Posts

Kuliner Khas Suroboyo “Tombo Kangen” Bu Yuli yang Mak-Jleb! di Ungaran

Beberapa bulan yang lalu, aku berkesempatan mengunjungi Sidoarjo, Jawa Timur untuk mengikuti sebuah pelatihan psikologi. Selain ingin menambah ilmu terkait bidang ilmu yang aku dalami, aku juga sangat menantikan untuk bisa travelling a.k.a jalan-jalan ke daerah Jawa Timur. Entah mengapa, hasrat hati ini belum terpuaskan sewaktu mengunjungi Surabaya dua atau tiga tahun silam. Ya jadinya ketika ada event atau pelatihan psikologi or sexology di daerah Jawa Timur nggak akan aku sia-siakan.

Nah… sewaktu di Sidorjo aku tak sengaja bertemu jodohku. Ya jodoh  yang selama ini aku nanti-nantikan. Yaitu makanan khas Jawa Timur yang cocok di lidahku. Proses pertemuan dengan jodohku yang satu ini terbilang sangat mendadak. Malam itu aku dan beberapa kawan pergi ke luar hotel untuk mencari santapan. Karena waktu itu lagi nglakuin diet ala ala ngurangin karbo makanya aku memilih menu makanan yang nggak pake nasi. Dari sekian warung penyetan yang berjejer di pinggir jalan mataku terpaku pada geber yang bertuliskan “Tahu Campur Khas Surabaya”.

Seperti pikiran orang Jawa Tengah pada umumnya, yang namanya tahu campur itu ya bumbunya hampir sama kaya bumbu kacang untuk pecel uleg atau lotek, yang beda cuma isinya aja yaitu ada tahu, kol mentah, tauge dan lontong.

Saat aku mulai memesan tahu campur Surabaya itu aku langsung takjub. Cuma bisa komentar dalam hati. “Loh.. loh.. loh… kok pake kuaaah? Itu rasanya gimana? Terus bumbunya kok item?”, aneh bin nggak wajar buat aku.

Dalam hati sebenernya aku ragu untuk menyantapnya. Tapi apa mau dikata, ternyata perut tak terlalu perduli dengan apa yang ada di pikiran. “Pokoknya mau makaan!!!”, perutku meronta-ronta. Menurut teori Maslow, kebutuhan dasar harus terpenuhi dahulu agar bisa mencapai kebutuhan tertinggi yaitu aktualisasi haha.. jadilah aku makan.

Huwaaaaaa!!!! Dari suapan pertama aku langsung jatuh cinta!! Ternyata bumbu hitam seperti tinta itu ternyata petis yang diolah sedemikian rupa dengan bumbu yang entah aku nggak terlalu paham. Aku takjub! Ternyata petis yang selama ini aku rasakan di Semarang itu rasanya nggak ada sekuku itemnya petis dari Surabaya. (lah petis udah item masa punya kuku item? Ya pokoknya begitulah haha). Aku adalah orang yang suka banget ngeet ngeet sama petis, jadi langsung bisa bedain mana petis yang endes sama yang enggak. hehehe

Begitulah awal aku jatuh cinta sama yang namanya Tahu Campur Surabaya.

Waktu berlalu, dan usiapun semakin senja. ( puisi paan coba? :p )

Maksudnya, bulan demi bulan berlalu. Rasa kangen akan Tahu Campur Surabaya pun muncul kembali. Tapi apa boleh di kata, belum jugamenemukan tambatan hati yang baru. Hingga suatu hari aku bertemu jodohku yang lain. Bukan di Sidoarjo ataupun Surabaya, tapi di Ungaran, sebuah kota kecil yang sangat dekat dengan Semarang.

Baru dua minggu yang lalu sih aku ketemu jodohku ini. Waktu itu juga dipertemukan secara tiba-tiba saat  ingin membatalkan puasa. Awalnya mau makan soto, tapi bosan rasanya karena di Semarang udah keseringan makan soto. Jadi coba muter badan sejenak dan eng ing eng ketemu sebuah warung sederhana namun terang benderang dan bersih. Warung itu bernama “Tombo Kangen – Kuliner Khas Suroboyo”.

warung tombo kangen kuliner khas suroboyo di ungaran

warung tombo kangen kuliner khas suroboyo di ungaran

 

Saat memihat daftar menunya memang agak bingung. Dari beberapa menu yang disediakan aku hanya familiar dengan dua menu yaitu tahu campur dan rujak cingur. Tanpa pikir panjang aku langsung dong milih tahu campur dan si ay pesen rujak cingur.

