Posts

Lo Nggak Capek Liat Langit Terus?

Seringkali secara otomatis kita akan terus membandingkan diri kita dengan orang lain. Entah itu membandingkan dari sisi buruk atau sebaliknya membandingkan dari sisi baiknya. Sayangnya, semakin sering kita membandingkan dengan orang lain semakin terpuruklah kita. Awalnya aku nggak percaya dengan statement itu, hingga aku merasakannya sendiri dan melihat contoh langsung yang aku temui di RS Jiwa.

Aku akan menceritakan salah satu klien yang aku dampingi  saat aku praktek magang di RSJ, semua identitas akan aku samarkan yaa demi keamanan 🙂

Sebut saja namanya Lulu, wanita berusia 34 tahun yang belum menikah dan sudah tiga kali rawat inap di RSJ. Pertemuanku dengannya sebenernya setelah aku menjalani hampir setengah periode magang. Saat aku pertama kali bertemu perawakannya lusuh, kusut, dan berantakan seperti orang yang tidur terlalu lama. Walau hari itu kami baru pertama kali bertemu, tapi Lulu sudah banyak bertanya tentang apa yang aku lakukan. Beberapa kali tanpa aku tanya ia selalu bercerita bahwa ia adalah seorang yang cerdas, punya tingkat pendidikan setaraf S2 dan baru saja menyelesaikan S3. Kala itu aku hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakannya. Segera aku mulai melihat rekam medisnya untuk aku pertimbangkan sebagai calon klien yang akan aku dampingi. Wolaa… ternyata dia memenuhi kriteria dan segera aku catat dalam buku note ku.

Keesokan harinya aku mulai mewawancarainya. Perkataanya memang ngalor ngidul, tapi inti omongannya adalah ia orang yang hebat, pintar, berpengalaman namun memiliki sifat manja dan selalu ingin dilayani. Lulu juga mengungkapkan bahwa ia ingin sekali punya mobil mewah dan rumah berlantai tiga dengan cara mejual rumah satu-satunya yang dimiliki ibunya.

Sehari dua hari berselang, aku memutuskan untuk janjian bertemu dengan kakak laki-lakinya.  Tujuannya satu, yaitu untuk mengkonfirmasi apa yang sudah Lulu ceritakan padaku. Ternyata tak semua yang Lulu ceritakan padaku itu salah dan beruntungnya Kakaknya menceritakan semua kronologis riwayat Lulu padaku.

Jadi sebenernya, Lulu adalah anak yang sangat di manja oleh orang tuanya. Semua yang Lulu inginkan selalu diusahakan mati-matian oleh orangtuanya. Dari lima bersaudara, hanya Lulu seorang lah yang tamatan S1 sedangkan saudara lainnya hanya tamatan SMA. Kebiasaan selalu dilayani oleh orang tua membuat Lulu menjadi sulit untuk mandiri, namun kontrasnya Lulu selalu menuntut agar semua keluarganya menuruti perkataanya, yap karena dia merasa dialah yang paling pintar karena berpendidikan lebih tinggi.

Dalam prosesnya Lulu berubah menjadi pribadi yang senang menuntut dan sulit menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginanya. Yang ada dalam benaknya adalah ia harus melebihi orang lain, entah bagaimanapun caranya. Sebenernya suatu keadaan yang sangat kontras, disatu sisi ia sangat ingin lebih dari orang lain namun disisi yang lain ia sangat tergantung pada orang lain.

Dalam situasi yang sudah jauh lebih baik dari perama kali aku bertemu dengannya, aku iseng-iseng bertanya padanya mengapa ia sangat ingin memiliki mobil padahal dia tak bisa menyetir dan keadaan orangtuanya sangat pas-pasan. Tanpa ragu Lulu menjawab,

Ya aku harus punya mobil, temen-temenku di kampus pada punya mobil masa aku nggak punya mobil.

Bisa di tebak, hingga saat ini Lulu belum memiliki mobil, namun ia sudah memiliki satu motor matic yang selalu bertengger di kamarnya dan tak pernah digunakan. Alasannya satu, ia ingin motornya selalu terlihat mulus agar beberapa tahun lagi nilai jualnya bisa lebih tinggi dari harga beli.

