Posts

sex surrogate

Apakah Sex Surrogate Sama Seperti Pelacuran?

Membicarakan soal seks memang tidak akan ada habisnya. Setiap topik pasti ada saja yang bisa dibahas atau diulik untuk didiskusikan. Buatku pribadi, mencari mendiskusikan soal seks itu asik. Tidak membosankan karena ilmu tentang seks itu akan terus baru dan berkelanjutan.

Nah ngobrol-ngobrol soal seks, ada topik menarik yang ingin aku share dalam postingan ini. Sesuai dengan judul di atas yaitu aku ingin ngobrol santai tentang apa itu sex surrogate dan segala perdebatannya. Salah satu topik yang masih sering menjadi perdebatan ialah sex surrogate masih disamakan dengan pelacuran. Apakah benar demikian? Let’s talk about it.

Sex surrogate sendiri sebenarnya seperti seks pengganti. Penah dengan tentang surrogate mother? Yang meminjamkan rahimnya untuk diisi sel sprema dari orang lain dan saat melahirkan, maka anaknya menjadi hal milik si pemberi sperma? Nah… sebenarnya prinsipnya hampir sama dengan sex surrogate, namun yang membedakan ialah yang diberikan bukan rahim tapi berupa aktivitas seks.

sex surrogate - Masters and Johnson

Masters and Johnson

Kemunculan sex surrogate pertama kali yaitu dikenalkan oleh Masters dan Johnson dalam bukunya “Human Sexual Inadequacy” yang terbit pada tahun 1970an. Mereka percaya bahwa untuk memiliki kehidupan seks yang berkualitas maka seseorang harus belajar dengan langsung merasakannya. Pernyataan itu tak hanya sebagai dari asumsi semata, karena itu adalah hasil dari penelitian yang telah mereka lakukan pada beberapa orang yang mengalami gangguan seksual. Subyek penelitian akan melakukan serangkaian treatment yang telah dirancang sedemikian rupa untuk mengatasi disfungsi seksual. Bagi subyek yang tidak memiliki pasangan maka dipasangkan dengan ‘surrogate” atau pengganti. Setiap surrogate akan mengikuti arahan dari para terapis yang telah terlatih dan juga bertindak sebagai mentor bagi subyek.

Dan puncaknya pada tahu 1980an praktik sex surrogate ini mulai banyak diminati di Amerika Serikat. Akan tetapi beberap tahun setelahnya praktik sex surrogate menjadi kontroversi, sehingga kepopulerannya berangsur menurun.

Sex Surrogate Berbeda Dengan Pelacuran

Salah satu kontroversi yang hingga saat ini masih diperdebatkan ialah dibeberapa tempat sex surrogate disamakan dengan praktik pelacuran. Ya banyak yang menganggap seperti itu karena sex surrogate seperti memberikan layanan seks pada orang asing yang haus akan seks dan mendapatkan bayaran layaknya di prostitusi. Terlebih pendapat itu sangat santer terjadi pada negara-negara yang memang masih menganggap seks itu adalah bagian yang sangat amat tabu.

Namun, ada yang dilupakan bahwa latar belang serta tujuan sex surrogate dan pelacur itu sangatlah berbeda. Sex surrogate bekerja secara profesional sebagai mentor pada klien dan merupakan salah satu bagian dari treatment terapi seks. Sedangkan pada pelacur hanya jual beli seks hanya untuk memenuhi pemenuhan hasrat seks semata.

Dan point ini menjadi dasar bahwa sebenarnya sex surrogate dan pelacur itu sangat amat berbeda. Mungkin diluar sana banyak pelacur profesional yang memiliki berbagai teknik untuk bisa memuaskan pelanggan, namun pelacur tidak memiliki tujuan untuk terapi atau penyembuhan, tapi atas dasar kesenangan semata dan tentunya atas permintaan si pembeli.

Disisi lain para sex surrogate, harus memenuhi berbagai pelatihan tertentu sehingga memiliki skill untuk mendidik klien dalam penanganan problem seksual. Dan untuk memiliki skill sebagai seorang sex surrogates tidaklah mudah dan murah.

Para kliennya juga tidak sembarangan. Klien yang menggunakan jasa sex surrogate harus melalui tahap assestement oleh terapist. Biasanya banyak kasus pasutri yang memiliki kualitas ranjang yang buruk yang menggunakan jasa sex surrogate. Seperti pada kasus, Sexless Marriage, anxiety, depressi, trauma, dll. Selain untuk para pasutri, terapi yag melibatkan sex surrogate ini juga banyak dilakukan pada kasus orang yang memiliki keterbatasan fisik.

sex surrogate

Sama seperti kita, sex merupakan insting hidup yang ada dalam diri kita, begitupula orang yang memiliki keterbatasan fisik juga memiliki gairah dan insting seks. Seperti pada kasus orang yang mengalami spinal muscular atropy yang kehilangan hampir seluruh fungsi gerak tubuhnya kecuali jempol tangan dan otot-otot pada wajah. Sex surrogate membantu disabilitas untuk meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan kualitas kehidupan seksnya. Dan hal tesebut telah terbukti pada banyak kasus, salah satunya yang cukup terkenal ialah pengalaman dengan sex surrogate yang dituliskan oleh Mark O’Brien seorang berkebutuhan khusus di tahun 1990. Dan pengalaman Mark tersebut kemudian di filmkan dengan judul “The Sessions”.

Hingga saat ini sudah banyak yang menggunakan jasa sex surrogate hampir di seluruh dunia. Bahkan International Professional Surrogate Association , mengungkapkan data bahwa tak hanya pria saja namun kini mulai banyak perempuan tak lagi ragu untuk pergi ke klinik terapi yang menyediakan layanan sex surrogate.

Di Indonesia sendiri mungkin profesi ini tidak teralu populer, ya karena kontroversi yang ada di dalamnya. Tapi menurutku profesi ini eksis dan banyak orang yang sudah menggunakan jasa ini.

Gimana? ada yang berminat untuk memakai jasa sex surrogate?

 

 

 

 

 

 

Oase kehidupan di Rumah Aira “Panti Asuhan dan Rumah Singgah ODHA”

Jalan-jalan dan bisa kenal banyak orang merupakan salah dua kesenanganku. Dengan jalan-jalan aku bisa mendatangi banyak tempat yang berbeda dan bisa kenal banyak orang membuatku memiliki banyak teman dan tentunya mendapatkan pelajaran berharga yang proses kehidupan orang lain yang berbeda-beda.

Nah, pada minggu lalu aku berkesempatan mengunjungi sebuah tempat yang sudah hampir satu tahun tak aku datangi. Tempat itu berada di pinggiran kota Semarang. Untuk sampai ke tempat itu harus melalui gang-gang sempit karena letaknya yang agak jauh dari jalan raya.

Walau letaknya “nyempil” atau agak pelosok, namun di situ ada sebuah tempat yang bagiku sangat luar biasa. Tempat itu mengajarkan tentang pentingnya arti berbagi dan mengasihi. Ya, tempat itu adalah Rumah Aira.

