Posts

Dipamerin Titit

Ditengah hiruk pikuk jalanan yang ku lewati hari ini, tak sengaja pandanganku terkunci pada perilaku seseorang laki-laki yang berada di pinggir jalan. Pakaiannya dan badannya terlihat sangat lusuh, sepertinya orang itu homeless. Orang itu dengan perlahan membuka celananya dan menghadap ke sebuah pembatas pinggir jalan. Dari gerak geriknya, orang itu seperti akan mengguyurkan air dari tubuhnya ke pembatas jalan itu. Sayangnya aku melihat hanya seklebatan saja. Namun, dari peristiwa itu membuatku mengingat sebuah peristiwa di tahun 2015 lalu, yang cukup menghebohkan diriku sendiri. Seingatku aku sudah menuliskannya di blog pribadi yang lain, tapi kali ini sepertinya aku akan menceritakannya lebih lengkap.

Jadi begini ceritanya…

Maret tahun 2015 aku mengikuti sebuah workshop travel blogger. Ini pengalaman pertamaku mengikuti workshop kepenulisan dengan tema traveling. Workshop itu diadakan selama 2 hari. Hari pertama diisi full materi dari travel blogger yang udah berpengalaman, sedangkan hari kedua adalah hari untuk mempraktekan materi yang sudah diajarkan. Dari workshop itu sebenarnya klimaksnya ada di hari kedua, karena para peserta diminta untuk mengeksplorasi tempat wisata di Semarang yaitu di Kota Lama.

 Dengan gaya mirip traveler, aku mengalungkan kamera merahku dan sok melihat-lihat bangunan tua dengan gerak gerik penasaran haha (padahal udah sering aku liat dan sering lewat tempat itu). Di salah satu spot dekat Gereja Blenduk, aku melihat ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku ambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Di saat aku sedang foto-foto itu ada pengendara motor yang beberapa kali melewatiku sambil memperhatikan. Aku menjadi sempat curiga apakah orang ini mau malak atau gimana, hingga pertanyaanku terjawab. Setelah beberapa kali mengamatiku, tiba-tiba dia berhenti di dekatku dan dengan santainya memperlihatkan penisnya.

Dengan spontan aku langsung menyolot “Uasuuuu!!”. Setelah aku teriak gitu dia langsung ngacir tapi masih memandangiku. Aku sempat memandangi anunya, eh wajahnya. Dia lelaki yang tergolong sudah tua, kira-kira usianya 50 tahun lebih. Dari kejadian itu aku sempat merasa shok karena sudah menjadi korban pelecehan seksual. Tapi… setelah aku menenangkan diri dan langsung cari banyak literatur tentang eksibisonis dan pelecehan seksual aku menjadi mulai mengerti bahwa ada beberapa hal yang aku pelajari:

Ekshibisionisme adalah tindakan memamerkan atau mengekspos, dalam konteks publik atau semi-publik, bagian-bagian tubuh seseorang yang biasanya tertutup – misalnya, payudaraalat kelamin, atau bokong. Praktek ini mungkin timbul dari hasrat atau dorongan untuk mengekspos diri mereka sedemikian rupa kepada kelompok teman-teman, kenalan, atau orang asing untuk hiburan mereka,kepuasan seksual, atau untuk kesenangan berhasil mengejutkan pengamat yang tidak menduganya. (wikipedia.com)

Dalam menghadapi pelaku eksibisionis, baiknya kita mengusahakan untuk tidak memberikan respon terkejut (teriak, menutup wajah, dll), marah, atau lari. Nah loo… itu kan respon wajar, masa kaget dan marah nggak boleh? Yup mau tidak mau kalo kita tidak mau memberikan efek kepuasan pada si exibisionis kita perlu menghindari hal-hal tersebut, karena pelaku akan semakin merasa puas dan klimaks ketika respon si korban demikian. Nah, setelah mempelajari lebih akhirnya aku menemukan trik bagaimana membuat si pelaku jera, yaitu memberikan respon yang berkebalikan dengan apa yang diinginkan. Seperti kembali melecehkannya, dengan mengolok-olok bentuk kelaminnya. Misal nih: Waaah! Wis cilik elek san!” (udah kecil jelek pula), atau bisa juga dengan tertawa sinis mengejek. Intinya merendahkannya. Untuk melakukan cara ini memang kita perlu memiliki keberanian. Keberanian itu ada bisa dengan merubah sudut pandang kita terhadap alat kelamin menjadi bukan hal yang selalu tabu untuk di bahas. Jadi, ketika sudah merubah sudut pandang akan bisa meminimalisir respon kaget, takut atau jijik. Dalam beberapa literatur psikologi disebutkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan eksibisionis memiliki rendah diri dan sering terabaikan, sehingga dengan memamerkan alat kelamin mereka akan mendapatkan perhatian dari orang lain dengan cara yang tidak lazim.

Pelaku eksibisionis  tak selalu melakukan aksinya di tempat sepi, ada juga di tengah kerumunan banyak orang. Bisa juga di pasar, bis umum, mall, dll. Jadi tetap waspada!

Soal pelecehan seksual, memang awalnya aku pribadi merasa menjadi korban. Namun setelah diskusi dengan banyak orang bahwa menjadi korban itu sesuai dengan persetujuan diri kita sendiri atau tidak. Kalo kita tidak mengijinkan diri kita sebagai korban maka kita akan keluar dari sudut pandang korban. Pola pikir ini sebenernya bisa membantu untuk kestabilan psikologis, karena menjadi korban pelecehan seksual itu tidak menyenangkan, harga diri dan sudut pandang terhadap diri pasti akan berubah. Misal: “Aku sudah mengalami pelecehan seksual jadi aku merasa kotor dan tidak pantas ini itu bla bla….”. Jadi untuk bisa mempercepat move on dari peristiwa tersebut, aku secara pribadi akan melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda dan menjadikan itu sebuah pelajaran untuk kedepannya.

Bagiku setiap peristiwa selalu ada hikmahnya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Cheers!!