Posts

the lovers2

Movie Insight : THE LOVERS (2017)

“Cinta itu dijemput, bukan datang dengan sendirinya.”

Ini quote bikinan pribadi lho, bukan copas dari penulis lain hehe.

Pesan itu yang aku dapat setelah menonton film The Lovers. Aku bukan film addict yang bisa meriew dengan sangat detil tentang film tersebut, namun aku ingin menceritakan tentang refleksi yang aku dapat setelah menonton film tersebut.

Berkisah tentang suami istri (Michael dan Mary) paruh baya yang sudah mulai merasakan “kedinginan” dalam hubungan pernikahan. Setiap hari tidur saling berpunggungan, bicara seadanya saja, dan berperilaku seakan sudah bukan suami istri lagi. Kehampaan yang mereka berdua rasakan ternyata membuat satu sama lain memiliki kekasih gelap. Tanpa diketahui satu sama lain, mereka memutuskan untuk berpisah setelah kedatangan anak mereka.

the lovers1

Hubungan yang hampa itu berubah saat disuatu pagi Michael dan Mary bangun dengan saling berpelukan dan sambil mengecup bibir satu sama lain. Hari itu serasa ada keajaiban muncul. Ya! mereka seperti kembali jatuh cinta satu sama lain dan gairah-gairah yang terpendam lama muncul kembali.

Hari kedatangan anak mereka semakin dekat, dan selingkuhan mereka berdua pun semakin getol mendorong Michael dan Mary untuk segera membicarakan hubungan gelap mereka. Namun, disisi lain ternyata perasaan untuk saling berpisah semakin menurun. Ya karena mereka merasa ternyata mereka masih saling mencintai satu sama lain.

Joel, anak merekapun datang sambil membawa Erin kekasih yang sangat dicintainya. Puncak konflik pun terjadi. Joel mengetahui ternyata ayah dan ibunya menutupi bahwa orang tuanya masing-masing memiliki kekasih gelap.

Aku pribadi mengira bahwa Mary dan Michael tak akan berpisah karena menemukan lagi cinta yang telah lama hilang. Namun ternyata setelah kepergian Joel, keduanya mengemas barang dan pergi masing-masing ke rumah kekasih gelap mereka.

Ah.. sungguh disayangkan. Tapi, ternyata setelah mereka berpisah rasa cinta itu pun semakin besar sehingga membuat mereka diam-diam bertemu untuk menjalin cinta kembali.

Ya.. cukup semrawuts ya. Banyak pengamat film menyebut ini sebagai komedi romantis. Namun aku pribadi tidak melihat sisi komedinya sama sekali. Ya, film ini menggambarkan dua orang yang kurang mensyukuri nikmat yang ada, haha. Udah punya pasangan, selingkuh. Eh begitu dikasih pisah, mau balikan lagi. Wkwkwk..

Sebelum nulis ini aku kebetulan melihat sebuah acara tv yang membahas soal relationship. Si pembawa acara mengatakan “Ada penelitian yang mengatakan, 5 tahun pertama pernikahan adalah tahun yang berat. Penuh pertengkaran, percekcokan dan penuh konflik. Namun sebaliknya, setelah 25 tahun pernikahan justru pasangan tidak banyak konflik. Mereka tak banyak konflik karena saling diam satu sama lain, makanya tidak ada konflik. Untuk bisa mendapatkan kehidupan pernikahan yang harmonis tetap perlu menghadapi konflik. Karena suatu hubungan pasti akan ada konflik, tetapi setiap konflik yang ada tersebut dihadapi dan diselesaikan bukan dihindari dan akhirnya saling diam.”  Begitu kira-kira kata si pembawa acara.

Begitu pula dengan cinta, menurut aku pribadi cinta itu diciptakan bukan ditunggu hingga datang. Kejadian Mary dan Michael dipagi hari itu merupakan trigger, namun hasrat dan gairah bercinta mereka yang muncul kembali itu akibat dari keduanya menciptakan kembali cinta yang telah lama mati.

Jadi bila hubunganmu sudah mulai hambar dan membosankan, bisa jadi kamu kurang kreatif untuk menciptakan cinta-cinta yang baru.