Rumah Aira merupakan salah satu panti asuhan yang ada di Semarang. Panti Asuhan Rumah Aira berbeda dengan panti asuhan yang ada selama ini. Yang membuat berbeda ialah Rumah Aira merawat anak-anak  yang memiliki  resiko tertular HIV/AIDS.

Lah? Kok ngeri-ngeri sedap gitu ya dengernya… Mendengar kata HIV/AIDS sudah bikin merinding dan bergidik ngeri. La ini kok ada panti asuhannya segala..

Bagi orang awam pasti bila mendengar HIV/AIDS sudah menkonotasikannya sebagai penyakit yang sangat berbahaya, mematikan, dan penuh dengan aib. Stigma HIV/AIDS sebagai sebuah penyakit aib yang memalukan karena HIV/AIDS sangat dekat dengan yang namanya seks bebas dan penggunaan narkoba. Sehingga banyak orang yang enggan mendekat dan bahkan berinteraksi langsung dengan orang-orang yang sudah terinveksi HIV/AIDS.

Tapi itu tidak berlaku pada Ibu Magdalena atau sering aku memanggilnya Mama Lena. Beliau adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta di Semarang yang mengabdikan hidupnya untuk membantu anak-anak yang rentan tertular HIV/AIDS serta para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang disingkirkan di lingkungan. Dengan kepedulian serta cinta kasih yang besar dalam dirinya itu ia memberanikan diri mendirikan “Rumah Aira” untuk merealisasikan mimpi besarnya.

 

rumah aira

Lagi gendong si cantik Ataya

pemilihan nama AIRA sebagai nama panti asuhan itu ternyata tidak sembarangan dipilih. Ada arti yang mendasar di pemilihan nama tersebut. AIRA merupakan akronim dari “Anak Itu Rahmat Allah”. Ya, Mama Lena percaya bahwa semua anak yang lahir itu merupakan rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa. Semua anak itu sangat berharga , entah itu dari mana latar belakangnya. Ia sangat percaya bahwa anak-anak yang lahir dari rahim seorang ODHA sekalipun memiliki masa depan yang baik bila hidup di lingkungan yang penuh cinta dan kasih. Itulah mengapa, Mama Lena memiliki tekad yang kuat untuk mendirikan Rumah Aira dengan segala resiko yang melekat.

Setiap anak memiliki rejekinya masing-masing.

Setiap anak yang memiliki resiko besar tertular HIV/AIDS langsung diberikan penanganan yang intensif. Baik itu dari segi obat-obatan, serangkaian tes serta gizi yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Sebagian besar anak-anak yang sudah terinfeksi HIV/AIDS hidupnya tak lama. HIV/AIDS menyerang daya tahan tubuh anak, sehingga penyakit sangat mudah berkembang. kebanyakan anak-anak yang tidak selamat tersebut tertular HIV/AIDS saat proses melahirkan. Seorang ibu dengan HIV/AIDS dapat menularkan pada anak melalui proses kelahiran yang salah serta melalui ASI yang telah terkontaminasi. Akan tetapi, banyak juga anak-anak yang lahir dari ibu ODHA yang selamat dan tidak terinfeksi HIV/AIDS. Salah satunya seperi Ataya, bayi mungil nan cantik yang aku gendong ini sehat wal afiat dan tidak terinfeksi HIV/AIDS.

Rumah Aira ada juga tidak hanya untuk merawat anak-anak yang beresiko tertular, tapi Rumah Aira juga sebagai rumah singgah untuk ODHA. Awalnya adanya ODHA di Rumah Aira diprotes oleh masyarakat sekitar. Stigma negatif yang melekat membuat masyarakat enggan untuk menerima keberadaan ODHA. Banyak yang menganggap bahwa penularan HIV/AIDS melalui udara, bersalaman, dll. Padahal ODHA yang ada di Rumah AIRA sudah dalam keadaan sehat dan tidak menular penyakit yang berbahaya. Namun dengan edukasi serta pengertian yang diberikan pada masyarakat tentang HIV/AIDS yang benar maka lambat laun masyarakat mulai memahami bahwa HIV/AIDS tidak semenakutkan yang selama ini dipikirkan.

Dari perjuangan demi perjuangan yang dilakukan oleh Mama Lena dan Rumah Aira, memberikanku banyak sekali pelajaran. Peduli saja tidak cukup bila tidak disertai dengan keberanian dan cinta kasih.

Senang bisa belajar banyak di Rumah Aira dan bisa ikut berkontribusi walau masih sedikit. Harapannya, semoga Rumah Aira semakin besar dan bisa membantu banyak anak-anak serta ibu ODHA yang membutuhkan.

video anak dan tante

Lagi, Video Sex Viral. Kali ini Video Seks Anak Di Bawah Umur. Miris!

Awal tahun harusnya menjadi awal yang baik untuk kita. Tapi sayangnya, awal tahun yang harusnya disambut dengan penuh dengan suka cita dan harapan baru justru dikotori dengan beberapa hal yang kini sedang viral. Selain berita selebritis yang baru saja tertangkap pesta narkoba di saat malam tahun baru, ternyata ada video seks yang sedang ramai diperbincangkan.

Masih segar diingatanku tentang video seks yang sangat viral di bulan Oktober 2017 lalu. Hal yang membuat viral karena pelaku dalam video seks tersebut membawa institusi pendidikan yang cukup terkenal di negeri ini. Namun, untuk kali ini berbeda. Mungkin siapa pelakunya tidak memiliki latar belakang seperti video sebelumnya, namun yang menjadikannya cepat viral ialah adegan seks tersebut dilakukan oleh wanita dewasa dan anak laki-laki yang masih dibawah umur.

Ya karena aku sering membahas hal-hal yang berkaitan tentang seksologi, sehingga membuat seorang kawan memberitahuku tentang hal ini. Jujur saja, sebelumnya aku tak tahu menahu bahwa ada video seks yang kembali viral.

“Yor, udah tau belum soal video anak kecil yang lagi viral?”
“hah? Video apaan?”

video anak dan tante

Tanpa banyak menjelaskan kawanku itu langsung mengirimkan screenshoot dari sebuah forum di facebook. Sepintas memang tidak ada yang salah dari foto yang dikirmkan. Namun yang janggal adalah di caption fotonya “Minta linknya donk!”

Wah.. kalo udah gini bisa dipastikan memang berkaitan dengan video porno yang sedang beredar. Jujur aku sangat kepo soal hal-hal seperti ini. Bukan penasaran hanya untuk melihat adegan pornonya, tapi lebih pada menganalisis dari sudut pandang keilmuan.

Tentunya sebelum membuat tulisan ini, aku mencari tahu lebih dalam. Aku tak bisa membuat tulisan hanya dari katanya saja. Banyak yang mengatakan bahwa video yang viral itu berasal dari Indonesia, namun dilain pihak juga ada yang mengatakan bahwa mereka seperti dari negara Asia Tenggara lainnya, seperti Filipin atau Malaysia.

Setelah browsing sana-sini, sayangnya aku belum mendapatkan video  full version dari informasi yang kawanku berikan. Akan tetapi, aku menemukan video lain namun serupa. Aku tak bisa memberikan link videonya karena aku tak mau menyebarkannya.

