Posts

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 6

Kehidupan sebagai penjaja cinta diakui memang bukan pilihan hidup yang terbaik untuknya. Secara nalurinya sebagai wanita, ia tak pernah memiki harapan untuk bisa hidup sukses melalui pekerjaan sebagai pelacur. Tak ada seorang wanita yang menginginkan hidup sebagai peneman tidur banyak laki-laki seperti yang masih ia lakukan saat ini.

Lalu selama mbak menjalani hidup sebagai pekerja seks, bagaimana pandangan mbak terhadap pekerjaan ini?”, tanyaku singkat.

Sebenarnya, gimana ya. Untuk aku pribadi, buat kebanggaan saja lah. Kenapa aku bisa bilang bangga? Walaupun aku kerja istilahnya jadi orang bejat, aku jadi pelacur, jadi sampah masyarakat, tapi aku bisa berhasil. Aku punya keberhasilah ibaratnya, aku punya ilmu yang kadang nggak mungkin dimiliki oleh orang baik-baik. Dari segi kebejatan itulah aku bener-bener belajar, aku mau jadi bener – bener orang baik. Dari aku merasa jadi sampah masyarakat itulah aku pengen menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat sendiri. Jadi aku belajarnya memang dari kegagalan, dan aku menilai pekerjaan aku begini justru aku merasa bangga. Aku bangga. Tapi orang bilang sampah masyarakat itu lebih hina, lebih buruk. Tapi aku menyangkal, lebih baik jadi pelacur daripada jadi orang baik-baik tapi belajar jadi buruk, jadi bejat, jadi orang munafik.”, jawabnya lantang padaku.

Tapi lambat laun aku mulai sadar diri bahwa tak selamanya aku hidup seperti ini. Aku juga punya keinginan untuk bisa hidup menjadi lebih baik. Walaupun aku dikatakan  perek atau lonthe, tapi aku tetap berusaha untuk menjaga perilaku dan etika. Karena orang lain ternyata bisa membedakan mana perlacur yang punya etika sama yang enggak. Gak semua pelacur dianggap bener-bener bejat itu enggak.  Maka dari itu aku menjaga sikap saat bertemu dengan orang lain, dengan berperilaku sopan dan jaga omongan. Dengan begitu aku menunjukkan bahwa aku juga masih memiliki harga diri, bagaimana bisa menuntut orang lain menghargai kita tapi kalau kita sendiri tidak menghargai diri sendiri?

***

Harapan untuk memiliki hidup yang lebih baik selalu terbayang dalam benaknya. Walaupun entah kapan ia akan berhenti menjadi wanita pekerja seks, namun keinginan untuk benar-benar bisa bertobat itu selalu terngiang tiap malam.

“Lalu kira-kira kapan mbak akan keluar dari dunia seperti ini?”

Kalo aku gini prinsipnya. Aku mau keluar tapi bener-bener karena mau tobat. Gak karena aku mau nikah, mau ini itu. Ya bener-bener aku tu mau insaf gitu. Jadi saat aku tobat, aku udah gak kembali ke jalan yang kaya gini apapun kondisinya.”

Berarti tobat bukan karena merasa berdosa ya mbak?

Ya gimana ya ngomong banyak dosa atau gak itu susah. Kalo merasa sudah banyak dosa ya lebih baik langsung keluar gak nunggu banyak uang atau gimana, tapi ya balik lagi susah mbak. Jadi soal dosa aku serahkan pada yang diatas saja”.

-the end-

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Mahkotaku yang Hilang Eps. 4

Mahkotaku yang Hilang Eps. 5

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 5

Ia semakin giat mencari uang demi membangun tekadnya. Puput berubah menjadi pribadi yang berambisi untuk mendapatkan banyak uang. Dari kegagalan-kegagalan yang pernah dialaminya dulu, ia kini memilih untuk menginvestasikan sebagaian besar uangnya untuk membeli beberapa kebun untuk ia olah bersama warga di desanya. Tak hanya berambisi tentang uang, Puput juga bertekad untuk membuat orang-orang didesanya membutuhkan dirinya. Hal itu ia lakukan dengan cara membuka lapangan pekerjaan dan memberikan bantuan secara materi pada tetangga-tetangga yang sedang membutuhkan.

