Posts

Ada Yori, Ada Cerita Seks

Semarang, 1 Mei 2016

Hari Minggu gini biasanya pada posting status “waktunya bobo – bobo cantik atau males-malesan kucing”. Aku juga pengennya gitu sih, apalagi hampir seminggu ini energi terkuras habis di RSJ. Tapi, Tuhan berkata lain.

Hari ini aku ketemu seorang ibu-ibu yang baru saja aku kenal memalalui FB. Sebut aja Ibu Maymunah, tapi biar keren jadi disebut Ibu Maya hehe. Ibu Maya berasal dari daerah Jawa Timur. Beliau datang ke Semarang karena tertarik dengan kegiatan komunitas kejiwaan yang aku laksanakan awal bulan ini.

Dibalik perawakannya yang kecil, Bu Maya memiliki energi yang luar biasa. Coba aja bayangin, demi untuk menghadiri acara beliau rela berangkat satu hari sebelumnya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di jalan, jadi aku sangat salut dengan kegigihan Bu Maya ini.

Dibalik kisah perjuangan yang ia ceritakan tentang hidupnya bersama dengan ODMK (orang dengan masalah kejiwaan), terselip sebuah cerita yang membuatku terheran-heran. Selain isi ceritanya, aku juga heran kenapa beberapa orang yang bertemu denganku mesti ending pembicaraan bertopik soal seks. haha

Jadi begini ceritanya, Cerita ini tercetus ketika kami sedang makan siang berdua di warteg. Bu Maya sebenarnya asli orang Jawa Tengah, karena menikah dengan orang Jawa Timur akhirnya beliau pindah ke daerah Jatim mengikuti suami. Bu Maya tinggal di sebuah Kabupaten, sebut aja Kab. Bhe.

Bu Maya bercerita kalo dia tinggal di lingkungan yang unik. Awalnya aku sih gak gubris apa maksudnya lingkungan yang unik. Tapi gak beberapa lama Bu Maya melanjutkan bahwa lingkungan rumahnya itu memiliki budaya tukar pasangan antara saudara kandung, saudara jauh, tetangga, bahkan dengan orang lingkungan lain yang masih satu kabupaten. Sontak aku kaget. “Hah?? Ciuss Bu May???!”

Dengan wajah sersan (serius tapi santai) Bu May menjelaskan bahwa tradisi itu turun temurun dari zaman PKI (Partai Komunis Indonesia) masih berkuasa dan Bu May juga menambahkan kalo wilayah yang dia tempatin itu dulunya adalah pusatnya PKI, widiiwhh…

Paham komunis yang memiliki nilai “Sama Rata, Sama Rasa” itu membuat tradisi tukar pasangan dilegalkan, pada zaman itu dan saat ini. “Jadi hal yang sangat wajar bila seorang laki-laki beristri melakukan hubungan seks dengan tetangga tanpa adanya ikatan pernikahan. Bahkan kalo si istri menolak, akan dianggap wanita yang tidak benar karena gak manut sama suami”, cerita Bu May. Aku jadi makin penasaran, yang di otakku Cuma ada kalimat “Lho kok isoooooooo??? (Lho kok bisaaaa????)”.

Bu May bercerita karena ia pernah mengalaminya. Jadi suami Bu May pernah melakukan hal tersebut, karena tidak mengerti tentang tradisi tersebut Bu May marah karena suami sudah selingkuh. Bukan permintaan maaf yang didapat, malah bogem mentah yang mendarat di tubuhnya. Bu May akhirnya melaporkan peristiwa tersebut ke pihak berwajib. Bukan perlindungan yang didapat, tapi seakan seperti hinaan. Oh Shit! Ternyata aparat desa maupun yang berwajib juga sama melakukan hal tersebut. Bu May cerita kalo laporannya tetap diterima dengan baik, tapi pihak berwajib menyarankan untuk damai saja dengan suami daripada di proses lebih lanjut. Menurutnya, hal tersebut bukan kategori perselingkuhan.

Bu May juga menjelaskan bahwa tradisi ini adalah tradisi yang sangat tertutup dan dikelabuhi oleh topeng agamis yang sangat tebal. Jadi setiap ada peneliti yang ingin meneliti fenomena tersebut akan langsung diblokir aksesnya bahkan sampai diancam. Jadi.. Ya you know Indonesia so well lah, kalo segala sesuatu yang pakai topeng agama itu pasti sudah dianggap sangat baik, jadinya fenomena ini akan dianggap bualan semata.