Orang cinta itu tidak melihat kekurangan, namun kelebihan.

Inget ungkapan “tai kucing rasa coklat”? Ya begitulah kira-kira 😀

Buat aku film ini recomended, walau jalan ceritanya sedikit membosankan..

bondage, discipline, dominance, Submision, Sadism, Masokism

Apakah BDSM kelainan perilaku seksual?

Huaa.. akhirnya bisa ngeblog lagi setelah sekian lama hiatus ngurusin tesis wkwkw…

Beberapa akhir ini, kalian yang update soal dunia seksual pastinya tahukan ada dua hal yang lagi hits, yang pertama soal penutupan Surga Dunia Alexis dan yang kedua adalah soal penangkapan dua pelaku BDSM.

Nah soal penutupan Alexis, mungkin udah banyak banget ya yang bahas. Ada yang bilang itu penutupan karena hal politik dan ada pula alasan-alasan lain. Karena aku memang tidak tau lebih dalem (belum pernah masuk situ maksudnya) jadi aku gak akan membahas itu lebih banyak. Nanti dikira ikut-ikutan tren aja xixixi. Tapi pada postingan kali ini aku ingin membahas  soal kasus yang kedua yaitu tentang kasus BDSM.

Pastinya akan banyak yang bertanya, kenapa aku berani-beraninya membahas soal BDSM. Naaaah.. Pastinya aku akan membahas ini bukan asal-asalan aja. Selain aku akan mencantumkan beberapa hal dari referensi ilmiah, aku juga akan mencantumkan penjelasan yang bersumber dari hasil wawancaraku dengan beberapa orang yang sudah lama menjadi pelaku BDSM.

Sebelum aku lanjut lebih dalam membahas soal BDSM, pasti banyak yang bertanya sebenernya BDSM itu suatu bentuk kejahatan seperti tindakan sexual abuse atau bukan sih?

Awalnya, aku pun punya pertanyaa demikian. Aku menganggap bahwa orang-orang yang memiliki kecenderungan BDSM adalah orang-orang yang sering melakukan abuse. Bahkan aku juga pernah berpikir bahwa para pelaku BDSM itu tidak memiliki hubungan sosial yang baik karena cenderung melakukan kekerasan pada orang lain. Namun, seiring aku aku makin banyak membaca soal BDSM dan bahkan samapi mewawancarai lebih dari dua orang pelaku BDSM, sudut pandangku mulai berubah. Dan melihat BDSM dari sisi yang berbeda.

bdsm

 

Secara definitif, BDSM merupakan singkatan dari beberapa kepanjangan. BD = bondage & discipline (kekangan & kekangan) , DS = Dominance & Submision (dominasi & submisi), SM = Sadism & Masokism (menyakiti dan disakiti).

Terdapat perubahan yang cukup signifikan tentang BDSM menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM I & II menyatakan bahwa BDSM merupakan bentuk dari penyimpangan. Sementara, DSM IV dan V menjelaskan bahwa bahwa BDSM hanya tergolong sebagai gangguan psikologis jika menyebabkan tekanan pada diri sendiri dan orang lain. Sehingga BDSM tidak menjadi masalah bila tidak menyebabkan tekanan bagi diri sendiri dan orang lain. (Hasil penafsiran pribadi).

Banyak pakar perilaku terdahulu yang menyatakan bahwa BDSM perupakan salah satu parafilia atau penyimpangan. Beberapa pakar psikologi menghubungkan masokisme dan sadisme dalam BDSM dengan kondisi kejiwaan seperti kegelisahan/anxiety (Bond, 1981; Freud 1961; Socarides, 1974; Stolorow, 1975), dan depresi (Blum, 1988).