Sebenernya, hampir semua tuntutannya adalah hasil dari dirinya membandingkan dirinya dengan orang lain. Tuntutan yang terlampau tinggi serta tidak realistis dengan kemampuannya membuat pikirannya terpecah dan kacau. Hingga saat ini Lulu tak pernah tau apa yang sebenernya ia butuhkan, yang ia tahu hanya menuntut keadaan.

Dari sekelumit cerita Lulu diatas aku bisa mengambil banyak pelajaran bahwa selalu  membandingkan diri dengan orang lain tak akan bisa memperbaiki keadaan. Yang ada hanya menumpuk ambisi sedikit demi sedikit dalam diri yang malah dampaknya merusak keadaan. Ada yang bilang, ketika kita tidak membandingkan diri dengan orang lain kita hanya akan menjadi manusia dibawah rata-rata dan tak akan bisa berkembang. Padahal, manusia diatas rata-rata adalah manusia yang selalu mensyukuri apa yang dia dapatkan, membandingkan dirinya bukan dengan orang lain namun dengan dirinya sendiri, serta selalu mengukur kemampuan apa yang dimiliki.

Jadi, mau sampe kapan kamu akan terus membandingkan dirimu dengan orang lain?

Inget, diatas langit ada langit …

Cheers!

 

SEHAT itu (nggak) MAHAL

 

Yey!! Ini adalah minggu terakhir aku praktek di Rumah Sakit. Seneng rasanya masa praktek akhirnya sudah usai. Banyak pengalaman yang telah aku dapatkan selama praktek khususnya di RS. Ada suka dan pastinya ada duka. Let me share yaa..

SUKA

  1. Sukanya dalam masa praktek ini adalah aku menjadi tau keadaan lapangan yang sebenernya, khususnya kondisi Rumah Sakit dan layanan jasa Psikolog itu sendiri. Sebelum aku praktek S2, aku juga pernah punya pengalaman ambil data untuk skripsi di rumah sakit. Sebagian besar rumah sakit di Semarang memang belum menyediakan layanan psikolog secara khusus bagi pasien, kalo pun ada itu pasti rumah sakit besar atau yang high end. Jadi biasanya untuk layanan psikolog, pihak rumah sakit akan memanggil secara khusus dan hanya pada kasus tertentu. Jadi memang di Semarang sendiri, menurut aku jasa psikolog di rumah sakit masih belum dianggap sebagai layanan primer, jadi hanya layanan sekunder saja gak seperti di Jogja yang di tingkat Puskesmas aja udah ada layanan psikolognya.
  2. Aku juga menjadi tau secara real bahwa kondisi kesehatan orang itu sangat dipengaruhi oleh psikologisnya, kedua hal itu sangat amat mempengaruhi satu sama lain. Proses kesembuhan klien memang sangat dipengaruhi dari kestabilan kondisi psikologis.
  3. Mendampingi orang sakit itu memang perlu siap dalam keadaan apapun. Jadi suatu ketika aku pernah menjenguk seorang nenek-nenek yang sudah tua renta dan mengeluh kesakitan. Di tengah keluhannya tersebut ternyata si nenek pengen banget turun dari bed dan pipis di kamar mandi. Untung aja waktu itu aku sama Suster Stella, jadi dengan sigap Suster langsung membantu si nenek turun dari kasur dan menitahnya ke kamar mandi. Sedangkan aku, membantu membawakan infusnya biar gak lepas hehe..

