Posts

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 4

Kehidupan pelik sebagai wanita pekerja seks ia hadapi penuh dengan lapang dada. Ia mengakui bahwa keputusannnya untuk masuk ke dunia pelacuran adalah keputusan yang penuh dengan resiko. Ia sadar bahwa ia tidak boleh menyesali keputusannya ini dan harus sudah siap menanggung segala resikonya.

Aku sudah tau dari awal tentang konsekuensinya jadi buat apa aku sesali. Memang dari awal aku sudah menyesal, penyesalanku sudah  aku taruh di depan. Karena dari awal kan sudah salah, jadi buat apa aku sesali.”

Segala macam resiko mulai dari hinaan hingga makian sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. Puput cukup cuek dalam menghadapi hal itu, namun ia tak bisa untuk tak peduli saat cintanya kandas karena status sebagai pekerja seks yang sangat melekat.

Sebelumnya Puput sudah bertunangan dengan pria yang akan menjadi suaminya. Hari-harinya dilalui dengan penuh harapan akan masa depan bahagia yang sudah mulai mereka rintis berdua. Dengan uang yang sudah Puput kumpulkan, Puput akhirnya memutuskan untuk membuka bisnis bersama calon suaminya. Banyak bisnis yang mereka jalankan bersama seperti bisnis rental mobil, jasa bengkel, serta beberapa bisnis lain. Dari situ Puput banyak belajar tentang bagaimana mengelola bisnis dengan baik.

Saat itu Puput percaya bahwa pria yang kini mendampinginya adalah pria terakhir yang bisa membahagiakannya. Secara perlahan tapi pasti Puput kembali beribadah seperti dahulu lagi. Rasa percaya bahwa dirinya berharga dan diinginkan orang lain semakin meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga membawa perubahan positif terhadap diri Puput.

Ternyata harapan tak selalu menjadi kenyataan. Hubungan yang dijalinnya ternyata tak mampu berakhir hingga tahap pelaminan. Statusnya sebagai pekerja seks adalah sumber masalah utama yang membuat hubungannya tak bisa lagi dipertahankan. Kegagalan hubungan yang dibinanya membuatnya kembali menjadi Puput yang dulu, yang tak lagi peduli dengan keadaan yang dialaminya.

Walaupun ia seorang pekerja seks, ia juga tetap wanita biasa yang merindukan dekapan hangat dari seorang pria yang benar-benar ia cintai. Hubungan yang sudah dijalin selama hampir satu tahun lamanya kini sudah kandas. Ia tak lagi memiliki pria yang akan menariknya keluar dari lembah hitam pelacuran.

Semenjak aku putus sama tunanganku, aku berubah lagi orangnya seperti sebelumnya. Kaya udah gak mau sholat dan mujarat. Keluar pun juga dengan pakaian yang umbar-umbaran, sudah tidak jaga aurat. Udah gak jaga diri. Mau gemuk mau apa ya terserah. Kadang aku pelariannya ke makan, ke minum, dah gak berpikir aku harus cantik, aku harus gini-gitu. Ah luweh (terserah) !

Namun, dibalik kegagalan itu ia mengambil suatu pelajaran yang berharga bahwa ia semakin bertekad menjadi orang yang sukses. Orang yang beruang dan bermateri sehingga tak ada lagi orang yang  bisa melakukan hal yang semena-mena padanya.

Orang mau cinta, mau jatuh cinta sama aku monggo aja terserah yang penting aku mau uang!! Udah gitu aja.”

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 3

Keputusan untuk merantau di negeri orang ternyata menjadi awal bencana bagi kehidupan Puput selanjutnya. Bekerja menjadi TKW ternyata tak semanis dari yang selama ini ia dengar dari tetangga-tetangganya. Tak hanya kehidupan yang keras yang harus dialaminya, ternyata  Puput juga menjadi korban perkosaan saat bekerja di negeri rantauan.

Hilangnya kegadisan yang selama ini ia jaga rapat-rapat ternyata membuka pintu gerbang masuknya Puput ke dunia prostitusi. Semenjak kejadian itu, menurutnya ia berubah menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan sebelumnya yaitu menjadi sosok pribadi yang “nakal”. Tak ada lagi sikap menjaga diri yang Puput lakukan dan semenjak kejadian itu, ia tak lagi menggunakan hijab dan mulai memasuki pergaulan malam.