Dari hasil wawancaraku dengan dua orang pelaku BDSM, bahwa latar belakang mereka memang dapat dikatakan memiliki historis yang sangat traumatis. Kebetulan keduanya perempuan dan memiliki kecenderungan sebagai sub (submisif atau yang suka disakiti). Sebut saja kedua orang tersbeut ialah KE dan NF. KE dan NF memiliki latar belakang keluarga broken home. Sejak kecil KE mengalami kekerasan oleh ayahnya, sedangkan NF mengalami kekerasan seksual yang juga dilakukan oleh ayahnya. Keduanya cenderung memendam rasa sakit yang dialami. Baik KE dan NF pernah melakukan self harm yaitu menyilet-nyilet lengan sebagai cara pelepasan rasa sakit psikis mereka. Hal ini senada dengan yang dikatakan para pakar, bahwa perilaku BDSM berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Namun, hal ini tidak berlaku pada semua pelaku BDSM. Sebab ada juga pelaku BDSM yang diakibatkan oleh proses belajar dan bahkan ada juga yang menyebutkan sebagai perilaku bawaan (masih diteliti lebih lanjut).

Lebih lanjut lagi, KE dan NF awalnya merasa apa yang dilakukannya sangat aneh karena tidak seperti orang kebanyakan. Mereka berdua mulai banyak mencari-cari referensi, mulai dari artikel sampai dengan komik. Dari situlah mereka memahami bahwa kesukaannya merasa tersakiti salah satu bagian dari BDSM.

Salah satu prinsip yang diterapkan dalam BDSM ialah saling percaya dan mau sama mau. Sehingga, bila BDSM dilakukan tidak dengan keinginan satu sama lain bisa jadi itu masuk dengan perilaku sex abuse. Inget kasus Manohara? Nah.. itu salah satu contoh kasusnya.

Ya, yang penting dalam BDSM ialah ada kesediaan dari masing-masing pihak. Secara sederhana,  aktivitas BDSM cenderung seperti “adegan” atau “sesi” (scene) yang dilakukan pada waktu tertentu di mana kedua pihak menikmati skenario yang melibatkan salah satu pihak melepaskan kontrol atau otoritas.

Karena dilakukan atas dengan kesepakatan, sehingga scene dilakukan dengan suka rela, bukan dipaksa, dan melakukan hal-hal yang diminta. Semua pihak yang terlibat menikmati sesi tersebut, walaupun aktivitas berupa disakiti, dikekang, dll, pada situasi normal sangat tidak menyenangkan. Selain itu adanya faktor saling percaya sangat dibutuhkan karena bagi submisif menyerahkan kontrol pada pihak dominan yang memiliki kekuasaan. Tidak semua kontrol sub diserahkan pada dom. Dalam perjanjian sebelum scene biasanya sub akan menjelaskan apa fetish dan batas kemampuan menahan rasa sakit. Berbeda dengan slave, yang menyerahkan segala hak hidupnya pada master (nanti aku bahas di bagian ke dua ya xixi). Dan karena berbasis perjanjian dan kepercayaan, maka tidak semua scene berakhir dalam hubungan seks. Ya! terkadang ada sub yang meminta dom hanya melakukan bondage (mengikat dengan tali) begitupula ada dom yang hanya ingin merasakan sensasi mencambuk tanpa disertai dengan hubungan seks.

Mugkin ini dulu yang bisa aku bahas kali ini. Karena bahasan yang sangat banyak, jadi aku bagi menjadi dua postingan. Nah, pada bagian kedua nanti aku akan menjelaskan lebih lanjut tentang BDSM secara lebih dalam. Fetish apa saja yang ada, apakah sub bisa menjadi dom, dll. So see you on the next post 😉

nikahsirri

PERAWAN

Beberapa waktu terakhir ini jagad media cetak maupun elektronik sedang dihebohkan dengan lelang keperawanan di situs nikahsirricom. Banyak orang yang mengecam keberadaan situs tersebut sehingga kini situs itu tak bisa lagi di akses dan pemiliknya telah dipolisikan. Banyak berita beredar bahwa Aris, si pemilik situs kontroversial tersebut mengalami gangguan jiwa pasca gagal mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Entah benar atau tidak, aku tidak tahu. Tapi karena aku kepo dan ingin tahu apakah berita tersebut benar, maka langsunglah aku mencari berita-berita terkait di mbah google.

Aku menemukan salah satu situs portal berita online yang memberikan tautan ke situs Aris yang lain, yaitu partaiponsel.com . Tak menunggu waktu lama, aku menyegerakan untuk singgah di web yang mungkin kini trafic pengunjungnya sudah mencapai ratusan ribu per hari.