Jujur, hatiku waktu itu cukup deg-degkan. Mana perut laper, kalo makanan nggak sesuai ekspekstasi bakal gimana gituu. “Yaweslah, sing penting yakin enak wae!” Aku mencoba menguatkan hati haha.

Sambil menunggu makanan disiapkan, aku dan ay menikmati ocehan dua burung (entah apa namanya) yang saling bersahutan. Jadi waktu menunggu terasa sangat singkat karena seneng aja gitu lo menikmati suara-suara burungnya.

Tak lama.. makanan pun datang. Hmm.. dari aromanya aja petisnya udah kerasa di tenggorokan. Sebelum mencampur semua bumbunya, aku mencicipi kuahnya. Ringan tapi bumbunya kerasa. Kemudian aku langsung mencampurkan semua bumbu beserta isinya. Dan huwalaah… enake pol! Petisnya memang kerasa nendang banget dan bikin pengen segera ngabisinnya. Begitu juga dengan rujak cingur pesenan si ay. Semua komposisi bumbunya sangat pas banget. Pokoknya juara lah!

tahu campur surabaya enak di ungaran

tahu campur surabaya enak di ungaran

 

rujak cingur asli khas surabaya di ungaran

rujak cingur mantep khas surabaya di ungaran

Setelah menyantap habis hidangan, aku dan ay menyempatkan diri untuk mengobrol dengan sang pemilik. Bu Yuli namanya. Orangnya sangat ramah dan enak untuk diajak bincang-bincang. Tujuan Bu Yuli membuka warung ternyata untuk dijadikan sebagai tempat berkumpul dan  pengobat rindu untuk arek-arek Suroboyo yang merantau ke Ungaran dan sekitarnya. Menurut beliau, warungnya didedikasikan untuk perantau agar selalu ingat dengan kampung halamannya.

Kok seneng banget ya mendengarnya, hehe.

Jujur aja, aku memang bukan tipikal food blogger yang bisa mendeskripsikan makanan secara detil dalam bentuk tulisan. Mungkin tulisanku ini jauh dari sempurna. Aku menuliskan ini atas dasar rasa terima kasihku pada Bu Yuli. Sebagai penikmat makanan, aku cukup bisa merasakan cinta di setiap makanan yang beliau masak. Secara pribadi aku memang tidak mengenal siapa Bu Yuli. Tapi aku  melihatnya dari sisi santapan yang aku nikmati dan entahlah selalu ada perasaan senang sesaat setelah aku selesai menyantapnya (udah dua kali mampir, dan rasanya konsiten endes! )

Semoga apa yang aku tulis bisa menambah wawasan lidah kalian ya guys! Tak perlu takut untuk mencoba sesuatu yang baru, mulailah dari mencoba makanan yang tak pernah kalian coba sebelumnya. Setiap orang pasti punya selera, seleraku pasti beda juga dengan selera kalian. Jadi apa yang aku bilang enak juga belum tentu kalian rasakan begitu pula sebaliknya. Tapi apa salahnya untuk mencoba hal baru? Siapa tau jodoh..

Kalo ada makanan, tempat atau sesuatu yang recommended. InsyaAllah aku share lagi.

See ya!

Masturbation

ONANI

Bagi kalian yang udah dewasa, mungkin udah nggak asing lagi ya sama yang namanya onani. Bisa dibilang, onani merupakan suatu kegiatan merangsang diri sendiri untuk bisa menyalurkan hasrat seksual. Seringkali, orang tidak menyebutkan aktivitas seksual tersebut dengan istilah onani, mereka biasanya menggunakan kata ganti lain seperti ngocok, misalnya. Onani itu bisa juga diistilahkan dengan sebutan masturbasi. Maturbasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Manus (tangan), stuprate (penyalah gunaan)yang artinya penyalah gunaan tangan atau dalam istilah ilmiah Coitus Interruptus. Sebenarnya, onani tidak hanya dilakukan dengan menggunakan tangan, namun bisa juga menggunakan alat bantu. Selain itu, onani tidak terbatas gender sehingga tidak hanya pria, wanita juga punya perluang besar melakukan onani.