DUKA

  1. Buat aku pribadi, membidik kasus secara spesifik di rumah sakit itu butuh usaha yang ekstra. Selain gak semua pasien memiliki permasalahan psikologis yang berat, ternyata waktu perawatan yang relatif singkat kadang bikin gigit jari sendiri, hehe. Jadi beberapa calon klienku sudah pulang pada hari kedua, padahal di hari pertama aku baru pendekatan dan memetakan permasalahan psikologisnya serta rancangan terapinya apa. Begitu besok mau di eksekusi eh ternyata bed sudah kosong atau diganti oleh orang lain. Aiiih matiiiik. Mulailah semua dari awal dan gerilya lagi.
  2. Bagi yang gak kuat liat darah, praktek di rumah sakit itu menjadi tantang tersendiri. Aku pribadi berani liat darah, tapi gak berani liat luka basah. Jadi ada pengalaman ketika aku sendang mendampingi pasien yang akan diamputasi karena penyakit diabetes. Sebelum di operasi, dokter dan perawat membuka perban dan membersihkan luka si pasien. Aduhh aku gak kuat liatnya.. bukan jijik tapi ngeriiiiii…. Dari pengalaman itu aku juga belajar untuk menjadi netral, jadi walau ngeri tetep aku tahan dan bersikap biasa aja tanpa bereaksi menutup mata ataupun bergidik ngeri.
  3. Praktek di rumah sakit itu sangat menguras energi psikis. Bagi aku pribadi, praktek yang terakhir ini menguras energi lebih banyak daripada praktek – praktek sebelumnya. Melihat kondisi pasien yang lemah, lesu, dan merintih kesakitan itu secara tidak langsung menyedot energi lebih banyak. Terkadang ketika pendampingan, aku menjadi larut pada apa yang dirasakan pasien. Sebenernya, bagi psikolog yang jam terbangnya udah tinggi kondisi demikian bisa sangat dihindari, seperti perumpamaan “boleh larut, tapi jangan hanyut”.

Dibalik suka duka yang aku alami selama praktek di Rumah Sakit, ada satu pelajaran yang sangat penting yang aku ambil. Bahwa kesehatan itu memang sangat amat berharga. Salah satu cara agar membuat kesehatan tidak terlalu mahal ya dengan cara menjaganya. Walau usia baru 24 tahun, dengan pengalaman mendampingi pasien diabetes, pasien tipes, dll aku menjadi mulai menjaga pola makan, i think i don’t need seblak anymore haha. Selain itu mengkonsumsi obat secara sembarang juga bikin petaka di kemudian hari. Aku saranin buat temen-temen jangan terlalu sering mengkonsumsi obat warung, seperti panad*l, param*k, konid*n, dll. Obat-obat kaya gitu memang murah dan memberikan efek yang cepet, tapi efek jangka panjangnya bikin sengsara.

“If I Die Tomorrow…”

Hampir tiga minggu aku dan suster praktek di sebuah rumah sakit. Hiruk pikuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa untuk kami, rengekan anak-anak, hilir mudik para koas yang membuntuti seorang dokter, perawat yang selalu sibuk memeriksa pasien dan tak jarang kami juga sering mendengar derit suara gelindingan beberapa pasang roda membawa oksigen maupun membawa alat medis lain.

Hari Selasa itu semua terasa biasa saja. Mengawali hari aku dan suster berpencar untuk menjenguk pasien dampingan masing-masing. Pasienku yang kemarin merintih pusing karena vertigo kini sudah mulai membaik dan sudah banyak bercerita denganku, sedangkan pasien suster seorang ibu lanjut usia yang terserang stroke kini wajahnya sudah bisa tersenyum dan tak semuram kemarin. Hari itu aku merasa semua berjalan biasa saja, sehingga aku memutuskan untuk duduk bersandar di ruang transit perawat sambil membenahi beberapa laporan.

Baru saja 10 menit aku membuka laptop, terdengar salah satu perawat magang berlari sambil berteriak “Oksigen, Mbak!”

Sontak semua perawat langsung berdiri dan bergegas menuju sumber suara. Saat itu aku masih belum terlalu ngeh apa yang sedang terjadi. Aku masih fokus dengan laptopku dan sesekali membuka handphone. Keadaan diluar semakin gaduh dan aku pun merasa ada yang tidak beres.

Aku langsung keluar ruang transit perawat bersama suster untuk mencari tahu kamar nomor berapa yang sedang dalam keadaan “darurat”. Aku melihat beberapa penjenguk pun ikut berdiri melihat ke arah yang sama dan itu adalah kamar nomor 16.

Aku kaget, karena itu adalah kamar seorang wanita muda yang kemarin baru saja aku jenguk. Kemarin ia tampak sangat lesu dan beberapa kali merengek kesakitan. Ia di temani dua orang temannya yang dengan sabar memijat kedua kakinya. Aku pribadi tak tahu apa jelas sakitnya, aku hanya memegang kakinya yang terasa dingin dan basah karena keringat. Aku tak berani mengajaknya ngobrol lebih lama karena melihat kondisinya yang lemah.

