang aku baca. Menurutku, penjelasan diatas sangat masuk akal. Karena apa? Yak karena angka HIV/AIDS kini lebih banyak diderita oleh ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya. Ibu rumah tangga yang melakukan seks dengan “halal” malah terinfeksi, sedangkan wanita pekerja seks dijalanan yang melakukan seks yang “haram” justru terlindungi dari infeksi HIV/AIDS karena sadar dalam penggunaan kondom. Memang tidak semua para ibu rumah tangga terinfeksi HIV/AIDS karena suami jajan sembarangan bisa jadi sebab lain seperti kasus suami pengguna narkoba. Tapi kenyataanya kesadaran penggunaan kondom masih sangat rendah pada ibu rumah tangga, karena pertama unsur kepercayaan pada suami yang sangat tinggi.

Rasa-rasanya, memang hal itu sangat tidak adil. Mengapa seorang istri yang sudah menjaga diri dan melakukan sesuatu dengan “halal” malah terinfeksi HIV/AIDS. Hal itu tidak terlepas dari budaya dan value yang ada di masyarakat.

Hanya seorang wanita yang dituntut untuk menjaga kesucian hingga waktunya tiba, dengan segala tetek bengek aturannya. Sedangkan laki-laki dimaklumin dan dianggap wajar jika melakukan hubungan seks sebelum menikah baik itu atas dasar suka sama suka atau karena sukanya “jajan”. Bahkan adapula laki-laki beralasan mencari banyak pengalaman seks sebelum menikah demi memuaskan istri di kasur. Shit Mann.

Nggak heran kalau angka infeksi HIV/AIDS di Indonesia masih dan semakin tinggi. Semua sudah dilakukan, berupa penjangkauan, edukasi seks aman, VCT gratis dll. Namun satu hal yang butuh usaha yang lebih besar, yaitu merubah paradigma tentang male-dominated-society. So, please open your mind.

Lakukan seks dengan aman, perkara halal dan haram itu hanya Anda dan Tuhan yang tahu.

ODHA B.A.H.A.G.I.A

Kali ini aku pengen nyeritain tentang pertemuanku dengan seseorang yang luar biasa. Kenalkan, beliau adalah Pak Widodo atau biasa disapa dengan Pak Wid. Beliau bukanlah artis atau pejabat daerah yang banyak bersliweran di media cetak hehe, namun menurut beliau adalah salah satu orang cukup menarik perhatianku.

Pertama kali aku mengenal beliau ketika menghadiri suatu acara 2 tahun yang lalu. Kala itu aku tak terlalu banyak ngobrol dengan beliau, yang aku tahu beliau adalah Odha (orang dengan HIV/AIDS) yang aktif memberikan dampingan pada sesama Odha lainnya. Pak Wid tergolong orang yang friendly dan easy going. Walaupun kala itu kami baru ketemu tapi beliau mudah ngeblend sama kami yang usianya jauh dibawahnya.

Setelah dua tahun tak bertemu, akhirnya bulan lalu Tuhan mempertemukan kami kembali di acara Rumah Aira. Awalnya aku tak menyadari ada beliau di acara tersebut, namun tiba-tiba beliau langsung menghampiriku dan menjabat tanganku sambil sumringah. Waaw aku kaget! Jujur aja waktu itu aku lupa nama beliau tapi aku sangat ingat dengan perawakannya yang tinggi dan kumisnya yang khas.  Tanpa pikir panjang, aku langsung minta nomor hp sambil mengingat kembali siapa nama beliau wkwkw.

Mungkin bagi beberapa temen FBku sudah sangat familiar dengan Pak Wid dan sudah tau siapa beliau berikut dengan latar belakangnya. Namun bagiku, Pak Wid adalah sosok yang belum terlalu aku kenal. Jujur saja aku masih penasaran dengan cerita hidup Pak Wid sebenernya gimana. Dengan tekad kepo level tinggi akhirnya aku menghubungi Pak Wid dan janjian buat nongkrong bareng.

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu di food court sebuah mall. Begitu Pak Wid dateng aku langsung menawarkannya minuman sambil aku juga jajan hehehe. Tak beberapa lama minuman datang dan kami mulai percapakan yang semi serius tapi tanpa spaneng.

