Posts

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Puput adalah salah satu  pekerja seks yang sudah cukup lama aku kenal. Wajahnya yang selalu ceria saat bertemu denganku ternyata menyimpan luka batin yang luar biasa dalam. Puput yang kini berusia hampir 30 tahun adalah wanita asal Kalimantan yang sudah bekerja sebagai pekerja seks di SK selama hampir 3 tahun. Secara penampilan, Puput memiliki perawakan yang cukup berisi dan ia juga memiliki rambut yang hitam dan panjang. Sedangkan parasnya, Puput memiliki wajah yang bersih dan tergolong lumayan cantik.

Hari itu, tepatnya hari Selasa di pertengahan bulan Februari 2016 aku mengunjungi wismanya. Kebetulan aku datang saat pagi hari kira-kira pukul 9.15 wib. Pagi hari adalah waktu yang relatif aman bagiku untuk mengunjungi wisma, sebab pada pagi hari belum banyak tamu yang datang seperti sore menjelang malam. Aku mengunjungi wismanya karena memang sebelumnya aku sudah membuat janji dengan Puput.

Wisma Puput salah satu wisma yang terletak di gang yang cukup ramai. Walaupun letaknya di paling ujung, namun wisma yang berwarna dinding hijau cerah ini merupakan salah satu wisma favorit karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

Setibanya aku di pelataran wisma, tak ada seorang pun yang terlihat. Aku hanya melihat lorong gelap yang terlihat dari pintu depan yang terbuka. Tanpa ragu aku menghampiri ambang pintu dan mengetuk pintu sembari mengucap salam. Tak beberapa lama, datang seorang pria berperawakan kurus tinggi dan segera menghampiriku. Wajahnya masih tampak kusut sama seperti pakaian yang dikenakannya. Ia tampaknya operator karaoke yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Ya Mbak, cari siapa ya?” tanyanya sembari menggaruk-garuk lengannya.

Mbak Puput ada mas?” jawabku singkat.

Oh ya mbak langsung masuk aja,” jawabnya sambil membalik badannya dan menunjukkan dimana letak kamar Puput padaku.

Tanpa mengulur waktu aku langsung saja menghampiri kamar yang terletak paling pojok yang berdaun pintu berwana hijau tua. Aku langsung mengetuknya dan tak lama pintu terbuka. Terlihat Puput yang menggunakan daster baby doll warna merah muda di balik pintu. Puput langsung tersenyum padaku dan langsung mempersilahkanku masuk.

Maaf ya mbak aku belum mandi, kamar juga masih berantakan,” gumamnya padaku sembari merapikan letak bantal dan guling agar ada  sedikit ruang di kasurnya untuk tempatku duduk.

Sebenarnya ini pertama kalinya aku memasuki salah satu kamar di wisma tempat wanita pekerja seks mencari nafkah. Jujur, kala itu jantungku cukup berdebar karena aku menduduki tempat peraduan yang biasa digunakan Puput untuk melayani tamu-tamunya. Namun perasaan yang tak karuan itu segera aku buang jauh-jauh dan segera kembali fokus pada Puput.

Semalam selesai kerja jam berapa Mbak?” tanyaku sembari membuka obrolan.

Kayaknya jam 2 an deh, tapi habis itu aku gak bisa tidur sampai jam 5 pagi. Ni baru aja bangun mbak,” jawabnya sambil mengikat rambutnya.

Sontak aku langsung merasa sungkan karena tak enak sudah mengganggu waktu istirahatnya. Memang bagi pekerja malam seperti Puput, pukul 9 pagi adalah waktu untuk istirahat. Namun Puput segera menepis kesungkananku dengan mengatakan bahwa ia tak keberatan dengan kedatanganku dengan menyuguhkanku sebungkus biskuit kelapa.

to be continued…

bu mus 5

Kisah Bu Mus Eps. 5

 

Saat ini Bu Mus masih aktif bekerja sebagai PSK. Menurutnya walaupun hanya mendapatkan 3 tamu dalam sehari atau bahkan tak mendapatkan tamu sekali ia tetap mensyukuri rezeki yang diberikan Tuhan padanya. Sebagai penggantinya untuk mengisi waktu luangnya yang cukup banyak, ia sangat rutin membuat kerajinan tangan yang ia tekuni saat ini.

