Posts

nikahsirri

PERAWAN

Beberapa waktu terakhir ini jagad media cetak maupun elektronik sedang dihebohkan dengan lelang keperawanan di situs nikahsirricom. Banyak orang yang mengecam keberadaan situs tersebut sehingga kini situs itu tak bisa lagi di akses dan pemiliknya telah dipolisikan. Banyak berita beredar bahwa Aris, si pemilik situs kontroversial tersebut mengalami gangguan jiwa pasca gagal mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Entah benar atau tidak, aku tidak tahu. Tapi karena aku kepo dan ingin tahu apakah berita tersebut benar, maka langsunglah aku mencari berita-berita terkait di mbah google.

Aku menemukan salah satu situs portal berita online yang memberikan tautan ke situs Aris yang lain, yaitu partaiponsel.com . Tak menunggu waktu lama, aku menyegerakan untuk singgah di web yang mungkin kini trafic pengunjungnya sudah mencapai ratusan ribu per hari.

Baru membaca tulisan yang ada di home pagenya saja aku sudah mulai merasa aneh. Aku memang bukan ahli tata bahasa, tapi sebagai orang awam aku merasa banyak keanehan dari tulisan tersebut dilihat dari tata bahasa dan struktur katanya. Dan terlihat sangat jelas disitu ada obsesi berkuasa yang agak tidak masuk akal.Dalam website tersebut ternyata aku juga menemukan apa maksud dan tujuan Aris membuat situs nikahsirri. Menurutnya, nikahsirri merupakan salah satu program kerakyatan yang berada di Partai Ponsel miliknya.

“Nikahsirricom adalah pengejawantahan “konsep baru yang brutally honest” bahwa kelamin juga merupakan aset yang bisa dijadikan sebagai alat reproduksi untuk pemasukan dana bagi keluarga, yang sama halalnya dengan alat-alat produksi selama ini dikenal, seperti otak (bagi pekerja kerah putih) dan otot (bagi pekerja kerah biru).” Dikutip dari situs partai ponsel.

Setelah aku membaca kalimat tersebut pikiranku langsung melayang ke lokalisasi yang sering aku kunjungi. Para pelacur di lokalisasi juga menggunakan alat kelamin mereka sebagai alat untuk menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga mereka. Begitu pula dengan dalih menghalalkan perzinahan dengan nikah sirri juga sempat aku temukan di lokalisasi. Terdapat beberapa oknum kyai atau ustad yang menggunakan berbagai macam cara untuk menghalalkan proses transaksi seks yang mereka lakukan, yaitu dengan melakukan ijab sebelum berhubungan seks.

Kembali lagi ke soal Aris dengan nikahsirri-nya, walau kontroversial toh tetap saja banyak orang yang tertarik dan rela membayar token sebagai maharnya dan juga banyak mitra yang tertarik untuk bisa bekerja sama.

Pertanyaanya sekarang, apakah iya pola pikir kebanyakan orang masih menganggap wanita dari status keperawanannya saja dimana gadis perawan lebih mahal harganya dibandingkan yang sudah tidak lagi perawan? Lalu apa gunanya bagian lain seperti kemampuan otak, attitude, bakat dan segala potensi yang terkandung di tubuh seorang wanita?

Kalau begitu, beli saja boneka seks yang selalu perawan dan selaput vaginanya tidak akan pernah sobek walau sudah dihujam berkali-kali.

friends with benefit

Tanya Yori #2 : Pilih Onani atau Friends With Benefit Relation ?

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang pria yang mengirimkan message melalui aplikasi chat. Kurang lebih seperti judul yang aku tulis. Pertanyaannya memang belumaku jawab secara gamblang, karena chat tidak berlanjut setelah aku bertanya “Kronologisnya gimana ya?”

Nah, karena aku tidak tahu menahu gimana jalan ceritanya sampai pertanyaan itu muncul, maka aku nggak bisa bantu suggest apa-apa. Jadi lewat tulisan ini aku akan sedikit menjelaskan tentang apa itu Friends With Benefit Relationship atau yang sering disingkat FWB ini secara umum.