Dari video yang aku dapatkan, ini cukup panjang yaitu dengan durasi 51 menit. Dalam video itu awalnya ada 3 orang yaitu satu anak laki-laki yang kira-kira usianya 6 atau 7 tahun, seorang wanita berambut panjang dengan rok mini, dan seorang pria yang memegang kamera untuk merekam semua adegan. Dari pembicaraanya terdengar mereka berasal dari Indonesia walau menggunakan bahasa daerah.

Video itu dibuat seperti didalam kamar hotel. Anak laki-laki itu terlihat kucel dan kotor. Asumsiku sih ini anak model-model anak yang sering berada di jalan, seperti pengamen atau anak-anak jalanan. Di video itu sangat terlihat bahwa si anak tidak tahu apa-apa. Dan yang sangat kentara ialah, si perekam (laki-laki) dan perempuan yang menjadi aktrisnya selalu berkomunikasi. Selain merekam, laki-laki juga berperan sebagai pengarah gaya.

Di sepuluh menit pertama, belum terjadi adegan seks. Si anak masih sibuk dengan kasur yang empuk dan mainan yang ada di tangannya. Namun beberapa saat kemudian si laki-laki menyuruh anak tengkurap di lantai sambil melihat kemaluan perempuan yang sengaja duduk dengan posisi kaki terbuka.

Disini mulai terlihat si pria mulai memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkannya. Walau dengan bahasa yang masih baik tapi terlihat ada nada paksaan. Ekspresi si anak masih bingung dengan apa yang disuruh. Si anak terlihat sudah tidak nyaman melakukan hal itu.

Kemudian jeda. Anak dibiarkan melakukan apa yang dimau. Seperti menonton televisi, bermain atau sekedar tidur-tiduran. Nah peran wanita mulai banyak terlihat. Dari bahasa tubuhnya, si wanita mulai banyak melakukan pendekatan. Entah itu dengan memeluk, melihat-lihat majalah bersama si anak dan menggrepe-grepe bagian tubuh anak.

tak lama kemudian, si anak dan wanita mandi bersama. Si wanita mulai aktif memegang kemaluan si anak. Setelah mandi bersama, adegan seks pun dimulai. Si anak mulai merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh wanita. Ekspresi anak sudah mulai ketakutan yaitu dengan menutup mata dan berkata bahwa dia takut. Namun si wanita dan si pria terus membujuknya dan meyakinkan bahwa apa yang dilakukan itu “enak”. Si wanita melakukan oral seks pada anak tersebut dan anak itu semakin ketakutan.

Tak lama kemudian, munculah sosok suara perempuan lain. ternyata perempuan tersebut membawa satu anak laki-laki yang usianya lebih  tua dari anak yang pertama, ya kira-kira 10-11 tahun.

Nah, untuk anak yang kedua ini terlihat berbeda. Selain usia lebih tua, anak kedua ini seperti lebih exited dengan apa yang akan dilakukan. Dengan adanya anak kedua, anak yang pertama menjadi tidak setakut sebelumnya dan akhrinya mau melakukan apa yang diperintahkan. Sesi diakhiri dengan mandi bersama.

Secara garis besar demikian. Aku tak bisa menjelaskan secara detil. Karena tujuannya bukan untuk itu. Dari keseluruhan video ini aku melihat ini seperti video eksperiment atau memang sengaja dibuat untuk tujuan komersil. Dan miris banget mereka memanfatkan anak-anak yang tidak tahu menahu dan masih bersih hatinya hanya untuk mendapatkan ketenaran.

Perempuan Juga Bisa menjadi Pedofilia

Dari banyak pemberitaan yang berdar selama ini mengesankan bahwa hanya prialah yang menjadi pelaku pedofilia. Padahal wanita juga memiliki kemungkinan menjadi pelaku pedofilia. Aku teringat beberapa tahun yang lalu pernah membaca kisah dari seorang ibu yang anak laki-lakinya menjadi korban pedofilia dari oknum ibu guru taman kanak-kanak. Walau si anak tidak mengalami kekerasan seksual seperti di sodomi, akan tetapi secara psikis akan memiliki memori buruk yang berkaitan dengan seks dan dampaknya bisa jangka panjang bila tak segera diselesaikan.

Sebenarnya jumlah pelaku pedofilia perempuan sangat banyak jumlahnya. Akan tetapi tak banyak dipidanakan seperti yang terjadi pada pedofilia pria.

Oleh karena itu penting bagi kita sebagai orang tua maupun calon orang tua memahami pentingnya seks edukasi sesuai dengan tahapan umur. Berikan penjelasan pada anak bagian tubuh mana yang boleh disentuh oleh orang asing dan yang tidak. Dan tak lupa juga mengajarkan anak untuk berani mengatakan “TIDAK” pada hal-hal yang salah walau itu dilakukan oleh orang yang lebih tua.

Semoga kejadian ini segera ditindak dan pelakunya segera di tangkap agar korban tidak semakin banyak. Dan semoga video model-model gini nggak perlulah dibuat viral. Viralkan hal-hal yang lebih baik dan lebih mendidik untuk banyak orang.

Nongkrong Bareng Mariska Lubis

Nongkrong bareng ML

Dipenghujung 2017 lalu aku seperti mendapatkan rejeki nomplok! Bagiku rejeki bukan melulu soal uang, tapi rejeki itu juga bisa seperti ilmu. Dan minggu lalu aku banyak sekali mendapatkan ilmu salah seorang yang selama ini aku kagumi.

Siapa yang tidak mengenal ML (Mariska Lubis) ? Coba saja anda search di google, pasti menemukan banyak tulisan tentang Mariska Lubis yang berkaitan tentang seks. Seperti pernah aku ceritakan sebelumnya, bahwa aku mengenal sosok Mariska Lubis dari sebuah plaform penulisan yang cukup terkenal. Dari situlah aku mengetahui bahwa Mariska Lubis membagikan banyak pengalamannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan seks dan seksualitas. Mulai dari situ aku terus mencari bagaimana caranya bisa bertemu dengan Mariska Lubis. Sayangnya, semua sosial medianya tidak aktif dan terkesan dibiarkan begitu saja. Terlepas dari itu, aku tetap berusaha walau kala itu nihil hasilnya hehe.

Dari beberapa blognya yang sudah tidak aktif, aku mengetahui bahwa Mariska Lubis ialah salah satu penulis senior yang sudah banyak menghasilkan karya buku. Tak pikir panjang, aku langsung mencari salah satu bukunya di toko online, dan whola!! aku mendapatkannya.

Membaca bukunya, aku semakin jatuh cinta. Aku semakin bersemangat untuk mengeksplor lagi kemampuan menulisku. Dan jujur saja, setelah membaca kumpulan tulisannya di Buku “Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar Dari Seks Dong” aku semakin terangsang menulis. Hahaha…

mariska lubis

 

Buku Mariska Lubis

Yey! Dapet tanda tangannya ML

Hingga berselang waktu berlalu, akhirnya Tuhan mempertemukan aku dengan Mariska Lubis di platform penulisan lain. Senang rasanya.. akhirnya mendapatkan jalan untuk bisa belajar dengan beliau secara langsung karena beberapa waktu lalu Teh Mariska berkunjung ke Semarang dan main ke kantor. Kedatangan Teh Mariska selain sambil liburan, beliau juga banyak berbagi ilmu tentang kepenulisan dan blockchain.