“Ya walaupun untungnya sedikit, namanya juga usaha yang dibangun dari nol pastinya kan begitu Mbak Yoli. Yang penting tetap terus dijalani dan disiplin.”

Ia mengakui bahwa pekerjaannya sebagai pelacur adalah dosa besar. Namun menurutnya ia tidak mengetahui pekerjaan lain yang dapat ia lakukan dengan usia yang sudah mencapai  50 tahun. Untuk menebus dosa-dosa yang telah diperbuatnya Bu Mus selalu mengingat akan keberadaan Tuhan dengan beribadah di tengah kegiatannya.

Sebagai pekerja seks pasti terdapat resiko besar yang di hadapi oleh Bu Mus. Selain resiko terjangkit penyakit menular seksual hingga HIV/AIDS, Bu Mus juga menghadapi resiko – resiko fisik dan moral yang tidak ringan. Mungkin untuk menghadapi hujatan masyarakat tentang profesinya sudah dapat ia siasati, namun tidak dengan resiko moral sebagai perusak rumah tangga orang. Sebagai wanita secara naluriah Bu Mus juga merasa bahwa begitu sakitnya bila dihianati oleh suami, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya memendam rasa bersalahnya dalam-dalam.

Sebenarnya resiko mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual sangat besar peluangnya terjadi di lokalisasi. Namun, karena Bu Mus memiliki prinsip untuk selalu menjaga keamanan dirinya, Bu Mus selalu selektif dalam memilih tamu. Ia tak pernah menerima tamu yang sedang mabuk. Sebab tamu yang mabuk sangat sering membuat ulah dan tidak segan-segan berkata kasar hingga mendaratkan bogem mentah di wajah wanita pekerja seks.

Setiap orang pastinya memiliki harapan, begitupun dengan Bu Mus. Ia berharap kedepan, saat sudah memiliki modal yang cukup ia ingin membuka kios kecil di desanya. Selain menjual pernak pernik kerajinan tangan ia juga ingin memberi pelatihan keterampilan pada masyarakat di desanya. Ia menyadari bahwa wanita-wanita di desanya memiliki peluang besar untuk masuk ke dalam dunia prostitusi. Oleh karena itu ia memiliki niat untuk memberdayakan wanita di desanya agar tak perlu lagi bekerja sebagai pelacur sepertinya untuk bisa menghidupi keluarga.

-The End-

Kisah lengkap,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 3

Kisah Bu Mus Eps. 4

Kisah Bu Mus Eps. 3

Waktu itu keadaan terasa terjepit sekali, Mbak Yoli. Semua perabot sudah habis dijual untuk pengobatan, dan pada akhirnya aku berpikir untuk mencari pekerjaan. Kalo aku nggak kerja nanti siapa lagi yang akan membayar pengobatan suami dan hidup anakku.”

Usia yang sudah tak lagi muda, membuatnya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.  Terlebih, Bu Mus hanya lulusan Sekolah Dasar yang tak berizasah yang tak punya pengalaman bekerja. Kondisi pelik di tengah keadaan yang semakin terhimpit.

Bu Mus sempat terpikir untuk menjadi TKW, namun itupun hanya sekedar angan-angan karena segala tetek bengek yang harus dipersiapkan yang membutuhkan waktu tak sebentar.  Dan pastinya ia tak bisa pergi jauh meninggalkan suami yang sakit dan anak semata wayangnya dalam kurun waktu yang lama.

Hingga suatu saat, dimana semua terasa tak ada lagi jalan. Suami Bu Mus memberikan izin padanya untuk melakukan pekerjaan apa saja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga serta pengobatan. Sebenarnya Bu Mus sudah lama mendapatkan informasi tentang peluang pekerjaan yang dapat menghasilkan uang jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Namun pekerjaan itu sangat amat bertolak belakang dengan batinnya. Dengan keadaan yang samakin terhimpit, akhirnya Bu Mus memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya terkait peluang kerja yang di dapatnya.

“Pah, kalo aku kerja di lokalisasi bagaimana?”

“Ya gak apa-apa Mah, kalo memang sudah tidak ada lagi jalan lainnya.”

Itulah awal mula Bu Mus menguatkan hati bekerja sebagai pelacur demi pengobatan suami tercinta dan memenuhi kehidupan keluarga. Dalam keadaan yang semakin tak berdaya, suaminya merelakan Bu Mus untuk pergi mencari secercah harapan di kompleks lokalisasi. Saat mengingat kembali kejadian tersebut, raut wajahnya berubah menjadi lebih sendu dari sebelumnya. Nada bicaranya pun mulai melambat dan tatapannya seperti meratapi sesuatu.