Semua pertolongan darurat sudah dilakukan oleh perawat. Namun sayang, nyawanya tidak bisa tertolong. Saking tak percayanya aku mengkroscek dengan beberapa perawat magang yang ikut menangani pasien tersebut sebelum meninggal. Sungguh semua berjalan mendadak dan tak terduga. Wanita muda 18 tahun itu kini sudah terbujur lemas tanpa nafas.

Kejadian yang serba mendadak tersebut membuatku kembali merefleksi diri. Usiaku kini sudah 24 tahun, namun masih banyak hal yang belum aku perbaiki dalam diriku, pencapaian dan pengabdianku pun masih sangat minim. Padahal, berpikir kematian tak selalu buruk, seperti yang mendiang Steve Jobs lakukan untuk bisa terus berkarya dengan pemikiran “If I Die Tomorrow”.

Waktu itu misteri, apalagi nyawa yang bisa diambil kapan saja oleh Tuhan.

Selamat jalan, hey wanita muda. Semoga jalanmu diberi kemudahan di Bulan Penuh Berkah ini.

Waktu adalah Persepsi

Banyak orang bilang kalo waktu itu berjalan sangat cepat. Gak kerasa tiba-tiba udah malem aja. Biasanya, kecepatan waktu akan bertambah dua kali lipat ketika musim liburan dateng, apalagi long weekend kek ginian.

Ngomong-ngomong soal waktu, ternyata ada kalanya waktu terasa sangat lambat. Lambatnya waktu terasa bahkan sampai perdetiknya. Waktu akan terasa sangat lambat ketika kita sedang dalam peristiwa yang tidak diinginkan, misal nih ketika sidang skripsi, nungguin jemputan pacar, atau bisa juga nungguin bis kosong yang lewat ketika jam padat. Namun ada satu peristiwa lagi yang membuat waktu terasa sangat amat lambat. Yaitu ketika berada di panti Jompo.

Seumur-umur, aku baru dua kali berkunjung ke panti Jompo. Yang pertama di akhir tahun 2013, saat itu adalah kunjungan ke sebuah Panti Jompo yang berada di Jogja. Kemudian yang kedua kali adalah saat aku kerja praktek di Panti Jompo daerah Semarang. Sebenernya semua panti jompo sama yaitu sebuah panti yang ditinggali para lansia. Namun, setiap panti selalu memiliki karakteristik yang berbeda. Mulai dari sisi pelayanan, daya tampung, fasilitas, lokasi, dll.

Panti jompo yang pertama kali aku kunjungi adalah panti jompo yang di kelola oleh pemerintah daerah. Lokasinya cukup terpencil dan akses jalannya pun sebagian masih kerikil. Walaupun untuk mengaksesnya butuh perjuangan, namun ketika sudah sampai di lokasi pemandangan dan hawa sejuk sebuah desa masih menyambutku. Sejuuk lah pokokmen. Tapi, dibalik kesejukan alam itu ada hal yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi. Ternyata daya tampung panti Jompo tersebut sudah melebihi batas, sehingga dalam satu pondokan terasa cukup sesak. Banyaknya penghuni panti tidak sebanding dengan petugas. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana kerepotan dan kurang terpenuhinya pelayanan secara maksimal. Untuk kunjungan awal ini terasa singkat, karena memang diberi kesempatan hanya 3 jam saja.

Namun pengalaman kedua ini terasa sangat amat berbeda, yaa ketika praktek di sebuah Panti Jompo yang berada di tengah kota.

Sepintas, bangunan panti ini terkesan masih oldschool.. Kesan kunonya masih sangat terasa, walau sudah dicat dengan warna yang cerah. Berbeda dengan panti sebelumnya, panti ini dikelola oleh pihak swasta. Semua terlihat sangat terurus dengan rapi. Ada tamannya, ada air terjun mininya, fasilitas keamanan 24 jam serta beberapa perawat yang sesekali bersliweran dengan seragam batiknya. Tipikal penghuninya juga berbeda. Di panti yang pertama, sebagian besar penghuninya beretnis Jawa, sedangkan pada panti yang kedua sebagian besar beretnis Tionghoa.

