Posts

lukisan perdagangan perempuan di timur tengah

Pelacuran di Timur Tengah

Pastinya semua sudah pada tahu kalo yang namanya zina itu sangat diharamkan untuk umat muslim. Sebagian besar negara muslim melarang adanya perzinahan terlebih yang teroganisir. Namun sayangnya, fakta dilapangan berkata lain. Walau dilarang, namun angka pelecehan sangat tinggi, terlebih pelacuran tetap saja bisa berkembang pesat di negara mayoritas muslim. Berikut ini, beberapa negara dengan angka pelacuran yang tinggi:

ARAB SAUDI

Arab Saudi terkenal dengan Mekah dan Madinah yang terdapat Masjidil Haram dan Masjid Nabawinya. Banyak orang muslim seluruh dunia ingin sekali pergi ke sana untuk beribadah. Selain untuk beribadah, Arab Saudi memiliki magnet yang sangat kuat juga untuk para tenaga kerja asing, contoh realnya Indonesia. Banyak wanita Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi TKW agar hidupnya lebih sejahtera dan bahagia. Namun, sayangnya tak semua harapan menjadi TKW yang sukses itu diraih. Banyak hal yang membuat TKW tidak betah dengan pekerjaan mereka. Tak sedikit dari mereka yang mendapatkan kekangan, kekerasan bahkan sampai pemerkosaan, hingga membuat mereka melarikan diri dari majikan.

Saat kondisi terdesak itulah, banyak oknum-oknum yang memanfaatkan kondisi mereka dengan memberikan tempat singgah, makanan, dan pakaian. Para mafia yang memanfaatkan kondisi para TKW yang kabur itu pada akhirnya memaksa mereka untuk menjadi pelacur dengan dalih untuk membayar semua fasilitas di tempat singgah yang telah diberikan.

Tentu saja si TKW tidak mempunyai uang buat pengganti. Mereka pun terpaksa menerima ‘paksaan’ dari mafia untuk menjadi pelacur. Pelanggannya kebanyakan para kuli atau tenaga kasar dari Pakistan, Bangladesh, India, dan negara-negara Afrika. Sedangkan, uang jasa pelayanan seks itu hanya 50 riyal untuk lima atau bahkan 10 orang. Tak bisa dielak, pelacuran di Arab Saudi didominasi oleh pelacur dari Indonesia. Karena terlanjur dikenal sebagai pemasok pelacur di Arab Saudi, orang Pakistan, India, dan Bangladesh menganggap semua TKW Indonesia adalah pelacur. Ada anggapan yang menyebar disana bahwa  bagi orang India dan Pakistan, orang Indonesia itu syarmuth (pelacur). Buseet!

TURKI

Sejak akhir abad ke-19, wilayah Turki sudah sangat marak dengan adanya bisnis seks. Pelacuran atau yang sering disebut Fuhus di Turki, berkembang pesat di media 1870an, terutama di kota terbesar di Turki seperti Istanbul. Distrik Beyoglu, layaknya jadi “surga” bisnis seks di Istanbul, setidaknya hingga 2001.

Prostitusi dilegalkan oleh pemerintah Turki saat Turki sudah menjadi negara republik modern pada tahun 1923. Sama seperti negara-negara lain, perdagangan manusia untuk tujuan bisnis seks juga menjadi problematika untuk  pemerintah Turki sendiri. Para pelacur seringkali  diselundupkan ke Turki melalui Turkmenistan, Uzbekistan, Armenia, Moldova, Kyrgyzstan, Belarusia, Bulgaria, Ukraina dan bahkan ada yang dari Indonesia. Mereka tersebar tidak hanya di Istanbul, namun juga di Ankara, Bursa, serta Izmir. Tarif  penjaja seks menawarkan diri tidur dengan bayaran Rp 200 ribu per jam. Setiap hari, para perempuan pemuas nafsu itu bisa melayani hingga 15 lelaki hidung belang.

DUBAI

Prostitusi terselubung juga terjadi di Kota Dubai, Uni Emirat Arab. Pelacuran cenderung lebih rapi dalam menyembunyikan perilaku mereka hingga tidak pernah ketahuan oleh polisi syariah. Rata-rata hotel di Dubai biasanya memberikan layanan dengan menyediakan perempuan untuk menemani tamu yang kebanyakan dari Asia. Ketika tamu hotel ingin mengajak bercinta, maka dilakukan di dalam hotel karena pekerja seks dilarang untuk diajak keluar hotel dengan alasan apa pun.