Apa itu Friends With Benefit?

Awalnya, jujur aku bingung ketikan ditanya tentang FWB itu apa. Tapi setelah tahu kepanjangannya, aku jadi ingat salah satu film yang diperankan oleh Justin Timberlake dan Mila Kunis dengan judul yang serupa dengan bahasan ini dan satu lagi judul film No Strings Attached yang cukup terkenal.

friends with benefit

Bagi yang belum pernah nonton filmnya atau familiar dengan relasi jenis ini pasti bingung kan ya.. Namanya temen itu saling menguntungkan dengan saling tolong menolong satu sama lain. Tapi yang dimaksud dengan FWB lebih sekedar saling tolong menolong, tapi sudah sampai pada relasi seksual.

“Friend with Benefits is two friends who have a sexual relationship without being emotionally involved” – urbandictionary

Jadi gampangnya, Friends With Benefits ialah keadaan dimana dua orang teman memutuskan untuk saling behubungan seksual tanpa adanya ikatan emosional atau dua orang yang melakukan hubungan seksual secara casual tanpa adanya komitmen untuk berada dalam suatu ikatan.

Cuma temenan, bukan pacaran, tapi begituan.

FWB ini bisa terjadi tidak hanya pada heteroseks saja, namun juga bisa pada homoseksual dan orientasi seks lainnya. Yang menjadi ciri dalam relasi ini ialah sama-sama bersedia menjalin hubungan tanpa adanya romantisme, tidak memiliki keterikatan pada komitmen hubungan layaknya hubungan pacaran serius (yakalii.. pacaran aja ada yang cuma main-main hihihi…) .

Latar belakang memilih untuk FWB – an

Tentunya dalam setiap tindakan dilandasi dengan tujuan, alasan or something else dong ya.. Nah menurut survey yang aku dapet dari mince (eh kok mince ya haha) maksudnya dari beberapa survey bahwa kebanyakan dari mereka yang menjalani relasi ini atas dasar untuk kesenangan belaka. Sehingga sebelum memutuskan untuk jalan, kedua belah pihak saling berjanji untuk  “no heart and hurt feeling”.

friends with benefit quote

Namun, disisi lain ada juga yang menyebutkan bahwa yang melandasi seseorang menempuh relasi ini ialah karena menjalani hubungan percintaan merupakan hal rumit dan penuh dengan drama. Sehingga mereka yang memilih untuk FWB-an (konon) tidak akan punya perasaan apa-apa saat temen FWB-annya FWB-an lagi sama orang lain yang FWB-an juga. Haha mumet!

Perbedaan FWB menurut laki-laki dan perempuan

Ternyata fenomena FWB ini sudah banyak yang meneliti, baik dari dalam dan luar negeri, salah satunya ialah penelitian yang dilakukan di Inggris dan dimuat dalam Journal Of Sex Research. Dalam penelitian itu menyebutkan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan dalam menjalani relasi seks ini ialah kebanyakan laki-laki menginginkan status tidak berubah hingga waktu yang lama bahkan seterusnya, sedangkan pada perempuan seiring waktu mereka mulai menunjukkan hasrat untuk merubah hubungan tanpa komitmen menjadi ke arah yang lebih serius ke dalam hubungan romantis.

Dari hasil penelitian tersebut kita dapat mengambil garis besarnya, salah satu pihak (kebanyakan perempuan) ingin merubah relasi ini menjadi cinta.  Karena menurut pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino.

Lho? Kenapa laki-laki bisa tegas tapi perempuan tidak?

Jangan judgemen dulu, pastinya hal itu ada penjelasannya.

Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan relasi seks yang dijalani. Tidak bisa dipungkiri bahwa  orgasme bisa memberikan kenyamanan secara batin, emosi dan psikologis. Dibalik itu semua terdapat kinerja hormon yang mempengaruhi kinerja emosi. Hormon yang itu salah satunya ialah hormon cinta atau dikenal dengan hormon oksitosin. Fungsi utama hormon oksitosin ini bertanggung jawab untuk menciptakan emotional bounding. Itulah kenapa saat saling menikmati hubungan seks, muncul rasa sayang dan bisa muncul rasa cinta. Yang tadinya cuma 1% bisa menjadi 89%. Hormon ini memang dominan pada wanita karena hormon kasih sayang ini juga muncul saat seorang wanita memberikan ASI pada anak yang  mencetus adanya ikatan emosi antara ibu dan bayi.

Maka tak heran, bila sudah terjadi beberapa kali relasi seks yang berujung pada orgasme, akan muncul rasa yang lebih dari teman. Apalagi setelah orgasme dilanjut dengan pillow talk, saling mengobrol untuk menceritakan kepenatan hari dan menceritakan tentang satu sama lain. Maka dari situlah drama dimulai. Mulai dengan memberi sedikit perhatian “udah makan belum”, “jangan pulang kantor larut malem ya…” dan tipe ungkapan perhatian lainnya.

Mungkin bagi pria ini adalah hal yang biasa dan tidak menyalahi perjanjian di awal. Namun gimana dengan wanita? Kenyamanan emosional seringkali mengalahkan logika. Karena sebagian besar wanita seringkali masih berpikir dengan hati.

Siapa pihak yang rugi?

Bisa ditebakkan siapa yang rugi? Yap! Mereka yang gampang baper. Aku nggak bilang kalo selamanya wanitalah yang rugi, karena saat ini juga banyak pria yang otaknya ada di hati.

Memang setiap hubungan selalu ada risikonya, namun dibalik itu semua jika dalam FWB terjadi kehamilan maka pihak perempuanlah yang banyak menanggung risiko. Risiko ditinggal, risiko tidak diakui, dan segala risiko lain yang melekat.

Begitupula dengan laki-laki, jika menjalani relasi FWB-an berarti menunjukkan pria yang tidak pantas untuk dicintai. Ada kutipan bagus yang aku comit dari internet,

“friends with benefits” in reality is telling you to your face that you’re good enough to f*ck, but not good enough to invest feelings in.

Loh?! Di luar negeri aja banyak yang jalanin hubungan tanpa status fine-fine aja tuh? Apa salahnya untuk dicoba?

Ya memang di luar negeri sana banyak yang menjalani hubungan tanpa adanya komitmen, bahkan tanpa secara legal hingga punya anak. Tapi, tunggu dulu.. ingatlah pola budaya, pola hidup kita orang timur jauh berbeda dengan mereka. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kesetaraan gender di luar negeri sudah lebih baik dari pada di negeri tercinta ini. Kebanyakan mereka menjalani FWB memiliki tanggung jawab yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Aku sempat bertanya dengan saudara yang udah lama tinggal di luar negeri, bahwa kebanyakan pasangan di sana memutuskan untuk tidak berkomitmen secara legal karena nikah punya beban pajak yang besar dan juga karena alasan menikah itu ribet. Dari sudut pandang mereka bahwa komitmen itu tidak hanya bicara soal legalitas, yang terpenting adalah tanggung jawab. Jadi daripada buang waktu dan energi, mereka memilih untuk living together.

 

 

Jadi pilih onani atau FWB-an ?

 

Fetishism

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang kerabat yang bercerita padaku tentang perilaku aneh yang dialami oleh saudaranya, sebut saja Z. Perilaku aneh Z tersebut sudah pada taraf mengekhawatirkan keluarga dan meresahkan lingkungan sekitar. Perilaku mencuri dalam wanita saat di jemur membuat Z hampir saja diamuk masa. Kerabatku itu menceritakan bahwa perilaku itu bukan pertama, namun sudah diulang beberapa kali. Kerabatku mengatakan bahwa Z pernah bercerita kalo apa yang dilakukannya itu untuk tujuan suatu ilmu yang bisa menolong orang banyak. Namun itu juga masih belum jelas.