Beruntungnya, malam harinya aku berkesempatan untuk nongkrong bareng Teh Mariska Lubis. Aku bersama beberapa kawan mengunjungi china town atau dikenal dengan Kampung Semawis. Sambil icip jajanan, aku dan Teh Mariska banyak ngobrolin soal Seks! Haha ya donks kalo ketemu Mariska Lubis obrolan seks nggak boleh ketinggalan. Dari obrolan itu aku banyak mendapatkan banyak pelajaran, mulai dari kisah awal-awal tehMariska riset tentang seks, sampai pada perdagangan manusia yang juga berhubungan dengan seks. Ingin sekali rasanya malam itu lebih panjang lagi, agar aku bisa menyerap banyak ilmu dari dia. Tapi mau gimana lagi, jam sudah menunjukan pukul 22.15 wib dan Teh Mariska juga terlihat sudah kelelahan karena nyetir sendiri dari Bandung – Semarang.

Goal 2018: Belajar untuk Lebih Berani, Lagi!

Selain banyak belajar dari hasil sharing tentang pengalamannya mendalami soal seks, aku juga belajar tentang keberanian. Semua bidang pasti ada resikonya, terlebih aku telah memilih bidang seksologi.  Banyak kepentingan yang bermain disitu, mulai dari kelas kakap sampai dengan kelas teri. Entah itu kepentingan politik dan juga kepentingan uang. Maka dari itu, tak heran bila selama ini tak banyak orang yang mau terjun langsung ke bidang seksologi, karena ya tekanannya cukup besar.
Jujur saja, selama ini aku masih menjadi orang yang agak penakut. Untuk melakukan beberapa hal saja aku harus berpikir beberapa kali, baru bertindak. Kalo orang-orang menyebutnya, aku banyak banyak ketinggalan momentum. Ya karena terlalu banyak berpikir, haha. Ibaratnya, aku masih takut dengan yang namanya resiko. Padahal, namanya hidup kalo tidak ada resiko berarti bukan hidup namanya.

Ibaratnya, udah nyemplung ya harus basah sekalian, jangan setengah-setengah!Haha, saat itu ibaratnya aku seperti tertampar, dan membuatku tersadar.

Selain mengajarkan tentang keberanian, Teh Mariska juga mengajarkan aku untuk punya goal dalam menjalankan sesuatu. Ibaratnya, jadikan apa yang dikerjakan saat ini sebagai jalan untuk mencapai apa yang ingin aku capai. Misalnya, untuk membiayai riset-riset, travelling or somethingelse. Maka dengan memiliki goal yang jelas dalam mengerjakan sesuatu, maka aku akan lebih bersemangat lagi. Yey!!

Ya, untuk ku goal itu tidak harus selalu banyak. Cukup satu atau beberapa saja, tapi benar-benar serius dan fokus. Lalu bagaimana dengan kalian? Sudah punya target capaian untuk tahun 2018 ini?

Yuk share di coment…

the lovers2

Movie Insight : THE LOVERS (2017)

“Cinta itu dijemput, bukan datang dengan sendirinya.”

Ini quote bikinan pribadi lho, bukan copas dari penulis lain hehe.

Pesan itu yang aku dapat setelah menonton film The Lovers. Aku bukan film addict yang bisa meriew dengan sangat detil tentang film tersebut, namun aku ingin menceritakan tentang refleksi yang aku dapat setelah menonton film tersebut.

Berkisah tentang suami istri (Michael dan Mary) paruh baya yang sudah mulai merasakan “kedinginan” dalam hubungan pernikahan. Setiap hari tidur saling berpunggungan, bicara seadanya saja, dan berperilaku seakan sudah bukan suami istri lagi. Kehampaan yang mereka berdua rasakan ternyata membuat satu sama lain memiliki kekasih gelap. Tanpa diketahui satu sama lain, mereka memutuskan untuk berpisah setelah kedatangan anak mereka.

the lovers1

Hubungan yang hampa itu berubah saat disuatu pagi Michael dan Mary bangun dengan saling berpelukan dan sambil mengecup bibir satu sama lain. Hari itu serasa ada keajaiban muncul. Ya! mereka seperti kembali jatuh cinta satu sama lain dan gairah-gairah yang terpendam lama muncul kembali.

Hari kedatangan anak mereka semakin dekat, dan selingkuhan mereka berdua pun semakin getol mendorong Michael dan Mary untuk segera membicarakan hubungan gelap mereka. Namun, disisi lain ternyata perasaan untuk saling berpisah semakin menurun. Ya karena mereka merasa ternyata mereka masih saling mencintai satu sama lain.

Joel, anak merekapun datang sambil membawa Erin kekasih yang sangat dicintainya. Puncak konflik pun terjadi. Joel mengetahui ternyata ayah dan ibunya menutupi bahwa orang tuanya masing-masing memiliki kekasih gelap.

Aku pribadi mengira bahwa Mary dan Michael tak akan berpisah karena menemukan lagi cinta yang telah lama hilang. Namun ternyata setelah kepergian Joel, keduanya mengemas barang dan pergi masing-masing ke rumah kekasih gelap mereka.

Ah.. sungguh disayangkan. Tapi, ternyata setelah mereka berpisah rasa cinta itu pun semakin besar sehingga membuat mereka diam-diam bertemu untuk menjalin cinta kembali.

Ya.. cukup semrawuts ya. Banyak pengamat film menyebut ini sebagai komedi romantis. Namun aku pribadi tidak melihat sisi komedinya sama sekali. Ya, film ini menggambarkan dua orang yang kurang mensyukuri nikmat yang ada, haha. Udah punya pasangan, selingkuh. Eh begitu dikasih pisah, mau balikan lagi. Wkwkwk..

Sebelum nulis ini aku kebetulan melihat sebuah acara tv yang membahas soal relationship. Si pembawa acara mengatakan “Ada penelitian yang mengatakan, 5 tahun pertama pernikahan adalah tahun yang berat. Penuh pertengkaran, percekcokan dan penuh konflik. Namun sebaliknya, setelah 25 tahun pernikahan justru pasangan tidak banyak konflik. Mereka tak banyak konflik karena saling diam satu sama lain, makanya tidak ada konflik. Untuk bisa mendapatkan kehidupan pernikahan yang harmonis tetap perlu menghadapi konflik. Karena suatu hubungan pasti akan ada konflik, tetapi setiap konflik yang ada tersebut dihadapi dan diselesaikan bukan dihindari dan akhirnya saling diam.”  Begitu kira-kira kata si pembawa acara.

Begitu pula dengan cinta, menurut aku pribadi cinta itu diciptakan bukan ditunggu hingga datang. Kejadian Mary dan Michael dipagi hari itu merupakan trigger, namun hasrat dan gairah bercinta mereka yang muncul kembali itu akibat dari keduanya menciptakan kembali cinta yang telah lama mati.

Jadi bila hubunganmu sudah mulai hambar dan membosankan, bisa jadi kamu kurang kreatif untuk menciptakan cinta-cinta yang baru.

Orang cinta itu tidak melihat kekurangan, namun kelebihan.