Pada kesempatan kerja praktek ini lah persepsiku terhadap waktu berubah. Di hari-hari awal, semua masih terasa biasa saja, seperti keseharianku di kampus. Melihat derap kaki yang cepat dan gerak tubuh yang enerjik sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun berbeda ketika memasuki hari ketiga hingga hari ketiga puluh. Waktu terasa sangat amat lambat.

Perubahan persepsi terhadap waktu ternyata sangat dipengaruhi dimana aku berada. Setiap harinya aku melihat wajah sendu para lansia, derap langkah yang sangat perlahan daan penuh dengan kehati-hatian, serta aktivitas yang sangat amat minim.

Terkesan memang sangat membosankan. Namun disini aku menemukan keheningan di tengah pikuknya keramaian kota. Bagiku, panti jompo bisa menjadi tempat untuk sedikit memperlambat laju pikiranku dan mempertajam lagi “kesadaranku”. Dengan merasa waktu menjadi lambat, aku mulai bisa belajar bagaimana rasanya menikmati langkah kakiku. Kesadaran dimana aku berada, sedang apa aku, dan siapakah aku, mulai terungkap ketika  menikmati lambatnya waktu di panti jompo itu.

Aku menyadari bahwa waktu adalah persoalan persepsi. Seringkali aku merasa dikejar oleh waktu, padahal kenyataannya waktu tak pernah mengejarku. Rasa dikejar sesuatu timbul dari berisiknya pikiranku. Tak membuat pekerjaanku terselesaikan, malah sebaliknya makin berantakan.

Ada pepatah bilang,

“Terkadang, kita perlu berhenti sejenak bahkan mundur beberapa langkah untuk mempersiapkan lompatan yang lebih tinggi.” – nn

 

Bakso Kepala Bayi

Jogjakarta, 29 Mei 2016

Perjalanan ke Jogja kali ini sudah di persiapkan dengan baik. Udah dari hari Selasa aku menghubungi pihak rehabilitasi untuk meminta izin berkunjung kedua kalinya untuk pengambilan data. Sebenernya kunjungan kali ini ada misi pendekatan dan orientasi wilayah setempat, jadi preparenya lebih mateng. Secara planing, aku and the gank bertolak dari Semarang jam 6 pagi, terus balik lagi ke semarang maksimal jam 3 sore.

Rencana sudah matang, tapi eksekusinya rada molor karna aku kesiangan, hahaha. Jadi mulai berangkat jam 6.30. Perjalanan berangkat berjalan sangat lancar. Ya normalnya perjalanan Semarang-Jogja yangbdi tempuh hampir 3 jam. Kami dari Semarang m3mang merencanakan untuk tidak sarapan, soalnya kami mau makan soto batok yang lokasinya dekat dengan tujuan.

Selesai makan dan istirahat, kami lanjut ke panti rehab. Dengan wajah gembira aku turun dari mobil menuju pos untuk menulis buku tamu.

“ada keperluan apa mbak?” tanya pak satpam.

“mau ketemu pak E, sudah janjian,” jawabku semangat.

“pak E lagi pergi tu mbak, katanya mau ke bandara. Coba dihubungi dulu.”

Tanpa pikir panjang aku langsung menghubunginya. Di dalam pembicaraan yang siangkat itu terbersit bahwa beliau sebentar lagi akan sampai. Aku langsung saja meminta izin untuk menunggu di dalam. Dengan nada yang khas dia langsung meng iyakan.

Aku menunggunya mulai dari jam 11 siang. Waktu terus berjalan mendekati pukul 12. Pikirku, mungkin ia akan datang setelah makan siang. Tapi, perkiraanku meleset sampai pukul jam 14.00 ia tak kunjung datang. Aku mulai menelponnya lagi untuk menanyakan keberadaanya. Saat kutelpon, kali ini yang mengangkat seorang wanita yang ku kenal dengan nama Sis Lel. Ia mengatakan padaku bahwa Pak E sedang di perjalanan.

