Posts

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 6

Kehidupan sebagai penjaja cinta diakui memang bukan pilihan hidup yang terbaik untuknya. Secara nalurinya sebagai wanita, ia tak pernah memiki harapan untuk bisa hidup sukses melalui pekerjaan sebagai pelacur. Tak ada seorang wanita yang menginginkan hidup sebagai peneman tidur banyak laki-laki seperti yang masih ia lakukan saat ini.

Lalu selama mbak menjalani hidup sebagai pekerja seks, bagaimana pandangan mbak terhadap pekerjaan ini?”, tanyaku singkat.

Sebenarnya, gimana ya. Untuk aku pribadi, buat kebanggaan saja lah. Kenapa aku bisa bilang bangga? Walaupun aku kerja istilahnya jadi orang bejat, aku jadi pelacur, jadi sampah masyarakat, tapi aku bisa berhasil. Aku punya keberhasilah ibaratnya, aku punya ilmu yang kadang nggak mungkin dimiliki oleh orang baik-baik. Dari segi kebejatan itulah aku bener-bener belajar, aku mau jadi bener – bener orang baik. Dari aku merasa jadi sampah masyarakat itulah aku pengen menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat sendiri. Jadi aku belajarnya memang dari kegagalan, dan aku menilai pekerjaan aku begini justru aku merasa bangga. Aku bangga. Tapi orang bilang sampah masyarakat itu lebih hina, lebih buruk. Tapi aku menyangkal, lebih baik jadi pelacur daripada jadi orang baik-baik tapi belajar jadi buruk, jadi bejat, jadi orang munafik.”, jawabnya lantang padaku.

Tapi lambat laun aku mulai sadar diri bahwa tak selamanya aku hidup seperti ini. Aku juga punya keinginan untuk bisa hidup menjadi lebih baik. Walaupun aku dikatakan  perek atau lonthe, tapi aku tetap berusaha untuk menjaga perilaku dan etika. Karena orang lain ternyata bisa membedakan mana perlacur yang punya etika sama yang enggak. Gak semua pelacur dianggap bener-bener bejat itu enggak.  Maka dari itu aku menjaga sikap saat bertemu dengan orang lain, dengan berperilaku sopan dan jaga omongan. Dengan begitu aku menunjukkan bahwa aku juga masih memiliki harga diri, bagaimana bisa menuntut orang lain menghargai kita tapi kalau kita sendiri tidak menghargai diri sendiri?

***

Harapan untuk memiliki hidup yang lebih baik selalu terbayang dalam benaknya. Walaupun entah kapan ia akan berhenti menjadi wanita pekerja seks, namun keinginan untuk benar-benar bisa bertobat itu selalu terngiang tiap malam.

“Lalu kira-kira kapan mbak akan keluar dari dunia seperti ini?”

Kalo aku gini prinsipnya. Aku mau keluar tapi bener-bener karena mau tobat. Gak karena aku mau nikah, mau ini itu. Ya bener-bener aku tu mau insaf gitu. Jadi saat aku tobat, aku udah gak kembali ke jalan yang kaya gini apapun kondisinya.”

Berarti tobat bukan karena merasa berdosa ya mbak?

Ya gimana ya ngomong banyak dosa atau gak itu susah. Kalo merasa sudah banyak dosa ya lebih baik langsung keluar gak nunggu banyak uang atau gimana, tapi ya balik lagi susah mbak. Jadi soal dosa aku serahkan pada yang diatas saja”.

-the end-

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Mahkotaku yang Hilang Eps. 4

Mahkotaku yang Hilang Eps. 5

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 5

Ia semakin giat mencari uang demi membangun tekadnya. Puput berubah menjadi pribadi yang berambisi untuk mendapatkan banyak uang. Dari kegagalan-kegagalan yang pernah dialaminya dulu, ia kini memilih untuk menginvestasikan sebagaian besar uangnya untuk membeli beberapa kebun untuk ia olah bersama warga di desanya. Tak hanya berambisi tentang uang, Puput juga bertekad untuk membuat orang-orang didesanya membutuhkan dirinya. Hal itu ia lakukan dengan cara membuka lapangan pekerjaan dan memberikan bantuan secara materi pada tetangga-tetangga yang sedang membutuhkan.

Dulu aku di rumah seperti orang yang tersingkirkan. Aku sadar aku orang miskin dan jelek. Aku dihina karena aku bener-bener orang miskin sama banyak orang. Aku bertekad  pengen jadi orang yang melebihi mereka semua dan sekarang aku buktiin. Apa yang lebih dari mereka, aku bisa lebih! Mereka punya motor, aku bisa punya mobil. Mereka punya tanah banyak, aku punya hektaran!“.