LIBANON

Ibu Kota Beirut di Libanon Utara menjadi negara mayoritas berpenduduk muslim yang mengijinkan pelacuran diawasi hukum. Wilayah merah ini terletak di Kota Jounieh. Banyak bar dan hotel yang berada disana. Untuk bisa membeli seks, para laki-laki hidung belang harus rela membayar sebesar Rp 900 ribu hanya untuk tiga jam. Para pelacur yang bekerja di Libanon kebanyakan berasal dari Ukraina, Rusia, Maroko, dan Republik Dominika. Sedangkan para pria pemburu seks yang datang  rata-rata berusia 50-60 tahun yang beralasan jenuh pada kehidupan rumah tangganya. Ckckckc..

 

pelacur low class

Pelacur Low Class, Middle Class, High Class (part 1)

Pelacur, mungkin terdengar kasar yaa.. Tapi bila ditilik dari arti kata pelacur sesuai dengan KKBI pelacur berasal dari kata lacur yang berarti malang; celaka; sial; buruk laku. Namun bila dijabarkan lagi, sebenarnya tidak semua perilaku orang yang menjual diri itu buruk, hanya saja apa yang dilakukannya untuk mendapatkan uang tersebutlah yang buruk, jadilah disebut dengan pelacur.

Dibanyak media massa, pada saat-saat tertentu pasti akan dimunculkan tentang isu atau berita yang berhubungan dengan pelacuran. Mulai dari isu penutupan lokalisasi, tertangkapnya manager artis yang merangkap sebagai mucikari, dan berita pembunuhan seorang pelacur yang mayatnya ditemukan termutilasi di jalan tol. Dari contoh yang aku sebutin diatas, taukah apa perbedaanya? Yap, kalo pada sadar sebenarnya aku sudah menyebutkan tentang grading atau pengklasifikasian pelacur menurut kelasnya.

Pada postingan kali ini, dengan senang hati aku akan membahas tentang pengklasifikasian pelacur menurut dengan kelas beserta servisnya, cekidot yah!

  1. Pelacur Low Class tipe A

Pelacur kelas bawah itu biasanya yang sering kita lihat dipinggir jalan. Dandan seadanya dan menerima tamu yang seadanya pula. Biasanya penampilan tidak terlalu dipedulikan, karena modal mereka juga terbatas. Tempat mangkalnya tidak selalu di pinggir jalan, namun bisa juga di terminal, stasiun kereta atau tempat-tempat yang sudah terkenal sebagai lokalisasi dadakan. Kalo di Semarang itu seperti di kawasan Blerok, Kota Lama, Polder Tawang depan Stasiun Tawang,  kawasan TI, terminal Terboyo, dan masih banyak lagi. Target tamu yang mereka sasar juga biasanya yang berdopet pas-pasan seperti tukang becak, kuli bangunan, supir trek, dan sejenisnya. Untuk harga? Ya biasanya berkisar 30rb – 75rb atau sesuai dengan kesepakatan tawar menawarnya. Bahkan aku pernah juga mendapat cerita dari salah seorang teman bahwa dia pernah ditawari hanya membayar 5rb untuk menghisap puting saja. Selain harga servis yang relative sangat murah ternyata pelacur kelas bawah menawarkan banyak bonus. Yap! Bonus penyakit hehehe. Lalu layanannya apa saja? untuk pelacur kelas bawah memang hanya menawarkan jasa seks konvensional, prinsipnya bisa masuk dan langsung keluar…