Pak Wid cukup terbuka ketika aku banyak bertanya tentang latar belakangnya bagaimana sampai bisa terkena HIV/AIDS. Pak Wid menyadari bahwa apa yang dialaminya saat ini tak terlepas dari perilaku buruknya ketika semasa muda dulu. Dengan tanpa basa-basi Pak Wid bercerita bahwa dulunya ia adalah seorang pemakai narkoba. Hampir semua jenis narkoba pernah beliau cicipin dari tahun 1993 hingga tahun 2002. Tak hanya segala jenis narkoba aja yang udah pernah Pak Wid cicipin tapi segala jenis body katanya juga sudah pernah Pak Wid cicipin atau bisa dibilang beliau dulu penganut faham free sex. Pak Wid juga cerita gaya hidupnya itu ditunjang dari pekerjaannya yang bertemu banyak orang. Jadi bisa dibilang Club atau diskotik itu adalah rumah keduanya mencari kesenangan. Jadi mau make narkoba jenis apa aja dan berapa kali ganti pasangan itu adalah hal yang mudah baginya.

Pak Wid mengaku bahwa sangat sulit lepas dari narkoba, namun Pak Wid benar-benar bisa lepas dari narkoba ketika terpalang oleh Undang-Undang Narkotika. Jadi pada saat itu UU Narkotika memberikan sanksi hukuman kurung bagi pengedar maupun pemakai. Mulai saat itu Pak Wid bertekad untuk lepas dari narkoba dan sampai saat ini beliau sudah bebas dari jeratan narkoba.

Setelah bebas dari narkoba, suatu hari Pak Wid jatuh sakit hingga opname sebanyak 4 kali dalam setahun. Kala itu Pak Wid cerita kalo beliau udah nggak bisa apa-apa. Bayangkan aja kala itu CD4 nya hanya 16 dan berat badannya hanya 36 kg, padahal jumlah CD4 pada orang normal itu sebanyak +/- 500. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan infeksi. Pak Wid bercerita dia sampai nggak bisa jalan. Mulai dari situlah Pak Wid baru tahu bahwa ia sudah terinfeksi HIV/AIDS. Kaget pasti, tapi beliau terus berjuang untuk kembali bangkit selama 3 tahun, hal tersebut berkat dari dukungan saudara dan lingkungan terdekatnya. Lambat laun Pak Wid kembali bisa berjalan hingga bisa mengendarai sepeda motor lagi.

Mulai dari situ Pak Wid bisa kembali bertemu dengan banyak orang terlebih teman-teman yang senasib dengannya. Pak Wid banyak berkumpul dengan ODHA lain dan sering menjadi tempat curhat. Tanpa pernah mengeluh, Pak Wid tetap menerima curhatan dari teman-temannya. Pak Wid mulai menyadari bahwa keberadaanya ternyata cukup dibutuhkan bagi teman-teman, hingga akhirya Pak Wid berinisiatif membentuk Komunitas Odha Ohidha Semarang atau disingkat KOOS. Dengan adanya KOOS, Pak Wid menjadi lebih bisa maksimal dalam memberikan pendampingan pada Odha. Menurutku beliau salah satu orang yang sangat totalitas dalam memberikan pelayanan, bayangkan saja nomor handphonenya sampai ada 3 dan semuanya berbeda operator. Tujuannya adalah untuk mempermudah komunikasi bagi Odha dampingannya.

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Komunitas Odha Ohidha Semarang

Aku salut pada Pak Wid yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu membangkitkan semangat hidup teman-teman Odha lain. Baginya suatu keberkahan bisa melihat orang yang ia dampingi bisa kembali tersenyum dan bersemangat menatap kehidupan kembali.

Aku percaya pasti diluar sana banyak Pak Wid lain yang juga berdedikasi pernuh untuk membantu orang lain dalam meningkatkan kualitas hidup Odha. Aku hanya bisa berdoa agar beliau-beliau di berikan kesehatan serta umur panjang agar bisa menularkan semangat kepedulian bagi banyak orang lagi.

Sebenernya lewat postingan ini aku ingin menyampaikan bahwa apapun keadaan yang kita alami dan seburuk apapun cobaan yang sedang kita hadapi, kita tetep berhak untuk BAHAGIA. Karena BAHAGIA yang menentukan kita sendiri, bukan orang lain.