Kini memang Puput terkesan sudah memiliki segalanya. Dengan memiliki beberapa kebun di desa dan beberapa bisnis lain yang dikelola, pastinya uang yang diterima  melebihi pendapatan dari sebagai seorang pekerja seks. Aku pun bertanya mengapa ia tak langsung berhenti saja disaat semua bisnisnya berjalan dan sudah mulai banyak menghasilkan uang.

Mbak Puput, sudah punya beberapa bisnis di luar sana. Lalu kenapa masih saja bekerja sebagai pekerja seks?” , tanyaku dengan penuh tanda tanya.

Kadang uang itu dibilang segalanya itu memang bener. Tapi sekarang aku sadar bahwa  aku sudah lupa dengan tujuan awal aku. Aku jadi orang yang serakah. Dibalik keserakahan aku juga diuji. Kadang ya aku sukses, kadang ya engga bahkan kadang jungkir balik. Makanya walaupun aku terkesan sudah sukses dan punya usaha lain tapi aku tetap terus ingin memperkaya diri. Aku ingin membalik omongan-omongan orang yang dulu pernah menginjak-injak aku. Dulu mereka menguasai aku, sekarang dibalik aku yang menguasai mereka”.

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Mahkotaku yang Hilang Eps. 4

Kisah Bu Mus Eps. 3

Waktu itu keadaan terasa terjepit sekali, Mbak Yoli. Semua perabot sudah habis dijual untuk pengobatan, dan pada akhirnya aku berpikir untuk mencari pekerjaan. Kalo aku nggak kerja nanti siapa lagi yang akan membayar pengobatan suami dan hidup anakku.”

Usia yang sudah tak lagi muda, membuatnya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.  Terlebih, Bu Mus hanya lulusan Sekolah Dasar yang tak berizasah yang tak punya pengalaman bekerja. Kondisi pelik di tengah keadaan yang semakin terhimpit.

Bu Mus sempat terpikir untuk menjadi TKW, namun itupun hanya sekedar angan-angan karena segala tetek bengek yang harus dipersiapkan yang membutuhkan waktu tak sebentar.  Dan pastinya ia tak bisa pergi jauh meninggalkan suami yang sakit dan anak semata wayangnya dalam kurun waktu yang lama.

Hingga suatu saat, dimana semua terasa tak ada lagi jalan. Suami Bu Mus memberikan izin padanya untuk melakukan pekerjaan apa saja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga serta pengobatan. Sebenarnya Bu Mus sudah lama mendapatkan informasi tentang peluang pekerjaan yang dapat menghasilkan uang jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Namun pekerjaan itu sangat amat bertolak belakang dengan batinnya. Dengan keadaan yang samakin terhimpit, akhirnya Bu Mus memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya terkait peluang kerja yang di dapatnya.

“Pah, kalo aku kerja di lokalisasi bagaimana?”

“Ya gak apa-apa Mah, kalo memang sudah tidak ada lagi jalan lainnya.”

Itulah awal mula Bu Mus menguatkan hati bekerja sebagai pelacur demi pengobatan suami tercinta dan memenuhi kehidupan keluarga. Dalam keadaan yang semakin tak berdaya, suaminya merelakan Bu Mus untuk pergi mencari secercah harapan di kompleks lokalisasi. Saat mengingat kembali kejadian tersebut, raut wajahnya berubah menjadi lebih sendu dari sebelumnya. Nada bicaranya pun mulai melambat dan tatapannya seperti meratapi sesuatu.

Awal-awal ia menjalankan pekerjaan sebagai wanita pekerja seks, seringkali muncul tabrakan-tabrakan emosi yang ada dalam dirinya. Ia harus melakukan hubungan suami istri dengan pria lain disaat suaminya mengerang kesakitan di rumah. Rasa bersalah yang kuat seringkali mengiris hati. Bu Mus sadar, jalan yang telah dipilihnya adalah perjuangan hidup yang harus ia jalani. Tekad kuat untuk bisa membantu perekonomian keluarga dan biaya pengobatan membuatnya bertahan.

Usaha keras Bu Mus yang sudah bertahun-tahun untuk mencari biaya pengobatan ternyata tidak sejalan dengan harapan yang ia inginkan. Tuhan berkehendak lain, suami tercinta yang selama ini ia perjuangkan telah di panggil oleh Tuhan untuk selama-lamanya. Kesedihannya kembali tersirat dari raut wajahnya saat menceritakan padaku, ia merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berada di dekat suaminya pada saat-saat terakhir.

to be continued….

Sebelumnya,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2