Inget ungkapan “tai kucing rasa coklat”? Ya begitulah kira-kira 😀

Buat aku film ini recomended, walau jalan ceritanya sedikit membosankan..

bondage, discipline, dominance, Submision, Sadism, Masokism

Apakah BDSM kelainan perilaku seksual?

Huaa.. akhirnya bisa ngeblog lagi setelah sekian lama hiatus ngurusin tesis wkwkw…

Beberapa akhir ini, kalian yang update soal dunia seksual pastinya tahukan ada dua hal yang lagi hits, yang pertama soal penutupan Surga Dunia Alexis dan yang kedua adalah soal penangkapan dua pelaku BDSM.

Nah soal penutupan Alexis, mungkin udah banyak banget ya yang bahas. Ada yang bilang itu penutupan karena hal politik dan ada pula alasan-alasan lain. Karena aku memang tidak tau lebih dalem (belum pernah masuk situ maksudnya) jadi aku gak akan membahas itu lebih banyak. Nanti dikira ikut-ikutan tren aja xixixi. Tapi pada postingan kali ini aku ingin membahas  soal kasus yang kedua yaitu tentang kasus BDSM.

Pastinya akan banyak yang bertanya, kenapa aku berani-beraninya membahas soal BDSM. Naaaah.. Pastinya aku akan membahas ini bukan asal-asalan aja. Selain aku akan mencantumkan beberapa hal dari referensi ilmiah, aku juga akan mencantumkan penjelasan yang bersumber dari hasil wawancaraku dengan beberapa orang yang sudah lama menjadi pelaku BDSM.

Sebelum aku lanjut lebih dalam membahas soal BDSM, pasti banyak yang bertanya sebenernya BDSM itu suatu bentuk kejahatan seperti tindakan sexual abuse atau bukan sih?

Awalnya, aku pun punya pertanyaa demikian. Aku menganggap bahwa orang-orang yang memiliki kecenderungan BDSM adalah orang-orang yang sering melakukan abuse. Bahkan aku juga pernah berpikir bahwa para pelaku BDSM itu tidak memiliki hubungan sosial yang baik karena cenderung melakukan kekerasan pada orang lain. Namun, seiring aku aku makin banyak membaca soal BDSM dan bahkan samapi mewawancarai lebih dari dua orang pelaku BDSM, sudut pandangku mulai berubah. Dan melihat BDSM dari sisi yang berbeda.

bdsm

 

Secara definitif, BDSM merupakan singkatan dari beberapa kepanjangan. BD = bondage & discipline (kekangan & kekangan) , DS = Dominance & Submision (dominasi & submisi), SM = Sadism & Masokism (menyakiti dan disakiti).

Terdapat perubahan yang cukup signifikan tentang BDSM menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM I & II menyatakan bahwa BDSM merupakan bentuk dari penyimpangan. Sementara, DSM IV dan V menjelaskan bahwa bahwa BDSM hanya tergolong sebagai gangguan psikologis jika menyebabkan tekanan pada diri sendiri dan orang lain. Sehingga BDSM tidak menjadi masalah bila tidak menyebabkan tekanan bagi diri sendiri dan orang lain. (Hasil penafsiran pribadi).

Banyak pakar perilaku terdahulu yang menyatakan bahwa BDSM perupakan salah satu parafilia atau penyimpangan. Beberapa pakar psikologi menghubungkan masokisme dan sadisme dalam BDSM dengan kondisi kejiwaan seperti kegelisahan/anxiety (Bond, 1981; Freud 1961; Socarides, 1974; Stolorow, 1975), dan depresi (Blum, 1988).

Dari hasil wawancaraku dengan dua orang pelaku BDSM, bahwa latar belakang mereka memang dapat dikatakan memiliki historis yang sangat traumatis. Kebetulan keduanya perempuan dan memiliki kecenderungan sebagai sub (submisif atau yang suka disakiti). Sebut saja kedua orang tersbeut ialah KE dan NF. KE dan NF memiliki latar belakang keluarga broken home. Sejak kecil KE mengalami kekerasan oleh ayahnya, sedangkan NF mengalami kekerasan seksual yang juga dilakukan oleh ayahnya. Keduanya cenderung memendam rasa sakit yang dialami. Baik KE dan NF pernah melakukan self harm yaitu menyilet-nyilet lengan sebagai cara pelepasan rasa sakit psikis mereka. Hal ini senada dengan yang dikatakan para pakar, bahwa perilaku BDSM berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Namun, hal ini tidak berlaku pada semua pelaku BDSM. Sebab ada juga pelaku BDSM yang diakibatkan oleh proses belajar dan bahkan ada juga yang menyebutkan sebagai perilaku bawaan (masih diteliti lebih lanjut).

Lebih lanjut lagi, KE dan NF awalnya merasa apa yang dilakukannya sangat aneh karena tidak seperti orang kebanyakan. Mereka berdua mulai banyak mencari-cari referensi, mulai dari artikel sampai dengan komik. Dari situlah mereka memahami bahwa kesukaannya merasa tersakiti salah satu bagian dari BDSM.

Salah satu prinsip yang diterapkan dalam BDSM ialah saling percaya dan mau sama mau. Sehingga, bila BDSM dilakukan tidak dengan keinginan satu sama lain bisa jadi itu masuk dengan perilaku sex abuse. Inget kasus Manohara? Nah.. itu salah satu contoh kasusnya.

Ya, yang penting dalam BDSM ialah ada kesediaan dari masing-masing pihak. Secara sederhana,  aktivitas BDSM cenderung seperti “adegan” atau “sesi” (scene) yang dilakukan pada waktu tertentu di mana kedua pihak menikmati skenario yang melibatkan salah satu pihak melepaskan kontrol atau otoritas.

Karena dilakukan atas dengan kesepakatan, sehingga scene dilakukan dengan suka rela, bukan dipaksa, dan melakukan hal-hal yang diminta. Semua pihak yang terlibat menikmati sesi tersebut, walaupun aktivitas berupa disakiti, dikekang, dll, pada situasi normal sangat tidak menyenangkan. Selain itu adanya faktor saling percaya sangat dibutuhkan karena bagi submisif menyerahkan kontrol pada pihak dominan yang memiliki kekuasaan. Tidak semua kontrol sub diserahkan pada dom. Dalam perjanjian sebelum scene biasanya sub akan menjelaskan apa fetish dan batas kemampuan menahan rasa sakit. Berbeda dengan slave, yang menyerahkan segala hak hidupnya pada master (nanti aku bahas di bagian ke dua ya xixi). Dan karena berbasis perjanjian dan kepercayaan, maka tidak semua scene berakhir dalam hubungan seks. Ya! terkadang ada sub yang meminta dom hanya melakukan bondage (mengikat dengan tali) begitupula ada dom yang hanya ingin merasakan sensasi mencambuk tanpa disertai dengan hubungan seks.