Aku jadi mulai ngeh kenapa pemerintah dulu mati-matian membrantas PKI. Ternyata selain sistem pemerintahannya diktator dan satu arah, nilai Sama Rata Sama Rasa ini menjadi disalahgunakan seperti yang diceritakan Bu May. Bukan pemerataan ekonomi yang dilakukan, eh malah pemerataan penyaluran nafsu seks yang dilakukan. Weh weh weh…

Jadi, masih bangga bikin kontroversi pake aksesoris bergambar Palu Arit?

Mikir!

Dari Pantura Hingga ke Jogja

Tahun ini merupakan tahun pembuktian bagi diriku, pembuktian untuk menjalani sebuah fase kehidupan yang anti-mainstream. Salahsatu keputusan besar itu adalah menjalani praktek kerja dibarengin dengan Tesis, hahaha..

Keputusan yang aku ambil itu pastinya punya konsekuensi 2x lipat lebih besar daripada hanya menjalani salah satunya saja. Salah satu  konsekuensinya adalah perlu berpikir lebih untuk mengatur waktu, energi serta pikiran.

Selama praktek kerja di RSJ, untuk mendapatkan informasi yang valid tentang kondisi klien, aku diwajibkan untuk home visit. Selain wawancara pihak keluarga, aku juga perlu mengobservasi tetang lingkungan tempat tinggal klien. Dan beruntungnya, satu dari tiga klien yang aku dampingi bertempat tinggal di sebuah Kota di daerah Pantura.

Sedangkan dalam mengerjakan Tesis, aku juga perlu memiliki data awal tentang permasalahan yang ingin  aku angkat. Tugas akhirku kali ini mengangkat tema tentang narkoba (alasan ngambil tesis narkoba akan aku jelasin di posting berikutnya yaa) di sebuah panti rehab di Jogja.

Nah… Kebetulan 16 – 22 Mei adalah minggu terakhir aku praktek di RSJ. Diakhir minggu tersebut aku memiliki waktu kosong yang bisa aku gunakan untuk Home visit serta pengambilan data awal di panti rehab.

Di tanggal 19 Mei, perjalanan panjang dimulai dari Pantura.  Overall, cukup lancar sih perjalannya walaupun di beberapa titik mengalami kemacetan panjang karena ada tronton guling di tengah jalan.  Ya kira-kira perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Sesampainya di kota pinggir laut itu, kami (formasi lengkap) langsung ngisi perut dengan makanan khas, yaitu Tauto. Tauto adalah sejenis soto daging sapi  yang diberi tambahan tauco (fermentasi kedelai). Karena makan tautonya di pasar batik, jadi sekalian beli batik hehehe…

Nah.. setelah puas ngisi perut dan cari-cari batik, akhirnya kami lanjut jalan ke rumah klien. Syukurlah, kemajuan teknologi yang makin mumpuni jadi kami gak kesulitan saat nyari alamat rumahnya. Rumah klienku ini gak terlalu jauh dari pusat kota, tapi memang berada di daerah pelabuhan. Bau amis ikan semerbak saat aku buka jendela mobil untuk cari-cari alamat. Dan selama perjalanan terlihat genangan-genangan air di jalan yang aku yakini itu adalah air rob (aduh modyaar!).

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin (2)

in the midle of ikan asin (2)

Setelah tanya sana-sini, akhirnya aku ketemu rumah klienku. Rumahnya rada masuk gang sih, tapi gak terlalu pelosok. Aku pun memulai tugasku untuk mewawancarai dengan tetek bengeknya. Ya makan waktu satu jam lebih lah. Setelah tugas wawancara selesai, aku mulai mengobservasi lingkungan rumah. Persis di depan rumah klien, ada sebuah bangunan besar mirip gudang yang didalamnya terdapat beberapa orang yang sedang sibuk mengolah ikan. Ternyata gudang itu dijadikan sebagai tempat pengolahan ikan asin. Bertong-tong plastik biru besar itu berisi ikan-ikan yang akan diolah menjadi gereh, gesek, or ikan asin. Disamping gudang itu, terdapat berjejer bambu-banmbu yang disusun sedemikian rupa untuk dijadikan tempat menjemur ikan asin yang sudah digarami. Oh ya.. karena aku kepo, aku pandangin ikan asin yang dijemur satu persatu.

Aku bertanya sama diri sendiri, ”Kok gak ada lalatnya, ya??”

Hahaha…