Awal-awal ia menjalankan pekerjaan sebagai wanita pekerja seks, seringkali muncul tabrakan-tabrakan emosi yang ada dalam dirinya. Ia harus melakukan hubungan suami istri dengan pria lain disaat suaminya mengerang kesakitan di rumah. Rasa bersalah yang kuat seringkali mengiris hati. Bu Mus sadar, jalan yang telah dipilihnya adalah perjuangan hidup yang harus ia jalani. Tekad kuat untuk bisa membantu perekonomian keluarga dan biaya pengobatan membuatnya bertahan.

Usaha keras Bu Mus yang sudah bertahun-tahun untuk mencari biaya pengobatan ternyata tidak sejalan dengan harapan yang ia inginkan. Tuhan berkehendak lain, suami tercinta yang selama ini ia perjuangkan telah di panggil oleh Tuhan untuk selama-lamanya. Kesedihannya kembali tersirat dari raut wajahnya saat menceritakan padaku, ia merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berada di dekat suaminya pada saat-saat terakhir.

to be continued….

Sebelumnya,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 2

Bu Mus tahu persis, keputusan yang diambilnya penuh dengan resiko. Mungkin, bila disaat itu ada seseorang yang bermurah hati membantunya, mungkin saat ini ia merasa seperti layaknya ibu-ibu pada umumnya, menimang cucu sambil bersenda gurau dengan keluarganya.

Awalnya, aku tak percaya bila Bu Mus bekerja sebagai wanita pekerja seks. Perilakunya yang sopan dan rona wajah sendu yang terpancar dari Bu Mus membuatku sering berpikir ulang bahwa ia hanya pegawai kelurahan atau LSM. Dengan usianya yang sudah diakhir tengah baya ternyata masih saja ada tamu yang menghampirinya untuk mendapatkan layanan seks. Kini Bu Mus sudah hampir lima tahun bekerja di SK. Walaupun pendapatannya tak sebanyak dulu, namun Bu Mus mengatakan akan tetap tinggal hingga setahun hingga dua tahun mendatang. Kini ia memiliki kegiatan aneka kerajinan tangan untuk menopang kehidupannya.

Sebenarnya kisah Bu Mus hampir sama seperti dengan kisah wanita pekerja seks kebanyakan yang datang melacur dengan motif awal ekonomi. Motif ekonomi hanyalah motif pembungkus saja. Perjalanan Bu Mus sebagai wanita pekerja seks ternyata berasal dari rasa cintanya terhadap suaminya. Penyakit stoke telah melumpuhkan sendi-sendiri tulang suaminya serta ekonomi keluarga, hingga membuat Bu Mus melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan nyawa suami tercinta dan ekonomi keluarga.

Awalnya, Bu Mus sama seperti ibu rumah tangga lain yang mendedikasikan diri untuk berbakti pada keluarga.  Kehidupan rumah tangga Bu Mus terbilang bahagia. Walau hidup di sebuah desa di Jawa Tengah, kehidupannya dengan suami dan anak semata wayangnya sangat berkecukupan. Namun, sayangnya kebahagiaan yang dirasakannya seiring waktu mulai terkikis karena suaminya yang jatuh sakit. Semua yang dulunya serba berkecukupan, kini berbalik menjadi serba kekurangan. Suaminya tak lagi bekerja semenjak ia jatuh sakit.

Uang tabungan kian hari kian menipis, rumah pun terasa makin kosong karena perabot sudah mulai habis terjual.  Dengan keadaan suami yang hanya bisa berbaring di kasur menahan sakit, otomatis memaksa Bu Mus berubah peran menjadi tulang punggung keluarga. Masa-masa sulit itu Bu Mus alami cukup lama sendiri, namun ia selalu bertahan melakukan semua itu karena dasar cinta yang kuat pada suami dan keluarga kecilnya. Ia tak bisa semena-mena meninggalkan suaminya begitu saja karena tak lagi mampu memberinya nafkah lahir dan batin. Menurutnya tak hanya cinta yang membuatnya memiliki kekuatan hati untuk bertahan namun juga pengabdian pada suami.

to be continued…

Sebelumnya, Kisah Bu Mus Eps.1

 

Kisah Bu Mus Eps. 1

Mbak Yoli… sudah lama ndak ketemu. Sibuk apa sekarang, Mbak?