Okey, dengan masih penuh harap aku tetap menunggunya. Tapi waktu terus berlalu, aku mulai gelisah karena target kami pulang tak akan lebih dari pukul 15.00 wib. Perjalanan Jogja-Semarang di waktu weekend seringkali tak bisa diprediksi. Bisa jadi lebih cepat atau malah sebaliknya lebih lama hingga beberapa jam. Atas dasar asumsi itu, dengan berat hati kami memutuskan untuk pulang.

Yaa,,, kecewa karena plan yang disusun sangat jauh dari target. Tapi ya udah lah ya, prinsipku tetep teguh kalo gak ada hal yang sia-sia. Jadi aku and the gank langsung pulang sekalian cari makan. Awalnya kami mau cari makan yang sejalan dengan arah pulann. Tapi rencana itu berubah seketika aku inget kalo di Jogja ada sebuah warung bakso yang gak biasa. Jadi pernah dapet review kalo ada bakso dengan ukuran raksasa.

Kami langsung cari alamatnya dengan bantuan google map, ternyata lokasinya gak terlalu jauh darintempat semula. Langsung kami tancap gas. Wuuuuuzzzzz!!!!

Sesampainya di warung bakso klenger, langit mulai meneteskan hujan dan gak beberapa lama langsu ujan deressss banget.

Oh ya, di warung bakso klenger kami dapet meja yang sangat dekat dengan gerobak, jadi kami bisa langsung kepo ukuran baksonya. Dan uwoooow!! Gede buanget booo.

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 1 KG bisa untuk 4-6 orang

Bakso Klenger 2 KG

Bakso Klenger 2 KG

Buku Menu - Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Buku Menu – Alamat: Jl. Wahid Hasyim, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Ada beberapa ukuran bakso, ada yang normal sampe ada yang ukuran 5 kg ya sebesar bola basket lah kira-kira, haha. Karena kita ngukur kantong dan ngukur perut akhirnya kami memilih bakso dengan ukuran 1 kg. Kira-kira seukuran kepala bayi, hihi.

setelah bakso datang, seketika rasa kecewa hilang. Kami semua fokus ke baksoo yang gedenya ampun-ampun. Setelah foto dari berbagai sudut, langsung kami lahap. Wkwkw

Pesan moralnya:

  1. sebelum ketemu orang penting banget untuk crosscek lagi. kadang janjian dalam sparetime waktu yang lama bisa bikin lupa.
  2. Apapun yang terjadi, ingatlah kalo gak ada hal yang sia-sia. Kita bisa merubah situsi menjadi yg kita inginkan. Lets say keyika aku batal ketemuan sama orang, toh aku bisa ttp seneng dengan bakso raksasa yang aku lahap.

cheers!! 😀

Gunting Terbang di RSJ

4 Mei 2016

Hari ini adalah hari ke sembilan aku praktek di RSJ. Udah mulai kaga kagok lagi kalo papasan dengan pasien yang berseliweran, saling sapa dengan pasien, dan udah mulai bisa ngikutin pola pasien RSJ. Hari-hari sebelumnya aku berasa sangat aman dan jauh dari perasaan takut, hanya saja sedikit kikuk ketika awal-awal berkomunikasi dengan pasien. Lambat laun aku juga belajar tahapan-tahapan pasien dirawat. Mulai dari pemeriksaan awal hingga fase rehabilitasi. Fase rehab adalah fase terakhir dalam rangkaian penanganan pasien.

Pasien yang masuk fase rehab adalah pasien yang sudah lolos tahap seleksi psikolog. Aku nggak tau pastinya tolak ukurnya apa, yang pasti pasien yang lolos seleksi biasanya keadaannya sudah mulai membaik. Fase rehab bertujuan untuk mempersiapkan pasien kembali ke lingkungan masyarakat.

Dalam pikiranku, pasien yang sudah masuk pada fase rehab termasuk pada tipe pasien yang sudah terkendali. Walau belum 100% pulih, namun secara emosi pasien sudah mulai “agak” stabil. Tapi kebanyakan pasien yang masuk rehab adalah pasien yang menjalani perawatannya sudah hampir 3 minggu. Jadi, aku ngrasa lebih aman ketika masuk ruangan rehab untuk nemenin pasien dampinganku melakukan kegiatan.