Dulu aku di rumah seperti orang yang tersingkirkan. Aku sadar aku orang miskin dan jelek. Aku dihina karena aku bener-bener orang miskin sama banyak orang. Aku bertekad  pengen jadi orang yang melebihi mereka semua dan sekarang aku buktiin. Apa yang lebih dari mereka, aku bisa lebih! Mereka punya motor, aku bisa punya mobil. Mereka punya tanah banyak, aku punya hektaran!“.

Kini memang Puput terkesan sudah memiliki segalanya. Dengan memiliki beberapa kebun di desa dan beberapa bisnis lain yang dikelola, pastinya uang yang diterima  melebihi pendapatan dari sebagai seorang pekerja seks. Aku pun bertanya mengapa ia tak langsung berhenti saja disaat semua bisnisnya berjalan dan sudah mulai banyak menghasilkan uang.

Mbak Puput, sudah punya beberapa bisnis di luar sana. Lalu kenapa masih saja bekerja sebagai pekerja seks?” , tanyaku dengan penuh tanda tanya.

Kadang uang itu dibilang segalanya itu memang bener. Tapi sekarang aku sadar bahwa  aku sudah lupa dengan tujuan awal aku. Aku jadi orang yang serakah. Dibalik keserakahan aku juga diuji. Kadang ya aku sukses, kadang ya engga bahkan kadang jungkir balik. Makanya walaupun aku terkesan sudah sukses dan punya usaha lain tapi aku tetap terus ingin memperkaya diri. Aku ingin membalik omongan-omongan orang yang dulu pernah menginjak-injak aku. Dulu mereka menguasai aku, sekarang dibalik aku yang menguasai mereka”.

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Mahkotaku yang Hilang Eps. 4

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 4

Kehidupan pelik sebagai wanita pekerja seks ia hadapi penuh dengan lapang dada. Ia mengakui bahwa keputusannnya untuk masuk ke dunia pelacuran adalah keputusan yang penuh dengan resiko. Ia sadar bahwa ia tidak boleh menyesali keputusannya ini dan harus sudah siap menanggung segala resikonya.

Aku sudah tau dari awal tentang konsekuensinya jadi buat apa aku sesali. Memang dari awal aku sudah menyesal, penyesalanku sudah  aku taruh di depan. Karena dari awal kan sudah salah, jadi buat apa aku sesali.”

Segala macam resiko mulai dari hinaan hingga makian sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. Puput cukup cuek dalam menghadapi hal itu, namun ia tak bisa untuk tak peduli saat cintanya kandas karena status sebagai pekerja seks yang sangat melekat.

Sebelumnya Puput sudah bertunangan dengan pria yang akan menjadi suaminya. Hari-harinya dilalui dengan penuh harapan akan masa depan bahagia yang sudah mulai mereka rintis berdua. Dengan uang yang sudah Puput kumpulkan, Puput akhirnya memutuskan untuk membuka bisnis bersama calon suaminya. Banyak bisnis yang mereka jalankan bersama seperti bisnis rental mobil, jasa bengkel, serta beberapa bisnis lain. Dari situ Puput banyak belajar tentang bagaimana mengelola bisnis dengan baik.

Saat itu Puput percaya bahwa pria yang kini mendampinginya adalah pria terakhir yang bisa membahagiakannya. Secara perlahan tapi pasti Puput kembali beribadah seperti dahulu lagi. Rasa percaya bahwa dirinya berharga dan diinginkan orang lain semakin meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga membawa perubahan positif terhadap diri Puput.

Ternyata harapan tak selalu menjadi kenyataan. Hubungan yang dijalinnya ternyata tak mampu berakhir hingga tahap pelaminan. Statusnya sebagai pekerja seks adalah sumber masalah utama yang membuat hubungannya tak bisa lagi dipertahankan. Kegagalan hubungan yang dibinanya membuatnya kembali menjadi Puput yang dulu, yang tak lagi peduli dengan keadaan yang dialaminya.

Walaupun ia seorang pekerja seks, ia juga tetap wanita biasa yang merindukan dekapan hangat dari seorang pria yang benar-benar ia cintai. Hubungan yang sudah dijalin selama hampir satu tahun lamanya kini sudah kandas. Ia tak lagi memiliki pria yang akan menariknya keluar dari lembah hitam pelacuran.