Baru membaca tulisan yang ada di home pagenya saja aku sudah mulai merasa aneh. Aku memang bukan ahli tata bahasa, tapi sebagai orang awam aku merasa banyak keanehan dari tulisan tersebut dilihat dari tata bahasa dan struktur katanya. Dan terlihat sangat jelas disitu ada obsesi berkuasa yang agak tidak masuk akal.Dalam website tersebut ternyata aku juga menemukan apa maksud dan tujuan Aris membuat situs nikahsirri. Menurutnya, nikahsirri merupakan salah satu program kerakyatan yang berada di Partai Ponsel miliknya.

“Nikahsirricom adalah pengejawantahan “konsep baru yang brutally honest” bahwa kelamin juga merupakan aset yang bisa dijadikan sebagai alat reproduksi untuk pemasukan dana bagi keluarga, yang sama halalnya dengan alat-alat produksi selama ini dikenal, seperti otak (bagi pekerja kerah putih) dan otot (bagi pekerja kerah biru).” Dikutip dari situs partai ponsel.

Setelah aku membaca kalimat tersebut pikiranku langsung melayang ke lokalisasi yang sering aku kunjungi. Para pelacur di lokalisasi juga menggunakan alat kelamin mereka sebagai alat untuk menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga mereka. Begitu pula dengan dalih menghalalkan perzinahan dengan nikah sirri juga sempat aku temukan di lokalisasi. Terdapat beberapa oknum kyai atau ustad yang menggunakan berbagai macam cara untuk menghalalkan proses transaksi seks yang mereka lakukan, yaitu dengan melakukan ijab sebelum berhubungan seks.

Kembali lagi ke soal Aris dengan nikahsirri-nya, walau kontroversial toh tetap saja banyak orang yang tertarik dan rela membayar token sebagai maharnya dan juga banyak mitra yang tertarik untuk bisa bekerja sama.

Pertanyaanya sekarang, apakah iya pola pikir kebanyakan orang masih menganggap wanita dari status keperawanannya saja dimana gadis perawan lebih mahal harganya dibandingkan yang sudah tidak lagi perawan? Lalu apa gunanya bagian lain seperti kemampuan otak, attitude, bakat dan segala potensi yang terkandung di tubuh seorang wanita?

Kalau begitu, beli saja boneka seks yang selalu perawan dan selaput vaginanya tidak akan pernah sobek walau sudah dihujam berkali-kali.

friends with benefit

Tanya Yori #2 : Pilih Onani atau Friends With Benefit Relation ?

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang pria yang mengirimkan message melalui aplikasi chat. Kurang lebih seperti judul yang aku tulis. Pertanyaannya memang belumaku jawab secara gamblang, karena chat tidak berlanjut setelah aku bertanya “Kronologisnya gimana ya?”

Nah, karena aku tidak tahu menahu gimana jalan ceritanya sampai pertanyaan itu muncul, maka aku nggak bisa bantu suggest apa-apa. Jadi lewat tulisan ini aku akan sedikit menjelaskan tentang apa itu Friends With Benefit Relationship atau yang sering disingkat FWB ini secara umum.

Apa itu Friends With Benefit?

Awalnya, jujur aku bingung ketikan ditanya tentang FWB itu apa. Tapi setelah tahu kepanjangannya, aku jadi ingat salah satu film yang diperankan oleh Justin Timberlake dan Mila Kunis dengan judul yang serupa dengan bahasan ini dan satu lagi judul film No Strings Attached yang cukup terkenal.

friends with benefit

Bagi yang belum pernah nonton filmnya atau familiar dengan relasi jenis ini pasti bingung kan ya.. Namanya temen itu saling menguntungkan dengan saling tolong menolong satu sama lain. Tapi yang dimaksud dengan FWB lebih sekedar saling tolong menolong, tapi sudah sampai pada relasi seksual.

