Posts

the lovers2

Movie Insight : THE LOVERS (2017)

“Cinta itu dijemput, bukan datang dengan sendirinya.”

Ini quote bikinan pribadi lho, bukan copas dari penulis lain hehe.

Pesan itu yang aku dapat setelah menonton film The Lovers. Aku bukan film addict yang bisa meriew dengan sangat detil tentang film tersebut, namun aku ingin menceritakan tentang refleksi yang aku dapat setelah menonton film tersebut.

Berkisah tentang suami istri (Michael dan Mary) paruh baya yang sudah mulai merasakan “kedinginan” dalam hubungan pernikahan. Setiap hari tidur saling berpunggungan, bicara seadanya saja, dan berperilaku seakan sudah bukan suami istri lagi. Kehampaan yang mereka berdua rasakan ternyata membuat satu sama lain memiliki kekasih gelap. Tanpa diketahui satu sama lain, mereka memutuskan untuk berpisah setelah kedatangan anak mereka.

the lovers1

Hubungan yang hampa itu berubah saat disuatu pagi Michael dan Mary bangun dengan saling berpelukan dan sambil mengecup bibir satu sama lain. Hari itu serasa ada keajaiban muncul. Ya! mereka seperti kembali jatuh cinta satu sama lain dan gairah-gairah yang terpendam lama muncul kembali.

Hari kedatangan anak mereka semakin dekat, dan selingkuhan mereka berdua pun semakin getol mendorong Michael dan Mary untuk segera membicarakan hubungan gelap mereka. Namun, disisi lain ternyata perasaan untuk saling berpisah semakin menurun. Ya karena mereka merasa ternyata mereka masih saling mencintai satu sama lain.

Joel, anak merekapun datang sambil membawa Erin kekasih yang sangat dicintainya. Puncak konflik pun terjadi. Joel mengetahui ternyata ayah dan ibunya menutupi bahwa orang tuanya masing-masing memiliki kekasih gelap.

Aku pribadi mengira bahwa Mary dan Michael tak akan berpisah karena menemukan lagi cinta yang telah lama hilang. Namun ternyata setelah kepergian Joel, keduanya mengemas barang dan pergi masing-masing ke rumah kekasih gelap mereka.

Ah.. sungguh disayangkan. Tapi, ternyata setelah mereka berpisah rasa cinta itu pun semakin besar sehingga membuat mereka diam-diam bertemu untuk menjalin cinta kembali.

Ya.. cukup semrawuts ya. Banyak pengamat film menyebut ini sebagai komedi romantis. Namun aku pribadi tidak melihat sisi komedinya sama sekali. Ya, film ini menggambarkan dua orang yang kurang mensyukuri nikmat yang ada, haha. Udah punya pasangan, selingkuh. Eh begitu dikasih pisah, mau balikan lagi. Wkwkwk..

Sebelum nulis ini aku kebetulan melihat sebuah acara tv yang membahas soal relationship. Si pembawa acara mengatakan “Ada penelitian yang mengatakan, 5 tahun pertama pernikahan adalah tahun yang berat. Penuh pertengkaran, percekcokan dan penuh konflik. Namun sebaliknya, setelah 25 tahun pernikahan justru pasangan tidak banyak konflik. Mereka tak banyak konflik karena saling diam satu sama lain, makanya tidak ada konflik. Untuk bisa mendapatkan kehidupan pernikahan yang harmonis tetap perlu menghadapi konflik. Karena suatu hubungan pasti akan ada konflik, tetapi setiap konflik yang ada tersebut dihadapi dan diselesaikan bukan dihindari dan akhirnya saling diam.”  Begitu kira-kira kata si pembawa acara.

Begitu pula dengan cinta, menurut aku pribadi cinta itu diciptakan bukan ditunggu hingga datang. Kejadian Mary dan Michael dipagi hari itu merupakan trigger, namun hasrat dan gairah bercinta mereka yang muncul kembali itu akibat dari keduanya menciptakan kembali cinta yang telah lama mati.

Jadi bila hubunganmu sudah mulai hambar dan membosankan, bisa jadi kamu kurang kreatif untuk menciptakan cinta-cinta yang baru.

Orang cinta itu tidak melihat kekurangan, namun kelebihan.

Inget ungkapan “tai kucing rasa coklat”? Ya begitulah kira-kira 😀

Buat aku film ini recomended, walau jalan ceritanya sedikit membosankan..