 “Semenjak aku diperkosa itu kehidupan aku tuh udah bener-bener gak layaknya kehidupan, gak ada kebaikan sama sekali. Kaya gak ada Tuhan gitu loh. Kaya bener-bener gak ada gusti Allah. Aku udah gak pernah ngaji, udah gak pernah di pondok, ya pokoknya udah gak adalah yang kaya gitu-gitu. Udah gak ada semuanya. Dan aku kenal minuman – minuman. Dulu tuh jangankan minuman, pacaran aja enggak pernah. Itulah awal mula kehancuran kehidupan aku, ya pokoknya ancur lah.. ancur lebur…

Tak seorangpun mengetahui tentang peristiwa pemerkosaan yang ia alami. Ia memutuskan untuk memendamnya sendiri dan tak mau orang lain tau. Perasaan sedih dan hancur yang menghinggapinya ia hadapi seorang diri.  Walau merasa hidupnya sudah rusak di negeri orang, namun Puput tetap bertekad untuk mengumpulkan uang demi kehidupan keluarganya di desa. Beberapa kali ia sudah mengirimkan uang ke desa untuk membeli tanah, namun ternyata mimpi itu kandas setelah tahu uang yang dikirimnya dilahap oleh saudara-saudaranya yang tak bertanggung jawab. Ia merasakan kegagalan yang cukup berat kala itu. Tak hanya kehilangan kehormatan sebagai wanita namun ia juga sudah ditipu oleh saudara-saudaranya di desa.

Kegagalan sebagai TKW ternyata semakin membulatkan niatnya untuk kembali pulang. Segala resiko siap ia tanggung karena memang ia tak lagi tahan dan ingin secepatnya pulang. Ternyata keputusannya untuk segera pulang tepat, tak disangka bahwa keadaan neneknya saat itu tidak baik. Neneknya kala itu sakit dan membutuhkan biaya yang lumayan banyak.

Justru waktu aku pulang itu nenek aku sakit. Terus aku bingung harus gimana. Akhirnya malah nambah hutang. Nenek aku sakit parah ya udah nggak punya jalan lagi akhirnya aku sampai di SK. Kebetulan saat itu ada yang nawarin untuk kerja disini.” ungkapnya padaku lirih.

Aku nggak bisa menghindar, karena anak-anak mbahku sudah tidak ada yang mau ngurusi. Mau gak mau, tanggung jawab itu 100% dibebankan ke aku. Ya sudah gak papa, karena mereka sudah menghidupi aku dari kecil dan aku juga merasa bahwa aku punya utang budi pada mbahku. Aku dulu sudah dihidupin, sekarang keadaannya dibalik bagaimana aku bisa menghidupi mereka. Aku harus bisa. Aku gak boleh ngeluh dan aku gak boleh protes, lha wong sekarang saatnya aku yang berkerja. Ya gimana pun caranya. Kalopun aku jadi pelacur ya sudah. Ya memang kehidupannya gini.”

Puput berani mengambil resiko bekerja di SK karena satu hal. Yaitu menurutnya SK memberikan suatu jaminan kehidupan yang lebih baik untuknya dan keluarganya. Semenjak ia terjun sebagai wanita peneman tidur, dalam beberapa hari sekali ia bisa mengirimkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat itu neneknya juga sedang membutuhkan tempat tinggal yang layak dan ingin Puput membangunkan rumah untuknya.

Awal bekerja sebagai pekerja seks, Puput masih menjadi pribadi yang mudah diinjak-injak oleh sudara-saudara dan tetangganya. Puput kadang merasa tak habis pikir, mengapa saudara-saudaranya masih saja mengganggu ketenangan hidupnya dengan seringkali meminta uang dengan jumlah tak wajar padanya. Pada satu titik akhirnya ia merasa muak dan jengah dengan keadaanya itu.

Aku gak boleh gini-gini terus, aku jadi orang harus berani! Terus pada akhirnya aku memutuskan untuk berani melawan saudara-saudaraku yang selalu bertindak semena-mena. Aku gak mau jadi orang gagal yang selalu diinjak-injak.