Sejarah Onani

Sama seperti hal lain, onani juga punya sejarahnya sendiri. Sejarah onani ini lebih dominan pada alkitab kristen yang terdapat pada Kejadian 38:6-10. Kisah tentang seorang penmuda bernama Onan yang bingung karena ia diperintah oleh ayahnya yang bernama Yehuda untuk menikahi janda dari almarhum kakaknya. Karena tidak ingin janda tersebut hamil, maka setiap kali berhubungan seksual Onan mengeluarkan spermanya di luar tubuh janda tersebut. Namun, cara tersebut membuah Tuhan murka, dan akhirnya Onan mati.

Selain kisah dari Alkitab, ada pula sejarah tentang onani yang berasal dari Zaman Mesir Purba. Jika di lacak dari kitab-kitab kuno Mesir, konon onani menjadi salah satu ritual beribadah kepada para Dewa Matahari.

Cerita Onani juga bisa dilacak dalam kebudayaan Yunani Kuno. Seorang wanita Yunani bernama Metro, memiliki teman wanita bernama Coritto. Mereka adalah dua sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Di suatu hari Metro bermaksud meminjam dildo, sebuah alat berbentuk alat kelamin laki-laki milik sahabatnya itu. Namun sayang, Coritto telah meminjamkannya pada orang lain. Metro begitu terobsesinya pada dildo, ia menanyakan pada sahabatnya di mana alat itu dibuat dan ia terinspirasi untuk membuatnya sendiri. Kemudian ia mendatangi ahli pembuat dildo dan minta dibuatkan yang sama seperti Coritto.

Pandangan soal Onani

Banyak yang menganggap onani adalah hal yang sangat tabu dibahas. Sehingga tak jarang, ketika ada seorang yang ingin bertanya soal onani saja ia akan merasa sangat cemas karena takut dihakimi.Seperti pada Abad Pertengahan, masturbasi dianggap sebagai kegiatan terlarang bahkan dianggap kelainan. Para filsuf semperti Immanuel Kant menganggap mastubasi adalah akar kebejatan masyarakat. Secara moral, masturbasi dianggap sebagai sebuah penyakit menyeramkan.

Namun saat ini, kegiatan merangsang alat kelamin mulai dipandang dengan perspektif yang lebih liberal. Salah satunya disebabkan dari riset penting yang dilakukan oleh seksolog Alfred Kinsey yang melakukan penelitian mendetail tentang seksualitas manusia di University of Indiana. Menurut penelitiannya, masturbasi tak ada hubunganya dengan gangguan apapun.Dr. Eli Coleman, seorang profesor di Departemen Kesehatan Keluarga dan Masyarakat, University of Minnesota mendukung penggunaan adanya alat bantu seks untuk membantu seseorang mengenali tubuh dan seksualitasnya. Karena menurutnya, mastubasi adalah bentuk ekspresi seksual yang sehat.

Manfaat Onani

Pergeseran pandangan soal onani yang kini cenderung positif ternyata dimanfaatkan sebagai sebuah bisnis di Jepang. Jepang memang sangat identik dengan industri seksnya, namun ini berbeda. Sebab baru-baru ini “whitehands” menjadi topik hangat karena memberikan jasa bantu onani untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Jasa ini ditujukan untuk membantu pelepasan seksual bagi penderita paralisis dan gangguan otot yang tidak dapat bermasturbasi secara normal. Sama seperti orang normal, orang berkebutuhan khusus juga memiliki hasrat seksual yang butuh dilepaskan. Oleh karena iti, jasa ini diadakan demi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dampak Buruk Onani

Walaupun kini sebagian masyarakat menganggap masturbasi adalah hal lumrah dan bahkan sehat, namun pada kenyataanya melakukan masturbasi berlebih ternyata malah dapat memperburuk kesehatan. Banyak kasus ditemukan tentang penis yang lecet dan berdarah serta perempuan yang terlalu sering menggunakan vibrator sampai kulit vaginya terluka. Selain gangguan secara fisik, terlalu banyak onani juga dapat berdampak buruk terhadap sisi psikologis, seperti ketergantungan, cemas, merasa berdosa, bahkan hingga  ejakulasi dini.