Seperti dengan pasien yang lainnya, aku mulai berkenalan satu – persatu. Aku menyapa dengan sesantai mungkin, tanpa terlihat menjaga jarak. Pada waktu itu di ruangan rehab ada kurang lebih 15 pasien wanita. Ada berbagai kegiatan yang mereka kerjakan. Ada yang membolak – balik majalah tanpa membacanya, ada yang hanya duduk diam menonton TV, dan banyak pula yang belajar ketrampilan menyulam.

Oh ya, ketika pertama masuk ruang rehab. Ada seseorang yang langsung menyapaku dengan suara yang keras.

“Ning ndi wae, Mbak? Kadingaren ketok. (Kemana aja mbak? Tumben nongol?).”

Aku kaget. Perasaan ini pertama kalinya aku masuk ruang rehab dan aku gak kenal siapa orang yang menyapaku. Ternyata eh ternyata, setelah aku amati, dia bernama Lis (bukan nama sebenarnya). Lis adalah mantan pasien RSJ yang bekerja di bagian rehab untuk mengajari pasien-pasien. Sejak mendapatkan sapaan dari Lis, aku merasa seperti sudah berkawan lama dengannya. hahahaha

Mulailah aku bergerilya, mendekati pasien satu persatu. Mulai dari ujung sampe ujung lagi. Hingga tiba pada seorang pasien yang hanya duduk diam tanpa melakukan aktivitas. Awalnya aku menanyakan dari mana asalnya. Namun dia tak bergeming. Wanita berponi dan berambut panjang terurai itu hanya menatapku melotot sambil bergumam nggak jelas.

Mungkin karena kurang peka kali ya, aku tetap mengajaknya berbicara. Mulai mengajaknya menyulam, hingga mengajaknya bercanda. Ternyata apa yang aku lakukan diresponnya berkebalikan. Dia merasa bahwa aku sudah menghinanya dan membuatnya semakin marah.

Tiba-tiba dia minta gunting pada temen sebelahnya, “Mbak, sini guntingnya!”

Waktu itu aku masih menyulam. Seketika, dia langsung menggunting benang yang baru aja aku tarik dari kain perca.

“Modyaaar!! (Matiiiiikkkk!!!)”, teriakku dalam hati.

Dua kali dia nglakuin hal horor kayak gitu. Pasien disebelahku, sebut saja namanya Ani mulai mengajakku untuk pindah tempat ke tempat lain yang lebih jauh.

Aku mulai ngobrol sama Ani. Ani bahkan sempet nasehatin aku kalo ketemu pasien gitu langsung pindah jauh-jauh. Baru lima menit ngobrol sama Ani tiba-tiba ada gunting mendarat deket banget sama aku.

Busssseeet dah. Tu orang paranoidnya masih parah banget, cuuuuy!!!

Si Ani cuma bilang , “Udah mbak, cuekin aja. Gak usah diliatin.”

Sumpah deh. Baru kali ini ngerasain horornya praktek di RSJ. Sempet gemeter agak lama, masih kaga percaya dengan kejadian itu. Yakin deh, pelajaran berharga banget kalo dalam lingkungan RSJ kadang segala sesuatu sangat cepet berubah dan tak terduga. Bukannya nakut-nakutin, tapi memang demikian adanya. Intinya, pengalaman ini adalah lebih belajar untuk peka lagi. Jadi sudah seleksi atau belum itu bukan patokan ya hahaha :p

Tips:

Oh ya.. bagi yang belum tau, paranoid adalah semacam perasaan curiga yang sangat berlebihan. Kecenderungan orang yang sangat paranoid biasanya kurang memiliki dan mendapatkan rasa aman. Jadi hawanya curigaaaaa mulu. Bagi kasus skizoprenia ada yang dinamakan skizoprenia paranoid, yaitu gangguan kejiwaan yang dicirikan mendengar bisikan-bisikan, halusinasi yang membahayakan dirinya. Seperti pasien Skizo paranoid akan merasa mendapat bisikan dari orang yang akan membunuhnya, merasa mendengar semua percakapan orang di dunia yang intinya menjelek-jelekan dirinya, dll.

