Source : Malin Rosenqvist/Getty Images

Salah satu hal yang ditunggu-tunggu setelah usai segala tetek bengek prosesi pernikahan adalah malam pertama. Banyak calon pengantin yang menyiapkan dari jauh-jauh hari untuk bisa mendapatkan pengalaman malam pertama yang tak terlupakan. Namun bagaimana jika ternyata pasangan terlihat enggan, bahkan sampai menolak? Tentu saja muncul kekecewaan tersendiri. Tapi, sebelum kecewa lebih dalam, lebih baik pahami dulu apa dibalik peristiwa tersebut.

Kejadian menolak melakukan hubungan seks pada malam pertama bisa terjadi pada siapa saja, baik itu laki-laki maupun perempuan. Hubungan seks yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan dan membuat candu ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang mengerikan bagi sebagian orang. Faktor penyebabnya tentu saja sangat beragam, seperti ada kejadian yang tidak mengenakan yang terkait dengan seks di masa lalu (pelecehan, kekerasan seksual, baik yang dialami langsung maupun tidak), value yang kurang memberdayakan terkait seks, kurang mendapatkan pendidikan seksual yang komprehensif, dsb. Latar belakang setiap orang yang berbeda-beda tentu saja sangat berpengaruh pada bagaimana cara mereka memaknai soal seks itu sendiri. Yang paling sering adalah seks itu dianggap sesuatu kotor.

Dari beberapa faktor yang sudah aku sebut tadi, banyak problem senggama pasutri diakibatkan oleh pendidikan seksual yang tidak komprehensif. Pendidikan seks yang masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat di masa lalu membuat pengetahuan seks pada anak-anaknya menjadi setengah-setengah. Tentu saja hal ini berdampak fatal ketika pemahaman seksual hanya didapatkan sepotong-sepotong. Terlebih tidak ada proses penggalian informasi lebih dalam lebih lanjut. Bagi anak-anak yang sedang pada fase ekplorasi tentu saja berpikir berulang kali ketika ingin menanyakan perihal seks pada orang tua. Sehingga dampaknya mereka akan mencari sendiri ikhwal seks pada sumber-sumber yang tak semestinya. Dan bisa dipastikan, bukan pendidikan seks yang benar yang didapatkan tapi lebih pada tutorial seks.

Ketika informasi di awal sudah keliru tentu saja berdampak pada pemahaman, pemaknaan serta perilaku. Mereka yang takut melakukan hubungan seks di malam pertama biasanya punya gambaran bahwa seks itu menyakitkan, membuat luka dan mengeluarkan banyak darah. Ya.. iya sih.. tapi sakit bukan seperti tertusuk benda tajam yang mengakibatkan perdarahan. Seringkali yang membuat semakin takut ialah karena imajinasi yang berlebihan, padahal realitanya tidak demikian. Kekhawatiran berlebihan ini gak hanya dialami oleh kaum hawa, tapi juga dialami oleh kaum ada. Laki-laki yang merasa sangat sayang istrinya punya pemikiran untuk tidak mau menyakiti lahir dan batin. Persepsi keliru soal ML yang menyakitkan membuat laki-laki enggan untuk melakukan penetrasi. Kalaupun mau ancang-ancang melakukan tapi karena batin tak tenang maka dampaknya penis tak bisa ereksi secara maksimal.

Lalu bagaimana jika sudah demikian? Perlu adanya penyesuaian seksual dalam pernikahan. Aku pernah nulis soal ini sebelumnya, bisa baca lebih lanjut di link di atas. Intinya adalah perlu adanya keterbukaan soal seks pada masing-masing. Pemahaman soal seks adalah sesuatu yang tabu perlahan mulai dikikis dalam pernikahan. Kenapa? Ya agar bisa lebih santuy ngobrolin dan diskusiinnya sehingga bisa menemukan titik temu soal kehidupan seks yang diharapkan oleh kedua belah pihak.

Baca juga: Memahami Penyesuaian Seksual Dalam Pernikahan

Akan tetapi ada pada kondisi tertentu bahwa penolakan hubungan seksual memang dikarenakan adanya gangguan tertentu seperti coitophobia, Vaginismus, Dyspareunia dsb yang membutuhkan bantuan profesional dalam penanganannya. Tentu saja persoalan ini bukan hanya pada yang mengalami tapi juga sangat melekat pada pasangan. Sehingga penyembuhan adalah proses yang dilakukan bersama.

Tips:

  • Jika pasangan menolak melakukan hubungan seks pada malam pertama, jangan dipaksa. Makin dipaksa makin defence dan dampaknya adalah persepsi seks tidak menyenangkan semakin melekat.
  • Jika pasangan mengeluh kesakitan ketika intercourse pertama, jangan dipaksakan untuk bisa sampai penetrasi penuh. Tebal tipis selaput dara setiap perempuan beda-beda, ada yang tipis ada yang tebal. Nanti aku bahas soal ini lebih dalam di tulisan yang berbeda.
  • Membangun obrolan dengan pasangan soal seks tanpa judgement akan membentuk ruang aman bagi kedua belah pihak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.