Begitulah sapaan Bu Mus, salah satu wanita pekerja seks SK ketika berjumpa denganku. Usianya memang sudah tak lagi muda, namun penampilannya tak kalah dengan yang berusia jauh dibawahnya. Sederhana, namun cukup elegan untuk di kalangan SK.

Bu Mus yang kini telah berusia lebih dari setengah abad memiliki latar belakang yang sangat pelik hingga mengantarkannya menjadi wanita pekerja seks di SK. Percaya atau tidak, hal yang mendorongnya untuk bekerja sebagai wanita penghibur karena rasa cintanya yang sangat mendalam pada suaminya. Terdengar miris dan ironis. Bagaimana bisa bekerja melayani nafsu pria lain demi membuktikan cinta pada suami. Bila menggunakan nalar, hal itu akan sulit bahkan tidak bisa diterima akal sehat sebagai cara dalam mencintai suami. Namun, dalam dunia ini segala sesuatunya mungkin, begitupun dengan pilihan yang diambil Bu Mus.

Sebelum menjadi wanita pekerja seks, Bu Mus adalah seorang wanita yang menjalani kodratnya menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak dan suami. Tak ada hal lain yang ia lakukan selain pekerjaan inti sebagai ibu rumah tangga. Kala itu hidupnya sangat berkecukupan dan sejahtera, walau ia hidup di sebuah pedesaan yang sangat jauh dari perkotaan.

Aku ndak tau, seperti kaya disamber gledek Mbak waktu aku mendapatkan kabar itu. Semua berubah dengan sangat cepat.” Kenangnya Bu Mus, mengingat kejadian 10 tahun lalu.

To be continued…

 

Aku Bangga dengan “Om Telolet Om” !

Bukan Indonesia kalo nggak bikin sesuatu yang booming sampe seantero dunia. Senang rasanya bisa menikmati akhir tahun dengan trend Om Telolet Om yang membanjiri semua timeline FB, twitter, Instagram, dan  Youtube. Kenapa nggak? Liat aja para Dj bahkan sampai dengan Barack Obama aja tau trend ini. Semua bertanya-tanya dan mencari tahu apa sih “Om Telolet Om”, mulai dari kepo akhirnya mereka berkunjung ke Indonesia untuk tau trend itu, tentunya secara online. Dunia pun mulai tau the secret weapon of Indonesia salah satunya adalah “Om Telolet Om”. Hahaha. Senjata rahasia Indonesia adalah sense of humor yang tinggi dan mampu membuat sesuatu sepele hingga jadi booming. Semua traffick terkait Indonesia dan “Om Telolet Om” pasti tinggi. Bagi yang pintar melihat peluang, trend “Om Telolet Om” akan segera dimanfaatkan untuk mendongkrak bisnis bahkan membuat berbagai bentuk kreatifitas untuk menjaring follower atau subscriber.

Semua pastinya sudah merasa sangat jengah dengan pemberitaan dan arus informasi sosmed yang sangat memuakkan beberapa minggu terakhir ini. Jengah dengan rasisme yang digaung-gaungkan sebagian pihak untuk kepentingan politik. Banyak mengatakan orang lain kafir, padahal sendirinyalah yang khafir karena mendzolimi orang lain. Mereka nggak sadar, kalo mereka udah menggerus persatuan bangsa Indonesia. Selama kita masih berkutat dengan permasalahan agama dan ras, Indonesia akan sulit maju dan bahkan semakin terbelakang.

Sebagai umat mayoritas pun aku merasa sangat terganggu. Orang Indonesia itu masih suka menggenalisir. Apa yang dilakukan si A pasti juga akan dilakukan si B karena kepercayaannya sama. Padahal orang yang berkeyakinan sama belum tentu loh punya pemikiran dan tindakan yang sama. Mungkin karena pelajaran PPKN dihilangkan dan digantikan jadi pelajaran Kewarganegaraan. Mereka tidak belajar untuk bertoleransi dan memiliki tinggang rasa yang tinggi, namun sudah belajar berpolitik tanggung.  Ah sudahlah…

Trend “Om Telolet Om” merupakan suatu fenomena menyegarkan untuk membersihkan timeline dan pemberitaan-pemberitaan. Masyarakat Indonesia juga sudah menunjukkan bahwa bahagia itu sederhana. Ya.. sangat sederhana 🙂

 

Potret Sisi Lain Kehidupan PSK

potret-pelacur-1

“Dibalik tubuh yang sehat, terdapat hati yang retak”

 

potret-pelacur-2

“Teman sejati, tak akan pergi…”

 

potret-pelacur-3

“Semoga lelahku terbayar…”

 

potret-pelacur-4

“Pahitnya jamu tak sepahit hidupku..”