Semenjak aku putus sama tunanganku, aku berubah lagi orangnya seperti sebelumnya. Kaya udah gak mau sholat dan mujarat. Keluar pun juga dengan pakaian yang umbar-umbaran, sudah tidak jaga aurat. Udah gak jaga diri. Mau gemuk mau apa ya terserah. Kadang aku pelariannya ke makan, ke minum, dah gak berpikir aku harus cantik, aku harus gini-gitu. Ah luweh (terserah) !

Namun, dibalik kegagalan itu ia mengambil suatu pelajaran yang berharga bahwa ia semakin bertekad menjadi orang yang sukses. Orang yang beruang dan bermateri sehingga tak ada lagi orang yang  bisa melakukan hal yang semena-mena padanya.

Orang mau cinta, mau jatuh cinta sama aku monggo aja terserah yang penting aku mau uang!! Udah gitu aja.”

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Keputusan untuk merantau di negeri orang ternyata menjadi awal bencana bagi kehidupan Puput selanjutnya. Bekerja menjadi TKW ternyata tak semanis dari yang selama ini ia dengar dari tetangga-tetangganya. Tak hanya kehidupan yang keras yang harus dialaminya, ternyata  Puput juga menjadi korban perkosaan saat bekerja di negeri rantauan.

Hilangnya kegadisan yang selama ini ia jaga rapat-rapat ternyata membuka pintu gerbang masuknya Puput ke dunia prostitusi. Semenjak kejadian itu, menurutnya ia berubah menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan sebelumnya yaitu menjadi sosok pribadi yang “nakal”. Tak ada lagi sikap menjaga diri yang Puput lakukan dan semenjak kejadian itu, ia tak lagi menggunakan hijab dan mulai memasuki pergaulan malam.

 “Semenjak aku diperkosa itu kehidupan aku tuh udah bener-bener gak layaknya kehidupan, gak ada kebaikan sama sekali. Kaya gak ada Tuhan gitu loh. Kaya bener-bener gak ada gusti Allah. Aku udah gak pernah ngaji, udah gak pernah di pondok, ya pokoknya udah gak adalah yang kaya gitu-gitu. Udah gak ada semuanya. Dan aku kenal minuman – minuman. Dulu tuh jangankan minuman, pacaran aja enggak pernah. Itulah awal mula kehancuran kehidupan aku, ya pokoknya ancur lah.. ancur lebur…

Tak seorangpun mengetahui tentang peristiwa pemerkosaan yang ia alami. Ia memutuskan untuk memendamnya sendiri dan tak mau orang lain tau. Perasaan sedih dan hancur yang menghinggapinya ia hadapi seorang diri.  Walau merasa hidupnya sudah rusak di negeri orang, namun Puput tetap bertekad untuk mengumpulkan uang demi kehidupan keluarganya di desa. Beberapa kali ia sudah mengirimkan uang ke desa untuk membeli tanah, namun ternyata mimpi itu kandas setelah tahu uang yang dikirimnya dilahap oleh saudara-saudaranya yang tak bertanggung jawab. Ia merasakan kegagalan yang cukup berat kala itu. Tak hanya kehilangan kehormatan sebagai wanita namun ia juga sudah ditipu oleh saudara-saudaranya di desa.

Kegagalan sebagai TKW ternyata semakin membulatkan niatnya untuk kembali pulang. Segala resiko siap ia tanggung karena memang ia tak lagi tahan dan ingin secepatnya pulang. Ternyata keputusannya untuk segera pulang tepat, tak disangka bahwa keadaan neneknya saat itu tidak baik. Neneknya kala itu sakit dan membutuhkan biaya yang lumayan banyak.

Justru waktu aku pulang itu nenek aku sakit. Terus aku bingung harus gimana. Akhirnya malah nambah hutang. Nenek aku sakit parah ya udah nggak punya jalan lagi akhirnya aku sampai di SK. Kebetulan saat itu ada yang nawarin untuk kerja disini.” ungkapnya padaku lirih.