“Friend with Benefits is two friends who have a sexual relationship without being emotionally involved” – urbandictionary

Jadi gampangnya, Friends With Benefits ialah keadaan dimana dua orang teman memutuskan untuk saling behubungan seksual tanpa adanya ikatan emosional atau dua orang yang melakukan hubungan seksual secara casual tanpa adanya komitmen untuk berada dalam suatu ikatan.

Cuma temenan, bukan pacaran, tapi begituan.

FWB ini bisa terjadi tidak hanya pada heteroseks saja, namun juga bisa pada homoseksual dan orientasi seks lainnya. Yang menjadi ciri dalam relasi ini ialah sama-sama bersedia menjalin hubungan tanpa adanya romantisme, tidak memiliki keterikatan pada komitmen hubungan layaknya hubungan pacaran serius (yakalii.. pacaran aja ada yang cuma main-main hihihi…) .

Latar belakang memilih untuk FWB – an

Tentunya dalam setiap tindakan dilandasi dengan tujuan, alasan or something else dong ya.. Nah menurut survey yang aku dapet dari mince (eh kok mince ya haha) maksudnya dari beberapa survey bahwa kebanyakan dari mereka yang menjalani relasi ini atas dasar untuk kesenangan belaka. Sehingga sebelum memutuskan untuk jalan, kedua belah pihak saling berjanji untuk  “no heart and hurt feeling”.

friends with benefit quote

Namun, disisi lain ada juga yang menyebutkan bahwa yang melandasi seseorang menempuh relasi ini ialah karena menjalani hubungan percintaan merupakan hal rumit dan penuh dengan drama. Sehingga mereka yang memilih untuk FWB-an (konon) tidak akan punya perasaan apa-apa saat temen FWB-annya FWB-an lagi sama orang lain yang FWB-an juga. Haha mumet!

Perbedaan FWB menurut laki-laki dan perempuan

Ternyata fenomena FWB ini sudah banyak yang meneliti, baik dari dalam dan luar negeri, salah satunya ialah penelitian yang dilakukan di Inggris dan dimuat dalam Journal Of Sex Research. Dalam penelitian itu menyebutkan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan dalam menjalani relasi seks ini ialah kebanyakan laki-laki menginginkan status tidak berubah hingga waktu yang lama bahkan seterusnya, sedangkan pada perempuan seiring waktu mereka mulai menunjukkan hasrat untuk merubah hubungan tanpa komitmen menjadi ke arah yang lebih serius ke dalam hubungan romantis.

Dari hasil penelitian tersebut kita dapat mengambil garis besarnya, salah satu pihak (kebanyakan perempuan) ingin merubah relasi ini menjadi cinta.  Karena menurut pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino.

Lho? Kenapa laki-laki bisa tegas tapi perempuan tidak?

Jangan judgemen dulu, pastinya hal itu ada penjelasannya.

Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan relasi seks yang dijalani. Tidak bisa dipungkiri bahwa  orgasme bisa memberikan kenyamanan secara batin, emosi dan psikologis. Dibalik itu semua terdapat kinerja hormon yang mempengaruhi kinerja emosi. Hormon yang itu salah satunya ialah hormon cinta atau dikenal dengan hormon oksitosin. Fungsi utama hormon oksitosin ini bertanggung jawab untuk menciptakan emotional bounding. Itulah kenapa saat saling menikmati hubungan seks, muncul rasa sayang dan bisa muncul rasa cinta. Yang tadinya cuma 1% bisa menjadi 89%. Hormon ini memang dominan pada wanita karena hormon kasih sayang ini juga muncul saat seorang wanita memberikan ASI pada anak yang  mencetus adanya ikatan emosi antara ibu dan bayi.

Maka tak heran, bila sudah terjadi beberapa kali relasi seks yang berujung pada orgasme, akan muncul rasa yang lebih dari teman. Apalagi setelah orgasme dilanjut dengan pillow talk, saling mengobrol untuk menceritakan kepenatan hari dan menceritakan tentang satu sama lain. Maka dari situlah drama dimulai. Mulai dengan memberi sedikit perhatian “udah makan belum”, “jangan pulang kantor larut malem ya…” dan tipe ungkapan perhatian lainnya.