Kesimpulan

Bicara soal masturbasi memang tidak bisa digeneralisir untuk semua orang. Setiap orang punya pandangan masing-masing terhadap seksualitasnya. Salah satu hal yang terpenting adalah, keyakinan dalam diri. Jangan sampai keyakinan tertentu soal masturbasi (entah yang pro atau yang kontra) malah menjadikan masalah baru. Jika kamu pro, lakukan lah sewajarnya. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ibaratnya, seseorang yang terlalu banyak minum vitamin C juga malah bisa mengalami kerusakan ginjal. Dan jika kamu kontra, maka yakini saja bahwa itu baik untukmu. Yang terpenting, jangan sampai keyakinanmu itu malah membuatmu bermasalah. Sebab banyak kasus yang seseorang stress karena merasa sangat berdosa besar setelah melakukan masturbasi.

Ingatlah, tubuhmu adalah otoritasmu.

 

https://www.facebook.com/ForumNandurBecik/

Menanam Kebaikan di Rumah Sasongko

Kosong adalah isi dan isi adalah kosong – Biksu Tong“. Entah kenapa yang langsung terlintas dalam benakku saat mendengar kata kebaikan adalah sepenggal quote yang diucapkan Biksu Tong saat melakukan perjalanan mancari kitab suci bersama kelima muridnya.

Bagi yang belum familiar memang quote itu terdengar membingungkan. Ya gimana jadinya kosong dibilang isi dan malah isi dibilang kosong? Aku juga demikian. Diawal ndak mudeng apa maksudnya tapi sedikit demi sedikit aku mulai memahaminya salah satunya saat aku mulai banyak memasuki dimensi-dimensi lain yang semakin membuka pikiranku.

Memahami suatu maksud memang membutuhkan waktu dan juga keterbukaan. Bukan soal terbuka pikiran saja, namun hingga mencapai level terbuka hati. Kadang sulit dicerna dan sering juga tidak masuk ke alam pikir yang selama ini aku amini. Namun ya realitasnya yang terjadi seperti itu. Dunia terus bergerak dan hanya orang bodoh yang tak mau menerima perubahan-perubahan yang kian hari kian cepat.

Dan itu membuatku ketawa sendiri, ternyata selama ini aku masih kosong. Merasa sudah tahu segalanya, padahal benernya belum ada sekuku item.  Pernah mendengar ilmu padi? Semakin isi akan semakin merunduk. Ya begitulah arti kosong adalah isi. Semakin luas wawasan seseorang, malah akan merasa kosong karena merasa masih banyak ilmu yang belum dipelajari.

Melalui Forum Nandur Becik aku banyak belajar. Bahwa hidup itu lebih luas dari sekedar urusan perut, lebih luas dari sekedar persoalan dompet dan hidup juga lebih luas dari sekedar mewujudkan mimpi-mimpi masa kecil. Karena hidup sejatinya soal menanam kebaikan untuk sesama. Apa artinya hidup jika kita tak memiliki manfaat untuk orang lain. Ya, hampa dan kosong.

Satu hal yang aku suka, Forum ini mengajarkan tentang menanam kebaikan dengan cara yang berbeda. Bukan soal bersedekah sebanyak banyaknya untuk fakir miskin. Bukan. Tapi mengajarkan lebih dari itu. Bagaimana menjadi berdaya untuk bisa memberdayakan orang lain dengan cara yang berbeda. Aku mulai mengerti bahwa segala keaikan berawal dari pembentukan mental.

Bertempat di Rumah Sasongko forum kebaikan ini diadakan. Lebih dari seratur orang datang di tiap acaranya membuat aku semakin bersemangat. Ternyata aku sadar, kota ini memang sangat membutuhkan tempat yang seperti ini, tempat memberikan kesegaran dan penyadaran tentang kehidupan.

Rugi rasanya bila kesempatan bertemu di ruang – ruang ini di lewatkan begitu saja.

See you soon!