  1. Pelacur Low Class tipe B

Pelacur kelas bawah tipe B secara prinsip sebenarnya tidak berbeda dengan yang tipe A dalam hal layanan seks, yang berbeda yaitu tempat, penampilan dan harga pastinya. Tipe B masih punya modal untuk bersolek, beli wewangian, dan beli baju-baju seksi. Saking ingin terlihat menonjol, kadang penampilan mereka berlebihan sehingga terlihat norak. Untuk tempat mangkalnya biasanya sudah terlokalisir seperti di lokalisasi Sunan Kuning, GBL, kawasan stasiun Poncol, dll. Lokasi-lokasi tersebut biasanya sudah terdaftar dalam sebuah lembaga yang mengurusi tentang pelacuran untuk kepentingan akses kesehatan. Jadi bisa dibilang secara kesehatan pelacur kelas bawah kemungkinan terjamin, namun sayangnya tidak bisa dipastikan semua pelacur yang mangkal di lokalisasi bebas dari penyakit-penyakit kelamin. Ya ibaratnya seperti undian. Soal harga pastinya mereka punya batas bawah, rata-rata mereka mematok harga 150rb. Bagi pelacur yang punya grade biasanya mereka bisa mendapat pelangggan yang rela membayar sampai 1 jtan untuk menginap semalaman. Secara servis, kebanyakan masih bermain pada level konvensional. Kalopun ada yang bersedia free style itupun hanya bisa dihitung jari. Lalu siapa pelanggannya? Nah untuk sebaran tamunya cukup luas dari berbagai kalangan. Ada yang mahasiswa, pengusaha, pejabat, aparat berwajib, preman kelas menengah, dll. Namun perlu dicermati pelanggan mereka juga kebanyakan yang berasal dari kalangan ekonomi menengah, kalopun pejabat atau aparat juga bukan yang punya pangkat yang tinggi-tinggi banget. Oh ya tamu yang datang ke lokalisasi banyak juga pria-pria yang sudah berumur, yang jengah dirumah karena istri tak lagi menarik. Biasanya tamu om-om ini tak selalu berakhir kentu namun lebih senang ditemani karaoke atau hanya sekedar sebagai peneman ngobrol.

To be continued ….

“Disclaimer: Postingan ini bertujuan untuk edukasi semata”

Cerita Sex dari Timur Tengah

13 Juli 2016 kemarin aku and the genk dateng ke Open House nya Pakdhe Prie GS. Ih wow seneng rasanya bisa dateng, apalagi disana bisa ketemu Om Pras yang spesial dateng dari Jakarte.

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

with Om Pras dan Pakdhe PrieGS

Sayangnya aku dateng telat, jadi aku hanya duduk lesehan di belakang dan langsung mengikuti acara yang sudah berlangsung setengah jam yang lalu. Dari bagian belakang, aku hanya bisa melihat dari jarak jauh bahwa di depan ada empat orang yang duduk di kursi. Satu diantaranya jelas Pakdhe Prie yang punya gawe, dan ketiga lainnya aku tak mengenalnya. Saat itu Pakdhe Prie sedang berdialog dengan seseorang yang sedang menjabarkan suatu pengetahuan tentang keIslaman, tak lama aku baru tahu bahwa beliau adalah Prof Sumanto.

Dari dialog itu aku baru menyadari bahwa Prof Sumanto itu bukan orang sembarangan. Beliau adalah seorang  professor dan juga dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas. Tak hanya sebagai dosen, saat ini beliau juga sebagai tim penyeleksi para calon-calon professor di beberapa universitas di luar negeri. Nih profil singkatnya..

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

sumber: www.mei.edu/profile/sumanto-al-qurtuby

Singkat cerita, saat dialog tersebut Prof Sumanto menekankan bahwa sebenernya banyak orang Indonesia yang sebenernya kena “tipu” dari sekelompok orang yang tidak ingin Indonesia jadi lebih maju. Sebenernya, tren ke Arab-Araban yang banyak orang ikutin itu udah sangat amat ketinggalan zaman di Negeri Timur Tengah sendiri. Padahal di Timur tengah sendiri perkembangannya sudah sangat pesat.

Prof Sumanto juga menekankan, jangan salah mengartikan orang yang tidak berhijab itu derajat keimanannya lebih rendah dari yang berhijab. Karena saat ini banyak sekali orang Indonesia (khususnya) yang menjudge segala sesuatu itu hanya dari simbol, seperti hijab, jenggot, dahit hitam contohnya. Drajat keimanan seseorang itu bukan manusia yang menilai, tapi Allah SWT. Dan yang belum banyak orang tau bahwa anjuran berhijab itu bukan hanya umat Islam saja, tapi semua agama menganjurkan untuk berhijab, ada agama Kristen, Katolik, Yahudi, dll. Jadi sebenernya tolak ukur  orang Islam itu bukan berhijab dari atributnya.