Mungkin bagi pria ini adalah hal yang biasa dan tidak menyalahi perjanjian di awal. Namun gimana dengan wanita? Kenyamanan emosional seringkali mengalahkan logika. Karena sebagian besar wanita seringkali masih berpikir dengan hati.

Siapa pihak yang rugi?

Bisa ditebakkan siapa yang rugi? Yap! Mereka yang gampang baper. Aku nggak bilang kalo selamanya wanitalah yang rugi, karena saat ini juga banyak pria yang otaknya ada di hati.

Memang setiap hubungan selalu ada risikonya, namun dibalik itu semua jika dalam FWB terjadi kehamilan maka pihak perempuanlah yang banyak menanggung risiko. Risiko ditinggal, risiko tidak diakui, dan segala risiko lain yang melekat.

Begitupula dengan laki-laki, jika menjalani relasi FWB-an berarti menunjukkan pria yang tidak pantas untuk dicintai. Ada kutipan bagus yang aku comit dari internet,

“friends with benefits” in reality is telling you to your face that you’re good enough to f*ck, but not good enough to invest feelings in.

Loh?! Di luar negeri aja banyak yang jalanin hubungan tanpa status fine-fine aja tuh? Apa salahnya untuk dicoba?

Ya memang di luar negeri sana banyak yang menjalani hubungan tanpa adanya komitmen, bahkan tanpa secara legal hingga punya anak. Tapi, tunggu dulu.. ingatlah pola budaya, pola hidup kita orang timur jauh berbeda dengan mereka. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kesetaraan gender di luar negeri sudah lebih baik dari pada di negeri tercinta ini. Kebanyakan mereka menjalani FWB memiliki tanggung jawab yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Aku sempat bertanya dengan saudara yang udah lama tinggal di luar negeri, bahwa kebanyakan pasangan di sana memutuskan untuk tidak berkomitmen secara legal karena nikah punya beban pajak yang besar dan juga karena alasan menikah itu ribet. Dari sudut pandang mereka bahwa komitmen itu tidak hanya bicara soal legalitas, yang terpenting adalah tanggung jawab. Jadi daripada buang waktu dan energi, mereka memilih untuk living together.

 

 

Jadi pilih onani atau FWB-an ?

 

pedofilia

Tentang PEDOFILIA

 

Semenjak berita dibekuknya para admin Group Facebook Pedofilia, banyak orang yang membicarakan kasus ini. Gimana enggak, group yang membernya lebih dari 5k pengikut itu sangat amat vulgar membahas tentang perilaku mereka yang memiliki ketertarikan seks pada anak-anak kecil. Sudah banyak banget postingan atau coment-coment di dalam group itu bagaimana melihat anak kecil hanya sebagai objek pelampiasan seks.

Dibalik itu semua, banyak muncul pertanyaan. Sebenernya pedofilia itu apa sih?

Arti Pedofilia

Pedofilia / paidophilia  sebenarnya berasal dari Bahasa Yunani, yaitu pais yang berarti anak-anak dan  dan philia yaitu cinta atau persahabatan. Bila diartikan dari kata per kata memang berarti mencintai anak-anak, namun sebenarnya pedofilia adalah kecenderungan seseorang yang memiliki dorongan serta fantasi seks terhadap anak-anak.

Bukankah kita orang yang lebih tua dari anak-anak wajib mencintai mereka? Ya memang benar, kita wajib mencintai anak-anak dengan melindunginya, namun pada kasus tersebut pelaku tidak hanya sebatas “cinta” namun juga bisa sampai melakukan hubungan seks pada anak-anak.

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ), pedofilia masuk dalam gangguan preferensi seksual dengan kode F65.4 . Disebutkan pedoman diagnosisnya sbb:

  • Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya prapubertas atau awal pubertas, baik laki-laki maupun perempuan
  • Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan (bukan berarti tidak ada)
  • Preferensi tersebut harus berulang dan menetap
  • Termasuk: laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang kronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih pada anak-anak sebagai pengganti.