Dari kasus diatas, memang belum bisa dipastikan apakah perilaku Z termasuk pada penyimpangan perilaku seksual atau bukan. Tapi, dari kasus tersebut aku jadi ingin membahas lebih lanjut tentang perilaku seks menyimpang yang berhubungan dengan dalaman wanita hehehe..

Pastinya sudah pada denger donk di berita-berita tentang kriminal yang tertangkap tangan mencuri dalaman wanita? Setelah diselidiki ternyata kriminal itu menyimpan banyak hasil curiannya dan digunakan agar bisa mencapai orgasme. Orgasme bisa mencapai titik klimax tertinggi dengan mencium-cium bahkan menggosok-gosokkan dalaman pada alat kelamin. Bagi mereka itu wajar-wajar saja, namun bagi orang lain akan melihat perilaku tersebut merupakan perilaku yang menyimpang.

Dalam psikologi, perilaku menyimpang jenis ini disebut dengan Fetishism, yaitu penyimpangan seksual dimana individu melakukan aktivitas-aktivitas seksual yang melibatkan objek tertentu yang bisa merangsang munculnya fantasi seksual dan gairah seksualnya sehingga bisa mencapai orgasme. Sebenarnya fetishism tidak terbatas pada dalaman wanita saja, namun sangat banyak macamnya, misalnya stoking, bra, sepatu, kulit, dll.

Bila ditelusuri lebih dalam, ternyata di Indonesia sendiri banyak sekali orang-orang yang memiliki Fetish pada dalaman wanita. Iseng sih aku cari di google, ternayata ada group FBnya. Namun sayangnya, sudah lama nggak aktif. Mungkin sampai saat ini masih ada, namun terselubung. Dari group itu banyak hal yang bisa dicari tahu. Ternyata ada transaksi jual beli celana dalam juga loh. Bukan celana dalam baru, namun yang bekas pakai dan memang sengaja nggak dicuci. Selain bentuk celana dalam yang seksi, aroma vagina bekas pemakainya juga bisa meningkatkan libido mereka.

Group FB Celdamers

Group FB Celdamers1

Mereka juga pilih-pilih ketika ingin mencuri atau membeli celana dalam. Mereka akan dengan sangat cermat memilih kriteria wanita dari berbagai sisi. Misalya dari bentuk fisiknya, kepribadiannya, bahkan sampai kebiasaan-kebiasaanya. Bagi pencuri celana dalaman, biasanya mereka akan mengobservasi dulu, bisa dengan pura-pura sebagai petugas pengecek PAM, petugas pengantar paket, bahkan sampai pura-pura jadi pengamen. Sedangkan yang hanya pembeli celana dalam, seringnya mereka hanya melihat dari bentuk fisik dari foto yang tersedia.

Jadi sebenarnya, informasi-informasi yang didapat itu membuat mereka seakan sedang bersenggama dengan si pemilik celana dalam. Fantasi tentang wajah, bentuk tubuh, bahkan aroma membuat mereka makin bisa greeengg.

Nggak cuma kripik pedes aja yang punya bebergai level, Fetishism juga ada level-levelnya, lho..

 Level pertama: Pemuja (Desires)

Ini adalah tahap awal dan tidak terlalu mengganggu pikiran seseorang.

Level kedua : Pecandu (Cravers)

Ini adalah tingkatan lanjutan dari tingkat awal. Saat seseorang Fetishist telah mencapai tahap ini, secara mental orang ini akan membuat dirinya “amat membutuhkan” barang –barang pemuas seksualnya. Bila hal itu tidak dapat terpenuhi, akan berpengaruh pada kehidupan seksualnya misalnya hilang hasrat seksual atau tidak tercapainya orgasme.