Aku nggak bisa menghindar, karena anak-anak mbahku sudah tidak ada yang mau ngurusi. Mau gak mau, tanggung jawab itu 100% dibebankan ke aku. Ya sudah gak papa, karena mereka sudah menghidupi aku dari kecil dan aku juga merasa bahwa aku punya utang budi pada mbahku. Aku dulu sudah dihidupin, sekarang keadaannya dibalik bagaimana aku bisa menghidupi mereka. Aku harus bisa. Aku gak boleh ngeluh dan aku gak boleh protes, lha wong sekarang saatnya aku yang berkerja. Ya gimana pun caranya. Kalopun aku jadi pelacur ya sudah. Ya memang kehidupannya gini.”

Puput berani mengambil resiko bekerja di SK karena satu hal. Yaitu menurutnya SK memberikan suatu jaminan kehidupan yang lebih baik untuknya dan keluarganya. Semenjak ia terjun sebagai wanita peneman tidur, dalam beberapa hari sekali ia bisa mengirimkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat itu neneknya juga sedang membutuhkan tempat tinggal yang layak dan ingin Puput membangunkan rumah untuknya.

Awal bekerja sebagai pekerja seks, Puput masih menjadi pribadi yang mudah diinjak-injak oleh sudara-saudara dan tetangganya. Puput kadang merasa tak habis pikir, mengapa saudara-saudaranya masih saja mengganggu ketenangan hidupnya dengan seringkali meminta uang dengan jumlah tak wajar padanya. Pada satu titik akhirnya ia merasa muak dan jengah dengan keadaanya itu.

Aku gak boleh gini-gini terus, aku jadi orang harus berani! Terus pada akhirnya aku memutuskan untuk berani melawan saudara-saudaraku yang selalu bertindak semena-mena. Aku gak mau jadi orang gagal yang selalu diinjak-injak.

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

 “Oh ya, ngomong-ngomong kok mbak bisa sampai kerja disini itu ceritanya gimana?” tanyaku sambil mengunyah biskuit kelapa.

Panjang sih mbak ceritanya dan hidup yang aku jalani itu keras,” pintanya padaku saat ia mulai menceritakan tentang perjalanan hidupnya sambil sesekali mengunyah biskuit kelapa.

Kerasnya hidup yang ia jalani ternyata sudah dimulai semenjak ia ditinggal oleh ibunya untuk selamanya saat berusia 3 bulan. Dekapan hangat seorang ibu yang tak pernah ia rasakan menjadi awal mula kelamnya hidup yang harus ia lalui hingga ia dewasa. Walaupun sampai saat ini ia masih memiliki Ayah, namun karena sesuatu hal hubungan mereka tak begitu dekat, terlebih tak lama setelah ibunya meninggal ia diasuh oleh keluarga yang ada di Jawa Timur.

Menurutnya, awal kehidupannya di Jawa Timur sudah penuh dengan cobaan. Bagaimana tidak, Puput bercerita bahwa ia hampir saja dijual oleh keluarganya saat belum genap usianya satu tahun.  Hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh nenek dan kakeknya yang sampai saat ini sudah dianggapnya sebagai orangtuanya sendiri.

Puput memang tak dibesarkan dari keluarga yang kaya raya dan serba berlebih. Kakek neneknya tergolong salah satu dari sekian banyak warga miskin di desa. Namun, walaupun demikian Puput tetap diasuh sebaik mungkin oleh kakek neneknya di tengah keterbatasan. Selain keterbatasan yang Puput alami, ternyata selama hidup di Jawa Timur ia kurang mendapat penerimaan dari anak-anak kandung dari kakek neneknya. Menurut mereka, Puput hanyalah sebagai beban tambahan di keluarga. Sehingga saat Puput kecil hingga remaja, ia kerap kali mendapat perlakuan secara semena-mena oleh saudara-saudaranya.

Puput kecil hidup di tengah lingkungan agamis yang sangat kental. Semenjak SD hingga SMA, Puput bersekolah di sekolah madrasah yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Menurutnya, selama bersekolah ia merupakan salah satu siswa yang berprestasi. Sehingga tak heran baginya, saat duduk di bangku SMA ia diminta sekolah untuk menjadi guru mengaji bagi anak-anak kecil di sore hari.