Mugkin ini dulu yang bisa aku bahas kali ini. Karena bahasan yang sangat banyak, jadi aku bagi menjadi dua postingan. Nah, pada bagian kedua nanti aku akan menjelaskan lebih lanjut tentang BDSM secara lebih dalam. Fetish apa saja yang ada, apakah sub bisa menjadi dom, dll. So see you on the next post 😉

nikahsirri

PERAWAN

Beberapa waktu terakhir ini jagad media cetak maupun elektronik sedang dihebohkan dengan lelang keperawanan di situs nikahsirricom. Banyak orang yang mengecam keberadaan situs tersebut sehingga kini situs itu tak bisa lagi di akses dan pemiliknya telah dipolisikan. Banyak berita beredar bahwa Aris, si pemilik situs kontroversial tersebut mengalami gangguan jiwa pasca gagal mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Entah benar atau tidak, aku tidak tahu. Tapi karena aku kepo dan ingin tahu apakah berita tersebut benar, maka langsunglah aku mencari berita-berita terkait di mbah google.

Aku menemukan salah satu situs portal berita online yang memberikan tautan ke situs Aris yang lain, yaitu partaiponsel.com . Tak menunggu waktu lama, aku menyegerakan untuk singgah di web yang mungkin kini trafic pengunjungnya sudah mencapai ratusan ribu per hari.

Baru membaca tulisan yang ada di home pagenya saja aku sudah mulai merasa aneh. Aku memang bukan ahli tata bahasa, tapi sebagai orang awam aku merasa banyak keanehan dari tulisan tersebut dilihat dari tata bahasa dan struktur katanya. Dan terlihat sangat jelas disitu ada obsesi berkuasa yang agak tidak masuk akal.Dalam website tersebut ternyata aku juga menemukan apa maksud dan tujuan Aris membuat situs nikahsirri. Menurutnya, nikahsirri merupakan salah satu program kerakyatan yang berada di Partai Ponsel miliknya.

“Nikahsirricom adalah pengejawantahan “konsep baru yang brutally honest” bahwa kelamin juga merupakan aset yang bisa dijadikan sebagai alat reproduksi untuk pemasukan dana bagi keluarga, yang sama halalnya dengan alat-alat produksi selama ini dikenal, seperti otak (bagi pekerja kerah putih) dan otot (bagi pekerja kerah biru).” Dikutip dari situs partai ponsel.

Setelah aku membaca kalimat tersebut pikiranku langsung melayang ke lokalisasi yang sering aku kunjungi. Para pelacur di lokalisasi juga menggunakan alat kelamin mereka sebagai alat untuk menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga mereka. Begitu pula dengan dalih menghalalkan perzinahan dengan nikah sirri juga sempat aku temukan di lokalisasi. Terdapat beberapa oknum kyai atau ustad yang menggunakan berbagai macam cara untuk menghalalkan proses transaksi seks yang mereka lakukan, yaitu dengan melakukan ijab sebelum berhubungan seks.

Kembali lagi ke soal Aris dengan nikahsirri-nya, walau kontroversial toh tetap saja banyak orang yang tertarik dan rela membayar token sebagai maharnya dan juga banyak mitra yang tertarik untuk bisa bekerja sama.

Pertanyaanya sekarang, apakah iya pola pikir kebanyakan orang masih menganggap wanita dari status keperawanannya saja dimana gadis perawan lebih mahal harganya dibandingkan yang sudah tidak lagi perawan? Lalu apa gunanya bagian lain seperti kemampuan otak, attitude, bakat dan segala potensi yang terkandung di tubuh seorang wanita?

Kalau begitu, beli saja boneka seks yang selalu perawan dan selaput vaginanya tidak akan pernah sobek walau sudah dihujam berkali-kali.

friends with benefit

Tanya Yori #2 : Pilih Onani atau Friends With Benefit Relation ?

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang pria yang mengirimkan message melalui aplikasi chat. Kurang lebih seperti judul yang aku tulis. Pertanyaannya memang belumaku jawab secara gamblang, karena chat tidak berlanjut setelah aku bertanya “Kronologisnya gimana ya?”

Nah, karena aku tidak tahu menahu gimana jalan ceritanya sampai pertanyaan itu muncul, maka aku nggak bisa bantu suggest apa-apa. Jadi lewat tulisan ini aku akan sedikit menjelaskan tentang apa itu Friends With Benefit Relationship atau yang sering disingkat FWB ini secara umum.

Apa itu Friends With Benefit?

Awalnya, jujur aku bingung ketikan ditanya tentang FWB itu apa. Tapi setelah tahu kepanjangannya, aku jadi ingat salah satu film yang diperankan oleh Justin Timberlake dan Mila Kunis dengan judul yang serupa dengan bahasan ini dan satu lagi judul film No Strings Attached yang cukup terkenal.

friends with benefit

Bagi yang belum pernah nonton filmnya atau familiar dengan relasi jenis ini pasti bingung kan ya.. Namanya temen itu saling menguntungkan dengan saling tolong menolong satu sama lain. Tapi yang dimaksud dengan FWB lebih sekedar saling tolong menolong, tapi sudah sampai pada relasi seksual.

“Friend with Benefits is two friends who have a sexual relationship without being emotionally involved” – urbandictionary

Jadi gampangnya, Friends With Benefits ialah keadaan dimana dua orang teman memutuskan untuk saling behubungan seksual tanpa adanya ikatan emosional atau dua orang yang melakukan hubungan seksual secara casual tanpa adanya komitmen untuk berada dalam suatu ikatan.

Cuma temenan, bukan pacaran, tapi begituan.

FWB ini bisa terjadi tidak hanya pada heteroseks saja, namun juga bisa pada homoseksual dan orientasi seks lainnya. Yang menjadi ciri dalam relasi ini ialah sama-sama bersedia menjalin hubungan tanpa adanya romantisme, tidak memiliki keterikatan pada komitmen hubungan layaknya hubungan pacaran serius (yakalii.. pacaran aja ada yang cuma main-main hihihi…) .

Latar belakang memilih untuk FWB – an

Tentunya dalam setiap tindakan dilandasi dengan tujuan, alasan or something else dong ya.. Nah menurut survey yang aku dapet dari mince (eh kok mince ya haha) maksudnya dari beberapa survey bahwa kebanyakan dari mereka yang menjalani relasi ini atas dasar untuk kesenangan belaka. Sehingga sebelum memutuskan untuk jalan, kedua belah pihak saling berjanji untuk  “no heart and hurt feeling”.

friends with benefit quote

Namun, disisi lain ada juga yang menyebutkan bahwa yang melandasi seseorang menempuh relasi ini ialah karena menjalani hubungan percintaan merupakan hal rumit dan penuh dengan drama. Sehingga mereka yang memilih untuk FWB-an (konon) tidak akan punya perasaan apa-apa saat temen FWB-annya FWB-an lagi sama orang lain yang FWB-an juga. Haha mumet!

Perbedaan FWB menurut laki-laki dan perempuan

Ternyata fenomena FWB ini sudah banyak yang meneliti, baik dari dalam dan luar negeri, salah satunya ialah penelitian yang dilakukan di Inggris dan dimuat dalam Journal Of Sex Research. Dalam penelitian itu menyebutkan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan dalam menjalani relasi seks ini ialah kebanyakan laki-laki menginginkan status tidak berubah hingga waktu yang lama bahkan seterusnya, sedangkan pada perempuan seiring waktu mereka mulai menunjukkan hasrat untuk merubah hubungan tanpa komitmen menjadi ke arah yang lebih serius ke dalam hubungan romantis.