Level ketiga : Fetishist Tingkat Menengah

Ini termasuk tingkat yang berbahaya, Fetishist akan melakukan apapun demi mendapakan objek yang dia inginkan, bisa dengan cara yang tak lazim seperti mencuri, merampas, bahkan menculik.  Hasrat seksual Fetishist ini hanya akan terlampiaskan bila apa yang diinginkan telah didapatkannya.

Level ke-empat : Fetishist Tingkat Tinggi

Lebih sadis dari level ketiga, pada tingkat ini seseorang tidak akan peduli dengan hal lain di luar fetish-nya. Misal Fetish seseorang adalah dalaman wanita, maka dia tidak membutuhkan wanita itu, hanya dalamannya saja. Dan yg lebih parah adalah bila Fetish seseorang adalah objek berupa bagian tubuh, dia hanya membutuhkan bagian tubuh orang itu saja dan tidak peduli dengan orang yg memiliki bagian tubuh itu sendiri. Apapun dilakukan, walau dengan cara sadis sekalipun.

Level kelima : Fetishistic Murderers

Pada tingkat ini memang sudah sangat parah. Seorang fetishme rela membunuh, memutilasi, demi mendapatkan fetish yang diinginkan.

Jika ada kerabat atau bahkan kamu sendiri yang memiliki hal-hal yang mirip dengan apa yang aku tulis, segeralah cari informasi lebih lanjut atau pergi ke psikolog profesional yang bisa membantu. Tenang saja, perilaku menyimpang bisa disembuhkan bila ada kebutuhan untuk merubahnya.

celotehyori quote 3

Berani Total Itu Baik

Semua orang pastinya udah tau kalo menjalani suatu proses itu melelahkan. Aku pun benernya juga berpikir demikian, sehingga membuat aku memilih lebih baik gak usah capek-capek home visit ke rumah pasien.

Pada masa praktek di RSJ, aku dituntut untuk mencari beberapa pasien RSJ yang bersedia aku asesment secara keseluruhan. Asesment secara keseluruhan itu maksudnya mulai dari wawancara dan observasi pasien, memberikan tes psikologi hingga melakukan wawancara dengan keluarga pasien. Untuk kasus pasien RSJ, wawancara dengan keluarga pasien sangat dibutuhkan dan yang paling utama, hal itu dilakukan untuk mengkroscek kronologis penyakit yang pasien alami. Sebagian besar, data yang didapat dari pasien lebih pada halusinasi yang mereka alami, bukan dari fakta-fakta yang sebenarnya.

Semua mahasiswa praktek sangat amat mengharapkan keluarga pasien datang menjenguk ke RSJ, begitupun denganku. Ketika keluarga datang, praktikan gak perlu datang ke tempat tinggal pasien yang kebanyakan tinggal di luar kota. Aku sangat beruntung, ke dua pasien yang aku dampingi beberapa kali dijenguk oleh keluarga. Bahkan mereka (keluarga pasien) yang lebih aktif menghubungiku untuk mengetahui perkembangan pasien. Pikirku dengan sudah bertemu keluarga pasien di RSJ, aku tak perlu lagi datang berkunjung ke tempat tinggalnya. Ternyata pemikiranku salah besaar…

Bukan perkara tentang pertanggung jawaban hasil praktek di ujian yang membuat aku berubah pikiran, namun aku berpikir bahwa saat praktek inilah adalah waktu yang tepat untukku belajar jadi pribadi yang total.

Memahami seseorang itu gak afdol kalo belum tau tentang latar belakang lingkungan mereka tinggal. Dalam aliran psikologi eksistensial, manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang menyeluruh, yakni sebagai kesatuan individu dan dunianya. Jadi simpelnya memahami manusia itu juga perlu memahami lingkungan dimana mereka tinggal.

And you know guys? Perjalanannya sungguh pernuh perjuangan, Perjuangan nahan pipis, nahan laper, nahan pantat yang mulai kaku-kaku. Jalanan Semarang – Karangawen (Mranggen) yang lagi di beton bikin macet luar biasa. Yang normalnya hanya 30 menit, jadi 1,5 jam. Belum apa-apa sih benernya, tapi jadi dari perjalanan ini memberikan pelajaran untuk berani total.