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 2

 “Oh ya, ngomong-ngomong kok mbak bisa sampai kerja disini itu ceritanya gimana?” tanyaku sambil mengunyah biskuit kelapa.

Panjang sih mbak ceritanya dan hidup yang aku jalani itu keras,” pintanya padaku saat ia mulai menceritakan tentang perjalanan hidupnya sambil sesekali mengunyah biskuit kelapa.

Kerasnya hidup yang ia jalani ternyata sudah dimulai semenjak ia ditinggal oleh ibunya untuk selamanya saat berusia 3 bulan. Dekapan hangat seorang ibu yang tak pernah ia rasakan menjadi awal mula kelamnya hidup yang harus ia lalui hingga ia dewasa. Walaupun sampai saat ini ia masih memiliki Ayah, namun karena sesuatu hal hubungan mereka tak begitu dekat, terlebih tak lama setelah ibunya meninggal ia diasuh oleh keluarga yang ada di Jawa Timur.

Menurutnya, awal kehidupannya di Jawa Timur sudah penuh dengan cobaan. Bagaimana tidak, Puput bercerita bahwa ia hampir saja dijual oleh keluarganya saat belum genap usianya satu tahun.  Hingga pada akhirnya ia diselamatkan oleh nenek dan kakeknya yang sampai saat ini sudah dianggapnya sebagai orangtuanya sendiri.

Puput memang tak dibesarkan dari keluarga yang kaya raya dan serba berlebih. Kakek neneknya tergolong salah satu dari sekian banyak warga miskin di desa. Namun, walaupun demikian Puput tetap diasuh sebaik mungkin oleh kakek neneknya di tengah keterbatasan. Selain keterbatasan yang Puput alami, ternyata selama hidup di Jawa Timur ia kurang mendapat penerimaan dari anak-anak kandung dari kakek neneknya. Menurut mereka, Puput hanyalah sebagai beban tambahan di keluarga. Sehingga saat Puput kecil hingga remaja, ia kerap kali mendapat perlakuan secara semena-mena oleh saudara-saudaranya.

Puput kecil hidup di tengah lingkungan agamis yang sangat kental. Semenjak SD hingga SMA, Puput bersekolah di sekolah madrasah yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Menurutnya, selama bersekolah ia merupakan salah satu siswa yang berprestasi. Sehingga tak heran baginya, saat duduk di bangku SMA ia diminta sekolah untuk menjadi guru mengaji bagi anak-anak kecil di sore hari.

Prestasinya di sekolah ternyata sangat bertolak belakang dengan pergaulannya di rumah. Puput mengaku bahwa dirinya seringkali diolok-olok oleh tetangganya karena ia hidup di keluarga yang miskin. Tak hanya persoalan materi saja yang menjadi bahan olokan tetangga-tetangganya, ternyata penampilan Puput yang masih berpenampilan kuno pada waktu itu pun menjadi bahan olokan yang sering kali menyakitkan hatinya.

Puput sadar bahwa menjadi seorang guru terlebih guru mengaji wajib menjaga penampilan yang tertutup. Untuk makan saja sulit apalagi untuk membeli pakaian yang bagus. Dengan penampilan seadanya dan menggunakan pakaian yang berwarna lusuh tak heran bila Puput terkesan  ndeso di mata tetangganya.

Puput kecil tumbuh menjadi remaja yang memiliki pribadi tertutup. Segala hal yang ia kerjakan hanya untuk membahagiakan sosok yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Puput sadar bahwa cita-citanya untuk bisa meneruskan pendidikan di sebuah universitas harus kandas karena melihat ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Puput saat itu hanya berfikir bagaimana harus mendapatkan uang sebanyak mungkin untuk membantu kehidupan keluarga yang kian hari kian tak menentu.