Sedangkan menurut DSM 5 :

Pedophilic Disorder 302.2 (F65.4)

  1. Over a period of at least 6 month, recurrent, intense sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving sexual activity with a prepubescent child or children (generally age 13 years or younger)
  2. the individual has acted on these sexual urges, or the sexual urges or fantasies cause marked distress or interpersonal difficulty
  3. the individual is at least age 16 years and at least 5 years older than the child or children in criterion 1

note : do not include an individual in late adolescence involved in an ongoing sexual relationship with a 12 or 13 years old.

Tidak Semua Pedofilia Melakukan Tindakan Pelecehan Seks Pada Anak.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Herek (University of California) bahwa tidak semua pedofil berujung pada tindakan melakukan hubungan seksual pada anak. Ada juga pedofil yang hanya sebatas tertarik secara seksual namun tidak melakukannya. Mereka lebih memilih untuk memendamnya atau melampiaskannya pada alat bantu seks seperti child sex doll.

Pedofilia bisa dari Semua Orientasi

Pedofilia tidak tertarik pada gender seseorang, mereka lebih mementingkan kemudaanya. Mereka tidak tertarik dengan orang dewasa dengan gender apapun, yang terpenting bagi mereka adalah usia yang masih sangat muda atau anak-anak. Pedofilia bisa berasal dari semua orientasi, jadi anggapan pedofil itu sudah pasti homo adalah salah besar, karena toh buktinya banyak pedofil yang berorientasi hetero. Begitupun dengan profesi atau pekerjaan. Seseorang yang memiliki profesi atau status yang terhormat di lingkungan sekalipun juga bisa memiliki kecenderungan sebagai pedofil.

Lalu bagaimana Melindungi anak dari Pedofilia ?

Banyak hal yang bisa dilakukan sebagai orang tua untuk melindungi anak-anak dari pelecehan seksual salah satunya dengan cara pendidikan seksualitas yang komprehensif. Maksudnya komprehensif adalah berkelanjutan. Memberikan pendidikan seksual sesuai dengan usia anak. Misalnya, bagi anak-anak TK kita perlu memberitahu anak tentang anggota tubuhnya. Mana anggota tubuh yang boleh disentuh orang asing dan mana yang tidak. Dengan begitu anak mengenali bahwa tubuhnya berharga dan harus dilindungi. Pastinya pendidikan seksualitas pada anak TK berbeda dengan remaja, fase remaja sudah mulai mendekati masa-masa kematangan organ reproduksi sedangkan anak TK belum pada fase tersebut.

Bagaimana Bila Anda Pedofilia?

Memiliki ketertarikan seksual pada anak-anak memang termasuk pada kelainan seksual. Mungkin bisa jadi sulit untuk disembuhkan, namun selalu ada kemungkinan untuk sembuh ketika ada kemauan. Menurutku, semua ketertarikan seks yang menyimpang itu berasal dari pola-pola yang menyimpang pula. Selalu ada trigger pencetusnya dan pastinya ada penguat perilakunya.

Tak Perlu Lanjut Kuliah S2 Profesi Psikologi

Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah postingan FB temen tentang kegalauannya untuk lanjut S2 profesi psikologi atau lanjut kerja ketika sebagian teman-temannya melanjutkan ke jenjang profesi. Disisi lain, aku juga membaca postingan seorang teman tentang keinginannya lanjut kuliah S2 Psikologi  karena ingin belajar lebih dalam tentang kejiwaan untuk membantu orang lain walau latar belakangnya bukan berasal dari S1 Psikologi. Keduanya punya keinginan sama, ya sama-sama ingin lanjut S2 Psikologi.

Sebelum aku cerita lebih lanjut tentang case diatas, aku pengen benget cerita mengapa aku akhirnya memutuskan untuk mengambil kuliah S2 profesi psikologi.

Aku lulus S1 dalam waktu yang lumayan lebih cepat dari kebanyakan temen-temen lainnya. Kelulusanku yang relatif lebih cepat itu bukan berarti aku lebih pintar dari temen-temen yang lain, aku menyadari banyak temen-teman seangkatanku yang jauh lebih pintar dariku. Aku hanya sedikit lebih rajin saja. Dan jujur saja sebenernya pada saat itu aku belum menentukan arah aku ada pada bidang psikologi apa. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah dengan aku bisa lulus cepat otomatis aku bisa memiliki pengalaman bekerja lebih cepat tanpa mengganggu kuliah.

