Posts

Dari Pantura Hingga ke Jogja

Tahun ini merupakan tahun pembuktian bagi diriku, pembuktian untuk menjalani sebuah fase kehidupan yang anti-mainstream. Salahsatu keputusan besar itu adalah menjalani praktek kerja dibarengin dengan Tesis, hahaha..

Keputusan yang aku ambil itu pastinya punya konsekuensi 2x lipat lebih besar daripada hanya menjalani salah satunya saja. Salah satu  konsekuensinya adalah perlu berpikir lebih untuk mengatur waktu, energi serta pikiran.

Selama praktek kerja di RSJ, untuk mendapatkan informasi yang valid tentang kondisi klien, aku diwajibkan untuk home visit. Selain wawancara pihak keluarga, aku juga perlu mengobservasi tetang lingkungan tempat tinggal klien. Dan beruntungnya, satu dari tiga klien yang aku dampingi bertempat tinggal di sebuah Kota di daerah Pantura.

Sedangkan dalam mengerjakan Tesis, aku juga perlu memiliki data awal tentang permasalahan yang ingin  aku angkat. Tugas akhirku kali ini mengangkat tema tentang narkoba (alasan ngambil tesis narkoba akan aku jelasin di posting berikutnya yaa) di sebuah panti rehab di Jogja.

Nah… Kebetulan 16 – 22 Mei adalah minggu terakhir aku praktek di RSJ. Diakhir minggu tersebut aku memiliki waktu kosong yang bisa aku gunakan untuk Home visit serta pengambilan data awal di panti rehab.

Di tanggal 19 Mei, perjalanan panjang dimulai dari Pantura.  Overall, cukup lancar sih perjalannya walaupun di beberapa titik mengalami kemacetan panjang karena ada tronton guling di tengah jalan.  Ya kira-kira perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Sesampainya di kota pinggir laut itu, kami (formasi lengkap) langsung ngisi perut dengan makanan khas, yaitu Tauto. Tauto adalah sejenis soto daging sapi  yang diberi tambahan tauco (fermentasi kedelai). Karena makan tautonya di pasar batik, jadi sekalian beli batik hehehe…

Nah.. setelah puas ngisi perut dan cari-cari batik, akhirnya kami lanjut jalan ke rumah klien. Syukurlah, kemajuan teknologi yang makin mumpuni jadi kami gak kesulitan saat nyari alamat rumahnya. Rumah klienku ini gak terlalu jauh dari pusat kota, tapi memang berada di daerah pelabuhan. Bau amis ikan semerbak saat aku buka jendela mobil untuk cari-cari alamat. Dan selama perjalanan terlihat genangan-genangan air di jalan yang aku yakini itu adalah air rob (aduh modyaar!).

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin

in the midle of ikan asin (2)

in the midle of ikan asin (2)

Setelah tanya sana-sini, akhirnya aku ketemu rumah klienku. Rumahnya rada masuk gang sih, tapi gak terlalu pelosok. Aku pun memulai tugasku untuk mewawancarai dengan tetek bengeknya. Ya makan waktu satu jam lebih lah. Setelah tugas wawancara selesai, aku mulai mengobservasi lingkungan rumah. Persis di depan rumah klien, ada sebuah bangunan besar mirip gudang yang didalamnya terdapat beberapa orang yang sedang sibuk mengolah ikan. Ternyata gudang itu dijadikan sebagai tempat pengolahan ikan asin. Bertong-tong plastik biru besar itu berisi ikan-ikan yang akan diolah menjadi gereh, gesek, or ikan asin. Disamping gudang itu, terdapat berjejer bambu-banmbu yang disusun sedemikian rupa untuk dijadikan tempat menjemur ikan asin yang sudah digarami. Oh ya.. karena aku kepo, aku pandangin ikan asin yang dijemur satu persatu.

Aku bertanya sama diri sendiri, ”Kok gak ada lalatnya, ya??”

Hahaha…