Potret Sisi Lain Kehidupan PSK

potret-pelacur-1

“Dibalik tubuh yang sehat, terdapat hati yang retak”

 

potret-pelacur-2

“Teman sejati, tak akan pergi…”

 

potret-pelacur-3

“Semoga lelahku terbayar…”

 

potret-pelacur-4

“Pahitnya jamu tak sepahit hidupku..”

 

potret-pelacur-5

“Merajut mimpi…”

 

potret-pelacur-6

“Aku masih punya hati untuk diberi..”

 

potret-pelacur-7

“Menanti kehidupan yang tak pasti…”

Berkunjung ke Rumah Aira Semarang

Hampir sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 Juni 2016 aku dan Si Ay datang ke sebuah acara di salah satu Mall di Semarang. Sebenernya tujuan awal kami berdua untuk bertemu temen lama Si Ay yang bernama Mas Slam Riyadi untuk ngobrol-ngobrol karena udah lama nggak ketemu. Nah kami janjian setelah adzan magrib, tapi kami dateng telat karena  memutuskan untuk buka puasa dulu di food court terdekat.

Singkat cerita, kami langsung menuju tempat janjian. Ternyata tempat janjian kami ada di sebuah venue acara yang bertema “Peluncuran Gelang Rumah Untuk Aira”. Acara tersebut diisi beberapa perform dan datangi oleh beberapa komunitas. Ada pementasan tarian belly dance, ada juga tarian anak-anak, terus ada juga perform dari mahasiswa, dan yang paling heboh juga ada perfom akustik dari komunitas Iwan Fals Semarang, hihihi.

Nah… sebenernya aku juga masih bingung tentang acara tersebut dan apa maksud diselenggarakan acara tersebut. Rumah Aira itu apa? Siapakah Si Aira? Dan banyak pertanyaan lain yang muncul di otakku. Untung  Mas Slam menjelaskan dengan sangat rinci tentang kegiatan tersebut.

Jadi, sebenernya kegiatan tersebut adalah sebuah acara Peluncuran Gelang Donasi untuk pembangunan Rumah Aira, sebuah rumah singgah dan panti asuhan untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Penggagas Rumah Aira adalah Ibu Magdalena, seorang perawat salah satu rumah sakit swasta di Semarang. Aku sempat ngobrol langsung dengan beliau sambil tanya-tanya tentang kegiatan Rumah Aira, tapi sayang aku tak sempat foto berdua dengan beliau. Oh ya, hasil penjualan gelang yang hanya seharga Rp. 20.000 semuanya didonasikan untuk pembangunan Rumah Aira.

Setauku, baru kali ini di Semarang ada sebuah Rumah Singgah atau Panti Asuhan Khusus untuk anak-anak dan ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan menurutku Bu Magdalena adalah salah satu  pribadi yang  berani untuk melawan stigma HIV/AIDS di Semarang dan bersyukur banyak yang mensupport. Hal tersebut menandakan kesadaran masyarakat untuk melawan stigma terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS) sudah mulai menurun tak seperti 7 tahun lalu ketika aku ikut kegiatan PMR dalam melakukan kampanye Hari Aids Sedunia dengan membagi-bagikan bunga kertas.

Selain itu, sebenernya ini sebuah kesempatan besar untuk para mahasiswa psikologi yang ingin bener-bener belajar bagaimana mendapingin Odha yang memiliki anak-anak yang juga terinfeksi. Semoga mereka bukan hanya sebagai “objek” penelitian semata, tapi juga sebagai “subyek” yang wajib didampingi secara psikologis.

Bagi temen-temen yang ingin mendukung gerakan Rumah Aira, temen-temen bisa langsung menghubungi Ibu Magdalena (085865758710, 085764977354) atau bisa langsung ke alamat Jl. Kaba Timur No. 14, Kel. Tandang, Tembalang, Semarang.

Cheers!

Yori dan Seksologi

Hai.. Hai.. I’m come back setelah hampir seminggu nggak posting tulisan karena (sibuk) liburan, hehe. Sebelumnya aku mau ngucapin, Selamat Hari Lebaran Mohon Maaf Lahir dan Batin..