Setelah lulus aku mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai HR di sebuah lembaga pelatihan yang baru saja didirikan. Walau lembaga tersebut terbilang baru, namun aku belajar sedikit banyak tentang sebuah sistem perusahaan. Dalam prakteknya aku banyak membaca buku tentang PIO (Psikologi Industri dan Organisasi), semakin banyak membaca aku semakin nggak ngerti haha. Mungkin kalo dipaksaksain, aku bisa mengerti tentang sistem sebuah perusahaan dari sisi HR namun aku akan sangat kesulitan untuk mendalaminya dan menjalankannya dengan hati yang gembira, karena aku sadar PIO bukanlah bidang yang aku sukai.

Setelah aku tak lagi bekerja sebagai HR, munculah sebuah peluang belajar bidang psikologi yang lain yaitu bidang seksologi ketika aku bekerja di Lokalisasi Sunan Kuning. Kala itu aku hanya bekerja sebagai petugas lapangan, namun aku menemukan sebuah kenikmatan dalam mendalami psikologi khususnya dalam hal seksualitas manusia. Aku menemukan banyak kasus-kasus psikologis dan mulai berpikir apa yang bisa aku lakukan kedepan dengan kasus yang aku temukan tersebut.

Oleh karena itu barulah aku memutuskan untuk mantap mengambil kuliah S2 Profesi Psikologi, karena menurutku aku membutuhkan pijakan ilmu psikologi yang lebih dalam lagi. Sebenernya, ortu sudah mendesak untuk segera lanjut kuliah setelah lulus S1. Tapi aku memilih untuk mencari pengalaman dulu, tujuannya bukan apa-apa tapi untuk lebih siap dan lebih mantap lagi dengan apa yang akan aku pelajari. Karena menurutku akan sangat sia-sia ketika aku lanjut S2 Profesi (khususnya) namun aku belum tau kemana arahku kedepannya.

Awal kuliah S2, beberapa dosen akan menanyakan alasan mengapa lanjut S2? Mengapa memilih bidang Klinis Dewasa? dll. Bahkan di awal semester, ada seorang dosen yang langsung menyuruh membuat tugas penelitian setaraf skripsi tentang bidang psikologi apa yang ingin didalami.

Buatku secara pribadi kuliah profesi itu tidak terlalu berat untuk dijalani, hanya saja penuh dengan tantangan yang membuatku lebih tangguh lagi. Aku sengaja menshare tentang cerita praktek / magang di RSJ, RS, dan Panti Jompo agar teman-teman yang ingin lanjut S2 Profesi tahu gambarannya gimana. Kesulitan itu pasti ada, tapi yakinlah pasti ada jalan untuk menyelesaikan kesulitan tersebut.

Sebenernya aku rada miris ketika tau ada beberapa mahasiswa yang alasannya lanjut S2 hanya karena title, gak ada kerjaan, daripada nganggur, nyari jodoh, atau karena ikut-ikutan temen. Memang hak semua orang punya alasan seperti itu, tapi menurutku dipikirkan ulang saja daripada hanya jadi lulusan psikolog yang nggak ngerti arahnya mau kemana.

Dalam mengambil sebuah keputusan pasti saja ada yang dikorbankan, seperti aku yang harus pending kerja dulu demi fokus untuk kuliah. Namun bagiku apa yang aku korbankan wajib aku pertanggung jawabkan dengan aku benar-benar bisa menjadi psikolog di bidang yang sesuai dengan hati nurani dan pastinya bisa berdedikasi penuh pada pekerjaan kedepan.

Postingan ini tidak bermaksud menyombongkan diri karena aku sudah dalam proses mendalami bidang yang aku minati. Aku menyadari butuh usaha dan waktu yang tidak sebentar untuk tau apa minat dan passion kita. Oleh karena itu tak perlu terburu waktu, nikmati setiap proses yang kamu jalani saat ini. Kalo memang benar jalanmu di psikologi, percayalah Tuhan akan menunjukan jalan bidang apa yang perlu kamu dalami selanjutnya.  

Cheers!