 

potret-pelacur-5

“Merajut mimpi…”

 

potret-pelacur-6

“Aku masih punya hati untuk diberi..”

 

potret-pelacur-7

“Menanti kehidupan yang tak pasti…”

Diskriminasi Perempuan dari Masa Ke Masa

Diskriminasi Perempuan dari Masa Ke Masa

artikel

Mayorita

 

Hidup di sebuah negara yang memiliki system patriaki memang menjadi sebuah perjuangan sendiri untuk wanita. Selalu dibanding-bandingkan dan dinomor duakan dari lelaki hampir dalam segala hal. Kita pun sebenarnya menyadari bahwa system patriaki tersebut tak langsung muncul begitu saja, pastinya ada sejarah dibelakangnya yang memberikan pengaruh sangat kuat. Mari sejenak kita kembali pada beratus tahun silam, ketika Indonesia masih terpecah dalam beberapa kerajaan-kerjaan, kita ambil saja contoh yang terdekat yaitu Kerajaan Jawa.

Dalam kerajaan Jawa terdapat istilah selir, yaitu perempuan yang diikat oleh Raja namun tidak berstatus sebagai istri syah. Raja berhak memilih wanita manapun untuk menjadi selirnya dan tak jarang selir merupakan hadiah untuk sang Raja. Para selir hidup di sekeliling raja meski tugasnya hanya membuat raja jadi senang. Pada saat itu, memiliki anak seorang selir adalah sebuah prestasi, sehingga tak jarang banyak abdi dalem sengaja mengirim anak gadisnya ke istana dengan maksud akan menarik perhatian raja.

Berbicara tentang dunia perseliran, ada hal yang sangat berbeda antara selir seorang Raja dengan selir seorang Kumpeni atau Bangsa Eropa yang hidup di tanah Jawa kala itu. Selir seorang Kumpeni akan  dijuluki Nyai atau gundik. Gundik bertugas untuk melayani kebutuhan secara lahir maupun batin, jadi tak hanya urusan dapur dan rumah saja, namun juga urusan ranjang menjadi tugasnya. Sama halnya dengan selir, kebanyakan Nyai berasal dari golongan rakyat miskin. Seringkali kemiskinan menjadi sebuah alasan yang kuat orang tua untuk menjual anak gadisnya pada seorang Kumpeni.  Beda istilah, namun kontennya sama yaitu menjual gadis pada golongantertentu untuk mendapatkan manfaat tertentu pula.

Namun sayangnya, menjadi seorang Nyai bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan di masyarakat. Wanita yang sudah berstatus Nyai perlahan akan mengalami aleanisasi dari masyarakat, dengan banyaknya pergunjingan dan hinaan. Padahal, hidup sebagai Nyai bukan merupakan pilihan, namun keterpaksaan keadaan. Seorang Kumpeni juga bias memiliki lebih dari satu gundik, gundik yang dirasa sudah tak lagi memberikan kepuasan lahir batin dengan mudahnya akan digantikan dengan gundik baru yang lebih muda dan tentunya lebih cantik. Selain bisa didepak kapan saja, sebagian besar Nyai juga mengalami perlakuan yang semena-mena dari tuannya, seperti mengalami kekerasan dan perampasan harta serta hak asuh anak-anak yang mereka lahirkan. Ketika sudah tak lagi dipakai oleh Tuannya, mereka akan dikembalikan ke desa asal. Kembali ke desa asal pun bukan sebuah jawaban dari permasalahan, malah menjadi sumber konflik baru karena seorang bekas gundik tak akan pernah di terima dengan baik dalam masyarakat karena sudah dianggap sebagai pelacur.