Di tengah sela-sela bincang-bincang santai, aku mulai mendekati Prof Sumanto untuk menanyakan beberapa hal khususnya yang berkaitan dengan social science. Bukan Yori namanya kalo gak ngulik-ngulik soal dunia sex, haha. Jadi dengan tanpa rasa malu aku langsung aja tanya tentang hasil-hasil riset yang berhubungan dengan prostitusi di Timur Tengah sana. Prof tau yang aku tanyakan bukan hal tabu, karena aku bertanya dalam koridor ilmu pengetahuan, jadi saat ada seseorang yang mencoba membuat itu sebagai guyonan Prof Sumanto langsung tak menggubrisnya.. Hahaha suka banget! 😀

diskusi serius :D

diskusi serius 😀

Jadi begini hasil perbincanganku dengan Prof Sumanto yang sangat amat singkat :

Praktek prostitusi yang formal jelas tidak ada, tapi biasanya kegiatan tersebut dilakukan di Bahrain tetangganya Saudi. Jadi apa-apa yang di haramkan di Saudi, di halalkan di Bahrain. Jadi ada club malem, bioskop dll. Kalo kalian inget ada video pria-pria timur tengah menyawer seorang penari perut itu adalah salah satu contohnya.

Kalo di Saudi jelas tidak ada lokalisasi yang formal, mungkin ada tapi sangat privat banget. Kalo di Bahrain, Libanon, dll itu jelas ada dan sangat terbuka. Bisanya, kalo di Bahrain mereka ada aturannya, boleh kegiatan seperti itu tapi hanya untuk warga bukan Bahrain, maksudnya adalah warga pendatang.

Selain dunia prostitusi tersebut, aku juga menanyakan tentang praktek pernikahan sesaat hanya untuk halal-isasi hubungan seks kilat, yang pernah aku dapatkan faktanya di lokalisasi Sunan Kuning. Prof Sumanto menjelaskan bahwa praktek pernikahan tersebut adalah Nikah Misyar. Beliau menjelaskan bahwa Nikah Misyar adalah semacam turisme seks atau nikah jalan-jalan. Tidak semua orang mempraktekan Timur Tengah mempraktekan, tapi faktanya tetap ada walau sedikit.

Dari pertemuanku dengan Prof Sumanto memberikanku sebuah jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku pendam. Apa yang aku asumsikan selama ini ternyata benar bahwa mau di Arab Saudi ataupun di tanah Timur Tengah  praktek prostitusi itu pasti tetap ada.

Intinya adalah Manusia itu dimana-mana sama, akan mencari celah sesempit apapun. Diatur seketat apapun akan mencari celah untuk kebutuhan “seks” tersebut. Jadi jangan salah sangka kalo orang Saudi itu semuanya taat. Mereka di back street banyak sekali melakukan seperti itu. Mereka hanya taat saat di publik, karena kekhawatiran ada Polisi Syariat. – Prof Sumanto

Jadi please buat kalian jangan mau di Arab-isasi. Jadilah INDONESIA, yang punya jati diri sendiri. Penjajah jaman sekarang itu gak lagi pake senjata api, tapi pakai isu-isu yang bikin kita semua pada tercerai berai. Jangan mudah terprofokasi dari kelompok-kelompok tertentu, pikirlah dulu sebelum bertindak.

Cheers!!

Yori dan Seksologi

Hai.. Hai.. I’m come back setelah hampir seminggu nggak posting tulisan karena (sibuk) liburan, hehe. Sebelumnya aku mau ngucapin, Selamat Hari Lebaran Mohon Maaf Lahir dan Batin..

Sesuai dengan janji yang udah-udah.. Kali ini aku akan cerita tentang gimana aku bisa demen banget ngebahas hal tentang lokalisasi atau prostitusi di blog akuh.. Aku pengen banget share tentang proses aku menemukan kegemaranku mengulik hal yang berkaitan dengan pelacuran, mulai dari awal hingga sekarang.

Nah awalnya, aku gak pernah terpikir loh bisa dengan leluasa keluar masuk lokalisasi seenak jidat kaya sekarang. Boro-boro masuk, tau tempat persisnya aja enggak. Proses aku bisa seperti sekarang itu menurutku nggak terduga dan surprise banget.

Aku memang sudah minat tentang hal yang berbau seksualitas ketika aku S1, saat aku mengambil mata kuliah pendidikan seksualitas. Yang bikin aku tertarik adalah, dalam mata kuliah itu dosen memberikan tantang pada mahasiswa untuk berani menyebutkan nama alat kelamin (baik nama latin maupun sebutan awam). Menurutku itu kelas yang bikin aku takjub! Aku masih ingat salah satu dosen memberikan saran demikian:

“Kalian kalo memang serius memberikan penyuluhan seksualitan ya gak boleh malu nyebut kont0l, memek, dan sebutan-sebutan awam lainnya. Kalo kalian aja malu gimana materinya bisa sampai ke audience, karena audience yang kalian hadapi akan beragam.”