Sesuai dengan janji yang udah-udah.. Kali ini aku akan cerita tentang gimana aku bisa demen banget ngebahas hal tentang lokalisasi atau prostitusi di blog akuh.. Aku pengen banget share tentang proses aku menemukan kegemaranku mengulik hal yang berkaitan dengan pelacuran, mulai dari awal hingga sekarang.

Nah awalnya, aku gak pernah terpikir loh bisa dengan leluasa keluar masuk lokalisasi seenak jidat kaya sekarang. Boro-boro masuk, tau tempat persisnya aja enggak. Proses aku bisa seperti sekarang itu menurutku nggak terduga dan surprise banget.

Aku memang sudah minat tentang hal yang berbau seksualitas ketika aku S1, saat aku mengambil mata kuliah pendidikan seksualitas. Yang bikin aku tertarik adalah, dalam mata kuliah itu dosen memberikan tantang pada mahasiswa untuk berani menyebutkan nama alat kelamin (baik nama latin maupun sebutan awam). Menurutku itu kelas yang bikin aku takjub! Aku masih ingat salah satu dosen memberikan saran demikian:

“Kalian kalo memang serius memberikan penyuluhan seksualitan ya gak boleh malu nyebut kont0l, memek, dan sebutan-sebutan awam lainnya. Kalo kalian aja malu gimana materinya bisa sampai ke audience, karena audience yang kalian hadapi akan beragam.”

Mulai dari situ aku mulai sangat tertarik mempelajari lebih, gimana bisa hal yang selama ini dianggap tabu olehku bisa menjadi hal yang membuka wawasanku lebih luas lagi. Ketertarikanku pada dunia seksualitas bertambah ketika aku mengikuti sebuah konferensi Asosiasi Seksologi Indonesia ASI tahun 2014 lalu di Surabaya.

Aku tak pernah mengikuti konferensi sebuah asosiasi sebelumnya. Ketika daftar ulang aku melihat sebagian peserta yang ikut adalah dokter-dokter spesialis, dan aku juga menyadari bahwa aku satu-satunya peserta yang paling muda dan satu-satunya yang bukan dokter. Karena hiruk pikuk peserta yang banyak, panitia salah menuliskan gelarku menjadi gelar dokter, haha.

Name tag salah gelar :D

Name tag salah gelar 😀

Di hari-hari pertama mengikuti acara aku agak roaming, karena materi-materi awal membahas materi yang kental dengan istila kedokteran. Tapi, aku tetap stay cool dan beberapa bertanya pada teman di sebelah apa maksudnya. Setiap istirahat aku memberanikan diri berkenalan dengan peserta lain yang sebagain besar dokter spesialis, ada spesialis andrologi, kulit kelamin, psikiater, dll. Salah satunya dr. Agustinus , Androlog kece dari Surabaya.

Hari kedua adalah hari yang aku tunggu, karena ada materi yang dibawakan oleh Prof. Drs. Koentjoro Soeparno, MBSc., PhD. Psikolog yang membahas tentang Male and Female Prostitution in Indonesia. Menurutku ini materi yang paling menarik karena membahas hal yang berkaitan dengan psikologi. Materi yang dibawakan Prof Koent makin bikin aku penasaran apalagi dengan hal prostitusi. Aku inget banget gimana Prof Koent menjelaskan sejarah prostitusi dan perkembangannya. Beliau menjelaskan dengn semangat banget. Auranya keluaar lah pokoknya, hehe.

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Foto Bareng dengan Prof Koentjoro (tengah) dan para dokter spesialis

Setelah selesai ngasih materi, aku langsung mendekatinya. Awalnya sangat malu tapi aku coba ikut-ikutan nimbrung sama peserta lain yang ngobrol sama Prof Koent. Hingga akhirnya aku mendapatkan kartu namanya dan bisa berfoto bersama. Mulai dari situ aku mencari segala sesuatu yang berkaitan dengannya, dan aku mendapatkan sebuah buku karangan Prof Koent yang berjudul “Tutur dari Sarang Pelacur”. Aku membaca selembar demi selembar hasil riset yang beliau lakukan, hingga aku makin tertarik lagi mempelajari tentang pelacuran. Aku pernah juga sekali main ke rumah Prof Koent di Jogja, tapi karena belum jodoh jadi belum bisa ketemu lagi.