Standart Kerja Pekerja Seks Komersial

Tiap pekerjaan pasti memiliki standar kerjanya atau bekennya disebut SOP. Gak cuma para pekerja kantoran aja yang punya SOP, jalngan salah kalo para PSK juga punya. Mau tauu???

Dari cerita-cerita sebelumnya, aku pernah nyebutin kalo pekerja seks bekerja atas dasar “having sex – ngeseks”  bukan “making love – ML”. By the way udah pada tau belom apa perbedaannya??

Menurut hasil penelusuran dari berbagai sumber, ada perbedaan yang kontras antara ngeseks sama ML. Pada prinsipnya memang sebenernya sama, yaitu suatu kegiatan yang berhubungan dengan alat kelamin, namun yang membedakan adalah adanya afeksi. Ngeseks itu lebih pada kegiatan hubungan seks yang tanpa dilandasi afeksi atau kasih sayang, jadiya cuma intercourse terus ejakulasi, setelah itu selesai. Sedangkan ML, itu hubungan seks yang dilandasi dengan sisi emosional. Namanya juga membuat cinta, pasti ada koneksi antara hati kehati. Jadi ada aktivitas saling bersentuhan, berpelukan dan berciuman yang intens.

Nah lalu kenapa sebagian besar PSK tidak mau melakukan ML?

Pertama, para pekerja seks akan memberikan layanan tidak hanya pada satu pria aja, tapi banyak pria yang punya karakter yang berbeda. ML itu melibatkan hati, sedangkan ngeseks hanya melibatkan alat kelamin aja. Walaupun mereka pekerja seks, tapi mereka pada dasarnya memiliki sisi emosional yang sama dengan wanita pada umumnya, mereka juga menginginkan disayangi, dimengerti.

Kedua, dengan adanya prinsip seperti itu, para PSK akan punya SOP masing-masing. Contohnya seperti gak akan ngasih pelayanan oral seks, tidak ingin memperlihatkan payudara, ada juga yang ogah dicium-cium, dan selektif memilih pelanggan yang nggak lagi mabok. Sedangkan yang ribet, itu ada pekerja seks yang membatasi durasi layanan.

Sebenernya dari sisi ini, kalo kalian jeli melihatnya bahwa para pekerja seks juga masih punya harga diri. Walau mereka ibaratnya sudah menjual tubuhnya, tapi sebenernya mereka masih memberi batasan dan mengerti tentang hak-hak yang mereka miliki. Jadi gak semua pekerja seks itu cewe yang gampangan, mereka juga punya aturan main sendiri.

peltu

PELTU – Nempel Metu

Bay the way, udah pernah tau tentang sebutan PELTU gak?

Serius nih belum pada tau??

Yakin??

Okey aku jelasin.

Nempel langsung Metu itu bahasa Indonya adalah baru penetrasi sebentar (istilahnya nempel) tapi udah ejakulasi (keluarnya sperma). Bagi sebagian pria mungkin ini adalah aib ranjang, namun buat aku ini adalah sebuah pelajaran yang oke bangets.

Jadi beberapa tahun yang lalu, aku pernah berdebat (ngeyel sih lebih tepatnya) sama salah seorang kawan. Perdebatan itu terbilang sengit karena memperdebatkan tentang kegiatan prostitusi. Aku berceloteh waktu itu bahwa seorang pelanggan akan make jasa PSK jalanan selain tarifnya yang murah pasti si PSK akan menuruti keinginan si pelanggan. Statemen itu ternyata disengkal sama temenku yang kebetulan cowok (bukan pemakai PSK). Dia Cuma bilang, kalo laki-laki pake PSK jalanan biasanya proses eksekusinya cepet, kurang lebih hanya secepat Peltu. Pada akhirnya perdebatan itu berakhir menggantung, karena gak ada yang mau ngalah hehe.