Prestasinya di sekolah ternyata sangat bertolak belakang dengan pergaulannya di rumah. Puput mengaku bahwa dirinya seringkali diolok-olok oleh tetangganya karena ia hidup di keluarga yang miskin. Tak hanya persoalan materi saja yang menjadi bahan olokan tetangga-tetangganya, ternyata penampilan Puput yang masih berpenampilan kuno pada waktu itu pun menjadi bahan olokan yang sering kali menyakitkan hatinya.

Puput sadar bahwa menjadi seorang guru terlebih guru mengaji wajib menjaga penampilan yang tertutup. Untuk makan saja sulit apalagi untuk membeli pakaian yang bagus. Dengan penampilan seadanya dan menggunakan pakaian yang berwarna lusuh tak heran bila Puput terkesan  ndeso di mata tetangganya.

Puput kecil tumbuh menjadi remaja yang memiliki pribadi tertutup. Segala hal yang ia kerjakan hanya untuk membahagiakan sosok yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Puput sadar bahwa cita-citanya untuk bisa meneruskan pendidikan di sebuah universitas harus kandas karena melihat ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Puput saat itu hanya berfikir bagaimana harus mendapatkan uang sebanyak mungkin untuk membantu kehidupan keluarga yang kian hari kian tak menentu.

Gaji seorang guru selama lebih dari satu tahun tak pernah cukup untuk membantu menghidupi kehidupan keluarga sehari-hari. Tak ada lagi orang yang bisa diandalkan untuk membantu kehidupan keluarganya selain Puput seorang. Menurutnya, saudara-saudaranya sudah tidak lagi peduli dengan kehidupan kakek neneknya semenjak memiliki keluarga masing-masing. Semua dilimpahkan pada Puput. Dari keadaan yang demikian, akhirnya Puput memutuskan untuk merantau menjadi TKW di Malaysia.

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Puput adalah salah satu  pekerja seks yang sudah cukup lama aku kenal. Wajahnya yang selalu ceria saat bertemu denganku ternyata menyimpan luka batin yang luar biasa dalam. Puput yang kini berusia hampir 30 tahun adalah wanita asal Kalimantan yang sudah bekerja sebagai pekerja seks di SK selama hampir 3 tahun. Secara penampilan, Puput memiliki perawakan yang cukup berisi dan ia juga memiliki rambut yang hitam dan panjang. Sedangkan parasnya, Puput memiliki wajah yang bersih dan tergolong lumayan cantik.

Hari itu, tepatnya hari Selasa di pertengahan bulan Februari 2016 aku mengunjungi wismanya. Kebetulan aku datang saat pagi hari kira-kira pukul 9.15 wib. Pagi hari adalah waktu yang relatif aman bagiku untuk mengunjungi wisma, sebab pada pagi hari belum banyak tamu yang datang seperti sore menjelang malam. Aku mengunjungi wismanya karena memang sebelumnya aku sudah membuat janji dengan Puput.

Wisma Puput salah satu wisma yang terletak di gang yang cukup ramai. Walaupun letaknya di paling ujung, namun wisma yang berwarna dinding hijau cerah ini merupakan salah satu wisma favorit karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

Setibanya aku di pelataran wisma, tak ada seorang pun yang terlihat. Aku hanya melihat lorong gelap yang terlihat dari pintu depan yang terbuka. Tanpa ragu aku menghampiri ambang pintu dan mengetuk pintu sembari mengucap salam. Tak beberapa lama, datang seorang pria berperawakan kurus tinggi dan segera menghampiriku. Wajahnya masih tampak kusut sama seperti pakaian yang dikenakannya. Ia tampaknya operator karaoke yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Ya Mbak, cari siapa ya?” tanyanya sembari menggaruk-garuk lengannya.

Mbak Puput ada mas?” jawabku singkat.

Oh ya mbak langsung masuk aja,” jawabnya sambil membalik badannya dan menunjukkan dimana letak kamar Puput padaku.

Tanpa mengulur waktu aku langsung saja menghampiri kamar yang terletak paling pojok yang berdaun pintu berwana hijau tua. Aku langsung mengetuknya dan tak lama pintu terbuka. Terlihat Puput yang menggunakan daster baby doll warna merah muda di balik pintu. Puput langsung tersenyum padaku dan langsung mempersilahkanku masuk.