Belajar tentang pelacuran itu gak afdol kalo belum menginjakan kaki ke lokalisasi. Pada saat itu aku baru sebatas ingin dan belum terlalu berani untuk benar-benar mendatangi sebuah lokalisasi. Tapi selang beberapa waktu kemudian, Tuhan memberikan jalan dengan sangat cantik padaku, yaitu saat ada seorang teman yang menawariku untuk bergabung pada project sosialnya di sebuah lokalisasi.  Betapa indah jalan Tuhan..

Mulai dari situ aku banyak belajar tentang pelacuran secara langsung di lokalisasi, terlebih aku pun mendapatkan kesempatan bekerja disitu. Banyak hal baru yang bikin aku takjub, shok, sampe ngelus dada. Disitu tak semua yang orang awam pikirkan terjadi, dan bahkan diluar ekspektasi.

Aku menjadi yakin, bahwa suatu perubahan itu bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari sebuah lokalisasi yang dianggap sebagai tempat sampah masyarakat. Jadi, dengan ketertarikan dan minatku terhadap dunia seksologi aku ingin bisa membuat suatu perubahan. Perubahan kecil tapi berdampak besar untuk Indonesia kedepan.

Terimakasih untuk para inspirator yang telah memberikanku inspirasi untuk mendalami hal ini. Semoga kedepan aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi hebat lainnya.

Cheers!

 

Sunan Kuning Edisi Bulan Ramadhan

Bulan puasa biasanya identik dengan razia sana-sini. Ada razia warung makan sampe razia warung “bergoyang”.

Beberapa waktu lalu, aku berkomunikasi lewat BBM dengan kawan lamaku yang bekerja di SK, anggap saja namanya Anggrek. Selain tanya bagaimana kabarnya, aku juga bertanya apakah bulan puasa ini ia masih bekerja atau off. Anggrek cerita kalo di bulan puasa seperti ini ia masih tetap bekerja, namun yang membedakan dari bulan-bulan lain adalah jam kerjanya yang baru dimulai setelah ibadah sholat tarawih.

Sejujurnya aku memang belum pernah “plesir malam” di SK saat bulan puasa seperti ini, oleh karena itu hari ini aku menyempatkan diri mampir ke SK sebentar setelah acara buka bersama. Dari beberapa kali putaran memang terlihat ada perbedaan dari hari-hari biasanya.

Di bulan puasa seperti ini pintu masuk utama SK ditutup, biasanya ada portal yang menghalangi sehingga mobil tidak bisa masuk. Namun bagi pemain lama, mereka akan lewat dari pintu belakang yang tak pernah di tutup portal.

Suasana SK di Bulan Puasa

Suasana SK di Bulan Puasa

Suasana di bulan puasa juga tak sehingar bingar pada hari biasanya. Malam Jum’at seperti saat ini, biasanya SK sangat ramai pengunjung seperti di akhir pekan. Para PSK yang duduk berpangku paha atau biasanya disebut “nethek” juga gak terlalu banyak seperti hari biasanya. Mungkin sebagian besar memilih pulang kampung karena alasan bulan puasa sepi pengunjung dan ingin fokus menjalani puasa ramadhan, hehe.

wanita kinjeng lagi mangkal

wanita kinjeng lagi mangkal

Setelah puas muterin SK, aku juga mampir ke area lokalisasi pinggir jalan di dekat stasiun Poncol. Di area Poncol sebutan PSKnya adalah “wanita mio” karena mereka berjualan banyak yang menggunakan motor matic dengan merek mio, selain itu juga ada yang nyebut dengan “wanita kinjeng”, kinjeng itu capung jadi semacam PSK yang di pinggir jalan itu jualannya pindah-pindah. Disana aku juga tak melihat banyak PSK berjualan. Biasanya 100 meter dari stasiun poncol aku bisa menghitung ada 3-5 orang PSK berjajar, namun tadi yang aku lihat setiap 300 meter baru ada satu PSK dan jaraknya juga berjauhan satu sama lain.

Jadi kesimpulan dari penjelajahan malam ini yaitu tidak dipungkiri kalo transaksi seks tetap ada di bulan puasa ini walau jumlahnya sangat berkurang 😀