Aku terus mencari jawaban. Mulai dari cari referensi di perpus sampe di google belum juga ketemu tentang analisa psikologis kenapa temenku bisa punya argumen itu. Hingga pada akhirnya aku menemukan jawabannya saat aku bekerja di lokalisasi.

Argumen yang dulu selalu aku tegakkan, seketika meleleh. Menurut beberapa penuturan para PSK, bahwa selama melayani mereka hanya sebatas memberikan pelayanan sesuai dengan bayaran. Bagi PSK, layanan yang mereka berikan bukan layanan “making love” tapi “ just having sex”. Dan menurut penuturan para pekerja, bahwa biasanya pelanggan hanya butuh sampe “ngecrit” aja. Jadi setelah ejakulasi, urusan sudah kelar. Makin cepet “ngecrit” makin untung dan senang kedua belah pihak. Kebanyakan pelanggan kelas bawah tak terlalu membutuhkan layanan yang penuh dengan fantasi, yang dibutuhin cuma masuk lobang terus “ngecrit’. For your information juga, biasanya para pelanggan PSK kelas bawah itu masuk golongan EDITANSIL (ejakulasi dini tanpa hasil) hihihi.

Jadi ngerti kan kenapa obat kuat dan minuman keras itu penjualannya sangat tinggi di tempat lokalisasi??

Lokalisasi Sunan Kuning (SK)

Semua orang Semarang tau kalo Sunan Kuning itu sebuah lokalisasi, tapi untukku pribadi Sunan Kuning (SK) itu layaknya sebuah universitas yang memiliki banyak fakultas. Ada fakultas kesehatan masyarakat, ada fakultas kedokteran, ada fakultas psikologi, ada fakultas ilmu sosial, ada fakultas ekonomi akuntansi, ada fakutas manajemen, dll. Nah loooh!

Bagi sebagian besar cewek, area lokalisasi adalah area terlarang untuk dimasuki, jangankan masuk lewat aja tuh lo udah pada bergidik. Wajar sih benernya, mereka gak mau dapet cap yang aneh-aneh ketika ada orang yang ngliat mereka di area lokalisasi. Tapi hal itu gak berlaku untukku. Perasaan seneng dan bangga malah yang ada dalam diriku. Iya donk bikin seneng, soalnya ide-ide liarku bisa tersalurkan di tempat ini, hihi. Dulu aku juga sempet berpikiran takut dicap cewe yang gak bener atau apalah-apalah. Tapi aku kesampingkan pikiran-pikiran yang menghambat itu, yang terpenting tujuanku baik dan jelas. Dan pastinya aku juga menjaga pembawaan diriku ketika berada di lokalisasi. Biar gak disangka jualan.

Hal pertama yang aku tangkap ketika memasuki SK adalah takjub. Baru tau selama ini ada kampung yang isinya kebanyakan pekerja seks. Antara pekerja seks dan warga asli pun juga terlihat cukup guyub. Ada yang pamer paha dan belahan dada, ada juga yang pake mukenah sambil jalan menuju masjid atau pergi pengajian. Jadi sebenernya ada unsur Yin dan Yang di SK.

Balik ke soal sebutanku Universitas. Bagi mahasiswa yang PEKA, SK itu sebuah objek penelitian yang sangat luas dan kaya. Semua hal bisa diteliti di sana. Dan menurutku sistem di dalam SK juga sangat berbeda dengan lokalisasi lain, seperti Sarkem di Jogja. Di SK memberikan akses yang cukup terbuka untuk penelitian.

Bukan pengen promosi benernya, tapi menurutku semakin banyak pelajar yang melakukan penelitian di SK akan semakin mudah kita mengkerucutkan sebuah solusi konkret dari berbagai aspek. Jadi kalo udah ketemu jawaban dari solusi gak perlu deh ada penutupan yang pake unsur kekerasan dari aparat.