Selain itu, dalam case Pak Widodo aku juga bisa mengambil pelajaran bahwa selagi muda kita perlu berhati-hati dalam pergaulan, salah satunya pergaulan yang beresiko tinggi. Dan perlu dipahami juga kalo tak semua Odha memiliki latar belakang perilaku beresiko seperti beliau, banyak juga diluar sana yang terinveksi HIV akibat dari kesalahan medis, korban perkosaan, dan lain sebagainya Jadi stop hobi menggenalisir atau menyamaratakan setiap case.

The most important thing that i wanna share, please dont judge some one else by cover or by their background. Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi kedepannya. Termasuk saya ini yang jauh dari sempurna ceileh haha 😀

Terima kasih Pak Wid sudah menyempatkan waktu dan berbagi cerita denganku.

“Tak ada yang mau menjadi Odha, tapi pasti semua ada berkahnya.

Dan saya memutuskan untuk BAHAGIA – Pak Widodo”

Cheers!!

Berkunjung ke Rumah Aira Semarang

Hampir sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 Juni 2016 aku dan Si Ay datang ke sebuah acara di salah satu Mall di Semarang. Sebenernya tujuan awal kami berdua untuk bertemu temen lama Si Ay yang bernama Mas Slam Riyadi untuk ngobrol-ngobrol karena udah lama nggak ketemu. Nah kami janjian setelah adzan magrib, tapi kami dateng telat karena  memutuskan untuk buka puasa dulu di food court terdekat.

Singkat cerita, kami langsung menuju tempat janjian. Ternyata tempat janjian kami ada di sebuah venue acara yang bertema “Peluncuran Gelang Rumah Untuk Aira”. Acara tersebut diisi beberapa perform dan datangi oleh beberapa komunitas. Ada pementasan tarian belly dance, ada juga tarian anak-anak, terus ada juga perform dari mahasiswa, dan yang paling heboh juga ada perfom akustik dari komunitas Iwan Fals Semarang, hihihi.

Nah… sebenernya aku juga masih bingung tentang acara tersebut dan apa maksud diselenggarakan acara tersebut. Rumah Aira itu apa? Siapakah Si Aira? Dan banyak pertanyaan lain yang muncul di otakku. Untung  Mas Slam menjelaskan dengan sangat rinci tentang kegiatan tersebut.

Jadi, sebenernya kegiatan tersebut adalah sebuah acara Peluncuran Gelang Donasi untuk pembangunan Rumah Aira, sebuah rumah singgah dan panti asuhan untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Penggagas Rumah Aira adalah Ibu Magdalena, seorang perawat salah satu rumah sakit swasta di Semarang. Aku sempat ngobrol langsung dengan beliau sambil tanya-tanya tentang kegiatan Rumah Aira, tapi sayang aku tak sempat foto berdua dengan beliau. Oh ya, hasil penjualan gelang yang hanya seharga Rp. 20.000 semuanya didonasikan untuk pembangunan Rumah Aira.

Setauku, baru kali ini di Semarang ada sebuah Rumah Singgah atau Panti Asuhan Khusus untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan menurutku Bu Magdalena adalah salah satu  pribadi yang  berani untuk melawan stigma HIV/AIDS di Semarang dan bersyukur banyak yang mensupport. Hal tersebut menandakan kesadaran masyarakat untuk melawan stigma terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS) sudah mulai menurun tak seperti 7 tahun lalu ketika aku ikut kegiatan PMR dalam melakukan kampanye Hari Aids Sedunia dengan membagi-bagikan bunga kertas.

Selain itu, sebenernya ini sebuah kesempatan besar untuk para mahasiswa psikologi yang ingin bener-bener belajar bagaimana mendapingin Odha yang memiliki anak-anak yang juga terinfeksi. Semoga mereka bukan hanya sebagai “objek” penelitian semata, tapi juga sebagai “subyek” yang wajib didampingi secara psikologis.

Bagi temen-temen yang ingin mendukung gerakan Rumah Aira, temen-temen bisa langsung menghubungi Ibu Magdalena (085865758710, 085764977354) atau bisa langsung ke alamat Jl. Kaba Timur No. 14, Kel. Tandang, Tembalang, Semarang.

Cheers!