Dari hasil penelitian tersebut kita dapat mengambil garis besarnya, salah satu pihak (kebanyakan perempuan) ingin merubah relasi ini menjadi cinta.  Karena menurut pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino.

Lho? Kenapa laki-laki bisa tegas tapi perempuan tidak?

Jangan judgemen dulu, pastinya hal itu ada penjelasannya.

Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan relasi seks yang dijalani. Tidak bisa dipungkiri bahwa  orgasme bisa memberikan kenyamanan secara batin, emosi dan psikologis. Dibalik itu semua terdapat kinerja hormon yang mempengaruhi kinerja emosi. Hormon yang itu salah satunya ialah hormon cinta atau dikenal dengan hormon oksitosin. Fungsi utama hormon oksitosin ini bertanggung jawab untuk menciptakan emotional bounding. Itulah kenapa saat saling menikmati hubungan seks, muncul rasa sayang dan bisa muncul rasa cinta. Yang tadinya cuma 1% bisa menjadi 89%. Hormon ini memang dominan pada wanita karena hormon kasih sayang ini juga muncul saat seorang wanita memberikan ASI pada anak yang  mencetus adanya ikatan emosi antara ibu dan bayi.

Maka tak heran, bila sudah terjadi beberapa kali relasi seks yang berujung pada orgasme, akan muncul rasa yang lebih dari teman. Apalagi setelah orgasme dilanjut dengan pillow talk, saling mengobrol untuk menceritakan kepenatan hari dan menceritakan tentang satu sama lain. Maka dari situlah drama dimulai. Mulai dengan memberi sedikit perhatian “udah makan belum”, “jangan pulang kantor larut malem ya…” dan tipe ungkapan perhatian lainnya.

Mungkin bagi pria ini adalah hal yang biasa dan tidak menyalahi perjanjian di awal. Namun gimana dengan wanita? Kenyamanan emosional seringkali mengalahkan logika. Karena sebagian besar wanita seringkali masih berpikir dengan hati.

Siapa pihak yang rugi?

Bisa ditebakkan siapa yang rugi? Yap! Mereka yang gampang baper. Aku nggak bilang kalo selamanya wanitalah yang rugi, karena saat ini juga banyak pria yang otaknya ada di hati.

Memang setiap hubungan selalu ada risikonya, namun dibalik itu semua jika dalam FWB terjadi kehamilan maka pihak perempuanlah yang banyak menanggung risiko. Risiko ditinggal, risiko tidak diakui, dan segala risiko lain yang melekat.

Begitupula dengan laki-laki, jika menjalani relasi FWB-an berarti menunjukkan pria yang tidak pantas untuk dicintai. Ada kutipan bagus yang aku comit dari internet,

“friends with benefits” in reality is telling you to your face that you’re good enough to f*ck, but not good enough to invest feelings in.

Loh?! Di luar negeri aja banyak yang jalanin hubungan tanpa status fine-fine aja tuh? Apa salahnya untuk dicoba?

Ya memang di luar negeri sana banyak yang menjalani hubungan tanpa adanya komitmen, bahkan tanpa secara legal hingga punya anak. Tapi, tunggu dulu.. ingatlah pola budaya, pola hidup kita orang timur jauh berbeda dengan mereka. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kesetaraan gender di luar negeri sudah lebih baik dari pada di negeri tercinta ini. Kebanyakan mereka menjalani FWB memiliki tanggung jawab yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Aku sempat bertanya dengan saudara yang udah lama tinggal di luar negeri, bahwa kebanyakan pasangan di sana memutuskan untuk tidak berkomitmen secara legal karena nikah punya beban pajak yang besar dan juga karena alasan menikah itu ribet. Dari sudut pandang mereka bahwa komitmen itu tidak hanya bicara soal legalitas, yang terpenting adalah tanggung jawab. Jadi daripada buang waktu dan energi, mereka memilih untuk living together.

 

 

Jadi pilih onani atau FWB-an ?

 

Fetishism

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang kerabat yang bercerita padaku tentang perilaku aneh yang dialami oleh saudaranya, sebut saja Z. Perilaku aneh Z tersebut sudah pada taraf mengekhawatirkan keluarga dan meresahkan lingkungan sekitar. Perilaku mencuri dalam wanita saat di jemur membuat Z hampir saja diamuk masa. Kerabatku itu menceritakan bahwa perilaku itu bukan pertama, namun sudah diulang beberapa kali. Kerabatku mengatakan bahwa Z pernah bercerita kalo apa yang dilakukannya itu untuk tujuan suatu ilmu yang bisa menolong orang banyak. Namun itu juga masih belum jelas.

Dari kasus diatas, memang belum bisa dipastikan apakah perilaku Z termasuk pada penyimpangan perilaku seksual atau bukan. Tapi, dari kasus tersebut aku jadi ingin membahas lebih lanjut tentang perilaku seks menyimpang yang berhubungan dengan dalaman wanita hehehe..

Pastinya sudah pada denger donk di berita-berita tentang kriminal yang tertangkap tangan mencuri dalaman wanita? Setelah diselidiki ternyata kriminal itu menyimpan banyak hasil curiannya dan digunakan agar bisa mencapai orgasme. Orgasme bisa mencapai titik klimax tertinggi dengan mencium-cium bahkan menggosok-gosokkan dalaman pada alat kelamin. Bagi mereka itu wajar-wajar saja, namun bagi orang lain akan melihat perilaku tersebut merupakan perilaku yang menyimpang.

Dalam psikologi, perilaku menyimpang jenis ini disebut dengan Fetishism, yaitu penyimpangan seksual dimana individu melakukan aktivitas-aktivitas seksual yang melibatkan objek tertentu yang bisa merangsang munculnya fantasi seksual dan gairah seksualnya sehingga bisa mencapai orgasme. Sebenarnya fetishism tidak terbatas pada dalaman wanita saja, namun sangat banyak macamnya, misalnya stoking, bra, sepatu, kulit, dll.

Bila ditelusuri lebih dalam, ternyata di Indonesia sendiri banyak sekali orang-orang yang memiliki Fetish pada dalaman wanita. Iseng sih aku cari di google, ternayata ada group FBnya. Namun sayangnya, sudah lama nggak aktif. Mungkin sampai saat ini masih ada, namun terselubung. Dari group itu banyak hal yang bisa dicari tahu. Ternyata ada transaksi jual beli celana dalam juga loh. Bukan celana dalam baru, namun yang bekas pakai dan memang sengaja nggak dicuci. Selain bentuk celana dalam yang seksi, aroma vagina bekas pemakainya juga bisa meningkatkan libido mereka.

Group FB Celdamers

Group FB Celdamers1

Mereka juga pilih-pilih ketika ingin mencuri atau membeli celana dalam. Mereka akan dengan sangat cermat memilih kriteria wanita dari berbagai sisi. Misalya dari bentuk fisiknya, kepribadiannya, bahkan sampai kebiasaan-kebiasaanya. Bagi pencuri celana dalaman, biasanya mereka akan mengobservasi dulu, bisa dengan pura-pura sebagai petugas pengecek PAM, petugas pengantar paket, bahkan sampai pura-pura jadi pengamen. Sedangkan yang hanya pembeli celana dalam, seringnya mereka hanya melihat dari bentuk fisik dari foto yang tersedia.

