Posts

Masturbation

ONANI

Bagi kalian yang udah dewasa, mungkin udah nggak asing lagi ya sama yang namanya onani. Bisa dibilang, onani merupakan suatu kegiatan merangsang diri sendiri untuk bisa menyalurkan hasrat seksual. Seringkali, orang tidak menyebutkan aktivitas seksual tersebut dengan istilah onani, mereka biasanya menggunakan kata ganti lain seperti ngocok, misalnya. Onani itu bisa juga diistilahkan dengan sebutan masturbasi. Maturbasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Manus (tangan), stuprate (penyalah gunaan)yang artinya penyalah gunaan tangan atau dalam istilah ilmiah Coitus Interruptus. Sebenarnya, onani tidak hanya dilakukan dengan menggunakan tangan, namun bisa juga menggunakan alat bantu. Selain itu, onani tidak terbatas gender sehingga tidak hanya pria, wanita juga punya perluang besar melakukan onani.

Sejarah Onani

Sama seperti hal lain, onani juga punya sejarahnya sendiri. Sejarah onani ini lebih dominan pada alkitab kristen yang terdapat pada Kejadian 38:6-10. Kisah tentang seorang penmuda bernama Onan yang bingung karena ia diperintah oleh ayahnya yang bernama Yehuda untuk menikahi janda dari almarhum kakaknya. Karena tidak ingin janda tersebut hamil, maka setiap kali berhubungan seksual Onan mengeluarkan spermanya di luar tubuh janda tersebut. Namun, cara tersebut membuah Tuhan murka, dan akhirnya Onan mati.

Selain kisah dari Alkitab, ada pula sejarah tentang onani yang berasal dari Zaman Mesir Purba. Jika di lacak dari kitab-kitab kuno Mesir, konon onani menjadi salah satu ritual beribadah kepada para Dewa Matahari.

Cerita Onani juga bisa dilacak dalam kebudayaan Yunani Kuno. Seorang wanita Yunani bernama Metro, memiliki teman wanita bernama Coritto. Mereka adalah dua sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Di suatu hari Metro bermaksud meminjam dildo, sebuah alat berbentuk alat kelamin laki-laki milik sahabatnya itu. Namun sayang, Coritto telah meminjamkannya pada orang lain. Metro begitu terobsesinya pada dildo, ia menanyakan pada sahabatnya di mana alat itu dibuat dan ia terinspirasi untuk membuatnya sendiri. Kemudian ia mendatangi ahli pembuat dildo dan minta dibuatkan yang sama seperti Coritto.

Pandangan soal Onani

Banyak yang menganggap onani adalah hal yang sangat tabu dibahas. Sehingga tak jarang, ketika ada seorang yang ingin bertanya soal onani saja ia akan merasa sangat cemas karena takut dihakimi.Seperti pada Abad Pertengahan, masturbasi dianggap sebagai kegiatan terlarang bahkan dianggap kelainan. Para filsuf semperti Immanuel Kant menganggap mastubasi adalah akar kebejatan masyarakat. Secara moral, masturbasi dianggap sebagai sebuah penyakit menyeramkan.

Namun saat ini, kegiatan merangsang alat kelamin mulai dipandang dengan perspektif yang lebih liberal. Salah satunya disebabkan dari riset penting yang dilakukan oleh seksolog Alfred Kinsey yang melakukan penelitian mendetail tentang seksualitas manusia di University of Indiana. Menurut penelitiannya, masturbasi tak ada hubunganya dengan gangguan apapun.Dr. Eli Coleman, seorang profesor di Departemen Kesehatan Keluarga dan Masyarakat, University of Minnesota mendukung penggunaan adanya alat bantu seks untuk membantu seseorang mengenali tubuh dan seksualitasnya. Karena menurutnya, mastubasi adalah bentuk ekspresi seksual yang sehat.

Manfaat Onani

Pergeseran pandangan soal onani yang kini cenderung positif ternyata dimanfaatkan sebagai sebuah bisnis di Jepang. Jepang memang sangat identik dengan industri seksnya, namun ini berbeda. Sebab baru-baru ini “whitehands” menjadi topik hangat karena memberikan jasa bantu onani untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Jasa ini ditujukan untuk membantu pelepasan seksual bagi penderita paralisis dan gangguan otot yang tidak dapat bermasturbasi secara normal. Sama seperti orang normal, orang berkebutuhan khusus juga memiliki hasrat seksual yang butuh dilepaskan. Oleh karena iti, jasa ini diadakan demi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dampak Buruk Onani

Walaupun kini sebagian masyarakat menganggap masturbasi adalah hal lumrah dan bahkan sehat, namun pada kenyataanya melakukan masturbasi berlebih ternyata malah dapat memperburuk kesehatan. Banyak kasus ditemukan tentang penis yang lecet dan berdarah serta perempuan yang terlalu sering menggunakan vibrator sampai kulit vaginya terluka. Selain gangguan secara fisik, terlalu banyak onani juga dapat berdampak buruk terhadap sisi psikologis, seperti ketergantungan, cemas, merasa berdosa, bahkan hingga  ejakulasi dini.