Sebenarnya, secara tak sadar bahwa pelacuran muncul dari sistem pergundikan yang penjajah bentuk dan masyarakat yakini. Pada zamannya tak ada seorang wanita yang memiliki keinginan untuk hidup menjadi seorang gundik. Kemiskinan dan kemelaratan membuat mereka terpaksa menjalani kehidupan yang tak mereka inginkan. Sistem patriaki yang memandang seorang laki-laki memiliki kekuasaan lebih tinggi membuat wanita tak berkutik untuk menolak, terlebih budaya Jawa sangat menabukan seorang wanita membantah atau membalas omongan orang yang lebih tua terlebih laki-laki yang lebih tua. Keadaan tersebut diperparah dengan pandangan masyarakat yang memberikan stigma negative pada gundik maupun mantan gundik. Bayangkan saja, kala itu wanita sangat tabu untuk mengenyam bangku sekolah, urusan wanita hanya pada urusan dapur dan kasur bukan buku dan pena. Sehingga, tak dipungkiri seorang mantan gundik yang dibuang oleh tuannya dan ditolak oleh lingkungan terdekatnya memiliki peluang besar menjadi pelacur sungguhan. Seperti kisah Nyai Saritem, gundik asal kota kembang Bandung yang membuka sebuah tempat yang dijadikan untuk tempat kencan para tentara Belanda dan wanita pribumi dan saat ini terkenal menjadi lokalisasi Saritem di Bandung hingga saat ini.

Kehidupan pelacuran sebenarnya tak kan pernah terlepas dengan adanya diskriminasi. Diskriminasi semakin kuat, maka pelacuran pun akan semakin meningkat. Mari kita berlogika secara sederhana. Di Indonesia sendiri, untuk menurunkan angka prostitusi, pemerintah akan serta merta menutup lokalisasi dan melakukan sweeping pada pelacur yang masih memaksa untuk bekerja sembunyi-sembunyi. Selama ini yang menjadi target sasaran hanyalah pelacur, bukan pengguna pelacur. Pelacur tidak akan meningkat bila permintaan akan pelacur tidak tinggi. Siapa pengguna pelacur? Ya pastinya adalah pria. Pria pengguna pelacur tak pernah mendapatkan sanksi seberat wanita pelacur.

Pemberian sanksi yang ringan tersebut tak bisa lepas dari pandangan masyarakat terhadap pria. Bagi sebagian besar kalangan menganggap pria “nakal” adalah suatu kewajaran. Bukan pria namanya kalo tidak nakal, bukan pria namanya kalo tidak main perempuan, dan bukan pria namanya bila tak pernah mabuk-mabukan. Penerimaan dan kemakluman masyarakat pada laki-laki tersebut seakan menjadi pupuk bagi penyebaran pelacuran. Sedangkan wanita, akan sangat mudah mendapatkan label buruk, missal saja wanita merokok sudah dianggap sebagai pelacur padahal kenyatannya tidak.

Tak dapat dipungkiri, diskriminasi pada pelacur sebenarnya sama juga dirasakan oleh ibu rumah tangga. Sebagian besar, pria akan cenderung menyalahkan istri bila tak kunjung memiliki buah cinta dari pernikahan. Suami akan menganggap istri mandul sehingga tak kunjung hamil, padahal kehamilan terjadi bila atas dasar dua pihak bukan satu pihak. Selalu ada kemungkinan bila seorang laki-lakinya yang mandul sedangkan wanitanya yang subur, namun karena merasa berkuasa dan kuat pikiran jernih kadang tak lagi digunakan dan seringkali berujung pada perselingkuhan atau poligami.

Selain itu, dalam hal keputusan dalam mengambil tindakan kontrasepsi masih saja terjadi diskriminasi berbasis gender. Seorang pria akan cenderung menolak untuk dilakukan vasektomi dan lebih menyuruh wanita yang melakukan tubektomi atau menggunakan kontrasepsi lain karena suatu keharusan. Semua dianggap sebagai sebuah kewajaran, karena hal yang tabu bila seorang pria diberi tindakan vasektomi karena akan menurunkan gairah seks. Padahal tak ada salahnya bila pria memilih menggunakan kontrasepsi dan tak berdampak pada penurunan gairah seksual.

Diskriminasi di Indonesia memang makin hari makin menjadi. Kini makin banyak wanita yang semakin tersudutkan akibat adanya diskriminasi berbasis gender. Berkat pejuang-pejuang wanita seperti R.A Kartini, Cut Nyak Dien, dan pejuang perempuan lainnya memberikan sebuah pergerakan baru untuk para wanita Indonesia berjuang melawat ketidak adilan. Perjuang wanita terhadap hak-haknya mulai terlihat kini. Semakin banyak wanita yang memiliki gelar lebih tinggi dibandingkan laki-laki, semakin terbukanya wanita menempati kedudukan yang setaraf dengan laki-laki dan hampir semua wanita bisa melakukan apa yang bisa dilakukan pria, kecuali menghamili.  Semua dilakukan untuk satu tujuan yaitu equality, karena wanita berhak untuk mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki baik secara lahir, batin dan sosial.