Maaf ya mbak aku belum mandi, kamar juga masih berantakan,” gumamnya padaku sembari merapikan letak bantal dan guling agar ada  sedikit ruang di kasurnya untuk tempatku duduk.

Sebenarnya ini pertama kalinya aku memasuki salah satu kamar di wisma tempat wanita pekerja seks mencari nafkah. Jujur, kala itu jantungku cukup berdebar karena aku menduduki tempat peraduan yang biasa digunakan Puput untuk melayani tamu-tamunya. Namun perasaan yang tak karuan itu segera aku buang jauh-jauh dan segera kembali fokus pada Puput.

Semalam selesai kerja jam berapa Mbak?” tanyaku sembari membuka obrolan.

Kayaknya jam 2 an deh, tapi habis itu aku gak bisa tidur sampai jam 5 pagi. Ni baru aja bangun mbak,” jawabnya sambil mengikat rambutnya.

Sontak aku langsung merasa sungkan karena tak enak sudah mengganggu waktu istirahatnya. Memang bagi pekerja malam seperti Puput, pukul 9 pagi adalah waktu untuk istirahat. Namun Puput segera menepis kesungkananku dengan mengatakan bahwa ia tak keberatan dengan kedatanganku dengan menyuguhkanku sebungkus biskuit kelapa.

to be continued…

bu mus 5

Kisah Bu Mus Eps. 5

 

Saat ini Bu Mus masih aktif bekerja sebagai PSK. Menurutnya walaupun hanya mendapatkan 3 tamu dalam sehari atau bahkan tak mendapatkan tamu sekali ia tetap mensyukuri rezeki yang diberikan Tuhan padanya. Sebagai penggantinya untuk mengisi waktu luangnya yang cukup banyak, ia sangat rutin membuat kerajinan tangan yang ia tekuni saat ini.

“Ya walaupun untungnya sedikit, namanya juga usaha yang dibangun dari nol pastinya kan begitu Mbak Yoli. Yang penting tetap terus dijalani dan disiplin.”

Ia mengakui bahwa pekerjaannya sebagai pelacur adalah dosa besar. Namun menurutnya ia tidak mengetahui pekerjaan lain yang dapat ia lakukan dengan usia yang sudah mencapai  50 tahun. Untuk menebus dosa-dosa yang telah diperbuatnya Bu Mus selalu mengingat akan keberadaan Tuhan dengan beribadah di tengah kegiatannya.

Sebagai pekerja seks pasti terdapat resiko besar yang di hadapi oleh Bu Mus. Selain resiko terjangkit penyakit menular seksual hingga HIV/AIDS, Bu Mus juga menghadapi resiko – resiko fisik dan moral yang tidak ringan. Mungkin untuk menghadapi hujatan masyarakat tentang profesinya sudah dapat ia siasati, namun tidak dengan resiko moral sebagai perusak rumah tangga orang. Sebagai wanita secara naluriah Bu Mus juga merasa bahwa begitu sakitnya bila dihianati oleh suami, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya memendam rasa bersalahnya dalam-dalam.

Sebenarnya resiko mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual sangat besar peluangnya terjadi di lokalisasi. Namun, karena Bu Mus memiliki prinsip untuk selalu menjaga keamanan dirinya, Bu Mus selalu selektif dalam memilih tamu. Ia tak pernah menerima tamu yang sedang mabuk. Sebab tamu yang mabuk sangat sering membuat ulah dan tidak segan-segan berkata kasar hingga mendaratkan bogem mentah di wajah wanita pekerja seks.

Setiap orang pastinya memiliki harapan, begitupun dengan Bu Mus. Ia berharap kedepan, saat sudah memiliki modal yang cukup ia ingin membuka kios kecil di desanya. Selain menjual pernak pernik kerajinan tangan ia juga ingin memberi pelatihan keterampilan pada masyarakat di desanya. Ia menyadari bahwa wanita-wanita di desanya memiliki peluang besar untuk masuk ke dalam dunia prostitusi. Oleh karena itu ia memiliki niat untuk memberdayakan wanita di desanya agar tak perlu lagi bekerja sebagai pelacur sepertinya untuk bisa menghidupi keluarga.