Jadi sebenarnya, informasi-informasi yang didapat itu membuat mereka seakan sedang bersenggama dengan si pemilik celana dalam. Fantasi tentang wajah, bentuk tubuh, bahkan aroma membuat mereka makin bisa greeengg.

Nggak cuma kripik pedes aja yang punya bebergai level, Fetishism juga ada level-levelnya, lho..

 Level pertama: Pemuja (Desires)

Ini adalah tahap awal dan tidak terlalu mengganggu pikiran seseorang.

Level kedua : Pecandu (Cravers)

Ini adalah tingkatan lanjutan dari tingkat awal. Saat seseorang Fetishist telah mencapai tahap ini, secara mental orang ini akan membuat dirinya “amat membutuhkan” barang –barang pemuas seksualnya. Bila hal itu tidak dapat terpenuhi, akan berpengaruh pada kehidupan seksualnya misalnya hilang hasrat seksual atau tidak tercapainya orgasme.

Level ketiga : Fetishist Tingkat Menengah

Ini termasuk tingkat yang berbahaya, Fetishist akan melakukan apapun demi mendapakan objek yang dia inginkan, bisa dengan cara yang tak lazim seperti mencuri, merampas, bahkan menculik.  Hasrat seksual Fetishist ini hanya akan terlampiaskan bila apa yang diinginkan telah didapatkannya.

Level ke-empat : Fetishist Tingkat Tinggi

Lebih sadis dari level ketiga, pada tingkat ini seseorang tidak akan peduli dengan hal lain di luar fetish-nya. Misal Fetish seseorang adalah dalaman wanita, maka dia tidak membutuhkan wanita itu, hanya dalamannya saja. Dan yg lebih parah adalah bila Fetish seseorang adalah objek berupa bagian tubuh, dia hanya membutuhkan bagian tubuh orang itu saja dan tidak peduli dengan orang yg memiliki bagian tubuh itu sendiri. Apapun dilakukan, walau dengan cara sadis sekalipun.

Level kelima : Fetishistic Murderers

Pada tingkat ini memang sudah sangat parah. Seorang fetishme rela membunuh, memutilasi, demi mendapatkan fetish yang diinginkan.

Jika ada kerabat atau bahkan kamu sendiri yang memiliki hal-hal yang mirip dengan apa yang aku tulis, segeralah cari informasi lebih lanjut atau pergi ke psikolog profesional yang bisa membantu. Tenang saja, perilaku menyimpang bisa disembuhkan bila ada kebutuhan untuk merubahnya.

halal haram

Hubungan Seks Halal tapi Nggak Aman ?

Pertanyaan diatas kok kayanya terdengar aneh ya? Bukannya segala sesuatu yang Halal itu baik? Sesuatu yang baik itu pastinya juga aman kan ? Tapi coba logikanya dibalik, adakah sesuatu yang halal tapi tidak aman dan sesuatu yang tidak halal malah justru aman ? Bisa jadi ada.

Tulisan aku kali ini ingin share sesuatu konsep berpikir yang baru aja aku temukan di salah satu tulisan sekapur sirih sebuah buku. Buku yang berjudul “Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak” yang di tulis oleh Mantan Mentri Kesehatan Tahun 2009, Endang R. Sedyaningsih.

Diawal, ketika aku melihat buku ini di online-shop aku mengira buku ini hanya menceritakan tentang kisah-kisah pelacur Kramat Tunggak ketika sebelum digusur dan digantikan menjadi Daerah Islamic Centre. Ternyata dugaanku agak meleset, buku ini berisi lebih lengkap dari dugaan awalku. Buku ini berisikan konsep-konsep berpikir baru dalam melihat fenomena pelacuran, HIV/AIDS, dan yang menyertainya.

Aku tidak akan meriview buku dalam postingan ini, aku ingin berbagi tentang konsep yang baru saja aku dapatkan dan membuat aku menjadi lebih membuka pikiran lagi dan lagi. Konsep itu namakan saja konsep Halal-Haram dan Aman-Tidak Aman. Konsep tersebut dijelaskan dengan sejelas-jelasnya oleh Irwan Julianto, seorang wartawan senior kompas dalam sekapur sirih yang berjudul “Meretas Stigma PSK sebagai ‘Penular’ HIV/AIDS”.

Secara simpelnya begini,

Halal Haram - Aman Tidak Aman

“Para istri yang melakukan hubngan seks yang halal dengan suami sah mereka ternyata banyak yang tidak aman hanya gara-gara suami mereka tidak melindungi diri (dengan kondom) ketika “jajan” seks komersial. Karena seks Halal yang Tidak aman menjadi relative lebih buruk jika dibandingkan dengan seks yang Haram namun aman, misalnya dilakukan oleh suami “jajan” seks komersial namun sadar infomasi HIV/AIDS, sehingga menggunakan kondom. Dengan demikian ia melindungi istri dan anak-anaknya dari kemungkinan penyakit menular seksual, khususnya HIV/AIDS.”

Penjelasan diatas adalah asli (bukan saduran) dari buku yang aku baca. Menurutku, penjelasan diatas sangat masuk akal. Karena apa? Yak karena angka HIV/AIDS kini lebih banyak diderita oleh ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya. Ibu rumah tangga yang melakukan seks dengan “halal” malah terinfeksi, sedangkan wanita pekerja seks dijalanan yang melakukan seks yang “haram” justru terlindungi dari infeksi HIV/AIDS karena sadar dalam penggunaan kondom. Memang tidak semua para ibu rumah tangga terinfeksi HIV/AIDS karena suami jajan sembarangan bisa jadi sebab lain seperti kasus suami pengguna narkoba. Tapi kenyataanya kesadaran penggunaan kondom masih sangat rendah pada ibu rumah tangga, karena pertama unsur kepercayaan pada suami yang sangat tinggi.

Rasa-rasanya, memang hal itu sangat tidak adil. Mengapa seorang istri yang sudah menjaga diri dan melakukan sesuatu dengan “halal” malah terinfeksi HIV/AIDS. Hal itu tidak terlepas dari budaya dan value yang ada di masyarakat.

Hanya seorang wanita yang dituntut untuk menjaga kesucian hingga waktunya tiba, dengan segala tetek bengek aturannya. Sedangkan laki-laki dimaklumin dan dianggap wajar jika melakukan hubungan seks sebelum menikah baik itu atas dasar suka sama suka atau karena sukanya “jajan”. Bahkan adapula laki-laki beralasan mencari banyak pengalaman seks sebelum menikah demi memuaskan istri di kasur. Shit Mann.

Nggak heran kalau angka infeksi HIV/AIDS di Indonesia masih dan semakin tinggi. Semua sudah dilakukan, berupa penjangkauan, edukasi seks aman, VCT gratis dll. Namun satu hal yang butuh usaha yang lebih besar, yaitu merubah paradigma tentang male-dominated-society. So, please open your mind.

Lakukan seks dengan aman, perkara halal dan haram itu hanya Anda dan Tuhan yang tahu.