 

Belajar dari Pelacur

Pernah denger kata passion? Aku sih yakin pasti sebagian besar sudah pernah dengar tentang passion. Bagi yang belum tau, passion itu ibaratnya soul. Suatu yang terus membuatmu bergairah dan ingin terus mencari, menggali dan akhirnya menemukan sebuah bentuk.

Sebuah perjalanan panjang hingga akhirnya memutuskan untuk terjun di dunia pelacuran. Mungkin dipostingan-postingan sebelumnya aku sudah pernah cerita bagaimana aku menemukan jalan hingga akhirnya aku jatuh cinta pada dunia pelacuran. Rasanya memang aneh, i’v never espect that i would made it. Dulu aku tak pernah terpikir sama sekali untuk mendalami dunia itu. Semua aku lakukan dengan mengalir saja.

Banyak yang menganggap dunia pelacuran adalah dunia yang penuh dengan maksiat. Ya anggapan itu memang benar adanya, karena dalam dunia pelacuran itu semua “transaksi” bisa terjadi. Tak hanya transaksi seks, tapi juga ada transaksi narkoba, transaksi penjualan manusia, dan banyak lagi. Tapi kalo kita menyelam lebih dalam lagi, sebenarnya juga ada hal-hal yang bisa kita ambil pelajaran dari dunia pelacuran tersebut. Bukan soal pelajaran tentang bagaimana cara bertransaksi yang aku sebutin tadi, namun pelajaran tentang hidup.

Awalnya aku memiliki cara pandang mainstream ketika berhadapan dengan pelacur, yang menganggap mereka hanya sekumpulan wanita malas yang enggan bekerja keras. Berperilaku buruk, tidak bermoral dan tidak punya masa depan. Ya begitulah, pandangan mainstream yang pernah bersarang di kepalaku. Padahal sebagai calon psikolog sebisa mungkin aku mengurangi judgement. Awalnya sulit, namun seiring waktu mulai terkikis ketika aku berinteraksi lebih banyak dengan pelacur.

Tidak semua pelacur memiliki pola pikir instan sebagai seperti pandangan mainstream. Banyak juga pelacur yang terjebak dan dijebak. Terjebak keadaan yang membuat mereka tak punya pilihan lain. Banyak faktor yang membuat mereka terjebak dalam posisi korban dan sulit untuk keluar, salah satunya faktor pendidikan dan ketidak setaraan gender.

Bulan lalu aku baru saja mengikuti sebuah workshop pendidikan gender untuk mahasiswa. Sebelum mengikuti workshop, panitia memberikan tugas untuk membuat paper tentang ketidak setaraan gender. Aku mulai mencari apa kaitannya ketidak setaraan gender dwngan dunia pelacuran. Mulai dari diskusi dengan beberapa orang dan membaca banyak literatur. Ternyata aku mendapatkan benang merahnya. Ketidak setaraan gender membuat pelacur semakin sulit untuk keluar. Dalam paper itu aku menuliskan contoh sederhana, seperti laki-laki sangat wajar bila mendapatkan label sebagai laki-laki nakal, bahkan akan terlihat tidak wajar bila seorang laki-laki itu tidak nakal, tidak main perempuan, tidak mabuk2an dan tidak berkelahi. Aneh, tapi ya itulah pandangan yang sudah turun temurun terjadi. Sehingga laki-laki nakal penikmat pelacur tak pernah mendapatkan sanksi sosial seperti yang dirasakan pelacur. Padahal menjamur dan berkembangnya bisnis pelacur itu berkat tingginya permintaan, jika permintaan rendah ya bisnis itu tidak akan berkembang.

“Perlunya melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut membuatku menjadi perlahan-lahan mengerti bahwa selalu ada sebab akibat dari setiap peristiwa. Pandanganku mulai berubah dan perlahan mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari fenomena yang sudah cukup tua ini. Belajar bisa dari mana saja, bahkan dari seorang pelacur sekalipun” Read more