-The End-

Kisah lengkap,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 3

Kisah Bu Mus Eps. 4

Kisah Bu Mus Eps. 3

Waktu itu keadaan terasa terjepit sekali, Mbak Yoli. Semua perabot sudah habis dijual untuk pengobatan, dan pada akhirnya aku berpikir untuk mencari pekerjaan. Kalo aku nggak kerja nanti siapa lagi yang akan membayar pengobatan suami dan hidup anakku.”

Usia yang sudah tak lagi muda, membuatnya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.  Terlebih, Bu Mus hanya lulusan Sekolah Dasar yang tak berizasah yang tak punya pengalaman bekerja. Kondisi pelik di tengah keadaan yang semakin terhimpit.

Bu Mus sempat terpikir untuk menjadi TKW, namun itupun hanya sekedar angan-angan karena segala tetek bengek yang harus dipersiapkan yang membutuhkan waktu tak sebentar.  Dan pastinya ia tak bisa pergi jauh meninggalkan suami yang sakit dan anak semata wayangnya dalam kurun waktu yang lama.

Hingga suatu saat, dimana semua terasa tak ada lagi jalan. Suami Bu Mus memberikan izin padanya untuk melakukan pekerjaan apa saja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga serta pengobatan. Sebenarnya Bu Mus sudah lama mendapatkan informasi tentang peluang pekerjaan yang dapat menghasilkan uang jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Namun pekerjaan itu sangat amat bertolak belakang dengan batinnya. Dengan keadaan yang samakin terhimpit, akhirnya Bu Mus memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya terkait peluang kerja yang di dapatnya.

“Pah, kalo aku kerja di lokalisasi bagaimana?”

“Ya gak apa-apa Mah, kalo memang sudah tidak ada lagi jalan lainnya.”

Itulah awal mula Bu Mus menguatkan hati bekerja sebagai pelacur demi pengobatan suami tercinta dan memenuhi kehidupan keluarga. Dalam keadaan yang semakin tak berdaya, suaminya merelakan Bu Mus untuk pergi mencari secercah harapan di kompleks lokalisasi. Saat mengingat kembali kejadian tersebut, raut wajahnya berubah menjadi lebih sendu dari sebelumnya. Nada bicaranya pun mulai melambat dan tatapannya seperti meratapi sesuatu.

Awal-awal ia menjalankan pekerjaan sebagai wanita pekerja seks, seringkali muncul tabrakan-tabrakan emosi yang ada dalam dirinya. Ia harus melakukan hubungan suami istri dengan pria lain disaat suaminya mengerang kesakitan di rumah. Rasa bersalah yang kuat seringkali mengiris hati. Bu Mus sadar, jalan yang telah dipilihnya adalah perjuangan hidup yang harus ia jalani. Tekad kuat untuk bisa membantu perekonomian keluarga dan biaya pengobatan membuatnya bertahan.

Usaha keras Bu Mus yang sudah bertahun-tahun untuk mencari biaya pengobatan ternyata tidak sejalan dengan harapan yang ia inginkan. Tuhan berkehendak lain, suami tercinta yang selama ini ia perjuangkan telah di panggil oleh Tuhan untuk selama-lamanya. Kesedihannya kembali tersirat dari raut wajahnya saat menceritakan padaku, ia merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berada di dekat suaminya pada saat-saat terakhir.

to be continued….

Sebelumnya,

Kisah Bu Mus Eps. 1

Kisah Bu Mus Eps. 2

Kisah Bu Mus Eps. 2

Bu Mus tahu persis, keputusan yang diambilnya penuh dengan resiko. Mungkin, bila disaat itu ada seseorang yang bermurah hati membantunya, mungkin saat ini ia merasa seperti layaknya ibu-ibu pada umumnya, menimang cucu sambil bersenda gurau dengan keluarganya.