Jadi bagi temen-temen yang baru mau praktek dan menemui pasien skizo paranoid, kuncinya tetep tenang. Cirinya mudah kok, tatapan orang dengan skizo paranoid akan lebih tajam dan seperti menscaning (melihat dari ujung kepala sampe ujung kaki) lawan bicaranya, serta cara bicaranya sangat ketus.

Dari Pantura Hingga ke Jogja

Tahun ini merupakan tahun pembuktian bagi diriku, pembuktian untuk menjalani sebuah fase kehidupan yang anti-mainstream. Salahsatu keputusan besar itu adalah menjalani praktek kerja dibarengin dengan Tesis, hahaha..

Keputusan yang aku ambil itu pastinya punya konsekuensi 2x lipat lebih besar daripada hanya menjalani salah satunya saja. Salah satu  konsekuensinya adalah perlu berpikir lebih untuk mengatur waktu, energi serta pikiran.

Selama praktek kerja di RSJ, untuk mendapatkan informasi yang valid tentang kondisi klien, aku diwajibkan untuk home visit. Selain wawancara pihak keluarga, aku juga perlu mengobservasi tetang lingkungan tempat tinggal klien. Dan beruntungnya, satu dari tiga klien yang aku dampingi bertempat tinggal di sebuah Kota di daerah Pantura.

Sedangkan dalam mengerjakan Tesis, aku juga perlu memiliki data awal tentang permasalahan yang ingin  aku angkat. Tugas akhirku kali ini mengangkat tema tentang narkoba (alasan ngambil tesis narkoba akan aku jelasin di posting berikutnya yaa) di sebuah panti rehab di Jogja.

Nah… Kebetulan 16 – 22 Mei adalah minggu terakhir aku praktek di RSJ. Diakhir minggu tersebut aku memiliki waktu kosong yang bisa aku gunakan untuk Home visit serta pengambilan data awal di panti rehab.

Di tanggal 19 Mei, perjalanan panjang dimulai dari Pantura.  Overall, cukup lancar sih perjalannya walaupun di beberapa titik mengalami kemacetan panjang karena ada tronton guling di tengah jalan.  Ya kira-kira perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Sesampainya di kota pinggir laut itu, kami (formasi lengkap) langsung ngisi perut dengan makanan khas, yaitu Tauto. Tauto adalah sejenis soto daging sapi  yang diberi tambahan tauco (fermentasi kedelai). Karena makan tautonya di pasar batik, jadi sekalian beli batik hehehe…

Nah.. setelah puas ngisi perut dan cari-cari batik, akhirnya kami lanjut jalan ke rumah klien. Syukurlah, kemajuan teknologi yang makin mumpuni jadi kami gak kesulitan saat nyari alamat rumahnya. Rumah klienku ini gak terlalu jauh dari pusat kota, tapi memang berada di daerah pelabuhan. Bau amis ikan semerbak saat aku buka jendela mobil untuk cari-cari alamat. Dan selama perjalanan terlihat genangan-genangan air di jalan yang aku yakini itu adalah air rob (aduh modyaar!).

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin (2)

in the midle of ikan asin (2)

Setelah tanya sana-sini, akhirnya aku ketemu rumah klienku. Rumahnya rada masuk gang sih, tapi gak terlalu pelosok. Aku pun memulai tugasku untuk mewawancarai dengan tetek bengeknya. Ya makan waktu satu jam lebih lah. Setelah tugas wawancara selesai, aku mulai mengobservasi lingkungan rumah. Persis di depan rumah klien, ada sebuah bangunan besar mirip gudang yang didalamnya terdapat beberapa orang yang sedang sibuk mengolah ikan. Ternyata gudang itu dijadikan sebagai tempat pengolahan ikan asin. Bertong-tong plastik biru besar itu berisi ikan-ikan yang akan diolah menjadi gereh, gesek, or ikan asin. Disamping gudang itu, terdapat berjejer bambu-banmbu yang disusun sedemikian rupa untuk dijadikan tempat menjemur ikan asin yang sudah digarami. Oh ya.. karena aku kepo, aku pandangin ikan asin yang dijemur satu persatu.

Aku bertanya sama diri sendiri, ”Kok gak ada lalatnya, ya??”

Hahaha…