Gaji seorang guru selama lebih dari satu tahun tak pernah cukup untuk membantu menghidupi kehidupan keluarga sehari-hari. Tak ada lagi orang yang bisa diandalkan untuk membantu kehidupan keluarganya selain Puput seorang. Menurutnya, saudara-saudaranya sudah tidak lagi peduli dengan kehidupan kakek neneknya semenjak memiliki keluarga masing-masing. Semua dilimpahkan pada Puput. Dari keadaan yang demikian, akhirnya Puput memutuskan untuk merantau menjadi TKW di Malaysia.

to be continued…

Kisah sebelumnya,

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Kisah Puput

Mahkotaku yang Hilang Eps. 1

Puput adalah salah satu  pekerja seks yang sudah cukup lama aku kenal. Wajahnya yang selalu ceria saat bertemu denganku ternyata menyimpan luka batin yang luar biasa dalam. Puput yang kini berusia hampir 30 tahun adalah wanita asal Kalimantan yang sudah bekerja sebagai pekerja seks di SK selama hampir 3 tahun. Secara penampilan, Puput memiliki perawakan yang cukup berisi dan ia juga memiliki rambut yang hitam dan panjang. Sedangkan parasnya, Puput memiliki wajah yang bersih dan tergolong lumayan cantik.

Hari itu, tepatnya hari Selasa di pertengahan bulan Februari 2016 aku mengunjungi wismanya. Kebetulan aku datang saat pagi hari kira-kira pukul 9.15 wib. Pagi hari adalah waktu yang relatif aman bagiku untuk mengunjungi wisma, sebab pada pagi hari belum banyak tamu yang datang seperti sore menjelang malam. Aku mengunjungi wismanya karena memang sebelumnya aku sudah membuat janji dengan Puput.

Wisma Puput salah satu wisma yang terletak di gang yang cukup ramai. Walaupun letaknya di paling ujung, namun wisma yang berwarna dinding hijau cerah ini merupakan salah satu wisma favorit karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

Setibanya aku di pelataran wisma, tak ada seorang pun yang terlihat. Aku hanya melihat lorong gelap yang terlihat dari pintu depan yang terbuka. Tanpa ragu aku menghampiri ambang pintu dan mengetuk pintu sembari mengucap salam. Tak beberapa lama, datang seorang pria berperawakan kurus tinggi dan segera menghampiriku. Wajahnya masih tampak kusut sama seperti pakaian yang dikenakannya. Ia tampaknya operator karaoke yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Ya Mbak, cari siapa ya?” tanyanya sembari menggaruk-garuk lengannya.

Mbak Puput ada mas?” jawabku singkat.

Oh ya mbak langsung masuk aja,” jawabnya sambil membalik badannya dan menunjukkan dimana letak kamar Puput padaku.

Tanpa mengulur waktu aku langsung saja menghampiri kamar yang terletak paling pojok yang berdaun pintu berwana hijau tua. Aku langsung mengetuknya dan tak lama pintu terbuka. Terlihat Puput yang menggunakan daster baby doll warna merah muda di balik pintu. Puput langsung tersenyum padaku dan langsung mempersilahkanku masuk.

Maaf ya mbak aku belum mandi, kamar juga masih berantakan,” gumamnya padaku sembari merapikan letak bantal dan guling agar ada  sedikit ruang di kasurnya untuk tempatku duduk.

Sebenarnya ini pertama kalinya aku memasuki salah satu kamar di wisma tempat wanita pekerja seks mencari nafkah. Jujur, kala itu jantungku cukup berdebar karena aku menduduki tempat peraduan yang biasa digunakan Puput untuk melayani tamu-tamunya. Namun perasaan yang tak karuan itu segera aku buang jauh-jauh dan segera kembali fokus pada Puput.

Semalam selesai kerja jam berapa Mbak?” tanyaku sembari membuka obrolan.

Kayaknya jam 2 an deh, tapi habis itu aku gak bisa tidur sampai jam 5 pagi. Ni baru aja bangun mbak,” jawabnya sambil mengikat rambutnya.

Sontak aku langsung merasa sungkan karena tak enak sudah mengganggu waktu istirahatnya. Memang bagi pekerja malam seperti Puput, pukul 9 pagi adalah waktu untuk istirahat. Namun Puput segera menepis kesungkananku dengan mengatakan bahwa ia tak keberatan dengan kedatanganku dengan menyuguhkanku sebungkus biskuit kelapa.

to be continued…