Kesimpulan

Bicara soal masturbasi memang tidak bisa digeneralisir untuk semua orang. Setiap orang punya pandangan masing-masing terhadap seksualitasnya. Salah satu hal yang terpenting adalah, keyakinan dalam diri. Jangan sampai keyakinan tertentu soal masturbasi (entah yang pro atau yang kontra) malah menjadikan masalah baru. Jika kamu pro, lakukan lah sewajarnya. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ibaratnya, seseorang yang terlalu banyak minum vitamin C juga malah bisa mengalami kerusakan ginjal. Dan jika kamu kontra, maka yakini saja bahwa itu baik untukmu. Yang terpenting, jangan sampai keyakinanmu itu malah membuatmu bermasalah. Sebab banyak kasus yang seseorang stress karena merasa sangat berdosa besar setelah melakukan masturbasi.

Ingatlah, tubuhmu adalah otoritasmu.

 

Nonton Bareng dan Diskusi Film “Something In The Way”

Sebelumnya nggak pernah kepikiran untuk ngadain nonton bareng yang di dalemnya ada diskusi seksualitas. Semuanya serba langsung, dan tidak pernah direncanain dari jauh-jauh hari. Semua ini berawal dari kekepoanku tentang orientasi seks Reza Rahadian. Entah aku habis nonton apa atau habis baca berita apa, tiba-tiba aja aku penasaran banget tentang itu. Mulai deh browsing bin googling, buka tab satu dengan tab yang lainnya. Ada yang bilang di Gay, dan ada juga yang bilang dia straight. Cukup sulit sih melihat pola Reza Rahadian lewat sosmed karena dia nggak punya sosmed (suer aku salut!). Nah dari banyak tab yang aku buka, aku nggak sengaja buka satu tab yang berisi resensi film yang dia mainkan. Bukan Habibie Ainun dan bukan pula My Stupid Bos, tapi Something In The Way.

Makin banyak komen yang aku baca tentang film itu, makin penasaran pula aku sama filmnya. Langsung deh cek youtube buat liat trailernya, dan…… SUMPAH AKU MAKIN PENGEN NONTON!!!!!!!! Sayangnya, film itu ditayangkan di bioskop mainstream, selain karena film indie film itu juga mengandung unsur “awrrr” yang akan hilang esensi filmnya kalo kena sensor. Untunglah, di semarang ada sebuah komunitas film bernama SineRoom yang spesial screening film indie. Setelah aku kontak, apakah bisa nonton film itu, ternyata film itu sudah pernah di puter bulan November 2016 kemaren. Karena saking pengennya, akhirnya si Ay negoin biar bisa diputer ulang. Mereka ngasih syarat minimal 15 orang, karena ada donasi untuk film tersebut. Okeh! Siapa takut! hahaha …

Singkat cerita, dalam waktu kurang dari 1 minggu aku mempersiapkan acara nonton bareng itu. Awalnya cuma niat untuk nonton doank, tapi setelah dipikir-pikir kok sayang ya kalo hanya sekedar nonton, akan makin seru kalo ada diskusi di ending acaranya. Dalam benakku diawal nggak terlalu muluk-muluk sih, aku bisa datengin 15 orang aja sudah Alhamdulillah.

Hari pemutaran pun tiba. Sebanyak 20 orang mendaftar untuk dateng ke acara nobar. Seneng rasanya bisa melampaui target hehe. Tapi, ada hal yang nggak terduga. Penonton yang dateng ternyata lebih banyak dari yang daftar, ya kira-kira ada 40 orang. Jujur aku kaget banget. Bahkan sampe ada yang cancel karena nggak kebagian tempat duduk 😀

Sesi Diskusi

Sesi Diskusi

Setelah nobar, di akhir cerita ada diskusi tentang film dan berhubungan dengan seksualitas. Sedikit bocoran ya, di film ini ada dua hal yang menonjol di perlihatkan oleh sutradara yaitu perilaku onani yang berlebihan dan kehidupan nyata pelacur. Dalam diskusi ini aku ditemani oleh Mas Slam (PKBI Jateng) dan Mas Reza sebagai moderator diskusi. Diawal diskusi, banyak yang menanyakan tentang bagaimana mengurangi perilaku onani berlebihan seperti yang diperankan oleh Reza Rahadian. Aku baru sadar, nggak hanya remaja aja yang dilema dengan hal tersebut yang udah dewasa juga mengalami hal yang sama. Setelah banyak diskusi tentang onani dan marturbasi dari perspektif psikologi dan kesehatan, aku dan Mas Slam juga banyak membahas sisi pelacur yang tak banyak orang tahu.

Inti dari acara ini tak sekedar untuk nonbar saja, tapi dibalik itu semua kami ingin membuat ranah seksualitas menjadi umum untuk diobrolin dan didiskusiin. Bukan ingin ngumbar kesaruan atau apa, tapi ini atas dasar edukasi. Makin banyak yang open mind terhadap hal terkait seksualitas, makin banyak pula yang jadi sadar kalo itu semua bukan hal yang tabu. Selain itu, dari diskusi kemarin kami ingin lebih banyak orang yang mulai megurangi stigma terhadap pelacur. Setiap orang punya salah dan punya dosa, tapi setiap orang juga punya kesempatan yang sama untuk merubah hidupnya jadi lebih baik.

Sekali lagi thanks yang udah dateng…. InsyaAllah, next kami buat acara nobar yang lebih rame dan lebih “awwwrrrrr” lagi 😛