Awalnya, aku tak percaya bila Bu Mus bekerja sebagai wanita pekerja seks. Perilakunya yang sopan dan rona wajah sendu yang terpancar dari Bu Mus membuatku sering berpikir ulang bahwa ia hanya pegawai kelurahan atau LSM. Dengan usianya yang sudah diakhir tengah baya ternyata masih saja ada tamu yang menghampirinya untuk mendapatkan layanan seks. Kini Bu Mus sudah hampir lima tahun bekerja di SK. Walaupun pendapatannya tak sebanyak dulu, namun Bu Mus mengatakan akan tetap tinggal hingga setahun hingga dua tahun mendatang. Kini ia memiliki kegiatan aneka kerajinan tangan untuk menopang kehidupannya.

Sebenarnya kisah Bu Mus hampir sama seperti dengan kisah wanita pekerja seks kebanyakan yang datang melacur dengan motif awal ekonomi. Motif ekonomi hanyalah motif pembungkus saja. Perjalanan Bu Mus sebagai wanita pekerja seks ternyata berasal dari rasa cintanya terhadap suaminya. Penyakit stoke telah melumpuhkan sendi-sendiri tulang suaminya serta ekonomi keluarga, hingga membuat Bu Mus melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan nyawa suami tercinta dan ekonomi keluarga.

Awalnya, Bu Mus sama seperti ibu rumah tangga lain yang mendedikasikan diri untuk berbakti pada keluarga.  Kehidupan rumah tangga Bu Mus terbilang bahagia. Walau hidup di sebuah desa di Jawa Tengah, kehidupannya dengan suami dan anak semata wayangnya sangat berkecukupan. Namun, sayangnya kebahagiaan yang dirasakannya seiring waktu mulai terkikis karena suaminya yang jatuh sakit. Semua yang dulunya serba berkecukupan, kini berbalik menjadi serba kekurangan. Suaminya tak lagi bekerja semenjak ia jatuh sakit.

Uang tabungan kian hari kian menipis, rumah pun terasa makin kosong karena perabot sudah mulai habis terjual.  Dengan keadaan suami yang hanya bisa berbaring di kasur menahan sakit, otomatis memaksa Bu Mus berubah peran menjadi tulang punggung keluarga. Masa-masa sulit itu Bu Mus alami cukup lama sendiri, namun ia selalu bertahan melakukan semua itu karena dasar cinta yang kuat pada suami dan keluarga kecilnya. Ia tak bisa semena-mena meninggalkan suaminya begitu saja karena tak lagi mampu memberinya nafkah lahir dan batin. Menurutnya tak hanya cinta yang membuatnya memiliki kekuatan hati untuk bertahan namun juga pengabdian pada suami.

to be continued…

Sebelumnya, Kisah Bu Mus Eps.1

 

Kisah Bu Mus Eps. 1

Mbak Yoli… sudah lama ndak ketemu. Sibuk apa sekarang, Mbak?

Begitulah sapaan Bu Mus, salah satu wanita pekerja seks SK ketika berjumpa denganku. Usianya memang sudah tak lagi muda, namun penampilannya tak kalah dengan yang berusia jauh dibawahnya. Sederhana, namun cukup elegan untuk di kalangan SK.

Bu Mus yang kini telah berusia lebih dari setengah abad memiliki latar belakang yang sangat pelik hingga mengantarkannya menjadi wanita pekerja seks di SK. Percaya atau tidak, hal yang mendorongnya untuk bekerja sebagai wanita penghibur karena rasa cintanya yang sangat mendalam pada suaminya. Terdengar miris dan ironis. Bagaimana bisa bekerja melayani nafsu pria lain demi membuktikan cinta pada suami. Bila menggunakan nalar, hal itu akan sulit bahkan tidak bisa diterima akal sehat sebagai cara dalam mencintai suami. Namun, dalam dunia ini segala sesuatunya mungkin, begitupun dengan pilihan yang diambil Bu Mus.

Sebelum menjadi wanita pekerja seks, Bu Mus adalah seorang wanita yang menjalani kodratnya menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak dan suami. Tak ada hal lain yang ia lakukan selain pekerjaan inti sebagai ibu rumah tangga. Kala itu hidupnya sangat berkecukupan dan sejahtera, walau ia hidup di sebuah pedesaan yang sangat jauh dari perkotaan.

Aku ndak tau, seperti kaya disamber gledek Mbak waktu aku mendapatkan kabar itu. Semua berubah dengan sangat cepat.” Kenangnya Bu Mus, mengingat kejadian 10 tahun lalu.

To be continued…