Mulai dari situ aku mulai sangat tertarik mempelajari lebih, gimana bisa hal yang selama ini dianggap tabu olehku bisa menjadi hal yang membuka wawasanku lebih luas lagi. Ketertarikanku pada dunia seksualitas bertambah ketika aku mengikuti sebuah konferensi Asosiasi Seksologi Indonesia ASI tahun 2014 lalu di Surabaya.

Aku tak pernah mengikuti konferensi sebuah asosiasi sebelumnya. Ketika daftar ulang aku melihat sebagian peserta yang ikut adalah dokter-dokter spesialis, dan aku juga menyadari bahwa aku satu-satunya peserta yang paling muda dan satu-satunya yang bukan dokter. Karena hiruk pikuk peserta yang banyak, panitia salah menuliskan gelarku menjadi gelar dokter, haha.

Name tag salah gelar :D

Name tag salah gelar 😀

Di hari-hari pertama mengikuti acara aku agak roaming, karena materi-materi awal membahas materi yang kental dengan istila kedokteran. Tapi, aku tetap stay cool dan beberapa bertanya pada teman di sebelah apa maksudnya. Setiap istirahat aku memberanikan diri berkenalan dengan peserta lain yang sebagain besar dokter spesialis, ada spesialis andrologi, kulit kelamin, psikiater, dll. Salah satunya dr. Agustinus , Androlog kece dari Surabaya.

Hari kedua adalah hari yang aku tunggu, karena ada materi yang dibawakan oleh Prof. Drs. Koentjoro Soeparno, MBSc., PhD. Psikolog yang membahas tentang Male and Female Prostitution in Indonesia. Menurutku ini materi yang paling menarik karena membahas hal yang berkaitan dengan psikologi. Materi yang dibawakan Prof Koent makin bikin aku penasaran apalagi dengan hal prostitusi. Aku inget banget gimana Prof Koent menjelaskan sejarah prostitusi dan perkembangannya. Beliau menjelaskan dengn semangat banget. Auranya keluaar lah pokoknya, hehe.

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Setelah selesai ngasih materi, aku langsung mendekatinya. Awalnya sangat malu tapi aku coba ikut-ikutan nimbrung sama peserta lain yang ngobrol sama Prof Koent. Hingga akhirnya aku mendapatkan kartu namanya dan bisa berfoto bersama. Mulai dari situ aku mencari segala sesuatu yang berkaitan dengannya, dan aku mendapatkan sebuah buku karangan Prof Koent yang berjudul “Tutur dari Sarang Pelacur”. Aku membaca selembar demi selembar hasil riset yang beliau lakukan, hingga aku makin tertarik lagi mempelajari tentang pelacuran. Aku pernah juga sekali main ke rumah Prof Koent di Jogja, tapi karena belum jodoh jadi belum bisa ketemu lagi.

Belajar tentang pelacuran itu gak afdol kalo belum menginjakan kaki ke lokalisasi. Pada saat itu aku baru sebatas ingin dan belum terlalu berani untuk benar-benar mendatangi sebuah lokalisasi. Tapi selang beberapa waktu kemudian, Tuhan memberikan jalan dengan sangat cantik padaku, yaitu saat ada seorang teman yang menawariku untuk bergabung pada project sosialnya di sebuah lokalisasi.  Betapa indah jalan Tuhan..

Mulai dari situ aku banyak belajar tentang pelacuran secara langsung di lokalisasi, terlebih aku pun mendapatkan kesempatan bekerja disitu. Banyak hal baru yang bikin aku takjub, shok, sampe ngelus dada. Disitu tak semua yang orang awam pikirkan terjadi, dan bahkan diluar ekspektasi.

Aku menjadi yakin, bahwa suatu perubahan itu bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari sebuah lokalisasi yang dianggap sebagai tempat sampah masyarakat. Jadi, dengan ketertarikan dan minatku terhadap dunia seksologi aku ingin bisa membuat suatu perubahan. Perubahan kecil tapi berdampak besar untuk Indonesia kedepan.

Terimakasih untuk para inspirator yang telah memberikanku inspirasi untuk mendalami hal ini. Semoga kedepan aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi hebat lainnya.

Cheers!